Senin, 05 Mei 2025

Pengabenan di Era Modern

Pengabenan di Era Modern: Kematian adalah Jalan Menuju Kesucian, Bukan Sesuatu yang “Ngeletehin”

Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Pendahuluan

Dalam Hindu Dharma, kematian bukanlah akhir, tetapi bagian dari perjalanan suci sang atma menuju asalnya, yaitu Brahman. Salah satu upacara penting yang mengantar atma adalah pengabenan. Namun di zaman sekarang, dengan semakin padatnya populasi, kematian hampir terjadi setiap hari. Maka muncullah pertanyaan:

Apakah boleh melakukan upacara pengabenan setiap hari di satu setra, tanpa harus menentukan lagi ala-ayuning dewasa?

Lebih jauh, kita perlu mengubah cara pandang terhadap kematian: dari yang dianggap "nyebelin" atau "ngeletehin", menjadi suci dan mulia. Oleh karena itu, pengabenan idealnya dilakukan secepatnya, dengan upacara inti yang ringan namun tetap bermakna dan suci.

---

1. Realitas Sosial di Zaman Modern

Dengan meningkatnya kelahiran, maka kematian sebagai bagian dari siklus hidup juga meningkat. Di satu sisi, masyarakat masih berpegang pada perhitungan dewasa ayu (hari baik) yang ketat untuk pelaksanaan pengabenan. Namun, kondisi ini menimbulkan kendala praktis seperti penumpukan jenazah, antrean panjang, dan beban logistik serta sosial.

Dalam konteks ini, ajaran Hindu memberi ruang adaptif melalui prinsip:

> देशे काले च पात्रे च।
Deśe kāle ca pātre ca
Tempat, waktu, dan kondisi individu harus menjadi dasar pertimbangan.



Dengan mempertimbangkan desa (lokasi padat), kala (setiap hari ada kematian), dan patra (kemampuan keluarga), maka pengabenan setiap hari dengan upacara inti seringan mungkin menjadi langkah realistis sekaligus tetap dharmis.


---

2. Kematian: Jalan Menuju Kesucian, Bukan Momok Menakutkan

Selama ini kematian dianggap sebagai hal yang menakutkan, bahkan “mengganggu” kehidupan sehari-hari. Padahal dalam perspektif Hindu, kematian adalah fase pembersihan jiwa (atma) untuk menuju kelahiran kembali yang lebih suci atau menuju moksha.

Sloka dari Kaṭha Upaniṣad (1.2.18):

> न जायते म्रियते वा कदाचित्
अयम् हन्ता न हन्यते।



Transliterasi:
Na jāyate mriyate vā kadācit
Ayam hantā na hanyate.

Makna:
Atma tidak lahir dan tidak mati. Ia tidak membunuh dan tidak dapat dibunuh.

Dengan pemahaman ini, kematian bukan sesuatu yang patut ditakuti, tetapi momen spiritual paling penting dalam kehidupan seseorang. Maka tidak pantas jika kematian dianggap “nyebelin”, “kotor”, atau “mengganggu”. Sebaliknya, ia adalah panggilan kembali kepada kesucian.


---

3. Sloka-sloka Pendukung Konsep Kematian sebagai Penyucian

Bhagavad Gītā 2.22:

> वासांसि जीर्णानि यथा विहाय
नवानि गृणाति नरोऽपराणि।
तथा शरीराणि विहाय जीर्णा
न्यानि संयाति नवानि देही॥



Transliterasi:
Vāsāṁsi jīrṇāni yathā vihāya
Navāni gṛhṇāti naro’parāṇi.
Tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāni
Anyāni saṁyāti navāni dehī.

Makna:
Seperti seseorang yang mengganti pakaian lama dengan yang baru, begitu pula sang jiwa meninggalkan tubuh yang lama dan mengambil yang baru.

Sloka ini mengajarkan bahwa kematian hanyalah peralihan, bukan akhir. Maka, upacara pengabenan bukanlah beban sosial, tetapi upacara pelepasan yang suci dan penuh kasih.


---

4. Pelaksanaan Pengabenan: Cepat, Ringan, namun Tetap Sakral

Dalam keadaan modern, pengabenan idealnya dilakukan secepatnya, tanpa menunda-nunda mencari dewasa utama yang sempurna. Upakara inti (utama) dapat disederhanakan, selama esensi penglepasan dan pembersihan atma tetap terjaga.

Prinsipnya adalah:

> संकल्पात् कर्म सिद्धिः।
Saṅkalpāt karma siddhiḥ
Keberhasilan upacara berasal dari niat tulus.



Yang terpenting bukan mewahnya upacara, tapi ketulusan, kebersihan batin, dan pengabdian keluarga terhadap atma yang berpulang.


---

5. Transformasi Pandangan Masyarakat

Masyarakat perlu dididik bahwa kematian bukan aib, dan setra bukan tempat “horor” atau “kotor”. Sebaliknya, setra adalah gerbang pelepasan, tempat suci terakhir sebelum roh kembali kepada alam Brahman.

> मृत्युः न अंतः, मृत्युः मोक्षद्वारं।
Mṛtyuḥ na antaḥ, mṛtyuḥ mokṣadvāraṁ
Kematian bukanlah akhir, tetapi pintu menuju pembebasan.




---

Penutup

Melakukan pengabenan setiap hari di satu setra adalah sah dan sesuai dharma, selama dijalankan dengan hati bersih, dipimpin oleh pemangku/sulinggih, dan menjunjung nilai kesucian. Di era modern ini, konsep ala ayuning dewasa dapat disesuaikan, dan masyarakat harus didorong untuk melihat kematian sebagai proses sakral, bukan momok.

Maka, mari kita ubah paradigma:
"Kematian adalah menuju kesucian, bukan sesuatu yang ngeletehin."
Dan, "Pengabenan sebaiknya dilakukan secepatnya dengan upakara inti seringan-ringannya, namun tetap khusyuk dan suci."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar