Selasa, 12 Maret 2024

Tampel Bolong

PESRAMAN DHARMA SIDHI SUDHA PRATAMA
BEKERJASAMA DENGAN
YAYASAN WIDYA DAKSHA DHARMA GRIYA AGUNG BANGKASA

MELAKSANAKAN BAYUH TAMPELBOLONG BOLONG 
Pada Hari Rabu Tanggal 10 April 2024
(Pananggal Ping Kalih Sasih Jiyestha; Gnirawana, Amerika Dewa, Sedana Yoga, Amertha Gati, Subacara, Kama Jaya, Dewa Ngelayang, Laku Air, Wisesa Segara, Ek:Buat Suka, Per:Sedayatana) 

TUJUAN BAYUH TAMPEL BOLONG

1. Ingin memperbaiki diri menuju kesempurnaan agar roh dapat mencapai Moksa. 
2. KELAHIRAN DALAM MEMPERBAIKI KARMA
3. BAYUH TAMPEL BOLONG itu wajib dilaksanakan karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Pada saat manusia hidup, mereka banyak melakukan perbuatan dan selalu membuahkan hasil yang setimpal.
4. Menurut ajaran agama Hindu, manusia berasal dari Tuhan karena dalam manusia itu terdapat adanya hakekat Tuhan, hidupnya, nafasnya, dan segala anggota badanya merupakan tempat kekuatan Tuhan. Oleh sebab karenanya manusia dengan Tuhan bisa dapat bersatu melalui 
upacara bayuh tampel bolong syg nantinya hukum deraan itu dapat di entaskan.

Bebaktan masing-masing peserta:

1. Pejati suang-suang keluarga siki/satu Kemulan
2. Daon dapdap 9 lembar
3. Kuwangen berisi pipil (nama dan oton), 
4. Dupa 5 
5. Segehan kepel putih kuning mabe bawang jahe asoroh perorang
6. Peniti/kancing 5
7. Benang tri satu (merah, putih dan hitam) dengan panjang 20 cm masing-masing orang membawa 3 piling benang tridatu. 

#Panitia menyiapkan:
A) Kapas kotak 🔲 kecil-kecil sebanyak peserta, ditaruh pada nare.
B) Siapkan Minyak Tanusan satu botol, genahang ring ajeng Ida Sinuhun. 
C) 2 buah pane yang agak besar
D) Kayu bakar, wot pesak secukupnya, kelapa yang sudah dibelah 5 dan sambuknya
E) Menyan halus, garam setengah kg, dan gula setengah kg di aduk jadi satu. 
F) biji jagung, biji kacang ijo, biji gabah, ketan, injin dan biji-bijian masing-masing dua genggam. 
G) Siapkan 2 Ember besar dan 3 ember tanggung lengkap gayungnya/cedok.
H) 2 Galon Air Laut
I) 7 Galon Air Pancoran dengan berbeda arah kecorannya. 
J) Siapkan Pengeras Suara 🔊 yang bisa di pindah-pindahkan.
K) Jepret/Kacip/Steples untuk menjepret Rerajahan pada Daun 🍃 Dapdap.

Sehari sebelum upacara matur piuning saja mabhakti ring merajan suang-suang majalaran antuk pejati jejerang sampai selesai upacara. 

Kuwangen yg berisi pipil dan dupa atur piuningin dumun sepisan nunas tirta Siwa guru/kemulan pundut tirta ida bhatara siwaguru ke tempat acara antuk pejati sukla. 

Kontak;
Jro Mk Gde Handre :
Jro Mk : 
Jro Mk :

Dudonan 

1. Puja sang Hyang agni, 
2. Madudus ring lebuh, 
3. Panglukatan ring brahma, 
4. Panglukatan ring Wisnu, 
5. Panglukatan panca wara, 
6. Penglukatan sapta wara, 
7. Ngemargiang pengresikan riin,
8. Penglukatan malaning wuku, 
9. Panglukatan TAMPEL bolong (melik, sanan empeg, telaga apit pancoran, pancoran apit telaga, kelahiran ontang anting, sukerta dll) 

10. Puja pajayan jaya, ngaturang sembah bakti, 
11. Natab upakara, 
12. Ngelungsur tilak minyak TAMPEL bolong
13. Nunas tirtha, 
14. Mabija lan 
15. Nglungsur prasadam, puput.

Punia Upacara
Punia Sarana Rerajahan Tampel Bolong
Punia katur ring Ida Sulinggih pinaka Pemuput

#BAYUH TAMPEL BOLONG DAN PAWINTENAN WIWA HANYA DIGELAR OLEH GRIYA AGUNG BANGKASA (Sudah diteliti secara Ilmiah dan diakui)

Senin, 11 Maret 2024

Ingatlah Akarmu

Setinggi-tingginya Pohon, Dia Harus Ingat Akarnya Berada di Mana
    
Pohon merupakan makhluk hidup yang bertumbuh setiap harinya. Setiap pohon memiliki ketinggian yang berbeda-beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Namun, apa yang perlu diingat adalah bahwa setinggi-tingginya pohon, dia harus ingat di mana akarnya berada.

Akar merupakan bagian pohon yang sangat penting, karena akar inilah yang menjadi penopang bagi pohon tersebut. Akar juga berfungsi untuk menyerap air dan nutrisi dari tanah guna keperluan fotosintesis pohon. Oleh karena itu, tanpa akar yang kuat, seberapa tinggipun pohon tersebut, maka pohon itu akan mudah roboh.

Sama halnya dengan manusia, meskipun kita sudah mencapai puncak kesuksesan, kita seharusnya tak lupa akan akar kita. Apa yang kita lakukan, dan siapa kita sekarang, berasal dari mana akar atau asal-usul kita.

Sebagai contoh, jika kita memiliki keluarga yang memiliki nilai-nilai positif dan memberi dukungan, maka kita sebagai individu pun akan tumbuh menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika kita tumbuh di keluarga yang tidak stabil atau kurang memberi dukungan, maka kita akan kesulitan tumbuh menjadi pribadi yang positif.

Demikian pula, jika kita sudah mencapai sukses dalam karir, maka janganlah lupa akan asal-usul kita dan jangan pernah meremehkan orang yang membantu kita dalam meraih kesuksesan itu. Kita tidak bisa sukses sendiri, namun butuh dukungan dari orang lain, seperti keluarga, sahabat, mentor, atau rekan kerja.

Dalam hidup ini, kita harus selalu ingat bahwa keberhasilan tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi kita bisa mencapai, namun juga dari akar kita yang memberi kekuatan dan arahan dalam hidup ini. 

Oleh karena itu jangan lupa akan asal-usulmu dan kenali nilai-nilai positif dalam hidupmu. Seperti kata pepatah, Yang tinggi akan tumbang, yang rendah akan merunduk. 

#tubaba@griyangbang//jangan lupakan akarmu//karena dari sanalah kekuatanmu berasal#



NGEMBAK Geni

NGEMBAK GENI
Istilah Ngembak Geni berasal dari dua kata yaitu nggembak dan geni.

Ngembak dalam bahasa setempat berarti terbuka atau bebas, sementara geni berarti api yang mempunyai sifat panas dan disebut sebagai lambang semangat.

Secara harfiah, Ngembak Geni berarti bebas menyalakan api, yang menandai waktu di mana umat Hindu di Bali bisa mulai beraktivitas seperti sedia kala.

Adapun pada hari Ngembak Geni diharapkan memunculkan semangat baru setelah melakukan perenungan dengan landasan Catur Brata Penyepian yang sudah dijalankan sebelumnya.

Selain itu, umat Hindu juga memiliki pegangan untuk mulat sarira atau introspeksi diri, sehingga menjadi cemeti untuk menatap masa depan yang lebih baik agar terwujud hidup yang damai (shanti) dan sejahtera (jagadhita).

Hari Ngembak Geni juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk menumbuhkan semangat baru dalam mengarungi hidup dan mencapai kehidupan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Tradisi pada Hari Ngembak Geni dilakukan dengan memanjatkan doa untuk memohon semoga Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Hal ini dilakukan agar Hyang Widhi Wasa menganugerahi jalan yang terang, terlepas dari kegelapan masa silam dan memiliki jiwa yang terang ketika memasuki tahun baru.

Hari Ngembak Geni kemudian dimanfaatkan para pemedek untuk melakukan persembahyangan kemudian dilanjutkan dengan pelukatan.

Biasanya umat Hindu juga akan melakukan Dharma Shanti pada hari Ngembak Geni.

Hal ini dilakukan dengan mengunjungi keluarga, kerabat, dan tetangga untuk saling memaafkan atas segala kesalahan yang telah atau mungkin terjadi sebelumnya.

Sabtu, 02 Maret 2024

Pamacekan Agung Ring Pundukdawa

PEMACEKAN AGUNG RING PUNDUK DAWA

Om Swastyastu
Lima hari setelah Hari Suci Galungan, tepatnya pada hari Soma Kliwon wuku Kuningan, dinamakan hari Pemacekan Agung. Secara etimogi Pemacekan berarti ‘saat menancapkan sesuatu’ dan kata Agung berarti ‘besar, mulia, utama’.

Pemacekan Agung di Pundukdawa mengandung makna, bahwasanya hari ini manusia khususnya Pretisentana Panca Rsi-Sapta Rsi diingatkan agar ‘kemenangan’ yang telah ia peroleh melalui pertempuran melawan adharma dijadikan sebagai ‘tonggak’ kebangkitan kesadaran diri, sebagai ‘pengukuhan’ komitmen untuk selalu menjaga martabat kemanusiaan, dan menghindarkan diri dari ‘momo angkara’.

Dalam lontar Dharma Kahuripan disebutkan: “Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma” (Pemacekan Agung, namanya demikian adalah pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sanghyang Dharma).

Pemacekan Agung di Pundukdawa adalah sebuah ‘tapasya’ atau janji diri untuk selalu mengedepankan dharma dalam setiap tindak-tanduk kita mengisi hidup-sehingga kemenangan yang telah kita raih tidak tersapu oleh godaan ahamkara.

Pemacekan Agung di Pundukdawa adalah saat dimana panji-panji dharma ditanjapkan, dan ditegakkan sehingga semua bentuk musuh baik yang berasal dari luar diri, pun yang bersumber dari dalam diri tidak memiliki kesempatan dan kekuatan melemahkan jati diri kita sebagai manusia (manusa sane masesana).

Om Santih Santih Santih Om

Sukses bukan tentang menjadi hebat

Sukses itu bukan tentang menjadi hebat, tapi seberapa besar kita bisa menjadi berkat

Orang tua adalah alasan anak untuk berjuang.
Dan anak adalah alasan orang tua untuk berjuang dan bertahan. 
Itulah alasan kenapa banyak orang tua rela berkorban. 
Bahkan memikirkan untuk dirinya sendiripun ga sempat. 

Begitu juga seorang anak berjuang keras demi membahagiakan orang tua mereka, menyenangkan dan membuat bangga orang tua. 

Hidup itu bukan hanya sukses membangun usaha, menjadi kaya, berhasil dalam bisnis.
Tapi juga membangun keluarga yang penuh kasih dan harmonis. 
Harta kekayaan suatu hari bisa saja menipis.
Tapi cinta dan kasih dari keluarga itu yang tak akan pernah habis.

Keluarga yang bahagia akan membawa sukses dalam pekerjaan. 
Sebaliknya sukses dalam pekerjaan juga bisa membahagiakan keluarga. 
Kekayaan bukan sekedar seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa besar kita mencitai dan dicintai. 
Mencintai orang tua tanpa imbalan. 
Mencintai anak tanpa tuntutan. 

Jangan pernah menunda membahagian untuk orang yang kita cinta. 
Nggak perlu menunggu besok atau lusa. 
Tapi sekarang saat mereka masih ada. 
Karena hari esok belum tentu hadir buat kita.
Bersyukurlah jika hari ini orang tuamu masih sehat. 
Bahagiakanlah mereka di saat kita masih sempat, di saat moment indah bersamamu masih bisa mereka ingat. 
Sebelum semuanya jadi terlambat.

Sukses bukan tentang menjadi hebat, tapi seberapa besar kita bisa menjadi berkat. 
Kaya bukan so materi tetapi bagaimana kita bisa menyalurkan berkat yang Tuhan beri. 

Hidup itu selalu penuh kejutan, dari melarat bisa menjadi konglomerat. 
Semua hinaan dan cacian bisa menjadi pujian.

TUHAN bisa saja membuat kita langsung kaya, tapi TUHAN lebih senang melihat kita berproses dan menemukan yang paling utama dalam berproses. 
Itu tandanya kita berakar, bertumbuh dan akhirnya menghasilkan buah melimpah.

#tubaba@griyangbang//mengikutialiranair//rahayu swaha#

Jumat, 01 Maret 2024

Tabuh Rah

Tabuh rah adalah penaburan darah sebagai ritual pelaksanaan bhuta yajña. Darah merupakan cairan yang digunakan sebagai alat penyeimbang bhuana agung dan bhuana alit. Selain itu, kegiatan ini dilakukan sebagai rasa syukur dan mempererat tali persaudaraan antar masyarakat. Sejalan dengan pelaksanaan piodalan, masyarakat mengisi kekosongan tersebut dengan melakukan tajen di pura jaba sisi. Masyarakat beranggapan bahwa setiap ayam adalah tajen karena terdapat tetesan darah. Sehingga dengan label tabuh rah masyarakat aman melaksanakan tajen.

Konsep kepercayaan akan adanya makhluk gaib menimbulkan kepercayaan tentang Ketuhanan, dalam agama Hindu konsep ini disebut teologi Hindu yang tertuang dalam upacara tabuh rah. Dewa Pasupati adalah Dewa Siwa atau istilah hibridanya adalah Ratu Gede Bebotoh atau Sang Hyang Langka Angon sebagai Bhatara Guru menggunakan tabuh rah sebagai media untuk mengajak manusia menjalani permainan adu ayam bukan untuk menjadikannya sebagai babotoh, melainkan sebagai pribadi yang berpihak pada otoritas.

Sabtu, 24 Februari 2024

PANCHANANA

Lima Wajah Siwa (Panchanana)


Dewa Siwa dianggap sebagai salah satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu dan diyakini sebagai perwujudan Brahman yang paling terkemuka. Menurut Lingga Purana, ada lima wajah Dewa Siwa yang dikenal dengan nama Panchanana Siwa. Ini mewakili lima aspek kunci Siwa. 

Dewa Hindu Siwa terhubung secara suci dengan angka lima. Hal ini diwujudkan dalam lima mantra dan suku kata yang melambangkan kesaktiannya. Setiap mantra menandakan kepala yang berhubungan dengan energi feminin yang berbeda, disebut Shakti. 

Lima aspek Siwa dijelaskan dalam Purana, dihubungkan dengan lima elemen, lima indera, lima organ persepsi, dan lima organ tindakan.



1. Ishana: Terkait dengan Srishti Shakti (Kekuatan Penciptaan)

2. Tatpurusha: Terkait dengan Thoridhana Shakti (Kekuatan Penyembunyian)

3. Aghora: Terkait dengan Samhara Shakti (Kekuatan Pembubaran)

4. Vamadeva: Terkait dengan Stithi Shakti (Kekuatan Rezeki)

5. Sadjyota: Terkait dengan Anugraha Shakti (Kekuatan Berkah)

Lima Wajah Siwa Dengan Mantra
Setiap wajah Dewa Siwa melambangkan karakter yang unik. 

1. Ishana menghadap ke tenggara dan membawa aspek Iswara Siwa. 

2. Tatpurusha berada di timur dan melambangkan aspek kemanusiaan Siwa dan ego Siwa. 

3. Aghora berada di selatan dan melambangkan sifat destruktif dan regeneratif Siwa. 

4. Di sebelah utara berdiri Vamadeva, melambangkan penyembuhan, perlindungan, dan pelestarian alam oleh Siwa. 

5. Terakhir, di sebelah barat adalah Sadyojata yang menggambarkan sisi kreatif Siwa. 
Secara keseluruhan, lima wajah Siwa (Panchanana Siwa) melambangkan kesaktiannya.

Lingga Purana, sebuah teks suci kuno, berbicara tentang lima aspek Dewa Siwa yang diyakini melambangkan lima aspek penciptaan, lima tubuh manusia, lima napas, lima arah, lima elemen, lima indera, lima warna, lima energi , lima pembagian waktu, dan lima ras manusia. 

Dengan memahami masing-masing aspek tersebut, kita dapat memperoleh wawasan lebih dalam mengenai sosok dewa yang dihormati dalam agama Hindu. Berikut lima wajah mantra Siwa:

1. Ishana – Tuhan
Ishana dikenal sebagai penguasa penciptaan. Ia sering dikaitkan dengan chit-shakti atau kekuatan pikiran, dan biasanya mewakili elemen bumi atau udara dalam beberapa konteks. 

Selain itu, Ishana dikaitkan dengan pengetahuan ritual Weda, dan kekuatan manifestasi dalam pikiran. Dari segi indera, ia mewakili indera peraba dan tangan. Dari segi ikonografi, ia digambarkan dengan wajah menghadap ke atas. 

Ishana biasanya digambarkan dengan kulit perunggu. Dalam karya seninya, Ishana digambarkan memegang simbol-simbol kekuasaannya, antara lain Weda, kail gajah, tali, kapak, tengkorak, gendang, rosario, dan trisula. 

Dewa Siwa juga sering terlihat bersama seekor kambing betina. Tangannya diangkat dengan dua cara: 

yang satu dalam perlindungan (abhaya) 
seseorang yang menyampaikan harapan (varada).


2. Tat-Purusha – Makhluk Kosmik
Tat-Purusha adalah Wisnu, Penguasa Pelestarian. Dia adalah telur kosmik, atau Hiranyagarbha, pembawa kegembiraan dan makanan serta pemimpin pengorbanan kosmik. 

Ia juga dipandang sebagai matahari, yang terbit membawa pengetahuan dan kelimpahan materialistis (Sri Siva Tattva). Ia dikaitkan dengan unsur air dan dipandang sebagai indra penciuman di antara organ indera dan anus di antara organ tubuh.

Tat-Purusha sering digambarkan dengan tiga mata dan empat wajah dengan pakaian kuning. Dia sering ditampilkan di hadapan Gayathri. Secara simbolis, Tat-Purush melambangkan arah Timur dan dikaitkan dengan rona emas.

3. Vamadeva – Sang Penyembunyi
Vamadeva menutupi Tatpurusha, di balik tirai khayalan. Dia kebalikan dari Tatpurusha. Warnanya, merah, melambangkan kekuatan tindakannya, yang dikenal sebagai kriya-shakti, dan unsur udara. Namun aspek yang paling menentukan dari Vamadeva adalah egoisme yang ada dalam dirinya, atau yang disebut dengan anava.

Vamadeva adalah indra penglihatan dan berhubungan dengan kaki pada organ tubuh. Dalam representasi dirinya, ia biasanya berwarna merah atau teratai dan memakai ornamen merah. 

Ia terlihat memiliki empat tangan, salah satunya memegang rosario dan tangan kedua memegang kapak. Tangan ketiga dan keempat diposisikan sebagai isyarat perlindungan (abhaya) dan pemberian anugerah (varada).


4. Sadyojata – Yang Mengungkapkan
Sada Shiva, makhluk abadi dan pemberi rahmat. Dikenal karena spontanitas dan kemampuannya untuk mewujudkan (yojata sedih), Sada Shiva sering dipandang sebagai pemimpin kegembiraan (Nanda) dan kenikmatan (Sunanda). Ia merupakan representasi pengetahuan yang membebaskan (jnana shakti) dan dikaitkan dengan unsur ruang.

Warnanya putih, melambangkan sattva, atau kesucian. Ini adalah sisi utara dari lima sisi. Digambarkan berkulit putih, ia memegang Weda dan tasbih di dua tangannya, sedangkan dua tangan lainnya melambangkan sikap perlindungan dan pemberian anugerah. Selain itu, Sadyojata dipandang mewakili pikiran dan juga indera perasa.


5. Aghora – Sang Penghancur
Aghora adalah tokoh sakti yang disebutkan dalam Weda sebagai ayah dari dewa perang Maruts dan Rudras. Ia dikenal sebagai orang yang tidak dikuasai rasa takut dan siap berperang. Ia terhubung dengan unsur api dan merupakan perwujudan keinginan (dikenal sebagai iccha-shakti).

Ia juga diyakini sebagai personifikasi dharma – kekuatan hukum dan tindakan hukumannya. Apalagi Aghora melambangkan buddhi, diskriminasi, indera pendengaran, dan alat bicara. Di saat yang sama, dia adalah sosok yang diasosiasikan dengan kehancuran.


Aghora biasanya berwarna hitam atau merah tua. Dalam bentuk panchanana, ia menggambarkan arah selatan. Dalam gambar, ia digambarkan sebagai dewa galak dengan empat wajah dan sembilan tangan yang masing-masing memegang berbagai simbol seperti kapak, perisai, kail gajah, jerat, tombak, tengkorak, gendang, dan rosario.


Lima mempunyai arti penting dalam agama Hindu, terutama yang berkaitan dengan Dewa Siwa. Salah satu mantra Dewa Siwa yang paling dihormati, Namah-Siwaya, juga terdiri dari lima suku kata.

Dewa Siwa, yang dipuja di kalangan umat Hindu, diyakini menunjukkan lima bentuk penting yang penting bagi keberadaan kita, kelanjutan, transformasi, pemurnian, dan pembebasan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari lima wajah Siwa dan memujanya sesuai dengan itu.