Senin, 28 Maret 2022

Bayuh Tampel Bolong



BAYUH TAMPEL BOLONG MELIK SANAN EMPEG TELAGA APIT PANCORAN DLL

YAYASAN WIDYA DAKSA DHARMA
GRIYA AGUNG BANGKASA KEMBALI MELAKSANAKAN "UPACARA BAYUH TAMPEL BOLONG MASAL BAGI SEMUA KRLAHIRAN NANTI PADA TANGGAL 15 MEI 2022 / PURNAMANING DESTA. 

Pebayuhan Tampel Bolong masal adalah bayuh putusing babayuhan bagi 
mereka yang lahir melik, salah wedi, telaga apit pancoran, pancoran apit telaga, panca pendawa, sanan empeg, ontang-anting, dan kembar buncing.
Dan semua kelahiran juga bisa mengikuti upacara ini karena setiap kelahiran pasti ada unsur baik dan buruknya. 

OLEH SEBAB ITU  diputuskan dan ditetapkan  bahwa:

1. Upacara bayuh tampel bolong dilaksanakan, Tgl 15 MEI 2022/ PURNAMANING DESTA. Diadakan di Griya Agung Bangkasa, Jl. Tangsub no 4 Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal Badung Bali (sebelah utara SMP N 4 Abiansemal) dari pukul 09.00 sampai selesai. 

2. Punia Bebayuhan Tampel Bolong Rp. 350.000. / orang

3. Prosesi Ritual Pebayuhan masal bernaung dibawah Yayasan Widya Daksa Dharma, Griya Agung bangkasa, yang telah berbadan hukum dengan nomor : AHU-0006915.50.80.2014. 

4. No Tlp Yang dapat dihubungi: 
(081353057625 / 081936287278 a.n Tubaba); (085102866744 / 082145161677 a.n Ibu Aan)

5. Dipuput oleh Ida Sulinggih sarwa sadaka dan lintas pasemetonan

6. Peserta Bebayuhan membawa Pejati suang-suang, kuwangen madaging asep 7 katih anggen saat madudus agung,  segehan putih kuning, segehan kepelan manca warna maanggen ring arepan sang pinahayu sebelum muspa, tirtha Ida Bhatara Hyang Guru, dan makta genah tirtha.

Bayuh Tampel Bolong adalah Pamahayu Masal dan salah satu ceremony bayuh,  (ruwat / pangentasan)  yg hampir hilang di Bali. 

Kutipan lontar tampel bolong dan lontar kembang rampe:

Kapratyaksakna den ta makabehan,  kalinganing pamahayu tampel bolong, ngaranya waneh,  ika maka panebusan danda ikang hyang- hyanging wwang sudosa,  makadi pinaku jihwa,  rikahuripania swang - swang. 

Artinya :
Perhatikanlah penjelasan ku,  olehmu semua, y. Mengenai bayuh oton tampel bolong,  itu nama, y,  tujuan, y sebagai penebusan hukuman kepada leluhur,  dari org yg berdosa,  sebagai pembeli atau penebusan jiwa pada kehidupan masing - masing. 

Kutipan,,, 
Samangkana pretekaning rare,  pawehe mukti swarga nikang rat,  apan hana dosania duk ing kari maurip ring madhya pada nguni,  mangke tinemunya sengsara dinanda de sanghyang yamadipati,  pinelara denira watek bhuta kingkara.  Karananing wnang tinebus dening pangaci - aci manut sakramaning puja tampel bolong,  pahayunen ika pinaka panawar,  danda, ning sudosan ipun,  twin kadurmitan,  kaupadrawan,  lawan kadurmangalan ira,  prasida hning pamidanda, nira, agung alit tuten ira pwa denta,  wnang kaparisudha de sang rumaga putus, 

Artinya :
Demikianlah upacara ini terhadap anak,  sehingga dapat menemui dan menikmati sorga di dunia (semasih hidup)  krn ada dosa, y pd kehidupan terdahulu,  mk skrg menerima penderitaan di hukum oleh sanghyang yamadipati,  dan para bhuta kingkara.  Itu yg menyebabkan patut di tebus (bayuh / rwat)  dgn upacara bebayuhan yg di sebut " tampel bolong " yg sekali gus merupakan pembebasan hukuman org yg berdosa,  atau org yg mempunyai pertanda buruk, mala petaka,  dan isyarat yg kurang baik pd kehidupan skrg.  Bebayuhan tampel bolong,  bs menghilangkan hukuman yg besar maupun kecil,  krn itu patut di ikuti dan di sucikan di mana du puput oleh sang sulinggih,,,,,,!!!

Kutipan :
Pamahayu " tampel bolong" make pangilanganing papa klesa,  panyadma, nya mwang kadurmitania ring loka.  Agung alit ika pamahayunan,  manggawe kepagehaning sang hyang pramana,  makadi sanghyang urip ring bhuwana,  mangkana kengetakna denta presamya,,,,, 

Artinya :
Pabayuhan tampel bolong sebagai penghapus papa atau penderitaan,  baik yg di bawa sejak lahir,  maupun kemalangan dlm hidup ini.  Besar,  kecil, y bebayuhan tampel bolong ini,  hendak, y di lakukan pd setiap org,  yg akan menyebabkan langgeng ( kekal, y)  sang atma dan jiwa, y di dunia. Demikianlah agar sllu di ingat olehmu semua, y,,,,  

Kutipan : 
Kunang wwang tan maka don pinahayunen " tampel bolong"  salawasnya tan amanggih amretha sanjiwani lawan kaswargani,  apan jadma tan kasupat dening sang putus siwa,  kalawan bodha,  wnang amanggih panca gati,  sangsara sama lawan atmaning wwang,  tulah kneng utpata,  upadrawa,  tan dadya jadma mwah encep ring kawah,,,,,, 

Artinya :
Kalau ada org yg tidak melakukan rwatan / bebayuhan tampel bolong,  selama, y tidak akan menemui keberhasilan dlm hidup, y.  Dan menemukan sorga, y. Krn org itu tidak di sucikan oleh pandita siwa dan budha,  mk wajarlah menemukan lima macam kesengsaraan,  sama sprti atma org yg mendapatkan kutukan,  tidak akan menjelma mnjadi manusia lagi,  dan akan selama, y tenggelam dlm api neraka,,,,,, 

Utk itu dpt di simpulkan  bhwa: pebayuhan tampel bolong,  merupakan puncak dari semua pebayuhan yg ada.  Dimana bebayuhan ini berfungsi sebagai  penyempurna dari semua pebayuhan yg ada. 

NB; 
Makta pejati asoroh jangkep, segehan, toples wadah tirtha, miwah tirtha ida bhatara guru lan dalem karang. (sampunang nganggen plastik) 

Sane arsa nyarengin mangda mendaftar ring koperasi kmds griya agung bangkasa. 

Rikala aedan bayuh tampel bolong sane pacang kapolihang sekadi
1. Madudus ring marga agung
2. Panglukatan pancawara, saptawara ring jaba tengah.
3. Panglukatan melik, sanan empeg, telaga apit bulakan, bulakan apit pancoran
4. Panglukatan Bhatara Brahma
5. Panglukatan Tampel Bolong
6. Natab tebasan2 lan ngenggen sarana tampel bolong, ngemargiang pamegat sotsot.
7. Ngaturang sembah bhakti

Asapunika pamargi polah palihnyane. 

Punia semeton puniki ayat anggen ngwangun pura kahyangan dharma smrti ida bhatara sinuhun. 

#PEBAYUHAN MASAL TAMPEL BOLONG, SAPUH LEGER, MELIK, DAN SANAN EMPEG#

#Kutipan Pustaka Lawar Capung Ki Dalang Tangsub#

MAHA NIRWANA TANTRA

MAHA NIRWANA TANTRA
Eksistensi Nabe Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba
Griya Agung Bangkasa di Bongkasa
Maha Nirwana (atau Mahānirwāna) Tantra adalah Tantra Sastra yang menguraikan mengenai Siwa dan sakti yang merupakan bentuk Sastra Hindu yang masih kurang dikenal sebagai konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu disebutkan widya wahana yaitu :
Karena ajaran-ajarannya tergolong memang sulit sehingga diperlukan tingkat evolusi berpikir untuk bisa menyerap dan memahaminya. 
Selain itu juga karena arti terhadap beberapa istilah serta metode yang dilaksanakan terus dijaga kerahasiannya oleh para penganutnya. 

Tantra Sastra dikatakan sebagian ilmu pengetahuan spiritual untuk periode Kaliyuga sekarang (Avalon’s, 1997 : v), disebutkan sebagai berikut :
Siwa telah bersabda: “untuk menyempurnakan manusia di zaman Kaliyuga, pada ketika manusia menjadi sangat lemah dan hidupnya hanya tergantung kepada makanan-makanan saja, maka O Dewi dirumuskanlah ajaran-ajaran daripada kaula” (Bab IX, bait 12 Mhn. T.).
Mahānirwāna Tantra yang menguraikan mengenai Siwa dan sakti demikian : “Eksistensi kekal, yang tidak bisa dipecah belah itu, yang kesadaran-Nya melampaui batas tūriya dan mengatasi semua keadaan yang lain, itulah absolute yang tak berciri, 
Brahman yang Agung atau Parabrahman. Dia terbebas (nishkala) dari pengaruh Prakriti atau terbebas dari ciri-ciri Prakriti (nirguna), 
Dia-lah Pribadi di dalam, subjek dari yang mengetahui, karena itu, tidak pernah Dia itu menjadi objek pengetahuan.
Dia itu tanpa nama, maka Brahman itu disebut Tat (Itu), dan kemudian Tat Sat (Itu Yang Ada). Matahari, bulan, bintang-bintang, dan semua yang kelihatan itu, 
Apakah semuanya selain sekedar sekilas cahaya yang tertangkap dari Tat itu?
Brahman meliputi keduanya niskala dan sakala (Avalon’s, 1997 : 3).

Menurut Mahānirwāna Tantra disebutkan bahwa : 
Pada mula-mulanya yang ada hanyalah satu yaitu Nishkala Brahman saja yang ada. Yang satu itu berkehendak, dan menjadi banyak. Aham bahu syam “Menjadilah Aku ini banyak”. 
Dia mewujudkan diri dalam bentuk para dewa dan dewi, dan juga berada di dalam pemuja sendiri. Perwujudannya itu ialah perwujudan alam semesta raya, termasuk segalanya yang berada di dalamnya. 
Di sini Tuhan Yang Maha Esa digambarkan dengan perwujudan immanent dan transcenden.

Perpaduan Hindu Siwaisme dengan Buddha Mahayan

Dasar-dasar paham Tantra sebenarnya telah ada di India sebelum bangsa Arya datang di India, jadi sebelum kitab Weda tercipta. Pada masa itu, di peradaban lembah Sungai Sindu, cikal-bakal paham Tantra telah terbentuk dalam praktik pemujaan oleh bangsa Dravida terhadap Dewi Ibu atau Dewi Kemakmuran. Dalam salah satu seloka lagu pujaan, 

Dewi ini dilukiskan sebagai penjelmaan kekuatan (sakti) penyokong alam semesta. Timbullah paham Saktiisme, atau disebut juga Kalaisme, Kalamukha, atau Kalikas (Kapalikas), yang dianut oleh penduduk asli India tersebut. Karena pengikut sekte ini kebanyakan penduduk asli India, maka oleh bangsa Arya disebut Sudra Kapalikas.

Aliran ini memusatkan pemujaan terhadap Devi/Dewi sebagai Ibu Bhairawa (Ibu Durga atau Kali). Sebagai sakti (istri) Dewa Siwa, kedudukan Dewi Durga ini lebih ditonjolkan daripada dewa itu sendiri.
Peran Dewi Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran ini disebut Kalimasada (Kali-Maha-Husada), artinya “Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab” dalam zaman kekacauan moral, pikiran, dan perilaku. 

Jumat, 25 Maret 2022

Dudonan Acara Munggah Bhawati

Dudonan acara munggah bhawati
1. Pamabah miwah Pangaksama
2. Atur piuning prawartaka karya
3. Sambramawacana :
    a. Bendesa Adat Kelating
    b. Bendesa Adat Pangkungkarung
    c. Pengurus PDDS Bali
4. Mesandekan katurang boga
5. Pamuput

Kamis, 24 Maret 2022

Lontar Penyarang


Lontar Penerang



Adapun mantra-mantranya yakni:

#Mantra tersebut digunakan untuk menghadirkan kilap atau petir saat terjadi pergesekan antar balian terang.


Om Sang Kalacakra-gni-indra, Am panukupan gumi Wetan, idep, Om Sang Brugada, Am panukupan gumi kidul, idep, Om Sang Kala-laki, panukupan gumi kulon, idep, Om Sang Kala-gni-braja, panukupan Lor, Idep, Am Ah panukupan gumi panggawa sakti aheng, angadeg aku ring tengah, atapakan aku kilap/tatit, amanca-warna, apayung aku gni makobaran, AH OH UM, dadya metu mega amanca-warna, ring wetan, Kidul, Kulon, Elor, aprabawa kilap/tatit, krug krebek, ambekta ing situbanda, makerak Sanghyang Sakti haheng, sapa anuduh kita, sapa angreka kita, mulih kita ring kamulamu, apan aku gurumu, aku angreka kita, Om Am Ah. 


#Mantra untuk menggeser awan mendung atau posisi hujan dengan sarana baleman atau api.

Om terang wetan terang Kidul, terang Kulon terang Lor, mundur Sanghyang Gelap tiba tangk maring alas-agung, teka syah galang, Om Sang Garuda putih miber Mangetan, mulih mangalor, deleng ring tengah, aku mamedah papetengawun-awun byar pada galang.

#Mantra yang digunakan untuk menghadirkan angin saat menggeser awan atau mendung itu. Sarananya yakni menggunakan gedebong rajah Antaboga. 

Om Sang Antaboga, mayoga ring Sapta-patala, atemu adadi kumudug luhuring Pritiwi Akasa matemahan dadi linus baret riyut-riyut, Om Sang Wandara Petak, angadeg tengahing Antariksa, angaji baret anglinus, rubuh ikang taru-agung, salwiring maruta, teka sinang, maring kemulanira, teka syar galang.

#Mantra untuk menghadirkan guntur atau halilintar. Dalam hal ini ada dua mantra berbeda yang digunakan namun memiliki fungsi yang sama. 

#Yang pertama dengan menggunakan senjata pecut atau cambuk yang terbuat dari lidi nyuh gading dengan metali benang tridatu. 


#Mantra yang diucapkan untuk menghadirkan halilintar itu adalah, 

Om Metu Sang Ramadewa, apareng ring Sang Rawana, apa aku Sang Ramadewa sakti, AH, IH.

#Mantra yang kedua dengan menggunakan sarana cambuk atau pecut dengan rajah naga yang menghadap ke atas. Mantranya berbunyi, 

Om pecutira Bhatara Bima, makeber makepung teked babwan di langit mmulakang mega papeteng awun-awun,balengbong caraking tawun, ucur-ucur mati, byar apadang, 3, muksah tan ana katon, sidi mantranku.

Banten yang digunakan dalam ritual nerang hujan secara umum adalah santun sarad, suci, tipat kelanan, pangambyan, tebasan, sorohan alit, segehan kepelan bang penastan, arak, berem, air, dupa 11 batang. Di samping itu, untuk memperkuat sarana tersebut, diperlukan sarana tambahan berupa kunda pemujaan sang Hyang agni atau sembe layar, pasepan atau padupan rokok, api pedamaran, baik lilin atau ganjreng (untuk ganjreng biasanya menggunakan minyak nyuh surya) cabe yang ditusuk dengan sebatang lidi yang biasa digunakan untuk menyapu (sampat) banten pajati. Ditambahkannya, beberapa orang ada yang menggunakan sarana seikat dupa menyala dan nyuh gading marajah Triaksara.

Pemujaan Sang Hyang agni di kunda dan pedamaran Sambe Layar atau api terapung adalah salah satu simbol Hyang Agni, merupakan sistem padamaran (dipa) dengan menggunakan mangkok kramik (istilah Balinya cawan sutra), sumbu-nya benang tukel (sejenis kapas). Minyak yang digunakan adalah minyak atau  lengis nyuh surya, bumbunya  digantung dengan busung (janur) atau daun lontar berbentuk tapak dara yang dirajah Ong-kara pasupati. Selanjutnya, diatasnya diisi batas uang kepeng sebagai penyangga api. Bila memungkinkan, uang kepengnya gunakan yang tridatu atau pancadatu dan sangat direkomendasikan menggunakan pis wayang (pis anoman, pis padma atau nawasanga).

#Mantra nerang hujan pendek ini, yakni Ang Ung Mang Syah diucapkan 11 kali dengan  ngacep Ida Bhatara Dalem mohon penugerahan panerangan, gunakan pula sarana banten pajati dengan 11 dupa yang dihaturkan kehadapan Bhatara Surya (Sanggah Surya).

#tubaba@griyangbang//lontar panyarang#


WIKU

.                 " WIKU / WIKU - WIKUAN "


    Orang yang bagaimana disebut WIKU ? Pertanyaan seperti itu kerap muncul dalam perbincangan banyak orang . Melalui pertanyaan itu mereka seakan INGIN MEMBEDAKAN yang mana WIKU dan yang mana WIKU - WIKUAN . Keinginan MEMISAHKAN yang ASLI dengan yang PALSU adalah WAJAR dan MANUSIAWI . 

KARENA DALAM PERTEMUAN BANYAK WIKU MISALNYA . TIDAK LAGI MUDAH MENUNJUK YANG MANA WIKU - WIKUAN DAN YANG MANA WIKU SEJATI . 
KEDUANYA MENAMPAKKAN DIRI DENGAN ATRIBUT DAN AKSESORIS YANG NYARIS TIDAK BERBEDA . 

        Istilah WIKU - WIKUAN bukan buatan karena MERASA IRI  ( TIDAK ) ini murni karena melihat PRAKTEK DIMASYARAKAT . 
Istilah itu tercantum dalam beberapa PUSTAKA tentang WIKU dan KEWIKUAN . Kenyataan itu menandakan bahwa Fenomena WIKU - WIKUAN ternyata sudah menjadi KELUHAN JAGAT sejak dahulu bahkan sebelum teks - teks itu disusun . 

Sekarang kembali kita pertanyakan , SIAPAKAH YANG SEBENARNYA YANG DISEBUT WIKU ITU ? 

PERTANYAAN IN TENTU SANGAT RELEVAN . KARENA SEKARANG INI PERKEMBANGAN JUMLAH WIKU SANGAT PESAT . 

      Dari berbagai Pustaka tentang WIKU dan KEWIKUAN , kita mendapat berbagai petunjuk bagaimana caranya mengenali sosok WIKU . 
Tiga diantara petunjuk itu adalah : 
1) . WIKU adalah ORANG SUCI 
       WI berarti TIDAK 
       KU berarti KOTOR 
      ( secara harfiah seorang wiku adalah orang 
         Yang tidak kotor , atau orang suci . 
         Apanya yang suci ? 
         Suci badan kasarnya . Suci badan halus - 
         nya . dan suci pula badan pembungkus 
         Atmanya ) . 

2) . WIKU adalah seorang SADHAKA . 
      ( yang disebut SADHAKA adalah orang yang 
         Menggelar SADHANA .  yang dinamakan 
         SHADANA adalah YOGA ) . 

3) . WIKU adalah orang yang Bertongkatkan 
       SHASTRA . 
       ( Maksudnya ..... Orang yang disebut wiku 
          Adalah orang yang menggunakan 
          SHASTRA sebagai pegangan . 
          SHASTRA menjadi pegangan sang wiku
          Ketika menempuh hidup . dan ketika 
          menyongsong mati ) . 

                       ITULAH SEBABNYA 
                DALAM BERBAGAI CERITA 
             DIANALOGIKAN BAHWA WIKU 
                YANG TIDAK BERSHASTRA 
                             TIDAK BEDA 
                DENGAN ORANGTUA RENTA 
                         TANPA TONGKAT .

     Seperti itulah barangkali jadinya apabila WIKU TIDAK BERTONGKAT SHASTRA . Keadaannya SANGAT MEMPRIHATINKAN dan sekaligus SANGAT MEMBAHAYAKAN ! . karena bagaimana mungkin seorang WIKU akan berhasil MERAHAYUKAN JAGAT . apabila MERAHAYUKAN DIRINYA SENDIRI saja ia TIDAK MAMPU . mana bisa seorang WIKU mengentaskan kesengsaraan ATMA  orang banyak . Sedangkan ATMA SENDIRI belum tentu bebas dari PAPA  dan SENGSARA . 

                         ITULAH SEBABNYA 
                  KEADAAN SEORANG WIKU
                     YANG TIDAK MEMILIKI 
                       TONGKAT SHASTRA 
         ATAU YANG KEHILANGAN SHASTRA
                SANGAT MEMPRIHATINKAN .
          KEHADIRANNYA  JUGA DIPANDANG
                      SANGAT BERBAHAYA 
                        BAGI KERAHAYUAN 
          SEGALA YANG HIDUP DI JAGAT INI .

     Ajaran tentang TONGKAT SHASTRA sebenarnya TIDAK HANYA DITUJUKAN kepada para WIKU . Pesan NITI SHASTRA itu terutama di TUJUKAN kepada para CALON WIKU . BAIK CALON YANG SUDAH MATANG .
HAMPIR MATANG . CALON SETENGAH MATANG ATAU MATANG SEPARO . ATAUPUN CALON YANG MASIH MENTAH . 

apa yang dikatakan NITI SHASTRA itu tidak ubahnya sebagai sebuah PERINGATAN KERAS agar jangan sampai TIDAK MEMPERCAYAI AJARAN TONGKAT SHASTRA . 

Kalau sampai TIDAK MEYAKINI KEBENARAN PESAN itu . Maka akan TERJADI seperti tertulis dalam karya Shastra SALAMPAH LAKU 

        " HANA WONG PANGRESEK JAGAT "

Maksudnya ....
       
                      ADA ORANG ( CALON )
                      YANG KEHADIRANNYA 
                              TIDAK LEBIH 
                      SEKEDAR MENAMBAH
                    JUMLAH ORANG ( WIKU )
           DI DUNIA YANG SEMAKIN SESAK INI

OM NAMA SIWA YA . 

Rabu, 23 Maret 2022

Susunan acara Piodalan


Susunan acara Piodalan Sang Hyang Aji Saraswati sebagai berikut.

  1. Persiapan:
    1. Nyoroh banten (menata banten).
    2. Ngunggahan banten di pelinggih-pelinggih
    3. Mangku Melaksanakan Tata lungguh, Puja tirta penglukatan, byakala, durmangala, prayascita dan penglukatan
    4. Piuning ke surya nunas upesaksi.
    5. Pasupati daksina lingga.
  2. Mecaru ekasata (brumbun).
  3. Puja Pangastawan
  4. Katuran tari rejang dewa.
  5. Mendak ngubeng Ida Betara murwa daksina
  6. Mekala iyas, nganteb keluan dan keteben
  7. Ida Betara (daksina lingga) kelinggihang ring pelinggih soang-soang.
  8. Ida Betara katuran pujawali: Ngantebang keluhur, keteben.
  9. Bakti sinarengan:
    1. Puja Tri Sandhya
    2. Muspa keramaning sembah
  10. Puja nedunang tirta wasupada Ida Betara
  11. Nunas tirta wasupada Ida Betara
  12. Ngedengan pras
  13. Nganteb banten pengarep
  14. Ngaturang Pependetan
  15. Parama shanti
  16. Nglungsur nunas prasadam
#tubaba@griyangbang#

Minggu, 20 Maret 2022

Bekerjalah buat dirimu sendiri De......! 

Pada dasarnya bekerja buat diri sendiri itu untuk membangun nilai pribadi kita ke arah yang positif”. 

Statement itu yang sebenarnya bagus, namun terkesan egois. Coba bayangkan kalau kita bekerja hanya untuk memenuhi segala kebutuhan kita sendiri saja? Apa yang mau dicapai? 

Kesannya menjadi sangat individualis. Tujuan yang ingin dicapai hanyalah ambisi pribadi saja.