Selasa, 23 Juli 2024

Kewajiban Hidup

Kewajiban Hidup yang Utama patut di jalankan:

1. Mebayuh Agung Kelahiran ( oton ) agar tubuh menjadi Sehat Jasmani dan Rohani.

2. Meruwat Semua Jenis Melik pada Tubuh agar Hidup Selamat Dunia dan Akhirat.

3. Meruwat Lelintangan agar Hidup di Penuhi Berkat ( tidak kena sial / apes ).

4. Mewinten agar menjadi Enten yaitu Eling Raga sehingga bisa menjalankan Sesana manut Swadarma Hidup.

Kebanyakan dari kita tidak mau membersihkan mala angga yaitu kotoran tubuh jasmani dan rohani akan tetapi sibuk menyalahkan di luar diri , padahal semua yang terjadi di luar tubuh merupakan pantulan yang berasal dari dalam tubuh kita.

Contoh sederhana ....disaat kita jalan dan ketika kita berpapasan dengan seseorang  , saat itu kita memasang muka sinis maka orang yang kita papas juga akan melakukan hal yang sama , jika saat itu kita tersenyum maka orang yang kita papas juga balik tersenyum.

Karena sejati di luar itu bagaikan cermin yang mematulkan bentuk tubuh kita  secara apa adanya.
Jangan pantulanya jelek cermin yang di rusak akan tetapi perbaiki diri , karena yang di luar akan mengikuti yang di dalam.
Untuk itu fokus pada perbaiki diri jangan sibuk ngurusin yang di luar.

Jalan untuk perbaikan diri sudah di siapkan oleh leluhur dalam bentuk tradisi :
1. Mebayuh oton
2. Meruwat melik
3. Meruwat lelintangan
4. Mewinten

Rahayu

Sabtu, 20 Juli 2024

Proposal Hut

KEGIATAN HARI ULANG TAHUN KE – 38
SMP NEGERI 4 ABIANSEMAL

“38 thn, Tiga Puluh Delapan Spenfourab Tumbuh, Spenfourab Tangguh”

A. PENDAHULUAN

Tiga puluh delapan tahun perjalanan SMP Negeri 4 Abiansemal dalam mengabdikan diri
di bidang pendidikan merupakan usia yang panjang dan matang bagi sebuah lembaga
pendidikan untuk mencapai predikat nama baik dan nama besar. Kemampuan SMP Negeri 4 Abiansemal dalam mencetak siswa–siswi yang berprestasi, baik akademik maupun non-akademik, dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, serta didukung oleh guru-guru yang profesional, menjadikan SMP Negeri 4 Abiansemal sebagai sekolah favorit yang diminati oleh siswa-siswi di wilayah Timur Abiansemal. Hal ini dapat dilihat dari animo masyarakat yang mendaftarkan
putra-putrinya di SMPN 4 Abiansemal. Tidak kurang 650 calon peserta didik yang menjadikan SMPN 4 Abiansemal sebagai sekolah pilihannya.

Pada usia Tiga Puluh Delapan Tahun ini, civitas akademika SMPN 4 Abiansemal menyelenggarakan peringatan Hari Ulang Tahun sebagai langkah taktis untuk mengapresiasi kinerja yang telah dilakukan SMP Negeri 4 Abiansemal, dengan mengadakan berbagai kegiatan
sebagai bentuk refleksi, kolaborasi dan kekeluargaan berbagai pihak untuk SMPN 4 Abiansemal tercinta.

B. DASAR KEGIATAN
1. Visi dan Misi SMPN 4 AbiansemalTahun 2024-2025;
2. Program kerja Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal Tahun 2024/2025;
3. Rapat pimpinan sekolah hari Kamis, 8 Juli 2024.

C. TUJUAN
1. Meningkatkan rasa cinta siswa terhadap sekolah;
2. Memupuk rasa persaudaraan;
3. Menghimpun dan menjalin silaturahmi antara pihak sekolah, orangtua, alumni, dan
masyarakat;
4. Menunjukkan eksistensi SMP Negeri 4 Abiansemal kepada masyarakat luas.

D. BENTUK KEGIATAN
1. Renungan “Orangtua HEBAT, Spenfourab Tumbuh, Spenfourab Tangguh, Anak Bahagia”. Kegiatan ini disajikan dalam bentuk Dharmawacana dari Bapak I Made Antara, S.Pd sebagai kepala sekolah.
2. Menyambung tali kasih sayang dengan perwakilan alumni SMPN 4 Abiansemal di setiap angkatan;
3. Menyambung tali kasih sayang dengan purna tugas SMPN 4 Abiansemal;
4. Bakti Sosial Pembagian Alat Tulis Pembelajaran bagi peserta didik yang kurang mampu;
5. Pelepasan Purna Tugas tahun 2024.
6. Olimpiade Expo 2024.

E. PELAKSANAAN
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada:
Hari, Tanggal : Rabu, 18 September 2024

Peserta : Siswa, Alumni, Orangtua, Purna Tugas, Guru SMPN 4 Abiansemal, dan masyarakat luas.

Tempat : SMP Negeri 4 Abiansemal

Jumlah Peserta: 750 orang

F. PARTISIPASI
Kegiatan dapat berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan melalui kolaborasi dan
kebersamaan antara pihak sekolah, komite sekolah, orang tua, alumni, siswa, dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, bagi komite sekolah, orang tua, alumni, dan masyarakat umum yang akan berkontribusi baik barang maupun donasi dapat menghubungi narahubung (0812-3695-532/Bpk Mang Adi; 081936287278 /Bpk Sugata; +62 878-6121-0030 /Ibu Luh Gde Suari). Donasi dapat disampaikan melalui Norek BPD atas nama .......... (Bendahara Panitia).

G. PANITIA
Terlampir pada lampiran 1.

H. ANGGARAN
Terlampir pada lampiran 2.

I. PENUTUP
Demikian proposal ini kami susun sebagai langkah awal penyelenggaraan kegiatan.

Kami sangat mengharapkan dukungan serta kerjasama dari semua pihak. Semoga dengan
adanya proposal ini dapat memberikan gambaran untuk kegiatan Hari Jadi SMPN 4 Abiansemal ke-38 agar menjadi tumbuh lebih baik, maju, dan tangguh.

Ketua Pelaksana


I Nyoman Adi 

Bongkasa, 22 Juli 2024.
Sekretaris


Ni....... 



Mengetahui,
Kepala Sekolah

I Made Antara, S.Pd
NIP. 


Lampiran 1
SUSUNAN PANITIA

Lampiran 2
SUSUNAN ACARA


Lampiran 3
RENCANA ANGGARAN BIAYA
KEGIATAN HUT KE-38 SMPN 4 ABIANSEMAL TAHUN 2024


PEMASUKAN - PENGELUARAN

Jumlah kekurangan biaya direncanakan diperoleh dari donator dan sponsor.

Catatan:
1. Sumber Dana

Semua dana yang diperoleh berasal dari sumbangan sukarela dari:
a. Alumni
b. Donatur
c. Sponsor
d. Sumber dana lain yang tidak terikat.

Adapun dana dikekola oleh panitia atau perwakilan alumni dan komite.



Jumat, 19 Juli 2024

Magedong-gedongan

Puja Magedong-Gedongan
Puja Magedong-gedongan, kandungan usia sekitar 7 bulan.

SMARA-STAWA.
(Anggen ring pagedong-gedongan)

Om, Kama-dewam pita warnam, 
Guru-dwaya sthire-kastham
Sakalãdhipatiśanam, 
Simha-raja mahottamam,

Om, Akasãtmakam Dewam, 
Bindu-nadãtmakam smrtham,
Sarwa pãpa praharanam, 
Sarwa karya pradayakam.

Om, Moksa-pradam prakamyamca, 
Nih-sandeham nir-iswarah,
Nir-yoga nir-wiyogaśca, 
Sarwa Dewa sewitah twam.

Om, Pratyaksas twam iha-loke, 
Manusaś-twamca Dewas twam,
Suksmas twam sakalas twam ca, 
Atma twam ca sariram twam.

Om, Eka-rupañca wisesam, 
Hrda-Dewi sukha sadhanam,
Cadrãwat satatam eka, 
Trailokya wijaya-saktam.

Om, Iswara-wara Dewaśca, 
Brahma-jayaśca wijayah,
Mahadewa waras twamca, 
Wisnu wijaya ewa ca.

Om, Indra-raja ca jayas twam, 
Sarwa Dewa waras twam ca,
Sarwa Dewa-dewi tattwam, 
Trailokya sewitas tatha.

Om, Cintamani mahendraśca, 
Sarwa Kumara-raja twam,
Kumara-raja samjña ca, 
Sarwa Dewi sewitas twam

Om, Su-mantram samjñadis caiwa, 
Ista-kamaśca samjñanam,
Asta-tanwãdhipatis ca, 
Ugra Dewãsca samjñanam.

Om, Sarwa pãpam haret-siddhi, 
He Dewa Kumara-raja,
Sarwa-rogha praharanam, 
Sarwa-śatru winaśanam.


SMARA-STAWA.
Om, Anangga Kamini-patni, 
Puspeso Mandini-tatha,
Kamo-dana-wati-patni, 
Madani-madanas tatha.

Om, Mano-bhawah sobhani ca, 
Sri-mati makara-dhwajah,
Kandarpah Soma-watisca, 
Sri-jayani ca manmathah.

Om, Kama-dewo Ratih-patni, 
Swetari smara ewa ca,
Atanur Nandini-patni, 
Manasi-jasca Harini.

Om, Om, Kama-dewa ca Harini.
Om, Om, kama-dewa ca ratiye namah swaha.


Rabu, 17 Juli 2024

Nyasa Rupa Hyang Sinuhun

Wujud Archa Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Pramadaksa Manuaba Sebagai Nyasa Rupa Dalam Agama Hindu
    
Tidak ada satupun manusia yang mampu mengakses Tuhan yang nirguna (tak terpikirkan, tak terbayangkan). Oleh sebab itu keterbatasan pikiran manusia maka manusia hanya mampu memuja TUHAN melalui nyasa/simbol/alat/sarana. Hanya melalui nyasa rupa lah Tuhan itu bisa dipuja. 

Sebagai sebuah agama yang merupakan wahyu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Hindu menyadari keterbatasan umatnya dalam menghubungkan diri dengan Tuhannya. Dalam hal ini tidak semua orang dalam suatu tingkat tertentu dapat mengungkapkan Tuhan dalam bentuk abstraknya tanpa wujud nyata. Sehingga untuk mengarahkan pikiran menuju Tuhan dan memudahkan konsentrasi, maka diperlukan suatu bentuk tertentu (Nyasa Rupa). 

Dalam konsepsi Hindu, untuk menuju Tuhan terdapat empat jalan sebagai usaha manusia untuk dapat memahami sifat-sifat dan keadaannya. Keempat jalan itu disebut dengan Catur Marga yaitu : Raja Yoga Marga (jalan melalui renungan batin), Jnana Marga (jalan melalui pengalaman ilmu pengetahuan), Karma Marga (jalan melalui pengorbanan, tingkah laku dan perbuatan), dan Bhakti Marga (jalan melalui sujud bhakti atau penyerahan diri).

Keempat jalan di atas memiliki cara-cara tersendiri dan tidak semua orang dapat menempuh semua jalan tersebut. Namun demikian, setiap orang boleh memilih jalan yang dianggap tepat dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuannya. Untuk mencapai tujuan hidup beragama, dalam agama Hindu banyak menggunakan simbol yang disebut dengan Nyasa Rupa. 

Dalam kamus Jawa Kuna – Indonesia disebutkan pengertian Nyasa adalah simpanan, titipan, jaminan, tanggungan, petaruh; sanyasambek nira gelenga : sebagai jaminan atau petaruh akan kemurahan hatinya. Senada dengan pengertian tersebut, Nyasa juga dikatakan berlaku sebagai, bersikap akan, sanyasa sebagai atau sebagai penggantinya, demikianlah jika, seperti, seakan-akan.

Sedangkan di dalam kitab Weda Parikrama dijelaskan bahwa Nyasa yang banyak dipakai dalam agama Hindu adalah simbol dengan garis-garis tertentu yang disebut Yatra atau Rekha, perpaduan warna dan kembang, gambar-gambar tertentu dan Arca yang wujud dan bentuknya kadang-kadang seperti nyata yang semuanya merupakan sekala sarira (badan kasar). Huruf adalah badan kasar yang dapat dipakai sebagai Nyasa (Pudja, 1989 : 28).

Sesuai dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Nyasa adalah sifat-sifat Tuhan yang diwujudkan dalam bentuk archa, mantra, doa, stotra, lagu dan lain-lainnya yang merupakan ucapan, pikiran atau pernyataan apa yang terpikir dan ditujukan kepada Tuhan dengan penuh arti dan rahasia, sedangkan wujud benda-benda sebagai simbol dengan garis-garis tertentu yang disebut dengan Yatra atau Rekha, perpaduan warna-warna, kembang, gambar-gambar, huruf, dan arca (gross body) yang bentuknya kadang-kadang seperti nyata. 

Semua yang disebutkan di atas pada akhirnya adalah merupakan aspek sunyata, dalam berbagai istilah dikenal dengan nama trancenden, niskala, nirguna, nirwikara. Yang artinya sama sebagai hakekat yang tidak dapat dikatakan, tidak bisa diucapkan, tidak bisa dinamakan dan tidak bisa digambarkan.

Sedangkan Rupa dalam kamus Bahasa Bali disebutkan pengertian dari Rupa itu mempunyai arti warni, goba yang dalam bahasa Indonesia berarti bentuk. Sedangkan dalam kamus kecil Sanskerta – Indonesia disebutkan Rupa adalah penampilan, bentuk, Rupaka: bersifat pelambang; Rupana : penandaan berupa pelambang (Tim, 1983 : 199). Dalam kitab Weda Parikrama dijelaskan hubungan antara mudra dan mantra dalam teori Nyasa erat sekali, sebagaimana halnya antara nama dan rupa, suara (wak) dengan artha dan lain-lainnya. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Rupa adalah bentuk, warna, penandaan yang berupa pelambang dan mempunyai hubungan erat dengan nama, sifat dan warni.

Pemberian nama atau gelar sifatnya lebih kongkrit apabila dibandingkan dengan penglihatan manusia dalam fantasi pikiran. Pengetahuan mengenai nama-nama berdasarkan kitab suci sebagai sabda Pramana (Agama Pramana) sedangkan pengetahuan nama-nama yang diperoleh secara bebas dapat disebut sebagai Pratyaksa Pramana dan Anumana Pramana. Dalam kaitan dengan hal tersebut, salah satu aspek untuk mempelajari ketuhanan adalah berusaha untuk mengenal atau mengetahui Tuhan berdasarkan sebuah nama, serta penggambaran tentang sifat dan hakekat-Nya.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Nyasa Rupa adalah sifat-sifat Tuhan yang dihayalkan manusia menurut fantasi manusia atau pikiran manusia, seolah-olah apa yang dipikirkan tersebut sesuai dengan aslinya. Kemudian sifat-sifat Tuhan (murtinya) diwujudkan dalam bentuk Nyasa yang sifatnya abstrak, karena perwujudannya dalam bentuk mantra dan mudra sukar untuk diikuti dan dipahami oleh orang awam. Nyasa dibuat menjadi nyata atau direalisasikan ke dalam bentuk-bentuk huruf, aksara, Padmasana, Meru, Arca dan alat-alat upacara. Di dalam pelaksanaannya, yadnya dan sarana-sarana seperti tersebut di atas disebut simbol.

Nyasa Rupa adalah satu refleksi atau pantulan pemikiran yang dipergunakan sebagai pengganti, seakan-akan yang dimaksud adalah seperti yang sebenarnya. Nyasa Rupa (simbol) sebagai syarat yang sangat penting karena merupakan sarana komunikasi antara penyampai dengan penerima atau antarkomunikator dengan yang diajak berkomunikasi. Dalam berkomunikasi dengan Tuhan, kadangkala manusia mengukur dirinya sendiri. Dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang diketahui dan apabila sulit maka simbol adalah sarana (sadhana) pengganti dalam berkomunikasi.

Archa Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Pramadaksa Manuaba adalah bentuk relasi yang menarik jika melihat prinsip tentang belajar, pemersatu dan pasemetonan. Alhasil tekad yang kuat dari sulinggih Oka Dharma Kapurusan saat rapat di Griya Pegongan memutuskan untuk membuat Pura dan patung/archa Ida Bhatara Hyang Sinuhun sebagai pelopor Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana Ring Pundukdawa. Filosofi Archa Ida Bhatara Hyang Sinuhun  adalah berusahan, belajar dengan tekun, serius, kerja keras, disiplin dan yakin adalah sikap mental untuk bisa menjadi sukses bagi generasi muda saat ini......dan oleh sebab itu spirit dari Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Pramadaksa Manuaba itu yang akan dihadirkan menjadi iconic Pura Kahyangan Dharma Smrti dan Yayasan Widya Daksha Dharma ke depannya.

Apapun bentuk dan lambang yang digunakan dan yang tersirat didalamnya haruslah dipahami, sebab bentuk-bentuk dalam sthana dewata atau lambang Nyasa Rupa itu sendiri bukanlah Tuhan. Semua bentuk-bentuk itu tidaklah lebih dari sarana pembantu untuk mengarahkan pikiran kepada Tuhan, bahkan segala perbuatan manusia sebenarnya merupakan simbol-simbol belaka. Di dalam bentuk Nyasa Rupa inilah sifat-sifat Tuhan yang tidak terpikirkan itu dapat tercermin (Santhi, 1983 : 18). Penggambaran Tuhan dalam bentuk simbol (Nyasa Rupa) merupakan sumber inspirasi dari para seniman yang ingin menggambarkan Tuhan dalam bentuk seni melalui imajinasi manusia. Melalui imajinasi inilah, maka tercipta bangunan-bangunan suci, lukisan-lukisan, rerajahan-rerajahan, patung-patung dalam bentuk-bentuk pratima, dan dari sastra terciptalah kakawin dan kidung yang dipakai dalam pelaksanan upacara agama.

Sesungguhnya Tuhan ada di mana-mana dan untuk memuja-Nya, maka Tuhan dibayangkan seakan-akan ada dalam suatu obyek tertentu. Tuhan pada konsepsinya yang terakhir adalah tanpa bentuk. Tidaklah ada ketidakmungkinan yang mutlak dalam mengibaratkan bentuk-Nya yang beranekaragam demi kepentingan para penyembahnya.





Selasa, 16 Juli 2024

Nila Pati Cau Tua

UPACARA NILAPATI

Olih : I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S.,M.Pd

Sekilas Upacara Panilapatian

Upacara panilaptian adalah sebuah upacara yang bertujuan untuk menyatukan sang catur dasa pitara manunggal ring kamulan tengah, sehinggga upacara ini pun sering disebut sebagai upacara Siwa Yadnya.

Sang Catur Dasa Pitara ini merupakan 14 generasi yang ada di Bali. Mulai dari anak, orang tua (bapak dan ibu), kakek nenek, hingga ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.

Berikut adalah tingkatan dari Catur Dasa Pitara.

1. Anak, lahir buah karya dari bapa (ayah)
2. Bapa, Aji atau ayah lahir buah karya dari pekak (kakek)
3. Pekak, kaki, kakyang, kakek, lahir buah karya dari kumpi
4. Kumpi, kompyang, lahir buah karya dari buyut
5. Buyut lahir buah karya dari kelab
6. Kelab lahir buah karya dari kelambiung
7. Kelambiung lahir buah karya dari krepek
8. Krepek lahir buah karya dari canggah
9. Canggah lahir buah karya dari bungkar
10. Bungkar lahir buah karya dari wareng
11. Wareng lahir buah karya dari kelewaran
12. Kelewaran lahir dari buah karya klakat
13. Klakat lahir dari buah kawitan .
14. Kawitan lahir dari manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Karena kata Nila berarti kosong atau sunia. Sedangkan kata Pati, berarti raja atau mulia dan agung. Sehingga Nilapati berarti menuju tempat sunia yang maha mulia nan agung. Maksudnya adalah menyatu dengan sang pencipta atau disebut dengan moksa. Nilapati, Konsep Menuju Kosong dalam Hindu Bali, Nama yang Meninggal Tidak Boleh Disebut. Karena sesungguhnya tujuan agama Hindu adalah Moksartham Jagadhita ya Ca Iti Dharma. Artinya menuju ke alam kebahagiaan. Sebab menyatu dengan Brahman. Atau di Bali yang disebut Bhatara Hyang Guru.

Maka di dalam pelaksanaan upacara Nilapati, daksina linggih yang menyimbolkan Bhatara Hyang kemudian di-pralina. 

Pralina tersebut dengan cara membakarnya. Kemudian abunya dimasukkan ke dalam kelapa gading yang muda (bungkak nyuh gading) lalu ditanam di belakang palinggih Rong Tiga. 

Hal ini menyimbolkan bahwa Dewa Pitara atau Hyang Pitara dijadikan konsep menuju nol atau kosong (sunia).

Untuk menjadikan konsep kosong atau nol ini, maka Bhatara Hyang yang telah disucikan kini dilinggihkan atau ditempatkan di ruang paling tengah dari palinggih Rong Tiga. 

Ruang tengah itu, kerap disebut ruang Raganta. Maka setelah upacara Nilapati serta ngalinggihan (meletakkan) di rong tengah (ruang tengah dari sebuah pelinggih di merajan). Biasanya kedudukannya lebih tinggi dari kedua rong yang ada di samping kanan dan kiri. 

Maka beliau kini dianggap sudah menjadi Bhatara Hyang Siwa Guru. Dengan harapannya bahwa Hyang Pitara bisa menyatu dengan Brahman "Awor ing Acintya", manunggal ring Sang Hyang Sangkanparaning Dumadi.

Oleh karena itu, biasanya orang yang meninggal. Bila telah melakukan upacara Nilapati. Maka nama sewaktu mereka masih hidup, tidak boleh disebut-sebut/dipanggil-panggil lagi atau bisa di sebut dengan menambahkan "Ida Bhatara Hyang ....." Karena beliau sudah dijadikan nol. Atau menyatu dengan Brahman. Maka beliau disebut Bhatara Hyang Guru. 

Sedangkan dalam lontar Tattwajnana, disebutkan bahwa Bhatara Guru identik atau sama dengan Siwa yang artinya Brahman. Ini berarti telah manunggalnya Atman dengan Brahman. 

Sebab pada dasarnya umat Hindu di Bali percaya bahwa untuk pencapaian akhir dari agama Hindu. Bukan terbatas pada swargha (surga) tetapi lebih tinggi lagi, yaitu Moksa. Hal ini sesuai dengan tujuan agama Hindu yaitu Moksartam Jagathita ya ca iti Dharma. Kebahagiaan lahir batin baik dunia dan akhirat.


Utamaning Kanistama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang tergolong madyaning nista. Disanggar pesaksi (Surya) 
memakai Dewa – Dewi.

BANTEN RING AJENG SANG MUPUT : Eteh-eteh pedudusan jangkep, isuh-isuh alit antuk kayu tulak, kayu sisih, padang lepas, ambengan, daun kamurugan, baas, isuh-isuh madya antuk daun pupug, isuh-isuh utama antuk daun kayu putih, sibuh pepek, pangedangan mesurat senjata pengider bhuwana, prascita sakti, buwu, pembersihan, padma, payuk, isuh-isuh lan lis gde, kukusan padma, santun gede tegep, daksina suci, pengulapan ngambe 1 soroh, karangan lan pajegan, ulam itik meguling. 

a. Upakara ring Surya:
SESAYUT SURYA : Metatakan kulit sesayut, duur nyane dagingin nasi mewarna, kutus mekepel-kepel, sarupaning warna pada 1, medasar antuk nasi putih popolan duur nyane tancebin sekar tunjung barak, kwangen 8, sedah sapatindih, tetebus manut warnaning nasi, sesanganan, raka-raka jangkep, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan.
· Suci putih asoroh
· Prayascita luwih asoroh
· Sorohan alit 1
· Cantulung sasayut 1
· Jahuman
· Dapetan
· Salaran
· SESAYUT SIDA PURNA : Metatakan kulit sesayut, sega punjungan putih, ketipat sida purna, sekar bang, iwak niya udang, sedah woh, kwangi 1, raka sesanganan sarwa galahan dena jangkep.

. SESAYUT SIDA KARYA : Metatakan kulit sesayut, duur nyane dagingin nasi merepat, duur nasine susunin antuk tumpeng 1, kewangen 4, metanceb ring bucuning tumpenge pada 1, sekar cempaka putih 4 katih, meulam bawang putih, kelapa 1 bungkul, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan, katur ring Ida Batara Mahesora, ritatkala nyatur megenah kelod kangin.
SESAYUT NILAPATI : Medasar kulit sesayut, duur nyane dagingin aled don purna jiwa, tumpeng putih mapucuk bang, gerang kepiting atakir, taluh bebek 1, jangan bayem kulab, beras 2 takir, raka-raka, who-wohan 7 soan, pisang mas tasak 1 ijas, iwak ayam putih siungan mulus, kwangen 9, jinah ring sekul 225, sampian naga sari don kemuning, peras daksina, penyeneng antuk busung nyuh bulan, nyuh gading.
TEBASAN KAHYANGAN TIGA : Metatakan kulit sesayut, sesayut jaga satru, penek 3, mepelekir, penek mepucak padasa, kwangen 3, tulung apasang pencok kacang ijo, mepencek me basa, kesuna cekuh, tasik, minyak, mewadah limas, ulam bawi, urab barak putih 3 limas, sate 3 katih, nasi mewadah kojong, medaging sekar pucuk bang, base tubungan, daksina busung, anaman kelanan, peras penyeneng, pembersihan, sampian naga sari, payuk pere 1, sibuh tirta empul 1, kelungah nyuh gading misi lalang 2 katih, metegul antuk benang tri datu, segehan putih 3 tanding, nunas tirta ringsang sedaka masirat ping 9, ider tengen.
TEBASAN ATMA RAUH : Metatakan kulit sesayut, sega mewadah piring sutra, susunin antuk taluh medadar mepinda padma, celekin bungan tunjung, kewangen 1, jaja, woh-wohan, canang anggen ngulapin atma.
TETEBASAN PENGULENG DEWA : Metatakan kulit sesayut, duur nyane susunin antuk beras akulak, nyuh 1 bungkul, taluh 1 bungkul, gegantusan/bijaratus, benang 1 tukel, jinah 225, duur berase susunin sangku medaging toya anyar, lis sanjata pahideran mesadah ring sangkune, padma 1, sesanganan, raka-raka jangkep, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan anggen ritatkala mapahayu karya.
SESAYUT PENYEJEG PANILAPATIAN: Metatakan kulit sesayut, tumpeng 9 bungkul iwak ayam berumbun 2 ukud meolah dadi 9 tanding, belulang niya winangun urip, gedang setakep, raka, jaja canang, tetebus tridatu, matanceb orti bagia pulokerti 1.
SESAYUT SIDA MALUNGGUH : Metatakan kulit sesayut, duur nyane medaging nasi bunter, duur nasine susunin antuk cawan medaging nasi punjungan tancebin sekar pucuk barak 1 katih, ring sisin nasine bunter dagingin nasi pancung 4, metanceb kewangen 4 besik, genah nyane nyatur, sesanganan sarwa galahan, raka-raka jangkep, tehenan 1, peras alit 1, tulung 3, sampian nagasari, canang payasan, katur ring Ida Batara Ludra ritatkala nyatur megenah kelod kauh.
SESAYUT GURU: Metatakan kulit sesayut, duur nyane susunin antuk wastra putih, beras putih mesasahan, base tampelan 1, jinah 11 keteng, duur nyane medaging tumpeng gde 1, muncuk tumpenge medaging taluh bebek lebeng 1, tulung urip 2, sesanganan, raka-raka jangkep, ulam ayam putih mulus mepanggang, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan 1, katur ring Ida Batara Hyang Guru.
SESAYUT IDER BHUWANA : Metatakan kulit sesayut, duur nyane medaging nasi merepat sekadi citakan, tancebin sarwa sekar meilehan, kwangen 4, megenah bilang bucuning nasi, ring tengah medaging tulung metangga 1, ulam nyane sakawenang, tulung 2, sesanganan sarwa galahan, raka-raka jangkep, tehenan, peras alit, sampian nagasari, canang payasan, katur ring Ida batari Pertiwi, yan nyatur megenah ring sor utawi ring tengah.
TETEBASAN PENGENTEG LINGGIH : Metatakan kulit sesayut, duur nyane susunin antuk nasi bunter mepelekir, duur nasine susunin antuk nasi penek triwarna, metanceb sekar tri warna padha 5 katih, orti 5 katih, tulung agung 1, tulung sangkur 2, ketipat sesayut 1, ring pinggir nyane keiter antuk sekar, sedah woh, katipat sidha purna 1, ketipat cakra 1, sesanganan, raka-raka sarwa galahan, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan angge ritatkala ngenteg linggih ring Parhayangan.
TATEBASAN PAMAHAYU SOT:

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin beras aperpatan, base tampelan, benang atukelko, jinah 225, duwur nyane susunin antuk nasi maklongkong 1, duwur nasine medaging tulung urip 1 medaging nasi ulam taluh bekasem, kawangen 11 siki, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sangku medaging toya anyar, panyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Tebasan puniki magenah ring Kemulan

Medengen-dengen ring jaba
tumpeng 11 lan tebasan pegat sot

Pinaka ulu : 
a. pejati
b. pengambean
c. santun 2, nyuh 2, taluh 2

Pinaka awak : tumpeng 11 dan tebasan atma rauh

Pinaka ikut :
a. soroan gereng
b. soroan cenik
c. daksina pengayatan bengawan penyarikan
d. biukaonan
· Penuntun
· Daksina palinggih
· Segehan cacahan 5

#Segan agung ring sor surya
Segehan agung : Taled antuk ngiyu, ditengah nyane madaging daksina, disisin daksinane medaging segehan putih 11 tanding genah niya meileh, canang niya marep kesisi, ritatkala ngemargiang segehan puniki medaging sambleh ayam samalulung. 

b. Ring Bhatara ring palinggih :
· Suci asoroh
· Jahuman asoroh
· Tebasan Dewa Lingga: Metatakan kulit sesayut , misi ketan mesasah, tumpeng injin 2, tumpeng agung 1, metanceb sekar catur warna meileh: Yan nyatur megenah kaja kangin.
SESAYUT SIDA MALUNGGUH : Metatakan kulit sesayut, sege nyitak bunter, disisin segane nyitak, medaging sega pancung metanceb kewangen nyatur, ring muncuk segane bunter tancebin sekar pucuk bang, tulung 3 siki, sanganan sarwa galahan, sodan woh sarwa pala jangkep, katur ring Hyang Ludra.

· Dapetan

2. Pangayatan Ring Pura Goa Lawah :
· Suci 2 soroh
· Pras
· Ajuman
· Daksina
· Kelanan dampulan
· Rayunan alit
· Jahuman
· Dapetan
· Tebasan Sida Karya
· Segehan cacahan 5
· Pengayatan ke surya asoroh
· Katur ring Bhatara ring Gua Lawah asoroh

3. Pangayatan Ring Segara : pejati suci asoroh

4. Pangayatan Ring Telaga Waja : pejati suci asoroh

5. Pangayatan Ring Dalem Puri : 2 soroh (aturan lan pemamitan)
Upakara nyane pateh kadi upakara ring ajeng, sakemawon maweweh Daksina Krepan 2 taler ulam suci nyane taluh itik abungkul.
SESANTUN GEDE/ KEREPAN : Bebesogan gde, serombong gde, beras 4 kulak, nyuh mekelas 4, taluh 4, gegantusan 4, tetampak 4, alas-alan 4, base tamplek mewadah kojong 4, pangi 4, tingkih 4, gula 4, biyu 4 bulih, benang putih 1 tukel, jinah 425 keteng, pirak Rp.400,- canang segenepan, pengreresikan 1. 

PEJATI SUCI RING:
#Pangayatan Ring Bhatara Surya asoroh
#Pangayatan Ring Mrajapati asoroh
#Pangayatan Ring Titi Gonggang asoroh
#Pangayatan Ring Titi Ugal – Agil asoroh
#Pangayatan Ring Tegal Penangsaran asoroh

6. #Pangayatan Ring Pura Ulun Kukul pejati suci asoroh

7. #Pangayatan Ring Penataran Agung pejati suci asoroh

8. #Pangayatan Ring Pura Panataran Agung Catur Parhyangan / Pedarman pejati suci asoroh

Upakara ring Jro/Puri soang – soang :
Sedurung ngranjing, kaping riin katuran segehan alit, selantur nyane melinggih ring Piasan .

1. Upakara sane katur ring Sanggah Kemulan :
· Suci asoroh
· Jahuman
· Dapetan

2. Upakara ring Piasan :
· Suci asoroh
· Jahuman
· Dapetan
· Rayunan
· Canang tadah woh ( soang – soang mangda wenten 5 soroh woh-wohan )

Upacara nyane :
· Sesampune maturan ring piasan, raris murwa daksina ping 3 ngiterin piasan, satunggil ring arep sanggah kemulan, ngayab ping 3.
· Daksina palinggihe unggahang ring Kemulan, pesimpenan ring Pura Dalem Puri, genahang ring beduur ( kemulan ), sedurung kagenahang acung acungang riin ping 3, wawu raris pesimpenan nyane kagenahang.
· Jejahitan Daksinane punika, geseng ring ajeng kemulan, saha katiwakin tirta Pemrelinan, lan tirta tirta sane kapaica ring pura – pura sane tangkilin wawu. Risampune puput kageseng, raris pendem ring ungkur sanggah Kemulan, saha katuran segehan alit ( cacahan 5 )
· Ring Dewa Hyang katuran banten Mayasih ring Kemulan

Catatan :

Tirta Pamralina : Nunas ring Ida Sulinggih Upakara nyane : Peras, Daksina, Suci
 
Liwet kalaksanayang ring ajeng sanggar tawang sane kawangun dumun, upakara nyane pateh kadi upakara sane katur dumun

Banten Maya Sih : tatakan nyane tempeh ageng sane anyar, masurat padma, medaging pras daksina, taler taledan lan bubuh liwet akehne 108
pulungan, medaging bungkak nyuh gading, saur lengis alasan, saet mingmang, malakar antuk ambengan 11 katih, saha madaging padang lepas 108 katih, kaiket dados asiki, antuk saet mingmang punika. Raris kagenahang ring bungkak nyuh gading sane sampun mekasturi.

Penuntunan : inggih punika antuk carang dapdap mecabang 3, matatakan antuk sibuh sane madaging jijih, lan kwangen mejinah bolong 11 kepeng, sibuh punika kabungkus antuk kase, kaiket dening benang tri datu tikelan, medaging kwangen mejinah bolong 11 keteng, taler ring muncuk benang tri datu punika,. kagantungin jinah bolong 200 keteng

Mantra Sesapan Pamegat Sot

Om Awighnam astu
Atur nghulun I Anu ....... (wasta sane mesosot) ring paduka bhatara, bhatara ring Pamarajan ..... (Nganutin genah soang-soang), Bhatara Siwa Ditya, Bhatara Giri Jagatnatha makadi Sanghyang Tri Purusa Saksi, kasaksinanya de nira Sang Hyang Trayo Dasa Saksi, Nini Citra Gotra, Kaki Citra Gotra, Tumut Sang Bhuta Galungan, Sang Lumanglang rahina wengi, sira amukti ujar-ujaring manusa. Hana sauh atur nghulun I Anu ...... ring paduka Bhatara ring ......... duk nghulun kari maurip, wenten atur nghulun ring paduka Bhatara, lamun parisentana anaking nghulun sida ngamolihang karya, irika sauh atur nghulun ring paduka Bhatara, nghulun sanggup maturan upakara yadnya Panilapatian miwah Tebasan Pegatsot kadulurin antuk saupakarania jangkep, warga sari awengi kantos maka rahina, mangke Ida Hyang Catur Dasa Pitara sampun nunggal kalawan Siwa ring kamulan tengah, mangkin nghulun anaur kadi atur nghulun nguni. I Dewa tan kari miutangang, nghulun tan kari mautang, pegat saprantasan tan kinucap malih. Mangkin tembenya ring tanggal masehi: 17 Juli 2024, rahina Budha, Keliwon, Sinta/rahina Pagerwesi, titi punanggal ping 12 sasih Kasa, Ngunya Kalima, rah 2 tenggek 3 Caka 1946 yusaning loka.



Om Awighnam astu
Atur nghulun I Anu..... ri paduka Bhatara, Bhatara Siwa Ditya, Bhatara Siwagni, Bhatara Giri Jagatnatha, makadi Sanghyang Tri Purusa Sakti, Sanghyang Lumanglang ring rahina wengi, Bagawan Panyarikan, makadi Bhatara Gana, gaduh bhuta tiga, pangawaking patiking jagat, wruh ingulah hala ayu, amukti ujar ujaring manusa, maka saksyaning nghulun anawur sosot upakara Panilapatian majeng ring Sang Catur Dasa Pitara ring pamrajan......... , nguni hana hanata atur titiyang maturan aturan Upacara Panilapatian adandanan, maruntutan saupakaraning jangkep, pras papegat, kaatur ring Bhatara ring mrajan alit, mangke nghulun anaur sakadi ature nguni, Dewa tan kari miutangang, nghulun tan kari mautang, wus pegat saparantasan tan kaucap malih, duk manaur ring tanggal masehi: 17 Juli 2024, rahina Budha, Keliwon, Sinta/rahina Pagerwesi, titi punanggal ping 12 sasih Kasa, Ngunya Kalima, rah 2 tenggek 3 Caka 1946 yusaning loka.

Om, Sang Sapuh Gulungan, Sang Brima Doleng, Sang Bedawang Petak, Sang Bedawang Bang, Sang Bedawang Jenar, Sang Bedawang Ireng, Sira anodyaning penauran tityang(ipun) antuk guling, Sang Bedawang Amanca Warna, sira angetok akna kancing sira Sang Ananta Boga, engelesana hutang tityang(ipun), teka keles, teka keles, teka keles, tan angangon ingesti teka pegat, rampung seperantasan, tan ana inucap malih. Hutang sinaungan amrtha sodana, tumpeng tunggal dwi sri, tri purusa, catur Dewa Panca Warna, Sapta Perana, Asta Kala, ingsun angaturaken Pegat Sot…..anawur hutang denira. Asing kirang asing luput geng rena sinampuraken.

Mantra : Om Panca warna bhawet Brahma,Wisnu saptewara waca, Sadwaraicwra dewacca, Astawara Ciwojnejah. Wrhaspati pinaka wit, Soma pinaka bungkah, Anggara pinaka godong, Buddha pinaka kembang, Sukra Pinaka woh, Sanisccara pinaka kulit, Redite pinaka warna.  
Om sarwa pras pranajanam, Sarwa karya praciddha ya ciddhi bhawantu ya namo namah swaha.

Sorowan : 
Mantra : Om, Pakulun Sang Hyang Picatur muka. Dewa byuha sira bhagawan ratangkup sira tapuke pakulun, angeseng ipenala, makadi lara rogha, sot sukata, gempung moksah hilang tanpa sesa, denira sanghyang Siwa picatur muka dewa byuha.
Om Sidhirastu astu tat astu swaha.

Om pukulun bhatara Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa, manusanira angaturaken upakara panilapatian, anyaluk tirtha mahening, Sarayu, Saraswati, maka pangeleburan sarwa mala, maka amrtaning sarwa mahurip, siddhi siddha asung anugraha de bhatara Yang Mami.
Om Sang,Bang,Tang,Hang,Hing, Nang, Mang,Sing,Wang,Yang, Ang,Ung,Mang (+ apsu dewa)


UPAKARAN PUTRU
Suci asoroh, daksina pejati asoroh, psewan, pras lis, canang pangalang.
Iki mantra pangsêngan pras : Ong yang mrêta guna sastra suda ya namah swaha.
Iki mantra pangsêngan sasantun : Ong ang mang siwa yogi pramasidyam suda ya namah swaha.

Uduh ta kita sanghyang catur dasa hyang pitara, paranta sangkane kita sanghyang catur dasa hyang pitara, anane mnga lawang iki, ring reh nora karyanteku upacara panilapatian maring sanghyang catur dasa hyang pitara iki, ah arêp age sanghyang catur dasa hyang pitara mangke, paranta karyanta ingkene, ingong anungsung kita sanghyang catur dasa hyang pitara, paran dera anungsung maring kami, sang cikrabala utpata sira, apan ingsun wruha ring kita, iki kita panadyaning sabdaningong. Mangke kacêta kawangsula kita, lah umêntasa kita sanghyang catur dasa hyang pitara. Mangke datêng tka sanghyang catur dasa hyang pitara, masabda bhatra siwa guru, Ih,ih,oh,oh, catur dasa hyang pitara paran kita prapta ngke, sakeng ndi sangkane kamung sanghyang catur dasa hyang pitara. Ih kita sanghyang catur dasa hyang pitara, sakti tmên pwa kita, lah ya inaturakna ring hyang Sinuhun. Apan kita huwus datêng sida sampurna ring sanmukan ingsun mangke, denadira sura roteng sila sasana agama, krêta simaning loka, bakti ring sarwaning hyang, tan aceda ring widi sastra agama, den mituhu ring sadnyan sang brahmana pandita, dwêg ring darmaning kosala, nguni duk aneng stiti ring bumi pancara karma, mangke ri tkaning mulih ta sanghyang atma kabeh, aninggalakên kama sariraning manusa pada, molih ta kita dalan apadang, tan hana bêncaneng laku, ring prasanakta duk dadinta kabeh, pada suka anuduhing marga bênêr. Sadya pwa kita molih lungguh tunggal lawan sang hyang siwa guru.

Mwah ta kita sanghyang catur dasa pitara, aku madana saji upakara panilapatiab inastuti dening puja mantranira sang brahmana pandita, ika dahating rangkêp kasadyaning lakunta sanghyang catur dasa pitara, antar aglis kita tka ring paraning kapti. Apan ikang catur dasa pitara, yatanyan maguna widya sastra, mwang darma kosala, kalanya stityeng pancara bumi, yapwan tan inangaskara dening panca pitropacara nilapati, kadyeki saranta lakunya.

Uduh kita sanghyang pitara kabeh, make kita huwus krêta lugraha alungguh alinggih nunggal ring swarganta kamulan tengah, denalanggêng kita, nunggil ring para dewata, ring kamulan pinaka swarga siwaloka, tan aglis mantuk ing madya pada, yan tan hana bwating lungguh, makadi sang brahmana raja rsi, ksatrya prabu, pangreh praja mandala, byuh asisya, byuh wadwa, kala samangkana ta kita wnang tumuruneng madya pada. Mwah sang kari ring marca pada, makadi tunggakan sanghyang catur dasa pitara kabeh, moga-moga anmu kawrêdyaning maurip. Tan kuranging catur boga, tan dahat katibaning sêngara baya, sakeng sanghyang catur dasa pitara kabeh apan sira huwus anglarakên panca pitropacara panilapatian.

Samangkana sadnyanira bhatara hyang Siwa Guru, maweh stana ring sanghyang catur dasa pitara kabeh. Umatur sanghyang pitara, Pukulun hyang Sinuhun, atur nghulun catur dasa pitara kabeh, apan akêdik atur sajin hulun, mantuk ring para dewata kabeh. Pitara samudaya, denaksamakna denira, para dewata kabeh, mangke sahananing saji-saji iki, inaturakên ring padaning hyang Sinuhun. Poma (3x). Lingira hyang Sinuhun, Uduh sanghyang catur dasa pitara kabeh, denaglis kita munggah swarga, tunggal tunggil, awor ing kamulanta, iki siwa loka, apan kita wnang rumaksa kabeh, apan kita tuhu wus kahêntas denira sang siwa yogiswara, denatusta kita pada munggah ring suralaya bwana, aja ta sang dewa catur dasa pitara simpang-simpang maring ranaknya ring nraka loka. Poma (3x).

Ring Kamulan ngaran ida sang hyang atma, ngaran sang paratma lawan sang sivatma. Ring kamulan tengah apupul atunggal ngaran raganya, brahma-wisnu-iswara dadi meme bapa, ngaran siwa meraga sang hyang tuduh. 

Ngaran ira sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, sang sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sanghyang tunggal, nungalang raga kaiket dening upacara panilapatian. 

Mwah atur sang catur dasa pitara, marêk ring hyang Sinuhun, lingira, Singgih pukulun hyang Sinuhun, risampunya sanghyang catur dasa pitara pada polih lungguh, mangke nugrahakna ican pukulun ring pari tusning sêntananira kabeh, mangda mangguh kawrêdyaning mahurip, kadirgayusaning mahurip, pêngpêng ring catur boga. Poma (3x).

Ong ayu wrêdi yasa wrêdi, wrêdi pradnya suka sriya, darma santana wrêdisca, santute sapta wrêdaya.

Kamis, 11 Juli 2024

Saraswati

UGRAWAKIA DUDONAN PIODALAN SARASWATI (Dane Jro Mangku Eka Suantara) 

1. Sang sane pacang ngantebang ngerereh genah melinggih ngemargiyang Tata Lungguh. 
#Tetimpug di bakar
#GONG MULAI MENABUH
#TARI PEPENDETAN

2. Dane Jro Mangku makarya/Ngajum Tirtha PANGRESIKAN
#TARI PEMENDAK

3. Dane Jro Mangku Ngaturang Puja Pangastawa
4. Ida Bhatara ring Tapakan Lingga Katur Pasucian lantur Katur segehan mancawarna. 
#TARI REJANG

5. Ida Bhatara melinggih ring suang2 pelinggih+Katur Ayaban Piodalan. 

7. Pamuspan
#Sadurung Pamuspan kekawitin, para pemedek natab PANGRESIKAN. 
#PUJA TRI SANDYA
#PANCA SEMBAH:
-Sembah Puyung
-Sekar Sembah ring Surya Aditya, Akasa lan Pertiwi
-Kwangen/sekar angkep majeng ring Ista Dewata sane maprabhawa Ida Bhatara Sanghyang Aji Saraswati
-Kwangen/sekar angkep majeng ring Ida Bhatara Samodaya sepisan nunas wara nugraha. 
-Sembah Puyung. 

8. Nedunang Pras dan Segehan
9. Nedunan Sesayut Panca Saraswati+Natab
10.Dane Jro Mangku Ngaturang Puja Simpen
11. Nunas Tirtha lan Bija

PUPUT
NGELUNGSUR PRASADAM upakara sane wus katur. 




Selasa, 09 Juli 2024

Pemargi Piodalan Saraswati

DUDONAN PAMARGI PIODALAN SARASWATI

Om Awignam astu

- Asuci laksana ( mesiram, mekramas )
Risampun Bantene puput sami, raris memben upekara Saraswati


Pemargi kadi ring sor puniki
1. Ngunggahang banten ring pelinggih soang-soang

2. Ngunggahang toya anyar ring Pelinggih soang-soang
3. Ngunggahang asep dupa ring pelinggih soang-soang

4. Banten PANGRESIKAN, Banten Arepan Dane Jro Mangku, Tapakan Lingga (ring Padmasana, ring Perpustakaan, ring Ruangan Bapak Kepala Sekolah, miwah ring Ruangan Guru) gelaraken ring ajeng penganteb/pemuput. 

5. Ring ajeng Dane Jro Mangku sampun wenten payuk pengendangan, wanci medaging penyeneng, toya anyar mewadah gelas   Kekalih (6), segehan, tetabuh arak berem, Sekar lan Dupa

6. Sang sane pacang ngantebang ngerereh genah melinggih ngemargiyang Tata Lungguh. 

#Tetimpug di bakar
#GONG MULAI MENABUH
#TARI PEPENDETAN

7. Dane Jro Mangku makarya/Ngajum Tirtha PANGRESIKAN;
a. Tirtha Panglukatan 
Pinih riin lukat para bhakti sane jagi ngemargiyang banten pengresikan, tapakan lingga, wawu mamargi lukat upakara sami, pelinggih sami, gedung, kantor, perpustakaan, rauh ke pemedek sami. 
(sane ngemargiyang Dane Jro Mk Eka Suantara) 

b. Tirtha Biyakala (ring sor) 
Pinih riin mamargi ke penimpug, wawu paten pemargine sekali ring ajeng. 
(sane ngemargiyang Ibu Gek Mas) 

c Tirtha Durmangala (ring tengah) 
Pinih riin mamargi ke penimpug, wawu paten pemargine sekali ring ajeng. 
(sane ngemargiyang Ibu Jyoti)

d. Tirtha Prayascita (ring luhur) 
Pinih riin mamargi ke penimpug, wawu paten pemargine sekali ring ajeng. 
(sane ngemargiyang Ibu Putri) 

e. Tirtha Pengulapa (ring luhur) 
Pinih riin mamargi ke penimpug, wawu paten pemargine sekali ring ajeng. 
(sane ngemargiyang Ibu Yuni) 

#TARI PEMENDAK

8. Dane Jro Mangku Ngaturang Puja Pangastawa
a. Sane mundut Tapakan Lingga 
(ring Padmasana Bapak Kepala Sekolah) 

b. Sane mundut Tapakan Lingga 
(ring Perpustakaan Bapak I Wayan Sura)

c. Sane mundut Tapakan Lingga 
(ring Ruangan Bapak Kepsek Bapak I Nyoman Sujana)

d. Sane mundut Tapakan Lingga 
(ring Linggih Ida Bhatari Durga Manik/Dalem Karang Ibu Sulastri)

Sami mundut ngadeg dumun ring ajeng padmasana.

9. Ida Bhatara ring Tapakan Lingga Katur Pasucian lantur Katur segehan manca warna mabe bawang jahe. 

10. Ida Bhatara melinggih ring Pelinggih suang-suang

11. Wus malinggih Ida Bhatara Katur Ayaban Piodalan. 

#TARI REJANG

12. Pamuspan
#Sadurung Pamuspan kekawitin, para pemedek natab PANGRESIKAN. 

#PUJA TRI SANDYA
#PANCA SEMBAH:
1) Sembah Puyung
2) Sekar Sembah ring Surya Aditya, Akasa lan Pertiwi
3) Kwangen/sekar angkep majeng ring Ista Dewata sane maprabhawa Ida Bhatara Sanghyang Aji Saraswati
4) Kwangen/sekar angkep majeng ring Ida Bhatara Samodaya sepisan nunas wara nugraha. 
5) Sembah Puyung. 

13. Natab Sesayut Panca Saraswati
14. Dane Jro Mangku Ngaturang Puja Simpen
15. Nunas Tirtha kan Bija
16. TARI-TARIAN
17. PUPUT
18. NGELUNGSUR PRASADAM upakara sane wus katur.