Minggu, 06 April 2025

Makna dan Pemujaan Dewa

Makna dan Pemujaan Dewa pada Rangkaian Hari Suci Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Galungan, dan Kuningan dalam Tradisi Hindu Bali


Disusun oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba

**BAB I

PENDAHULUAN**

1.1 Latar Belakang

Umat Hindu di Bali memiliki rangkaian hari suci yang sangat sakral dan penuh makna filosofis, yaitu Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Galungan, dan Kuningan. Keempat hari suci ini merupakan satu kesatuan dalam menyambut, merayakan, dan mengakhiri kehadiran para leluhur (pitara) ke dunia fana. Dalam setiap tahapannya, umat Hindu memuja manifestasi Tuhan yang berbeda sesuai dengan makna hari tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Apa makna dari hari suci Sugihan Jawa, Sugihan Bali, Galungan, dan Kuningan?

Siapa saja dewa yang dipuja dalam setiap hari suci tersebut?


1.3 Tujuan Penulisan

Menjelaskan makna filosofis setiap hari suci dalam rangkaian Galungan dan Kuningan.

Menguraikan pemujaan terhadap manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan) pada tiap-tiap hari suci tersebut.



---

**BAB II

PEMBAHASAN**

2.1 Sugihan Jawa

Makna:
Sugihan Jawa dilaksanakan pada Kamis Wage Wuku Sungsang, tujuh hari sebelum Galungan. Kata “Jawa” berasal dari kata “Jawa Dvipa” yang dalam konteks ini diartikan sebagai tempat asal-usul ajaran Hindu. Hari ini ditujukan untuk menyucikan bhuana agung (alam semesta).

Dewa yang Dipuja:
Pada hari Sugihan Jawa, pemujaan difokuskan kepada Dewa Wisnu, sebagai pemelihara alam semesta. Persembahyangan dilakukan untuk memohon kesucian dan keseimbangan alam.

Hari: Kamis Wage Wuku Sungsang
Makna: Sugihan Jawa berasal dari kata sugi yang berarti "menyucikan". Pada hari ini, umat Hindu memfokuskan diri pada penyucian bhuana agung (alam semesta). Ritual dilakukan dengan membersihkan lingkungan, tempat suci, dan sarana upakara sebagai simbol kesiapan menyambut Galungan.
Pemujaan: Bentuk pemujaan diarahkan kepada Dewa Wisnu sebagai penjaga alam.

---

2.2 Sugihan Bali

Makna:
Dilaksanakan sehari setelah Sugihan Jawa, yaitu Jumat Kliwon Wuku Sungsang. Sugihan Bali difokuskan pada penyucian bhuana alit (diri manusia), agar layak menyambut kehadiran roh leluhur saat Galungan.

Dewa yang Dipuja:
Pemujaan diarahkan kepada Dewa Siwa, sebagai dewa pelebur dan penyuci kekotoran dalam diri manusia. Hari ini menjadi momen untuk introspeksi dan pembersihan lahir batin.

Hari: Jumat Kliwon Wuku Sungsang
Makna: Sugihan Bali bertujuan untuk menyucikan bhuana alit (diri manusia). Pada hari ini umat lebih banyak melakukan introspeksi dan pembersihan batin.
Pemujaan: Pemujaan dilakukan kepada Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai penyuci jiwa, dengan menguatkan niat dalam kebajikan.

---

2.3 Hari Raya Galungan

Makna:
Galungan dirayakan setiap Buda Kliwon Wuku Dungulan, menandai kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Pada hari ini, diyakini roh para leluhur turun ke dunia untuk diberi penghormatan dan doa oleh keturunannya.

Dewa yang Dipuja:
Manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dipuja saat Galungan adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Dharma, yaitu wujud Tuhan sebagai kekuatan kebenaran. Dewa Indra juga sering diasosiasikan sebagai simbol kemenangan Dharma dalam mitologi Hindu.

Hari: Rabu (Buda Kliwon Wuku Dungulan)
Makna: Galungan merupakan peringatan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Hari ini diyakini sebagai saat ketika para leluhur turun ke dunia untuk memberikan restu kepada keturunannya.
Pemujaan: Persembahyangan dilakukan di rumah dan pura keluarga. Umat menghaturkan banten dan menghias rumah dengan penjor sebagai simbol gunung suci dan kemakmuran.
Simbolisme: Penjor, tumpeng, dan banten merupakan lambang keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana).

Hari Umanis Galungan hingga Penampahan Kuningan

Hari-hari setelah Galungan digunakan untuk melakukan nyineb (mendalami nilai Galungan) dan menjaga keseimbangan spiritual.

  • Manis Galungan: Hari untuk silaturahmi dan memperkuat hubungan sosial.
  • Pahing Galungan hingga Anggara Kliwon: Digunakan untuk memperkuat spiritualitas dan menyambut Kuningan.

---

2.4 Hari Raya Kuningan

Makna:
Kuningan jatuh pada Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Kuningan, 10 hari setelah Galungan. Hari ini merupakan hari berpamitan para leluhur untuk kembali ke alam niskala. Warna kuning melambangkan kemuliaan, kesucian, dan kemakmuran.

Dewa yang Dipuja:
Pada hari Kuningan, umat Hindu memuja Dewa Si Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Sang Hyang Kuningan atau Dewa Sang Hyang Tiga Sakti, yaitu perwujudan dari Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) yang memberi sinar kebijaksanaan dan kemakmuran.
Dewa yang dipuja juga meliputi para pitara (roh suci leluhur) yang telah kembali ke alam suci.

Hari: Sabtu Kliwon Wuku Kuningan (10 hari setelah Galungan)
Makna: Kuningan berasal dari kata kuning, yang melambangkan kemuliaan dan cahaya. Hari ini merupakan hari berpamitan para leluhur untuk kembali ke alam niskala.
Pemujaan: Umat menghaturkan sesajen khas Kuningan seperti tamasendongan, dan banten tebog, dengan dominasi warna kuning.
Filosofi: Kuningan merupakan puncak pemujaan yang mengingatkan umat untuk senantiasa berada di jalan Dharma, penuh kesucian dan kebaikan.

---

**BAB III

PENUTUP**

3.1 Kesimpulan

Rangkaian hari suci dari Sugihan Jawa hingga Kuningan memiliki makna spiritual dan budaya yang mendalam. Sugihan Jawa memfokuskan diri pada penyucian alam dan pemujaan terhadap Dewa Wisnu, sedangkan Sugihan Bali adalah pembersihan diri dengan pemujaan pada Dewa Siwa. Galungan menandai kemenangan Dharma dengan pemujaan terhadap Dewa Dharma, dan Kuningan merupakan puncak pamitnya roh leluhur yang disertai pemujaan terhadap Sang Hyang Kuningan dan Tri Murti.

3.2 Saran

Sebagai generasi muda, kita patut menjaga dan memahami makna dari setiap upacara agama agar pelestarian tradisi Hindu Bali tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menyentuh nilai-nilai spiritual dan kesadaran diri yang mendalam.