PANCA ṚṢI DAN KETURUNANNYA DI BALI
Kajian Historis, Religius, dan Filosofis Berdasarkan Tradisi Hindu Bali
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba
Abstrak:
Panca Ṛṣi atau dikenal pula sebagai Panca Tīrtha merupakan lima tokoh suci bersaudara yang menurunkan berbagai trah luhur di Bali. Mereka adalah Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Bradah, putra dari Mpu Tanuhun. Peran mereka dalam menata kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Bali sangat besar, terutama dalam menyatukan berbagai sekte yang sempat menimbulkan perpecahan. Artikel ini mengulas asal-usul, peran sejarah, serta warisan spiritual dan sosial yang ditinggalkan oleh Panca Ṛṣi, beserta kutipan sloka Hindu yang relevan sebagai penguat nilai-nilai yang mereka bawa.
---
I. PENDAHULUAN
Pulau Bali sebagai pusat spiritual Hindu di Nusantara memiliki warisan leluhur yang sangat kuat. Salah satu pilar penting dalam sejarah keagamaan Bali adalah hadirnya Panca Ṛṣi, lima maharesi yang berperan besar dalam membentuk sistem keyakinan dan adat istiadat Bali hingga kini.
---
II. ASAL-USUL PANCA ṚṢI
Panca Ṛṣi adalah putra-putra dari Mpu Tanuhun, kelima bersaudara ini dikenal dalam lontar dan tutur tradisional Bali, sebagai berikut:
1. Mpu Gnijaya (juga disebut Sang Brahmana Pandita)
2. Mpu Semeru
3. Mpu Ghana
4. Mpu Kuturan
5. Mpu Bradah
Kelima Mpu ini melakukan perjalanan spiritual ke Gunung Semeru untuk melakukan yoga samādhi, memuja Bhatāra Hyang Pasupati. Dalam ajaran Śaiva, Pasupati merupakan manifestasi Śiva sebagai guru agung.
Sloka Sanskerta:
> शिवाय विश्वरूपाय पशुपत्यै नमो नमः।
śivāya viśvarūpāya paśupatyai namo namaḥ
Artinya: “Sembah sujud kepada Śiva, yang berwujud semesta, kepada Paśupati aku berserah.”
---
III. KONFLIK SEKTE DAN PERAN PANCA ṚṢI
Pada masa pemerintahan Raja Udayana Warmadewa dan permaisuri Çri Gunapriyadharmapatni, muncul ketegangan sosial akibat perbedaan kepercayaan enam sekte (Sad Paksa): Sambhu, Khala, Brahma, Wisnu, Iswara, dan Bhayu.
Untuk menyatukan perbedaan tersebut, dimintalah bantuan kepada Panca Ṛṣi. Empat di antara mereka (Mpu Gnijaya, Semeru, Ghana, dan Kuturan) datang ke Bali, sementara Mpu Bradah tetap tinggal di Jawa.
Di bawah kepemimpinan Mpu Kuturan, diadakan pesamuan agung di Pura Samuan Tiga, Bedulu. Pertemuan ini melahirkan konsep pemujaan Tri Murti dan sistem Khayangan Tiga:
Pura Desa (Dewa Brahma – pencipta)
Pura Puseh (Dewa Wisnu – pemelihara)
Pura Dalem (Dewa Siwa – pelebur)
Sloka Hindu (Bhagavad Gītā X.20):
> अहमात्मा गुडाकेश सर्वभूताशयस्थितः।
ahamātmā guḍākeśa sarvabhūtāśayasthitaḥ
Artinya: “Wahai Gudakesha, Aku adalah Atman yang bersemayam di dalam hati semua makhluk.”
Sloka ini menegaskan pentingnya pemahaman bahwa semua sekte sebenarnya memuja aspek dari Tuhan yang sama, yaitu manifestasi Brahman dalam fungsi cipta, pelihara, dan lebur.
---
IV. WARISAN SOSIAL-SPIRITUAL PANCA ṚṢI
Konsep-konsep sosial dan religius yang diwariskan oleh Panca Ṛṣi melalui Catur Sanak telah menjadi dasar tata kehidupan desa adat Bali. Selain sistem Khayangan Tiga, mereka juga merancang:
Pelinggih Kemulan Rong Tiga sebagai pemujaan Tri Murti dan leluhur
Konsep Desa Pakraman, tempat tinggal adat dengan sistem hukum dan peribadatan khas Bali
Dari kelima Ṛṣi ini pula lahir berbagai trah dan wangsa yang sampai sekarang dikenal dalam masyarakat Bali, di antaranya:
Pasek (termasuk Bendesa dan Tangkas)
Arya
Brahmana Śiwa dan Brahmana Buddha
Keturunan Dalem (kasta Ksatria Bali)
Sloka dari Atharvaveda XI.3.24:
> ऋषयः पश्यन्ति मनसा धर्मं यं चरन्ति।
ṛṣayaḥ paśyanti manasā dharmaṁ yaṁ caranti
Artinya: “Para Rṣi menyaksikan kebenaran dengan hati dan mengajarkannya dalam laku kehidupan.”
---
V. PENUTUP
Panca Ṛṣi bukan hanya tokoh spiritual, tetapi juga pemimpin sosial dan arsitek peradaban Hindu Bali. Melalui kebijaksanaan dan ajaran mereka, Bali menemukan harmoni antara keyakinan, adat, dan tata hidup yang berlandaskan dharma. Keberadaan mereka menjadi simbol kesatuan dalam keragaman, dan keteladanan dalam pengabdian.
---
DAFTAR PUSTAKA:
Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul
Bhagavad Gītā
Atharvaveda
Wiana, I Ketut. (2004). Tri Murti dan Desa Pakraman. Denpasar: Upada Sastra
Sudharta, I.B.G. (1983). Pura dan Khayangan Tiga di Bali. Denpasar: Dinas Kebudayaan Bali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar