Senin, 31 Maret 2025

Uang=Energi

Uang adalah Energi: Sebuah Perspektif Baru dalam Kehidupan

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Sloka dalam Bahasa Sanskerta

धनं शक्तिरूपं सततं प्रवाहम्।
न तु पत्ररूपं न च संख्यया॥
जीवनं परिवर्तनं साधयति।
यथा व्यवहारः तथा फलम्॥
शुद्धया बुद्धया च नियोजयेत्।
सद्विनियोगेन सुखं भवेत्॥
धनं न केवलं वस्तु किंतु जीवनाय॥

Transliterasi

Dhanaṁ śaktirūpaṁ satataṁ pravāham।
Na tu patrarūpaṁ na ca saṁkhyayā॥
Jīvanaṁ parivartanaṁ sādhayati।
Yathā vyavahāraḥ tathā phalam॥
Śuddhayā buddhayā ca niyojayet।
Sadvinayogena sukhaṁ bhavet॥
Dhanaṁ na kevalaṁ vastu kiṁtu jīvanāya॥

Makna

Uang adalah bentuk energi yang terus mengalir.
Ia bukan sekadar kertas atau angka belaka.
Uang memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan.
Seperti kita memperlakukannya, demikian pula hasilnya.
Gunakan dengan kebijaksanaan dan kesadaran.
Dengan penggunaan yang baik, kebahagiaan akan datang.
Uang bukan hanya benda, tetapi sarana kehidupan.

Sloka ini menggambarkan bahwa uang memiliki sifat seperti energi yang dapat mengalir dan mengubah kehidupan, serta pentingnya pengelolaan uang dengan bijaksana untuk mencapai kesejahteraan. Semoga bermanfaat!


Dalam kehidupan sehari-hari, uang sering kali dianggap sebagai alat tukar atau simbol kekayaan. Namun, jika kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih dalam, uang sebenarnya adalah bentuk energi. Seperti halnya energi dalam fisika, uang memiliki sifat yang dapat mengalir, berubah bentuk, dan memberikan dampak bagi kehidupan manusia.

Uang sebagai Energi yang Mengalir

Energi tidak pernah diam, ia selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain, dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Begitu pula dengan uang. Uang mengalir dari satu individu ke individu lain, dari satu bisnis ke bisnis lain, dan dari satu negara ke negara lain. Ketika uang digunakan untuk bertransaksi, ia menggerakkan roda ekonomi dan menciptakan keseimbangan dalam sistem keuangan global.

Uang sebagai Alat Transformasi

Seperti energi yang dapat berubah bentuk—dari panas menjadi listrik, dari gerak menjadi cahaya—uang juga memiliki kekuatan transformasi yang luar biasa. Uang dapat mengubah kehidupan seseorang, menciptakan peluang, dan memberikan akses terhadap pendidikan, kesehatan, serta kemakmuran. Seseorang yang bijak dalam mengelola uang dapat menggunakannya untuk menciptakan dampak positif bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Frekuensi dan Vibrasi Uang

Dalam perspektif spiritual dan metafisika, segala sesuatu di alam semesta memiliki frekuensi dan vibrasi tertentu, termasuk uang. Sikap seseorang terhadap uang dapat mempengaruhi bagaimana uang datang dan pergi dalam hidupnya. Jika seseorang memiliki pola pikir kelimpahan dan bersyukur, maka energi uang akan lebih mudah mengalir kepadanya. Sebaliknya, jika seseorang memiliki ketakutan dan kekhawatiran berlebih terhadap uang, maka aliran tersebut bisa terhambat.

Bagaimana Mengelola Energi Uang?

1. Menggunakan dengan Bijak – Seperti energi yang harus digunakan secara efisien, uang juga perlu dikelola dengan bijak agar tidak terbuang sia-sia.


2. Berbagi dan Beramal – Memberikan sebagian uang kepada yang membutuhkan dapat mempercepat aliran energi uang dalam kehidupan.


3. Berinvestasi untuk Masa Depan – Menyimpan dan mengembangkan uang melalui investasi adalah cara untuk menjaga keseimbangan energi finansial dalam jangka panjang.


4. Menjaga Pola Pikir Positif – Pola pikir yang positif dan penuh syukur akan membantu menarik lebih banyak kelimpahan dalam hidup.



Kesimpulan

Uang bukan sekadar kertas atau angka dalam rekening bank, melainkan energi yang memiliki kekuatan besar untuk mengubah kehidupan. Cara kita memperlakukan uang akan menentukan bagaimana energi tersebut mengalir dalam hidup kita. Dengan memahami uang sebagai energi, kita dapat mengelolanya dengan lebih baik, menggunakannya secara bijak, dan menjadikannya alat untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.


Surat Pemberitahuan KMDS

KOPERASI MAHA DAKSA SANDHI
Bongkasa, 31 Maret 2025
Nomor: 10/KMDS/III/2025
Perihal: Pemberitahuan dan Peringatan Pembayaran Kredit

Kepada Yth.
Nasabah 
Di Tempat

Dengan hormat,

Sehubungan dengan kewajiban pembayaran angsuran kredit yang Saudara/i miliki di Koperasi Maha Daksa Sandhi, kami mencatat bahwa terdapat keterlambatan atau ketidakteraturan dalam pembayaran angsuran tersebut. Oleh karena itu, kami mengimbau Saudara/i untuk segera melakukan pembayaran dan menyempatkan diri datang ke kantor Koperasi Maha Daksa Sandhi paling lambat pada tanggal 19 April 2025.

Apabila sampai batas waktu yang telah ditentukan Saudara/i belum memenuhi kewajiban ini dan tidak mengindahkan surat ini, maka kami akan melakukan kunjungan langsung ke rumah sebagai langkah tindak lanjut.

Demikian surat pemberitahuan dan peringatan ini kami sampaikan. Kami sangat mengharapkan kerja sama dan itikad baik Saudara/i dalam menyelesaikan kewajiban ini. Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,
Ketua Koperasi Maha Daksa Sandhi

Ttd

I Gede Sugata Yadnya Manuaba


Penggunaan Sangge Tidak di Wajibkan

Relevansi Penggunaan Sangge dalam Upacara Nyekah Pitra Yadnya di Era Modern


Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd

Sloka 1:

पितृणां मार्गदर्शाय, सङ्गेः संकल्पितः पुरा।
कालेन च प्रवर्तन्ते, धर्मस्यैव नित्यताः॥

यत्र सन्तः समायान्ति, ज्ञानदीपेन शोभिताः।
तत्र सङ्गेः किं कार्यं, यदि सत्यं प्रकाशते॥

यज्ञेनैव हि शुद्ध्यन्ति, मन्त्रैः पावित्र्यमाप्यते।
सुलिङ्गस्य प्रसादेन, आत्मा मुक्तिं लभेत ध्रुवम्॥

Transliterasi

Pitṛṇāṁ mārgadarśāya, saṅgeḥ saṁkalpitaḥ purā।
Kālena ca pravartante, dharmasyaiva nityatāḥ॥

Yatra santaḥ samāyānti, jñānadīpena śobhitāḥ।
Tatra saṅgeḥ kiṁ kāryaṁ, yadi satyaṁ prakāśate॥

Yajñenaiva hi śuddhyanti, mantraiḥ pāvitryam āpyate।
Suliṅgasya prasādena, ātmā muktiṁ labheta dhruvam॥

Makna Sloka

  1. Dahulu kala, sangge dibuat sebagai penunjuk jalan bagi roh leluhur.
  2. Seiring waktu, aturan dharma tetap lestari dan terus berjalan.
  3. Di tempat para bijak dan suci berkumpul, diterangi cahaya kebijaksanaan,
  4. Apakah masih perlu sangge, jika kebenaran telah bersinar dengan sendirinya?
  5. Penyucian sejati datang dari yajña dan mantra suci.
  6. Dengan berkah sulinggih, jiwa pasti mencapai moksha.

Sloka ini menegaskan bahwa meskipun sangge memiliki nilai historis, dalam perkembangan spiritual, peran sulinggih dan mantra lebih utama dalam mengantarkan roh leluhur menuju pembebasan.


Sloka 2:

सङ्गेः कार्यं नास्त्यद्य, लिङ्गः स्थितः सदा गुरौ।

सन्त्यत्र सुलिङ्गस्य, पूजनं मुक्तिदायकम्॥

मन्त्रैः शुद्धिः क्रियायाः, आत्मनः परिशोधनम्।

यज्ञेनैव प्रतिष्ठन्ति, पितरः परमं पदम्॥

गुरुणा सञ्चितं तेजः, सत्यं मार्गस्य कारणम्।

सङ्गेः किं नाम कर्तव्यं, यदि धर्मः प्रकाशितः॥

लिङ्गं तिष्ठति यत्रैव, तत्र मुक्तिः सुनिश्चितम्।


Transliterasi

Saṅgeḥ kāryaṁ nāsty adya, liṅgaḥ sthitaḥ sadā gurau।

Santy atra suliṅgasya, pūjanaṁ muktidāyakam॥

Mantraiḥ śuddhiḥ kriyāyāḥ, ātmanaḥ pariśodhanam।

Yajñenaiva pratiṣṭhanti, pitaraḥ paramaṁ padam॥

Guruṇā sañcitaṁ tejaḥ, satyaṁ mārgasya kāraṇam।

Saṅgeḥ kiṁ nāma kartavyaṁ, yadi dharmaḥ prakāśitaḥ॥

Liṅgaṁ tiṣṭhati yatraiva, tatra muktiḥ suniścitam।

Makna Sloka

1. Kini sangge tidak lagi diperlukan, sebab lingga telah berdiri teguh di bawah berkah sulinggih.

2. Penyucian sejati hadir melalui sulingga, yang menjadi sarana pelepasan roh leluhur.

3. Mantra suci membawa penyucian dalam ritual, membersihkan jiwa yang berbakti.

4. Melalui yajña, para leluhur mencapai alam tertinggi.

5. Kekuatan sulinggih berasal dari energi spiritual yang terhimpun,

6. Kebenaran adalah jalan pembebasan.

7. Apa gunanya sangge, jika dharma sudah diterangi cahaya kebijaksanaan?

8. Di mana lingga ditegakkan,

9. Di sanalah moksha pasti tercapai.

Sloka ini menegaskan bahwa penggunaan sangge tidak lagi relevan dalam upacara Nyekah, karena sudah digantikan oleh tapakan lingga yang dipuput oleh sulinggih, sebagai sarana utama dalam pelepasan roh leluhur menuju pembebasan.



Pendahuluan

Dalam tradisi Hindu di Bali, upacara Nyekah atau Pitra Yadnya memiliki peran sentral dalam proses penyucian dan pelepasan roh leluhur menuju alam keabadian. Salah satu unsur yang dahulu kerap digunakan dalam prosesi ini adalah sangge, sebuah simbol ritual yang memiliki makna sakral dalam penyelenggaraan upacara. Namun, dengan berkembangnya praktik keagamaan, terutama dalam prosesi Atma Wedana yang kini dipimpin oleh seorang sulinggih yang telah mensthanakan Catur Dasa Siwa, muncul pertanyaan: apakah penggunaan sangge masih relevan dalam upacara Nyekah?

Makna dan Fungsi Sangge dalam Upacara Nyekah

Sangge merupakan perlengkapan upacara yang berfungsi sebagai simbol penghubung antara alam sekala (dunia nyata) dan niskala (dunia spiritual). Dalam tradisi kuno, sangge digunakan untuk membantu memandu roh leluhur agar dapat mencapai tujuan akhir dengan sempurna. Sangge diyakini sebagai media untuk memperkuat koneksi antara umat manusia dengan roh leluhur yang sedang mengalami proses penyucian.

Dalam konteks upacara Pitra Yadnya, sangge juga berfungsi sebagai alat bantu bagi pemangku dalam memimpin ritual, memastikan bahwa setiap tahap penyucian berjalan sesuai dengan tatanan adat dan kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Peran Sulinggih dan Catur Dasa Siwa dalam Atma Wedana

Di era modern, prosesi Atma Wedana yang merupakan bagian dari upacara Nyekah kini lebih banyak dipimpin oleh seorang sulinggih sebagai pemuput. Sulinggih yang telah mensthanakan Catur Dasa Siwa memiliki kemampuan spiritual yang lebih tinggi, memungkinkan dirinya untuk langsung berkomunikasi dengan roh leluhur tanpa memerlukan media perantara seperti sangge.

Dengan konsep ini, kehadiran seorang sulinggih yang telah mensthanakan Catur Dasa Siwa dalam tubuhnya dianggap cukup untuk menggantikan fungsi sangge sebagai penghubung antara dimensi sekala dan niskala. Hal ini membuat beberapa komunitas Hindu di Bali mulai mengurangi penggunaan sangge dalam upacara Nyekah, atau bahkan menghilangkannya sepenuhnya.

Apakah Penggunaan Sangge Masih Diperlukan?

Relevansi penggunaan sangge dalam upacara Nyekah bergantung pada sudut pandang dan keyakinan masyarakat yang menyelenggarakan ritual tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan untuk tidak menggunakan sangge antara lain:

  1. Perubahan Tradisi dan Adat – Beberapa komunitas telah menggantikan penggunaan sangge dengan tapakan lingga di Surya sebagai sarana penyucian roh leluhur.
  2. Kepercayaan terhadap Peran Sulinggih – Jika keluarga penyelenggara yakin bahwa sulinggih telah mampu mengemban seluruh tanggung jawab spiritual, maka penggunaan sangge dapat diminimalisir atau dihilangkan.
  3. Makna Simbolis – Secara spiritual, sangge dapat digantikan oleh tapakan lingga yang berfungsi sebagai sarana penghormatan terhadap leluhur, sekaligus memastikan bahwa ritual tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai keagamaan.

Kesimpulan

Perkembangan ritual Hindu di Bali selalu mengalami dinamika sesuai dengan perkembangan zaman dan pemahaman spiritual masyarakat. Dalam konteks Atma Wedana yang dipimpin oleh sulinggih dengan Catur Dasa Siwa, peran sangge sebagai alat perantara mulai mengalami pergeseran makna. Meskipun begitu, nilai simbolis dan historisnya tetap menjadikannya bagian tak terpisahkan dalam beberapa komunitas Hindu yang masih menjunjung tinggi tradisi leluhur.

Dengan demikian, penggunaan sangge dalam upacara Nyekah Pitra Yadnya hendaknya tidak lagi digunakan, karena telah digantikan dengan tapakan lingga ring Surya serta dipuput oleh sulinggih. Yang terpenting adalah keberadaan sekah itu sendiri, sebagai inti dari upacara yang bertujuan untuk menghantarkan roh leluhur dengan tulus dan penuh keikhlasan menuju alam keabadian.


Sekah

Sekah dalam upacara Pitra Yadnya adalah perwujudan roh orang yang meninggal yang dibuat dari kayu cendana. Sekah digunakan dalam upacara Nyekah, yaitu sebuah ritual simbolis yang bertujuan untuk menghormati arwah leluhur yang telah meninggal dan membantu perjalanan rohnya menuju alam suci.

Upacara Nyekah merupakan salah satu rangkaian dalam Pitra Yadnya yang dilakukan setelah prosesi ngaben. Tujuan utama dari upacara ini adalah untuk memutuskan ikatan atma atau roh leluhur dari unsur Panca Maha Bhuta dan Panca Tan Matra agar dapat mencapai alam yang lebih tinggi dan memperoleh kebebasan spiritual.

Berikut adalah rangkaian upacara Nyekah:

  1. Ngulapin di Segara Ritual ini dilakukan di laut untuk memohon izin kepada Ida Bethara Baruna, sebagai penguasa laut, agar roh leluhur mendapatkan restu dalam perjalanan spiritualnya.

  2. Ngajum Sekah Dalam tahap ini, dibuatlah simbol Panca Tan Matra dalam bentuk Puspa Lingga Sarira sebagai perwujudan suci dari roh yang akan disempurnakan.

  3. Ngaskara Sekah Puspa Lingga Sarira yang telah dibuat kemudian disucikan dengan air bersih dan suci, serta diperciki minyak wangi sebagai lambang pemurnian roh dari segala keterikatan duniawi.

  4. Narpana Sekah Dalam prosesi ini, sesajen yadnya dipersembahkan kepada atma yang telah disucikan sebagai bentuk penghormatan dan rasa bakti dari keturunannya.

  5. Ngeseng atau Mapralina Sekah Tahap ini merupakan prosesi pembakaran Puspa Lingga Sarira sebagai simbol pelepasan unsur Panca Tan Matra dari roh leluhur, sehingga ia dapat melanjutkan perjalanannya menuju alam suci.

  6. Nganyut Sekah Setelah pembakaran selesai, sisa-sisa ritual kemudian dihanyutkan ke sungai suci yang bermuara ke laut sebagai wujud pelepasan terakhir agar roh dapat menyatu dengan alam semesta.

Upacara Nyekah memiliki makna spiritual yang mendalam dalam tradisi Hindu Bali. Melalui ritual ini, keluarga yang ditinggalkan memberikan penghormatan terakhir kepada leluhur, sekaligus mendoakan agar roh mereka mencapai kebebasan dan kedamaian di alam selanjutnya. Dengan melaksanakan Nyekah, umat Hindu di Bali meyakini bahwa mereka telah melaksanakan kewajiban suci dalam menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan alam roh.

Minggu, 30 Maret 2025

Perjalanan roh setelah meninggalkan tubuh


Siapa yang Menuntun Roh Saat Meninggalkan Badan Menurut Pandangan Hindu?

Dalam ajaran Hindu, kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah perjalanan menuju kehidupan selanjutnya. Saat roh (ātman) meninggalkan badan, ada beberapa sosok yang dipercaya akan menuntun dan membimbingnya ke alam berikutnya, tergantung pada karma dan tingkat spiritual seseorang.

1. Dewa Yama, Sang Raja Kematian

Dalam kitab suci Hindu, Dewa Yama disebut sebagai Raja Kematian (Yamarāja). Ia bertugas mencatat karma setiap makhluk dan menentukan ke mana roh akan pergi setelah meninggalkan tubuh. Jika seseorang memiliki karma baik, ia akan dibimbing ke alam yang lebih tinggi. Namun, jika karma buruk mendominasi, roh bisa dibawa ke alam neraka (Naraka) untuk menjalani konsekuensi dari perbuatannya.

2. Pitra (Leluhur) dan Dewa Pemandu Roh

Dalam beberapa ajaran Hindu, roh orang yang telah meninggal dapat dijemput oleh leluhur atau makhluk gaib yang bertugas mengantarkan roh ke alam yang sesuai dengan karmanya. Dalam upacara Pitru Paksha atau Pitra Yadnya, keluarga melakukan ritual untuk membantu roh leluhur agar mencapai alam yang lebih baik.

3. Bhatara Kala dan Para Bhuta

Bagi mereka yang memiliki karma buruk atau meninggal dalam keadaan yang tidak wajar, dalam beberapa kepercayaan Hindu, roh dapat diganggu oleh makhluk halus seperti Bhuta dan Kala. Oleh karena itu, di Bali dan daerah lain yang masih kuat dengan tradisi Hindu Dharma, sering dilakukan upacara penyucian roh seperti Atma Wedana atau Ngaben agar roh dapat mencapai alam yang lebih baik.

4. Sang Hyang Widhi dan Jalan Moksha

Bagi mereka yang telah mencapai kesadaran spiritual tinggi dan menjalani kehidupan suci, roh dapat langsung menyatu dengan Sang Hyang Widhi tanpa harus mengalami reinkarnasi. Ini dikenal sebagai Moksha, yaitu pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian (Samsara). Orang-orang suci dan bijaksana akan dipandu oleh kebijaksanaan batin dan karma baiknya menuju penyatuan dengan Brahman.

Kesimpulan

Dalam Hindu, perjalanan roh setelah meninggalkan tubuh dipandu oleh berbagai entitas sesuai dengan karma dan tingkat kesadaran spiritualnya. Dewa Yama bertugas sebagai pencatat dan pengadil, leluhur dapat membantu membimbing roh, sementara ritual yang dilakukan oleh keluarga di dunia dapat memperlancar perjalanannya. Tujuan akhir dalam Hindu adalah mencapai Moksha, yaitu kebebasan dari siklus kelahiran dan kematian, sehingga roh dapat bersatu dengan Sang Hyang Widhi.

Semoga kita semua selalu berbuat kebajikan agar perjalanan roh kita nanti dipermudah dan mencapai alam yang lebih baik.



Keadaan ku saat ini sedang Pasrah

Pasrah bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan baru dengan hati yang lebih tenang.

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Sloka :

यत्नं कृत्वा यदा न सिध्यति,
प्रयत्नस्य फलं न दृश्यते।
तदा शान्तिं मनसि स्थापय,
ईश्वरे विश्वासं धारय।
यद्भवेत् तत्सुखायैव,
सर्वं देवस्य चिन्तितम्॥

Transliterasi:

Yatnaṁ kṛtvā yadā na sidhyati,
Prayatnasya phalaṁ na dṛśyate.
Tadā śāntiṁ manasi sthāpaya,
Īśvare viśvāsaṁ dhāraya.
Yad bhavet tat sukhāyaiva,
Sarvaṁ devasya cintitam.

Makna:

"Ketika usaha telah dilakukan, namun hasil tak juga nampak,
Maka tenangkanlah hati dan pasrahkanlah segalanya.
Percayalah kepada Tuhan dengan sepenuh hati,
Sebab segala yang terjadi adalah untuk kebaikan.
Apa pun yang datang adalah demi kebahagiaan sejati,
Karena segalanya telah dirancang oleh-Nya."

Sloka ini mengajarkan bahwa dalam kepasrahan ada ketenangan, dan dalam ikhlas ada keyakinan bahwa Tuhan telah mengatur segalanya dengan baik.

Posisiku Saat Ini: Sedang Pasrah

Dalam hidup, ada saatnya kita berjuang sekuat tenaga, namun ada pula saat di mana kita hanya bisa pasrah. Bukan karena menyerah, tetapi karena kita telah melakukan segala yang bisa kita lakukan. Ketika usaha dan doa telah kita panjatkan, namun hasilnya belum sesuai harapan, mungkin itulah saatnya kita belajar untuk melepaskan dan mempercayakan segalanya kepada takdir.

Pasrah Bukan Berarti Lemah

Sering kali, pasrah dikaitkan dengan kelemahan atau menyerah. Padahal, pasrah justru bisa menjadi tanda kedewasaan. Ini adalah bentuk kesadaran bahwa tidak semua hal bisa kita kendalikan. Ada kekuatan yang lebih besar yang bekerja di luar batas kemampuan kita, dan terkadang, menerima keadaan dengan hati lapang adalah jalan terbaik.

Belajar Ikhlas dalam Kepasrahan

Saat berada dalam kondisi pasrah, kita diajak untuk belajar ikhlas. Ikhlas bukan sekadar menerima, tetapi juga meyakini bahwa apapun yang terjadi adalah bagian dari rencana yang lebih besar. Mungkin sekarang terasa sulit, tapi di balik semua itu pasti ada hikmah yang belum kita pahami.

Tetap Melangkah, Walau Tanpa Kepastian

Pasrah bukan berarti berhenti melangkah. Meskipun tak ada kepastian di depan, kita tetap harus bergerak. Kadang, dalam kepasrahan, justru kita menemukan ketenangan yang selama ini kita cari. Dengan hati yang lebih ringan, kita bisa melihat kehidupan dengan sudut pandang yang lebih luas dan terbuka.

Menyerahkan Diri dengan Penuh Keyakinan

Jika saat ini aku berada dalam posisi pasrah, bukan berarti aku kalah. Aku hanya sedang percaya bahwa semesta, atau Tuhan, memiliki rencana yang jauh lebih baik. Aku melepaskan beban yang terlalu berat, dan memilih untuk berjalan dengan lebih ringan. Sebab, ketika kita sudah melakukan yang terbaik, selebihnya biarlah semesta yang bekerja.





Pasti Ada Jalan Di Ujung Jalan

Pasti ada jalan di ujung jalan. Jangan menyerah, tetaplah melangkah!

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Sloka:
सर्वदा मार्गो भविष्यति, अन्ते गच्छति चेत् धैर्यतः।
नास्ति कश्चिद् अवरोधः, यत्र श्रद्धा स्थिता मनः॥

Transliterasi:
Sarvadā mārgo bhaviṣyati, ante gacchati cet dhairyataḥ.
Nāsti kaścid avarodhaḥ, yatra śraddhā sthitā manaḥ.

Makna:
"Selalu ada jalan yang terbuka, jika seseorang melangkah dengan keberanian.
Tidak ada hambatan yang abadi, selama keyakinan tetap teguh dalam hati."

Sloka ini menggambarkan bahwa di setiap akhir jalan selalu ada harapan dan solusi, asalkan kita memiliki keberanian dan keyakinan untuk terus melangkah.

Pasti Ada Jalan di Ujung Jalan

Dalam kehidupan, sering kali kita menghadapi rintangan yang terasa begitu berat hingga seolah tidak ada jalan keluar. Kita mungkin merasa terjebak dalam kebuntuan, dihadapkan pada persoalan yang sulit, atau bahkan kehilangan harapan. Namun, satu hal yang harus selalu kita yakini adalah bahwa di setiap ujung jalan, pasti ada jalan lain yang terbuka.

Ketika Semua Terasa Sulit

Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Ada kalanya kita merasa tak berdaya, kehilangan arah, atau bahkan hampir menyerah. Namun, justru dalam kesulitan itulah kita diajak untuk lebih kuat, lebih sabar, dan lebih kreatif dalam mencari solusi.

Perjalanan hidup tidak selalu lurus dan mudah. Kadang kita harus melewati jalan yang berliku, menanjak, atau bahkan menurun tajam. Tetapi di setiap ujung jalan, akan selalu ada kesempatan baru, harapan baru, dan pelajaran berharga yang bisa kita petik.

Kuncinya Adalah Keyakinan dan Usaha

Tidak ada kesulitan yang abadi. Segala sesuatu dalam hidup ini bersifat sementara, termasuk masalah dan tantangan yang kita hadapi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap memiliki keyakinan bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Seperti pepatah mengatakan, "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan."

Selain keyakinan, usaha dan kerja keras juga menjadi faktor penting dalam menemukan jalan keluar. Ketika satu pintu tertutup, kita harus berani mencari pintu lain yang terbuka. Ketika satu jalan terblokir, kita harus mencari jalan alternatif. Dunia ini luas, dan selalu ada cara untuk mengatasi hambatan jika kita tidak berhenti mencoba.

Belajar dari Perjalanan

Perjalanan hidup penuh dengan tantangan, tetapi juga penuh dengan pelajaran berharga. Setiap kesulitan yang kita hadapi mengajarkan kita tentang ketahanan, keikhlasan, dan kebijaksanaan. Dengan setiap langkah yang kita ambil, kita semakin memahami bahwa tidak ada usaha yang sia-sia.

Jadi, ketika kita merasa berada di ujung jalan, jangan langsung menyerah. Percayalah bahwa masih ada jalan lain yang menanti kita. Selama kita tetap berusaha dan tidak kehilangan harapan, kita akan menemukan jalan yang lebih baik di depan.






Bali Harmoni

Bali Harmoni: Menyatukan Adat, Budaya, dan Alam di Atas Perbedaan


Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Bali, dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, telah lama menjadi contoh harmoni antara manusia dan lingkungan. Sebagai pulau yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal, Bali memiliki kewajiban moral untuk melindungi dan melestarikan adat serta budayanya. Adat Bali bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga pijakan kuat dalam kehidupan sosial yang bernafaskan agama, tanpa harus terjebak dalam sekat-sekat perbedaan keyakinan.

Setiap individu, baik Hindu, Islam, Kristen, Budha, Konghucu, maupun penganut aliran kepercayaan lainnya, memiliki tanggung jawab yang sama untuk menghormati alam. Konsep Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Jika nilai ini dapat diterapkan secara universal, alangkah indahnya dunia ini.

Mengheningkan Sehari untuk Alam

Bali memiliki tradisi unik dalam menghormati alam, salah satunya adalah Nyepi. Sehari penuh tanpa aktivitas manusia memberikan waktu bagi bumi untuk beristirahat. Konsep ini tidak hanya sebatas ritual keagamaan Hindu, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi semua agama dan kepercayaan untuk menunjukkan rasa hormat kepada alam. Jika seluruh dunia menerapkan konsep hening sehari untuk alam, dampak positifnya terhadap lingkungan akan sangat luar biasa.

Mari kita gaungkan semangat ini bersama: "Hindu Pelopor Hormati Alam". Ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap keberlanjutan bumi. Bukan hanya umat Hindu yang bisa menerapkan nilai ini, tetapi seluruh umat manusia yang mencintai lingkungan.

Bali Bangkit, Bali Metangi!

Sebagai putra dan putri Bali, kita memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi adat istiadat dan budaya kita dari erosi modernisasi yang mengancam nilai-nilai luhur. Budaya Bali bukan sekadar tarian dan seni, tetapi juga filosofi hidup yang menjaga keseimbangan dunia. Saya siap menjadi garda terdepan dalam menjaga adat istiadat Bali, memperjuangkan keberlanjutan budaya, dan memastikan bahwa Bali tetap teguh dalam keasliannya.

Mari kita bersatu, bukan dalam perbedaan agama, tetapi dalam kesatuan adat dan budaya yang bernafaskan kebaikan.


Esensi Profesionalisme dan Jiwa Seorang Guru





Berikut adalah sloka ini mencerminkan esensi profesionalisme dan jiwa seorang guru mendidik, membimbing, serta menerangi jalan ilmu bagi para muridnya dengan ketulusan dan semangat tanpa henti.

Sloka:
गुरुः सदा तिष्ठति धर्ममार्गे।
शिष्यान् सदा शिक्षयति प्रेम्णा॥
सत्यं च धैर्यं च धारयित्वा।
नित्यम् सदा कर्मणि संनिधत्ते॥
ज्ञानप्रदीपो गुरुर्भवति।
लोके प्रकाशं सदाऽस्य कुर्यात्॥

Transliterasi:
Guruḥ sadā tiṣṭhati dharmamārge।
Śiṣyān sadā śikṣayati premṇā॥
Satyaṁ ca dhairyaṁ ca dhārayitvā।
Nityam sadā karmaṇi sannidhatte॥
Jñānapradīpo gururbhavati।
Loke prakāśaṁ sadā'sya kuryāt॥

Makna:
Seorang guru selalu berjalan di jalan dharma. Ia mengajarkan murid-muridnya dengan penuh kasih sayang. Menjunjung tinggi kebenaran dan keberanian, Ia senantiasa hadir dalam tugasnya. Guru adalah pelita ilmu pengetahuan, Memberikan cahaya bagi dunia sepanjang masa.

Menjadi seorang guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah panggilan jiwa yang menuntut dedikasi tinggi. Di balik tugasnya yang mulia, seorang guru harus memiliki keteguhan hati, keikhlasan, serta semangat juang yang tinggi. Berikut adalah dimensi psikologis dan profesionalisme yang harus dimiliki oleh seorang guru:

1. Dimensi Pengabdian Guru sejati tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pengabdi dalam dunia pendidikan. Mereka bersedia menghadapi berbagai tantangan demi memberikan pendidikan yang berkualitas kepada peserta didik.

2. Dimensi Kesabaran Setiap peserta didik memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda. Guru harus memiliki kesabaran dalam membimbing, mengulang materi, dan tetap memberikan motivasi meskipun menghadapi tantangan dalam proses pembelajaran.

3. Dimensi Empati dan Kepedulian Seorang guru tidak hanya bertindak sebagai pendidik, tetapi juga sebagai figur yang memberikan dukungan emosional kepada peserta didik. Dengan empati dan kepedulian, guru dapat membentuk lingkungan belajar yang nyaman dan inklusif.

4. Dimensi Keteguhan dan Keberanian Dalam berbagai kondisi, baik di daerah konflik maupun wilayah terpencil, profesi guru sering menghadapi berbagai risiko. Oleh karena itu, guru harus memiliki keteguhan dan keberanian untuk terus melaksanakan tugasnya secara profesional.

5. Dimensi Kreativitas dan Inovasi Keterbatasan fasilitas pendidikan tidak boleh menjadi hambatan dalam proses pembelajaran. Guru yang profesional mampu menciptakan metode pengajaran yang inovatif untuk meningkatkan pemahaman peserta didik.

6. Dimensi Keikhlasan Mengajar bukan semata-mata tentang kompensasi finansial, tetapi juga tentang kontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Guru yang memiliki keikhlasan akan tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi.

7. Dimensi Keteladanan Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai panutan dalam aspek moral dan etika. Oleh karena itu, seorang guru harus mampu menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai luhur kepada peserta didik.

8. Dimensi Perjuangan untuk Transformasi Pendidikan Pendidikan merupakan instrumen utama dalam membangun peradaban yang lebih baik. Guru harus memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai sarana transformasi sosial dan kemajuan bangsa.

Menjadi seorang guru bukanlah tugas yang sederhana, tetapi merupakan amanah besar dalam mencetak generasi penerus yang unggul dan berdaya saing tinggi. Oleh karena itu, profesionalisme dan integritas dalam profesi ini harus senantiasa dijaga dan ditingkatkan.



Sabtu, 29 Maret 2025

Eda ngaden awak bisa ini mencerminkan sesungguhnya kebodohan nya itu adalah kepandaiannya.

"Kebodohan yang Bijaksana: Makna Filosofis di Balik 'Eda Ngaden Awak Bisa'"
Ungkapan Bali "Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin" memiliki makna mendalam yang mencerminkan kebijaksanaan sejati. Dalam falsafah ini, seseorang tidak boleh merasa paling pandai atau hebat, karena kesombongan dalam merasa bisa justru menjadi tanda ketidaktahuan yang sesungguhnya.

Secara paradoks, ungkapan ini mengajarkan bahwa kebodohan yang disadari adalah bentuk kepandaian. Artinya, orang yang sadar akan keterbatasan dirinya, terbuka untuk belajar, dan tidak terjebak dalam ego justru lebih bijaksana dibandingkan dengan mereka yang menganggap dirinya sudah tahu segalanya. Eda ngaden awak bisa ini mencerminkan sesungguhnya kebodohan nya itu adalah kepandaiannya.

Dalam berbagai karya sastra dan pewayangan Bali, termasuk yang dibawakan oleh Ki Dalang Tangsub, banyak tokoh yang digambarkan jatuh karena keangkuhan mereka sendiri. Mereka merasa paling unggul, tetapi justru kebodohan merekalah yang menghancurkan mereka. Sebaliknya, tokoh yang rendah hati dan terus belajar selalu berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Filosofi ini sangat relevan dalam kehidupan modern. Dalam era di mana informasi mudah diakses, banyak orang tergoda untuk merasa paling tahu. Namun, kebijaksanaan sejati tidak terletak pada banyaknya pengetahuan yang dimiliki, tetapi pada kesediaan untuk terus belajar, mendengarkan, dan mengakui bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Dengan memahami esensi dari "Eda ngaden awak bisa", kita diajak untuk selalu rendah hati, menghargai proses pembelajaran, dan menyadari bahwa kepandaian sejati bukanlah merasa paling bisa, melainkan memahami bahwa masih banyak yang harus dipelajari.


Kuto’smākaṁ prārambhaḥ kutra vā gamiṣyāmaḥ

Kuto’smākaṁ prārambhaḥ kutra vā gamiṣyāmaḥ:Dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi? 

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Sloka (Sansekerta):
कुतोऽस्माकं प्रारम्भः कुत्र वा गमिष्यामः। जीवनस्य पन्थानः चिन्तनं मानवानाम्॥ शरीरं मातृगर्भे जातं जातिविकासतः। जीवनस्य प्रवाहेऽस्मिन्कर्माणि सन्ति बन्धनम्॥ आत्मा तु नित्यः शुद्धः ब्रह्मणः अंश एव च। यत्र यत्र स गच्छेत् तत्स्थानं परमं मतम्॥ मृत्योः परं जीवनं सदा चैतन्यमस्ति हि॥

Transliterasi:
Kuto’smākaṁ prārambhaḥ kutra vā gamiṣyāmaḥ, Jīvanasya panthānaḥ cintanaṁ mānavānām॥ Śarīraṁ mātṛgarbhe jātaṁ jātivikāsataḥ,
Jīvanasya pravāhe’smin karmāṇi santi bandhanam॥ Ātmā tu nityaḥ śuddhaḥ brahmaṇaḥ aṁśa eva ca, Yatra yatra sa gacchet tatsthānaṁ paramaṁ matam II Mṛtyoḥ paraṁ jīvanaṁ sadā caitanyamasti hi॥

Makna:
Dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi, Perjalanan hidup adalah renungan bagi manusia. Tubuh lahir dari rahim ibu, berkembang melalui kehidupan, Dalam aliran kehidupan ini, perbuatan menjadi ikatan. Namun, jiwa itu abadi, murni, dan bagian dari Brahman, Ke mana pun ia pergi, itulah tempat yang tertinggi. Setelah kematian, kehidupan tetap ada, kesadaran tidak pernah padam.

Sloka ini mencerminkan pemahaman spiritual bahwa manusia bukan hanya tubuh fisik, tetapi juga jiwa yang kekal dan terus mengalami perjalanan menuju sumber asalnya.

Dari Mana Kita Berasal dan ke Mana Kita Akan Pulang?

Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali merenungkan dua pertanyaan mendasar: dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pulang? Pertanyaan ini bukan hanya sekadar refleksi filosofis, tetapi juga menyentuh aspek spiritual, ilmiah, dan eksistensial kehidupan kita.

Asal Usul Kita

Secara biologis, manusia berasal dari perpaduan sel-sel yang diwariskan oleh orang tua. Kehidupan kita dimulai dari sebuah pertemuan ajaib antara sperma dan sel telur, berkembang dalam rahim ibu hingga akhirnya lahir ke dunia. Dari sudut pandang evolusi, manusia berevolusi selama jutaan tahun dari makhluk sederhana menjadi spesies yang memiliki kesadaran dan intelektualitas.

Namun, di luar aspek biologis, banyak ajaran agama dan filsafat yang meyakini bahwa manusia berasal dari sumber yang lebih tinggi. Beberapa kepercayaan menyatakan bahwa kita diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan tertentu. Dalam ajaran spiritual, jiwa kita dipercaya berasal dari dimensi yang lebih tinggi sebelum menempuh perjalanan di dunia ini.

Perjalanan Hidup

Setelah dilahirkan, manusia menjalani kehidupan yang penuh dengan pembelajaran, tantangan, dan pencarian makna. Kita membentuk hubungan, mengejar impian, menghadapi kesulitan, dan mencari pemahaman tentang siapa kita sebenarnya. Setiap pengalaman yang kita lalui membentuk karakter dan pemahaman kita tentang kehidupan.

Di tengah perjalanan ini, kita sering bertanya: apakah tujuan kita hidup? Bagi sebagian orang, tujuan hidup adalah mencapai kebahagiaan, membantu sesama, atau mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi yang lain, hidup adalah perjalanan eksplorasi dan pencarian makna yang terus berkembang.

Ke Mana Kita Akan Pulang?

Ketika waktu kita di dunia ini berakhir, pertanyaan besar lainnya muncul: ke mana kita akan pergi? Secara fisik, tubuh kita akan kembali ke alam. Tanah yang memberi kita kehidupan akan menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi jasad kita.

Namun, kepercayaan dan spiritualitas menawarkan berbagai pandangan tentang kehidupan setelah kematian. Ada yang percaya pada reinkarnasi, di mana jiwa akan lahir kembali dalam bentuk kehidupan baru. Ada pula yang meyakini adanya surga atau dimensi lain sebagai tempat kembali bagi jiwa yang telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.

Bagi banyak orang, kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Ini adalah kembalinya jiwa kepada sumber asalnya, tempat di mana kedamaian abadi menanti.

Refleksi untuk Hidup yang Bermakna

Mengetahui bahwa kita berasal dari suatu tempat dan akan kembali ke tempat yang lain seharusnya mendorong kita untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna. Kita bisa memilih untuk hidup dengan penuh kasih, kebijaksanaan, dan tujuan yang lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan duniawi.

Pada akhirnya, perjalanan hidup ini adalah tentang bagaimana kita mengisi waktu yang diberikan, bagaimana kita mencintai, berbagi, dan meninggalkan jejak yang baik bagi dunia. Sebab, meskipun kita semua akan kembali ke tempat asal kita, warisan kebaikan yang kita tinggalkan akan tetap hidup dalam hati banyak orang.

Jadi, mari kita jalani kehidupan ini dengan penuh makna, karena dari mana kita berasal mungkin adalah misteri, tetapi bagaimana kita hidup menentukan ke mana kita akan pulang.


Otsus Untuk Bali

Otonomi Khusus Daerah Istimewa untuk Bali: Menghormati Keunikan Hari Raya Nyepi

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Sloka
बालिद्वीपः सुन्दरः पुण्यः संस्कृति-विभूषितः।
न्येपी-महिमा धर्मस्य शान्ति-युक्तः सनातनः।।

अमाति-गेनि: शांतिः स्यात्, अमाति-कर्म न कर्मणि।
अमाति-लेलङ्गुं यत्र, अमाति-लुलुङ्गणं तथा।।

अत्र सर्वं स्थगितं तिष्ठेत्, लोकः शान्तिं प्रपद्यते।
वायुमार्गे न गच्छन्ति, नदीनां नौका न प्लवेत्।।

सर्वे जना: मनःशुद्धिं, आत्मानं ध्यायन्ति ततः।
न हन्यते प्रकृतिः क्व, न च दूष्यते गगनं पुनः।।

एष धर्मः सनातनः, ओत्सुस् युक्तं साध्यते।
संस्कृतेः संरक्षणं यत्र, राज्यं तत्र प्रतिष्ठितम्।।

अतस्तु बालि-विषये, स्वायत्तं धर्मरक्षणं।
अस्तु नीति: विशेषाय, संस्कृति संरक्षणाय च।।

संरक्षितं चेत् विधिना, भविष्यं दिव्यं स्थिरम्।
न चेत् विनाशः निश्चितं, प्रकृतेः च क्षयः ध्रुवः।।

Transliterasi
Bālīdvīpaḥ sundaraḥ puṇyaḥ saṁskṛti-vibhūṣitaḥ।
Nyepī-mahimā dharmasya śānti-yuktaḥ sanātanaḥ।।

Amāti-geniḥ śāntiḥ syāt, amāti-karma na karmaṇi।
Amāti-lelaṅguṁ yatra, amāti-luluṅgaṇaṁ tathā।।

Atra sarvaṁ sthagitaṁ tiṣṭhet, lokaḥ śāntiṁ prapadyate।
Vāyumārge na gacchanti, nadīnāṁ naukā na plavet।।

Sarve janāḥ manaḥśuddhiṁ, ātmānaṁ dhyāyanti tataḥ।
Na hanyate prakṛtiḥ kva, na ca dūṣyate gaganaṁ punaḥ।।

Eṣa dharmaḥ sanātanaḥ, otsus yuktaṁ sādhyate।
Saṁskṛteḥ saṁrakṣaṇaṁ yatra, rājyaṁ tatra pratiṣṭhitam।।

Atastu bāli-viṣaye, svāyattaṁ dharmarakṣaṇam।
Astu nītiḥ viśeṣāya, saṁskṛti saṁrakṣaṇāya ca।।

Saṁrakṣitaṁ cet vidhinā, bhaviṣyaṁ divyaṁ sthiram।
Na cet vināśaḥ niścitaṁ, prakṛteḥ ca kṣayaḥ dhruvaḥ।।

Makna
Pulau Bali indah dan suci, dihiasi oleh budaya luhur.
Keagungan Nyepi adalah ajaran dharma, penuh ketenangan dan abadi.

Di hari ini api tak dinyalakan, pekerjaan tak dilakukan.
Tak ada hiburan dan perjalanan, segalanya berhenti.

Segala aktivitas dihentikan, dunia pun masuk dalam ketenangan.
Pesawat tak terbang di angkasa, perahu tak berlayar di sungai.

Semua orang menyucikan pikiran, dan merenungi diri.
Tak ada alam yang rusak, langit pun tetap murni.

Ini adalah dharma abadi, yang layak mendapatkan Otonomi Khusus Daerah Istimewa.
Di mana budaya terjaga, di sana negara berdiri teguh.

Maka di tanah Bali, otonomi untuk perlindungan dharma diperlukan.
Kebijakan khusus harus ada, demi pelestarian budaya.

Jika dilindungi dengan aturan, masa depan akan bersinar abadi.
Jika tidak, kehancuran pasti, alam pun akan sirna selamanya.

Sloka ini menekankan pentingnya menjaga tradisi Nyepi dan mendukung Otonomi Khusus Daerah Istimewa untuk Bali agar budaya dan alam tetap lestari.


Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki keunikan budaya dan adat istiadat yang kuat, salah satunya adalah perayaan Hari Raya Nyepi. Nyepi bukan sekadar hari libur keagamaan, tetapi juga mencerminkan filosofi mendalam tentang keseimbangan alam, ketenangan batin, dan harmoni sosial. Keunikan ini menjadi salah satu alasan penting mengapa Bali layak mendapatkan Otonomi Khusus (Otsus) Daerah Istimewa dalam pengelolaan budayanya.

Keunikan Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi dirayakan oleh umat Hindu Bali dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian, yang meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelanguan (tidak bersenang-senang), dan amati lelungan (tidak bepergian). Pada hari ini, aktivitas di Bali berhenti total, termasuk layanan transportasi udara, laut, dan darat. Bahkan, jaringan internet dan siaran televisi dihentikan demi menjaga ketenangan.

Uniknya, bukan hanya umat Hindu yang menghormati Nyepi, tetapi juga masyarakat non-Hindu dan wisatawan yang berada di Bali ikut berpartisipasi dalam suasana hening. Fenomena ini menunjukkan tingginya nilai toleransi dan keberagaman yang dijunjung oleh masyarakat Bali.

Mengapa Bali Perlu Otonomi Khusus Sebagai Daerah Istimewa?

Dengan keunikan seperti Nyepi dan adat budaya lainnya, Bali membutuhkan kebijakan khusus dalam mengatur dan melindungi nilai-nilai kearifan lokalnya. Otonomi Khusus dapat menjadi solusi untuk memastikan bahwa tradisi ini tetap lestari tanpa terganggu oleh kebijakan nasional yang kurang memahami kondisi budaya Bali. Beberapa alasan utama mengapa Bali layak mendapatkan Otonomi Khusus adalah:

1. Perlindungan Budaya dan Tradisi
Otonomi Khusus memungkinkan pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan yang lebih spesifik dalam melindungi budaya Bali, termasuk Hari Raya Nyepi, tanpa adanya intervensi yang bertentangan dengan nilai lokal.


2. Regulasi Kepariwisataan yang Berbasis Budaya
Sebagai destinasi wisata internasional, Bali harus mampu mengelola pariwisata yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga tetap menghormati adat dan budaya setempat, termasuk penghormatan terhadap Nyepi.


3. Kewenangan Khusus dalam Pengelolaan Lingkungan
Hari Raya Nyepi juga berkontribusi terhadap lingkungan, dengan adanya 'hari tanpa aktivitas' yang mengurangi emisi karbon. Dengan Otonomi Khusus, Daerah Istimewa Bali dapat memperkuat kebijakan berbasis lingkungan yang selaras dengan ajaran Hindu.



Dampak Positif Otonomi Khusus Daerah Istimewa untuk Bali

Jika Bali diberikan status Otonomi Khusus Daerah Istimewa, maka ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh:

Pelestarian Budaya: Nyepi dan tradisi Bali lainnya akan semakin dihormati dan dijaga.

Peningkatan Ekonomi Berbasis Budaya: Kebijakan pariwisata bisa lebih menyesuaikan dengan nilai-nilai lokal tanpa merusak adat istiadat.

Keseimbangan Lingkungan: Pengelolaan lingkungan bisa lebih berkelanjutan dengan mempertimbangkan kearifan lokal.


Kesimpulan

Bali dengan keunikan Hari Raya Nyepinya adalah contoh nyata bagaimana sebuah daerah dapat menjaga keseimbangan antara budaya, lingkungan, dan ekonomi. Dengan diberikannya Otonomi Khusus Daerah Istimewa, Bali akan memiliki kewenangan lebih dalam mengelola dan mempertahankan identitas budayanya, termasuk perayaan Nyepi yang sudah menjadi ikon ketenangan dan refleksi spiritual. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan kebijakan ini demi keberlanjutan budaya dan tradisi unik Bali.




SURAT TERBUKA
MENGAPA BALI MEMBUTUHKAN OTONOMI KHUSUS DAERAH ISTIMEWA?

Kepada Pemerintah Republik Indonesia dan Seluruh Masyarakat Indonesia,

Bali merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki keunikan dalam aspek budaya, adat istiadat, dan sistem kepercayaan yang masih kuat hingga saat ini. Sebagai pusat pariwisata dunia, Bali tidak hanya menyumbang devisa negara yang signifikan, tetapi juga menghadapi berbagai tantangan dalam menjaga kearifan lokalnya di tengah arus modernisasi dan globalisasi. Oleh karena itu, diperlukan status Otonomi Khusus Daerah Istimewa bagi Bali guna memastikan keberlangsungan nilai-nilai luhur budaya, adat, dan lingkungan hidup yang menjadi jati diri masyarakat Bali.

Keunikan dan Signifikansi Bali

1. Warisan Budaya dan Tradisi yang Mendunia
Bali dikenal dengan tradisi keagamaannya yang unik, seperti Hari Raya Nyepi yang mengajarkan harmoni dengan alam, serta berbagai upacara adat yang telah menjadi daya tarik dunia. Dengan Otonomi Khusus Daerah Istimewa, Bali dapat memiliki kewenangan lebih dalam melindungi serta mengelola tradisi dan budaya ini agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.


2. Kontribusi Ekonomi yang Besar bagi Indonesia
Sektor pariwisata Bali berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Namun, tanpa regulasi berbasis kearifan lokal, perkembangan industri ini dapat merusak keseimbangan sosial dan ekologi di Bali. Otsus daerah istimewa akan memberi ruang bagi kebijakan yang lebih berorientasi pada keberlanjutan pariwisata berbasis budaya dan lingkungan.


3. Kelestarian Alam dan Lingkungan
Filosofi Tri Hita Karana yang dianut masyarakat Bali menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Dengan Otonomi Khusus Daerah Istimewa, Bali dapat menerapkan kebijakan lingkungan yang lebih ketat untuk melindungi sumber daya alamnya dari eksploitasi yang berlebihan.



Mengapa Bali Perlu Otonomi Khusus Daerah Istimewa?

1. Perlindungan Hukum terhadap Budaya dan Adat
Dengan Otsus daerah istimewa, Bali akan memiliki kewenangan lebih besar dalam menetapkan peraturan daerah yang melindungi budaya, adat, serta tata ruang berbasis nilai-nilai lokal.


2. Regulasi Pariwisata yang Berorientasi pada Kearifan Lokal
Bali perlu memiliki kontrol lebih dalam menentukan kebijakan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan budaya dan lingkungan.


3. Pengelolaan Keuangan yang Lebih Mandiri
Otsus daerah istimewa akan memungkinkan Bali mendapatkan hak fiskal yang lebih besar dalam mengelola pendapatan dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, sehingga dapat digunakan secara optimal untuk kepentingan masyarakat Bali.


4. Perlindungan Lingkungan yang Lebih Ketat
Status Otonomi Khusus Daerah Istimewa akan memberikan Bali kewenangan lebih besar dalam menerapkan regulasi lingkungan yang ketat guna menjaga kelestarian alamnya.



Dampak Positif Otonomi Khusus Daerah Istimewa bagi Bali dan Indonesia

Pelestarian Budaya: Tradisi dan adat istiadat Bali akan lebih terjaga dengan adanya regulasi yang sesuai dengan nilai lokal.

Pariwisata Berkelanjutan: Kebijakan yang lebih berorientasi pada keseimbangan ekonomi, budaya, dan lingkungan akan meningkatkan daya saing Bali sebagai destinasi wisata internasional.

Kemajuan Ekonomi yang Lebih Merata: Pendapatan dari sektor pariwisata dapat lebih maksimal digunakan untuk kesejahteraan masyarakat lokal.

Menjadi Model Otonomi Berbasis Budaya di Indonesia: Bali dapat menjadi contoh bagaimana Otonomi Khusus Daerah Istimewa dapat diterapkan untuk melindungi warisan budaya dan lingkungan tanpa mengorbankan pembangunan ekonomi.


Kesimpulan

Otonomi Khusus Daerah Istimewa bagi Bali bukanlah tentang pemisahan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi justru tentang penguatan peran Bali dalam menjaga budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakatnya di bawah payung kebangsaan Indonesia. Dengan status Otsus daerah istimewa, Bali dapat terus berkembang sebagai pusat budaya dunia sekaligus tetap menjadi bagian integral dari bangsa Indonesia.

Kami berharap pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia dapat mendukung usulan ini demi masa depan Bali yang lebih baik, lestari, dan tetap berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Salam Hormat,
[Nama atau Organisasi Pengusul]
[Tanggal]


Alam adalah rumah bagi kita semua.

Ingatlah Akan Alam: Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang


Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Sloka dalam Bahasa Sanskerta:

प्रकृतिः परमं दत्तं मानवाय महादिव्यम्। वनं समृद्धं तोयं शुद्धं वायुः सुखशीतलः।। जीववैविध्ययुक्तं तत् सन्तुलनं धार्यते सदा। कालप्रवाहे मानवानां दुष्कृतिः विनाशकः।। संरक्ष्यते चेत् प्रकृतिः भविष्यं सुखमायते। न चेत् सर्वनाशोऽयं प्रलयो निश्चयं भवेत्।।

Transliterasi:

Prakṛtiḥ paramaṁ dattaṁ mānavāya mahādivyam। Vanaṁ samṛddhaṁ toyaṁ śuddhaṁ vāyuḥ sukhaśītalaḥ।।Jīvavaividhyayuktaṁ tat santulanaṁ dhāryate sadā। Kālapravāhe mānavānāṁ duṣkṛtiḥ vināśakaḥ।।Saṁrakṣyate cet prakṛtiḥ bhaviṣyaṁ sukham āyate। Na cet sarvanāśo'yaṁ pralayo niścayaṁ bhavet।।

Makna:

Alam adalah anugerah tertinggi yang diberikan kepada manusia. Hutan yang subur, air yang murni, dan udara yang sejuk membawa kebahagiaan. Keanekaragaman hayati adalah bagian dari keseimbangan yang harus dipertahankan. Namun, dalam arus waktu, tindakan manusia yang buruk membawa kehancuran. Jika alam dilindungi, masa depan akan penuh kebahagiaan. Namun jika tidak, kehancuran total dan kiamat akan menjadi kepastian.

Sloka ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan dampak buruk dari kelalaian manusia terhadap lingkungan.

Alam adalah anugerah terbesar yang diberikan kepada manusia. Hutan yang rimbun, air yang jernih, udara yang segar, serta keanekaragaman hayati yang melimpah adalah bagian dari keseimbangan ekosistem yang harus dijaga. Sayangnya, perkembangan zaman dan aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab telah mengancam kelestarian alam.

Salah satu contoh nyata dari dampak perusakan lingkungan adalah bencana alam yang terjadi di Myanmar. Banjir bandang, tanah longsor, dan siklon tropis yang melanda negara tersebut telah menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang parah.

Penyebab utama dari bencana ini tidak hanya faktor alam, tetapi juga deforestasi dan eksploitasi sumber daya yang berlebihan, yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Kerusakan lingkungan terjadi di berbagai belahan dunia akibat deforestasi, pencemaran air dan udara, serta eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Jika dibiarkan, dampaknya akan sangat besar, mulai dari perubahan iklim, bencana alam, hingga kepunahan berbagai spesies makhluk hidup. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga alam agar tetap lestari.

Ada berbagai cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk melestarikan lingkungan. Mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, serta menghemat air dan energi adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar. Selain itu, meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan melalui pendidikan dan kampanye lingkungan juga sangat diperlukan.Peran pemerintah, organisasi lingkungan, dan masyarakat sangat penting dalam upaya pelestarian alam. 

Kebijakan yang mendukung konservasi, penegakan hukum terhadap perusakan lingkungan, serta inovasi ramah lingkungan dapat menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Tragedi lingkungan yang terjadi di Myanmar menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa alam harus dijaga dengan baik. Jika kita tidak menjaganya, maka kita sendirilah yang akan merasakan dampaknya. Ingatlah selalu akan alam, karena kelangsungan hidup kita dan generasi mendatang bergantung padanya. Mari bersama-sama menjaga alam agar tetap lestari dan menjadi warisan berharga bagi anak cucu kita.

Patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁ

Bunga Pembawa Pesan Kebajikan & Kebenaran

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba

Om Swastyastu
A. Pendahuluan

            Bunga merupakan sarana pokok dan sangat banyak digunakan dalam membuat yajna. Sarana berupa bunga memiliki peranan yang sangat penting untuk keleng-kapan dan kesempurnaan suatu persembahan atau yajna, baik yang digunakan untuk pelaksanaan yajna setiap hari atau nitya karma, maupun untuk keperluan yajna dalam waktu-waktu tertentu atau naimitika karma. Kalau kita perhatikan kaitannya dengan pelaksanaan Panca Yajna, bunga banyak digunakan dalam upakara banten, sesajen atau upakara yajna.

            Kemudian dalam kepentingan yang lainnya, bunga juga dipakai sebagai suatu hiasan untuk menumbuhkan suasana keinda-han dan menciptakan suasana kenyamanan dalam suatau kegiatan tertentu, baik dalam lingkungan keluarga, aktifitas kemasya-rakatan, kegiatan hiburan, kegiatan hari raya nasional, kegiatan pesta perkawinan, kunjungan pada tempat-tempat tertentu, kunjungan kenegaraan, dalam percintaan, kedukaan, ziarah ke kuburan dan seba-gainnya.

            Dalam kemajuan tehnologi dan ilmu pengetahuan dewasa ini yang sangat pesat, kebutuhan akan bunga semakin banyak digunakan oleh masyarakat, walaupun dalam penggunaannya tidak berkaitan dengan kepentingan upacara agama. Dalam perkembangan pariwisata saat ini yang bunga juga di perlukan dalam jumlah besar yang digunakan untuk perhiasan . sungguh banyak manfaat dan kegunaan bunga dalam kehidupan bagi manusia. Demikian juga di dalam kehidupan bagi umat Hindu, bunga memiliki nilai relijius, nilai spiritual dan nilai kesucian yang sangat tinggi.

Bunga Cempaka Gadang dan Larangan Persembahan kepada Dewa Siwa

Dalam ajaran Hindu, setiap bunga memiliki makna tersendiri dalam persembahan suci. Salah satu bunga yang dilarang untuk dipersembahkan kepada Dewa Siwa adalah bunga cempaka (Ketaki). Larangan ini bersumber dari berbagai lontar, salah satunya Cempaka Gadang, yang membahas ilmu pengiwa atau black magic.

Dalam lontar Cempaka Gadang, disebutkan bahwa bunga cempaka hijau pernah digunakan sebagai sarana perbuatan jahat untuk memperdaya Dewi Sita. Kejadian ini membuat bunga cempaka dikutuk oleh Dewi Sita, sehingga dianggap tidak layak untuk digunakan dalam persembahan kepada Dewa Siwa.

Kepercayaan ini mengajarkan bahwa sarana persembahan harus murni dan tidak memiliki sejarah keterlibatan dalam energi negatif atau tipu daya. Oleh karena itu, umat Hindu dianjurkan untuk memilih bunga yang suci dan bersih ketika melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa.

Sloka tentang Bunga Cempaka 

संस्कृत श्लोकः

(Saṁskṛta Ślokaḥ)

न समर्पणीयः शम्भवे हरिद्रचम्पकः।
सीतायाः शापदोषेण दूषितोऽयं न शुद्धतः॥
पूर्वं मायाप्रयोगेण सीता मोहितवान् हि सः।
तस्मात् पापसमायुक्तः शिवपूजाय न योग्यतः॥
न शुद्धो न हि पुण्याय दोषयुक्तोऽयं पुष्पकः।
तस्मात् निर्मलपुष्पेण शिवं पूजयते सदा॥
शुद्धभावसमायुक्तं पूजनं फलदायकम्॥


Transliterasi (Romanisasi)

Na samarpaṇīyaḥ Śambhave haridracampakaḥ।
Sītāyāḥ śāpadoṣeṇa dūṣito'yaṁ na śuddhataḥ॥
Pūrvaṁ māyāprayogeṇa Sītā mohitavān hi saḥ।
Tasmāt pāpasamāyuktaḥ Śivapūjāya na yogyataḥ॥
Na śuddho na hi puṇyāya doṣayukto'yaṁ puṣpakaḥ।
Tasmāt nirmalapuṣpeṇa Śivaṁ pūjayate sadā॥
Śuddhabhāvasamāyuktaṁ pūjanaṁ phaladāyakam॥


Makna Sloka

"Bunga cempaka hijau tidak boleh dipersembahkan kepada Dewa Siwa,
karena telah menjadi tidak suci akibat kutukan Dewi Sita.
Dahulu, bunga ini digunakan dalam tipu daya untuk memperdaya Dewi Sita,
sehingga ia tercemar oleh dosa dan tidak layak untuk pemujaan Siwa.
Bunga ini tidak suci dan tidak membawa pahala karena penuh dengan dosa.
Oleh karena itu, hendaknya memuja Siwa dengan bunga yang bersih dan suci.
Pemujaan yang dilakukan dengan hati yang murni akan mendatangkan berkah."

Sloka ini menegaskan larangan penggunaan bunga cempaka yang masih berwarna hijau dalam pemujaan kepada Dewa Siwa karena sejarah keterlibatannya dalam tipu daya terhadap Dewi Sita. Kepercayaan ini mengajarkan bahwa dalam melakukan persembahan kepada dewa, seseorang harus menggunakan sarana yang bersih secara fisik dan spiritual. Pentingnya kemurnian dalam pemujaan kepada Dewa Siwa dan alasan mengapa bunga cempaka hijau dilarang dalam persembahan.

            Bunga yang digunakan untuk keperlu yajna atau persembahan, bukanlah bunga yang sembarangan atau bunga yang diperoleh asal ada atau asal dapat, tetapi bunga yang dipilih khusus sesuai dengan sumber-sumber sastra suci dalam ajaran agama Hindu. Menyimak makna sebuah sloka suci Bhagavadgita IX.26 dan memiliki makna mendalam tentang kesederhanaan dalam pemujaan kepada Tuhan. Berikut adalah penjelasannya:

Sloka dalam Devanagari
पत्रं पुष्पं फलं तोयं
यो मे भक्त्या प्रयच्छति।
तदहं भक्त्युपहृतम्
अश्नामि प्रयतात्मनः॥

Transliterasi (Romanisasi)
Patraṁ puṣpaṁ phalaṁ toyaṁ
Yo me bhaktyā prayacchati,
Tad ahaṁ bhakty-upahṛtam
Aśnāmi prayatātmanaḥ.

Makna
"Barang siapa yang mempersembahkan kepada-Ku dengan bhakti (rasa cinta dan pengabdian) selembar daun, sekuntum bunga, sebutir buah, atau setetes air, maka Aku akan menerimanya dengan suka cita dari jiwa yang suci."

Sloka ini menunjukkan bahwa Tuhan (Sri Krishna, dalam konteks Bhagavad Gita) tidak memerlukan persembahan yang mewah, tetapi hanya menginginkan ketulusan dan keikhlasan dari pemujanya. Kesederhanaan dalam pemujaan lebih penting daripada kemewahan, selama dilakukan dengan hati yang bersih.

            Menyimak makna sebuah sloka suci dalam kitab suci Bhagavadgita di depan, ada ditegaskan penggunaan bunga sebagi sarana dalam upacara yajna. Dalam sloka tersebut ada tersurat kata puspam yang maksudnya adalah bunga, yang di gunakan sebagai sarana suci dalam upacara yajna Istilah lain dari bunga adalah puspa, kembang, sekar dan ada juga menyebut nama kusuma.

            Puspa atau kembang merupakan wujud benda yang disuguhkan sebagai cara menunjukkan perasaan yang dapat memberikan kepuasan. Puspa atau kembang merupakan sarana untuk menyampaikan cetusan hati dan rasa bhakti kepada Hyang Widhi Wasa dengan mempersembahkan upakara sebagai wujud yajna .

            Sebagai landasan utama dalam menghaturkan persembahan adalah ketulusan atau kesucian hati yang disertai dengan cinta kasih. Walaupun persembahannya sederhana yaitu dengan sekuntum bunga, apabila landasan kesucian dan cinta kasih yang menyertainya, maka persembahan yang demikianlah yang diterima oleh Hyang Widhi.

            Kemudian sebaliknya, apabila memiliki kemampuan untuk mempersembahkan yang serba banyak, serba mewah, serba meriah, serba semarak, juga tidak ada salahnya, sepanjang semua persembahan tersebut merupakan persembahan yang terhormat, persembahan yang dilandasi oleh rasa ikhlas dan suci, tentulah baik pahalanya, karena Hyang Widhi dapat menerima persembahan tersebut yang disertai dengan kesadaran yang tinggi, bukan sifatnya pamrih yang semata-mata untuk menerima balasanya. Juga bukan merupakan suatu persembahan yang sifatnya paksaan, bukan juga persembahan untuk mewujudkan rasa gengsi dengan jorjoran karena status social yang dimiliki. Suatu persembahan akan dapat diterima dengan terpuji, bilamana kesederhanaan serta kesemarakan disertai oleh pendalaman maknanya dan berlandaskan pada konsep kebenaran atau dharma.

Ayam yajño bhuvanasya nàbhiá

Yajurveda XXIII.62.

(Yajña-Nya adalah pusat (penciptaan dan pemeliharaan) alam semesta).

Tasmãd yajñãt sarvahuta rcah sãmãni jajñire, chandãmsi jajñire tasmãd yajus tasm­ãd ajãyata.

                   Yajurveda XXX.7

Dari Tuhan Yang Maha Agung dan kepada-Nya umat manusia mempersembahkan berbagai yajña dan dari pada-Nya muncul Rgveda dan Sãmaveda. Dari pada-Nya muncul Yajurveda dan Sãmaveda.

”Saha yajñahprajâh srtva puro’vâca prajâpatih, anena prasavisya dhavam esa vo’dtvista kâmadhuk”.(Bhagawatgita III. 10)

Terjemahannya :

”Pada jaman dahulu Prajapati (Tuhan Yang Mahaesa) menciptakan manusia dan alam semesta atas dasar Yadnya, selanjutnya bersabda : ”Dengan ini engkau akan berkembang dan menjadikannya sebagai Kamadhuk (yang memenuhi keinginanmu).

Purusa evedam sarvam yadbhūtamyacca bhavyam, utàmrtatvasesà no yadannenati rohati. (Rgveda X.90.2.)

(Tuhan sebagai wujud kesadaran agung merupakan asal dari segala yang telah dan yang akan ada. Ia adalah raja di alam yang abadi dan juga di bumi ini yang hidup dan berkembang dengan yadnya)

            “ Memang didalam kitab Rg. Weda kita jumpai teori yajna, dimana Maha Purusa dalam penciptaan didunia ini. Ia lakukan melalui yajna dan yang dipergunakan sebagai yajna adalah badanya sendiri. Pengorbanan yang tertinggi adalah kurban yang dilakukan dengan mengorbangkan diri sendiri. Tetapi kalau diperhatikan lebih lanjut, apapun juga yang dijadikan kurban dalam upacara yajna itu adalah tidak lain dari pada-Nya, karena Maha Purusa pada permulaan ciptaannya menjadikan semua ini dengan jalan berkurban yang berasal dari dirinya sehingga dengan demikian dunia dan seisi alam ini identik dengan-Nya.

B. Pengertian

            Unsur isi perlengkapan upakara samskara atau yajna yang banyak digunakan dalam kehidupan beragama Hindu adalah kembang atau puspa yang merupakan bentuk sesajen yang paling mudah dan paling murah. Puspa adalah benda yang di persembahkan sebagai cara menunjukan perasaan yang dapat mmberikan kepusan. Yang penting ialah bahwa perbuatan itu akan dapat memberikan rasa puas pada diri seseorang yang ingin menyampaikan perasaannya. Bentuk yang lebih komplit ialah dengan menambah jenis korban itu dalam bentuk hasil bumi lainnya.  

            Didalam mantra Wedaparikrama, ada mantra untuk puspa aksata dan gandha, masing-masing berbunyi sebagai berikut :

“Om puspa-dantaya namah (puspa)

Om kum kumara wijaya naham (aksata)

Om Cri Gandheswari- amrtebhyo namah swaha (gandha)”

Yang di maksud dengan puspa-danta ialah Ciwa, gelar yang di berikan kepada ciwa. Dari mantra di atas, penggunaan kembang atau bunga bukan lagi sebagai alat, tetapi sebagai lambang siwa yang tidak berbeda dari pada-Nya.

Aksata atau biji-bijian berupa beras adalah lambang benih (biji). Kumara adalah putra siwa. Aksata adalah hasil satu ciptaan yang tidak lain adalah ciptaan-Nya.


Gandha adalah bau harum, yang berasal dari kembang atau bunga dan biji-bijian itu. Gandha adalah sifat yang tidak terpisah. Gandha diumpamakan sebagai amrta (lambang kehidupan yang abadi). Gandha adalah amrta yang didalam mantra diatas dihubungkan dengan siwa sebagai Iswara,” (baca Wedaparikrana,Gde pudja, M.A., S.H :46 -47).

Dari mantra di atas yaitu mantra puspa, perlu di ingat bahwa puspa di mak-sudkan sebagai wujud dari Syang Hyang Puspa-danta merupakan gelar Sang Hyang Siwa atau Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian, adanya bunga puspa sebagai lambang siwa dan adanya bunga atau puspa sebagai sarana persembahan sarana pemujaan kehadapan Hyang Widhi (Bhagavadgita, IX, 26)

Berdasarkan sumber-sumber sastra Agama Hindu menegaskan bahwa perlunya melakukan persembahan dengan sarana yang di benarkan oleh ajaran agama Hindu serta yang memiliki nilai kesucian.

            Dalam beberapa naskah keagamaan ada di jumpai penjelasan mengenai bunga yang memiliki arti dan makna tertentu, seperti bunga sebagai perlambang restu dari Hyang Widhi Wasa, bunga perlambang jiwa alam pikiran, dan bunga merupakan sarana upacara keagamaan atau sarana upacara yajna yang dilaksanakan oleh umat Hindu.

a. Dalam Kekawin Ramayana, adanya bunga Gandha Kusuma perlambang restu Hyang Widhi terhadap Sang Rama ketika berperang menumpas ketidak benaran atau adharma, maka Sang Rama direstui dengan di jatuhi hujan bunga yang harum baunya.

b. Dalam Kekawin Arjuna Wiwaha, ada menegaskan dalam keberhasilan Sang Arjuna melakukan tapa, brata, yoga dan semadhi dan sebagai bukti Hyang Widhi merestui tapanya, maka secara tiba-tiba berhamburan hujan bunga Puspa Warsa yaitu hujan bunga sebagi lambang Dewa Siwa (Hyang Widhi) telah merestui tapanya sang Arjuna dengan menda-patkan anugrah Panah Pasupati, yang merupakan senjata lambang kekuatan dharma untuk menumpas ketidak benaran atau adharma.

c. Dalam Kidung Aji Kembang bahwa Dewata Nawa Sanga di lambangkan dengan bunga Tunjung atau teratai yang berwarna sembilan sesuai dengan arah Asta Aiswarya atau Asta Dala, seperti Dewa Iswara arah timur dengan lambang bunga tunjung putih, Dewa Mahesora ara tenggara dengan lambang bunga tunjung dadu, Dewa Brahma arah selatan dengan lambang bunga tunjung merah, Dewa Rudra arah barat daya dengan lambang bunga tunjung jingga, Dewa Mahadewa arah barat dengan lambang bunga tunjung kuning, Dewa Sangkara arah barat laut dengan lambang bunga tunjung wilis atau bunga tunjung hijau, Dewa Wisnu arah utara dengan lambang bunga tunjung Hitam, Dewa Sambu arah timur laut dengan lambang bunga tunjung biru, dan Dewa Siwa arah tengah dengan lambang bunga tunjung warna lima atau panca warna.

d. Dalam naskah Dwijendra Tattwa men-jelaskan bunga teratai yang berwarna tiga: bunga teratai warna putih arah timur, bunga teratai warna hitam arah utara, dan bunra teratai warna merah arah selata. Ketiga jenis bunga teratai tersebut sebagai lambang Sang Hyang Tri Murti.

            Kemudian bunga juga sebagai lambang jiwa alam pikiran manusia. Dalam rangkaian upacaraa Pitra Yadnya kita menjumpai adanya penggunaan Sekarura yang merupakan campuran daun temen, 12 macam bunga, uang kepeng, dan beras kuning, sekaruru yang ini biasanya di taburkan mulai dari mayat itu di berang-katkan, dalam perjalanan sampai di kuburan. Sesungguhnya makna dari sekarura ini adalah sebagai pembuka jalan atau mele-paskan kegelapan roh dalam mencari jalan ke Sorga.

Dalam Lontar Mpu Lutuk Aben menyebutkan sebagai berikut :

“ih kita sang ingaskara, limaku sira ngakih genah sira. Yan katiba ring tengahing dalan saget ketemu sira ana jurang parung mandeg pwa sira rumuhun, samburata beras catur warna. Elingakna apan jurang pinaka karman ta nguni duke urip”.

            Menyimak kisah cerita Hariwangsa, ada dikisahkan tentang ketulusan dan cetusan kasih Prabhu Kresna terhadap Dewi Rukmini dengan memberikan sekuntum bunga sebagai lambang kasih yang suci murni dan tiada duanya.

            Selanjutnya ada pula sebagai suatu ketegasan mengenai bunga melambangkan jiwa kepahlawanan dengan bunga kembang sepatu merah atau wirakusuma atau bunga yang gagah berani.

            Sedangkan mengenai arti atau makna bunga sebagai sarana keagamaan atau sarana upacara yajna, sangat pernting artinya dan memiliki makna yang sangat mulia, seperti : makna religius atau makna spiritual serta makna kesucian. Penggunaan sarana bunga dalam upacara yajna sangat banyak kita jumpai.

Bunga Yang Bisa digunakan

Dalam berbagai upakara atau banten, bunga merupakan sarana pokok dan mengan-dung makna tersendiri sesuai dengan jenis upkara atau wujud bantennya. Untuk upakara yajna perlu dipilih bunga yang baik untuk digunakan sebagai persembahan atau sarana pemujaan maupun dipakai sebagai sarana upacara yajna secara umum, antara lain: bunga yang mekar, bunga yang harum baunya, bunga yang indah warnanya, bunga yang tidak mudah layu, bunga yang dalam keadaan segar atau bunga yang baru di petik, bunga yang tidak tua atau kering, serta bunga yang lainya yang memenuhi syarat-syarat kesucian. Perlu di ingat, bunga sebagai sarana dalam upacara yajna sebelum digunakan hendaknya terlebih dahulu diperciki tirtha pengelukatan agar terbebas dari segala kekotoran dan malapetaka. Jenis-jenis bunga yang baik untuk digunakan sebagai persembahan adalah jenis bunga yang dapat menghindari umatnya dari perbuatan –perbuatan dosa atau malapetaka, antara lain:

a Dalam Kekawin Siswaratri Kalpa, menyebutkan sebagai berikut:

            “Menur, kenyeri arja kacubung, saha waduri putih, lawan kutat. Asoka saha naga puspa hana tanguli bakula kalak macampaka, saroja biru, bang, putih. Sahananing kusuma halapan ing samangkana. Makadi samining majarja, sulasih panakaraning anggar cana sira”.

Yang artinya :

            Menuh, kenyeri, gambir raja, kecubung , serta meduri putih dan bunga kutat, asoka serta bunga cempaka. Seroja biru, merah, putih semuanya bunga-bunga hendaknya dipetik yang demikian. Sebagai pelaksanaan ppppmemuja pagi-pagi, bunga sulasih, sebagai sarana memuja baeliau (Siwa).

b Dalam Lontar wariga Gemet, ada juga menjelaskan tentang bunga yang di bolehkan sebagai sarana upacara agama (upacara penebusan atma) serangkaian dengan upacara pitra yajna, antara lain: Bunga Jepun, Sari, Sincer, pucuk pasat, Tulud Hyuh, Kwanta, Soka keeling, Kenyiri putih, Gambir Lima, Kabari walanda Syulan, Tiga kancu, Sedap malam, anggrek Wulan, Kamrakan, Gunggung Cina, Mawar, pucuk dadu, Tunjung Bang, Jepan Sudamala, Seruni putih, Anggrek Madu, Sarikonta, Temen, Sempiol, pucuk susun, Soka, Natar. Kuranta, kembang kuning, cempaka keeling, bunga gambir, Tunjur, Lungsur, Panca Galuh Grayas, Sandat, Sokasti, cempaka kuning, Cempaka putih, Katrangan, Bunga parijata, pucuk Bang Lamba, Teleng biru, Menuh Susun, Angsana Wungu, Teleng Putih, Dause Gde, Medore putih, Sulasih harum, Tunjur Tutur, Sudmala, Tunjung Nilawati, Grana Petak, Gadung, dan bunga Monasuli ergilo

c. Dalam Naskah Siwagama dan menegaskan beberapa bunga yang dibolehkan untuk digunakan sebagai sarana upacara yajna, terutama untuk membuat “Puspalingga” serangkaian upacara pitra yajna yakni untuk memuja upacara pitara dan roh suci leluhur, terutama dalam upacara atma Wedana (Memukul atau Nyekar), antara lain :Bunga Medori Putih Dan Bambu buluh.

d. Dalam Naskah Dasanama menyebutkan tentang bunga yang memiliki mutu yang baik yang hendaknya dipilih sebagai sarana upacara yajna adalah bunga Tunjung atau bunga teratai. Bunga teratai atau bunga Tunjung dikaatakan bunga yang terbaik yang juga disebut Raja Kusuma atau rajanya bunga-bungaan. Ditegaskan pula, apabila bunga teratai Tunjung tidak ada, dapat pula memakai jenis bunga yang lainya, asalkan bunga penggantinya memiliki warna yang sesuai, suci, bersih dan tidak layu.

Di samping itu juga ada jenis bunga memiliki nilai yang utama dalam upacara yajna adalah bunga Ratna. bunga ratna sebagai bunga yang utama untuk memuja tuhan/Hyang Widhi Wasa atau sarana utama dalam upacara keagamaan. Bunga yang memiliki nilai keutamaan merupakan bunga yang dapat menarik daya pesona yang memandangnya, dengan demikian bunga yang demikian itulah yang dapat digunakan sebagai sarana pemujaan.

            Demikianlah sekilas uraian mengenai jenis bunga yang baik dan bunga yang di perkenankan untuk di gunakan sebagai sarana upacara yajna.

Bunga Yang Dilarang Untuk Yajna

Dalam pelaksanaan samskara upacara yajna tidaklah semua bunga dapat di gunakan, atau bunga yang asal dapat karena penggunaan bunga harus tetap mengacu pada nilai relijius, nilai spiritual dan nilai kesucian dan dipilih khusus sesuai dengan sumber-sumber sastra suci dalam ajaran agama Hindu.

 Dalam Agastya Parwa menegaskan bagaimana keutamaan bunga yang kita persembahkan sebagai sarana pemujaan. Adapun bunyi sloka sebagai berikut :

            ”Kunan ikan stri mahala tanpa pirak, tanpa janma, tan wruh maniwi swami, mogha kinasihan denin laki wisesa manke sila nika nuni; jnanabhaktis tu nathe ya, bhkati maswami nuniweh ri dewata ika nuni, ndatan tepet bhakti niki, tan upakara phala nin bhaktinya resep. Dumehnya wirupa mwan tanpa janma. Tan wruh amahelepa silanya nuni, agelem amujeken kembang tan yogya pujakena, tan aradin, olah bwat jawanya, apan samanke kembang tan yogya pujakena rin bhattara”.

Yang artinya:

Wanita buruk rupa, tidak kaya, tidak bangsawan, tidak bias melayani suami tetapi di sayang oleh laki-laki utama. Perbuatannya dahulu demikian; ia itu bhakti kepada suami, bhakti kepada bhatara, tetapi bhaktinya tidak tepat, karena tanpa upakara. Itulah yang menyebabkan ia buruk rupa dan tidak bangsawan, sifatnya dahulu ia tidak tahu menjadikan tingkah lakunya sopan dahulu (ia) gemar mempersembahkan bunga yang tidak patut dipersembahkan, tidak bersih dalam mengolah biji-bijiannya, karena kembang yang tidak patut dipersembahkan kepada bhatara.

Menyimak makna sloka tersebut di atas, maka dapat ditegaskan disini, walaupun sungguh besar rasa bhakti kehadapan Hyang widhi dan kepada sesam ciptaan-Nya, tetapi rasa bhakti tersebut tidak disertai denga wujud persembahan berupa upakara yajna maka kuranglah bermakna cetusan rasa bhakti itu. Demikian pula selanjutnya walaupun sudah mewujudkan rasa bhakti itu kepada Hyang Widhi dengan persembahan upakara yajna, tetapi persembahan yang kita haturkan kehadapan-Nya tidak pada tem-patnya, mempersembahkan hal-hal yang tidak patut di persembahkan, memper-sembahkan saran yajna yang tidak suci, persembahan itu camah (kotor), mempersembahkan sarana yadnya dari hasil jarahan, mencuri menipu (yang bukan miliknya), termasuk juga disini mempersembahkan bunga /kembang /puspa /sekar yang tidak baik sesuai dengan landasan dharma, maka tidak ada maknanya persembahan tersebut. Perlu di ingat bahwa rasa bhakti ke hadapan Tuhan tentunya melalui sarana upakara yajna yang memiliki nilai kesucian sesuai dengan jenis dan makna dari yajna itu sendiri.


Berikut ini akan di kemukan pula beberapa uraian yang membahas tentang jenis bunga yang dilarang dalam pengguna-annya sebagai sarana upacara yajna berda-sarkan ajaran agama Hindu.

a. Dalam Naskah Agastya Parwa, mene-gaskan :

”Kalinanya: nihan ikan kembang tan yogya pujakena ring bhatara; kembang huleren, kembang rurutan inunduh, kembang semuten, kembang laywan-laywan ngaranya alewan mekar, kembang mungah rin sema. Nahan ta lwir ning kembang tan yogya pujakena de nikasan sattwika. Kembang utama ta pujaken ira, maran saphala rupa nira, apan magaweya janma lawan rupa ikang wwang tuhaganamuja ngaranya”.

Yang artinya :

            “Inilah bunga yang tidak dapat di persembahkan kepada bhatara, bunga yang berulat, bunga yang gugur tanpa di guncang, bunga yang berisi semut, bunga yang layu yaitu bunga yang lewat masa mekarnya, bunga yang tumbuh dikuburanya. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut di persembahkan agar supaya wajahnya sesuai dengan yang diharapkan, sebab orang yang selalu memuja tersebut akan membentuk kelahiran wajahnya.

b. Dalam naskah Siwagama, ada mene-gaskan tentang bunga yang tidak baik atau dilarang penggunaannya sebagai sarana upacara yajna, khususnya di kaitkan dengan pelaksanaan Dewa Yajna dalam fungsinya untuk sarana memuja kebesaran Hyang Widhi, antara lain bunga turuk, umung atau bunga kedukduk, yang konon menurut mitologi disebut bunga lalat, baunya yang tidak harum dari bunga tersebut kotor atau tidak suci.

c. Menurut naskah Yama Purana Tattwa, menyebutkan mengenai bunga yang dilarang memakainya yaitu bunga yang keadaannya cemer atau bunga yang tidak suci, seperti bunga yang digigit belalang, bunga yang ada bekas dimakan ulat. Bunga yang seperti itu dilarang dari pemakaiannya untuk membuat puspa linga maupun untuk yajna yang lainnya.

d. Dalam naskan Aji Janataka, menegaskan mengenai jenis bunga yang dilarang penggunaannya sebagai sarana dalam pemujaan. Sesuai naskah terarsebut jenis bunga yang dilarang antara lain jenis bunga jempiring alit dan jenis bunga silikonta. Kedua jenis bunga tersebut konon menurut mitologinya tidak mendapat waranugraha dan tidak mohon penglukatan Hyang Siwa, sehingga men-dapat kutukan untuk dilarang digunakan dalam penggunaanya sebagai sarana pemujaan ke hadapan Hyang Widhi.

            Didalam Siwa Puran juga ada di sebutkan bahwa bunga Ketaki (cempaka) tidak boleh digunakan untuk memuja Dewa Siwa karena mendapat kutukan; dari Dewi Sita mengutuk bunga Ketaki bahwa bunga itu tidak akan pernah diterima oleh siwa sebagai persembahan pada beliau; Hal ini dijelaskan oleh Rsi Romaharsana sebagai berikut:

            Ayah Rama, Dasaratha, suatu kali meminta putranya untuk tinggal di hutan selama empat belas tahun. Maka Rama dan istrinya serta adiknya Laksmana pergi kehutan. Tiga orang itu tinggal di sungai Palgu. Kemudian terdengarlah kabar bahwa Dasaratha mininggal karena sedih dan harus dilakukan sebuah upacara Sraddha untuknya.

Maka Rama kemudian menugaskan Laksmana pergi ke desa terdekat untuk mencari bahan-bahan upacara. Setelah cukup lama Laksmana belum juga kembali kemudian Rama pergi untuk mencari bahan-bahan itu sekaligus mencari Laksmana. Namun Rama juga tak kunjung dating. Saat itu sudah sore dan upacara harus segera dilakukan. Maka dalam keadaan putus asa, Sita melakukan upacaraa itu sendir. Dia melakukan permandian di sungai Palgu sambil menyalakan sebuah lampu minyak kelapa. Dia juga membuat persembahan (panda) pada sang raja yang telah wafat.

Namun setelah selesai melakukan upacara itu, erdengarlah suara tanpa sumber yang berkata ”Sita, kau terberkati, kami puas padamu” Dalam ketakjuban, Sita melihat sebuah tangan gaib di udara menerima persembahannya.

“Siapakah anda” Tanya Sita.

”Aku adalah ayahmertuamu” jawab suara itu. ”upacara kremasiku telah berjalan lanca. Aku telah menerima persemba-hanmu.” Tapi Rama dan Laksmana tidak akan percaya jika aku ceritakan hal ini. Mereka tidak akan percaya ada tangan gaib yang muncul dari udara untuk mengambil persembahan ini.”

Sementara itu Rama dan Laksmana telah tiba dan berkata ”Sita masaklah makanan, waktu kita tinggal sedikit. Kita harus menyelesaikan upacara kremasi ini sebelum malam.”

Sita kemudian memberitahu mereka tentang kejadian itu dan kedua bersaudara itu tidak mempercayainya. Mereka malah mentertawakannya dan mengangapnya berbohong. Sita kemudian memanggil keempat saksinya. Namun keempat saksi itumalah menyangkal telah melihat peristiwa itu. Maka tanpa kata-kata lagi Sita memasak makanan dan Rama membuat persembahan untuk leluhurnya.

Kemudian terdengar suara dari langit ”mengapa kalian memanggilku? Sita telah membuat kami berkenan”

Aku tidak bias mempercayai hal ini, kata Rama, itu benar, kau bias menanyakan pada dewa matahari, kata suara gaib itu.

Maka Dewa Matahari memberikan keterangan yang mebenarkan Sita. Ini membuat Rama dan Laksmana malu dan kagum atas kebajukan Sita. Dan Sita keempat saksi palsu tadi. Sungai Palgu dikutuk agar selalu mengalir di bawah tanah. Bunga Ketaki (Cempaka) bahwa bung aitu tidak akan pernah diterima oleh siwa sebagai persembahan pada beliau. Sapi dikutuk agar mulutnya selalu kotor (tidak suci/berwarna hitam), karena mahluk itu berbohong dengan mulutnya, sedangkan bagian belakaqng sapi itu juga akan selalu bersih (putih). Kemudian api dikutuk agar selalu melahap benda apa saja yang ada di dekatnya. Oleh karena itulah bunga cempaka tidak bias lagi dipakai untuk memuja Siwa.

Disamping itu juga Maharsi Narada mengutuk agar bunga cempaka tidak pernah diterima lagi menjadi . persembahan untuk dewa siwa.

Bunga Mitir, Tebu Ratu, Tibah dan Pisang Saba tidak baik untuk aturan . hal ini ada sebuah mithologi seperti diceritakan setelah meninggalnya Ida Sang Pandu, Dewi Kunti berkeinginan mengadakan upacara (yadnya) besar. Rencana ini diketahui oleh pihak Korawa tertama Duryadhana yang selalu iri dengan kemasyuran pandawa, terus berkeinginn untuk membencanai/menggagalkan upacara tersebut. Maka dia mengadakaan tapa dan memohon kepada Dewi Durga. Dan Dewi Durga menganugrahi keinginannya dnengan mengutus wadwa yang bernama Bhutakala Sakti yang menghancurkan dan merusak yadnya yang dilakukan oleh Pandawa. Karana sangat sakti dan tangguh sang Bhutakala sehingga tak bias ditaklukan oleh Pandawa, yang menyebabkan pandawa lari dan keterlibatan Sri Kresna dengan senjata Cakranyapun tidak mampu mengalahkan bhutakala tersebut.

Sehingga Sri Kresna Mampu mengetahui bahwa Bhutakalatersebut adalah anugrah dari Betari Durga untuk merusak upacara sang Pandawa. Sehingga Sri Kresna mendengar sabda “ Dewa-dewa Sri Kresna tidak pantas dewa lari dari peperangan melawa I Bhutakala. Sehingga trompet perarang dan trompen yadnya Dwarawti di bunyikan yang patut meniup adalah Nakula dan Sadewa. Begi tubunyi tropet perang dan trompet yadnya sang sangat gemuruh makan I Bhutakala berlari merasi diri akan kalah dalam mengahadapi Krisna dan sri Kresna terus mengejar untuk membunuh I Bhutakala dan Dewi Durga.

Pada saat itu Dewa Siwa sedang melaksanakan tapa tapi karena bising dengan suara trompet dan keributan perang tersebut, maka Dewa Siwa mendekati Sri Kresna dan bertanya. Sri Kresna menyampaikan permasalahannya dan berniat memohon anugrahuntuk membunuh Durga, Dewqa Siwa bersabda tidak akan dewa mampu untuk membunuh Dewi Durga tapi jika keras keingunanmu untuk membunuh Dewi Durga ini tongkat pakai, tetapi harus Nakula yang melaksanakan.

Cepat cerita Nakula sudah sampai dan bertemu dengan Dewi Durga dan tahu akan maksud dan tujuan kedatangannya, dan bersabda: “wahai anaku, aku tau akan dibunuh tetapi sebelum aku mati ada bisama adari aku :

• Darahku akan tumbuh menjadi bunga Mitir, tidak boleh di jadikan aturan.

• tulangku akan menjadi tebu ratu, tidak bias dijadikan raka-raka, tetapi baik digunakan untuk nguyeg tulang (menghancurkan tulang waktu Ngben) untuk sekah.

• Susuku akan tumbuh menjadi biyu saba (pisang kapok) baik untuk kehidupan bayi sebagai pengganti air susu ibunya.

• Kotoranku akan tumbuh menjadi Tibah (mengkudu) tidak ada gunanya buat manusia selain sekedar di pakai rujak.

Demikian beberapa sumber yang menyebutkan jenis-jenis bungan yang di hindari penggunaannya atau dilarang untuk digunakan sebagai sarana upacara yajna, karena alasan tidak memiliki kesucian, tidak segar, layu, dan bekas dimakan ulat, serta alasan lainnya.

Fungsi Bunga

            Dalam fungsinya sebagai saran upacara yajna, maka bunga untuk sarana persembaha, sarana untukmemuja Hyang Widhi, sarana untuk menum-buhkan suasana kesucian, sarana untuk dapat mengkonsen-trasikan diri, dan sebagai kelengkapan membuat bebanten atau upakara.

Perlu diingat bahwa bunga mempunya dua funggsi :

a. Sebagai wujud atau simbul Siwa atau Hyang Widhi (Sang Hyang Puspadanta), seperti cerminan mantra berikut ini ;

“ Om puspa dantaya namah” (Wedaparikrama 46).

Dalam sembahyang bunga diletakan pada ujung kedua jari tengah paling atas (puncak) dan cakupan tangan berada diatas ubun-ubun. Setelah usai menyembah bunga di taruh diatas ubun-ubun atau juga bias di sumpangkan ditelinga yang bermakna sebagi simbul Siwa atau Hyang Widhi.

b. Sebagai sarana persembahan atau pemujaan, karena bunga dipakai banten atau sarana upakara yang di persem-bahkan kepada Hyang Widhi beserta manifestasinya dan roh suci leluhur.

            Memperhaatikan tentang arti dan fungsi bunga dalam upacara yajna, maka sesungguhnya dari upakara yajna atau bebanten yang dipersembahkan sebagai sarana pemujaan, antara lain merupakan cetusan hati manusia (umat Hindu) untuk menyatakan terima kasihnya kehadapan Hyang Widhi, dimana perasaannya itu diujudkan dengan isi dunia yang berupa: air, api, bunga, buah-buahan, dan sebagainya; merupakan perwujudan Hyang Widhi Wasa dengan manifestasinya; merupakan alat konsentrasi dan juga upakara yajna atau bebanten merupakan pelajaran untuk memuja Hyang Widhi Wasa dengan kemahakuasanya untuk menuntun dan memberikan anugrah kepada Umat Hindu.

Om Santih Santih Santih Om

Share this:
Share
Loading...
February 13, 2025Leave a Reply
Makna Upacara Mawinten
Om Swastyastu
“Adbhir gatrani sudhyanti, manah satyena sudhyanti, Widyatapobhyam bhrtatma, buddhir jnanena sudhyati”.
Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan.

UPACARA Mawinten atau upanayana adalah merupakan salah satu upacara yang tergolong Manusa Yajna. Kata Mawinten berasal dari kata “Winten” (inten), adalah nama permata yang berwarna putih mempunyai sifat mulia, dapat memancarkan sinar berkilauan yang menyenangkan hati para peminat serta pemiliknya.


Bertitik tolak dari pengertian Mawinten sebagaimana telah disebutkan, maka setiap orang yang meyakini ajaran Hindu wajib hukumnya untuk melaksanakan upacara mawinten. Karena, upacara ini bertujuan untuk penyucian diri secara lahir batin.
Secara lahir upacara Mawinten bertujuan untuk membersihkan diri dari kekotoran yang melekat pada dirinya dengan menggunakan sarana air kumkuman (air yang berisi beraneka bunga harum).
Sedangkan secara batin adalah bertujuan untuk memohon penyucian diri kepada Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan waranugraha berupa tuntunan, bimbingan dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang bersifat suci seperti kesusilaan, Weda, susastra weda dan selanjutnya dapat mengamalkan ajaran-ajaran tersebut baik untuk diri pribadi maupun kepada orang lain yang memerlukannya.

Landasan sastra agama upacara Mawinten dijumpai dalam berbagai pustaka lontar seperti lontar Tutur Pamangku yang isinya tentang Dharma Pawintenan, Tutur Pawintenan isinya tentang tata cara Pawintenan yang paling kecil dengan upacara dan upakaranya dan lontar Janma Prakreti isinya mengutarakan tentang tingkatan-tingkatan upacara Pawintenan.
Mengacu pada pustaka lontar di atas, disebutkan pula ada beberapa jenis upacara Mawinten sebagai berikut:
1) Pawintenan Sastra/Saraswati,
2) Pawintenan Pamangku,
3) Pawintenan Dalang,
4) Pawintenan Tukang,
5) Pawintenan Balian/Dukun,
6) Pawintenan Sadeg/Dasaran,
7) Pawintenan Mahawisesa (pawintenan khusus bagi pengurus desa adat).

Pawintenan Sastra/Saraswati, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir batin dalam mempelajari pengetahuan (Weda) untuk peningkatan kepandaian berilmu. Jenis pawintenan ini dapat dimulai dari umur 5 tahun atau setelah tanggal gigi.
Pawintenan Pamangku, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir batin dalam tugas kepemangkuan yaitu sebagai pemangku pura yang bertugas memimpin pelaksanaan upacara serta menjadi perantara antara umat penyungsungnya dengan Tuhan Yang Maha Esa di suatu Pura.
Pawintenan Dalang, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir batin dalam tugasnya sebagai Dalang, dengan harapan dapat lebih mampu menarikan pemeranan tokoh-tokoh pewayangan dalam suatu acara pentas. Dalang yang professional dapat memberikan siraman atau pencerahan rohani kepada penonton dengan mengambil sumber ajaran Itihasa (Mahabharata, Ramayana) dan Purana.
Pawintenan Tukang, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir batin dalam tugas selanjutnya sebagai tukang, sesuai dengan profesi yang ditekuni dalam kehidupan untuk mempimpin suatu pekerjaan. Profesi tukang yang dimaksud adalah tukang banten/sajen/ tukang bangunan/undagi, tukang besi/pande, patung, wadah dan sebagainya.
Pawintenan Balian/Dukun, tujuan khususnya adalah untuk mensucikan diri secara lahir batin dalam tugas selanjutnya memberikan pengobatan alternatif terhadap suatu penyakit serta memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa agar si sakit dapat bisa disembuhkan.
Pawintenan Mahawisesa, tujuan khususnya adalah mensucikan diri secara lahir batin terhadap fungsionaris pengurus-pengurus DesaAdat (Bendesa Adat), dengan segenap jajarannya, agar dalam tugas dan pengabdiannya mampu mengemban dan melaksanakan ajaran-ajaran agama Hindu di wilayah desanya serta dapat melaksanakan dengan baik.
Pawintenan Sadeg/Dasaran, tujuan khususnya untuk mensucikan diri secara lahir batin terhadap tugas selanjutnya, agar dalam pengabdiannya sebagai penyambung penyampaian pawisik/bisikan yang diterima dari Hyang Widhi/ manifestasiNya yang dimuliakan, diberikan kekuatan dengan tidak mengada-ada (membuat-buat).

JENIS-JENIS upacara Mawinten sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, hendaknya disesuaikan dengan profesi yang akan ditekuni dalam kehidupan.
Mengenai waktu penyelenggaraan upacara pawintenan umumnya menjelang upacara “Penyineban” atau hari penutupan Piodalan (ulang tahun pura) yang disebut dengan “Nyurud Hayu”. Nyurud artinya memohon dan Hayu artinya keselamatan. Jadi nyurud hayu adalah memohon keselamatan Kepada Hyang Widhi Wasa, Bhatara-Bhatari dan Leluhur. Selain itu, hari baik untuk melaksanakan upacara mawinten adalah pada Purnama, dengan tujuan supaya pembersihan dan penyucian terhadap dirinya benar-benar bersih serta terang benderang seperti sinarnya bulan purnama.
Secara umum tempat penyelenggaraan upacara Pawintenan itu adalah di Pura. Pawintenan untuk Pamangku biasanya dilaksanakan dimana mereka akan mengabdikan diri sebagai Pamangku, misalnya di Pura Dalem, Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dhang Kahyangan, Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat atau di Sanggah atau Merajan.
Adapun pemimpin upacara pawintenan adalah seorang Pandita. Di beberapa desa di Bali atau di luar Bali yang tidak mempunyai pandita, upacara pawintenan dapat dilaksanakan dengan cara memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa yang diantar oleh pamangku senior, dan pawintenan ini disebut Pawintenan ka Widhi.Penyelenggaraan semua jenis upacara pawintenan pada dasarnya sama yaitu sebagai berikut :
1) upacara persiapan : diawali dengan pembersihan lahir seperti menyapu halaman pura, menata dengan baik alat-alat upacara pawintenan sesuai dengan tempatnya, memasang busana perlengkapan untuk palinggih yang akan dipakai menstanakan Tuhan dan manifestasiNya, upacara penyucian palinggih dengan menghaturkan sesajen.
2) upacara menstanakan Tuhan dan manifestasiNya, selanjutnya mempersembahkan upakara-upakaranya dengan tujuan mohon agar beliau berkenan menjadi saksi dalam penyelenggaraan upacara pawintenan tersebut, sehingga upacara berjalan tertib, aman dan lancar.
3) upacara melukat yaitu pembersihan diri dari yang akan diwinten dengan sarana air kelapa muda (klungah) yang telah dijadikan Tirtha oleh pendeta/pinandita melalui doa, puja dan mantra weda. Selanjutnya dipercikkan ke ubun-ubun dan badan yang diwinten.
4) upacara mabyakala bertujuan memberikan pengorbanan suci kepada mahluk halus (bhutakala) agar tidak mengganggu jalannya upacara.
5) upacara Maprayascita adalah memohon kekuatan-kekuatan Tuhan/manifestasiNya agar yang diwinten dapat memiliki pandangan yang suci.
6) upacara pengukuhan (masakapan, padudusan, marajah) yaitu upacara penetapan sesuai dengan jenis profesi kepamangkuan yang ditekuni, ditandai dengan sarana penyucian asapnya api (dudus) dan menulisi organ tubuh yang diwinten dengan aksara-aksara suci.
7) upacara mejaya-jaya yaitu upacara yang bertujuan menyatakan rasa syukur kehadapan Hyang Widhi Wasa, karena telah dapat dilaksanakan dengan baik.
8) upacara sembahyang, bertujuan mendekatkan diri kehadapan Hyang Widhi Wasa mohon tuntunan dan bimbinganNya agar yang diwinten dapat menjalankan kewajibannya sesuai jenis dan tingkatan pawintenannya.

Upacara pawintenan adalah merupakan salah satu kewajiban setiap umat Hindu dalam upaya mewujudkan kesejahteraan lahir maupun kebahagiaan bathin (jagadhita dan moksa).
Mengingat dari pandangan filosofis upacara pawintenan sarat dengan nilai-nilai kerohanian yang tinggi dan mendalam.
Rangkaian upacara pawintenan yang dipaparkan di atas secara garis besarnya dapat ditarik makna sebagai berikut :

menenangkan dan memusatkan pikiran, sehingga dapat lebih terarah untuk mulai mempelajari ilmu pengetahuan.
mengendalikan diri dan menuntun seseorang untuk berpikir, berkata dan berbuat sesuai dengan ajaran dharma.
merupakan tahapan atau jenjang dalam pendakian spiritual.
meningkatkan kebersihan dan kesucian diri pribadi.
pengabdian, pelayanan kepada Hyang Widhi Wasa dan masyarakat.
Demikianlah beberapa makna upacara pawintenan dalam agama Hindu yang sarat mengandung nilai-nilai etika, moral dan agama.

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma

Share this:
Share
Loading...
January 2, 2025Leave a Reply
Budha Kliwon Pegatwakan
Budha Kliwon Pegatwakan (Budha Kliwon Pahang)

Om Swastyastu

Pegatwakan atau juga ditulis sebagai Pegat Uwakan merupakan rerainan Hindu yang datang pada Budha Kliwon Wuku Pahang atau pada setiap 210 hari (6 bulan sekali).

Budha Kliwon Pegat Uwakan ini mengandung arti pegat yang artinya putus dan uwakan (uwak) berarti kembali .

Pada rerainan ini biasanya umat Hindu akan mencabut penjor yang telah dipasang di depan rumah ketika penampahan Galungan lalu.

Rerainan Pegatwakan yang menjadi penanda berakhirnya rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan. Jika dihitung, rainan Pegatwatakan datang tepat 35 hari setelah perayaan galungan.
Piranti yang terpasang di penjor akan dibakar dan abunya dimasukkan dalam klungah nyuh gading yang telah dikasturi.


Setelah itu klungah nyuh gading tadi ditanam pada tempat pemasangan penjor tadi atau dapat ditanam di belakang palinggih Rong Telu. Maknanya, adalah, umat memohon kepada Ida Sang Hyang Widi agar diberkati kesuburan hingga rangkaian Hari Raya Galungan selanjutnya tiba dan umat bisa merayakannya dengan meriah dan sukacita.

Dalam teks Lontar Sundarigama dijelaskan sebagai berikut: “Pahang, Budha Kliwon Pegatwakan, ngaran, pati warah panelasning mengku, biana semadi, waraning Dungulan ika, wekasing pralina, ngaran kalingan ika, pakenaning sang wiku lumekasang kang yoga semadi, umoring kala ana ring nguni, saha widi-widana sarwa pawitra, wangi-wangi, astawakna ring sarwa dewa, muang sesayut dirgayusa abesik, katur ring Sang Hyang Tunggal, panyeneng tatebus.

Artinya:
Pada Budha Kliwon Pahang adalah Hari Raya Pegatwakan, ini dikatakan sebagai hari berakhirnya tapa brata.Sang wiku patut melaksakana renungan suci dengan sarana wangi-wangian dan sesayut dirgayusa yang dipersembahkan pada Sanghyang Tunggal dengan dilengkapi penyeneng dan tetebusan.

Pengastawa dilaksanakan dengan pikiran dan budhi cita yang suci nirmala memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan para Dewa / Bhatara memberikan waranugraha kedirghayusaning jagat raya dan atas welas asih serta kemurahan-Nya melimpahkan karunia di mayapada ini demi kesempurnaan dunia sampai dengan seluruh sarwa prani.

Sebelum mencabut Penjor dapat mengucapkan mantram berikut:

Om pakulun sanghyang sapta patala,
sira sanghyang sapta dewata,
sira sanghyang beda warna,
sira sanghyang tri nadi panca korsika,
sira sanghyang premana,
mekadi ta sira saghyang urip,
sira apageha ri sariraning rahayu,
aneda urip waras dirghaayu paripurna
sang angaturaken bhakti
Om pretiwi dewa sampurna ya namah swaha
Om apah teja jiwatam bayu akasa pramanam, dirghahayu jagad amertham, sarwa merana ya wicitram.

Saat Ngeseng Perlengkapan Penjor, dapat menggunakan mantra berikut:

Om Ang Ung Mang,
Om Ananthaboga bhyo namah swaha
Om Catur Detya Hyang Dewa Bhuta Kala,
Lingga bhuwana murti ya namah swaha.
Om paripurna ya namah swaha.

Demikian dapat dijelaskan secara singkat tentang Hari Suci Budha Kliwon Pegatwakan. Semoga bermanfaat

Om Santih Santih Santih Om
Oleh: I Wayan Sudarma (Penyuluh Agama Hindu Kab. Bangli)

Sumber bacaan:
1). Lontar Sundarigama
2). Surya Sewana

Share this:
Share
Loading...
February 8, 2023Leave a Reply
Makna Beberapa Upakara Pokok Hari Suci Kuningan
Oleh: I Wayan Sudarma

Om Swastyastu

Sepuluh hari setelah hari Galungan kita rayakan sebagai hari suci Kuningan. Jika diperhatikan dari saran upakara yang dipersembahkan pada Hari Suci Kuningan, tak berlebihan kiranya jika saya nyatakan kalau sesungguhnya Kuningan adalah merupakan pengejawantahan ajaran perasaan WELAS ASIH dari kemenangan Dharma (kebenaran) itu sendiri yang kemudian diwujudkan berupa pelaksanaan pelayanan dan pengabdian. Untuk itu mari kita telaah upakara inti dari hari Suci Kuningan dari sudut filosofis, yakni:

TAMIANG (Tameng), bisa dibuat dari janur, slepan (blarak, dalam bahasa Jawa), daun Ron (enau), juga bisa dari daun lontar, dibuat berbentuk bulat, menyerupai matahari atau bulan. Tamiang (Tameng) bermakna sebagai pelindung, yang sering digunakan oleh para ksatria dalam mempertahankan diri dari serangn musuh. Matahari dan bulan juga berfungsi sebagai pelindung agar semua mahluk hidup dapat hidup. Dalam ranah sekala kita sebagai umat semestinya mampu memberikan perlindungan, akan rasa aman danrij nyaman dari ancaman, gangguan baik sekala dan niskala, baik untuk diri sendiri, keluarga, dan juga masyarakat, serta agar terhindar dari semua jenis marabahaya yang berasal dari luar.

SULANGGI atau NASI SULANGGI, upakara nasi lengkap dengan lauk-pauknya, yang ditempatkan pada wadah khusus bernama Sulanggi, dibuat menyerupai bunga yang mulai mekar, atau seperti tamas kecil. Secara Etimologi kata Sulanggi terdiri dari suku kata Su = baik, Langgi = panutan, umat Hindu harus dapat menjadi panutan baik bagi anak, istri, suami, keluarga, kerabat, bawahan. Intinya Ia harus menjadi suri tauladan dalam penegakan panji-panji kebenaran.


TEBOG atau NASI TEBOG, juga merupakan persembahan nasi lengkap dengan lauk-pauknya, yang dialasi dengan wadah yang dibuat menyerupai piring atau bunga yang sudah mekar. Kata Tebog (bahasa Jawa Kuno) artinya berbagi (sama rata), adil. Mengisyaratkan kepada umat Hindu untuk bisa saling care (melindungi) dan share (berbagi), apalagi kepada mereka yang kesusahan dan sedang menderita (daridra deva bhava = kaum fakir miskin yang datang kepadamu adalah perwujudan Tuhan). Juga bermakna rasa keadilan sesuai dengan tugas dan fungsi kita baik sebagai individu, bagian dari sebuah keluarga, dan di tengah-tengah masyarakat.

ENDONGAN , adalah sebuah jejaitan dari janur, slepan (blarak), daun ron enau), dan juga daun lontar yang dibuat menjadi berbagai reringgitan kemudian disatukan. Kata Endongan (bahasa Jawa Kuno) berarti: bergandengan, saling menuntun. Dalam mengarungi hidup ini kita tidak bisa berdiri sendiri kita membutukan orang bahkan mahluk lain, karena setiap kehidupan memerankan fungsinya sesuai dengan Rta (hukum abadi semesta alam).

KOMPEK, dibuat menyerupai Tas (betek) berisi tumpeng, buah, kue, dan lauk pauk. Kompek bermakna bahwa setiap manusia pasti membutukan bekal ataupun biaya untuk melangsungkan kehidupannya. Untuk itu kita diwajibkan untuk dapat juga memberikan bekal penghidupan baik berupa makanan, harta, pendidikan, dan sebagainya kepada anggota keluarga, dan juga masyarakat. Seperti halnya Hyang Widhi dan Leluhur yang telah memberikan kita sumber penghidupan sampai saat ini.


Demikian sekiranya kupasan filosofis singkat dari makna Hari Suci Kuningan yang dapat diketengahkan. Jika kita renungkan secara seksama, Konsep ASIH PUNIA BHAKTI diajarkan oleh Leluhur Kita melalui Kuningan. Pesan inti dari Kuningan adalah agar kita dapat memperbaiki, menata dan mengaplikasikan hidup ini dengan rasa welas asih, sebagaimana Hyang Widhi, Leluhur mengasihi kita dengan pelbagai waranugrahaNya,, dan agar dapat kita meniti kehidupan yang jauh lebih bermartabat, bersahaja, dan akhirnya dapat berlabuh dilautan kedamaian.

“Kepada umat Hindu dimanapun berada, saya haturkan Selamat Hari Suci Kuningan, Semoga Kauningan/Kaelingan kita terus bertumbuh sehingga bisa mewujudkan hidup yang Santih”

Om Santih Santih Santih Om

Share this:
Share
Loading...
January 14, 2023Leave a Reply
Meneropong Persembahan Suci Sāttvika-Yajña
Oleh: Darmayasa

Om Swastyastu

aphalākāṅkṣibhir yajño vidhi-dṛṣṭo ya ijyate
yaṣṭavyam eveti manaḥ samādhāya sa sāttvikaḥ
(Bhagavad-gῑtā 17.11)

“Persembahan korban suci yang dilakukan oleh mereka yang sudah tidak menginginkan hasil dari persembahan korban suci yang dilakukan, persembahan korban suci yang dilakukan sesuai dengan aturan kitab suci, yang dilakukan setelah memantapkan dalam hati bahwa persembahan korban suci yang dilakukan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan, persembahan korban suci seperti itu adalah korban suci dalam sifat kebaikan Sattva-guṇa.”



Bali terkenal sebagai pulau yajña. Mendengar nama Bali, orang luar Bali akan terbayang pada persembahan Banten, Canang, Gebogan, Banten Bebangkit, Pulagembal, Banten Taman Sari dan haturan-haturan yajña lain yang indah menarik. Persembahan-persembahan yajña seperti itu tidak ada duanya di dunia. Hanya ada di Bali. Warisan tradisi agama spiritual yang “the only one in the world” – satu-satunya di dunia. Sangat disayangkan jika ada orang berlebihan mempermasalahkan bebanten haturan indah tersebut. Sesuatu yang sangat indah dan merupakan satu-satunya di dunia, mengapakah kita sebagai umat Hindu Dharma tidak berbangga mempertahankan dan memperindah serta memurnikannya?

Pada umumnya umat belum memberikan pemahanan lebih pada persembahan suci yajña yang dilakukannya. Yajña ada dibedakan dalam tiga jenis, yaitu yajña dalam tingkat Tāmasa-guṇa, yaitu yajña yang dilakukan dalam sifat kegelapan dan kebodohan, Rājasika-guṇa yaitu persembahan suci yajña yang dilakukan dalam sifat kenafsuan, dan Sāttvika-guṇa, yaitu yajña-yajña yang dilakukan dalam sifat kebaikan, mulia, halus, indah asri penuh bhakti. Yajña yang dilakukan tidak semua sama. Ada pula yajña berbeda dipersembahkan kepada para Dewa-Dewi yang berbeda pula. Yajña dalam tutupan sifat alami Tri-guṇa tersebut dibedakan pula dalam 3 tingkatan, yaitu Kaniṣṭha-yajña (yajña yang terkecil paling sederhana), Madhyama-yajña (yajña menengah) dan Uttama-yajña (yang paling utama). Masing-masing juga dibedakan dalam tiga tingkatan lagi sehingga menjadi Navavidha-yajña atau sembilan jenis persembahan suci yajña. Keberadaan dan “rahasia” akan tiga jenis atau level yajña ini sangat penting diadakan pemahaman oleh umat. Jika tidak, maka umat akan melaksanakan yajña tanpa kendali dan tanpa arah jelas, hanya melihat lalu melakukan tanpa pemahaman yang benar.

Umat Hindu Dharma tidak bisa lepas dari yajña. Menurut Atharva Veda (12.1.1), pelaksanaan persembahan suci yajña juga berperan penting dalam usaha menjaga tegak dan damainya dunia (yajñaḥ pṛthivīṁ dhārayanti). Ida Sang Hyang Parama Kawi menciptakan alam semesta melalui yajña (saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā). Merupakan kewajiban umat untuk melakukan yajña. Kesadaran akan kewajiban dharma seperti itulah yang menyebabkan adanya tradisi pelaksanaan berbagai yajña setiap hari. Setidaknya umat sangat patuh mempertahankan tradisi pelaksanaan yajña-śeṣa atau masaiban setelah memasak. Selain itu, ada hari-hari tertentu dimana umat Hindu Dharma mempersembahkan yajña yang dilakukan secara khusus.



Secara umum yajña dibedakan dalam Nitya-yajña atau yajña yang dilakukan secara terus-menerus setiap hari, misalnya Yajña-śeṣa, Agnihotra dan lain-lain, selainnya ada Naimitika-yajña yaitu yajña yang dilakukan sewaktu-waktu dalam kurun waktu tertentu, bahkan ada yang dilakukan hanya sekali seumur hidup. Yajña-yajña dalam Naimittika-yajña antara lain Kajeng Kliwon, Purnama (Pūrṇimā), Tilem (Amāvasya), Piodalan-piodalan, Galungan, Otonan, Pawiwahan, Ngaben, dan lain-lain.

Ada pula yajña yang dibedakan dalam Pravṛtti-yajña, yaitu yajña yang dilakukan dalam mengumpulkan kārma (keinginan) demi pencapaian hidup damai sejahtera di dunia dan pencapaian Surga setelah meninggal.

Sedangkan jenis lain dinamakan Nivṛtti-yajña justru meninggalkan kāma (keinginan) untuk pencapaian pembebasan (mokṣa). Jenis dan tingkatan-tingkatan yajña ini sesungguhnya lebih banyak dilihat berdasarkan sarananya, bukan dari kegiatan apalagi hasil yang diperoleh dari pelaksanaannya.

Keutamaan sebuah yajña ditentukan oleh beberapa faktor. Yajña yang dilakukan dengan sarana yang sederhana (kaniṣṭha) bisa jadi nilainya lebih mulia daripada yajña yang dilakukan dengan sarana yang lebih mewah dan jumlah yang lebih banyak (madhyama atau uttama-yajña). Jika yajña dilakukan dengan baik dan penuh śraddha bhakti maka upacara kaniṣṭhaning kaniṣṭha (paling sederhana dari yang paling kecil sederhana) akan dapat mengalahkan upacara yang paling lengkap dari yang paling lengkap (uttamaning uttama).

Kekuatan śraddha bhakti sangat ampuh, yang mampu mengalahkan persyaratan upacara banten. Akan tetapi, kesiapan pemahaman seperti ini pastilah belum bisa diterima oleh masyarakat atau umat kebanyakan.

Peluang pergeseran pemahaman di masyarakat dapat terjadi yang menganggap keutamaan yajña ditentukan oleh sarana yang lebih banyak dengan biaya yang lebih mahal. Kecendrungan alpa seperti ini dapat terjadi dengan mudah pada siapa saja khususnya para Sarathi banten (tukang Banten) dan yang lainnya. Niat baik memperindah yajña di sana-sini belum tentu diperlukan dan/atau bisa terjadi penempatan yang tidak tepat. Hal tersebut bisa terjadi terutama pada Sarathi Banten yang alpa “nglinggihang” (memuja) Penguasa Banten, yaitu Sang Hyang Tāpinῑ serta para Ancangan pengiringnya (makadewaning tukang banten, Ida Hyang Bethari Umā, meraga Sang Hyang Tāpinῑ).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keutamaan sebuah yajña untuk dapat ditingkatkan pada level Sātvika-yajña adalah keyakinan yang mantap (śraddhā), bahwa yajña harus dilakukan dengan penuh keyakinan (lascarya), artinya yajña harus dilakukan dengan tulus dan ikhlas, tanpa ada rasa terpaksa atau dipaksa oleh siapa pun, terlebih jika yajña dilakukan demi harga diri, prestige atau status di masyarakat, maka tanpa disadari orang sudah menurunkan nilai yajña karena yajña tidak sekadar membuat banten sampai pelaksanaan upacara selesai.

Pemahaman arti dan makna yajña di dalam masyarakat perlu diperluas antara lain yajña juga merupakan sebuah usaha untuk mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera lahir-batin. Untuk mencapai tujuan ini maka pemahaman yajña diarahkan juga dalam bentuk dṛvya yajña atau yajña harta benda.
Persyaratan lain dari Sāttvika-yajña yang patut dipenuhi juga adalah śāstra-pramāṇa, bahwa pelaksanaan yajña harus sesuai dengan petunjuk yang tercantum dalam Veda, Dharmaśāstra atau lontar-lontar bonafid yang dapat dipercaya. Yajña yang dilakukan berdasarkan “terka-terkaan”, sesuai dengan keinginan pribadi atau persetujuan beberapa orang, atau yang bertentangan dengan Śāstra-pramāṇa tidak dapat dikelompokkan ke dalam Sāttvika-yajña. Selanjutnya Sang Yajamāna (yang menyelenggarakan yajña) juga harus menghaturkan dakṣiṇā, wajib memberikan sesuatu yang layak kepada pemimpin upacara sebagai bentuk keseimbangan antara menerima dan memberi.



Selesai pelaksanaan upacara yajña Anna-dāna atau Anna-sevā harus dilakukan. Pada upacara yajña yang melibatkan orang lain sebagai pemimpin upacara atau mānuṣa-sākṣῑ maka sang Yajamāna wajib memberikan makanan dan minuman kepada mereka sebagai bentuk pelayanan dan penghormatan. Pemberian makanan merupakan bagian yang sangat penting dalam praktik-praktik upacara yajña yang dilakukan baik di Bali, India atau pun di tempat-tempat lain di dunia. Untuk Sāttvika-yajña Anna-dāna juga diusahakan yang Sāttvika-bhojanam, yaitu makanan dan minuman dalam sifat kebaikan (Sattva-guṇa).
Yajña hendaknya tidak dilakukan untuk tujuan pamer (nasmita). Sāttvika-yajña tentu harus dijauhkan dari tujuan pamer dan kebanggaan atau smita. Sattvika-yajña harus bersifat nasmita, bebas dari tujuan kebanggaan. Mereka yang hendak melaksanakan yajña diwajibkan menghitung kemampuan dirinya dan kemudian menentukan jenis, tingkat, atau besar-kecilnya yajña yang harus dilakukan. Umat yang baik akan menghindari pelaksanaan yajña yang “ditumpangi oleh rasa kebanggaan dan pamer, apalagi berakhir pada rasa tidak nyaman akibat utang-piutang dan kehabisan harta benda.

Persyaratan terpenting untuk sebuah Sāttvika-yajña adalah:

yajña hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan kesungguhan hati sebagai sebuah kewajiban suci (yaṣṭavyam eva iti manaḥ samādhāya),
yajña harus terbebaskan dari keinginan untuk mendapatkan hasil atau pahala (aphalākāṅkṣibhiḥ yajñaḥ), dan
yajña harus mengacu dan/atau dilakukan berdasarkan pada vidhi-śāstra, kitab-kitab suci yang memang memberikan tuntunan serta aturan peraturan yang otentik untuk pelaksanaan Sāttvika-yajña. Manggalamastu.
Om Santih Santih Santih Om