Relevansi Penggunaan Sangge dalam Upacara Nyekah Pitra Yadnya di Era Modern
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd
Sloka 1:
पितृणां मार्गदर्शाय, सङ्गेः संकल्पितः पुरा।
कालेन च प्रवर्तन्ते, धर्मस्यैव नित्यताः॥
यत्र सन्तः समायान्ति, ज्ञानदीपेन शोभिताः।
तत्र सङ्गेः किं कार्यं, यदि सत्यं प्रकाशते॥
यज्ञेनैव हि शुद्ध्यन्ति, मन्त्रैः पावित्र्यमाप्यते।
सुलिङ्गस्य प्रसादेन, आत्मा मुक्तिं लभेत ध्रुवम्॥
Transliterasi
Pitṛṇāṁ mārgadarśāya, saṅgeḥ saṁkalpitaḥ purā।
Kālena ca pravartante, dharmasyaiva nityatāḥ॥
Yatra santaḥ samāyānti, jñānadīpena śobhitāḥ।
Tatra saṅgeḥ kiṁ kāryaṁ, yadi satyaṁ prakāśate॥
Yajñenaiva hi śuddhyanti, mantraiḥ pāvitryam āpyate।
Suliṅgasya prasādena, ātmā muktiṁ labheta dhruvam॥
Makna Sloka
- Dahulu kala, sangge dibuat sebagai penunjuk jalan bagi roh leluhur.
- Seiring waktu, aturan dharma tetap lestari dan terus berjalan.
- Di tempat para bijak dan suci berkumpul, diterangi cahaya kebijaksanaan,
- Apakah masih perlu sangge, jika kebenaran telah bersinar dengan sendirinya?
- Penyucian sejati datang dari yajña dan mantra suci.
- Dengan berkah sulinggih, jiwa pasti mencapai moksha.
Sloka ini menegaskan bahwa meskipun sangge memiliki nilai historis, dalam perkembangan spiritual, peran sulinggih dan mantra lebih utama dalam mengantarkan roh leluhur menuju pembebasan.
Sloka 2:
सङ्गेः कार्यं नास्त्यद्य, लिङ्गः स्थितः सदा गुरौ।
सन्त्यत्र सुलिङ्गस्य, पूजनं मुक्तिदायकम्॥
मन्त्रैः शुद्धिः क्रियायाः, आत्मनः परिशोधनम्।
यज्ञेनैव प्रतिष्ठन्ति, पितरः परमं पदम्॥
गुरुणा सञ्चितं तेजः, सत्यं मार्गस्य कारणम्।
सङ्गेः किं नाम कर्तव्यं, यदि धर्मः प्रकाशितः॥
लिङ्गं तिष्ठति यत्रैव, तत्र मुक्तिः सुनिश्चितम्।
Transliterasi
Saṅgeḥ kāryaṁ nāsty adya, liṅgaḥ sthitaḥ sadā gurau।
Santy atra suliṅgasya, pūjanaṁ muktidāyakam॥
Mantraiḥ śuddhiḥ kriyāyāḥ, ātmanaḥ pariśodhanam।
Yajñenaiva pratiṣṭhanti, pitaraḥ paramaṁ padam॥
Guruṇā sañcitaṁ tejaḥ, satyaṁ mārgasya kāraṇam।
Saṅgeḥ kiṁ nāma kartavyaṁ, yadi dharmaḥ prakāśitaḥ॥
Liṅgaṁ tiṣṭhati yatraiva, tatra muktiḥ suniścitam।
Makna Sloka
1. Kini sangge tidak lagi diperlukan, sebab lingga telah berdiri teguh di bawah berkah sulinggih.
2. Penyucian sejati hadir melalui sulingga, yang menjadi sarana pelepasan roh leluhur.
3. Mantra suci membawa penyucian dalam ritual, membersihkan jiwa yang berbakti.
4. Melalui yajña, para leluhur mencapai alam tertinggi.
5. Kekuatan sulinggih berasal dari energi spiritual yang terhimpun,
6. Kebenaran adalah jalan pembebasan.
7. Apa gunanya sangge, jika dharma sudah diterangi cahaya kebijaksanaan?
8. Di mana lingga ditegakkan,
9. Di sanalah moksha pasti tercapai.
Sloka ini menegaskan bahwa penggunaan sangge tidak lagi relevan dalam upacara Nyekah, karena sudah digantikan oleh tapakan lingga yang dipuput oleh sulinggih, sebagai sarana utama dalam pelepasan roh leluhur menuju pembebasan.
Pendahuluan
Dalam tradisi Hindu di Bali, upacara Nyekah atau Pitra Yadnya memiliki peran sentral dalam proses penyucian dan pelepasan roh leluhur menuju alam keabadian. Salah satu unsur yang dahulu kerap digunakan dalam prosesi ini adalah sangge, sebuah simbol ritual yang memiliki makna sakral dalam penyelenggaraan upacara. Namun, dengan berkembangnya praktik keagamaan, terutama dalam prosesi Atma Wedana yang kini dipimpin oleh seorang sulinggih yang telah mensthanakan Catur Dasa Siwa, muncul pertanyaan: apakah penggunaan sangge masih relevan dalam upacara Nyekah?
Makna dan Fungsi Sangge dalam Upacara Nyekah
Sangge merupakan perlengkapan upacara yang berfungsi sebagai simbol penghubung antara alam sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual). Dalam tradisi kuno, sangge digunakan untuk membantu memandu roh leluhur agar dapat mencapai tujuan akhir dengan sempurna. Sangge diyakini sebagai media untuk memperkuat koneksi antara umat manusia dengan roh leluhur yang sedang mengalami proses penyucian.
Dalam konteks upacara Pitra Yadnya, sangge juga berfungsi sebagai alat bantu bagi pemangku dalam memimpin ritual, memastikan bahwa setiap tahap penyucian berjalan sesuai dengan tatanan adat dan kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Peran Sulinggih dan Catur Dasa Siwa dalam Atma Wedana
Di era modern, prosesi Atma Wedana yang merupakan bagian dari upacara Nyekah kini lebih banyak dipimpin oleh seorang sulinggih sebagai pemuput. Sulinggih yang telah mensthanakan Catur Dasa Siwa memiliki kemampuan spiritual yang lebih tinggi, memungkinkan dirinya untuk langsung berkomunikasi dengan roh leluhur tanpa memerlukan media perantara seperti sangge.
Dengan konsep ini, kehadiran seorang sulinggih yang telah mensthanakan Catur Dasa Siwa dalam tubuhnya dianggap cukup untuk menggantikan fungsi sangge sebagai penghubung antara dimensi sekala dan niskala. Hal ini membuat beberapa komunitas Hindu di Bali mulai mengurangi penggunaan sangge dalam upacara Nyekah, atau bahkan menghilangkannya sepenuhnya.
Apakah Penggunaan Sangge Masih Diperlukan?
Relevansi penggunaan sangge dalam upacara Nyekah bergantung pada sudut pandang dan keyakinan masyarakat yang menyelenggarakan ritual tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan untuk tidak menggunakan sangge antara lain:
- Perubahan Tradisi dan Adat – Beberapa komunitas telah menggantikan penggunaan sangge dengan tapakan lingga di Surya sebagai sarana penyucian roh leluhur.
- Kepercayaan terhadap Peran Sulinggih – Jika keluarga penyelenggara yakin bahwa sulinggih telah mampu mengemban seluruh tanggung jawab spiritual, maka penggunaan sangge dapat diminimalisir atau dihilangkan.
- Makna Simbolis – Secara spiritual, sangge dapat digantikan oleh tapakan lingga yang berfungsi sebagai sarana penghormatan terhadap leluhur, sekaligus memastikan bahwa ritual tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai keagamaan.
Kesimpulan
Perkembangan ritual Hindu di Bali selalu mengalami dinamika sesuai dengan perkembangan zaman dan pemahaman spiritual masyarakat. Dalam konteks Atma Wedana yang dipimpin oleh sulinggih dengan Catur Dasa Siwa, peran sangge sebagai alat perantara mulai mengalami pergeseran makna. Meskipun begitu, nilai simbolis dan historisnya tetap menjadikannya bagian tak terpisahkan dalam beberapa komunitas Hindu yang masih menjunjung tinggi tradisi leluhur.
Dengan demikian, penggunaan sangge dalam upacara Nyekah Pitra Yadnya hendaknya tidak lagi digunakan, karena telah digantikan dengan tapakan lingga ring Surya serta dipuput oleh sulinggih. Yang terpenting adalah keberadaan sekah itu sendiri, sebagai inti dari upacara yang bertujuan untuk menghantarkan roh leluhur dengan tulus dan penuh keikhlasan menuju alam keabadian.
Matur suksma pencerahannya Jro Mangku Gede
BalasHapus