Senin, 19 Juni 2023

Berkah Keramat Nabe Istri

Berkah Keramat Nabe Istri (Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manusia) 
Pernahkah kita mengamati wajah sosok nabe istri saat beliau tertidur lelap? Adakah kekhawatiran terlintas di hati membayangkan saat matanya tak mampu lagi terbuka? Kehilangan sosok Nabe Istri untuk selamanya adalah salah satu ketakutan terbesar bagi seorang nanak. Beruntunglah bagi kita yang sampai saat ini masih bisa mendengar suara merdu dan melihat teduhnya senyuman seorang sosok Nabe Istri. Keberadaannya di samping kita adalah anugerah terindah. Begitupun bagi seorang anak yang tak lagi memiliki seorang ibu, kenangan bersama sosok nabe istri tentu akan menjadi bagian yang tak akan pernah terlupakan. Andai setting waktu bisa dikendalikan, pasti semua akan memilih untuk tetap didampingi ibu hingga akhir hayat, bahkan menemaninya hingga ke surga.
Begitu besar peran seorang nabe istri bagi nanak dharma dan anak serta cucu bilogisnya.  Itulah kenapa seorang nabe istri menduduki posisi teristimewa, orang pertama yang harus dimuliakan oleh nanak-nanaknya. Dialah pemilik tiga kali kebaikan lebih besar dibandingkan dengan yang lainnya.

Ada sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa saat keajaiban dan kesuksesan datang menghampirimu, saat itulah doa sosok nabe istri sedang  memberkati. Kata-kata itulah yang selalu saya pegang sebagai alarm yang mengingatkan agar tak berpaling dari kasih sosok nabe istri. Tak ada setitik pun kemudahan yang saya peroleh hari ini tanpa iringan doa dari nabe istri yang menjadi perantara anugrah Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Terimakasih Ida Sinuhu Siwa Putri Prama Daksa Manuaba, jasamu abadi mengalir dalam nadi, terukir indah dalam relung hati. Semoga semua kasihmu menjadi kesaksian yang akan memberatkan timbangan amal yang akan membawamu ke surga.

UTS Itihasa

Oleh :

Ni Nyoman Gandu Ningsih 
(Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manuaba)

Nim : 2112101045.

Jawaban
1. Ajaran moralitas yang utama dalam kisah Mahabarata serta relevansinya dalam kehidupan  saat ini yaitu Nilai-Nilai Moral Wejangan Rshi Bhisma.
Dalam Anusasana Parwa disebutkan sebelum kematian Bisma Yudistira diberikan
kesempatan untuk bertanya kepada Bisma dan Bisma Siap menjawab semua pertanyaan
Yudistira. Tanya jawab itu berlangsung beberapa hari yang isinya antara lain :
a. Kewajiban utama seorang raja adalah melindungi rakyatnya atau memberi rasa aman
kepada rakyatnya dan memberikan kesejahteraan kepada mereka, serta mengabdikan diri kepada Dewa-Dewa dan para Brahmana dengan rendah hati
b. Kaum Brahmana harus dihormati. Kaum Brahmana yang melakukan kesalahan tidak
boleh diberikan hukuman badan. Hukuman yang bisa diberikan yaitu mengusir mereka
dari wilayah kerajaan.
c. Raja tidak boleh terlalu keras tetapi juga tidak boleh terlalu lunak. Orang yang berdosa
apabila tidak diberi hukuman akan menyebabkan orang lain ikut berbuat salah. Tetapi hukuman tersebut harus diberikan seadil-adilnya.
d. Berdamailah dengan musuh yang memang pantas untuk diajak berdami dan gempurlah
musuh yang memang pantas digempur. Apakah dia guru atau kerabat apabila melalkukan
keingkaran harus disingkirkan.
e. Dengan jiwa yang bersih raja harus mampu mengendalikan kemarahannya dan semua
keputusan yang diambilnya haruslah sesuai dengan kitab suci.
f. Raja tidak boleh terlalu percaya kepada orang lain, mesti kepada abdinya sendiri.
g. Raja harus menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, menunjung tinggi ajaran-ajaran suci, mengabdi untuk kebaikan rakyat, berlaku adil dan dermawan.
h. Kerajaan tidak mungkin dilindungi dengan kesederhanaan, oleh karena itu seorang raja
harus memiliki dua sifat yaitu kepolosan juga kelicikan. (Nurkancana, 2010 : 153-154).
Memperhatikan secara seksama nasehat atau wejangan Rshi Bhisma kepada Yudistira
tersebut di atas mengandung nilai-nilai moral atau etika politik kebenaran, keadilan,
kerendahan hati, kesabaran dan keraramah tamahan. Bhisma tidak mengungkapkan tentang kreteria atau definisi dari baik dan jahat, kebenaran dan ketidakbenaran karena kreteria atau definisi tersebut akan bisa berubah seiring dengan perkembangan jaman atau paling tidak tempat da waktu. Nilai-nilai yang ditekankan adalah tidak melukai semua mahluk dalam arti luas karena perbuatan melukai orang lain sama dengan kejahatan. Lebih jauh Rshi Bhisma menegaskan bahwa tugas Raja adalah melindungi dan mensejahterakan rakyatnya, penghormatan kepada kaum brahmana karena kaum ini merupakan sumber dari segala sumber ajaran dharma, sikap tegas seorang raja terhadap mereka yang melakukan kesalahan,
kewajiban raja untuk berdiplomasi artinya kapan harus bersikap lemah lembut dan kapan
harus keras demi mencapai tujuan, melalui komunikasi politik yang mapan seperti mampu
mengendalikan kemarahan, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan terakhir sifat kelicikan
juga diperlukan untuk melindungi kerajaannya dari berbagai macam ancaman, tantangan,
hambatan dan gangguan. 

Jadi kisah mahabharata adalah kisah yang patut dibaca dan dipahami oleh semua orang terutama calon pemimpin dan
para pemimpin, karena mengandung nilai-nilai etika moral maupun politik yang dapat
dijadikan pijakan ketika mengambil berbagai keputusan penting dalam kehidupan bernegara,
berbangsa dan bermasyarakat

2. Konsep teologi Hindu yang dihadirkan dalam epos itihasa epos Mahabarata yaitu :
Itīhāsa sering disebut juga sebagai Wiracarita, karena cerita ini dahulu sering diceritakan melalui tradisi mulut ke mulut. Wiracarita (Wira=Laki, Pahlawan, Berani, Perwira; Carita=cerita) jadi Wiracarita adalah Cerita kepahlawanan. Cerita kepahlawanan ini didasarkan pada latar sejarah para raja, Namun nilai-nilainya tetap diambil dari Weda. Hal tersebut dipertegas dalam Mahabharata pada Svargarohana 

Parva (5.57) yaitu Parva ke 18.
Itihāsmimaý puóyaý mahàrtaý vedasamitam
Vyàsoktaý sruyate yena kåtvà bràhmaóamagrataá

Terjemahannya:
Cerita ini adalah peristiwa sejarah, dan mengandung makna yang dalam, dan mengandung ajaran yang ada pada cerita ini sama seperti ajaran suci Weda.
Karya Maharsi Wyasa hendaknya didegar terlebih bagi seorang Brahmana.


3. Dalam kisah Mahabarata kebenaran itu tidak memihak pada satu orang atau kelompok tertentu maksudnya kebenaran itu berkorelasi dengan legitimasi formal (harap bedakan dengan legitimasi sosiologis dan legitimasi etis). Kebenaran adalah soal keabsahan penalaran, dengan kognisi sebagai modalitas utamanya. Maka kebenaran lebih berpeluang untuk disepakati karena berada di ranah rasio. Muncul adigium bahwa kebenaran itu tidak berpihak, dalam arti ia seharusnya bisa diterima semua pihak sepanjang mereka mau berpikir rasional.
Kebenaran sebagai nilai universal dalam kisah Mahabarata. Jika kita memandang kebenaran sebagai nilai universal, maka konsekuensinya kita harus meyakini ada tolok ukur yang sama tentang benar dan tidak benar bagi semua orang, semua bangsa, dalam segala zaman dan keadaan. Segera kita dapat menyadari bahwa universalitas demikian hanyalah asumsi yang tidak selalu klop dengan kenyataan. Karena ada asumsi tersebut, maka sekaligus diyakini pula bahwa kebenaran itu suatu realitas yang objektif.

4. Kenapa Krisna tidak tidak mencegah terjadinya perang dan ketidak adilan dalam epos mahabarata bahwa:

Krishna memainkan peran penting dalam perang, dan dia adalah kusir Arjuna, salah satu Pandawa. Dia juga bertindak sebagai mediator antara Pandawa dan Kurawa dan mencoba menyelesaikan konflik melalui cara damai. Namun, terlepas dari usahanya, perang menjadi tak terelakkan, dan itu terjadi dengan segala keganasannya. Ada beberapa alasan mengapa Krishna tidak menghentikan perang, dan itu adalah sebagai berikut:

a. Perang diperlukan untuk menegakkan dharma: Dharma, yang berarti kebenaran, adalah salah satu nilai inti agama Hindu. Pandawa berperang untuk menegakkan dharma dan menegakkan prinsip keadilan dan kebenaran. 

b. Perang itu diperlukan untuk menghilangkan adharma atau ketidakbenaran yang telah merajalela di kerajaan Hastinapur selama bertahun-tahun. Krishna tahu bahwa perang diperlukan untuk memulihkan dharma, dan dia tidak dapat menghentikannya.

c. Perang adalah akibat dari karma para tokoh yang terlibat: Dalam agama Hindu, karma mengacu pada hukum sebab akibat. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam perang telah mengumpulkan karma selama banyak kehidupan, dan perang itu adalah hasil dari tindakan mereka di kehidupan sebelumnya. Krishna tahu bahwa karakter harus menanggung akibat dari tindakan mereka, dan dia tidak dapat mengganggu karma mereka.

d. Perang adalah kesempatan untuk pertumbuhan spiritual: Perang Kurukshetra bukan hanya pertempuran fisik, tetapi juga pertempuran spiritual. Itu adalah kesempatan bagi para karakter untuk tumbuh secara spiritual dan mencapai pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian. Krishna tahu bahwa perang adalah kesempatan bagi para tokoh untuk berkembang secara spiritual, dan dia tidak dapat menghilangkan kesempatan ini dari mereka. Krishna mencoba menghindari perang dengan cara damai: Krishna, sebagai mediator, mencoba menghindari perang dengan cara damai. Dia mencoba menegosiasikan penyelesaian antara Pandawa dan Kurawa, tetapi usahanya sia-sia. Terlepas dari usahanya, Korawa bersikeras, dan perang menjadi tak terelakkan. Krishna tahu bahwa perang akan menghasilkan kemenangan bagi Pandawa: Krishna tahu bahwa perang akan menghasilkan kemenangan bagi Pandawa. Dia tahu bahwa Pandawa adalah pewaris takhta yang sah, dan mereka mendapat dukungan dari para dewa. Ia juga mengetahui bahwa kemenangan Pandawa akan memulihkan dharma dan membawa kedamaian dan kemakmuran bagi kerajaan.

e. Perang adalah sarana untuk menguji kekuatan dan tekad karakter: Perang Kurukshetra adalah ujian kekuatan, tekad, dan tekad karakter. Krishna tahu bahwa karakter harus menghadapi tantangan ini untuk membuktikan keberanian mereka dan muncul lebih kuat darinya. Dia tidak dapat menghilangkan kesempatan mereka untuk tumbuh dan berkembang.

f. Perang adalah hasil dari kehendak bebas: Dalam agama Hindu, kehendak bebas sangat dihargai, dan individu bebas membuat pilihannya sendiri. Karakter yang terlibat dalam perang telah menjalankan kehendak bebas mereka, dan perang adalah hasil dari pilihan mereka. Krishna tidak dapat mencampuri kehendak dan pilihan bebas mereka, karena itu bertentangan dengan prinsip kehendak bebas.

g. Perang adalah bagian dari rencana kosmik: Dalam agama Hindu, alam semesta diyakini mengikuti rencana atau tatanan kosmik, dan segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari rencana ini. Perang Kurukshetra adalah bagian dari rencana ini, dan itu harus terjadi untuk menjaga keseimbangan kosmik. Krishna tahu bahwa perang adalah bagian dari rencana kosmik, dan dia tidak dapat mengubahnya.

h. Perang adalah sarana untuk memenuhi takdir karakter: Dalam agama Hindu, setiap individu memiliki takdir atau tujuan hidup yang unik. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam perang memiliki takdir yang harus dipenuhi, dan perang adalah sarana untuk memenuhi takdir tersebut. Krishna tahu bahwa karakter harus memenuhi takdir mereka, dan dia tidak dapat menghentikan mereka untuk melakukannya.

i. Perang adalah sarana untuk menyebarkan pengetahuan dan kebijaksanaan: Perang Kurukshetra bukan hanya pertempuran fisik, tetapi juga pertempuran ide dan ideologi. Itu adalah sarana untuk memberikan pengetahuan dan kebijaksanaan kepada karakter dan generasi mendatang. Krishna tahu bahwa perang adalah sarana untuk menyampaikan pelajaran dan ajaran yang berharga, dan dia tidak dapat menghilangkan karakter dari pengetahuan ini.

Jadi:
Ketika adharma melewati batasnya, bagaimanapun juga harus ada yang menghentikannya. Krishna memainkan peran utama dalam menegakkan dharma, tetapi dia memberi ruang untuk perang hanya setelah mencoba pembicaraan damai hampir 5 kali.

Dan, ada kalimat indah yang diceritakan oleh Krishna yang mengatakan, ketika orang bahkan tidak mencoba untuk berubah bahkan setelah berbicara dengan mereka tentang yang baik dan yang buruk, satu-satunya cara untuk membuat mereka mengerti kesalahan mereka adalah dengan menghukum mereka (melalui peperangan) 

Krsna terdapat pada cakra sahasrara. Jadi ketika kundalinii (Keagungan yang tertidur) terbangkitkan, naik dan menuju perlindungan Krsna dengan bantuan Pandawa, maka Jihva (unit diri) bersatu dengan Kesadaran Agung. Pandawa menyelamatkan jiiva dan membawanya ke perlindungan Krsna.



Sabtu, 17 Juni 2023

Studi Pernaskahan

Oleh :

Ni Nyoman Gandu Ningsih 
(Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manuaba)

Nim  : 2112101045.

Jawaban:
1. Perbedaan naskah dengan teks yaitu
              Naskah adalah dokumen tertulis yang ditulis dalam buku yang menyimpan ungkapan dan perasaan sebagai hasil budaya masa lampau.
Contohnya: Naskah yang paling tua Tjandara Kanana (dalam bahasa jawa kuno abad ke - 8)
             Sedangkan yang dimaksud dengan Teks adalah data yang terdiri dari karakter – karakter yang menyatakan kata – kata atau lambang – lambang untuk berkomunikasi dengan manusia dalam bentuk tulisan.
Contohnya: Pada naskah teks proklamasi yang berarti kami bangsa indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

2. Hubungan naskah dengan kebudayaan Bali yaitu sebagai peninggalan masa lampau, naskah mampu memberi informasi mengenai berbagai aspek kehidupan masyarakat masa lampau seperti politik, ekonomi, sosial budaya, pengobatan tradisional, tabir gempa atau gejala alam, fisikologi manusia, dan sebagainya. Informasi awal terkait dengan hal ini dapat ditemukan dalam kandungan naskah untuk dipelajari oleh semua orang. Naskah-naskah itu penting, baik secara akademis maupun sosial budaya. 

Naskah tersebut merupakan identitas, kebanggaan dan warisan budaya yang berharga. Secara sosial budaya, naskah memuat nilai-nilai yang masih relevan dengan kehidupan sekarang, sehingga menjadi sebuah tanggung jawab telah berada di pundak kita untuk mengungkap ‘mutiara’ yang terkandung di dalamnya. Naskah kuno, di samping sebagai dokumentasi budaya juga bisa dijadikan objek pengajaran untuk mengambil nilai-nilai dan kandungan di dalamnya. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan dalam merelevansikan nilai kebaikan yang ada di masa lampau untuk diterapkan hari ini.

Jadi naskah membantu masyarakat Indonesia untuk memahami rekam jejak budaya bangsa yang berisikan ragam budaya dengan nilai tinggi dan kejayaan masa lampau. Mengingat naskah merupakan hasil pemikiran para leluhur dalam membangun peradaban bangsa ke arah lebih baik. 

Hubungan naskah Bali dan kebudayaan
Bali yaitu bahasa Bali adalah bagian dari
kebudayaan Bali, naskah Bali adalah indeks
kebudayaan Bali, dan naskah Bali adalah
simbol kebudayaan Bali. 

3. Konsep Ketuhanan dalam teks Wrespati Tattwa menyatakan bahwa
Bhatara Iswara yang tertinggi
mencakup dua hal kesadaran (cetana)
dan ketidaksadaran (acetana). Kedua
unsur ini ada pada semua tatwa dan
untuk mendapatkannya diperlukan
usaha sungguh-sungguh. Cetana berarti
pengetahuan (jnanasvabhava), tidak
terpengaruh oleh ketidak-sadaran dan
bersifat abadi (nitya), artinya tetap
kokoh, tidak dapat disembunyikan.
Itulah yang disebut Cetana. Acetana
artinya tanpa pengetahuan, ibarat batu.
Itulah yang dinamakan Acetana. Jika Cetana dan Acetana
bertemu, maka akan lahirlah Sarwa
tattwa yaitu Pradana tattwa, Triguna
tattwa, buddhi tattwa, ahankara tattwa,
bahyendriya tattwa, karmendriya
tattwa, dan Panca Maha Bhuta tattwa.
cetana itu ada 3 bentuknya, yaitu
Parama Siwa tattwa, Sada Siwa tattwa,
dan Siwa tattwa. Cetana itu ada 3
bentuknya, yaitu Parama Siwa tattwa,
Sada Siwa tattwa, dan Siwa tattwa. 

4. Konsep  Panca Tatagatha dalam teks Sang Hyang Kamahayanikan yaitu Pañca Tathāgata adalah salah satu konsep unik di tantra. Pañca Tathāgata ini berkaitan dengan yang kita sebut svabhavathanagotra,” tutur Śrāmaṇeri. Svabhavathanagotra ini adalah benih kebuddhaan.
Sedangkan Sanghyang Kamahayanikan mengajarkan bagaimana seseorang mencapai Kebuddhaan, adalah seorang siswa pertama-tama harus melaksanakan Catur Paramita (Empat Paramita), akhir diterangkan Paramaguhya dan Mahaguhya. Selain itu, diterangkan juga falsafah Adwaya yang mengatasi dualisme "ada" dan "tidak ada".

Dalam kitab itu terdapat uraian yang sangat rinci bagaimana seorang yogi penganut Tantrayana menyediakan diri di jalan spiritual, mulai fase pembaiatan hingga pelaksanaan peribadatan yang bertingkat-tingkat. Di situ diistilahkan bahwa petuah Tantrayana adalah laku meditasi terhadap Panca Tathagata. Dengan memuja mereka, seorang yogi dapat mencapai kebersihan kecerdikan.

Namun, sebagian luhur penganut Buddha sedang belum mengenal dan memperlajari kitab ini karena Sanghyang Kamahayanikan ditulis dalam bahasa sastra (penuh metafora) sehingga diperlukan kemampuan semakin serta asuhan guru supaya tidak salah dalam mempelajarinya. Sebagai kitab beraliran Mahayana-Tantrayana, Sang Hyang Kamahayanikan mendudukkan mantra-mantra dan diagram serta mudra dalam posisi sentral sebagai bentuk formula rahasia yang bersifat mistis.

5. Perbedaan konsep Ketuhanan dalam teks Siwa dan teks Buddha yaitu

Dalam konsep Ketuhanan teks Siwa, keesaan Tuhan juga dibedakan antara Brahmana Nirguna, yakni Tuhan yang sama sekali tidak punya atribut dan bentuk tertentu (nirupam) dan belum terpengaruh oleh apapun juga, termasuk kekuatan belenggu maya serta berkedudukan pada alam utama Satyaloka Yang Maha Sempurna (Paramasiwa). Sedangkan Brahma Saguna keberadaannya bersifat maya. Ia juga tidak memiliki wujud dan rupa, tapi sudah aktif memberikan efek dan pengaruh terhadap segala ciptaannya.

Sedangakan konsep keesaan Tuhan dalam teks Buddha, sebagaimana disebutkan dalam kitab Sutta Pitaka, Udana VIII: 3, keesaan Tuhan diistilahkan dengan Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam dengan arti sesuatu yang tak dilahirkan, tak dijelmakan, tak diciptakan, dan bersifat Maha Mutlak. Keesaan Tuhan dalam agama Buddha lebih ditekankan pada konsep Impersonal Good atau dalam agama Hindi lebih dikenal dengan Brahma Nirguna. Dia yang dilukiskan sebagai Annata, sesuatu yang berwujud tanpa sosok dan tidak bisa dibandingkan atau disamakan dengan sesuatu apa pun. Dia yang ada di mana-mana dan tidak ke mana-mana.








Jumat, 16 Juni 2023

UTS Yajur Weda

Oleh :

Ni Nyoman Gandu Ningsih 
(Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manuaba)

Nim  : 2112101045.

JAWABAN:
1. Mantra Samhita adalah doa-doa, pujian-pujian, sekaligus mantra-mantra dalam suatu sloka-sloka berirama pada acara pemujaan terhadap para dewa keluarga atau umum dengan tujuan meraih kemakmuran materiil di bumi dan kebahagiaan di alam baka. Selain itu, mantra ini juga memuat doa kebaktian, ucapan syukur, petunjuk korban, dan ajaran filsafat.

2. Kaitan upacara yadnya agama Hindu di Bali dengan Yajur weda yaitu mengingat masyarakat Hindu Bali sangat meyakini banten adalah syarat mutlak yang diperlukan agar pemujaan kepada Hyang Widhi dapat dilakukan sesempurna mungkin, meskipun dalam Bagawad Gita Sloka IX.26 dinyatakan "Patram puspam phalam toyam, yo me bhaktya prayacchati, tad aham bhaktya upahrtam, asnami prayatatmanah" (siapapun yang dengan sujud bhakti kepadaKu mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah, seteguk air, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci).

Untuk sarana banten dan pelaksanaan upacara itu, terlihat sekali dipengaruhi oleh seni budaya masing-masing masyarakat setempat, seperti seni rias yang dipancarkan oleh bentuk banten, seni suara berupa kidung kakawin atau lagu-lagu pujaan, seni tari berupa seni sakral dan seni wali, seni tabuh berupa gamelan, serta tata cara berbusana upacara agama yang masing-masing daerah bisa berbeda. Dengan adanya seni budaya yang menunjang upakara, maka upacara tersebut menjadi begitu meriah dan memberikan rasa bahagia (hita). Harus dipahami pula, seni budaya tersebut sesungguhnya bukannya semata-mata seni, melainkan suatu seni yang mengandung makna simbolis tertentu dan membungkus ajaran tattwa agama.

Khusus Yadnya dalam bentuk banten dalam tradisi Hindu di Bali, sesungguhnya melewati perjalanan sejarah yang panjang. Di dalam kitab Yajur Weda dapat dijelaskan adanya persembahan yang dihaturkan kepada Dewa sebagai manifestasi dari Brahman. Sesuai dengan namanya sendiri bahwa Yajur Weda artinya pengetahuan yang digunakan untuk persembahan, maka dalam perwujudannya materi persembahan tersebut bisa kita lihat sekarang dalam bentuk tetandingan banten.


3. Pandangan saya mengenai upacara yadnya agama Hindu di Bali dengan memakai kurban binatang adalah sebagai berikut  Dalam lontar Sunarigama disebutkan ada dua cara untuk melakukan ritual. Pertama dengan menghaturkan sesajen (banten), terutama bagi masyarakat umum. Yang kedua dengan  tapa brata yoga samadhi, terutama untuk mereka yang sudah mencapai tingkat kerohanian tertentu dan “wruh ring tattajnana”. Sama-sama dengan tujuan mencapai suatu kesucian, baik suci lahir dan batin maupun suci pada lingkungan.

Bagi yang menggunakan sesajen memang diperbolehkan mempersembahkan segala hasil bumi termasuk hewan peliharaan. Justru hasil bumi dan hewan yang dipakai persembahan itu akan tumbuh semakin baik dan hewan yang dibunuh akan “lahir kembali” dalam status yang lebih tinggi dari keadaan semula. Ini juga disebutkan dalam sloka Manawa Dharmasastra V.40. Bunyinya: Osadyah pasawa wriksastir, yancah pakhanam praptah, yajnartham nidhanam praptah, praapnu wantyutsritih punah. Terjemahannya: Tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan, ternak, burung lainnya yang telah dipakai untuk upacara akan lahir dalam tingkat yang lebih tinggi pada kelahirannya yang akan datang.

Karena korban itu adalah “penyucian” maka buah yang dipetik dari pohonnya untuk persembahan akan membuat pohon itu berlipat buahnya pada musim selanjutnya. Dan hewan, termasuk burung dan ikan, akan menjadi “suci” sehingga pada kelahirannya kelak, statusnya lebih baik dari semula.

Upacara yadnya agama Hindu di Bali dengan memakai kurban binatang apakah tidak sesuai dengan ajaran ahimsa? Pertanyaan ini muncul karena ada “aliran dalam Hindu” yang ketat dalam melaksanakan prinsip ahimsa (tak boleh menyakiti apalagi membunuh) yang disertai pula prinsip vegetarian yang kuat. Dengan prinsip seperti itu maka semua persembahan kepada Tuhan tidak memakai daging.

Bahkan konon ada ritual caru yang tidak memakai hewan karena bisa diganti dengan bahan lain yang bukan binatang. Nah, apakah itu yang benar atau apakah membunuh hewan untuk korban itu yang benar, ajaran Hindu tak memberikan pembenaran yang absolut. Semuanya ada rujukan dan umat silakan memilih sesuai keyakinan. Beragama itu berdasarkan “rasa hati” yang tentu saja pijakannya adalah keyakinan. Setelah itu baru keiklhasan dan ketulusan. 

Dalam sloka Manawa Dharmasastra sebelumnya (MD V.39) sudah ditegaskan bahwa Tuhan telah menciptakan hewan-hewan untuk tujuan upacara korban dan korban ini sudah diatur sedemikian rupa untuk kebaikan seluruh bumi dan isinya. Dengan begitu unsur ahimsa tidak berlaku di sini karena baik hewan korban maupun umat yang beryadnya sama-sama untuk mencapai kesucian dalam ritual itu.

Contohnya: 
Dalam ritual Hindu di Bali pada tingkat caru yang lebih besar dengan menggunakan banyak binatang, ada upacara yang disebut mepepada. Ini adalah ritual untuk membuat hewan itu “suci” sebelum dijadikan korban. Pendeta yang memimpin ritual akan memberikan doa-doa sesuai dengan wujud hewan itu, apakah berkaki dua atau empat, apakah burung atau ikan dan seterusnya. Inti doa adalah agar roh hewan itu “menghadap” pada dewa sesuai dengan yang telah digariskan arahnya dan jika kemudian lahir kembali akan menjadi manusia, bukan lagi binatang. Hewan itu kemudian diberikan busana (dililitkan kain) di bawa berkeliling di tempat upacara sesuai putaran jarum jam, diperciki tirta (air suci) dan seterusnya disembelih dengan “penuh kasih sayang tanpa kebencian”. Begitu aturannya, bahwa pelaksanaannya mungkin tak terasa ada “kasih sayang” saat menyembelih itu soal lain.

Bagaimana dengan pantangan makan daging? Jika hewan yang disembelih itu untuk yadnya yang berarti sudah dilaksanakan “penyucian” maka dagingnya pun tak masalah untuk disantap. Tapi untuk hal ini terjadi silang pendapat karena sumber sastra pun ada banyak. Manawa Dharmasastra sloka V.33 menyebutkan bahwa seorang dwijati (pendeta) haruslah tidak makan daging. Namun disebutkan “jika memakannya tidak bertentangan dengan aturan”. Nah ini sering dijadikan pembenar, karena hewan yang disembelih “sesuai dengan aturan” maka dagingnya bisa dimakan. Itu sebabnya pendeta Hindu di Bali tak semuanya vegetarian, ada yang masih makan daging tapi terbatas, misalnya, hanya daging bebek.

Dengan begitu marilah kita arif, tidak mencemoh orang melakukan yadnya dengan mengorbankan binatang, tetapi juga tidak menyalahkan orang yang tak mau mengorbankan binatang. Biarkan mencari jalannya sendiri sepanjang tidak ada yang dirugikan.


4. Dua mantra dari Yajur weda yaitu 
1) Mantra kurban ketika bulan baru atau waktu bulan penuh (Darsapurnamasa), di mana ada persembahan bagi nenek moyang (Pinda Ptryajna).

2) Mantra Ritual menyalakan api kurban (Agnihotra).

Adapun Maksud dan makna dari mantra Yajur weda tersebut adalah:

1. Atharvaveda XIX.63.1
Uttistha brahmanapaste,
Devan yajnena bodhaya.

Ayuh pranam prajam pasun, 
Kirtim yajamanam ca vardhaya.

 #Maksud dan maknanya:
“Ya Tuhan Yang Maha Esa, penguasa pengetahuan bangkitlah dan bangunkan para devata dengan sarana pengorbanan (yajna ). Tambahkan usia, daya hidup, keturunan, kekayaan, hewan dan kemasyuran. Buatlah para pelaksana yajna menjadi makmur”.

2. Yajurveda XVII.50
Udenam uttaram naya
Agne ghrtena huta.

Rayasposena sam srja
Prajaya ca bahum krdhi.

#Maksud dan maknanya:                                      “Ya Sang Hyang Agni Yang Makmur, angkatlah pelaku yajna makin tinggi dan makin tinggi. Buatlah dia menjadi kaya dan jadikanlah dia seorang yang memiliki anak cucu yang banyak dan makmur”.

5. Ulasan makna dari mantra berikut:
a) Yajurveda XXXII.1.
Tad eva agnis tad adityas
Tad vayus tad u candramah,
Tad eva sukram tad brahma
Ta’apah sa prajapatih.

Artinya:
(Sesungguhnya Ia adalah Agni, Ia adalah Aditya, Ia adalah Vayu, Ia adalah Candrama, Ia adalah Sukra, Ia adalah Apah, Ia yang Esa adalah Prajapati)."

Dari bunyi mantra tersebut diatas, kita ketahui bahwa Tuhan memiliki wujud, bentuk dan warna yang berbeda-beda, hal itu terjadi karena ketidak mampuan kita memuja Tuhan yang Nirgunam sehingga diwujudkanlah beliau seperti mahluk hidup yang super yang memiliki kekuatan lebih daripada manusia dan mahluk hidup lainnya. Dalam konsep Nirgunam Brahman, Tuhan yang dipuja adalah Tuhan yang tanpa wujud (Acintya) yang selalu ada dimana mana. 

Dibali kita telah temukan sebuah lontar bernama Widhi Papincatan yang berisi keputusan-keputusan hukum/ pengadilan semacm Yurisprudensi. Demikian pula nama lontar Widhisastra yang berarti pengetahuan tentang widhi (theology), dan juga lontar-lontar susastra jawa kuno lainnya. Pengertian Vidhi (dalam bahasa jawa kuno ditulis widhi) sebagai pencipta, aturan atau perintah tertinggi, tertib (aturan) alam semesta, nasib, penguasa tertinggi adalah sejalan dengan pengertian yang terdapat di dalam susatra veda.

Dengan demikian Sang Hyang Widhi adalah Tuhan sebagai pencipta alam semsta. Tuhan sebagai widhi tersebut bersthana di luhuring akasa yakni di angkasa. Dalam pengertian ini tentunya Tuhan Yang Maha Esa di gambarkan tidak berwujud (impersonal god).Kapan Sang Hyang Widhi dimohon turun hadir untuk menerimapersembahan, maka saat itu juga beliau telah terwujud dalam alam pikiran. Wujud-wujud utamanya itu disebut dengan Tri murti (Brahma, Wisu, siva)
Nama Sang Hyang Widhi ( Sang Hyang Widhi Wasa) berarti yang menakdirkan, yang maha kuasa yang dalam bahasa bali diterjemahkan dengan Sang Hyang Tuduh atau Sang Hyang Titah. Nama ini adalah nama yang amat umum, yang gambarannya lebih lanjut tidak disebut-sebut dalam sastra-sastra lontar. Bhatara Siwalah panggilannya dalam sastra-sastra lontar, yang gambarannya selalu kita jumpai baik dalam sastra-sastra agama , seperti pada lontar-lontar BhuwanaKosa, Wrhaspatitattva, Tatwajanana, Mahajnana, Ganapatitatwa, Bhuwanasanksepa dan sebagainya. Demikian pula pada saat upacara dipuja, upakara-upakara, arca-arcca dan tempat pemujaan (Sura, 1999: 25).

Kata Siva berarti: Yang memberikan keberuntungan (kerahayuan), yang baik hati, ramah, suka memaafkan, menyenangkan, memberi banyak harapan, yang tenang, membahagiakan dan sejenisnya (Monier, 1993: 1074). Sang Hyang Siva di dalam menggerakkan hukum kemahakuasaan-Nya di dukung oleh saktinya Durga atau Parvati. Hyang Siva adalah Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelebur kembali (aspek pralaya atau praline dari alam semesta dan segala isinya). Siva yang sangat ditakuti disebut Rudra (yang suaranya menggelegar dan menakutkan). Siva yang belum kena pengaruh Maya (berbagai sifat seperti guna, sakti dan svabhawa) disebut paramasiva, dalam keadaan ini disebut juga Acintyarupa atau niskala dan tidak berwujud ( Impersonal God).

Kata Brahman (adalah bentuk neutrum dari Brahma) yang berarti: yang tumbuh berkembang, berevlusi, yang betambah besar, yang meluap dari dirinya, dan sejenisnya (Ibid:737). Ciptaanya muncul dari dirninya, seperti halnya Veda muncul dari nafasnya. Kemahakuasaan Hyang Brahma sebagai pencipta jagat raya di dukung oleh saktinya yang disebut sarasvati, dewi pengetahuan dan kebijaksanaan yang memberikan inspirasi untuk kebajikan umat manusia. Bila disebut sebagai brahma , maka ia adalah manifestasi utama Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta, dengan demikian Brahma saat ini adalah Tuhan yang Berpribadi (personal God). Brahma digambarkan berwajah empat (Caturmukha) dan lain-lain. Dengan demikian Hyang Widhi adalah Brahman, Tuhan yang tidak berwujuddalam alam pikiran manusia (Impersinal God), sedang disebut brahma, ketika ia telah mengambil wujud (personal God) dalam menciptakan alam semesta beserta segala isinya.

b) Yajur veda 32.8
Yatra wiswam bhavatyekanidam  

Aertinya:
Padanya seluruh alam semesta menjadi satu rumah. 

Maksudnya Tuhan digambarkan sebagai perwujudan yang tertinggi dan memenuhi seluruh alam dan seluruh alam menyatu pada Dia. Mantra ini mencakup monoteisme dalam arti yang murni dan filosofis. Monoteisme mengenal satu Tuhan menguadai semua. Akan tetapi diluar itu terdapat konsep, satu dalam yang banyak dan yang banyak dalam yang satu. 





Kamis, 15 Juni 2023

Ganapati Tattwa

Ganapati Tattwa
(Kebenaran Akan Penciptaan Alam) 
Oleh :

Ni Nyoman Gandu Ningsih 
(Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manuaba)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kalau kita perhatikan segala sesuatu yang ada di sekitar kita maka beraneka ragam benda, pemandangan yang indah dan mahluk hidup yang dapat kita lihat. Kesemuanya itu merupakan isi alam semesta atau Buana Agung yang dapat menimbulkan sebuah pertanyaan sederhana yang selalu menggelitik hati kita yaitu “Dari manakah asal mula segala sesuatu yang ada di alam semesta ini atau lebih sederhana lagi dan mana asal mula alam semesta ini yang dikenal pula sebagai Buana Agung dalam Agama Hindu?”.
Sejauh ini sains (ilmu pengetahuan modern) telah mempelajari segala sesuatu yang ada di alam raya ini (Bhuana Agung) dari berbagai aspek tapi belum dapat menjawab pertanyaan sederhana tersebut di atas. Telah dikemukaan berbagai teori tentang terbentuknya alam raya dan asal mahkluk hidup. Seperti Big Bong, Teori Generasio Spontania dan lain sebagamnya, semuanya itu juga tidak dapat menjawab pertanyaan di atas. Segala sesuatu yang ada dan yang akan ada di alam raya ini semuanya bersumber atau disebabkan oleh penyebab pertama atau sering disebut causa prima, itulah yang dipercaya sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Sada Siwa Tattwa bahwa Sada Siwa merupakan kesadaran kedua setelah Paramasiwa, ia bersifat wyapara yang berstana dalam padmasana yang disebut cadhusakti, dengan saktinya ia menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Jadi causa prima itu adalah Sada Siwa.
Ajaran pokok dari Siwa Siddhanta adalah bahwa Siwa, merupakan realitas tertinggi, dan jiwa atau roh pribadi adalah dari intisari yang sama dengan Siwa. Dalam hal ini siwa digambarkan dalam bentuk cetana yang merupakan unsur widya ( unsur kesadaran ), yaitu hakikat yang tidak terpengaruh oleh ketidaksadaran dan bersifar abadi, artinya bersifat kokoh tidak dapat digoyahkan, dan tidak dapat disembunyikan Ada tiga bentuk cetana yaitu : paramasiwatattwa, sadasiwatattwa, dan siwatattwa. Ketiga tattwa ini di sebut dengan cetana telu, yang merupakan tiga tingkat kesadaran. Paramasiwatattwa memiliki kesadaran tertinggi, sadasiwatattwa memiliki kesadaran menengah, sednagkan siwatattwa memiliki kesadaran terendah.
Tinggi rendahnya taraf kesadran itu tergantung pada kuat lemahnya pengaruh mayatattwa ( acetana ) terhadap cetanaRealita tertinggi disebut Siwa, yang merupakan kesadaran tak terbatas, yang abadi, tanpa perubahan, tanpa wujud, merdeka, ada dimana-mana, maha kuasa, esa tiada duanya, tanpa awal, tanpa penyebab, tanpa noda, ada dengan sendirinya, selalu bebas, selalu murni dan sempurna. Ia tak dibatasi oleh waktu yang merupakan kebahagiaan dan kecerdasan yang tak terbatas, bebas dari cacat, maha pelaku dan maha mengetahui. Sumber ajaran siva di Bali terdapat empat kelompok, yaitu weda, tattwa, etika, dan upacara. Salah satu sumber yang akan dibahas adalah Ganapati Tattwa yang termasuk sumber Siwa Siddhanta ke dalam kelompok Tattwa. Ganapati Tattwa ini adalah mengisahkan bagaimana percakapan Dewa Siwa dengan putranya yaitu Ganesha atau Ganapati terutamanya penciptaan alam semesta.
Ganapati Tattwa merupakan salah satu Lontar Tattwa, Lontar Filsafat Siwa, yang digubah dengan mempergunakan metode Tanya jawab. Tanya jawab tersebut ditulis di dalam 37 lembar daun tal yang disusun dalam 60 bait/prosa, menggunakan bahasa Sansekerta yang disertai dengan ulasan dalam bahasa Kawi. Ganapati, putera Siwa, adalah Dewa penanya yang cerdas. Dan Siwa adalah Maheswara, yang menjabarkan tentang ajaran Rahasia Jnana, menjelaskan tentang misteri alam semesta beserta isinya. Secara ringkas isinya dapat diuraikan sebagai berikut: Omkara adalah wujud sabda sunya, nada Brahman, asal mula Pancadaivatma : Brahma, Wisnu, Iswara, Rudra dan Sang Hyang Sadasiva. Pancadivatma merupakan asal Panca Tan Matra yang terdiri dari Rupa (unsur bentuk), Gandha (unsur bau), Rasa (unsur rasa/kenikmatan), Sparsa (unsur sentuhan), dan Sabda (unsur suara). Dari Panca Tan Matra munculah Panca Mahabutha yang merupakan unsur materi (elemen alam semesta) yang terdiri dari : Apah (air/benda cair), Teja(panas), Vayu (angin), Prthivi (tanah) dan Akasa (ether). Dari Panca Mahabutha ini alam semesta beserta isinya diciptakan, dan Sang Hyang Sivatma menjadi sumber hidup yang menggerakkan segala ciptaannya .


                                                                                   Penulis
Ttd



1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka ada beberapa hal yang akan dibahas dalam karya tulis ini antara lain :
1. Apa saja pokok-pokok ajaran dalam Lontar Ganapati Tattwa?
2. Bagaimana konsep penciptaan alam semesta menurut Lontar Ganapati Tattwa?


1.3 Tujuan
Adapun tujuan penyusunan karya tulis ini adalah sebagai berikut,
1. Tujuan secara umum
Untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat pembaca tentang ajaran-ajaran yang tertuang dalam Lontar Ganapati Tattwa terutamanya yang kami sajikan yaitu Konsep Penciptaan Alam Semesta dalam Lontar Ganapati Tattwa.
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui pokok-pokok ajaran dalam Lontar Ganapati Tattwa.
b. Untuk memahami konsep penciptaan alam semesta menurut Lontar Ganapati Tattwa


1.4 Manfaat
Manfaat yang diharapkan setelah penyusunan ini antara lain,
1. Manfaat secara umum
Dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat pembaca tentang ajaran-ajaran yang tertuang dalam Lontar Ganapati Tattwa terutamanya yang kami sajikan yaitu Konsep Penciptaan Alam Semesta dalam Lontar Ganapati Tattwa.
2. Manfaat Khusus
a. Dapat mengetahui pokok-pokok ajaran dalam Lontar Ganapati Tattwa
c. Dapat memahami konsep penciptaan alam semesta menurut Lontar Ganapati Tattwa





BAB II
Pembahasan

 Ganapati Tattwa merupakan salah satu Lontar Tattwa, Lontar Filsafat Siwa, yang digubah dengan mempergunakan metode Tanya jawab. Tanya jawab tersebut ditulis di dalam 37 lembar dau tal yang disusun dalam 60 bait/prosa, menggunakan bahasa Sansekerta yang disertai dengan ulasan dalam bahasa Kawi. Ganapati, putera Siwa, adalah Dewa penanya yang cerdas. Dan Siwa adalah Maheswara, yang menjabarkan tentang ajaran Rahasia Jnana, menjelaskan tentang misteri alam semesta beserta isinya. Terutama tentang hakikat manusia yaitu dari mana ia dilahirkan, untuk apa ia lahir, kemana ia akan kembali dan bagaimana caranya agar bisa mencapai kelepasan.

2. 1 Pokok-Pokok Ajaran Dalam Lontar Ganapati Tattwa
Ganapati Tatwa menggunakan bahasa Jawa Kuno yang juga diselingi dengan bahasa Sansekerta. Penyampaian ajaran Ganapati ini menggunakan dialog atau percakapan sebagaimana ditemukan dalam Bhuwana Kosa, Wrhaspati Tattwa, Sanghyang Mahajñanā, dan sebagainya. Tokoh yang ditampilkan dalam Ganapati Tattwa adalah : Bhatara Śiwa sebagai Mahaguru yang memberikan pelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan rohani yang bersifat abstrak dan rahasia. Sedangkan Bhatara Gana yang disebut pula Sanghyang Ganapati atau Sanghyang Ganadipa berperan sebagai penanya yang ingin mengetahui ajaran tentang kebenaran terutama menyangkut sumber ciptaan yang ada serta proses kembalinya kepada sumber asalnya. Adapun pokok-pokok isi dialognya adalah sebagai berikut :
2.1.1. Penciptaan Alam Semesta
Sang Hyang Siwatman Menciptakan Alam Semesta Dari Unsur Panca Mahabutha Dalam bagian ini, akan di jelaskan bagaimana percakapan Sang Ganapati dengan Dewa Siwa. Dimana, Dewa Siwa memberikan wejangan bagaimana Sang Hyang SIwatman itu menciptakan alam semesta dari unsur Panca Maha Butha. Berawal dari perihal munculnya Panca Daiwatma, yang dijelaskan bahwa dari Omkara muncul Windu, bagaikan embun yang berada di ujung rambut/rumput, disinari matahari bening bagaikan dupa, sinarnya terang cemerlang berkilauan. Dari Windu itu muncullah Panca Daiwatma yaitu : Brahma, Wisnu, Rudra, Kami/daku dan Sang Hyang Sadasiwa. (Ganapati Tattwa,1.2) Kemudian tentang hakikat alam semesta, dari Panca Daiwatma lahir Panca Tanmatra, yaitu : dari Brahma lahir bau, dari Wisnu muncul unsur kenikmatan, dari Rudra timbul mode/bentuk, dari Daku (Iswara) keluar unsur rabaan, dari Sang Hyang Sadasiwa nada/suara. (Ganapati Tattwa, 1.4). Kemudian dari sabda timbul ether, dari sparsa muncul angin, dari rupa keluar sinar, dari rasa lahir zat cair, dan dari gandha timbul tanah. Dari perthiwi terwujudlah bumi, berkat apah muncul air, karena teja tercipta matahari, bulan dan bintang; karena wahyu adalah angin; dari akasa lahirlah tumbuh-tumbuhan seperti : rumput pohon kayu, tanaman melata, serba kulit kelopak dan inti serta segala makhluk yaitu : bianatang/ternak, burung, ikan makhluk halus; demikianlah keadaannya alam semesta itu. Setelah itu juga dijelaskan bagaimana perihal penjelmaan (kelahiran) manusia. Kelahiran manusia tidaklah berbeda dengan manifestasinya Dewa. beserta dengan penciptaan alam semesta, sebab manusia lahir dari Windu, awal mulanya Omkara; bagaimana wujudnya, yakni : Brahma dan Wisnu menciptakan badan jasmani, yang terbentuk dari unsur tanah dan zat cair; Rudra menciptakan alat pelihat (mata), yang terwujud dari sinar; Daku (Iswara) membuat pernafasan, yang berbentuk raba sentuhan; Sang Hyang Sadasiwa menciptakan bunyi/suara, yang terwujud dari unsur ether. (Ganapati Tattwa, 1.6).

2.1.2. Hubungan Gaib/Rahasia dari Sang Hyang Siwatma Alam semesta dan badan jasmani manusia adalah tunggal.
Sama seperti dalam hubungannya dengan keberadaan bhuana agung dan bhuana alit. Apa yang ada di alam semesta juga ada dalam tubuh jasmani manusia. Seperti halnya pada alam semesta, Brahma berstatus di selatan, memelihara tanah/bumi; Wisnu berstatus di utara memelihara zat cair/air; Rudra berstatus di barat, mengendalikan matahari, bulan dan bintang; Daku (Iswara) berstatus di timur mengatur udara/angin; Sang Hyang Sadasiwa berstatus di tengah, memelihara ether/atmosphere. Kalau dalam tubuh manusia, Brahma berstatus di muladhara, menghidupkan indra/jasmaniah, berhubungan dengan hidung, memerlukan bau; Wisnu berstatus di pusar/nawe, memelihara badan jasmani, berhubungan dengan lidah, memerlukan unsur kepuasan (rasa); Rudra berstatus di hati, mengatur kesadaran/tekad, berhubungan dengan pandangan mata, menentukan pikiran; Daku (Iswara) berstatus di kerongkongan/throat, mengendalikan ketiduran, berhubungan pada mulut, mengatur nada suara; Sang Hyang Sadasiwa berstatus di ujung lidah, menguasai segala pengetahuan, berhubungan dengan telinga, meneliti keadaan suara.(Ganapati Tattwa, 1.8). Begitulah keberadaan Daiwatma itu dalam tubuh jasmani dan alam semesta ini. Dalam bagian ini juga dijelaskan tentang muladhara, yang tempatnya diantara lubang dubur dan alat kelamin. Tentang perpaduan serta pembentukan manusia baru yang dilahirkan melalui perantara sang ibu. Dikatakan pula perihal tentang yang menghidupkan bayi itu dalam kandungan hingga adalam usia tuanya. Seperti dalam Ganapati Tattwa, 1.15 dijelaskan bahwa yang menjadi penghidupannya .

2.1.3. Sadanggayoga
Sadanggayoga adalah jalan untuk mencapai kelepasan. Adapun bagian dari Sadanggayoga, yaitu:
a. Pratyaharayoga
Segala tujuan kepuasan hawa nafsu yang dapat dikendalikan dengan ketenangan iman (pikiran) yang teguh, itulah yang dinyatakan Pratyahara. Pratyaharayoga artinya segala hubungan hawa nafsu itu terkekang, tiada dibbaskan pemuasannya, dikendalikan dengan kesadaran iman suci yang teguh, meskipun kurang mesra namun ada juga kejernihannya, surutnya pemuasan nafsu itulah yang disebut Pratyaharayoga. (Ganapati Tattwa, 4)
b. Dhyanayoga
Tanpa pasangan, tiada perubahan agitasi, tanpa koneksi, dan tetap juga tenang, maka system konsentrasi renungan berpikir yang demikian itulah yang disebut Dhyana. Dhyanayoa artinya system pemikiran yang tiada mendua tanpa perubahan, (selalu) tenang juga dalam suka dukanya, tiada pernah gelisah, tetap teguh tanpa terpengaruhi, kesadaran pemikiran yang menunggal itulah jadi perilakunya, demikianlah yang dimaksud Dhyanayoga. (Ganapati Tattwa, 5)
c. Pranayamayoga
 Isaplah udara dengan segala lubang lain yang tertutup dan terus konsentrasi kemudian keluarkan udara itu perlahan-lahan, inilah yang disebut system pelaksanaan Pranayama. Pranayamayoga artinya: tutupilah segala lubang mata, hidung, telinga dan mulut, namun terlebih dahulu isaplah udara, konsentrasi/tembuskan pada ubun-ubun, bila sudah terasa tegang/penuh terkendali biarkanlah keluar melalui lubang hidung secara perlahan-lahan;itulah yang disebut konsentrasi pengaturan nafas (Pranayamayoga). (Ganapati Tattwa, 6)   
d. Dharanayoga
Statuskanlah Omkara itu dihati dan konsentrasikan Siwatma (Sunyatma) dengan Siwatma (Sunyatmaka/Sunyasiwa) bila tiada terdengar sesuatu, demikianlah yang disebut Dharana. Dharanayoga berarti : secara spirituilnya sebagai simbolik bahwa Omkara itu ada di hati, yaitu sebagai pusat pengendalian pengaruh unsure jasmaniah bila tenang tiada lagi terdengar sesuatu dalam saat beryoga, maka dalam status beginilah Bhatara (Atma) dalam perwujudan Sunyasiwatma (menunggal) dengan Sumber Jiwa Alam Semesta/Sadasiwa. Demikianlah yang dimaksud Dharanayoga. (Ganapati Tattwa, 7)
e. Tarkayoga
Pikiran itu bagaikan tanpa suara diangkasa, terpisahnya suara dengan angkasa itulah sebenarnya tujuan pikiran yang suci (Paramartha), demikianlah Tarkayoga itu adanya. Tarkayoga artinya : bagaikan langit/angkasa kiranya pikiran suci (Paramartha) itu, yang tiada terpengaruhi sesuatu, sebab tak ada unsure suara padanya, begitulah simbulnya Paramartha, yang berlainan dengan angkasa udara, walaupun persamaannya sungguh serba jernih; demikianlah yang disebut Tarkayoga. (Ganapati Tattwa, 8)
f. Semadhiyoga
Tiada lalai, tanpa aktivitas, tanpa keperluan, tanpa pengakuan, tanpa keinginan, tidak terpengaruh, tanpa harapan; itulah yang disebut Semadhi. Semadhiyoga artinya: bhatin yang tidak lalai, tiada berharap, tanpa keakuan, tiada sesuatu yang diinginkannya, tak ada yang diperlukan, tenang tiada terpengaruh; itulah yang dinamakan Semadhiyoga. (Ganapati Tattwa, 9).

2.1.4. Catur Dasaksara
Untuk Caturdasaksara yang bagaikan bunga dengan keharuman tanpa surutnya, beliau bertahtah di hati, yang senantiasa daku sembah (seperti) Siwa. Di sana pada ulu hati keadaan Bhatara Siwa, pujalah beliau senantiasa dengan sarana Sang Hyang Caturdasaksara, bersimbolik seperti ini: SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, YANG, ANG, UNG, MANG: OM, itulah beliau Sang hyang Caturdasaksara, diumpamakan sebagai bunga yang mekar, harum semerbak tiada selingan, demikianlah pemujaanmu yang tekun setiap waktu. Dari Niskala lahir Nada, dari Nada muncul Bindu, dari Bundu muncul Bulan (semi), dari Bulan itu ada Wisnu/ dunia berulang-ulang. Tegasnya, yang Niskala melahirkan Nada. Dari Nada melahirkan Bindu, dari Bindu melahirkan Ardhacandra, dari Ardhacandra melahirkan Wisnu/ alam semesta, berulang-ulang pelaksanaannya; Wiswa berarti Sang Hyang Pranawa, Sang Hyang Pranawa sesungguhnya adalah omkara. Wiswa (alam) berpadu dengan Candra (semi bulan), Bindu dengan Nada, dari perpaduan itu senantiasa mewujudkan Omkara.Wiswa itu berpadu dengan Ardhacandra dan Bindu beserta Nada; energi hidup Ardhacandra dan Bindu serta Nada itu manunggal, selanjutnya menjadi Omkara.Wiswa melekat pada Candra, dan Candra menempel pada Bindu, serta Bindu kembali pada Nada, demikianlah perihal/ keadaan aktivitasnya. Wiswa itu bergantung pada Ardhacandra, Ardhacandra itu lebur dalam Bindu, Bindu itulah bergantung pada Nada, demikianlah halnya ajaran Filsafat dan Nada itu kembali ke Niskala. Niskala itu disebut dengan Maya Tattwa, itulah Pradhana (materi), pengembaliannya pada Nada, dan Niskala itu kembali ke Sunyantara, Sunyantara itu kembali ke Atyantasunya, sebagai pengembaliannya Niskala dan anakku Sang Ganadhipa, adapun yang dimaksud Utpatti (lahir), Sthiti (hidup) dan Pralina (lebur) itu ialah Sang Hyang Pranawa. Dari Siwa lahir Atma, karena Atma maka dari Prakrti muncullah Rawi (matahari), dari Rawi lahir Agni (panas/api). ING itulah disebut Siwa, dari siwa lahir Atma, BANG dari Atma lahir Pradhana/materiil, SANG dari Pradhana/Prakrti lahirlah matahari (Aditya), TANG, Aditya lahirlah Agni (api/panas),ANG. Demikianlah hal manifestasinya Sang Hyang Panca Brahma yaitu: ING, BANG, SANG, TANG, ANG. Prakrti itu dijiwai atma, dan karena Atma maka adalah matahari, adanya Agni menyusul setelah matahari; demikianlah ternyata Siwagni dalam keadaan Sthiti. Yang permulaan adalah SANG filsafatnya, selanjutnya BANG, kemudian TANG, terus ANG, dan akhirnya ING, inilah Sthitinya Sang Hyang Panca Brahma, urutannya adalah SANG, BANG, TANG, ANG, ING. (Ganapati Tattwa, 24-29).
Aksara Am itu disertai leh Aksara Tam, disertai oleh Aksara Sam, disertai Aksara Bam, disertai oleh Aksra Im. Demikianlah lahirnya Sang Hyang Panca Brahma urutannya adalah: Am, Tam, Sam, Bam, Im. Aksara Sam dan Bam lebur menjadi Aksara (aksara) A, sedangkan Aksara Tam dan Am lebur menjadi Uksara (aksara) U. Adapun aksara Im lebur mejadi Makara (aksara Ma). Dengan demikian Sang Hyang Panca Brahma (Am, Tam, Sam, Bam, Im) lebur menjadi Tyaksara (A, Um, Ma). Apabila Sang Hyang Tyaksara menyatu maka ia akn menjadi Omkara (aksara Om). Sesungguhnya aksara A itu berada di tengah, aksara Ma berada di atas, dan aksara U berada di bawah. Demikianlah pertemuan dari ketiga huruf itu membentuk aksara Om (Omkara). Aksara Yam, Wam, Sim, dan Nam adalah utpatti Sang Hyang Pancaksara. Aksara Sim, Wam, Man dan Yam adalah Sthiti Sang Hyang Pancaksara. Sedangkan aksara Nam, Mam, Sim, Wam, Yam, adalah Pralina sang Hyang Pancaksara. (Ganapati Tattwa, 30-33)

2.1.5. Lahirnya Tri Aksara
Dasaaksara dan Catur Dasaksara Aksara Ya dihilangkan dimasukkan pada aksara A (Aksara) pada tahap pertama. Tahap kedua masukkan aksara Tang (Siwa) pada aksara U (Ukara). Tahap ketiga aksara Ya (Yakara) dihilangkan menjadilah ia aksara Ma (Makara). Adapun aksara A (Aksara) dan aksara U (Ukara) apabila dilebur akan menjadi aksara O (Okara). Apabila aksara Ma (Makara) dihilangkan ia akan menjadi Bindu (Windu = titik) yang terletak diatas O (Okara). Demikianlah tatacara lahir (Utpati), pemeliharaan (Sthiti), dan peleburan (Pralina). Sang Hyang Panca Brahma dan Pancaksara. Pertama-tama aksara Ma (Makara) diikuti oleh aksara A dan selanjutnya diikuti oleh aksara U sebagai kelahiran Sang H yang Tri Aksara Mam, Am dam Um. Itulah tatacara sehingga menyebebkan mencapai sorga. Apabila aksara A dipakai permulaan kemudian diikuti oleh aksara U dan aksara Ma, sebagai pemeliharaannya Sang Hyang Tri Aksara Am, Um dan Mam. Itulah tatacara yang jiga dapat menyebabkan mencapai sorga. Adapun apabila dimulai dengan aksara U (Ukara) selanjutnya diikuti oleh aksara A dan terakhir aksara Ma, sebagai pelebur Sang Hyang Tryaksara Um, Am, dan Mam (akan mencapai) Sorga. Adapun aksara U lebur pada Bindu (windu=titik) dan Ardacandra. Sedangkan aksara Ma (Makura) lebur pada Nada. Nada itu terletak pada alam kosong. Demikianlah tatacaranya. Sampai pada hati Caturdasaksara. Inilah Sang Hyang Bhedajnana kuajarkan kepadamu anakku, oleh karena teramat rahasia sifatnya, karena itu tidak diketahui oleh dunia (masyarakat), apa sebabnya? Karena ia adalah rahasia tentang diri (kita), seandainya rahasia itu tidak diketahui mustahil akan dapat mencapai (dunianya) Siwa. Sesungguhnya asal diri manusia adalag Dewa (Dewa sarira) dan ia yang selalu menjaga Sang diri. Hal itu diketahui oleh Sang Pendeta yang merupakan pengetahuan rahasia tentang manusia, dari awal, pertengahan dan akhir, habis olehku mengajarkan kepadamu, oleh karena teramat sangat penting untuk diketahui. (Ganapati Tattwa, 34-41)

2.1.6. Pengetahuan Tentang Sang Hyang Bheda Jnana
Adapun murid yang dapat diberikan pengetahuan tentang Sang Hyang Bhedajnana adalah murid yang punya imam terhadap Dana ( sedekah), orang yang dapat mengendalikan nafsunya, dan mereka yang bersungguh-sungguh hendak melaksanakan Dharma, melaksanakan Bratha (mengurangi kepentingan hidup di dunia ini), dan pada murid yang berbakthi berguru. Umpamanya : adalah yoga yang di ajarkan oleh Sang Hyang Bhedajnana. Adapun tatacaranya demikian (lihat sloka 43). Ada tiga prilaku bagi orang yang mengutamakan (purusa) kebebasan seperti : ada yang mengikuti prilaku Sakala, Kawalasuddha dan Malinatwa. Ketiganya dijelaskan demikian. Sakala artinya berbadan tri guna (satwam, rajas, tamas). Kewalasuddha artinya melepaskan diri dari kebahagiaan (duniawi). Malinatwa artinya bebas dari sifat tri guna. Manowijnana badannya, artinya suci badannya. Jiwanya badan suci, dari sana menuju kesangsian, itulah yoga namanya. Sinyakara kaiwalya artinya orang yang tak ternoda oleh kebahagiaan duniawi aialah yang dianggap Siwa Suci. Tak lama kemudian, setelah senang terdiam hening pada badan yang suci, bebas dari nafsu keduniawian tanpa keraguan wujud yang kosong (itulah yang dimaksud) lenyapnya segala keinginan. Itulah yang disebut kesucian tertinggi (Paramisudha) karena lenyapnya (segala keinginan) lalu menggaib tanpa ragu-ragu. Kerjakanlah hal itu oleh dirimu sendiri. Kesimpulannya, pengetahuan suci yang tak ternodai (adalah) sarana untuk mencapai penyatuan diri dengan Sang Roh Yang Maha Agung. Tidak ada yang melebihi keinginan-keinginan yang tak ternoda oleh kesenangan duniawi. Orang demikian pasa saat mati rohnya (Sang Roh Yang Mempribadi) akan memperoleh kebahagiaan. Inilah yang dikatakan Purwadhakoti (awal dari sejuta kegelapan ) namanya, oleh karena tak terikat oleh karma dan penikmatan hasil perbuatan, karenanya mencapai nirwana ujar para Pendeta. Apa sarananya agar mencapai (nirwana) itu ? ada tiga sarana utama bagi orang yang mengutamakan kebebasan batin dimana sarana itu dapat mengantar kepada suatu keberhasilan. Ketiga sarana dimaksud adalah Wairagyaditraya, Pararogya dan Dhyanaditraya. Wairagyaditraya adalah mengadakan Bahyawairagya Parawairagya, Iswarapranindhana. Bahyawairagya artinya kawiratin . kawiratin artinya pendeta yang berilmu tinggi di masyarakat. Parawairagya artinya pendeta witaraga. Pendeta witaraga adalah pendeta ynang meninggalkan kesenangan hidup (keduniawian). Iswarapranindhana artinya sang pendeta ynang taat ayogaprawrtti. Ayogaprawrtti artinya pendeta yang taat melaksanakan pemujaan kepada tuhan. Dhyanaditraya artinya melakukan pranayama, dharana san samadhi. Pranayama artinya pemusatan dan pengaturan nafas. Dharana artinya pranawajnana artinya pemusatan bathin. Samadhi adalag Nirwyaparajnana yang artinya ingat pada tuntutan yang tampak. Itulah sarana untk menemukan Sang Hyang Bhedajnana. (Ganapati Tattwa, 42-44)

2.1.7. Proses Kembalinya Sang Roh ke Dasangulasthana
 Keberadaan Sang Hyang Sadhubhranti kelepasan, Sang Hyang Wyudbhranti disuruh menjelma kedunia, kemudian ada mantra pemisahnya. Hendaknya Tri Aksara itu teguh dilaksanakan olehmu (pasti) dicapai Sang Hyang Sadhubhranti, janganlah keliru (pasti) Sang Hyang Wyudbhranti ketemu. Banyak pertandanya, tetapi satu maksudnya, umpama : apabila engkau mendengar suara Ardhacandra Bindu Nada sekaranglah tiba saatnya kematianmu, janganlah engkau ragu-ragu , lepaskanlah segala kesetiaanmu dan hubungan dengan keluargamu lalu tutup pangkal nadi (pangkal peredaran darah), ineban (kerongkongan) dan semua lubang yang ada pada badan sambil melakukan pemusatan batin, dan pengaturan nafas artinya tutuplah pikiranmu. Janganlah berbuat sesuatu, apabila engkau bisa melaksanakannya dengan baik maka sang roh yang bersemayam pada dirimu akan meninggalkan badanmu. Sebagai jalan sang hyang pranawa ( sang roh yang mempribadi =atma) menuju Dwadasangulasthana (tempat yang terlettak jauh di atas 12 (jari) tingkatan), yang disebut tempat tak terlihat (niskala), tempat Bhatara Paramasiwa. Terbanglah ia sang roh yang mempribadi dari sana (sang diri), itulah yang disebut moksa. Tak lama kemudian setelah Sang Roh Yang Mempribadi terbang dari Dwadasangulasthana, patutlah sang roh yang mempribadi menjadi paramasiwa tatwa, kembali sebagai roh (roh yang maha agung), apa sebabnya demikian ? yang berasal dari sunya akan kembali pada paramasunya. Itulah sebabnya ketahuilah kelakuan itu oleh orang yang ingin mencapai kebebasan. Itulah sarananya untuk menemukan pengetahuan utama. (Ganapati Tattwa, 45-48)

2.1.8. Panglukatan Sang Ganapati
 Sarana Upakara beserta Mantranya Masyarakat Hindu di Bali mengenal upacara ngelukat atau melukat., yakni ritual pembersihan diri secara lahir dan bhatin atau sekala dan niskala. Upacara ini disebut melukat karena di dalamnya menggunakan tirtha atau air suci pangelukatan yang khusus dibuat untuk tujuan tersebut .Seperti dikemukakan dalam Ganapati Tattwa maka Ganesa atau Ganapati bisa dipuja untuk kepentingan pengelukatan. Tata cara upacara beserta mantram yang diucapkan oleh pemimpin ritual yang menyelenggarakan pengelukatan Ganapati, adalah sama dengan pelaksanaan ritual pengendalian hama dan penyakit tanaman maupun manusia. Inilah penglukatan (pembersihan) Ganapati, boleh digunakan di sekeliling (yang hendak dibersihkan), bahannya bambu Ampel Gading digambari Gana, tangan kirinya memegang Cakra, tangan kanan memegang Gada. Disertai dengan upakara : ajuman putih kuning, suci satu, dagingnya bebek (itik) putih jambul, airnya ditempatkan pada sangku tembaga yang diisi kembang Sudamala serta peras sesantun diisi uang (sesari) 1.100, samsam daun Katima. Bambu Ampel Gading yang telah digambari Gana itu dimasukkan pada sangku yang berisi air. Setelah dipuja gunakanlah pada tempat yang terserang hama. (Ganapati Tattwa.48-60)

2.2 Penciptaan Alam Semesta Menurut Ganapati Tattwa
. Tokoh yang ditampilkan dalam Ganapati Tattwa adalah : Bhatara Śiwa sebagai Mahaguru yang memberikan pelajaran tentang hal-hal yang berhubungan dengan rohani yang bersifat abstrak dan rahasia. Sedangkan Bhatara Gana yang disebut pula Sanghyang Ganapati atau Sanghyang Ganadipa berperan sebagai penanya yang ingin mengetahui ajaran tentang kebenaran terutama menyangkut sumber ciptaan yang ada serta proses kembalinya kepada sumber asalnya. Adapun isi dialognya adalah sebagai berikut :
                  Pada awal mulanya dilukiskan tidak ada apa-apa yaitu : tidak ada bumi, tidak ada langit, tidak ada sunia, tidak ada ilmu pengetahuan dan sebagainya. Yang ada hanyalah Tuhan Yang Maha Esa dalam keadaan Nirguna, Sukha, Acintya yaitu berkeadaan Maha bahagia yang tidak terpikirkan. Kemudian terjadilah evolusi dari Sanghyang Sukha Acintya dan muncullah Sanghyang Jñanā Wisesa yaitu pengetahuan yang mulia. Ia berbadankan alam semesta, tetapi tidak ternoda, tidak terpengaruhi oleh apapun, tak terjangkau karena Ia berkeadaan Wisesa, Maha Kuasa. Ia juga disebut Sanghyang Jagat Karana, karena memiliki ilmu pengetahuan yang maha kuasa dan sebagai penyebab dunia atau alam semesta dengan segala isinya. Disinilah Ia menampilkan diriNya dalam aspek Saguna. Kemudian timbul keinginan beliau untuk menyaksikan keadaanNya sendiri yang berkeadaan Sekala-Niskala, itulah sebabnya beliau menciptakan yang berkeadaan nyata (paras) dan yang berkeadaan tidak nyata (para) dan sunia sebagai bayanganNya sendiri.
Sanghyang Jagat Karana bersemayam dalam sunia. Dari sanalah Beliau mengadakan ciptaan-ciptaanNya dan selanjutnya secara berturut-turut, seperti : Ongkara Suddha, Suara, Windu Prana Suci yang didalamnya terdapat Nada Prana Jñanā Suddha. Dari Windu lahir Panca Dewata atau Panca Dewa Atma yaitu Brahma, Wisnu, Rudra, Iswara dan Sanghyang Sada Siwa, yang akan menjadi sumber ciptaan selanjutnya. Dari kelima Dewa tersebut, maka Brahma, Wisnu, dan Siwalah yang dipandang sebagai badan perwujudan Tuhan itu sendiri. Sedangkan Tuhan Yang Maha Esa (Śiwa) yang tidak terpikirkan dan Acintya dilukiskan berada dalam batin atau hati yang suci yang disebut : “Gūhyalaya”. Dalam Lontar dijelaska sebagai berikut :
gaṇapatiḥ śiwam pṛcchad ganggomayoḥ siddhārthadaḥ
dewagaṇaguruḥ putraḥ śaktiwīryyālokaśriyai
Artinya,
Ganapati mohon direstui petunjuk yang jelas kehadapan Dewa Siwa beserta permaisurinya Dewi Uma(dan Gangga : Dewa Gana adalah putra gurunya yang sakti mulia sebagai Pengatur Kesejahteraan Alam Semesta.
            Dalam ajaran Bhuwana Kosa Tuhan atau sang pencipta disebut Bhatara Siva. Bhatara Siva adalah Maha Esa, tanpa bentuk, tanpa warna, tak terpikirkan, tak tercampur, tak bergerak, tak terbatas, bersemayam dalam hati setiap makhluk, tanpa awal, tanpa pertengahan dan tanpa akhir serta kekal abadi. Bhatara Siva adalah asal dari segala yang ada, Alam semesta (Bhuwana Agung) dengan segala sinya dan manusia (Bhuwana Alit) adalah ciptaan-Nya. Semua Ciptaan-Nya bersifat wujud maya yang bersifat tidak kekal karena dapat mengalami kehancuran. Pada saat mengalami kehancuran semua ciptaan-Nya itu kembali kepada-Nya karena ia adalah asal dan tujuan semua yang ada ini. Seperti dikatakan dalam Bhuwana Kosa “Mijil sakeng sira lina ri sira muwah” artinya datang dariNya (Siva), dan akan kembali pula kepadaNya.” Hal ini berarti, walaupun Bhatara Siva bersifat tak terbatas digambarkan juga secara terbatas, karena itu Ia sering disebut dengan nama yang berbeda-beda seperti Brahma, Wisnu, Iswara, Rudra sesuai dengan tugas dan fungsinya.
  Dalam Wrhaspati Tattwa dijelaskan bahwa Siwalah realitas tertinggi. Dalam hal ini siwa digambarkan dalam bentuk cetana yang merupakan unsur widya ( unsur kesadaran ), yaitu hakikat yang tidak terpengaruh oleh ketidaksadaran dan bersifar abadi, artinya bersifat kokoh tidak dapat digoyahkan, dan tidak dapat disembunyikan Ada tiga bentuk cetana yaitu : paramasiwatattwa, sadasiwatattwa, dan siwatattwa. Ketiga tattwa ini di sebut dengan cetana telu, yang merupakan tiga tingkat kesadaran. Paramasiwatattwa memiliki kesadaran tertinggi, sadasiwatattwa memiliki kesadaran menengah, sednagkan siwatattwa memiliki kesadaran terendah. Tinggi rendahnya taraf kesadran itu tergantung pada kuat lemahnya pengaruh mayatattwa ( acetana ) terhadap cetana. Paramasiwatattwa bebas dari pengaruh mayatattwa, sadasiwatattwa dipengaruhi sedang – sedang saja, sedangkan siwatattwa sangat dipengaruhi oleh mayatattwa. Paramasiwatattwa adalah bhatara siwa yang niskala, Tuhan yang serba tidak, tidak terikat oleh ruang dan waktu, memenuhi alam semesta, sama sekali tidak terpengaruh oleh mayatattwa, kerena itu disebut dengan nirguna brahma. Ia adalah perwujudan sepi, suci murni, kekal abadi, tanpa aktivitas.
Bhatara Ganapati awal mulanya bertanya tentang keadaan dan sumber Panca Daiwatma sebagai berikut :
nihan pitutur ira bhaṭāra śiwa, ri sang hyang gaṇa. sĕmbah ning tanaya ra sanghulun, ring bhaṭāra, hanta warahana tanaya ra sanghulun, lamakane wruh ri kawijilan ing pañcadaiwātmā, saking ndi pawijilan ira, ya ta warahana patik sanghulun
Artinya,
Beginilah nasehat-Nya Bhatara Siwa terhadap Sang Hyang Gana “ Sembah hamba putra paduka kehadapan Bhatara, tolonglah hendaknya berkati beritahukan hamba putra tuanku, agar supaya dapat mengetahui prihal keadaannya Panca Daiwatma itu, dari manakah sumber-Nya,itulah hendaknya jelaskan pada hamba putra tuanku!”

īśwara uwāca ,anaku sang gaṇapati piṛngwākna pawarah kami ri kita, ikang śabda śūnya, sakeng oṃkāra mijil bindu, kadi ĕbun hana ri āgra ning kuśa, kasĕnwan rawi, mahning kadi dhūpa, dīpta nira mābhrākarakāra, sakeng bindu matmahan pañca daiwata, brahmā, wiṣṇu, rudra, kami, mwang sang hyang sadāśiwa, mangkanānaku, makapawijilan ing daiwātmā.(Ganapati Tattwa. 2)
Artinya,
Iswara bersabda,”Putraku Sang Ganapati, perhatikanlah wejangan-Ku ini untukmu, yakni sabda spiritual (gaib) : dari OM-kara muncul Windu bagaikan embun yang berada diujung rambut/rumput, disinari matahari bening bagaikan dupa, sinarnya terang cemerlah berkilauan. Dari Windu munculah Panca Daiwatma (yaitu) : Brahma,Wisnu,Rudra, Kami/Daku, dan Sanghyang Sadasiwa. Demikianlah putraku prihal keadaannya Panca Daiwatma itu.”(Pusdok : 27)
Awal dari OM-Kara dapat kita runut dari Panca Brahma. ING itulah disebut Siwa, dari siwa lahir Atma, BANG dari Atma lahir Pradhana/materiil, SANG dari Pradhana/Prakrti lahirlah matahari (Aditya), TANG, Aditya lahirlah Agni (api/panas),ANG. Demikianlah hal manifestasinya Sang Hyang Panca Brahma yaitu: ING, BANG, SANG, TANG, ANG. Prakrti itu dijiwai atma, dan karena Atma maka adalah matahari, adanya Agni menyusul setelah matahari; demikianlah ternyata Siwagni dalam keadaan Sthiti. Yang permulaan adalah SANG filsafatnya, selanjutnya BANG, kemudian TANG, terus ANG, dan akhirnya ING, inilah Sthitinya Sang Hyang Panca Brahma, urutannya adalah SANG, BANG, TANG, ANG, ING. (Ganapati Tattwa, 24-29).
Aksara Am itu disertai oleh Aksara Tam, disertai oleh Aksara Sam, disertai Aksara Bam, disertai oleh Aksra Im. Demikianlah lahirnya Sang Hyang Panca Brahma urutannya adalah: Am, Tam, Sam, Bam, Im. Aksara Sam dan Bam lebur menjadi Aksara (aksara) A, sedangkan Aksara Tam dan Am lebur menjadi Uksara (aksara) U. Adapun aksara Im lebur mejadi Makara (aksara Ma). Dengan demikian Sang Hyang Panca Brahma (Am, Tam, Sam, Bam, Im) lebur menjadi Tyaksara (A, Um, Ma). Apabila Sang Hyang Tyaksara menyatu maka ia akn menjadi Omkara (aksara Om). Sesungguhnya aksara A itu berada di tengah, aksara Ma berada di atas, dan aksara U berada di bawah. Demikianlah pertemuan dari ketiga huruf itu membentuk aksara Om (Omkara). 
Swami Dayananda Saraswati, pendiri Arya Samad di India, menyataan bahwa panggilan Tuhan yang pertama-tama dan yang tertua adalah dengan mengucapkan Omkara. Tuhan memang tanpa nama, tanpa rupa karena pada hakikatnya semuanya yang nyata ini adalah perwujudan Tuhan. Artinya apa pun yang ada ini sesung guhnya adalah ciptaan Tuhan. Karena tidak bernama maka manusia ciptaan Tuhan diteladani oleh para resinya memanjatkan doa pujian pada Tuhan dengan ucapan Omkara. Tuhan pada hakikatnya maha tahu. Pengucapan Omkara sebagai media pemanggilan Tuhan bukanlah untuk Tuhan, tetapi untuk mereka yang memanggil Tuhan agar merasa bahwa Tuhan sudah mereka puja dengan pengucapan Omkara tersebut. Saat manusia berniat saja untuk memanggil-Nya, Tuhan sudah mahatahu sebelumnya.
Demikianlah menurut keyakinan Hindu. Dalam Manawa Dharmasastra II.83 dan 84 dinyatakan bahwa Eka Aksara Om adalah Brahman yang tertinggi. Ketahuilah bahwa Omkara itu kekal abadi dan itu adalah Brahman penguasa semua ciptaan. Dalam Manawa Dharmasastra II.76 dinyatakan bahwa Aksara Omkara itu berasal dari aksara, A, U, M. dari suara tiga Veda dan inti dari Vyahrti Mantra. Yang dimaksud dengan Vyahrti Mantra itu adalah Bhur, Bhuwah dan Swah. Yang mengupas tiga Veda dan Vyahrti Mantra menjadi aksara A, U dan M itu adalah Prajapati yaitu Tuhan sebagai rajanya makhluk hidup. Yang dimaksud dengan ketiga Veda itu adalah Reg, Sama dan Yajur Veda. Dari penyatuan aksara, A, U dan M itulah bersenyawa menjadi aksara Omkara yang juga disebut Pranava Mantra.
Karena itu, Omkara itu juga disebut Vijaksara Mantra artinya biji aksara asal mulanya Mantra Vda. Kata Aksara dalam bahasa Sansekerta artinya yang kekal abadi. Ini berarti tujuan Tuhan menurunkan Aksara adalah untuk menyebarkan ajaran suci Tuhan yang kekal abadi itu.
            Menurut I Made Arsa Wiguna,SST.Par,M.Pd.H,(Dosen Filasat di IHDN Denpasar) Windu(bindu) merupakan unsur/lambang api. Windu juga berarti titik yang berada diatas aksara O (Okara)(Ganapatitatwa, 37). Selain itu juga diatas dijelaskan tentang Panca Daiwatma yaitu lima dewa yang muncul dari windu diantaranya Brahma,Wisnu, Rudra, Iswara dan Sadasiwa.
gaṇapati uwāca, sĕmbah ning tanaya ra sanghulun, hanta muwah warahana ri prakāśa ning bhuwana, lamakane wruha rānak rahadyan sanghulun. ( Ganapati Tattwa, 3)
 īśwara uwāca, anaku sang gaṇapati, mangke piṛngwākna pawarah kami, umajarakna ri katattwan ing bhuwana, sakeng pañcadaiwātmā mijil pañcatanmātra, lwirnya, sakeng brahmā mijil gandha, sakeng wiṣṇu mijil rasa, sakeng rudra mijil rūpa, sakeng kami mijil sparśa, sakeng sang hyang sadāśiwa mijil śabda| mwah sakeng śabda mijil ākāśa, kayeki rūpa nira ya, warṇṇa kadi śuddhasphaṭika, sakeng sparśa mijil wāyu, kayeki rūpa nira wīl śweta awarṇṇa, sakeng rūpa mijil teja, kayeki rūpa nira nī, warṇṇa śweta, bang, iṛng, sakeng rasa mijil āpah, kayeka rūpa nira o māye, kṛṣṇa warṇṇa nira, sakeng gandha mijil pṛthiwī, kayeki rūpa nira oṃ, warṇṇa pīta, nakārākṣaranya, śāstra ning hurip oṃkāra, mwah anaku sang gaṇapati, sakeng pṛthiwī mijil bhūmi, sakeng āpah mijil wwai, sakeng teja mijil ta ng āditya, candra, lintang, sakeng wāyu mijil ta ng angin, sakeng ākāśa mijil swara, sakeng bhuwana mijil sthāwara, tṛṇa, taru, latā, gulma, twaksāra, mwang janggama, paśu, pakṣī, mīna, aghnyā, mangkana lwir ning bhuwana.( Ganapati Tattwa, 4)

Artinya,
Ganapati berkata, “Sembahnya hamba putra paduka, selanjutnya beritahukanlah lagi perihal awal-mula adanya alam semestaagar dapat hendaknya putra tuan-Ku putra paduka mengetahuinya”.

Iswara bersabda, “Putraku Sang Ganapati, kini perhatikanlah pemberitahuanku, hendak menjelaskan hakekat alam semesta. Dari Panca Daiwatma lahir Panca Tan-Matra yaitu : Dari Brahma lahir bau,dari Wisnu muncul unsur kenikmatan, dari Rudra timbul mode/bentuk, dari Daku(Iswara) muncul unsur rabaan,dari Sang Hyang Sadasiwa nada/suara. Lagi pula dari sabda timbul ether, seperti YA ini rupanya,berwarna bagaikan mutiara bening, dari sparsa muncul angin begini rupanya WI,berwarna putih,dari rupa keluar sinar, seperti NI ini modenya, berwarna putih, merah, hitam, dari rasa lahir zat cair, berupa begini sebagai O-MA-YE, hitam warnanya, dari gandha timbul tanah bermode bagaikan OM, warnanya kuning,NA bentuk hurufnya, berkode spiritual OM-kara. Dan lagi putraku Sang Ganapati, dari perthiwi terwujudlah bumi, berkat apah muncul air, karena teja tercipta matahari,bulan dan bintang,oleh karena wayu adalah angin, dari akasa lahirlah bunyi suara, berkat alam semesta lahirlah tumbuh-tumbuhan (seperti) rumput,pohon kayu,tanaman melata, serba kulit kelopak dan inti, serta segala mahluk (yaitu) binatang/ ternak, burung ikan mahluk halus, demikianlah macamnya alam semesta.
Segala sesuatu yang ada dan yang akan ada di alam raya ini semuanya bersumber atau disebabkan oleh penyebab pertama atau sering disebut causa prima, itulah yang
dipercaya sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Sada Siwa Tattwa bahwa Sada Siwa merupakan kesadaran kedua setelah Paramasiwa, ia bersifat wyapara yang berstana dalam padmasana yang disebut cadhusakti, dengan saktinya ia menciptakan seluruh alam semesta beserta isinya. Jadi causa prima itu adalah Sada Siwa. Alam raya atau Bhuana Agung ini disusun dan anasir dasar Panca Mahabhuta, yaitu prethiwi, apah, teja, bayu dan akasa, yang menentukan keberadaan alam semesta beserta isinya. Panca Mahabhuta sebagai penyusun alam semesta (Buana Agung) bersumber dari dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). Seperti yang tertuang dalam sloka diatas, bahwa setelah muncul Panca Daiwatma dari Windu kemudian lahir unsur Panca Tan-Matra dari Panca Daiwatma itu. Panca Tan Matra merupakan lima keadaan yang sangat halus yaitu:
1. Sabda tan matra yaitu unsur nada/suara
2. Sparsa tan matra yaitu unsur rabaan
3. Rupa tan matra yaitu unsur bentuk
4. Rasa tan matra yaitu unsur kenikmatan
5. Ganda tan matra yaitu unsur bau
Dari Panca Tan Matra melahirkan Panca Mahabhuta yaitu akasa, bayu, teja, apah dan perthiwi merupakan lima anasir dasar yang dijadikan penyusun alam semesta ini, keberadaannya berstruktur dan yang paling atas yaitu akasa paling halus makin bawah yaitu bayu, teja, apah semakin kasar dan perthiwi yang paling di bawah paling kasar.
1 Akasa(ether) lahir dari sabda tan matra
Akasa paling diatas merupakan Panca Mahabhuta yang paling halus berupa ruang kosong yang hampa, sunya tidak berwujud dan tidak tampak. Akasa sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai ruang wahana atau tempat keberadaan segala yang ada dan terjadi di alam semesta ini. Alam raya ini terbentuk dan satu ruang yang kosong yang hampa yang tak terbatas luasnya dimana semua isi alam semesta ini seperti planet-planet dan mataharinya, semua materi atau benda-benda yang ada dan semua mahluk hidup berada di dalamnnya. Akasa merupakan ruang kosong pembentuk alam semesta.
2. Bayu(angin) lahir dari sparsa tan matra
Bayu inipun masih halus, karena rupa, tapi ada tanda-tanda yang dapat menerangkannya misalnya, benda bergerak maka gerakan benda itu sendiri adalah tanda adanya bayu dalam benda itu. Dibandingkan dengan akasa bayu lebih kasar karena letaknya lebih di bawah, Bayu sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai tenaga penggerak (energi) semua peroses yang terjadi dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, seperti benda-benda yang ada di sekitar kita sampai bend a planet yang ada diluar angkasa semua bergerak tidak ada yang diam. Gerakannya bermacam-macam ada gerak rotasi, gerak translasi, gerak vibrasi dan sebagainya. Semua gerakan itu disebabkan oleh bayu sebagai tenaga penggeraknya.
3 Teja (api/sinar) lahir dari rupa tan matra
Teja berada di bawah bayu maka lebih kasar daripada bayu. Teja keberadaannya berupa sinar atau cahaya yang tidak berwujud sehingga tidak dapat disentuh jadi masih halus tapi sudah tampak atau dapat dilihat sedangkan bayu keberadaannya tidak dapat dilihat.
Teja sebagai anasir dasar pembentuk alam semesta berperan sebagai pembentuk sinar yang menyinari segala benda atau isi alam materi yang ada di alam ini dapat dilihat (tampak) dengan mata. Segala sesuatu yang dapat bersinar di alam ini dominan sebagai pembentuk alam ini, misalnya matahari yang bersinar terang merupakan benda (isi) alam semesta yang dapat mengeluarkan teja yang amat besar dan dalam dirinya demikian juga isi alam lainnya yang besinar.
4. Apah(zat cair) lahir dari rasa tan matra
Apah sudah kasar karena sudah dapat berwujud walau wujudnya dapat berubah-ubah sesuai dengan tempatnya. Apah sebagai anasir dasar penyusun alam semesta berperan sebagai pembentuk cairan yang menyusun alam semesta beseta isinya. Segala yang cair seperti air, minyak, alkohol, cairan pada tubuh dan lain-lain yang berada di alam ini merupakan peran apah sebagai pembentuk alam semesta.
5 Perthiwi (tanah) lahir dari gandha tan matra
Perthiwi paling bawah sehingga paling kasar, wujudnya sudah tetap (padat). Perthiwi sebagai anasir dasar paling kasar penyusun alam semesta keberadaannya berperan untuk menentukan wujud benda-benda atau isi alam dan wujudnya padat yang tetap.

Demikian alam semesta ini disusun dan lima unsur dasar Panca Mahabhuta, tetapi yang paling dominan adalah perthiwi sehingga batu itu padat dan juga terciptanya bumi, air juga demikian yang paling dominan unsur dasar Panca Mahabhuta adalah apah, matahari,bulan dan bintang unsur Panca Mahabhuta yang dominan adalah teja(api), suara/bunyi unsur Panca Mahabhuta yang dominan adalah akasa dan angin unsur Panca Mahabhuta yang dominan adalah bayu. Kandungan akasa yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk ruang, menyebar. Kandungan bayu yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk gerak atau benda bergerak. kandungan apah yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk benda padat. Kandungan yang dominan itu bisa lebih dan satu unsur Mahabhuta dalam suatu benda atau isi alam, misalnya kandungan apah dan prethiwi yang dominan menyebabkan keberadaan dalam bentuk padat cair (kental). berkat alam semesta lahirlah tumbuh-tumbuhan (seperti) rumput,pohon kayu,tanaman melata, serba kulit kelopak dan inti, serta segala mahluk (yaitu) binatang/ ternak, burung ikan mahluk halus, demikianlah macamnya alam semesta..
            Dalam sloka 25 selanjutnya dijelaskan tentang penciptaan alam semesta tersebut sebagai berikut ;
Niṣkalāj jāyate nādo nādād biṇdhusamudbhavah, bindoś candrasamudbhavaś candrād visvah punah-punah
Kalinganya, ikang niskalāmijalakên nāda, sakeng nāda ngamijilakên bindhu, sakeng bindhu ngamijilakên ardhacandra, sakeng ardhacandra ngamijilakên wiśwa ngaran Sang Hyang Praṇawa, Sang Hyang Praṇawa jātinya Omkāra. (Ganapati Tattwa, 25)
Artinya,
Dari Niskala lahir nada , dari nada muncul bindu, dari bindu lahir bulan (semi) dari bulan itu ada wisnu/ dunia berulang-ulang.
Tegasnya, yang Niskala itu melahirkan nada, dari nada melahirkan bindu, dari bindu melahirkan ardhacandra, dari ardhacandra melahirkan wiswa/alam semesta, berulang-ulang pelaksanaannya ; wiswa berarti Sang Hyang Pranawa, Sang Hyang Pranawa sesungguhnya adalah Om-kara.
Sesuai dengan sloka diatas bahwa dari niskala lahirlah nada(benih suara),dari nada kemudian melahirkan bindu,dari bindu melaihirkan ardhacandra, dan dari ardhacandra melahirkan wiswa (alam semesta). Seperti itulah penciptaan alam semesta secara berulang ulang. Lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut,
wiśwah pralīyate candre candraś ca līyate bindau|
binduś ca līyate nāda ity etat kramalakṣaṇam||27||

ikang wiśwah umĕt ringng ardhacandra| ikangng ardhacandra līna ring bindu| ikang bindu ya ta umĕt ring nāda| nahan tang lakṣaṇa ning tattwa|| mwang ikang nāda mulih maring niṣkala| niṣkala ngaran māyātattwa| pradhāna ika makolihan ing nāda|| mwah ikang ningkala mulih maring śūnyāntara| ikang śūnyāntara mulih mari ng atyantaśūnya| makolihan ing niṣkala|| mwah anaku sang gaṇapati| ikang ingaranan uutpatti sthiti pralīnan sang hyang praṇawa||
Artinya,
Wiswa melekat pada candra, dan candra menempel pada bindu, serta bindu kembali pada nada , demikianlah perihal/keadaan aktivitasnya.

Wiswa itu bergantungan pada ardhacandra, ardhacandra itu lebur dalam bindu, bindu itulah bergantungan pada nada, demikianlah halnya ajaran filsafat, dan nada kembali ke niskala. Niskala itu disebut mayatattwa , itulah pradhana (materi), pengembaliannya pada nada , dan niskala itu kembali ke sunyantara, sunyantara kembali ke atyantasunya, sebagai pengembaliannya niskala dan anakku Sang Ganadhipa, adapun yang dimaksud Utpatti(lahir), Sthiti (hidup), dan Pralina (lebur) itu yalah Sanghyang Pranawa.(Ganapati Tattwa, 27)

 Dalam sloka 27 dijelaskan bahwa niskala itu adalah maya tattwa(Acetana). Acetana berarti ketidaksadaran atau ketidaktahuan. Dalam Wrhspati tattwa disebutkan acetana ngaranya ikang tanpa jnana, kadyangga ning watu. Cetana dan acetana adalah asal mula yang sama halus dan gaibnya, ia adalah dua hakekat berpasangan yang beroposisi. Akan tetapi karena acetana adalah yang tidak berkesadaran ia disebut maya tattwa, maka ia diposisikan dibawah cetana (hilang kasor nikang maya tattwa dening Siwatattwa). Rupanya yang menjadi kata kunci adalah kata kasor, berasal dari akar kata sor artinya lebih rendah, kalah, dikalahkan, substansi yang berada di bawah.
Śiwād utpadyate catmātmanah prakertis tatah, prakertes tu ravir jāto raveś cāgniś ca jāyate.
Ikang im, ya ta sinangguh śiwa,sakeng śiwa mĕtu tang atma, bam, sakeng ātmā mêtu tang prakerti, sam, sakeng prakrti mêtu tang āditya, tam, sakeng āditya mêtu tang āgni ,am, nahan tang utpatti sang hyang panca brahma, im,bam, sam, tam, am, kramanya.( Ganapati Tattwa, 28)
Artinya,
Dari Siwa lahir Atma, karena Atma maka dari Prakrti muncullah Rawi (matahari), dari Rawi lahir Agni (panas/api).
ING itulah disebut Siwa, dari siwa lahir Atma, BANG dari Atma lahir Pradhana/materiil, SANG dari Pradhana/Prakrti lahirlah matahari (Aditya), TANG, Aditya lahirlah Agni (api/panas),ANG. Demikianlah hal manifestasinya Sang Hyang Panca Brahma yaitu: ING, BANG, SANG, TANG, ANG
Dalam kitab suci Hindu dinyatakan bahwa atma adalah bagian dari Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab upanisad yang menyatakan bahwa “Brahma Atma Aikyam” yang artinya brahman dan atman adalah tunggal. Atma diumpamakan sebagai setitik embun yang berasal dari penguapan air laut, karena adanya pengaruh suatu temperatur tertentu kemudian embun itu terpencar keseluruh alam semesta. Demikian keadaan atma yang mula-mula berasal dari Brahman kemudian terpencar memasuki serta memberi energi hidup pada jasmani dari smeua mahluk. Atma juga disebut siwatma atau jiwatma, yaitu roh yang berasal dari Tuhan dalam fungsi memberi tenaga hidup kepada alam semesta beserta isinya.
Dari atma kemudian lahir pradhana/ Prakerti yaitu unsur yang bersifat kebendaan atau material. Pada penciptaan alam semesta, Prakerti berevolusi menjadi Pancatanmatra yaitu lima benih yang belum berukuran. Pancatanmatra setelah melalui evolusi yang panjang akhirnya menjadi Pancamahabhuta, yakni lima unsur materi. Lima unsur materi ini kemudian membentuk anggota alam semesta, seperti misalnya matahari, bumi, bulan, bintang-bintang, planet-planet, dan lain-lain.
prakṛtiṃ cāśrayed ātmā ātmanaṃ ca rawis tathā|
rawim agniḥ śiwaś cāgniṃ sthitir ewaṃ nigadyate||

ikang saṃ rumuhun tattwanya| tumūt baṃ| tumūt taṃ| tumūt aṃ| tumūt iṃ|| nihan sthiti sang hyang pañcabrahma| saṃ| baṃ| taṃ| aṃ| iṃ| kramanya||

artinya,
Prakrti itu dijiwai atma dan karena atma maka adalah matahari adanya agni menyusul setelah matahari , demikianlah ternyata siwagni dalam keadaan Sthiti.
Yang permulaan adalah SANG filsafatnya , selanjutnya BANG, kemudian TANG, terus ANG dan akhirnya ING, inilah sthitinya Sanghyang Panca Brahma,urutannya adalah SANG, BANG, TANG, ANG,ING. (Ganapati Tattwa, 29)

            Secara umum prakrti berarti alam atau dunia. Prakrti juga dapat berarti materi, tenaga atau energi. Kadang kala prakrti juga berarti sifat, tabiat, perangai, watak dan hakekat. Tetapi dalam Bhagavad Gita, prakrti umumnya berarti alam material. Alam material berasal dari tenaga material Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Tenaga material beliau disebut maya. Ma = tidak, dan Ya = itu. Jadi Maya berarti; “Yang bukan itu”. Diartikan demikian karena tenaga materialNya ini menyebabkan para mahluk hidup yang tinggal di alam material lupa pada hakekat dirinya sejati sebagai jiva rohani abadi. Para mahluk hidup menganggap badan jasmaninya sebagai dirinya sejati. Kemudian atma itu menurut Bapak Kiriana(Dosen Tattwa di IHDN Denpasar) bahwa atma itu adalah hidupnya hidup. Jadi dapat diartikan bahwa atma itu merupakan sumber kehidupan. Setelah alam semesta (prakerti terbentuk) ,mulai ada kehidupan yang berasal dari Atma dan melalui matahari Tuhan Yang Maha Esa menjaga dunia
Konfigurasi aksara Panca Brahma, tersusun sebagai berikut: ANG – TANG- SANG- BANG- ING, menggambarkan proses involusi ciptan atau peleburan (penyerapan kembali, pralina). ANG yang mewakili ketegori Panca Mahabhuta, Dasendriya dan Manah tercipta dari Panca Tanmatra, Ahamkara dan Buddhi (Wijaksaranya TANG) dan tiga yang belakang ini dihasilkan oleh prinsip awyakta (wijaksaranya SANG). Awyakta kembali pada purusa (BANG) dan Purusa menyatu dengan Maha Brahma (Rudra Tattwa) wijaksaranya ING. Posisi arah dimana aksara Panca Brahma ditempatkan, sesuai dengan ajaran Sang Hyang Siwa Basma (Wejangan Siwa tentang Basma) yang menyatakan “Panca bhagancirah kuryyat, panca matram udaharet, purwwa SA daksina Basyat, pascima TA nyaset wudhah, Uttarya Aghorakam sthanam, murddhim Isanam evaca”. Jadi SA (purwa), BA(daksina), TA (pascima), A (uttara) dan I (murdha, tengah menghadap atas).
 Sedangkan dewata yang diwakili oleh aksara-aksara tersebut kemudian dipuja sesuai dengan matra (arah) yang telah ditetapkan . “Purwwasyadh Iswara Wndhyat, Brahma daksina gomukam, pascime tu Mahadewa, uttarae wesnawam mukam, murddhim Isanam evaca” Kelima nama ini: Iswara, Brahma Mahadewa, Wisnu dan Sadasiwa (Isana) disebut Dewata Panca Brahma atau sering disingkat Panca Brahma atau Panca Dewata. Menurut Siwa Purana, panca waktra atau pancanana tersebut dikaitkan dengan panca krtya (lima kegiatan Tuhan/ Sada Siwa) yakni srsti, sthiti, samhara, tirobhawa dan anugraha.
yaṃ| waṃ| śiṃ| maṃ| naṃ| utpatti sang hyang pañcākṣara|| śiṃ| waṃ| maṃ| naṃ| yaṃ| sthiti sang hyang pañcākṣara|| naṃ| maṃ| śiṃ| waṃ| yaṃ| pralīna sang hyang pañcākṣara||
artinya,
Aksara Yam, Wam, Sim, Mam dan Nam adalah Utpatti Sanghyang Pancaksara. Aksara Sim, Wam, Mam, Nam dan Yam adalah sthiti Sanghyang Pancaksara. Sedangkan aksara Nam, Mam, Sim Wam, Yam adalah Pralina Sanghyang Pancaksara.(Ganapati Tattwa, 33)

            Seperti itu penciptaan alam semesta menurut sloka diatas yaitu melalui Panca Aksara dimana menurut kepercayaan aksara-aksara suci tersebut memiliki kekuatan yang mampu menciptakan,memelihara dan melebur alam semesta. Panca Aksara merupakan aksara suci dari panca erwarya, diantaranya:
Maheswara/mahesora di Tenggara dengan aksara suci “Na”
Rudra/Ludra di Barat Daya dengan aksara suci “Ma”
Sangkara di Barat Laut dengan aksara suci “Si”
Sambu di Timur Laut dengan aksara suci “Wa”
Siwa di Tengah dengan aksara suci “Ya”
Alam semesta diciptakan oleh panca brahma dan panca aksara yang disebut sumber kekuatan alam semesta (dasa aksara). Dasa aksara merupakan sepuluh hurup utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya dan sangat erat hubungannya dengan dewata nawasanga. Dari sepuluh hurup bersatu menjadi panca brahma (lima hurup suci untuk menciptakan dan menghancurkan),
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ganapati Tattwa merupakan salah satu Lontar Tattwa, Lontar Filsafat Siwa, yang digubah dengan mempergunakan metode Tanya jawab. Tanya jawab tersebut ditulis di dalam 37 lembar dau tal yang disusun dalam 60 bait/prosa, menggunakan bahasa Sansekerta yang disertai dengan ulasan dalam bahasa Kawi. Ganapati, putera Siwa, adalah Dewa penanya yang cerdas. Dan Siwa adalah Maheswara, yang menjabarkan tentang ajaran Rahasia Jnana, menjelaskan tentang misteri alam semesta beserta isinya. Secara ringkas isinya dapat diuraikan sebagai berikut: Omkara adalah wujud sabda sunya, nada Brahman, asal mula Pancadaivatma : Brahma, Wisnu, Iswara, Rudra dan Sang Hyang Sadasiva. Pancadivatma merupakan asal Panca Tan Matra yang terdiri dari Rupa (unsur bentuk), Gandha (unsur bau), Rasa (unsur rasa/kenikmatan), Sparsa (unsur sentuhan), dan Sabda (unsur suara). Dari Panca Tan Matra munculah Panca Mahabutha yang merupakan unsur materi (elemen alam semesta) yang terdiri dari : Apah (air/benda cair), Teja(panas), Vayu (angin), Prthivi (tanah) dan Akasa (ether). Dari Panca Mahabutha ini alam semesta beserta isinya diciptakan, dan Sang Hyang Sivatma menjadi sumber hidup yang menggerakkan segala ciptaannya.

 


DAFTAR PUSTAKA
Atmadja, Nengah Bawa. 1999. Ganesa sebagai Avighnesvara, Vinayaka dan Pengelukatan. Surabaya : Paramita
Gunawan, Pasek. 2012. Siva Siddhanta I. Singaraja
 Gunawan, Pasek. 2012.Siva Siddhanta II. Singaraja
Rai Mirsha, dkk. 1995. Ganapati Tattwa Kajian Teks dan Terjemahannya. Denpasar : Upada Sastra
Ganapati Tattwa. Dokumentasi Pusdok. Denpasar
Putra, I.G.A.G dkk. 1998. Wrhaspati Tattwa. Surabaya : Paramita
Anonim. 2006. Siwatattwa. Bangli : Pemerintah Kabupaten Bangli