PROSES UPACARA WARAK KRURON, NGELANGKIR DAN NGELUNGAH (Pangupahayu Kahuripan) Tingkat Utama
DISUSUN OLEH : I GEDE SUGATA YADNYA MANUABA, S.S., M.PD
(Griya Agung Bangkasa)
Juli 2019
PENDAHULUAN
Pada hakekatnya semua umat beragama mengijinkan kehidupan yang bahagia, sejahtera lahir dan bathin. Kesejahteraan lahir dan batin mengandung suatu makna keharmonisan atau keseimbangan kehidupan antara kebutuhan lahir / phisik dan kebutuhan batin / spiritual. Implementasi / perwujudan dari tujuan hidup ini tidak bisa dilepaskan dari tiga komponen dasar penyebab kebahagiaan yaitu tetap menjaga hubungan antara manusia dengan manusia anatara manusia dengan lingkungan dan antara manusia dengan lingkungan dan antara manusia dengan Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai penguasa dan pencipta alam semesta ini. Hal ini dalam keyakinan agama Hindu disebut dengan Tri Hita Karana (Tiga Penyebab Kebahagiaan Hidup). Dalam hubungan menjaga keharmonisan antara manusia dengan manusia perlu dijaga rasa saling harga menghargai, saling hormat menghormati satu sama lain dengan landasan dan pola pikir Tri Kaya Parisudha yaitu berkata / berucap yang baik, berperilaku yang baik, dan berpikir yang baik. Dalam upaya menjaga hubungan yang baik antara manusia dengan lingkungan perlu dijaga lingkungan yang asri, aman dan nyaman sehingga dapat memberikan manfaat dalam kehidupan. Sedangkan dalam upaya, menjaga hubungan yang harmonis antara sang pencipta / Tuhan Yang Maha Esa dengan manusia itu sendiri dapat diwujudkan dengan mendekatkan diri serada bhakti kehadapanNya melalui jalan bhakti marga maupun jnana marga. Harmonis dan seimbang adalah unsur penting yang perlu kita jaga, yang perlu kita pahami dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara. Untuk mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam kehidupan beragama Hindu landasan pelaksanaannya didasarkan atas Tiga Kerangka Agama Hindu yaitu : Berdasarkan Tattwa / Filsafat, Susila / Etika, Acara / Upacara. Berpijak dari pemikiran dan landasan tersebut kami mencoba memaparkan permasalahan yang terjadi di masyarakat dalam hubungan kehidupan beragama Hindu yaitu terkait dengan permasalahan. -
Seorang ibu yang mengalami keguguran / aborsi
-
Seorang ibu yang melahirkan anak namun meninggal sebelum tali pusarnya putus
-
Seorang ibu yang melahirkan anak namun meninggal setelah tali pusarnya putus, tetapi belum tanggal gigi.
Bila ditinjau dari sumber pokok masalah dapat dijelaskan, bahwa apapun bentuk / wujud masalahnya mengakibatkan adanya gangguan keseimbangan menyangkut alam lingkungan sekitarnya, yang meliputi palemahan, pawongan, atau parhyangan. Untuk mengatasi gangguan keseimbangan dimaksud, perlu ada tindakan nyata sehingga harmonisasi tetap terjaga, terpelihara sehingga nyaman bagi penghuninya, baik secara sekala maupun niskala. Dari uraian permasalahan di atas ada beberapa wujud kegiatan yang seyogyanya dilaksanakan sebagai upaya pemecahannya yang dipaparkan berikut ini.
2
BENTUK DAN TUJUAN BERUPACARA Ada tiga bentuk / wujud upacara yang seyogyanya dilakukan dalam upaya menjaga keharmonisan / keseimbangan alam beserta isinya antara lain : 1. Upacara Warak Kruron 2. Upacara Ngelangkir 3. Upacara Ngelungah I.
Upacara Warak Kruron Obyek Upacara Upacara warak Kruron ditujukan kepada seorang ibu yang mengalami keguguran / aborsi (kruron) dengan usia kehamilan mulai satu (1) minggu sampai 3 bulan Bali (105 hari). Ciri-ciri darah yang keluar berupa gumpalan darah belum berbentuk. Hal ini dapat dipandang sebagai menstruasi brata (kotor kain). Bila umur kandungannya tidak diketahui maka dapat dilihat dari gumpalan darahnya pada waktu terjadi keguguran, yaitu menyerupai binatang merayap seperti tokek (toke). Ciri-ciri seperti ini disebut keguguran (aborsi). Menstruasi merupakan suatu penyakit yang meminta seorang perempuan mulai menginjak dewasa umur antara 12-15 tahun sampai mereka monopause (menginjak usia renta / tua). Penyakit ini adalah penyakit yang terjadi secara teratur setiap bulan sekali, sehingga sering disebut dengan penyakit datang bulan / kotor kain. Abortus / kruron pada hakekatnya terjadi tidak dengan sengaja serta tidak direncanakan sama sekali, sehingga peristiwa ini sering disebut dengan keguguran (kehamilan yang tidak jadi / gugur). Ditinjau dari segi / aspek agama tidak bertentangan dengan norma agama dan norma hukum. Bila keguguran (aborsi) terjadi dengan disengaja (takut kena aib) maka peristiwa ini bertentangan dengan norma agama (Himsa Karma) dan melanggar norma hukum (pidana). Namun apapun bentuk dan wujud perbuatan yang dilakukan perlu dilakukan upacara pembersihan secara sekala dan niskala. Namun bila aborsi / keguguran disengaja dengan pertimbangan medis (untuk keselamatan kesehatan si ibu / dapat dibenarkan baik dari norma agama maupun norma hukum. JENIS UPAKARA -
Natar Karang - Caru ayam brumbun (eka sata) lengkap dengan sealannya caru. - Maulu suci pejati, sorohan tumpeng lima pada asoroh - Tatebasan sapuh guru
3
- Tatebasan pemyak kala - Nasi rare maulam bawang jae uyah areng -
Ring Kemulan
-
Pejati asoroh
-
Pelinggih lianan rayunan putih kuning
-
Sor segehan
-
Tan ngangge penuntunan
-
Tan pangawak / penyeneng
-
Tan tirta pengentas
Banten ayaban (aborsi) -
Pras penyeneng ayaban tumpeng pitu pada asoroh
-
Tebasan pabersihan
-
Sesayut lara melaradan
Banten pangresikan (aborsi / menstruasi) -
Tepung tawar, byakala, prayascita, panglukatan
Bentuk upacara ini sama dengan pelaksanaan upacara pecaruan karena klasifikasinya masih dalam bentuk Bhuta Dengen (lontar Mpu antuk Aben). Tujuan Upacara -
Menjaga kesucian diri sendiri bagi si penderita (buana alit)
-
Menjaga kesucian buana agung alam sekitar
-
Menjaga keseimbangan antara buana alit dengan buana agung
Cuntaka / Kesebelan Cuntaka / kesebelan sesuai buku ketahuan tafsir aspek-aspek agama Hindu PHDI Pusat adalah sebagai berikut : -
Cuntaka dan kesebelan yang disebabkan oleh keguguran / aborsi bagi si penderita (ibu) adalah 45 hari (akambuhan) terhitung sejak keguguran sampai upacara.
-
Cuntaka bagi penderita menstruasi / kotor kain, sangat tergantung dari usai mengeluarkan darah sampai karmas dan meprastista durmangala (3-5 hari)
Tata cara pelaksanaannya Petunjuk pelaksanaan sedapat mungkin diantar Jero Mangku / Pinandita sebagai penganteb, dengan nunas tirta ke sang sulinggih meliputi : -
Tirta pangresikan
4
-
Tirta pemuput
-
Tirta pejati
-
Tirta caru
Dudonan pelaksanaannya sebagai berikut : -
Upasaksi ke surya
-
Penganteb banten caru lan pengilen caru
-
Penganteb banten ring merajan / kemulan
-
Kramaning sembah
-
Ngerarung caru
-
Puput
II. Upacara Ngelangkir Upacara ngelangkir merupakan upacara pengembalian unsur-unsur Panca Maha Bhuta ke tempat asalnya (bhuana agung) ring kawit mulanya. -
Upacara ngelangkir yang ditujukan kepada sang rare dianggap belum bisa berbuat dosa / belum bisa berperilaku atas kehendak sendiri untuk berbuat dosa, dalam arti bagaikan kertas yang masih putih, bersih dari kotoran.
-
Secara khusus ciri-cirinya adalah bayi yang baru lahir dan meninggal sebelum putusnya tali puser : pernah.
-
Hal ini berarti bahwa bayi itu lahir hidup dan mati.
-
Bayi sesuai proses kehidupan, yaitu pernah lahir, pernah hidup dalam beberapa saat dan kemudian meninggal setelah menikmati kehidupan.
-
Rare / bayi memiliki unsur stula sarira, suksma sarira dan ambar kareng sarira (badan kasar, atma, dan jawa). Berkenaan dengan badan kasarnya (stula sarira) tidak berfungsi lagi, maka seyogyanya dikembalikan ke asal muasalnya (dari buana alit ke buana agung).
-
Proses pengembalian unsur-unsur panca maha bhuta ke tempat asalnya bagi anak dan orang dewasa melalui proses ngaben / pengabenan.
sedangkan proses pengembalian unsur panca maha bhuta terhadap bayi (rare yang belum putus tali puser (kepus pungsed) disebut ngelangkir. Secara prinsip baik ngaben maupun ngelangkir pada intinya sama, namun yang membedakan adalah upakara yang menyertainya. -
Dalam upacara ngelangkir tidak memerlukan banten teben, dan tidak melalui proses pengaskaran sebagaimana lazim dipergunakan dalam upacara pengabenan.
Hal ini dapat dipahami karena sang bayi / rare belum pernah berbuat dosa.
5
Jenis Upakara Ngelangkir Pura Dalem lan Prajapati -
Meserana banten pejati lan suci
-
Sorohan tumpeng lima asoroh
Sor : segehan barak atanding Suskmannyane : matur piuning lan nunas tirta pengerapuh gegumuk - Banten pengendag bangbang - Pejati asoroh - Segehan cacah 9 tanding - Banten ayaban rare - Bubur pirate - Punjung putih kuning - Beras catur warna mewadah ceper - Banten Pengresikan - Isuh-isuh segau, byakala, durmangala, prayascita, pengulap - Banten pinunas tirta pengentas rare lan tirta panglukatan rare maserana : daksina, peras, soda, suci, samsam beras kuning - Banten penebusan atma meserana pejati ring pertiwi - Serana yang patut disiapkan antara lain - Penuntunan rare - Jemek / penyeneng mepayas / pengawak rare jangkepin tigasan putih kuning kwangen lan pipil (manut adan bunga-bunga) - Tirta-tirta yang perlu dipersiapkan - Tirta pengentas dari Grya - Tirta pelukatan rare dari grya - Tirta prelina rare dari grya - Tirta kahyangan tiga desa - Tirta tiga guru kawitan - Tirta penyeeb (Grya) TATA CARA PELAKSANAAN UPACARA Menurut hasil pertemuan PHDI kabupaten dengan PHDI Provinsi Bali di Denpasar dinyatakan bahwa proses upacara ngelangkir bisa dilaksanakan di kuburan / setra dan dapat pula dilakukan di segara. Sedangkan proses pengembalian unsur panca maha bhuta bisa dilakukan melalui pembakaran dan bisa dipendem / dikubur kembali di kuburan. Proses pelaksanaan secara inti adalah :
6
-
Ngaturang banten piuning ke pura Prajapati dan Pura Dalem, dilanjutkan pengendag bangbang di kuburan.
-
Permakluman kehadapan sedahan setra (bila pelaksanaan di kuburan) maupun pemongmong samudra (bila di laut)
-
Pengawak / penyeneng / pengurip di resik terlebih dahulu (isuh segau, byakala durmangala, prayascita, pengulap) lanjut melukat / mejaya-jaya bija lan karowista
-
Lakukanlah utpati petra, dan stiti preta (menstanakan sang atma pada pengawak / penyeneng, sebagai simbul selipkan kalpika ke pengawak / penyeneng.
-
Jemek / pengawak / penyeneng ayabin banten punjung putih kuning, beras catur warna, banten pelangkiran, lan segehan manca warna.
-
Pakula warga kramaning sembah pengrastiti kerahayuan, tidak disertai nyembah ke sang Petra.
Proses Mrelina Jemek / Penyeneng -
Siapkan serana bila akan dibakar / dibasmi yaitu : - Senden, tebu penguyegan, sepit, ilih, sidu, bungkak nyuh gading kinasturi - Don dapdap 3 bidang, beras catur warna - Kwangen jinah 11 keteng - Kojong / suku tunggal mepayas
-
Jemek / penyeneng ditaruh diatas senden diperciki tirta pelukatan pabersihan, tirta pengentas, tirta prelina, tirta paibon / kawitan, tirta kahyangan tiga desa, tirta pura dalem paling akhir.
-
Jemek / penyeneng dibakar dengan menyulutkan agni prelina dari sulinggih
-
Setelah jadi abu, diperciki tirta penyeeb dari sulinggih, belonyoh.
-
Diuleg dengan tebu / carang dapdap sampai lumat.
-
Abu dimasukan kedalam bungkak kelapa gading, beralaskan don dapdap 3 helai, beras catur warna.
-
Dibungkus dengan kojong, dihias lengkapi tigasan putih kuning, canang dan kwangen sesari 11 keteng.
-
Ayabin banten punjung putih kuning
-
Hanyut ke segara meserana banten pejati lan tirta pengiriman
Setelah sampai di rumah lakukan pabersihan diri dengan tirta panglukatan, banten prayascita durmangala. Proses Pemrelina tanpa pembakaran -
Setelah jemek / penyeneng ngayab banten punjung putih kuning, beras catur warna, banten pelangkiran lan segehan.
7
-
Lakukan prelina dengan tirta prelina dari Grya, serta tirta pengentas, kawitan lan kahyangan tiga.
-
Pengawak / penyeneng dan semua upakara / banten dikubur di kuburan.
-
Tempat menanam upakara diperciki tirta pengerapuh termasuk bekas kuburan sang rare.
-
Setelah sampai di rumah semua keluarga melukat dan natab banten prayascita durmangala.
Cuntaka / Kesebelan -
Cuntaka / kesebelan hanya kepada si ibu yang melahirkan yaitu satu bulan tujuh hari (bali) atau selama 45 hari
-
Keluarga terdekat 3 hari / disesuaikan dengan dresta setempat.
III. Upacara Ngelungah Upacara ngelungah pada prinsipnya sama dengan upacara ngaben namun dari segi upakara tidak disertai dengan upakara / banten teben dan upacara pengaskaran. Unsur pokok upacara ngelungah adalah mengembalikan unsur-unsur Panca Maha Bhuta sebagai wujud badan kasar (stula sarira) ketempat asalnya yaitu buana agung dan mensucikan roh / atma. Proses pengembalian untuk Panca Maha Bhuta, bisa melalui pembakaran melalui api, dan dapat pula melalui dikubur di pertiwi. Hal ini amat tergantung dari kondisi setempat. Menurut bunyi lontar tattwa loka kerti lampiran 5a menyebutkan : “Yan wwang mati mependem ring pertiwi selawasnya tan kinenami widhi wedhana, byakta matemahan roga ring bhumi haro-haro gring merana rat atemahan gad-gad. Yang artinya bilamana ada orang yang mati / bayi dikubur dipertiwi selamanya tidak pernah tersentuh dengan upakara widhi wedana mengabitkan badan kasarnya akan menyatu dengan ibu pertiwi yang menyebabkan pencemaran, bumi menjadi kacau, penyakit merajalela. Berkenaan dengan hal itu seyogyanya bagi mereka yang telah meninggal secepatnya diupacarai, dengan cara dibajar agar unsur-unsur Panca Maha Bhuta kembali ke tempat asalnya secepatnya. Demikian hakekatnya bahwa pengembalian unsur panca maha bhuta inti pokok pelaksanaan upacara ngelungah. Sasaran Upacara Yang menjadi obyek dalam pelaksanaan upacara ngelungah adalah : 1.
Bayi (rare) yang meninggal tali pusernya telah putus (kepus pungsed)
2. Bayi (rare) belum tanggal gigi (durung ketus gigi)
8
Upakara / Wewantenan 1.
Upakara pakeling di Pura Prajapati - Pejati asoroh - Segehan bang atanding
2. Upakara pakeling nunas tirta di Pura Kahyangan Tiga Desa - Pejati asoroh - Segahan manut linggih atanding 3. Ring gegumuk / bila dikubur - Banten matur piuning sedahan bangbang (pejati asoroh) - Punjung atanding - Segehan putih kuning 4. Pengendag bangbang - Pejati asoroh - Segehan cacah 9 tanding - Bunga tunjung / kalpika 5. Banten ayaban sawa - Pengawak / penyeneng - Bubur pirata - Punjung putih kuning - Segehan manca warna - Banten pelangkiran 6. Kajang Rare - Kwangen 9 tanding 7. Banten Penganyutan - Pejati - Segehan selem 8. Banten Pangresikan - Tepung tawar, byakala, durmangala, prayascita, pengulap 9. Banten Tirta Pengentas - Peras, soda, daksina suci - Samsam beras kuning 10. Tirta yang nunas di Griya - Tirta Pengentas - Tirta Pelukatan - Tirta Prelina / Agni Prelina - Tirta Penyeeb - Tirta Penganyutan - Belonyoh
9
11. Serana yang perlu disiapkan - Pengawak / penyeneng pengelungahan - Penuntun pengelungahan - Suku tunggal - Senden, tebu, sidu, sepit, ilih, bungkak nyuh gadang, nyuh gading - Kwangen jinah 11 keteng - Beras catur warna / don dapdap 3 bidang - Sangku, tigasan putih kuning, canang Banten piuning ring : - Ring pempatan, peteluan, marga agung Prosesi Upacara Ngelungah 1. Matur piuning ring Pura Prajapati lan Pura Dadya 2. Ngendagin ring sedahan bangbang serana bungan tunjung 3. Banten ayaban gelarang di atas kuburan anak-anak 4. Mereresik ke pengawak / penyeneng tepung tawar, byakala, durmangala, prayascita, pengulapan. 5. Mejaya-jaya mekarowista mebija 6. Ngelinggihang atma ring jemek utpati stiti ke jemek / penyeneng 7. Katuran ayaban ke jemek / penyeneng 8. Menghaturkan banten ke sedahan setra, sedahan bangbang sang kala pati 9. Kramaning sembah tidak disertai nyumbah. Proses Mrelina Pengawak / Penyeneng 1. Siapkan senden lengkap dengan agni prelina, sidu, tebu, sepit, ilih dan suku tunggal. 2. Jemek / penyeneng ditaruh di atas senden. 3. Jemek / penyeneng diperciki tirta prelina, pengentas dan pelukatan tirta kawitan, tirta kahyangan tiga (tirta pura dalem terakhir). 4. Setelah jadi abu, siram dengan tirta penyeeb, tirta kumkuman toya bungkak nyuh gading. 5. Uyeg dengan tebu / carang dapdap sampai lumat 6. Masukan kedalam bungkak (bkas tirta pengentas) alasai don dapdap beras catur warna. 7. Pasang kojong, kasang, bungkus hias isi kwangen uang kepeng 11 keteng, canang tigasan putih kuning. 8. Taruh di atas bokor 9. Ayabin punjung putih kuning 10. Hanyut / kirim ke segara dengan tirta pengiriman dengan serana banten pejati. 11. Keluarga pulang natab banten prayascita durmangala dan pelukatan.
10
Rujukan membuat Sarana Upakara Ngelungah dan Tirta Pengelungahan 1.
Pengawak / Penyeneng Ngelungah / Ngelangkir -
Kojong metajer lanang / istri disusun pengurip / penyeneng
-
Dibungkus kain putih pakai kekasang dan pita
-
Dalam kajang masukan bungkak kelapa gading, diisi beras catur warna, kalpika, padang lepas, sehet mingmang, ikat dengan benang tridatu.
-
Bungkak ditulisi / dirajah dwi aksara Ang Ah
-
Bungkak dibungkus daun beringin 3 lembar rajah tri aksara, daun menori 3 lembar merajah dasaksara.
2.
-
Selipkan pipil dan tungked nama
-
Isi kwangen mesari uang kepeng 11 keteng
-
Taruh dalam sangku, tambahkan tigasan dan canang selengkapnya.
Cara membuat penuntunan -
Siapkan daksina jangkep dengan buah pangi dan tingkih, telur itik
-
Peras alit atanding
-
Masukan bahan semua kedalam wakul
-
Tancapkan tulup / tambah yang telah dihias dengan jejahitan tangga menek / tuun, jan sesapi dan pidpid
3.
4.
-
Diisi bakang-bakang kwangen sesari 11 keteng, akar beras yang dibungkus
-
Dibungkus kain putih, pasang benang tridatu, gantung pasang kayu bilangan genap.
Cara membuat tirta pengentas rare -
Siapkan kelapa gadang merajah padma
-
Tiga lembar daun bunut bulu merajah tri aksara
-
Tambah embotan pudak 3 lembar
-
Sehet mingmang 33 helai
-
Karo wista, kalpika, padang lepas, bunga tunjung
-
Ikat jadi satu dengan benang tri datu, dengan carang daun beringin
Cara membuat tirta panglukatan rare -
Siapkan bungkak kelapa gading merajah padma
-
Isi dengan bija kuning dan bunga pucuk bang.
11
Puja Arga Tirta (Sulinggih) 1.
Tirta Pengentas Rare Om : Sang Hyang Ananda, rat membaning atmanya si jabang bayi dunung akna ring sunya byantara ring walung kepala maneher atma moksah, bayu moksa 3x Om : Sang Rare cili mne mne kaluhur sah sira saking unggwanira les ser
2.
Tirta Panglukatan Rare Om. Banyu mulaning sarira Sarira ngawe mala Binersih ikang banyu Tka lukat malaning wong rare Om Lukat Lukat Lukat Om
3.
Tirta Prelina Rare Om A Ta Sa Ba I Wa Si Ma Na Ya Om Ung Ang Mang Ah Ang Om Om Ang Ati Sunya Ya Namah Om Ang Prama Nurbana Sunya Ya Namah Swadah
4.
Tirta Penganyutan Rare Om Wisnu mumbul tirta suci toya akrantum Elung sira asanak lawan manusa Manusa tunggalan sire Sire tunggal ring manusa Swargan ira maring bayu Bayu mulih marung manusa Hening pada hening Suci pada suci Sukla pada sukla Pada nemu rasaning swarga Poma-Poma-Poma
5.
Tirta Penyeeb Rare Om Ang Ung Mang Suna Yogi Prame Sidyam Gangga Srayu Saraswati Sunya muna godawari Sarwa wigna winasanam