Senin, 05 Mei 2025

TEBASAN MAYAMALINAH

TEBASAN MAYAMALINAH:


            Medasar antuk dulang duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin nasi 9 pulung, katipat kedis 9, tulung 9, sekar tunjung 9 katih, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, rerasmen, inideran ketipat miwah tulung, penyeneng alit 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Tebasan puniki ka-anggen rikala ngayut malaning pawetuan telaga apit pancoran; pancoran apit telaga; taliwangke (ada tai lalat di kemaluan) & sahananing melik. 

Berikut adalah rancangan banten Tebasan lengkap berdasarkan uraian diatas, disusun secara sistematis agar mudah dipahami dan diterapkan dalam konteks ritual ngayut malaning pawetuan telaga apit pancoran, pancoran apit telaga, taliwangke, dan sahananing melik:


Banten Tebasan Ngayut Malaning Pawetuan & Melik Lainnya

Untuk: Telaga Apit Pancoran, Pancoran Apit Telaga, Taliwangke (tai lalat di kemaluan), dan melik lainnya

Dasar Banten

Medasar antuk dulang

  • Sebuah dulang sebagai wadah utama.

Susunan di Atas Dulang (Duwur Nyane):

  1. Aled Sesayut – alas daun pisang yang dihias sebagai dasar sesayut.
  2. Sesayut – simbol penyucian diri, biasanya berbentuk gunungan dari janur atau dihias dengan makna tertentu.
  3. Nasi Pulung 9 – nasi pulung berbentuk bulat kecil, jumlah 9 biji, melambangkan kesempurnaan dan keseimbangan unsur.
  4. Ketipat Kedis 9 – ketupat kecil berbentuk burung (kedis), jumlah 9 buah sebagai lambang kehalusan niat dan penetral bahaya.
  5. Tulung 9 – potongan kecil daging bertulang, jumlah 9, sebagai persembahan untuk unsur bhuta.
  6. Sekar Tunjung 9 Katih – bunga teratai putih atau merah, jumlah 9 tangkai, sebagai simbol kesucian dan kemurnian batin.
  7. Sesanganan – aneka jajanan khas upacara (plawa, uli, jaja balian, dll.)
  8. Raka-raka Sejangkep Nyane – lengkap dengan segala ragam lauk pauk (daging, lawar, dll.), menyimbolkan ketulusan persembahan.
  9. Rerasmen – hiasan janur dan bunga untuk memperindah tampilan banten.
  10. Inideran Ketipat miwah Tulung – tambahan ketipat dan tulung sebagai pelengkap makna keseimbangan antara buana agung dan buana alit.

Pelengkap Tambahan:

  • Penyeneng Alit 1 – banten kecil sebagai lambang penyeneng jagat alit (mikrokosmos).
  • Pras Alit 1 – banten pras kecil sebagai persembahan kepada Dewa.
  • Sampyan Nagasari – janur yang dibentuk simbol naga, pelindung dan pemurni energi.
  • Canang Pahyasan – canang lengkap dengan rerangkaian bunga sebagai pemujaan.

Makna Ritual dan Tujuan Banten:

Banten Tebasan ini ditujukan untuk membersihkan dan menetralisir mala (kekotoran atau energi negatif) yang melekat secara lahir maupun niskala pada anak-anak, bayi, atau orang dewasa yang lahir atau terkena pawetuan seperti telaga apit pancoran, pancoran apit telaga, taliwangke (tai lalat di kemaluan), maupun melik lainnya.

Banten ini mengandung unsur niskala (banten) dan sekala (simbolisasi persembahan) untuk mengharmoniskan hubungan manusia dengan Bhuta Kala, Dewa, dan alam.



Kata "Māyāmālinaḥ" (मायामालिनः) berasal dari bahasa Sanskerta dan merupakan bentuk majemuk (sandhi) dari dua kata:

Māyā (माया): ilusi, tipuan, sesuatu yang menyesatkan persepsi.

Mālinaḥ (मालिनः): yang diselimuti, yang terbalut, atau yang dipenuhi.


Makna Lengkap:

"Māyāmālinaḥ" berarti "yang diselimuti oleh ilusi" atau "yang terbalut dalam kepalsuan".

Secara kontekstual, istilah ini menggambarkan seseorang atau sesuatu yang terlihat indah atau meyakinkan secara lahiriah, tetapi sebenarnya palsu, menipu, atau menyesatkan karena dibalut oleh ilusi (māyā). Ini sering digunakan dalam teks spiritual Hindu untuk merujuk pada keadaan batin manusia yang belum tercerahkan atau tertipu oleh dunia material.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar