Senin, 08 Januari 2024

DOA RAT

DOA RAPAT AKHIR TAHUN KOPERASI MAHA DHAKSA SANDHI
 
Mohon ijin doa akan saya pandu secara Hindu, mohon agama lain menyesuaikan…

OM SWASTIASTU
OM AWIGNAMASTU NAMO SIDHIYAM. 
OM ANUBADRAH KERTAWIYANTU WISWATAH. 

Oṁ sam gacchadwam sam wadadwam
sam wo manamsi jānatām
dewa bhagam yatha purwe
samjānāna upasate.


Oṁ samani wa akutih
samānā hrdayāni wah
samānam astu wo
mano yatha wah susahasati.
Oṁ ano bhadrah krattawo yantu wiswatah

Oṁ Hyang Widhi Wasa, hamba berkumpul di tempat ini hendak bicara satu dengan yang lain untuk menyatukan pikir sebagai mana halnya para dewa selalu bersatu. Ya Sang Hyang Widhi Wasa, tuntunlah kami agar sama dalam tujuan, sama dalam hati, bersatu dalam pikiran hingga dapat hidup bersama dalam sejahtera dan bahagia. Ya Sang Hyang Widhi Wasa, semoga pikiran yang baik datang dan segala penjuru.)

 
OM HYANG WIDHI, Ya Tuhan Yang Maha Pengasih,
 
Kami agungkan segala anugrah kebesaran-mu, karena engkau zat yang mulia, kami cakupkan tangan haturkan puja puji kehadirat-mu, karena engkaulah zat yang maha mengabulkan segala permohonan hamba-mu. Pada saat ini kami hadir bersama dalam acara RAPAT AKHIR TAHUN KOPERASI KOPERASI MAHA DHAKSA SANDHI. 

OM HYANG WIDHI, YA TUHAN KAMI,
Jadikanlah acara yang kami laksanakan ini sebagai acara yang engkau anugrahi, yang engkau barkahi, dengan limpahan Amertha dan anugrah-mu.
 
OM HYANG WIDHI, Ya Tuhan Yang Maha Pengampun
 
Jadikanlah segala kegiatan KOPERASI MAHA DHAKSA SANDHI
yang kami laksanakan ini sebagai salah satu upaya bagi kami dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran dan peningkatan ekonomi bagi Keluarga Besar KOPERASI MAHA DHAKSA SANDHI, Jauhkan kami dari segala rintangan dan segala hal yang mengundang Murka Mu, serta sinarilah hati sanubari kami dengan berkah anugrag-mu, limpahkan nikmat dan karunia-mu agar kami dapat menata hari esok yang lebih baik dan lebih indah dari pada hari ini.
 
OM HYANG WIDHI, YA TUHAN KAMI,
 
Tanamkan sifat sopan dan santun-mu kepada kami semua, rasa persatuan dan kesatuan persaudaraan, rasa kasih sayang rasa saling memiliki dan rasa etos kerja yang tinggi, di antara kami agar tetap terjalin utuh.

Om Mantra hinam Kriya hinam Bhakti hinam Maheswara, 
Yad Pujitan Mahadewa Paripurnam Tad Astu Me. 

Ayu werdhir Yasa werdih Werdih Pradnya sukha sriyam Dharma Santana Wrdhis'ca Santu Te Sapta Werdhayah. 

Om Dirghayur Nirwighna Sukha Wridhi Nugrahakam. 

Oh Iswara Yang Agung, Mantra Kami Tiada Sempurna, Perbuatan Kami Tiada Sempurna Pula. Karena Itu Kami Memujamu, Oh Iswara Yang Agung, Semoga Kami Dikaruniai Kesempurnaan (Di Dalam Melakukan Tugas)

OM HYANG WIDHI, Ya Tuhan Yang Maha Pengampun
 
Ampunilah dosa dan kesalahan kami, ampunilah dosa dan kesalahan kedua orang tua kami serta ampunilah dosa dan kesalahan para pemimpin kami, terimalah do`a dan permohonan kami ini.

OM SHANTI SHANTI SHANTI OM. 

Minggu, 07 Januari 2024

MUDAHNYA BERAGAMA HINDU

MUDAHNYA BERAGAMA HINDU
Ada banyak opini yang tersebar diberbagai media maupun dalam percakapan sehari-hari, bahwa menjadi orang bali yang beragama Hindu sangat berat, penuh dengan upacara, banyak larangannya, banyak kewajibannya. Khusus untuk upacara, bahkan ada persepsi bahwa resepsi itu terlalu berat secara ekonomi bahkan sampai menyebabkan kemiskinan. Akhirnya sampai pada kesimpulan takut menjadi orang Bali, takut menjadi orang Hindu. Jauh lebih enak dan praktis pada agama lain. Padahal sesungguhnya, kalau kita pahami dengan baik dan bisa kita lakukan intepretasi terhadap ajaran agama, sebenarnya menjadi orang Hindu itu sangat mudah dan simple. Tidak ribet.
Mengapa dikatakan tidak ribet, berikut diantaranya alasannya.

Agama Hindu sangat fleksibel. Tidak ada kekakuan bahwa melaksanakan agama Hindu harus seperti ini dan harus seperti itu. Tidak ada kewajiban mutlak untuk berpuasa sekian hari; tidak ada kewajiban mutlak untuk sembahyang sekian kali sehari sampai meninggalkan pekerjaan; tidak ada ancaman hukuman neraka kalau kita tidak melakukan sesuatu; tidak ada ancaman neraka kalau kita makan daging hewan tertentu dan seterusnya.
Agama Hindu sangat bisa menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Agama Hindu ibaratnya air jernih yang mengalir, yang tanpa warna. Warna air kita lihat akan terantung dari warna tempat yang dilalui. Pelaksanaan agama Hindu bukan saja boleh di sesuaikan dengan kondisi local, melainkan harus di sesuaikan. Prinsip ini secara umum dikenal dengan Desa-Kala-Patra (menyesuaikan diri dengan tempat, waktu, dan kondisi objektif yang ada).
Agama Hindu mengajarkan untuk menghargai budaya lokal. Penganut agama Hindu dimanapun berada tidak harus sama dengan penganut di India. Budaya local harus dipertahankan dann dijadikan pembungkus atau kulit luar dari pelaksanaan Agama Hindu. Sebagai contoh, orang Hindu  dari etnis Jawa silakan menggunakan pakaian tradisional Jawa, Umat Hinndu di Kaharingan Kalimantan juga dipersilahkan menggunakan pakaian tradisional Dayak Kaharingan, tidak harus memakai sorban atau memakai Dotti seperti orang India.
Pelaksanaan upacara keagamaan di dalam agama Hindu juga sangat fleksibel. Ukurannya bisa di sesuaikan, waktunya bisa disesuaikan, tempat juga bisa menyesuaikan. Untuk ukuran upakara misalnya, sudah diberikan pedoman mulai dari yang paling kecil (Kanista), yang menengah (Madya), sampai yang paling mewah (Utama). Dan perlu ditegaskan bahwa Knista, Madya dan Utama bukanlah merupakkann indicator atau penentu kualitas sebuah upacara, melainkan hanya merupakan ukuran besar kecilnya serta kompleksitas upacara yang sedang dilakukan. Kanista artinya Inti, pokok, yang utama, bukan rendah atau hina. Upacara yang besar belum tentu berkualitas dbandingkan upacara yang kecil atau sederhana. Bahkan upacara yang besar bisa kualitasnya rendah, kalau pelaksanaanya sangat dipengaruhi oleh sifat Rajasika atau Tamasika, seperti keinginan pamer, adu gengsi, bersaing dengan orang lain. Ini tergolong Rajasika Yadnya, bukan Satwika Yadnya.

Pengantar Siwa Sidanta

Oleh :

Ni Nyoman Gandu Ningsih 
(Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manuaba)

Nim : 2112101045.

1.  Jelaskan apa yang dimaksud dengan Siwa Siddhanta dan apa yang menjadi dasar dari ajarannya! (20)

Jawaban:

Saiva Siddhanta adalah paham yang berisikan ajaran – ajaran dari Tuhan Siva. Jadi dapat dikatakan bahwa (paksha atau Sampradaya) itu adalah paham yang berkembang pesat di daerah India selatan. Adapun inti sari dari paham Saiva Siddhanta adalah Saiva sebagai realitas tertinggi, jiva atau roh pribadi adalah intisari yang sama dengan Saiva, walaupun tidak identik.


2.   Jelaskan bukti-bukti sejarah pengaruh Siwa Siddhanta di Nusantara! (20)

Jawaban:

Siddhanta sampai di Bali yang merupakan kelanjutan dari Jawa Timur. Pada saat kerajaan Majapahit mengalami kehancuran, banyak masyarakatnya berdatangan ke Bali guna menyelamatkan diri dari Kerajaan-kerajaan Islam. Penyebaran Siwa Siddhanta ini sampai ke Bali tentunya berkat jasa para orang suci dari Jawa Timur, karena awalnya di Bali pada jaman prasejarah hanya memiliki kepercayaan kepada roh yang berstana di gunung terutama kepercayaan kepada roh nenek moyang, juga ada kepoercayaan terhadap alam nyata dan tidak nyata. Penyebaran Siwa Siddhanta ini di Bali untuk pertama kalinya dilakukan oleh Rsi Markandeya sebagai orang suci dan yogi dari India yang memiliki pasraman di lereng gunung Raung Jawa Timur. Bertempat di kaki gunung Agung ( di Besakih ) Rsi Markandeya menanam Panca Datu berupa perak, tembaga, emas, besi, dan campuran keempat logam. Menurut ND Pandit bahwa Rsi Markandeya adalah orang yang pertama- tama mengajarkan agama Siwa di Bali dan mendirikan Pura Wasuki di lereng Gunung Agung. Perkiraan masuknya Siwa Siddhanta dikuatkan dengan adanta temuan berupa pecahan fragmen prasasti di Pejeng yang berbahasa Sansekerta yang memuat mantra Buddha (Yete Mantra) yang diperkirakan dari tahun 778 M, awal prasasti ada berbunyi “Siwas ddh” dan menurut R. Goris bahwa itu berbunyi “Siwa Siddhanta”. Pada abad ke 11 datanglah ke Bali seorang Brahmana Buddha dari Majapahit yaitu Mpu Kuturan, dimana pada awal kedatangannya di Bali sudah melihat banyak kenyataan bahwa banyak sekte-sekte telah berkembang. Beliau sangat berperan dalam proses menyatukan berbagai macam aliran atau sekte yang berkembang di Bali. Atas wahyu Hyang Widhi beliau mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Tri Murti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat. Paham tri Murti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widi dalam posisi horizontal (pangider-ider).


3.   Dalam ajaran Siwa Siddhanta dikenal konsep Tri Purusa. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Tri Purusa dan apa melatar belakangi pembagiannya! (20)

Jawaban:

Tri Purusa adalah tiga nama Siwa dalam konsep vertical. Adapun bagian-bagian dari Tri Purusa yakni:

1. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan tampa aktifitas, ada dimana-mana dan maha tahu.

2. Sada Siwa adalah tuhan yang sudah memiliki fungsi, sifat, aktifitas dan sudah menunjukan kemahakuasaan-Nya. Kemahakuasaan Tuhan ini dipersonifikasikan dalam wujud dewa-dewa, seperti: Dewa Brahma dalam fungsinya sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai fungsinya pemelihara dan Dewa Siwa dalam fungsinya sebagai dewa pelebur alam beserta isinya.

3. Siwa atau Siwatman adalah tuhan yang sudah terkenah pengaruh oleh keduniaan, yang member hidup (jiwa) pada semua mahluk di dunia ini.

Secara etimologi Tri Purusa Berasal dari Kata "Tri" yang artinya tiga dan "Purusa" yang berarti sang penyebab adanya sesuatu, yang menghapus kekosongan, mewujudkan sesuatu, atau yang menghapus ketidaktahuan. Purusa juga dapat diartikan sebagai jiwa atau atman yang berasal dari paramaatma atau Tuhan yang Maha Esa.


4.   Jelaskan tentang maya tattwa dalam ajaran Siwa Siddhanta! (20)

Jawaban: 

Maya Tattwa disebutkan,

Maya berarti semu,

sedangkan istilah Tattwa dalam hubungan ini berarti filsafat. 

Maya Tattwa berarti filsafat tentang segala sesuatu yang bersifat semu. Maya adalah segala sesuatu yang bersifat tidak kekal dan selalu mengalami perubahan.


Alam semesta beserta isinya inipun dapat juga dikatakan bersifat maya, maka itu selalu mengalami perubahan. 

Misalnya dalam hidup ini kita selalu mengalami siang dan malam, panas dan dingin, hidup dan mati, susah senang. 

Hanya Tuhanlah yang bersifat abadi, selain daripada itu, semuanya bersifat maya. Kedua sifat cetana dan acetana ini dalam Wrhaspati Tattwa dikatakan bahwa Cetana bersifat kekal dan Acetana bersifat maya.

Maya Tattwa itulah yang menyebabkan semua mahluk menjadi Awidya dan selalu mengalami Punarbhawa. Disamping itu maya juga merupakan Sadhana atau alat bagi orang beriman untuk mencapai kelepasan atau moksa, ketentraman rohani sebagai dasar kebahagiaan abadi.


5.   Jelaskan ajaran yoga dalam Siwa Siddanta Nusantara! (20) 

Jawaban:

Ajaran Yoga dalam Siwa Siddanta Nusantara merupakan ajaran terpenting dalam agama Hindu. Dalam sejarah Agama Hindu di Nusantara telah ditemui istilah Yogiswara dalam peradaban pra-Weda, yaitu dalam peradaban Harappa. Dan istilah Yogiswara menjadi istilah sangat penting dalam ajaran Siwa-Agama maupun Budha-Agama, yang juga diwarisi di Indonesia. Dalam sejarah kesusastraan Hindu di Indonesia misalnya, Kakawin Ramayana sebagai karya sastra tertua yang ditulis di Indonesia, pengarangnya disebut sebagai Sang Yogiswara.

Tiga istilah yaitu Yogiswara, Muniswara dan Kawiswara, adalah istilah-istilah yang begitu produktif dipakai dalam khasanah kesusastraan Kawi. Ketiga istilah tersebut berhubungan satu dengan yang lainnya, dan diikat oleh benang merah ajaran yoga. Seorang Yogiswara atau seorang Mahayogi jelas adalah orang yang melakukan praktik yoga dan telah mencapai puncak tujuan praktik tersebut; seorang Muniswara atau seorang Mahapandita yang juga disebut seorang Mahasadhaka, adalah juga orang yang melaksanakan praktik yoga, karena sadhaka artinya Ia yang melaksanakan sadhana yoga; sementara itu seorang Kawiswara atau seorang Mahakawi atau pujangga besar diketahui melaksanakan Yogasastra, yaitu melaksanakan praktik yoga dalam proses penciptaan karya sastra, dan menjadikan karya sastranya sebagai Candi bahasa atau Candi Sastra. Demikianlah ketiga istilah tersebut dihubungkan oleh satu kata yaitu praktik yoga atau yoga-sadhana, dengan menampilkan diri berbeda dalam pandangan umum. Hal ini juga menyebabkan timbulnya istilah kawi-wiku.

Oleh karena itu sudah dapat dipastikan seorang Yogiswara, Muniswara, maupun seorang Kawiswara kiranya memiliki acuan pokok yang sama, berupa ajaran yoga. Kakawin Dharma Sunya menyuratkan pada awalnya sebagai berikut:

ambek san kawi siddha suddha kadi sagara gumawana teka nirmala, iccha nispriya sara nin kalenenan yatika pasamudaya nin rasa, tatwajnana wekas nikan paramasastra sira ta pinakadipandita, saksat linga nikan sarat pinaka dipa yasa nira huwus prakasita// say sampun kretatattwa mankana wenan mijilakena kawitwa rin sabha, saksat hyan paramesthi labdha mananugraha ri sira rikan kasatwikan, lawan yukti nikan saraswati huwus ri hidep ira wisesa tan kasah, naha hetu nira n prasiddha sawuwus nira ya", manaran kawiswara//.

Di sini ditegaskan seorang kawi yang telah sempurna suci bagaikan samudra; Beliau bebas dari keinginan, Beliau menjadi sarinya keindahan dan kumpulan rasa. Beliau memahami hakikat Tattwajnana (pengetahuan tentang kenyataan tertinggi), Paramasastra (Pustaka-pustaka utama), sehingga Beliau disebut sebagai Pandita Utama. Beliau benar-benar bagaikan Lingganya dunia, Beliau adalah penerangnya dunia dan karya-karyanya menyebar luas. Beliau yang telah mencapai tingkat seperti itu patut menghadirkan karya sastra kepada masyarakat kias. Beiau benar-benar bagaikan telah mendapat anugerah dari Hyang Paramesti berupa ajaran kebenaran. Serta Hyang Saraswati bersatu dengan-Nya. Itulah sebabnya segala kata-katanya berhasil sehingga Beliau disebut seorang Kawiswara.

Petikan di atas telah menegaskan bahwa ada sumber pokok yang menjadi bacaan utama baik seorang Kawi maupun seorang Pandita, yaitu antara lain berupa Tattwajnana dan Parama-sastra. Itulah sebabnya dapat kita duga bahwa kitab-kitab Tattwa mengandung ajaran Yoga, dan kitab-kitab tersebut terwariskan sampai sekarang. Di samping itu karya-karya sastra jelas merupakan tuangan ajaran yoga itu sendiri, malah memuat bagaimana ajaran itu dipraktekkan, diwujudkan dalam proses bersastra.

Kamis, 04 Januari 2024

Pawiwahan Jro Mk Mako

UPACARA MANUSA YADNYA
PAWIWAHAN

I Wayan Gunadi

Putra pertama dari pasangan I Nyoman Subrata dengan almarhum Ni Gusti Ayu Oka Suartini 

Alamat: Jalan Imam Bonjol no 181, Banjar Monang-maning. 

Dengan

Luh Murtini 
Putri ke lima dari pasangan  I Nengah Wija dengan  Nyoman Nuringin. 
Alamat: Banjar Suwug Kelodan Singaraja 


Om Swastyastu

Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha
Esa, Kami Bermasuk Mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i pada upacara Manusa Yadnya

(Pawiwahan) putra-putri kami, yang akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal : Senin, 15 Januari 2024
Waktu : 09.00 Wita – Selesai
Tempat : Griya Agung Bangkasa, Jalan Tangsub No. 4, Br. Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Badung-Bali. 

Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami apabila Bapak/Ibu/Saudarai
berkenan hadir dan memeberikan doa restu kepada kedua mempelai.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Kami yang berbahagia
Kedua mempelai

Susunan Acara/Prosesi Pernikahan

Susunan Acara/Prosesi Pernikahan 

Ritual pernikahan adat merupakan warisan leluhur yang perlu dilestarikan. Cari tahu apa saja makna dibalik prosesi pernikahan adat Bali berikut ini.

Bali memang masih sangat kental dengan ritual-ritual kebudayaan yang masih dipegang erat sampai sekarang. Setiap perayaan besar, ritual kebudayaan pasti tak pernah ketinggalan. Termasuk pada momen pernikahan, Bali memiliki adat sendiri tentang bagaimana prosesi pernikahan dijalankan. 

Pernikahan tentu menjadi momen besar bagi setiap orang, terlebih lagi bagi masyarakat Bali. Pasalanya, di Bali, orang yang sudah menikah mendapat status menjadi warga penuh dalam masyarakat. Orang yang sudah menikah bisa mendapatkan hak serta kewajiban lebih yang tak bisa didapatkan saat masih lajang. 


Prosesi Pernikahan Adat Bali
1. Menentukan Hari Baik 
Prosesi pernikahan adat Bali dimulai dengan penentuan hari baik yang dilakukan setelah calon mempelai pria meminang calon mempelai wanita yang dalam bahasa Bali disebut memadik atau ngindih. Masyarakat Bali masih sangat percaya akan hari baik untuk menggelar pernikahan. Pada hari baik yang telah dipilih tersebut lah nantinya calon mempelai wanita akan dijemput lalu dibawa ke rumah calon mempelai pria. 

2. Upacara Ngekeb 
Jika kamu sudah sering mendengar prosesi siraman pada pernikahan adat Jawa, Upacara Ngekeb merupakan prosesi serupa khas adat Bali. Namun terletak perbedaan diantara dua prosesi adat ini, kalau pada adat Bali, mempelai wanita akan terlebih dahulu dilulur dengan ramuan yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga dan beras yang telah ditumbuk halus, serta air merang untuk keramas. 

Pada saat menjalankan ritual Ngekeb, calon mempelai wanita tidak diperbolehkan keluar dari kamar sejak sore hari sampai rombongan keluarga calon mempelai pria menjemputnya keesokan harinya. Selain persiapan secara lahiriah, mempelai juga memperbanyak doa kepada Sang Hyang Widhi untuk dianugerahkan kebahagiaan dan anugerah-Nya.

3. Penjemputan Calon Mempelai Wanita
Kalau kebanyakan pernikahan adat melakukan sebagian besar prosesinya di kediaman calon mempelai wanita, berbeda dengan adat Bali. Pernikahan adat Bali memiliki prosesi menjemput calon mempelai wanita untuk melaksanakan rangkaian prosesi di rumah calon mempelai pria.

Sebelum meninggalkan rumah, calon mempelai wanita dibalut kain kuning tipis dari atas kepala sampai ujung kaki. Kain kuning ini melambangkan bahwa calon mempelai wanita menguburkan kehidupannya sebagai wanita lajang dan memasuki kehidupan baru berumah tangga. 


4. Upacara Mungkah Lawang (Buka Pintu) 
Prosesi dilanjutkan dengan acara mengetuk pintu sebanyak tiga kali oleh seorang utusan, bukan oleh calon mempelai pria. Kedatangan mempelai ini akan diiringi tembang yang dinyanyikan oleh seorang malat atau utusan mempelai pria. Syairnya berisikan kehadiran mempelai pria ingin menjemput mempelai wanitanya. 

Lalu malat dari mempelai wanita akan membalas dengan tembang bersyairkan sang mempelai wanita siap dijemput. Setelah mendapat persetujuan, mempelai pria pun membuka pintu dan menggendong mempelai wanita menuju tandu untuk dibawa ke rumah keluarga pria tanpa didampingi orang tua. 

5. Upacara Mesegehagung
Prosesi pernikahan adat Bali selanjutnya adalah upacara Mesegehagung yang merupakan ritual penyambutan mempelai wanita setibanya di kediaman mempelai pria. Kedua mempelai diturunkan dari tandu dan bersiap melangsungkan upacara Mesegehagung. Lalu mempelai wanita dan ibu dari mempelai pria pun bersama menuju kamar pengantin. 

Di dalam kamar, ibu dari mempelai pria membuka kain kuning yang dikenakan mempelai wanita lalu menukarnya dengan uang kepeng satakan (mata uang pada masa lampau) senilai dua ratus kepeng.

6. Upacara Mekala-kalaan (Madengen-dengen) 
Berikutnya acara dilanjutkan dengan ritual mekala-kalaan atau madengen-dengen. Tujuan dilakukannya upacara ini ialah menyucikan kedua mempelai dari hal negatif. Prosesi ini akan dimulai tepat saat genta berbunyi dan dipimpin oleh seorang pemimpin agama atau pemangku adat, tergantung dari adat dan budaya masing-masing daerah. 

Menyentuhkan Kaki pada Kala Sepetan
Upacara mekala-kalaan pada pernikahan adat Bali akan dimulai dengan kedua mempelai berputar sebanyak tiga kali mengelilingi sanggar pesaksi, kemulan, dan penegteg. Mempelai wanita membawa bakul perdagangan sementara mempelai pria memikul tegen-tegenan. Keduanya harus menyentuhkan kaki pada kala sepetan. 

Ritual selanjutnya sangat sederhana, mempelai pria membeli bakul yang dibawa mempelai wanita. Ritual jual beli ini memiliki makna agar saat berumah tangga nanti kedua pasangan bisa saling melengkapi, mengisi, dan memberi hingga mencapai tujuan bersama.

Menusuk Tikeh Dadakan
Tikeh dadakan adalah anyaman tikar yang terbuat dari daun pandan. Tikeh dadakan akan dipegang oleh mempelai wanita, sementara itu mempelai pria menyiapkan keris. Menurut kepercayaan Hindu, tikeh dadakan melambangkan kekuatan Sang Hyang Prakerti (kekuatan yoni), sedangkan keris pria menyimbolkan kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga).

Memutuskan Benang
Terakhir, prosesi memutuskan benang ini akan menjadi penutup upacara Mekala-kalaan. Pada ritual ini, kedua mempelai akan menanamkan kunyit, talas dan andong tepat di belakang merajan atau sanggah (tempat sembahyang keluarga), yang bertujuan untuk melanggengkan keturunan keluarga. Setelah itu baru keduanya memutuskan benang pada cabang dadap (papegatan) sebagai analogi bahwa kedua pasangan ini siap menanggalkan masa remaja. 

7. Upacara Mewidhi Widana (Natab Banten Beduur)
Seusai melaksanakan upacara Mekala-kalaan, ritual pernikahan adat Bali dilanjutkan dengan upacara Mewidhi Widana yang dilaksanakan di pura keluarga pihak mempelai pria, dipimpin oleh pemangku sanggah serta diantar pinisepuh. Pada prosesi yang penuh dengan suasana syahdu ini, kedua mempelai menyampaikan doa akan kehadiran keluarga baru kepada leluhur untuk melanjutkan keturunannya. 


Rabu, 03 Januari 2024

Dharma Wacana – Rarahinan Siwa Ratri

Dharma Wacana – Rarahinan Siwa Ratri


OM Suastiastu,

Inggih ida dane sareng sami, sampun pada pawikan, rahina mangkin Prawaning Tilem Kepitu/Caturdasi Kresnapaksa Maghamasa, sane sampun kaloktah kawastanin Rarahinan Siwa Ratri. Maosang indik Siwa Ratri, sampun kalumrah pisan ring pambiaran, duaning ida dane umat Hindu pamekas, sampun ngalaksanayang sabilang warsa.

Ring jagat Nusantarane pamekas ring Bali, indik Siwa Ratrine punika, sampun dados unteng beblibagan ring pasantian, mapiranti antuk Kekawin Siwa Ratri Kalpa, pinaka sastra Jawa Kuno, sane kekawi olih Mpu Tanakung, ring Bali kabaos Kekawin Lubdhaka. Duaning makeh ida danene durung cacep ring basa Kawi/Jawa Kuno, para pangawi Baline katah makarya kekawian marupa Parikan Lubdaka, sane ngangge basa Bali Lumrah. Indike punika maka cihna umat Hindu ring Bali oneng ring daging cakepanne punika.


Unteng dagingnyane wantah satua, satuan Sang Lubdaka. Sang Lubdaka punika wenten maosang Sang Nisada, Sabara miwah Pulinda, sane mateges juru boros. Mungguing reringkesan satua Lubdaka, inggih punika :

Sang Lubdhaka kasarengin olih pianak somahnyane magenah ring pucak gunung. Setata ipun madruwe geginan wantah maboros, kangge upajiwa kulawarganipune. Ri kala dina nemonin caturdasi kepitu, ipun maboros ngranjing ka tengahing alas sregep saha gegawan. Nanging ring sajeroning pajalan ipunne nenten ngamolihang daging tetujon, dados sayan joh pajalanipunne, ngantos kapetengan ring tengahing alas. Kala irika ipun madruwe manah ajerih, yening ngoyong beten sinah sarap buron. Raris ipun menek ring wit bilane. Taler ipun ajerih duaning kiapnyane, yening pules sinah ulung sarap macan. Angge ipun nungkulang kiap raris ngepik-ngepik daun bila, tur kaulungang ring telagane, irika tan pajamuga nganenin Lingga pinaka linggih Ida Sanghyang Siwa.

Gelising crita sampun semengan raris mulih ngusap-ngusap lima, duaning nenten mapikolih.

Suwening asuwe gelem tur nglantur padem I Lubdhaka. Kacrita atmanyane kabingungan, tur kasingse olih watek Kingkara Balane, kategul, kaseret lan katitig. Nanging tan asuwe rawuh Gana Balane, sangkaning titah Sanghyang Siwa, raris kapendak kapaica genah ring Siwaloka, sangkaning ipun nglaksanayang brata Siwa Ratri.

Inggih asapunika daging satuane.

Malarapan antuk satuane punika, iring titiang ida dane sareng urati ring parindikan punika, ngiring rereh suksemannyane, duaning sang Kawi waged pisan mingitang daging kekawianidane. Sang Lubdhaka setata mamati-mati, himsa karma, ngamademang buron sane panggihipun. Sangkaning nglaksanayang brata Siwaratri, sesampun padem atmanipune polih Swargaloka.

Yening matra-matra pikayunin sinah nungkalik ring ajah-ajah Karmaphala. Nanging yening uratiang pisan, I Lubdhaka, ri sampun padem atmanipune sampun polih kasingse olih Kingkara Balane, nampi pikolih himsa karmane, pamuput ipun polih genah suci Siwaloka. Kasinahanipun iriki Ida Sang Kawi Wiku, Ida Mpu Tanakung, sinah madruwe tetujon sane pingit, kangge ngetus pikayun ida danene mangda kayun ngamargiang ajah-ajahan agama Siwaratri.

Sapunika taler parilaksanan I Lubdhaka, nungkalik pisan ring Dharma, setata ngulurang indriya, mamati-mati. Punika yening rereh ring sesuduk sang maraga suci, makadi ida para wiku, sane sampun patut prasida mitetang indriya, nenten himsa karma, setata nyunjung Dharma ring jagate. Iring uratiang I Lubdhaka janma biasa, wong pretakjana, manawita pateh ring iraga lan ida dane sareng sami.

Elingang I Lubdhaka magenah ring alas gunung, napike sane prasida kagarap, kangge nyambung kahuripan pianak somahipune ? Yen uratiang wantah ipun nglaksanayang swadharma, duaning ipun sane kandelang ngruruh pangupajiwa, kangge nglanturang kahuripanne, wantah majalaran maboros. Kadadosan ipun I Lubdhaka satya ring Swadharma, tur punika sane kalaksanayang kantos ipun padem. Tur ipun sampun nerima pikolih karman ipun, nanging sangkaning Satya lan Swadharma, mapiranti antuk brata Siwaratri, ipun polih swarga. Tur I Lubdhaka mapainget ring iraga sareng sami, mungguing kautaman brata Siwaratrine.

Nanging yening ruruh ring sajeroning tetujon hidup i manusa, sane kabaos Catur Purusartha, Dharma, Artha, Kama lan Moksa. Kasinahanne Dharma pinaka dasar angge ngruruh artha, kama, pamekas moksa. Artha lan kama yang tan padasar Dharma, kabaos nirdon. Punika duaning dharma, artha, kama patut pisan margiang becik-becik ring jagate, sane angge piranti nyujur Moksa.

Raris wenten ring pambiaran maosang brata Siwa Ratri, wantah pinaka : Malam Peleburan Dosa. Indike punika patut rerehang pamargi pamatut, mangdane nenten ngirangang unteng sukseman Siwaratrine.

Malih iring titiang ida dane mikayunin, Satua Lubdhaka (Siwaratri Kalpa), sane kekawi olih Mpu Tanakung, sane banget wenten sangketannyane ring Rarahinan Siwa Ratri rawuhing bebratannyane. Raris wetu pitaken : Sirake Mpu Tanakung punika ? Yening rereh suksemannyane wantah ida sang maraga suci, sane sampun prasida mitetang indriya, tur prasida amor ring sangkan paran. Mpu mateges sang maraga suci; tan mateges nenten; kung mateges indria utawi smara.

Raris malih wetu pitaken, napike wantah I Lubdhaka sane maboros, napike nenten Ida Mpu Tanakung, sane dados pratiwimba dados juru boros ? Ring satuane sane kaborosin beburon sane mageng. Napike sukseman beburonne punika ? Indike punika iring titiang sareng sami mikayunin.

Ring satuane kabaosang I Lubdhaka boya ja janma sane nandang dosa, nanging ipun wantah mawak papa. Napike papane punika ? Taler wenten anak maosang, iraga sareng sami puniki wantah juru boros ring jagate , manut swagina lan swadharma soang-soang. Wenten sane morosin Dharma, wenten sane morosin Artha, Kama. Wenten sane urati morosin ajeng-ajengan, wenten sane morosin pangaweruh, wenten sane morosin smara, wenten sane morosin kawisesan, tur sane lianan. Manawita iraga puniki Lubdhaka-Lubdhaka sane kantun kapetengan, raris nunas galang ring rahina mangkin nemonin Siwaratri.

Iring titiang malih mapikayun, uripe puniki waluya sekadi magenah ring gedonge sane mauneb, sinah peteng dedet, asapunapi antuk mangda mikolihang galang ? Iring titiang rawuh ring dwarane, getok-getok saking tengah, mangdane prasida dwarane mampakang, sinah prasida manggihin galang. Napi suksemanne punika ?

Iring uratiang malih sane kaborosin wantah buron sane ageng, sirake sinengguh buron sane ageng? Nenten seos Sanghyang Pasupati dewaning beburon, sirake sane nenten mapikayun nyujur Sanghyang Pasupati/Sanghyang Widhi ?

Inggih ngiring cutetang, laksanayang yogane sekadi I Lubdhaka ring rahina Siwaratrine puniki, mangda mikolihang tetujon sane pamekas.

Sakweh ning papanika sang yogiswara, lawan iking wasana kabeh, yateka tinunwan de bhatara Siwagni, ri huwusnya hilang ikang karmawasana, tamolah alanggeng samadhinira, tan molah bhatara ri sira yan mangkana, ya ta matangnyan cintamani sira, asing sakaharep nira teka,, sakahyun ira dadi, ndah wyaktinya kapanggih ikang kasteswaryan de nira

(Sahananing kapapan sang yogiswara rawuh ring karma wesana sami, sinah ical, kabasmi olih Ida Sanghyang Siwagni, wantah langgeng samadhin idane nenten pisan obah, yening sampun prasida punika, napi sane kapikayun pacing rawuh, napi sakaluire kapanggih, sinah pacang manggihang kadegdegan).

Wenten pitutur Sanghyang Siwa, ring kaluihan Siwaratrine :

Sapapa niki nasa de niking atanghi manuju siwaratri kottama, sapapa nika sirna de nikang phalaning brata winuwusakenku tan salah

Sahananing papane, kasengsaranne punika lebur sirna, sangkaning majagra (magadang) ring rahina siwaratri sane utama, sakancanne punika sirna sangkaning brata sane sampun kajantenang, sinah nenten iwang

Ida dane sareng sami sane wangiang titiang.

Napi sane atur uningayang titiang di wawu, yening rereh malih daging kasuksmanne, kasinahan akeh sane kantun singid. Yadiastun asapunika, iring titiang ida dane mapikayun, makadi :

Kawi lan Wiku; Aturu lan Atutur; Papa lan Tapa; Yama lan Maya; Pasu lan Pasa; Indra lan Indria; Mona lan Moni, Jagra lan Lupa; Brata lan Indria.

Kawi mapiteges sang pangripta/pengarang. Mahakawi, pangawi sane wikan. Ring Kakawin Astiakayana, wenten kabaos : “mangken phalguna masa kepwan ing ulah kapetengan i hatingku tan sipi, …. de nini rajah tamah pwa wreddhya, … yan tan sang wiku siddhawakya kadi landep ing isu rasaning manah licin”.

Maka pralambang sang Kawi mabinayan ring sang Wiku. Di asapunapine Wiku lan Kawi maraga tunggal. Wenten sang Wiku taler ida maraga sang Kawi, punika taler wenten sang Kawi dados Wiku, sering kabaos Kawi Wiku.

Manut ucap ring ajeng, Sang Kawi kabaos ri kala sasih Kapat, wantah sang Kawi prasida ngamedalang daging pikayun, mawetu Kakawian sane mabuat, punika sane kabaos Amretamasa. Yening ri kala jagat gulem peteng ri kala sasih Kepitu lan Kawelu, hujanne tedun, ri kala punika Ida Sang Wiku tedun mapica ajah-ajah, maka panuntun nyujur sane galang. Punika maka piteket ring rarahina Siwaratri. Asapunapi Ida Mpu Tanakung ?

Aturu lan Atutur, aturu tegesnya sirep; atutur tegesnyane eling. Kruna eling taler marti smreti, lan kruna atutur ring Kakawin Siwaratri kabaos atanghi, sane madruwe kasuksman pateh.

Ring Pustaka Wrehaspati Tattwa kabaos ri kala bebabaosan Bhagawan Wrehaspati ring Bhatara Iswara, irika wenten kabaos indik turu, lupa lan papa

“….apan jatinikang mamangan menak turunya, ikang turu magawe lupaning atma, lupa pweka ng inabhyasanya, gatinya de nikang wuk turu, ya ta matangnyan dadi pasu ……”

Sang sane seneng oneng ngulurin indria ring ajeng-ajengan, sinah leplep sirepnyane, sangkaning sirepe punika mawetu sang atma lupa (tan eling) ring kasujatinne, sang sane setata sirep kewanten pacang numadi dados beburon.

Sapunika taler pablibagan olih Ida Bhagawan Wrehaspati :

” …ndya teka luputa ring papa, matangnyan lepasa sangkeng naraka ….”

Asapunapi antuk mangdane prasida lepas sakeng papa, sinah pacang lepas sakeng papa naraka ?

Kacawis olih Sanghyang Iswara :

” ……..yan matutur ikang atma ri jatinya, irika ta yan alilang, sang atma juga humidepa saka sukha duhkhaning sarira ….”

Yening sampun Sanghyang Atma eling ring kasujatiaane, pikayunne dados ening suci, duaning wantah Sanghyang Atma sane prasidha uning ring suka duka ring sajeroning kayun.

Ring Kakawin Arjuna Wiwaha, wenten kabaos “amuter tutur pinahayu“

Papa lan Tapa, mateges sapasira ugi sane kantun kaiket antuk indria, tan menget ri kajatinya. Sane angge mucehang punika wantah Tapa, umeret ikang indria, ngubda wisayan indriane antuk sane mawasta Tapa Brata. Brata utawi wrata, sinalih tunggil ajah-ajahan agama Hindu sane mabuat, punika duaning ida sang Wiku kabaos Wrati/Brati, sang sane prasida ngamargiang Brata (Wrati Sasana). Kruna brata mapaiketan pisan ring kruna Tapa “sampun ayasa angrencem tapa mwang brata, amangun tapabrata padha gong yoga“.

Yama lan Maya, Yama inggih punika bhisekan ida Sanghyang Widhi, maka panepas sahananing karma ring Swargaloka. Maya punikapikobet siluman sange ngiket ipun manusa. Sapasira sane kaiket antuk Maya sinah pacang kakenen pikolih karma olih Hyang Yama. Elingang atman sang Lubhdaka kasingse olih Yamabala.

Pasu lan Pasa, pasu mateges beburon lan pasa mateges tali. Lalu ada kata Pasupati, bhisekan Ida Sanghyang Siwa utawi Rudra, sane maka senjatanida Pasuyuddha (ri kala ngarepin sang Arjuna), sane pinaka panugrahan Hyang Siwa ring Arjuna, pinaka Pasupati
Astra. Elingang asapunapi pamargin Sang Arjuna ri kala maperang tanding sareng Hyang Siwa Rudra.

“Anakku huwus katon abhimananta temunta kabeh, hana panugrahangku cadusakti winimba sara, pasupati sastrakastu pangarannya nihan wulati“.

Suksmanuipun, sahananing manah sane maka pasu/kala/indria, patut kalepas tali panegulannya (pasa), wawu prasidha nincap kasucian, mapanggih lawan Hyang Siwa. Manusa sane prasida lepas (pasa) sane marupa pasu, punika maka pralambang polih panugrahan Pasupati. Pasu – Pasa – Pasayuddha – Pasupati.

Indra lan Indria, elingang asapunapi gegodan Hyang Indra ring ring Sang Arjuna. Ring tepengan Siwaratri, Lubdhaka sane prasida nglaksana Japa (metik don bila), Tapa, Brata, Yoga lan Samadhi, kapungkuran prasida molih Siwaloka.

Mona lan Moni, Mona mateges “meneng” tan mabebaosan. Muni, sang maraga suci (Elingang satua ring Adi Parwa, Sang Parikesit seda, sangkaning duka ring Muni sane Mona).

Jagra lan Lupa, Jagra, eling sang sane tan eling kabaos lupa.

Inggih ida dane sareng sami, kasuksman Siwaratine punika makelingang mangdane iraga prasada eling/menget/jagra, maduluran antuk Mona lan Upawasa.

Inggih asapunika jagra winungun titiang ring rahina Siwaratrine puniki, kirang langkung titiang banget nunas pangampura.

Puput.

OM Santih Santih Santih OM


Peranan ilmu pengetahuan

Peranan ilmu pengetahuan sangat luar biasa.

Seperti diuraikan dalam kitab suci Bhagavadgita IV. 35, yang berbunyi: 
Api ched asi papebhyah. 
Sarvebhyah papa krittamah. 
Sarvam jnana plavenai’va. 
Vrijinam samtarishyasi. 

Artinya:
Walau seandainya engkau paling berdosa di antara manusia yang memikul dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan ini lautan dosa akan kau seberangi.

Dari sloka di atas, dapat dipahami bahwa ilmu pengetahuan dalam kehidupan ini memiliki peranan yang sangat besar, sebagai pembentuk diri agar memiliki karakter baik. 

Dengan ilmu pengetahuan, kita dapat menyadari tujuan dari kehidupan kita di dunia. Kita juga akan tertuntun dengan baik dan selalu memegang teguh ajaran Dharma. Kita juga menyadari bahwa tidak ada manusia yang ingin gagal di dunia. 

Dengan kesadaran ini, niscaya kita nanti terhindar dari tindakan-tindakan asubha karma yang dapat menghantarkan kita ke jurang neraka dan menjadi penjelmaan manusia yang “Manusya”. Yaitu, manusia yang selalu menyadari hakikat dari akhir hidupnya agar tidak mengalami kemerosotan moral dan reinkarnasi berikutnya. 

Dalam kitab suci Sarasamuccaya sloka 4 dikatakan: 
“Apan ikan dadi wwang, 
utama juga ya, 
nimittaning mangkana, 
wenang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, 
makasadhanang subhakarma, 
hinganing kottamaning dadi wwang ika”.

Artinya:
Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama. Apa sebabnya demikian? karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara (lahir dan mati berulang- ulang) dengan jalan berbuat baik; demikiannyalah keutamaannya menjadi manusia.

Sloka ini menjelaskan, menjadi manusia ini merupakan hal yang mulia agar setiap manusia mampu membebaskan dirinya dari kesengsaraan dengan jalan berbuat subhakarma (kebaikan) dan terbebas dari hukum reinkarnasi dan mencapai kesempurnaan, yaitu moksa rtam jagaditaya ya ca iti dharma.

Masa muda merupakan masa uji atau masa yang sangat menentukan karma hidup kita selanjutnya. Jika kita kuat menghadapi dan melewatinya, niscaya kita akan menjadi insan yang bahagia dan sejahtera dalam kehidupan dan alam baka (Moksa Rtam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma). Namun, jika kita tidak mampu melewatinya, maka celakalah kita. Bukan hal mustahil jika pada akhirnya dia akan menjadi orang yang hidup selalu berada pada jalan adharma yang penuh dosa.