Jumat, 19 Mei 2023

Upacara Adhi Diksita Munggah Bhawati

JRO MANGKU GDE KETUT UNTUNG YOGA dan JRO MANGKU ISTRI NI WAYAN SUSILA BAKTIASIH

Radite, Kliwon Tolu (18 Juni 2023) 
 
Proses Aguron-Guron para umat yang mengambil jalan ke-Panditaan (Brahmana) dalam hal ini perjalanan seorang sampai menjadi Pandita Mpu tidaklah mudah, karena melalui waktu dan proses batin yang panjang. Aguron-Aguron ini dimulai dari ”Eka Jati” dengan menjadi Pemangku (Pinandita), berlanjut menjadi Jro Mangku Gede, dan ketika sudah memenuhi syarat, maka dilanjutkan ”Diksa Ida Bhawati” yang berarti sudah dalam ”Rahim” sebelum lahir (Embas) menjadi Brahmana (Pandita)

Untuk meningkatkan status kepemangkuan yakni dari pemangku menjadi pandita, JRO MANGKU GDE KETUT UNTUNG YOGA dan JRO MANGKU ISTRI NI WAYAN SUSILA BAKTIASIH, Radite, Kliwon Tolu (18 Juni 2023)  melaksanakan upacara nyambung griya "Adhi Diksita Madeg Bhawati" Di Griya Asitha Sari Mengwi. 

Upacara Adhi Diksita Madeg Bhawati, nyurud ayu piodalan di Merajan Kapurusan Griya ASITHA Sari Mengwi. Hadir menyaksikan upacara tersebut PHDI Kabupaten Badung, MGPSSR Kecamatan Mengwi, para Kepala Wilayah baik dinas maupun lembaga adat, para pemangku, pandita serta warga setempat.  Upacara Adhi Diksita Madeg Bhawati tersebut salah satu rentetan upacara sebelum menjadi Pandita Mpu. Upacara Adhi Diksita Madeg Bhawati ini merupakan suatu upacara mati raga yang dilaksanakan  pemangku tersebut sebelum nantinya didiwijati untuk menjadi pandita.

“Prosesi upacara matiraga ini dilaksanakan selama kurang lebih 1 jam, dengan tujuan untuk membersihkan diri dari ikatan–ikatan keduniawian,” demikian diungkapkan oleh Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yaksa Acharya Manuaba. Selain itu, setelah melalui upacara Adhi Disita Madeg Bhawati ini, para Jro Mangku yang diupacarai saat ini akan mengikuti pendalaman–pendalaman tentang Weda selama kurun waktu 6 bulan hingga 2 tahun, sebelum nantinya diupacarai kembali dengan prosesi upacara  dwijati untuk proses menjadi pandita. Disebutkan pula, upacara Adhi Diksita Madeg Bhawati ini terlaksana berkat dukungan dan partisipasi seluruh semeton, Keputusan, Panitia dan MGPSSR Kecamatan Mengwi.

Kegiatan upacara yang dilaksanakan saat ini sebagai dasar pelaksanaan untuk menjadi sulinggih. Dengan kegiatan ini diharapkan pula dapat meningkatkan rasa persatuan dari seluruh semeton. Sementara pada upacara Adhi Diksita Madeg Bawati yang dilaksanakan ini diawali dengan upacara melukat, selanjutnya para pemangku tersebut melaksanakan upacara mati raga untuk selanjutnya dilahirkan kembali dengan prosesi upacara seperti upacara kelahiran pada umumnya yang ditapak Nabe Ida Pandita Mpu Nabe Daksa Yaksa Acharya Manuaba.

Dalam kehidupan manusia sesuai dengan ajaran sastra kita mengenal adanya empat tahapan hidup yang disebut Catur Asrama. Pada tahapan Wanaprasta dan Bhiksuka menjadi sangat spesipik karena sudah mengarah pada tingkat hidup untuk melepaskan keduniawian. Salah satunya adalah dengan meningkatkan diri dalam hal kesucian lahir dan bhatin.

Sebagai seorang yang sudah menjalankan dan memilih cara hidup menjadi orang suci tentu akan banyak sekali harus mengadaptasi kehidupan kepada jalan kemuliaan. Seorang Eka  jati terlebih lagi seorang yang sudah madeg bhawati dituntut untuk mengetahui dan harus selalu menjalankan swadharma dan sesana sebagai sebuah ketentuan disiplin. Seperti ajaran Tri Sila Parartha ( Asih, punia, bhakti ), Catur Parimita, Trikaya Parisudha Panca Yama dan Nyama Brata serta ikatan disiplin dalam kehidupan kerokhanian yang disebut dengan Catur Bandana Dharma yang meliputi : Amari Aran : bahwa yang bersangkutan wajib merubah namanya sebagai walaka dengan nama baru sebagaimana diberikan oleh Nabenya. Amari Sesana : bahwa yang bersangkutan harus maninggalkan tugas kewajibannya semula dan menggantikannya dengan sasana kawikon. Dalam hal ini seorang Eka jati/Ida Bhawati dibebaskan dari tugas kewajiban selaku warga masyarakat biasa. Amari Wesa : bahwa yang bersangkutan harus mengganti identitas dirinya dengan identitas Bhawati, misalnya tidak boleh lagi bercukur. Juga harus mengikuti disiplin penggunaan pakaian waktu upacara dan penggunaan pakain sehari-hari. Dan Umulahaken Kaguru Susrusan : bahwa yang bersangkutan harus melaksanakan dengan ketat, taat, dan patuh serta berdisiplin mengenai ajaran yang diberikan Nabe.


Selasa, 16 Mei 2023

Olah Pikir, Perasaan dan Perbuatan

Elingan "Pikiran, perasaan, dan perbuatan ternyata saling terhubung"

Pikiran kita adalah sebuah katalis untuk siklus yang terjadi di dalam diri kita. Apa yang kita pikirkan akan berpengaruh langsung terhadap apa yang kita rasakan dan kita ingin lakukan. 

Misalnya jika kita berpikir kita akan gagal maka kita akan merasakan kegagalan itu dan bertingkah seolah kita sudah gagal. Hal ini akan memperkuat keyakinan kita bahwa kita memang ditakdirkan untuk gagal. Bahkan ketika kita sukses kita akan menganggap itu sebagai keberuntungan semata.

Sebaliknya jika kita berpikir kita akan sukses, pikiran positif ini akan membuat kita optimis dan melakukan hal-hal yang produktif. Kesempatan kita untuk mencapai kesuksesan pun akan semakin tinggi.

#tubaba@griyangbang//olahpikir//olahperasaan//olahperbuatan#

Minggu, 14 Mei 2023

Tips kerja

TIPS & TRIK AMPUH UNTUK MEMBANGKITKAN SEMANGAT KERJA KARYAWAN KOPERASI MAHA DAKSA SANDHI
Persaingan bisnis di era modern kian ketat dan sengit. 

Koperasi KMDS yang ingin meningkatkan daya saing ataupun memenangkan kompetisi, tentu harus berbenah. Salah satu aspek yang krusial adalah kualitas sumber daya manusia. 

Jika karyawan KMDS tidak diberi suntikan semangat maka mereka pasti enggan memberi nilai lebih kepada Koperasi Maha DAKSA Sandhi.  

Oleh karena itu, manajer KMDS harus memotivasi sedemikian rupa agar karyawan mau memberikan kinerja terbaik yang mendukung pertumbuhan Koperasi KMDS. 

Namun demikian, manajer harus menghindari cara-cara yang bersifat memerintah atau memaksa.  

Buku ini berisi sejumlah tips praktis dan inspiratif bagi manajer untuk memotivasi karyawan di tempat kerja. 

Melalui buku ini, Anda akan memahami bahwa kinerja dan produktivitas karyawan dapat ditingkatkan tanpa melalui paksaan atau tekanan. 

Beragam cara santun dan sederhana yang dipadukan dengan teknik motivasi para karyawan Koperasi KMDS menjadikan buku ini wajib Anda kuasai guna melejitkan semangat kerja karyawan. 

Beberapa Point Penting yang Ada Dalam Buku ini :
๐ŸšฉMengakui dan Memuji Pencapaian Karyawan.
๐ŸšฉPeduli terhadap Kesejahteraan Karyawan.
๐ŸšฉMendorong Penguasaan Keterampilan Baru.
๐ŸšฉMembuat Jenjang Karier yang Jelas.
๐ŸšฉMemperhatikan Keseimbangan Kerja, dll. 


Jumat, 12 Mei 2023

๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š— ๐š™๐š˜๐šœ๐š’๐š๐š’๐š

๐™ฒ๐™ฐ๐š๐™ฐ ๐™ผ๐™ด๐™ฝ๐™ถ๐™ฐ๐š๐™ฐ๐™ท๐™บ๐™ฐ๐™ฝ ๐™ฟ๐™ธ๐™บ๐™ธ๐š๐™ฐ๐™ฝ ๐™ฟ๐™พ๐š‚๐™ธ๐šƒ๐™ธ๐™ต ๐™ฐ๐™ถ๐™ฐ๐š ๐šƒ๐™ธ๐™ฝ๐™ณ๐™ฐ๐™บ๐™ฐ๐™ฝ ๐™ฟ๐™พ๐š‚๐™ธ๐šƒ๐™ธ๐™ต ๐™ณ๐™ฐ๐™ฝ ๐™ท๐™ธ๐™ณ๐š„๐™ฟ ๐™ฟ๐™ด๐™ฝ๐š„๐™ท ๐™บ๐™ด๐™ฒ๐š„๐™บ๐š„๐™ฟ๐™ฐ๐™ฝ

๐™น๐šŠ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐š‘๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ ๐™ฑ๐™ด๐š๐™ฟ๐™ธ๐™บ๐™ธ๐š ๐šž๐š—๐š๐šž๐š” ๐š–๐šŽ๐š—๐š๐šž๐š‹๐šŠ๐š‘ ๐š‘๐š’๐š๐šž๐š™ ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ. ๐š‚๐šŽ๐š‹๐šŠ๐š•๐š’๐š”๐š—๐šข๐šŠ, ๐™ป๐™ฐ๐™บ๐š„๐™บ๐™ฐ๐™ฝ!

๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐š‘๐šŠ๐š›๐šž๐šœ ๐š–๐šŽ๐š—๐š๐šž๐š‹๐šŠ๐š‘ ๐šŒ๐šŠ๐š›๐šŠ ๐š‹๐šŽ๐š›๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›: ๐š™๐šŠ๐š”๐šœ๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š๐š’๐š›๐š’ ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šž๐š—๐š๐šž๐š” ๐š–๐šŽ๐š–๐š’๐š•๐š’๐š”๐š’ ๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š— ๐š™๐š˜๐šœ๐š’๐š๐š’๐š, ๐š๐šŠ๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐š•๐šŽ๐š‹๐š’๐š‘ ๐š‹๐šŠ๐š‘๐šŠ๐š๐š’๐šŠ. 

๐™ฐ๐š๐šŠ๐šž ๐šŸ๐š’๐šœ๐šž๐šŠ๐š•๐š’๐šœ๐šŠ๐šœ๐š’๐š”๐šŠ๐š— ๐š’๐š–๐š™๐š’๐šŠ๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ, ๐š๐šŠ๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐š’๐š”๐š–๐šŠ๐š๐š’ ๐š”๐šŽ๐š‹๐šŽ๐š›๐š‘๐šŠ๐šœ๐š’๐š•๐šŠ๐š—๐š—๐šข๐šŠ; ๐šŠ๐š๐šŠ๐šž ๐š‹๐šŽ๐š›๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐š•๐šŠ๐š‘ ๐šœ๐šŽ๐š™๐šŽ๐š›๐š๐š’ ๐š“๐šž๐š๐šŠ๐š ๐šŠ๐š—, ๐š๐šŠ๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐š”๐šŠ๐šข๐šŠ; ๐š๐šŠ๐š— ๐šœ๐šŽ๐š๐šŽ๐š›๐šž๐šœ๐š—๐šข๐šŠ. 


Rabu, 10 Mei 2023

Perbedaan antara Kebenaran dengan pembenaran

Perbedaan antara Kebenaran dengan pembenaran adalah :

1.Kebenaran bersifat ketuhanan sedang pembenaran bersifat manusiawi,dengan kata lain; Kebenaran berkaitan dengan pandangan ketuhanan-konsep ketuhanan semacam prinsip dualisme-sistem ketuhanan semacam hukum kehidupan pasti. Sedang pembenaran akan berkaitan dengan pemikiran pemikiran yang lahir dari isi kepala manusia semacam ideologisme, filsafat maupun filosofi yang dapat berbeda serta berlawanan satu sama lain

2.dengan kata lain, Kebenaran bersandar pada Tuhan, kehendak serta konsepsiNya sedang pembenaran bergantung pada kehendak serta sudut pandang sudut pandang manusiawi bahkan kepada perasaan perasaan emotional individu maupun golongan manusiawi

3.Kebenaran bersifat tunggal serta bersifat mutlak sedang pembenaran bersifat majemuk-beraneka warna yang dapat berbeda serta berlawanan satu sama lain serta sifatnya yang relatif

Minggu, 07 Mei 2023

Nabe Siksa

Apa itu Nabe Siksa di Kepurusan Griya Agung Bangkasa
Nabe Siksa adalah mereka yang memberikan kita pergaulan rohani, memberikan petunjuk rohani dan diskusi sekala maupun niskala. (Nabe Siksa ngaran Sekala Niskala Wastu Kancana). 
Seorang Nabe siksa itu harus seorang sanyasin/mereka yang sudah mencapai tingkat nabe spiritual dan paling dituakan di kapurusan Griya Agung Bangkasa. 
Disebut sebagai nabe siksa karena merekalah yang membuat kita tertarik dan masuk dalam jalan kerohanian kesadaran dalam penurunan ajaran kerohanian dalam suksesi/garis perguruan (parampara), yang menanggung beban dalam membimbing seorang murid/nanak dharma dan membuka tabir kegelapan dunia materialnya menuju dunia spiritual. 
Jadi nabe siksa itu kedudukannya diatas nabe tapak, nabe waktra dan nabe saksi. Dengan kata lain nabe siksa adalah seorang instructor dalam memahami kerohanian. Hanya kapurusan Griya Agung Bangkasa saja yang memiliki nabe siksa dalam garis kapurusan kasulinggihan. 
 

Sabtu, 06 Mei 2023

Aguron-guron

Sistem Ajaran Aguron-Guron Griya Agung Bangkasa
Model sistem pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa menggunakan sebuah sistem pendidikan yang dikenal sebagai "garis kapurusan param-pร ra". Sistem ini dilaksanakan dengan cara “pengas-ramaan" oleh para guru/nabe terhadap para sisya/muridnya yang kemudian memperoleh bobot kontekstual terkait dengan konsep jรฑร na yajรฑa, trikร ya parisuddha, triguru dan konsep Sรฌlร cara lainnya, dan model Pendidikan dalam Naskah Silakrama

Pendidikan aguron-guron dikembangkan atas dua sub model. Model pertama dikembangkan dengan ideologi sakala ‘realis' dengan tujuan Parartha ‘kesejahtraan', yaitu agawe suka nikang rat ‘menjadikan siswa berkarakter dan dapat bekerja untuk kebahagiaan bersama di dunia. Sedangkan yang kedua adalah ideologi niskala ‘idealis' dengan tujuan paramartha, yaitu matutur ikang atma ri jatinya ‘menjadikan siswa sadar akan jati dirinya, bahwa ia sesungguhnya adalah roh' atau sinar Ilahi. Model pendidikan aguron-guron merupakan kearifan lokal yang menjungjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi. Oleh karena itu terus diperhatikan dan dikembangkan untuk memelihara karakter bangsa, membangun landasan teori pendidikan dan pembelajaran berbasis budaya.

Aguron-Guron adalah proses berguru dalam pembelajaran khusus untuk dapat menjadi seorang sulinggih yaitu pada tingkatan bhiksuka dimana telah terlepas dari ikatan duniawi yang bertujuan untuk dapat memantapkan dan mengabdikan hidup sepenuhnya dibidang kebenaran dan kesucian dimana dalam beberapa kitab suci disebutkan :

Guru sebagai Nabe, maksudnya seorang guru mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi kemampuan pembelajaran peserta didik.
Upaya guru membentuk moral siswa,
dipertegas lagi dalam kitab Sarasamucchaya,
sebagai berikut:
“…prawrtyaning manah rumuhun ajarakna,
tlu kwehnya, pratyekanya, si tan engin
adngkya ri drbyaning len, si tan krodha ring
sarwa sattwa, si mamituhwa ri
hananing karmapala, nahan tang tiga
ulahaning manah, kahrtyaning indriya
ika…”

Terjemahannya:
“…ajarkanlah terlebih dahulu hakikat
pikiran kepada anak didik, yang terdiri atas
tiga bagian, yaitu tidak dengki kepada milik
orang lain, tidak marah kepada segala
makhluk, dan meyakini adanya hukum
karma. Demikianlah gerak pikiran harus
dikendalikan melalui pengendalian hawa
nafsu…”

Selama masa aguron-guron, siswa
yang pasrah dan tulus penuh kepada seorang
guru akan mendapatkan berkah berupa
kemampuan untuk mengatasi keakuan palsu
siswa. Keakuan palsu merupakan penghalang
paling besar dan paling kuat dalam perjalanan
siswa untuk mendapatkan ilmu agama.

Dalam Manawa Dharmasastra II seloka 169 dan 170, disebutkan proses pembelajaran ini dilaksanakan agar nantinya dapat melahirkan para sulinggih seperti berikut :
- Satyawadi; memberikan wejangan penuh tata krama, 
- Apta; selalu berkata benar, 
- Patirthaning-Rat; kehadirannya membawa kesejukan, dan 
- Upadesa (memberikan pencerahan).

Lontar Silakrama sebagai sasana bagi para sulinggih dan para sadhu agar nantinya juga dapat mengamalkan ajaran etika, tata susila dalam mengabdikan hidupnya di bidang kebenaran dan kesucian hati.

Lontar Silakramaning Aguron-Guron sebagai berikut:
“…iti Silakrama warahana maring
kayosihan rusit ing rusit ika, yadyan kurang
apangrasa, lamun umiring sarasa ning
Silakrama, pada dening sida mntas, yan
ahyun wruha tlasaning pangrasa, makadi
wruha tlasaning pangrasa kang ginuru
maka nguni ika ta anลซt sarasa ning
Silakrama…”

Terjemahannya:
“…ajaran moral Silakrama ini hendaklah
diajarkan kepada anak didik dengan penuh
kasih sayang, dengan segala kepelikannya,
sekalipun anak didik belum mampu
merasakan hikmahnya dengan sempurna,
tetapi jika siswa bersungguh-sungguh
mendalami dan menghayati segala nilai dan
makna ajaran moralsilakrama, anak didik
akan mampu menemukan jalan terang
menuju kemerdekaan lahir batin. Apalagi
benar- benar mendalami dan menghayati
hingga ke puncak segala rasa, terutama
tujuan akhir pembelajaran yang dibelajarkan
oleh guru, bilamana didasari dan sesuai
dengan ajaran Silakrama (etiket)”.

Silakramaning aguron-guron merupakan bentuk ketaatan, keikhlasan pengabdian sisya/murid terhadap guru yang harus dibuktikan melalui kesungguhan dan keseriusan untuk mengabdi dan mendedikasikan dirinya secara total terhadap gurunya. Pengabdian tersebut ditunjukkan dengan loyalitas kerja tanpa mengenal lelah untuk kepentingan gurunya. Dengan begitu sisya/murid akan diakui, dihargai dan nantinya akan diberikan tuntunan serta penghargaan berupa ilmu pengetahuan dan mantera-mantera yang berguna bagi murid tersebut. Seorang sisya/murid wajib tunduk kepada perintah guru (guru susrusa), dan dirinya dianggap berhasil apabila ia mampu melayani dan melakukan hal terbaik yang diperintahkan gurunya. Demikian yang dilakukan oleh seorang sisya/murid Arunika, Utamanyu, Weda dan Utangka di dalam cerita Dhomya Adiparwa ini. Sebagai sisya/murid masing-masing mampu melakukan pekerjaan sesuai yang diinginkan oleh gurunya.

Dimana dalam Lontar Wratisasana disebutkan untuk tercapainya tingkat kesempurnaan.
Diusahakan untuk dapat hidup sederhana; 
- Tidak mewah, 
-Tidak hura-hura, 

Dan berlaku yang ringan dalam kehidupan ini.
Gemar belajar (adhyaya), mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan (adhyapaka), rajin belajar (swadhaya), rajin berpantang dan upawasa (brata), tekun memusatkan pikiran (dhyana), dan rajin menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (yoga) seperti seorang brahmana;
Menekuni kehidupan spiritual dan ketuhanan;
Serta mampu menujukkan kemahirannya tentang Weda baik teori maupun praktek dalam kehidupan sehari-hari.

Di Griya Agung Bangkasa, proses pembelajaran aguron-guron dari seorang sisya kepada seorang Guru Nabe ini dalam beberapa istilah disebutkan sebagai berikut :
- Nabe sebagai guru utama dalam proses pendidikan & pembelajaran khusus dalam tradisi aguron-guron.

- Sisya, para murid sebagai calon pendeta (sulinggih) yang hendak menerjunkan diri dalam hidup keagamaan sebagai “parasraya”.

Guru dan murid adalah satu kesatuan dimana akan selalu ada ikatan bathin antara guru dan murid.

Pada waktu seseorang melakukan diksa/dwijati, Seorang sisya akan lahir kedua kalinya yang pertama lahir dari rahim Ibu dan yang kedua lahir dari gurunya sebagai putra dharma. 

Sehingga ada prosesi napak Guru sebagai perwujudan Siwa di dunia dengan selalu menghormati guru maka apa yang beliau ajarkan akan meresap di dalam diri.

Karena demikian pentingnya peran guru maka hati-hatilah memilih seorang guru. Di dalam Lontar Siwa Sasana dikatakan syarat-syarat sesorang yang patut di jadikan guru/acarya/sadhaka sebagai Nabe yaitu :
- Ahli weda,yang menguasai bagian-bagian Sanghyang Catur Weda.
- Teguh melaksanakan Dharma dan yasa kirti.
- Berbudi baik, tabah, teguh hati dalam tapa brata.

- Dapat menaklukan hawa nafsu, dapat melepaskan diri dari kenikmatan duniawi.
Memiliki sifat satya :
- Selalu berkata jujur, setia pada janji dan dia tidak berkata yang kasar, memfitnah, berbohong, menghina sesama sadhaka, tidak menghina orang lain.
- Dan tidak mencerca kerja dan brata sesama sadhaka.
- Selalu mengucapkan kata kata yang benar manis dan lemah lembut, menarik hati dan bersahaja

Dia tidak licik, sombong dan congkak seperti :
- Tidak memiliki sifat matsarya, sifat dengki dan iri hati yang disebutkan hanya akan menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan ini.
- Tidak memiliki sifat Metraya yang penuh dengan kepalsuan spiritual.

Dia selalu berpikir bersih, tenang, pengampun, kasih sayang, tidak mudah marah, selalu lapang hati berdasarkan catur paramita (maรฎtri, karuna, mudita dan upeksa).
Keutamaan guru yang berbudi luhur seperti disebutkan :

Lakshmi duhkha sahasrani
Samsara papa nasanam
Parate naraka nasty
Siwa lokam avapnutyat

Inilah kemuliaannya dia yang berguru kepada yang maha suci ialah :
Hilangnya noda kecemaran orang itu. Atau ia tidak akan tersentuh oleh segala marabahaya, duka nestapa, bebas dari samsara malapataka. 

Berapun banyaknya kepapaan orang, berapapun besarnya, meskipun seribu banyaknya, sebesar bumi dan gunung semeru besarnya dan beratnya, tentu akan lenyap dan hilang sama sekali. Bila didiksa (diinisiasi) oleh pandita guru maha pandita.
Besarnya kesucian pandita guru maha agung mampu menghilangkan papa muridnya. Sebab itu maka hendaknya dipilih pandita guru yang dapat dijadikan tempat berguru oleh sisyanya.

Dalam mengungkap model pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa ini juga dikembangkan dengan ideologi sakala dan niskala :
Secara sekala yaitu ‘realis’ dengan tujuan Parartha ‘kesejahtraan’, yaitu agawe suka nikang rat ‘menjadikan siswa berkarakter dan dapat bekerja untuk kebahagiaan bersama di dunia ini.
Sehingga ajaran tri parartha itu sudah sepatutnya selalu dipahami dan di amalkan oleh umat manusia, dengan demikian kesempurnaan hidup ini akan menjadi kenyataan.
Sedangkan secara niskala ‘idealis’ dengan tujuan paramartha, yaitu matutur ikang atma ri jatinya ‘menjadikan siswa sadar akan jati dirinya, bahwa ia sesungguhnya adalah roh’ sebagai inti yang menjiwai setiap makhluk hidup untuk dapat kembali ke asalnya.
Dengan selalu berpedoman pada dasa paramartha sebagai penuntun dalam tingkah laku yang baik untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi (Moksa) yaiu sukha tan pa wali dukha.

Ajaran aguron-guron di Griya Agung Bangkasa ini sebagai penddikan berbasis kearifan lokal yang menjungjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi;
Oleh karena itu terus diperhatikan dan dikembangkan untuk memelihara karakter bangsa, membangun landasan teori pendidikan dan pembelajaran berbasis budaya.

Uniknya sistem ajaran aguron-guron di Griya Agung Bangkasa ini dikenal dengan adanya sebutan guru siksa. Apa itu Guru Siksa di Kepurusan Griya Agung Bangkasa? 

Guru artinya berat/menanggung beban.
Guru Siksa adalah mereka yang memberikan kita pergaulan rohani, memberikan petunjuk rohani dan diskusi. 

Seorang guru siksa itu harus seorang sanyasi/mereka yang sudah mencapai tingkat guru spiritual dan paling dituakan di kapurusan Griya Agung Bangkasa. Disebut sebagai guru siksa karena merekalah yang membuat kita tertarik dan masuk dalam jalan kerohanian kesadaran dalam penurunan ajaran kerohanian dalam suksesi/garis perguruan (parampara), yang menanggung beban dalam membimbing seorang murid dan membuka tabir kegelapan dunia materialnya menuju dunia spiritual. Dengan kata lain guru siksa adalah seorang instructor dalam memahami kerohanian.

Jadi dalam sistem ajaran aguron-guron di Griya Agung Bangkasa ini, Ida Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba lah di menyandang sebutan sebagai Guru Siksa itu. 

Lontar Silakramaning Aguron-Guron
merupakan sebuah teks didaktik yang
mengandung ajaran moral seorang siswa dalam proses pembelajaran. Konsep-konsep yang ditawarkan penuh dengan nilai dan makna edukatif yang layak dijadikan sumber acuan.
Moral yang ditanamkan dalam ajaran Lontar
Silakramaning Aguron-Guron adalah moral
yang memiliki esensi keluhuran budi dan
kelakukan baik. Aguron-guron adalah proses
pembelajaran yang diberikan seorang guru
kepada muridnya. Sistem pendidikan aguron-
guron merupakan suatu proses pembelajaran
mengenai pendidikan moral budi pekerti luhur, dengan harapan agar mencapai perkembangan
kepribadian sikap mental dan budi pekerti yang
luhur dengan jalan mengamalkan ajaran Sang
Hyang Widhi Wasa. Selama masa aguron-
guron, siswa yang pasrah dan tulus penuh
kepada seorang guru akan mendapatkan berkah berupa kemampuan untuk mengatasi keakuan palsu siswa. Dalam konteks ini hubungan Guru dengan siswanya adalah bahwa peran guru sangat penting untuk tidak semata membimbing, tetapi guru harus bisa menjadi contoh suri teladan bagi siswanya.
Upaya untuk menanamkan moral pada
anak didik dimulai dengan pencermatan dan
membangun kesadaran pada diri anak didik
tentang kelemahan sepuluh indria yang ada di
dalam diri. Kesepuluh indria itu sangat rentan
memengaruhi pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia. Sehingga guru sangat berperan penting dalam membangun moral anak didik dengan memberi keteladanan dan penuh kesabaran, serta membangun suasana
pembelajaran yang kondusif, nyaman, aman
bagi anak didik sehingga anak didik merasa
dekat dengan guru. Lontar Silakramaning
Aguron-Guron menegaskan bahwa siswa tidak
semata mendalami ilmu pengetahuan, tetapi
para siswa harus memiliki moral yang baik agar pengetahuan yang didapatinya tidak semata untuk kepentingan dirinya, tetapi harus mampu diabdikan demi kepentingan orang banyak, yang tercermin dari sikap moralnya; baik dikaitkan dengan Tuhan, alam sekitarnya, dan sesama manusia.


Komponen Pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa dalam pendidikan aguron-guron mencakup :
(1) Komponen pelaku pendidikan, yaitu guru yang memberikan materi belajar. 
Dalam hal ini Guru adalah orang yang patut dimuliakan; pembimbing spiritual (Zoetmulder, 1995: 321; 322; 1371). Sugriwa, (1967: 1-3) dalam Dwijendra Tatwa (Riwayat Hidup Dhanghyang Dwijendra) menguraikan tentang nama-nama guru agama Hindu Bali yang dikenal, baik zaman Bali purba maupun setelah mendapat pengaruh ajaran Siwa Sidharta dan Buddha Mahayana yang disebut Hindu atau Agama Hindu Bali yaitu: Dhanghyang Markandeya, Empu Sangkul, Sira Empu Manik Angkeran, Ma-harsi Anggastya, Empu Kuturan. 

(2) Komponen Bahan Belajar atau Materi Pendidikan Agama. Dalam Kitab Upanisad menguraikan tentang belajar, yaitu merupakan usaha pendewasaan diri yang melibatkan interaksi antara siswa (sisya) dengan gurualam proses belajar (adhyaya) dan mengajar (adhyaapayitum) yang sekarang dikenal sebagai pembelajaran (svadhyaya adhyaapayitum atau svadhyaya pravacane). 

Kata kunci pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa adalah kesiapan dari kedua belah pihak, murid maupun guru. Sistem aguron-guron di Griya Agung Bangkasa  menekankan pembelajaran dengan pendekatan partisipatif. Siswa aktif menyusun pengetahuan sendiri dengan berbagai macam cara atau metode pembelajaran seperti mengembangkan kemampuan bertanya, berdiskusi, meneliti perilaku alam dan lain-lain. Sebagai contoh adalah Satyakama yang dianjurkan Rsi Gautama menyusun pengetahuan secara mandiri dengan meneliti perilaku dan tanda-tanda semesta sebelum mengkaji landasan tattwa secara mendalam (Chandogya Upanisad). Upanisad menjamin siswa mengembangkan kreativitas, berinovasi melewati garis-garis kebiasaan dalam pembelajaran, 

(3) Komponen Cara Penyampaian atau Metode Pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa. Dalam Pedoman Pembinaan Umat Hindu yang telah dapat rekomendasi atau pengesahan pada Pesamuan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia yang berlangsung pada tanggal 4-7 Februari 1988, menetapkan metode pendidikan agama Hindu adalah (a) Dharma Wacana; (b) Dharma Tula; (c) Dharma Gita; (d) Dharma Shantih; (e) Dharma Yatra; dan (f) Dharma Sadana. 

(4) Komponen Sasaran Didik dan Pembinaan. Dalam Upanisad menekankan bahwa belajar merupakan esensi hidup manusia. Secara tradisi ada dua cara belajar dalam ajaran Upanisad. Belajar secara interaktif dengan guru (gurukulo) dan belajar tanpa bimbingan guru (swadhyaya). Terkait dengan hal ini, sumber-sumber yang digunakan untuk mendukung proses belajar terdiri dari sumber yang berasal dari guru (gurutah) dan sastra (sastratah) yang dapat dilihat dalam bentuk pustaka maupun referensi lainnya. 

(5) Menilai Hasil Pembinaan Pendidikan Hindu. Ajaran-ajaran yang diberikan oleh guru kepada murid-muridnya tidak diberikan sembarangan. Dalam artian, siswa yang akan mendapat pengetahuan/ajaran tersebut harus melewati beberapa prosesi yang telah ditetapkan oleh sang guru. Ketika tiba saatnya, maka sang guru akan memberitahu kepada murid yang telah dianggapnya memenuhi syarat tersebut. Pengamatan sang guru terhadap siswa yang akan dipilih dan memenuhi syarat dilakukan secara cermat, seksama dan terus-menerus sepanjang waktu.

Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentu-kan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. Media pembelajaran dalam bentuk PowerPoint/LCD berisi gambar-gambar bergerak yang dilengkapi dengan audio untuk memudahkan pemahaman materi terutama materi-materi yang sulit dipahami bila hanya menggunakan tulisan dan gambar atau foto.