Kamis, 09 Mei 2024

Tumpek Landep

Tumpek Landep Moment Tajamkan Pikiran Realisasikan Bhukti dan Mukti


Perayaan Tumpek Landep di Bali, sesungguhnya sudah menjadi piodalan gumi. Artinya, semua warga merayakan, hari bertuah mengamet Sang Hyang Pasupati. Shiva sebagai penguasa Pasu/ Makluk, sejatinya memberi anugerah “Shiva Agni” dalam upaya pemberikan anugerah bhukti(kesejahteraan) dan juga mukti (kebebasan).

Pada pujawali Tumpek Landep ini, juga menjadi keniscayaan, diaplikasi warga untuk menyucikan “kekuatan niskala yang inmanen – melekat yang ada di segala benda , pusaka bertuah, termasuk wahana zaman now, kendaraan, sepeda motor, senjata, tombak, keris, benda benda pusaka lainnya.


Sejati terkait piodalan gumi , Tumpek Landep ini apa yang mestinya nya ditajamkan,
atau dilandepkan, tiada lain melakukan ekagrata pada manah, pikiran agar terus dijaga kesuciannya, kemruniannya, sehingga menyadari jati diri ini adalah Atman.

Ekagrata sudah pasti melalui astanggayoga, delapan tangga yoga, “yama, nyama, asana, pranayama, prathihara, dharana, dyana lan samadhi” Dengan dominan melakukan Dharana – konsentrasi manah / pikiran, dalam kontemplasi – dyana – mewujudkan samadi -, mewujudkan unifikasi, Kesatuan atma – paramatma.

Dengan laku shadana strike, ekstra keras seperti itu, maka diyakini secara gradual/ evolusi , kesadaran diri, bertahap pasti akan lebih cepat bisa diwujudkan tujuan utama perjalanan suci – pilgrims kita, yakni jagadhita – kesejahteraan duniawi sekaligus moksah – terbebasnya atma dari kungkungan badan stula sarira, sukma sarira atau lingga sarira , untuk menyadari karana sasira agar bisa bersatu dengan mahakarana sasira/ Hyang Adi Kodrati/ Paramashiva / Brahman.

Karena itu, jadikanlah pujawali yang hadir setiap 210 hari itu bukan saja menjadi bagian seremonial sebatas perayaan rutinitas, tanpa upaya optimal menyelam lebih dalam pada substansi hakiki “Tumpek Landep” itu sendiri.

Melainkan jadikan moment strategis dalam upaya transformasi yang idealnya sesuai kehadiran perayaan Tumpek Landep, itu yang benar benar dapat diaplikasikan secara all out mewujudkan “ladep” ketajaman Jnana Agni.

Sesungguhnya, Api Jnana — terus digelindingkan, dikawal secara disiplin, digulirkan menjadi suatu abyasa – tradisi sehingga pengetahuan kesunyataan — semakin disadari, disadari, sehingga perjalanan kita menemui tujuan yang sesungguhnya, terealisasinya Atwa Widya/ Brahma Widya.

Semoga dibalik semaraknya “ceremonial perayaan “tumpek landep ini, ada implikasi berkah konstruktif, bahwa yang perlu ditajamkan/ dilandepkan tiada lain dengan senantiasa menjaga pikiran, atau manah tetep hening, selalu difokuskan pada Atma/ Brahma/ Paramatma, sehingga mauna — damai , anandam bersatu pada hakekat kesadaran Sangkan Paraning Dumadi.


Keterikatan dengan Pecipta

Ya , sejatinya keterikatan yang kita desain, adalah keterikatan kepada Hyang Pencipta, bukan senantiasa melekat dengan segenap ciptaannya.

Kita bisa belajar dari laku total surrender, Hanoman yang dengan penuh bhakti berjuang demi Sri Rama. Demikian juga Garuda yang merupakan Garutman, dalam Weda, mengabdi kepada Hyang Wisnu, hal sama Nandi Keswara, yang memiliki yoga, keterikatan hanya kepada Sang Hyang Siwa.

Mengutip Lontar Sunarigama, “Kunang ring wara landep saniscara kliwon pujawalin Bhatara Siwa Sambada,muang yoganira Sang Hyang Pasupati, pujawalin nira Bhatara Siwa”

Artinya, mengacu daging, isi Lontar Sunarigama itu, pada perayaan Tumpek Landep itu, sesungguhnya yang dipuja Sang Hyang Siwa sebagai Hyang Pasupati.

Menurut Lontar Sunarigama, yang diupacarai saat Tumpek Landep itu adalah sarwa senjata lelandeping perang lan kalingania ikang wong apasupati lelandeping idep.


Nah .. dalam kontek kekinian senjata mesti dimaknai sebagai segala sarana yang digunakan untuk menunjang profesi dan mencapai tujuan.

Adapun banten yg digunakan

Sayut pasupati,untuk mengasah ketajaman
Sayut Jayeng Prang,niyasa kesiapan berperang melawan hawa nafsu dan siap mengarungi dinamika kehidupan ini.
Sayut kusumayudha,menandakan,jika kalah harus tetap jadi pahlawan,bukan penghianat,alias diperbudak nafsu.
Dalam siklus waktu kita ketemu enam kali Tumpek, yang dirayakan setiap Sabtu Kliwon, . Sabtu memrupakan hari terakkhir dalam saptawara. Sedangkan Kliwon, merupakan hari terakhir dari pancawara. Maka bisa disiplukan, hari Tumpek itu, merupakan hari spesial,keramat.

Tumpek Landep untuk memuja Sanghyang Siwa Pasupati.
Tumpek Wariga Sanghyang Sangkara Penganugrah kebahagiaan
Tumpek Kuningan,Siwa Mahadewa
Tumpek Krulut,hari kasih sayang,sebagai Siwa Nataraja
Tumpek Uye Siwa selaku Sanghyang Rareangon
Tumpek Wayang,Sanghyang Ishwara
Disini juga dikutipkan, ajaran Jnyana Siddhanta dari Lontar Kadyatmikan, Bhuwana Kosa, VI, 3., yang bisa dijadikan sesuluh, apa sejatinya substansi, sang manawa utama sebagai Pandita itu.

Ong gire’svaryya ya namaha.
“Hetu ning sinanggah matuhaa, haywa tan prayatna rikeng Siddhanta ‘saastra, rapwan tan kapaataka.
Kimpunah janma moha’sca,
Naa jnyaanah naa kreto dhanaha,
Naa silo naa vayastapaha.
Nguni yuni tekang wwang moha, tan pajnyaana, tan ‘sila, tan gumawayaken dhaana, tan ing wayah, tan ing tapa, naywa rakwa tan panemwang paapa.

Artinya,
Apa sesungguhnya dasar sang manawa berpredikat tua itu, janganlah kurang waspada kepada ajaran Sidhanta, supaya jangan menderita. Apalagi bagi orang yang bingung, tanpa ilmu pengetahuan, tidak mempunyai etika, tidak beramal sedekah, yang belum berpengalaman, yang tidak pernah bertapa. Jangan diberikan, memungkinkan ia akan menemukan papa.


Tena jnyaane naheskaanda
Vreddha vreddha tara smretaha,
Naa diirggha naa ‘subhih ke’sa,
Naa ‘svetah ruupa jaatibhihi.
Sangsiptan ikaa sang widhwan,
saprayatnya ring Sang Hyang Siddhanta jnyaana sira,
sira ta matuha temen, apan matuha dening jnyaana nira, mangkanaanaku Sang Kumara, tan ikaang madawa kumisnya tan ikaang ati’saya tuhanya, tan ikaang madawa rambutnya, tan ikaang maparas alengis kesanya, tan ikaang mwang aruhur jaatinya, ikaang matuha, nga.

Artinya.
Jelasnya Para Pandita, orang yang memahami ajaran Sidhanta, mereka itu baru sesungguhnya dikatakan tua. Sebab, tua karena ilmu pengetahuan. Demikianlah anakku Sang Kumara. Bukan orang yang kumisnya panjang, bukan orang tua renta, bukan orang yang berambut panjang, bukan orang yang rambutnya digundul bersih, bukan keturunan bangsawan dikatakan tua.

Sarvva ‘saastram adhiyita,
Tyjanti jnyaanam uttamam,
Jnyaana vyaapi naa windeta,
Aho mayaa vimohitaha.
Hana sira sadhaka mangaji sarwwa ‘saastra, ikaa Sang Hyang Siddhanta uttama inaryyaken ira. Jnyaana vyapi naa cindeta.Ikaa ta sang sadhaka mankana, tar wruh ring jnyaanangku ikaa. Aho mayaa vimohitah.Apan kawenang dening banycanangku, Sarvva ‘saastrasya yat param. Hana karih ‘saastra lewih sangke rikang ‘saastra kabeh.
Siddhanta Jnyaana uttamam. Sang Hyang Jnyaana Siddhanta sira wisanya. Aditya manava loke. Hana pwa mwang mangaji Sang Hyang Siddhanta jnyaana irikang loka. Saphalan tasya jivitam. Ya ta saphala huripnya haneng loka Bhataara mangkana pwa ya. *
Ihatraca mahaa devii. Ring iharta kaala pwa ya, kapangguh tang suka magoong denya, Paraatra ‘Sivasam brajet.
Irika ng dlaha pwa ya, sayojya pwa sira laawan Bhataara ‘Siwa saduga. Evam etani yuktani. Ikaa ta hinghaning warah warahku ri kita Bhataari, atyanta yukti temen. Naa sandeho varaanane. Tan sangsaara ikaang kumawruhi ring jnyaana mangkana, mangkana ta kita Bhataari, haywa sang’saya irika ng warah warah.
Evam etani sarvvani, vacanaani suputrakaha.Mangkana ta kitaanaku Sang Kumara, haywa ta kita sang’saya ri warah warahku kabeh ri kita.

Artinya,
Bila ada Pandita mengajarkan ilmu pengetahuan dengan melupakan ajaran suci Sidhanta. Pandita yang demikian itu, tidak mengetahui ajaranku karena ia dikuasai oleh mayaku. Sarvva ‘saastrasya yat param,konon ada ajaran yang melebihi semua ajaran. Siddhanta jnyaanam uttamam, itu dia) ajaran Sidhanta yang paling utama.
Aditya manava loke, bila di dunia ini ada orang yang mendalami ajaran Sidhanta. Saphalan tasya jivìtam, maka hidupnya akan bersih, demikian sabda Bhatara.
Ihatraca mahaa devii, dalam masa hidupnya ia akan menemukan kesenangan yang besar olehnya. Paratra ‘Sivasam brajet, kelak kemudian, benar – benar ia akan menyatu dengan Sang Hyang ‘Siwa. Evam etani yuktani, itulah penjelasanku kepadamu, Bhatari, sangat amat benar orang yang menguasai pengetahuan demikian.
Naa sandeho varanane, ia tidak akan menderita.

Demikian pula halnya engkau Bhatari, jangan ragu – ragu akan ajaran itu. Evam etani sarvvani, vacanani suputrakaha.
Demikian pula anakku Sang Kumara, jangan engkau ragu-ragu akan seluruh ajaran yang telah keberikan kepadamu.
Dalam kaitan dengan pikiran dan nafsu,jika tidak dapat dikendalikan,maka ia akan menjadi musuh yang dapat menyesatkan sang jiwa.Ya memang musuh musuh kita itu tidak jauh tempatnya,”Tan hana satru mengelwihaning hana geleng ri hati”.Musuh musuh itulah yang harus diwaspadai karena bisa menjerumuskan kita secara halus dan sangat tahu akan kelemahan kita.Cara menenangkan perang adalah batasi keinginan,buat standar hidup yg mendamaikan hati serta jangan biarkan mata dan telinga tanpa kontrol.

Segitiga Kesadaran

Segitiga Kesadaran Ingsun-Kawulo-Abdi.
Manusia diciptakan Tuhan dengan tiga identitas sekaligus dalam dirinya. Pertama Diri Ingsun sebagai identitas kekuatan/khalifatullah, kedua Diri Kawulo sebagai identitas kelemahan/insanudhoifan dan ketiga Diri Abdi sebagai identitas kehambaan/Abdullah. Segitiga Kesadaran inilah yang seyogyanya selalu dihidup-seimbangkan menggunakan ra(h)sa pada kedalaman hati, sepanjang menempuh jalan mengemban amanah yang dibebankan oleh Tuhannya, agar senantiasa bisa berjalan dengan seimbang, menuju hakikat diri yang sejatinya karib, rapat tanpa sekat, serasa dibersamai Tuhan, Dzat Yang Maha Dekat.

Kesadaran Ingsun.

Adalah kesadaran akan diri “Aku”. 
Aku adalah realitas manusia yang dikehendaki Tuhan untuk mengemban amanah khalifah. Aku manusia yang khalifah. 
Aku pemimpin dan panglima bagi diri dan alam semesta. 
Aku yang telah sadar bahwa telah diberi keistimewaan akal budi dan hati, free will sebuah kecerdasan dan kemampuan memilih akan baik atau buruk, sebuah potensi intelegensia dan batiniyah yang Tuhan titipkan guna mencipta kelola alam semesta agar senantiasa indah sesuai amanah. Kesadaran Aku akan memadat menjadi rasa penuh harap, rasa syukur dan rasa percaya diri.

Beranjak dari dasar filosofis pada kesadaran ingsun ini insan umat manusia dapat memahami nilai-nilai untuk selanjutnya mewujudkan Perilaku Utama Profesionalisme yaitu mempunyai keahlian dan pengetahuan yang luas serta bersedia bekerja dengan hati. Serta Perilaku Utama Kesempurnaan yaitu melakukan perbaikan terus menerus dan mengembangkan inovasi dan kreativitas. Selaras dengan nilai-nilai Kompeten dan Adaptif.

Kesadaran Kawulo/Kulo.

Adalah kesadaran akan diri “Saya”. Saya adalah realitas bersifat manusiawi yang juga dikehendaki Tuhan. Bahwa manusia ditakdirkan sebagai kumpulan unsur-unsur kelemahan dan keterbatasan. Saya manusia yang khilaf. Saya pelupa, alpa dan khilaf. Saya yang telah sadar bahwa diri membawa potensi manusiawi yang serba kekurangan, terbatas dan tidak sempurna. Kesadaran saya yang tak bisa berdiri sendiri, selalu tergantung, butuh bantuan dan perlu bersinergi dengan semua di luar diri untuk memenuhi amanah, menjalani tugas fungsi yang telah Tuhan beban-titahkan. Kesadaran Saya akan memadat menjadi rasa khawatir, rasa tawaduk dan rasa kerendahhatian.

Beranjak dari dasar filosofis pada kesadaran kawulo ini selanjutnya insan manusia dapat memahami nilai-nilai untuk selanjutnya mewujudkan Perilaku Utama Sinergi yaitu memiliki sangka baik, saling percaya, saling menghormati dan menemukan/melaksanakan solusi terbaik. Serta Perilaku Utama Pelayanan yaitu bersedia melayani dengan berorientasi pada kepuasan pemangku kepentingan dan bersikap proaktif/cepat tanggap. Selaras dengan nilai-nilai Harmonis, Kolaboratif dan Berorientasi Pelayanan.

Kesadaran Abdi.

Adalah kesadaran akan diri “Hamba”. Hamba adalah realitas kesadaran manusia bahwa Tuhan yang secara sengaja menghendaki bahwa manusia ditakdirkan menjadi ada sebagai penegasan hubungan kausalitas Yang Disembah dan yang menyembah, Sang Pencipta dan yang dicipta, Sang Pengatur dan yang diatur. Hamba manusia yang sadar bahwa diri tidak diciptakan secara tak sengaja, tak mungkin sia-sia Tuhan mengatur agar hamba mengabdi kepadaNya sesuai amanah tanggung jawab, selalu waspada agar menjauhi laranganNya dan taat runduk-tunduk turut pada tata tuntunanNya. Kesadaran Hamba akan memadat menjadi ketaatan, rasa penuh kepatuhan, rasa penuh keikhlasan, rasa istikomah dan rasa penuh cinta kepada Yang Disembah.

Beranjak dari dasar filosofis pada kesadaran abdi ini selanjutnya insan manusia dapat memahami nilai-nilai untuk selanjutnya mewujudkan Perilaku Utama Integritas yaitu bersikap jujur, tulus, dapat dipercaya dan menjaga martabat dengan tidak melakukan hal-hal tercela. Selaras dengan nilai-nilai Akuntabel dan Loyal.

Keseimbangan Segitiga Kesadaran Ingsun Kawulo Abdi.

Keseimbangan Segitiga Kesadaran Ingsun Kawulo Abdi adalah seperti bandul pendulum yang harus dengan sadar digerakkan secara bijak dan pandai. Pandai itu tahu presisi dengan tepat, bijaksana itu tahu dengan arif, dimana menentukan titik koordinat “diri” akan tempat dan waktu;

1. Kapan “Aku” yang percaya diri harus tampil ke depan?

2. Kapan “Saya” dengan penuh rendah hati bersedia bergerak dalam sunyi, bekerja tak banyak kata, sedia bergiat tak terlihat, sedia bersinergi agar tetap terjaga suasana harmoni dan damai?

3. Kapan “Hamba” dengan sepenuh ikhlas, taat, patuh serta sepenuh cinta memenuhi tanggung jawab penyembahan kepada Tuhan?

Keseimbangan Segitiga Kesadaran Ingsun Kawulo Abdi adalah keniscayaan yang menjadi kunci bagi terciptanya nilai-nilai utama. Jika hanya ke-aku-an saja yang hidup, maka akan lahir sifat pribadi angkuh, penuh ego dan sombong tak terkira. Jika hanya ke-saya-an saja yang hidup, maka akan lahir sifat pribadi lemah, merasa diri rendah, gelisah, ragu melangkah bahkan untuk sebuah kebaikan paling sederhana. Jika hanya ke-hamba-an saja yang dikembangkan, maka terbuka kemungkinan jalan penghambaan itu kebablasan sehingga pemenuhan atas fitrah duniawi-manusiawi yang terbengkalai, atau terjadi sebaliknya ketika sifat pribadi yang patuh itu ternyata palsu penuh pamrih pada keuntungan duniawi belaka, bukan lagi murni demi pencapaian ukhrowi, apalagi demi Cinta/Mahabah semata menuju Tuhan yang disembah.

Dari sini patutlah dapat dipakai tiga ukuran keseimbangan ini terutama agar dapat “terbaca” menjadi neraca-takaran (waspada), untuk menilai khususnya diri sendiri (eling). Bukan sama sekali untuk menilai- nilai rapor kesalahan orang lain.

Tentu saja ini tak semudah membalik telapak tangan, karena sebagaimana sebuah proses panjang, penanaman akar berupa kesadaran akan nilai-nilai hingga terbentuk karakter utama, pengulangan demi pengulangan perlu dilakukan dengan sesungguh kesabaran. Ada satu siklus dengan tiga langkah sederhana. Pertama melakukan pembersihkan diri dari segala sifat, tingkah laku/perbuatan buruk. Kedua menghiasi diri dengan segala sifat sifat, tingkah laku/perbuatan yang baik. Ketiga mengamalkan/menerapkan sifat, tingkah laku/perbuatan yang baik tersebut kedalam kehidupan sehari-hari.

Dengan bekal kesadaran bersama, untuk terus bersama-sama berbuat baik, tolong-menolong, bekerjasama, maka dengan sendirinya terkreasi suatu keadaan kemuliaan bersama (adiluhung) demi mencapai tujuan bersama. 

ELING

Eling lan Waspada.
Mencermati fenomena ini penulis mengajak untuk menilik kembali pada sebuah konsepsi lama dalam filosofi Jawa yaitu eling lan waspada. Sebuah konsep yang berasal dari khasanah tradisi Jawi/tasawuf akhlaqi. Istilah ini diambil dari satu bait akhir tembang sinom Serat Kalatida karya Raden Ngabehi Ronggo Warsito; 

“Sak begja-begjaning kang lali, luwih begja kang eling lan waspada!” 
(Seberuntung- beruntungnya orang yang lalai, lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada). 

Eling lan waspada dapat dibahasakan menjadi mawas diri. Eling lan waspada pada dimensi Kemanusiaan berupa kesadaran atas potensi kekuatan dan kelemahan manusia. Eling lan waspada pada dimensi Ketuhanan, berupa kesadaran atas Sangkan Paraning Dumadi, sebuah perjalanan anak manusia dari akan kembali kepada Sang Causa Prima, Tuhan Maha Esa. 

Menjadi pribadi mawas diri yang mempunyai pengetahuan untuk mengekspresikan dirinya sebagai manusia dan ke arah mana dirinya akan dibawa, sesuai dengan pengetahuan, sesuai yang dikehendaki Penciptanya.

Pengembangan diri yang Eling lan Waspada merupakan usaha memfokuskan diri untuk selalu berhati-hati dalam menempuh amanah jalan kehidupan menuju pencapaian ukhrawi tanpa meninggalkan yang duniawi. Buah dari kesadaran ini ialah kedamaian batin, kemuliaan akhlak, dan kedekatan dengan Tuhan.

Dalam hal ini yang pertama kali harus diketahui adalah tentang mengenali konsep Diri. Sebuah pertanyaan filosofis paling mendasar yang harus dijawab tentang Eling “Siapa sejatinya Diri ini?” Pertanyaan di atas tadi, bisa secara sederhana dapat dijawab dengan narasi Segitiga Kesadaran dibawah ini, sila disimak!

.

Rabu, 08 Mei 2024

daftar diklat 25

Daftar sertifikat diklat angkatan 25:

1.I WAYAN NYENENG 
2.I Wayan sudarja
3....DRS I Made Candra
4....I Made Mertayasa
5....
6....
7....
8....
9.....


Mohon diisi nama sesuai KTP dan Alamatnya

Jumat, 03 Mei 2024

TATA KRAMA NGRANJING RING PARHYANGAN

TATA KRAMA NGRANJING RING PARHYANGAN
RING SOR PUNIKI TATA CARA WYADIN SANG SANE TAN KAPATUTANG NGRANJING RING PARHYANGAN

1. NENTEN KAHANAN CUNTAKA (USAN NGEMBASANG RARE, KAPATIAN, KOTOR KAIN, RARE DURING TIGANG SASIH MIWAH SANE SIOSAN). 
Artinya: tidak dalam keadaan kecantikan seperti: baru melahirkan, kematian, wanita datang bulan, bayi belum tiga upacara tiga bulanan dll

2. BERSIH RAGA LAN PIKAYUNAN; RAGA: SAMPUN MASIRAM, MABUSANA SANE ANUT RIKALA NGAWENTENANG PANGUBAKTI; PIKAYUN: PIKAYUN SANE NING, DEGDEG, LAN PATITISE ULENG JAGI MANGUBAKTI RING SESUHUNAN. 
Artinya: bersih lahir bathin; lahir : sudah mandi, pakaian bersih dengan tata cara pakaian yang wajar untuk bersembahyang; bathin : pikiran yang hening, tenang, tentram dan siap memusatkan pikiran untuk berbakti kepada Yang Maha Kuasa).

3. PARA ISTRINE RIKALA NGRANJING KE PURA RAMBUTE NENTEN KADADOSANG MAGAMBAHAN, RIANTUKAN PUNIKA MACIHNA KASMARAN, KRODA, DUHKA, LAN SEKADI NGAMARGIANG PANESTIAN. 
Artinya: Wanita yang rambutnya diurai tidak boleh masuk karena rambut yang diurai menyiratkan : ke-asmaraan (birahi), marah, sedih, dan mempelajari ilmu hitam.

4. NENTEN KADADOSANG MABUSANA SANE NENTEN NGANUTIN TATA SUSILA SEKADI MAMERANG KAMEROSAN RAGANE. 
Artinya: Dilarang Berpakaian tidak sopan atau menonjolkan bentuk tubuh/ aurat.

5. NENTEN DADOS METUNANGAN, MIYEGAN, MABAWOS BANGRAS, NGORTAANG SAWITRA, NYUSUIN RARE, MAKECUH, NGENCEH, MEJU, NYORAT-NYORET PALINGGIH MIWAH SELANTUR IPUN. ANAKE SANE SEDEK PUNYAH, SUNGKAN TALER NENTEN KADADOSANG RIANTUKAN JAGI MAPWARA REGED LETEH. 
Artinya: Tidak boleh Bercumbu, berkelahi, bertengkar, berkata kasar/ memaki, bergosip, menyusui bayi, meludah, buang air, mencorat-coret pelinggih-pelinggih, dan lain-lain
Dilarang dalam keadaan sakit dan mabuk karena akan dapat membuat pura leteh.


Olih: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S. M.Pd

Kamis, 02 Mei 2024

Dinamika PDDS

Dinamika PDDS adalah perubahan Paiketan Daksa Dharma Sadhu yang terjadi akibat adanya interaksi dalam dua atau lebih individu/pasemetonan dalam suatu masyarakat yang memiliki hubungan psikologis secara jelas dalam situasi yang dialami. Dalam dinamika PDDS, masyarakat dapat terjadi interaksi sosial, kelompok sosial dan kelas sosial.

Rabu, 01 Mei 2024

Sedaraga

Upacara Sederhana
Latihan Mati Sebelum Mati

Om Swastiastu. 
Om Awignamastu nama sidhiam. 
Om Anubadrah kertawiyantu wiswatah. 


Proses sedaraga merupakan latihan mati sebelum mati, sebelum berjumpa dengan Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui Ida Bhatara Kawitan. Apa yang kita bawa menghadap Ida Sanghyang Widhi Wasa kelak? Bagaimana jasad dan hati kita? Masih kotorkan atau sudah bersih? Mumpung masih ada usia, mari bersihkan dengan bertaubat/mohon ampun/prayascitta kepada-Nya.


Upacara sedaraga latihan mati sebelum mati

Tidur itu mati kecil. Bayangkanlah, kita akan sendirian di dalam kubur berkalang tanah. Lalu ruh dikembalikan ke jasad untuk ditanya oleh Sang Suratma. Di situlah kengerian berhadapan dengan pengadilan Sang Jogormanik. Padahal dalam menghadapi rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar ke seluruh bagian jiwa atau maut sebelumnya saja kita sudah kesakitan dan ketakutan.

Tidur adalah latihan mati kecil, bersama-Mu aku hidup dan mati. Dari situlah kita berpindah dari alam dunia ke alam kematian. Kita akan sadar, atas teguran Ida Sanghyang Widhi Wasa. 

Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu.
Kita baru tersadar bahwa yang kita kejar (dunia) hanya angan-angan, berupa bayangan hitam yang ingin diraih. Ketika akan mendapatakannya, kita terjerembab ke dalam kubur dalam kondisi masih mengejar angan-angan dunia yang melalaikan, memperbanyak-banyak sesuatu yang mengharapkan hadiah. 

Jangan sampai Sang Jogormanik berbicara kepada kita kelak, “Bagaimana bisa kamu mati dalam keadaan seperti ini? Dalam keadaan menganiaya diri sendiri?” Tentu cara mati kita ditentukan bagaimana cara hidup kita.

Di alam kubur kita menghadapi suasana yang menakutkan. Kita menginginkan surga, tetapi yang datang Sang Jogormanik bermuka masam dan seram (krura rupa). Kita membayangkan neraka, betapa pedih siksanya. Suasana sangat menakutkan.

Ketika kematian sudah di depan mata dan kita tidak punya persiapan menghadapi kematian, kita terkejut menghadapi pengadilan.

Kita berharap semoga Bhatara Guru yang datang bukan Sang Jogormanik yang bertanya dengan pertanyaan keras, membentak, menyiksa karena kita tak mampu menjawabnya. Siksaan akan berlangsung sampai kiamat. Alam kubur menjadi permulaan nerakanya.

Kita berdoa memohon pertolongan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa saja.

Cukuplah Ida Sanghyang Widhi Wasa bagiku. Beliau adalah raja dari para Dewa. Hanya kepada-Nya hamba memohon ampu dan Beliua adalah Ida Sanghyang Widhi Wasa pemilik ‘Padma/stana (singgasana) yang agung.


Orang-orang beriman kelak akan berada di ruang tunggu istimewa. Sementara di luar sana orang-orang menunggu pengadilan dengan berkeringat yang menggenangi sekitar dirinya.

Sampai pada saatnya pengadilan, hanya ada Ida Bhatara Yamadipati yang mengadili. Tidak ada yang lain. Jangan sampai kita diadili dengan keadilan-Nya, karena bisa-bisa akan celaka. Sementara orang-orang beriman akan diadili dengan kasih sayang dari Ida Sanghyang Widhi Wasa, dosa-dosanya diampuni dan ditukar dengan pahala.

Karenanya selagi hidup wajib melaksanakan upacara Dwijati - sedaraga/mati sebelum mati, sebelum menghadap Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Kita berharap akan dipanggil oleh Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan sebutan sayang:

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan berbagai anugrah Beliau.

Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Beliau dan masuklah ke dalam surga-Nya!

Sangat berbahagia jika kita menghadap Ida Sanghyang Widhi Wasa dengan keadaan segala anugrahnya. Betul-betul bahagia menghadap Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Bayangkan, sudah berapa banyak dosa yang kita perbuat sejak usia bayi sampai hari ini? Berapa banyak doa dan yadnya yang kita tinggalkan? Berapa banyak puasa yang kita tak lakukan? Berapa besar dosa kita kepada ibu dan bapak?

Beruntunglah orang-orang yang senantiasa mampu melaksanakan Upacara Sedaraga Dwijati, mensucikan dirinya, mendirikan tiang agama artinya barang siapa yang telah menegakkan agama dalam hidupnya.