Sabtu, 09 Desember 2023

DAFTAR WISATA SPIRITUAL

Spiritual Tourism Price List:
1. Balinese birthday ceremony Rp. 3.000.000 per person.

2. Pawacak/reading the birth palm print Rp. 500,000 per person.

3. Veda bathing ceremony Rp. 500,000 per person.
4. Sanghyang Agni Puja Ceremony per person Rp. 750,000 minimum one group consists of 5 people.

6. Food and drink and coffee per person Rp. 200,000

7. Balinese traditional wedding ceremony package with invitations of 50 people Rp. 35,000,000

8. Gentha yoga tour Rp. 200,000 per person.
9. Prana yoga tourism Rp. 150,000 per person.

10. Surya Namaskara Yoga Tour Rp. 200,000 per person.

11. Bayuh ceremony/ruwatan tampel bolong Rp. 700,000 per person, minimum 5 people

12. Gender Tourism per Person 350,000 per hour
13. Majejahitan Tourism per person IDR 150,000

14. Tour to Make Pre-Gembal Upakara Snacks Rp. 250,000 per person

15. Bali Dancing Tour Rp. 150,000 per person

16. Nabuh Gong Bali Tour Rp. 200,000 per person
17. Balinese Flute Sounding Tour Rp. 200,000 per person.

Hubungan Antara Panca Rsi atau Panca Tirtha dengan Panca Brahma

Panca Rsi atau Panca Tirtha dengan Panca Brahma

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manusia, S.S., M.Pd

Panca Rsi/Panca Tirtha merupakan Lima Brahmana bersaudara putra dari Mpu Tanuhun yang lahir di Bali, dari yang tertua yaitu Sang Brahmana Pandita (Mpu Gnijaya), Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bradah.

Disebutkan dalam silsilah & kisah bhagawanta, mereka adalah keturunan dan putra dari Ida Danghyang Tanuhun yang berasal dari jawa.

Dan adapun kelima pandita dengan kedatangannya di Bali yaitu :
1. Mpu Gnijaya, tahun Isaka 971 atau 1049 Masehi
2. Mpu Semeru, tahun Isaka 921 atau 999 Masehi
3. Mpu Ghana, tahun Isaka 922 atau 1000 Masehi
4. Mpu Kuturan, tahun Isaka 923 atau 1001 Masehi
5. Mpu Bharadah, tahun Isaka 963, tahun 1041 Masehi

Kelima panca pandita tersebut dalam sejarahnya sangat terkait dan berpengaruh dengan keberadaan tempat tempat suci, pengembangan konsep - konsep ajaran Siwa Buddha dan Hindu Dharma, pemersatu sekte - sekte, upacara yadnya dan lain-lain yang ada di Bali.

Juga dibangunnya konsep pura kahyangan tiga, pesraman di Pura Agung Besakih yang telah dibangun pertama kali oleh Rsi Markandeya, Pura Lempuyang Madya, Pura Silayukti dan lain-lain sebagai warisan adat, seni dan budaya seperti yang dilestarikan di Bali sampai dengan saat ini.

Sebagai Hyang Dewata, pemujaan panca rsi ini di Pedharman Pura Besakih disebutkan :
1. Mpu Geni Jaya di Pelinggih Meru Tumpang Tiga, aksara Sang sebagai tirta sanjiwani untuk penglukatan (pembersihan) di timur dengan warna putih. Ring Ubun-ubun : ONG, ING ICANA YENAMAH SWAHA

2. Mpu Semeru di Pelinggih Meru Tumpang Tujuh, aksara Bang sebagai tirta kamandalu untuk pengleburan ( menghancurkan ) di selatan,warna merah. Ring Selagan alis : ONG TANG TATPURUSA YENAMAH SWAHA.

3. Mpu Kuturan di Pelinggih Manjangan Saluwang, aksara Tang merupakan tirta kundalini untuk pemunah (menghilangkan ) di barat warna kuning. Ring Bahu kanan : ONG BANG BAMA DEWA YENAMAH SWAHA.

4. Mpu Gana di Pelinggih Pepelik, aksara Ang merupakan tirta mahatirta untuk kesidian (agar sakti ) di utara warna hitam. Ring Bahu kiri : ONG SANG SADYOJATA YENAMAH SWAHA, dan

5. Mpu Beradah di Pelinggih Pepelik, aksara Ing merupakan tirta pawitra untuk pangesengan (membakar ), di tengah warna brumbun, campuran kelima warna. Ring Tenggorokan : ONG ANG AGORE YENAMAH SWAHA.

Wantah” Tirta Pawitra” (Tirta prawitosari), sane presida ngelebur “mala” sane wenten ring angga.
Parade mala ring angga sampun kelebur,wahu presida ngerasayang sane kinucap “Satyam,Siwan,Sundaram” (kebenaran, kebahagiaan, keindahan). 

Dengan demikian berkaitan Panca Rsi dengan penggunaan tirtha sebagai air suci dalam Panca Tirta dan aksara sucinnya 

Panca Brahma adalah lima perwujudan dari Dewata Nawa Sangha yang disebutkan dalam kutipan sumber Lontar Siwa Sasana yang terdiri dari :
    1. Sadya/Sadyajata, sebagai penguasa organ penciuman.
    2. Bamadewa, yang menjadi penguasa segala ego.
    3. Tatpurusa, yang menguasai segala bentuk objek kenikmatan.
    4. Aghora yang menguasai dan memenuhi prinsip kecerdasan, dengan segala atributnya untuk kepentingan Dharma.
    5. Isana yang berada dalam jiwa.
    Setelah Panca Rsi ini pulang ke alam baka, disebutkan anak cucu dan turun – turunan dari Sang Panca Rsi itu semua sangatlah astiti dan bakti terhadap Tuhan, terutama terhadap leluhurnya yang telah menjadi Dewata, pada suatu ketika pada saat akan datangnya hari Purnama Kapat bermusyawarahlah Sang Sapta Rsi / Sapta Pandita untuk berangkat kembali lagi ke Bali yang dipimpin Mpu Ketek disertai oleh adik - adik, anak – anaknya dan keluarga sekalian untuk melakukan pujawali Bhatara – Bhatari di Besakih.


    DASA AKSARA


    DASA AKSARA DALAM TUBUH MANUSIA

    Abstrak
              Umat Hindu di Bali pada umumnya adalah penganut ajaran Siwaisme, maka yang menonjol adalah aksara modre yang dipergunakan oleh penganut ajaran ini. Aksara Suci termaksud ada sepuluh buah yaitu SA, BA, TA, A, I, NA, MA, MA, SI, WA, YA atau SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, YANG. Setiap tubuh manusia terdapat huruf – huruf yang sangat disucikan, diceritakan pula bahwa Dewa-Dewa dari huruf suci tersebut bersatu menjadi sang hyang ‘dasa aksara’. Dasa aksara merupakan sepuluh huruf utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya dan sangat erat hubungannya dengan dewata nawasanga.
                 Kesepuluh huruf atau yang disebut dengan Dasa Aksara dipandang sakti. Aksara Ang, Ung dan Mang disingkat AUM atau OM dan dibaca ONG merupakan simbul Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Saiwa (Trimurti atau Tri Sakti) yang kesaktiannya diakui baik oleh aliran Siwa maupun Buddha. Aksara OM merupakan simbul dari Utpeti, Sthiti dan Pralina yaitu lahir, hidup dan mati.
              Hubungan antara Dasa Aksara dengan Tubuh Manusia (Bhuana Alit) yang mana pada titik-titik tertentu dalam tubuh manusia terdapat dasa aksara tersebut. Cara menempatkan sang hyang dasa aksara didalam badan, yang merupakan linggih (stana) dewata nawasanga di dalam tubuh manusia, diantaranya; (1) sa ditempatkan di jantung, dewa Iswara, (2) ba ditempatkan di hati, dewa Brahma, (3) ta ditempatkan di lambung, dewa Mahadewa (4) a ditempatkan di empedu, dewa Wisnu, (5) I ditempatkan di dasar hati, dewa Siwa, (6) na ditempatkan di paru - paru, dewa Maheswara, (7) ma ditempatkan di usus halus, dewa Rudra, (8) si ditempatkan di ginjal, dewa Sangkara, (9) wa ditempatkan di pancreas, dewa Sambhu, (10) ya ditempatkan di ujung hati, Dewa Siwa.
                Dasa Aksara memiliki nilai yang tinggi sehingga Dasa Aksara dituliskan pada alat-alat atau sarana yang dipakai dalam Dewa Yajna, Rsi Yajna, Manusa Yajna, Pitra Yajna (Atma Wedana)

    I. Pendahuluan
              Menurut Prof.Dr. Tjok Rai Sudharta MA, (SARAD No.36/2003) perjalanan Agama Hindu sampai di Indonesia ternyata tidak semua langsung datang atau dibawa dari India. Agama Hindu di India sendiri menyentuh Nepal, sehingga bangunan Meru yang ada disana sama dengan yang ada di Bali. Lalu menyentuh juga Tibet, sehingga sarana genta dan petanganan mudra yang dipakai Sulinggih di Bali juga dipakai di Tibet. Kemudian menuju Asia Tenggara, Cina, sampai menyebrang ke Kalimantan Timur (Kutai). Oleh karena itu ada sarana uang kepeng atau jinah bolong, dupa dan uluntaga. Itulah berbagai jenis simbul yang kini ditemukan dan dipergunakan di Bali.
              Mengenai simbol lain dalam bentuk huruf atau aksara, di Bali dikenal ada tiga macam aksara, yaitu: (a) Pertama aksara wrestra. Aksara ini digunakan dalam bahasa Bali lumrah berdasarkan hanacaraka yang berjumlah 18 aksara. (b) Kedua aksara swalalita. Aksara ini digunakan dalam sastra Jawa Kuno, berjumlah 35 aksara, hampir sama dengan aksara dalam bahasa Sansekerta. (c) Ketiga aksara modre. Aksara ini digunakan untuk kadyatmikan seperti untuk japa, mantra, lambang-lambang keagamaan, upacara yang berhubungan dengan dunia kegaiban dan pengobatan (usada). Aksara modre inilah yang dimaksud dengan Aksara Suci dalam Agama Hindu (Suhardana, 2006:90)
              Aksara atau huruf yang yang ada di Bali diperkirakan merupakan modifikasi dari huruf Jawa. Dan huruf Jawa ini mungkin berasal dari huruf Sansekerta, India. Diduga bahwa huruf atau aksara ini dibawa oleh Raja Aji Sakti yang datang ke Jawa pada tahun 78 atau 79 Masehi. Sebab pada waktu itu mulai diterapkan Tahun Caka yang berbeda sekitar 79 tahun dengan tahun Masehi. Huruf yang diperkenalkan pada waktu itu sebenarnya bukanlah huruf tetapi suku kata, yang terdiri dari atas suku kata: ha, na, ca, ra, ka, ga, ta, ma, nga, ba, sa, wa, la, pa, da, ja, ya, nya. Kedelapan belas aksara ini dapat dirangkaikan menjadi suatu kalimat, untuk memudahkan menghapalkannya, yakni: hana caraka gata mangaba sawula pada jayanya. Artinya: ada (dua orang) hamba berpengalaman membawa surat, sama perwiranya. Tetapi ada pula yang menulis aksara ini sebagai berikut: Hana caraka dhata sawala pada jayanya magabathanga. Artinya: Ada (dua) prajurit berkelahi, sama saktinya (akhirnya) keduanya menjadi mayat.
              Kedelapan belas aksara ini merupakan wre-astra, yakni aksara yang tampak dan dapat diajarkan kepada siapa saja. Sedangkan aksara yang tidak tampak yang terdiri atas dua buah aksara disebut swalalita yaitu Ah dan Ang merupakan aksara yang tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang. Kedua aksara swalalita ini dilengkapi dengan pangangge sastra, yaitu kelengkapan aksara berupa ardha-candra berbentuk bulan sabit, windu yang melambangkan matahari berbentuk bulatan, dan nada melambangkan bintang yang dilukis sebagai segitiga. Ketiga pangangge sastra ini sering dipasangkan dengan aksara huruf hidup: a, i, u, e, o sehingga dibaca menjadi: ang, eng, ing, ong, dan ung. Suku kata ini disebut: ang-kara, eng-kara, ing-kara, ong-kara, dan ung-kara. Bentuk seperti ini disebut modre. Kelengkapan ketiga aksara swalalita ini sering dihubungkan dengan kekuatan dan simbol dari dewa, sehingga bentuk windu adalah lambang agni, Dewa Brahma, sama dengan aksara Ang. Bentuk ardha-candra adalah lambang air, Dewa Wisnu sama dengan aksara Ung. Dan bentuk nada adalah lambang udara, Dewa Siwa sama dengan aksara Mang. Ketiga aksara ini jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. Di Bali diucapkan Ong. Aksara Ong-kara inilah sumber dari semua aksara, sehingga disebut wija-aksara, aksara yang maha suci, lambang Dewa Trimurti (Nala, 1993:96-97)
             
    II. Pembahasan
              Umat Hindu di Bali atau Indonesia pada umumnya adalah penganut ajaran Siwaisme, maka yang menonjol adalah aksara modre yang dipergunakan oleh penganut ajaran ini. Aksara Suci termaksud ada sepuluh buah yaitu SA, BA, TA, A, I, NA, MA, MA, SI, WA, YA atau SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, YANG. Setiap tubuh manusia terdapat huruf – huruf yang sangat disucikan, diceritakan pula bahwa Dewa-Dewa dari huruf suci tersebut bersatu menjadi sang hyang ‘dasa aksara’. Dasa aksara merupakan sepuluh huruf utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya dan sangat erat hubungannya dengan dewata nawasanga. Dari sepuluh huruf bersatu menjadi panca brahma (lima hurup suci untuk menciptakan dan menghancurkan), panca brahma menjadi tri aksara (tiga hurup), tri aksara menjadi eka aksara (satu hurup). Ini hurupnya: “OM”. Bila sudah hafal dengan pengucapan hurup suci tersebut agar selalu di ingat dan diresapi, karena ini merupakan sumber dari kekuatan alam semesta yang terletak didalam tubuh kita (bhuana alit) ataupun dalam jagat raya ini (bhuana agung) .

    2.1 Dasa Aksara
              Menurut lontar atau buku Usada Tiwas Punggung (Punggung Tiwas), dasa aksara terdiri atas 10 aksara suci atau wijaksara, yaitu: Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, dan Yang. Kesepuluh aksara ini berasal dari delapan buah aksara wianjana (sa, ba, ta, na, ma, si, wa dan ya) dan dua buah aksara suara (a dan i). Kalau kesepuluh aksara ini dirangkai dalam kata-kata akan terbentuk sebuah kalimat, yang bunyinya sebagai berikut: sabatai nama siwaya. Kalimat ini merupakan ungkapan doa untuk memuliakan Dewa Siwa (nama Siwaya). Di antara para dewa, Sang Hyang Siwa paling dimuliakan oleh umat Hindu di Bali, karena kebanyakan dari mereka menganut ajaran Siwa Siddhanta. Dewa-dewa yang lain tetap dihormati, tetapi tidaklah semulia dewa Sang Hyang Siwa, karena dewa tersebut merupakan perwujudan Dewa Siwa juga ketika sedang melaksanakan fungsi atau tugasNya.
              Bagi mereka yang ingin mempelajari Dasa Aksara ini untuk memahami inti ajarannya dengan benar dan mampu meresapkan ke dalam sanubarinya harus melalui suatu upacara yang disebut Pawintenan Sastra Mautama (maha Utama), suatu upacara untuk penyucian diri, baik sthula sarira (jasmani) maupun suksma sarira (rohani). Bila hal ini tidak dilaksanakan maka kemungkinan akan mendapat halangan dalam proses pembelajarannya, sehingga tidak tercapai apa yang dituju.
              Masing-masing dari aksara ini mempunyai linggih, genah, sthana (tempat, kedudukan) baik di dalam badan manusia (bhuana alit, mikrokosmos), maupun di alam raya (bhuana agung, makrokosmos). Di tempat linggih, kedudukan letak atau sthana dari tiap aksara ini bersemayam pula di tempat itu para Dewa, Sang Hyang atau Batara, lengkap dengan lambang warna, senjata dan simbol perwujudannya. Agar lebih memudahkan untuk mempelajari kaitan antara linggih (sthana), dewa, beserta perlambangannya dengan Dasa Aksara akan dibuatkan tabel atau matriks (modifikasi dari isi lontar Krakah Modre) sebagai berikut:

     



     
























    (Nala, 2006:107-108)
    2.2 Sakti
              Kesepuluh huruf atau yang disebut dengan Dasa Aksara dipandang sakti. Aksara Ang, Ung dan Mang disingkat AUM atau OM dan dibaca ONG merupakan simbul Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Saiwa (Trimurti atau Tri Sakti) yang kesaktiannya diakui baik oleh aliran Siwa maupun Buddha. Aksara OM merupakan simbul dari Utpeti, Sthiti dan Pralina yaitu lahir, hidup dan mati (Suhardana, 2006:91).

    2.3 Hubungan Dasa Aksara dalam Tubuh Manusia (Bhuana Alit) dan Alam Semesta (Bhuana Agung)
              Kedudukan kedelapan belas aksara Bali tersebut di dalam tubuh manusia atau bhuana alit adalah sebagai berikut: (1) Ha di ubun-ubun, (2) Na di antara kedua alis, (3) Ca di dalam kedua mata, (4) Ra di kedua telinga, (5) Ka di dalam hidung, (6) Da di dalam mulut, (7) Ta di dalam dada, Sa di tangan (lengan) kanan, (9) Wa di tangan (lengan) kiri, (10) La di hidung, (11) Ma di dalam dada kanan, (12) Ga di dalam dada kiri, (13) Ba di pusar, (14) Nga di dalam alat kelamin, (15) Pa di dalam pantat (anus), (16) Ja di kedua tungkai (kaki), (17) Ya di tulang belakang, (18) Nya di tulang ekor.
              Kelengkapan atau pangangge aksara mempunyai kedudukan atau tempat pula di dalam tubuh manusia, yakni: (1) Ulu di kepala (dalam otak), (2) Taling di hidung, (3) Surang di rambut, (4) Nania di lengan (tangan), (5) Wisah di telinga, (6) Pepet di batok kepala, (7) Cecek di lidah, (8) Guwung di kulit, (9) Suku di tungkai (kaki), (10) Carik di persendian, (11) Pamada di alur jantung.
              Hubungan antara Dasa Aksara dengan Tubuh Manusia (Bhuana Alit) yang mana pada titik-titik tertentu dalam tubuh manusia terdapat dasa aksara tersebut.
    cara menempatkan sang hyang dasa aksara didalam badan, yang merupakan linggih (stana) dewata nawasanga di dalam tubuh manusia, diantaranya;
    sa ditempatkan di jantung, dewa Iswara.
    ba ditempatkan di hati, dewa Brahma.
    ta ditempatkan di kambung, dewa Mahadewa.
    a ditempatkan di empedu, dewa Wisnu.
    I ditempatkan di dasar hati, dewa Siwa.
    na ditempatkan di paru - paru, dewa Maheswara.
    ma ditempatkan di usus halus, dewa Rudra.
    si ditempatkan di ginjal, dewa Sangkara.
    wa ditempatkan di pancreas, dewa Sambhu.
    ya ditempatkan di ujung hati, Dewa Siwa.
    Ada pula yang memberikan ulasan tentang dasa aksara ini bahwa setiap aksara itu mempunyai arti sendiri-sendiri, yaitu:
    Sa berarti satu
    Ba berarti bayu
    Ta berarti tatingkah
    A berarti awak
    I berarti idep
    Nama berarti hormat
    Siwa berarti Siwa
    Ya berarti yukti
    Dengan pengertian seperti itu, maka arti dari dasa aksara ini adalah orang yang mempunyai tingkah laku dan pikiran (idep) yang luhur saja yang mampu mempergunakan bayu kekuatan dari Siwa. Dengan menyatukan tingkah laku dan pikirannya dia akan mampu mempergunakan dasa bayu untuk kesehjateraan buana alit dan buana agung. Dasa aksara tersebut terbentuk dari dua jenis aksara suci, yaitu panca tirta dan panca brahma.Panca tirta, adalah sebagai berikut:
    1. sang sebagai tirta sanjiwani, untuk pangelukatan (membersihkan).
    2. Bang sebagai tirta kamandalu, untuk pangeleburan (menghancurkan).
    3. Tang merupakan tirta kundalini, utuk pemunah (menghilangkan).
    4. Ang merupakan tirta mahatirta, untuk kasidian (agar sakti).
    5. Ing merupakan tirta pawitra, untuk pangesengan (membakar).
    Ini yang dikatakan panca brahma, berada dalam diri manusia. Ini aksaranya;
    1. Nang disimpan di suara.
    2. Mang disimpan di tenaga
    3. Sing disimpan di hati/perasaan
    4. Wang disimpan di pikiran
    5. Yang disimpan di nafas.
     Kemudian balikkan hurup tersebut:
    1. Yang disimpan di jiwa
    2. Wang disimpan di guna/aura
    3. Sing disimpan di pangkal tenggorokan
    4. Mang disimpan di lidah
    5. Nang disimpan di mulut
    Bila Dasa aksara diringkas, aksara yang ada di panca tirtha dipasangkan dengan aksara panca brahma akan muncul Sang Hyang Panca Aksara. Inilah panca aksara tersebut:
    Sa + Na menjadi Mang
    Ba + Ma menjadi Ang
    Ta + Si menjadi Ong
    A + Wa menjadi Ung
    I + Ya menjadi Yang
    Panca Brahma dan Panca Tirta diringkas menjadi tri aksara (a, u, ma).
    Setelah itu baru turun arda candra (bulan sabit), windu (lingkaran) dan nada (titik). Baru boleh di ucapkan sang, bang, tang, ang, ing, nang, mang, sing, wang, yang. Jika Panca Tirtha digabung dengan Panca Brahma ditambah dengan Tri Aksara dan Eka Aksara akan terjadi Catur Dasa Aksara. Catur Dasa Aksara ini terdiri atas: sa-ba-ta-a-i ditambah na-ma-si-wa-ya, serta digabung dengan ang-ung-mang dan ong-kara yang erat kaitannya dengan catur-dasa-bayu, suatu kekuatan yang ada di dalam buana alit dan buana agung, yang memungkinkan manusia dan dunia hidup dengan wajar. Ini menyimpan Rwa bhineda (dua sisi dunia), ini suaranya; Ong Ung.
    · Ong di hati putih, ung di hati hitam.
    · Ung di empedu, ong di pankreas.
    · Ong di dubur, ung di usus.
    Lafalkan aksara tersebut lalu letakkan dalam tubuh kita dan alam semesta. Ini rangkuman intisari dari sastra yang berjumlah lima huruf, yang digunakan untuk memuja Tuhan, memanggil, menghaturkan persembahan, memohon anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa, diantaranya:
    · mantra untuk memuja Tuhan, Mang Ang Ong Ung Yang.
    · mantra untuk memanggil agar Tuhan berkenan hadir, Ang Ong Ung Yang Mang 
    · mantra untuk mempersembahan sesajen jamuan dari kita, Ong Ung Yang Mang Ang 
    · mantra untuk memohon anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa, Ung Yang Mang Ang Ong
    Ini suara inti sari; ekam evam dwityam Brahman, disebut ONG. Berupa api rwa bhineda Ang, berupa air rwa bineda Ah.
    · dasar mantra antuk tri aksara; Mang Ang Ung 
    · kemulan mantra; Ang Ung Mang 
    · pengastiti widhi dewa bethara; Ung Mang Ang 
    · iki pengeraksa jiwa antuk catur aksara; Mang Ang Ung Ong 
    · pengundang bhuta dengen antuk kahuripan; Ang Ung Ong Mang 
    · pemageh bayu ring raga antuk catur resi; Ung Ong Mang Ang 
    · pangemit bayu antuk catur dewati; Ong Mang Ang Ung
              Dasa Aksara memiliki nilai yang tinggi sehingga Dasa Aksara dituliskan pada alat-alat atau sarana yang dipakai dalam Dewa Yajna, Rsi Yajna, Manusa Yajna, Pitra Yajna (Atma Wedana) dan pada sarana lain yang diharapkan mempunyai jiwa dan makna yang penting dan suci (Suhardana, 2006:91).

    III. Penutup
              Dasa Aksara adalah sepuluh huruf yang disucikan yaitu SA, BA, TA, A, I, NA, MA, MA, SI, WA, YA atau SANG, BANG, TANG, ANG, ING, NANG, MANG, SING, WANG, YANG. Setiap tubuh manusia terdapat huruf – huruf yang sangat disucikan, diceritakan pula bahwa Dewa-Dewa dari huruf suci tersebut bersatu menjadi sang hyang ‘dasa aksara’. Dasa aksara merupakan sepuluh huruf utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya dan sangat erat hubungannya dengan dewata nawasanga. Aksara Ang, Ung dan Mang disingkat AUM atau OM dan dibaca ONG merupakan simbul Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Saiwa (Trimurti atau Tri Sakti) yang kesaktiannya diakui baik oleh aliran Siwa maupun Buddha. Aksara OM merupakan simbul dari Utpeti, Sthiti dan Pralina yaitu lahir, hidup dan mati.
              Hubungan antara Dasa Aksara dengan Tubuh Manusia (Bhuana Alit) yang mana pada titik-titik tertentu dalam tubuh manusia terdapat dasa aksara tersebut. Cara menempatkan sang hyang dasa aksara didalam badan, yang merupakan linggih (stana) dewata nawasanga di dalam tubuh manusia, diantaranya; (1) sa ditempatkan di jantung, dewa Iswara, (2) ba ditempatkan di hati, dewa Brahma, (3) ta ditempatkan di lambung, dewa Mahadewa (4) a ditempatkan di empedu, dewa Wisnu, (5) I ditempatkan di dasar hati, dewa Siwa, (6) na ditempatkan di paru - paru, dewa Maheswara, (7) ma ditempatkan di usus halus, dewa Rudra, (8) si ditempatkan di ginjal, dewa Sangkara, (9) wa ditempatkan di pancreas, dewa Sambhu, (10) ya ditempatkan di ujung hati, Dewa Siwa. Dasa Aksara ini dituliskan pada alat-alat atau sarana yang dipakai dalam Dewa Yajna, Rsi Yajna, Manusa Yajna, Pitra Yajna (Atma Wedana).


    Jumat, 08 Desember 2023

    Tenget

    Om Swastiastu, Om Awighnamastu Namo Siddham. Om Hrang Hring Sah Parama Siwaditya ya Namah. Terlebih dahulu, kami haturkan pangaksama mohon maaf ke hadapan Ida Hyang Parama Kawi serta Batara - Batari junjungan dan leluhur semuanya. Agar supaya, tatkala menceriterakan keberadaan para leluhur yang telah pulang ke Nirwana, kami terlepas dari kutuk dan neraka karena diambil dari berbagai sumber informasi, yang mungkin kurang tepat. Om Tat Pramadat Kesama Swamam. Om Santih

    TENGET

    Tenget adalah istilah dalam Bahasa Bali yang menyiratkan larangan untuk mengganggu terhadap areal / lingkungan, tempat, bangunan, tumbuhan, hewan atau benda-benda tertentu, karena dianggap keramat, suci, bertuah atau dapat mendatangkan bencana atau risqi bagi pendukungnya.

    Filosofis Tenget tidak bisa diungkap secara terpisah dari budaya Bali, yang bersumber dari sistem religi masyarakatnya. Ajaran kebenaran dalam Weda yang berkembang dalam tradisi Bali, melahirkan berbagai fenomena unik dalam budaya Bali (Surata dalam Supartha ed.– 1999). 
    Kebenaran (tatwam) itu kemudian diwujudkan menjadi etika (susila) yaitu pandangan tentang “baik buruk”; “boleh” atau “tidak boleh”; serta pandangan tentang rwa beneda (ada hulu hilir, tinggi rendah, dsb) terhadap lingkungan alam ataupun lingkungan sosial. Etika lingkungan tersebut, dikomunikasikan dengan simbol-simbol, salah satunya melalui tenget. Dengan demikian tenget adalah sebuah simbol. Simbol adalah keadaan yang merupakan peng-antara-an pemahaman tentang suatu obyek (Triguna). Obyeknya disini adalah etika yang bersumber dari kebenaran yang diyakini. Simbol berbeda dengan tanda karena simbol adalah bagian dunia makna manusia yang berfungsi sebagai designator, sedangkan tanda adalah bagian dunia fisik yang berfungsi sebagai operator. Kegiatan simbolik mengandung arti untuk sesuatu atau juga menggambarkan sesuatu, khususnya untuk menggambarkan sesuatu yang immaterial, abstrak, sesuatu idea, kualitas, tanda – tanda suatu obyek, proses dan lain – lain. 


    Tenget sebagai simbol yang abstrak adalah ekspresi dari prilaku simbolik manusia dan masyarakat Bali yang aplikasinya dapat terlihat dalam menyikapi lingkungan sebagai sesuatu yang tidak hanya besifat fisik tapi sekaligus non-fisik, yang tidak terbatas pada horisontal-imanensi manusia tapi juga dalam dimensi vertikal-transendental.

    Tenget sebagai fenomena lingkungan berlatar budaya, dapat ditelusuri melalui tiga kerangka / tahap pemahaman yaitu: 

    mitis (manusia tunduk kepada kekuatan alam / gaib)
    ontologis (bagi manusia, alam adalah obyek yang harus diketahui untuk dieksplorasi)
    fungsionil (manusia ingin melakukan relasi-relasi kebertautan dengan segala sesuatu dalam lingkungannya) sesuai pemikiran strategi kebudayaan van Peursen (1988). 

    Pemikiran ini bersesuaian dengan tiga tahapan evolusi hubungan manusia dengan alam yakni: 

    pancosmism (manusia sebagai bagian dari alam yang sakral); 
    antroposentris (manusia menguasai alam); dan 
    holism (manusia bersama alam dalam suatu hubungan yang menyeluruh dan dialektis). 
    Untuk kepentingan analisis, tenget juga harus diketahui kedudukannya dalam tiga wujud kebudayaan yaitu: kompleks ide-ide, kompleks aktivitas / kelakuan berpola, dan wujud benda (Koentjaraningrat)


    Pemahaman Tenget
    Pertanyaan yang diajukan dan dikembangkan: 
    apa arti tenget?
    apa saja yang termasuk tenget?
    bagaimana sesuatu menjadi tenget?
    bagaimana mengetahui sesuatu itu tenget?
    apa manfaat tenget?
    Jawaban-jawaban dikelompokkan atas: pemahaman mitis-pancosmis; ontologis-antroposentris; dan fungsionil-holistik. Bersamaan dengan itu dilakukan interpretasi dan induksi.

    a. Arti tenget
    Tenget berarti suatu tanda-tanda bersifat kebendaan, tetapi setelah diobserving secara mendalam terungkap bahwa tenget adalah semacam prilaku simbolik, bahkan tenget adalah konsep tentang kebenaran. Pada akhirnya terungkap bahwa tenget adalah upaya dialog manusia tentang ‘dunia lain’ yang bermanifestasi ke dalam interaksi antara: tanda-tanda kebendaan, prilaku simbolik dan konsepsi etika lingkungan. Tetapi pemahaman terakhir ini terbatas hanya pada kelompok tua yang memiliki kedudukan dan pengaruh di dalam Desa Adat.

    b. Obyek-obyek tenget
    Jawaban tentang obyek tenget sangat berragam. Dari jawaban yang beragam dibuat kategori dan dirangkai menjadi model. Hasil konfirmasi model dengan informan menghasilkan bahwa tenget adalah bagian dari dunia makna yang berupa simbol abstrak yang hanya teramati dari manifestasinya berupa ineraksi dinamis dari; konsepsi etika lingkungan; tindakan simbolis; dan tanda-tanda fisik .

    c. Sesuatu menjadi tenget.
    Dari model itu juga terungakap bahwa sesuatu menjadi tenget bila; konsepsi etika; tindakan simbolis dan tanda-tanda berinteraksi sebagai kesatuan yang utuh yang berefleksi dalam kesadaran pelakunya melalui proses bathin tentang sesuatu yang paling berarti dalam hidupnya menyangkut: emosi spiritual, keyakinan, ritual dan kebersamaan. Suasana kesadaran pikiran itu lalu terakumulasi berupa kesepakatan. Sesuatu menjadi tenget bila tanpa disadari telah menjadi pengetahuan dan kesepakatan bersama.

    d. Cara mengetahui tenget
    Umumnya tenget diketahui karena mendengarnya dari orang tua atau dari orang lain dan akhirnya menjadi pengetahuan bersama. Kelompok yang lebih tua cenderung menerima begitu saja, sedangakan kelompok muda cendreng lebih kritis dengan mencari informasi tambahan sebagai pijakan dalam pikiran logis mereka.

    e. Manfaat tenget
    Seluruh informan kunci demikian pula dalam diskusi kelompok dengan informan terfokus setuju, bahwa tenget dalam arti luas sangat bermanfaat dalam semua aspek kehidupan.

    Dengan demikian dari hasil seluruh diskusi, menunjuk bahwa tenget adalah simbol yang tumbuh dari kedalaman pemahaman yang bersifat fungsional holistik tentang etika kesetaraan hubungan manusia dengan lingkungan (alam beserta isinya) sebagai sesama ciptaan-Nya. Pemahaman ini hanya dimiliki oleh ‘tokoh panutan’ dan dikomunikasikan melalui cara-cara yang bersifat mitis atau ontologis. Yang terpenting bagi mereka adalah bagai mana konsepsi-konsepsi yang ada dalam pemahaman tersebut sampai kepada masyarakat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Bagaimana Mengetahui Tenget
    Dalam mengidentifikasi pergeseran pemahaman tenget dilakukan dengan membandingkan informasi yang didapat dari informan kunci (individu), wawancara informal (masyarakat) dan hasil diskusi klompok terfokus (muda dan tua), dilengkapi denga hasil observasi empirik di lapangan.

    Dalam seluruh informasi yang didapat, faktor pertambahan penduduk dan pembangunan sering muncul sebagai penyebab berubahnya pemahaman.

    a. Perubahan pemahaman tenget
    Semua informan kunci sepakat tentang memudarnya atau menghambarnya makna tenget. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kegiatan pembangunan baik fisik maupun nonfisik yang tidak mengadopsi potensi manusia dan masyarakat setempat. Pembangunan membawa nilai-nilai baru, yang mendorong sistem seleksi berproses lebih cepat dibanding sistem adaptasi.

    b. Waktu dan ciri perubahan
    Tidak terdapat jawaban yang menunjuk kepada suatu waktu tertentu, perubahan tenget tersebut dikaitkan dengan suatu masa atau peristiwa dengan gejala atau ciri tertentu. Pada dasarnya jawaban-jawaban tersebut menunjuk pada pengeruh kegiatan pembangunan baik fisik (fasilitas wyata) maupun non fisik (pendidikan).

    c. Akibatnya bagi lingkungan
    Terdapat dua bentuk perubahan: 
    memudarnya penghargaan individu terhadap: konsepsi etika lingkungan; prilaku simbolik; dan tanda-tanda; sebagai akibat ‘mandegnya’ proses pemahaman tentang tenget, yang berakibat negatif terhadap lingkungan. 
    perubahan yang mencerminkan proses pemahaman berjalan terus bahkan membaik, terutama pada tingkat komunal, justru bernilai positif bila dikaitkan dengan pelestarian fungsi lingkungan.

    d. Bila tenget diabaikan
    Semua informan menyatakan tidak setuju atau tidak mungkin tenget di abaikan. Sehingga dapat digaris bawahi, bahwa tenget masih merupakan suatu yang sangat berarti bagi masyarakat. Mereka tidak bisa membayangkan tatanan bermasyarakat tanpa ada yang di-tenget-kan. Dari seluruh pembahasan didapatkan bahwa, memudarnya makna tenget berkaitan dengan ter-distorsi-nya proses pembelajaran sosial akibat kegiatan pembangunan yang tidak sepenuhnya mampu mengangkat potensi yang ada dalam masyarakat.


    Hubungan tenget dengan prilaku modern
    a. Pemenuhan kebutuhan dasar
    Pemenuhan kebutuhan materi berhubungan dengan kebijakan adat tentang daya dukung dan daya tampung. Pemenuhan kebutuhan non materi dijamin oleh Desa Adat sebagai lembaga kemasyarakatan dengan awig-awignya, yang dilandasi konep Tri Hita Karana (keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan lingkungan / alam).

    b. Pemeliharaan Lingkungan
    Perlindungan lingkungan baik lingkungan alamiah (palemahan) maupun lingkungan sosial (pawongan) diatur dan dilindungi melalui awig-awig ataupun drestha, dengan berlandaskan pada prinsip analogi Bhuana Agung (alam) dengan Bhuana Alit (manusia) serta konsep Tri Hita Karana. Mengurangi konsumsi tercermin dalam filosofi bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Tuhan dimana manusia adalah sebagian darinya; bahwa semua mahluk hidup mempunyai hak hidup yang sama; bahwa hidup ini bersifat sementara dan maya. Oleh karenanya alam harus dihargai, dipelihara dan diambil secukupnya.

    c. Keadilan Sosial
    Keadilan masa sekarang berkaitan dengan pemerataan pemanfaatan sumber daya alam. Sebagian besar areal desa adalah milik Desa Adat yang dibagi-bagi sedemikian, menjadi pekarangan, lahan pertanian, hutan produksi (bambu) hutan lindung, areal yang disakralkan, dan areal untuk fasilitas umum, kemudian dimanfaatkan secara merata melalui prinsip paras-paros, salunglung-sabayantaka (pemerataan dan sehidup semati atau baik buruk ditanggung bersama)

    Keadilan masa depan bersesuaian dengan pemikiran yang tersirat dalam awig-awig dan drestha tentang ketentuan: larangan memperjual belikan lahan dan pewarisan yang bersumber dari filosofi bahwa lingkungan (alam sekitar) adalah ciptaan dan milik Tuhan, manusia hanya boleh meminjam untuk sementara dan seperlunya. Pada saatnya harus mengembalikannya secara utuh, sesuai dengan konsep manik ing cacupu (mahluk hidup ibarat janin dalam rahim alam smesta).

    d. Kesempatan menentukan nasib sendiri
    Masyarakat mandiri diwujudkan melalui mekanisme pasuara (hak untuk berpendapat) yang sagilik saguluk sasarpanaya (unsur kebulatan pemikiran, untuk jangka panjang, tidak kaku tapi lentur) dan pasangkepan (rapat) desa untuk mencapai pararem (kesepakatan) dengan prinsip briuk sepanggul (bagai jatuhnya alat pemukul gambelan) melalui kelembagaan Desa Adat.


    Rabu, 06 Desember 2023

    Diksa atau juga disebut dengan "divya jnyana".

    BRAHMANA LAHIR DARI DIKSA

    Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd

    Lahir menjadi manusia sangatlah mulia, apalagi lahir menjadi brahmana melalui upacara diksa yang merupakan ujung terakhir dari penjelmaan ini. 

    Kelahiran yang pertama ialah ketika ia lahir dari rahim sang ibu, jadi lahir secara fisik. Sedangkan kelahiran kedua kalinya, ia lahir secara rohaniah melalui ilmu pengetahun/weda oleh guru nabe dan setelah didiksa ia menjadi Wiku / sulinggih /pandita yang bertugas melaksanakan kepanditaan.

    Diksa (atau juga disebut dengan "divya jnyana"). Diksa berasal dari bahasa sanskerta yaitu Di dan Ksa. “Di” artinya divya jnyana : sinar ilmu pengetahuan dan “ksa” artinya ksaya: melenyapkan, menghilangkan.

    Divya jnyana’ adalah upacara untuk dapat menerima sinar suci ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk melenyapkan kegelapan pikiran agar mencapai kesempurnaan.

    Melalui pelaksanaan diksa seseorang menjadi Brahmana, "janmana jayate sudrah samskarairdvija ucyate" artinya semua orang lahir sebagai sudra melalui diksa/dvijati seseorang menjadi Brahmana. Sehingga diksa adalah suatu kewajiban yang dilakukan oleh semua umat Hindu. Bila saat semasih hidup melaksanakan diksa maka akan menjadi wiku/ sulinggih /pandita seperti disebutkan diatas. Namun karena mediksa adalah kewajiban semua umat, belum sempat diksa saat masih hidup, apabila sudah meninggal juga akan ada proses pediksan didalam pitrayadnya/pengabenan, yaitu sebelum ngaben akan ada proses ngaskara (sinangaskara) yaitu proses inisiasi roh yg artinya sama dengan proses diksa. Yang memiliki wewenang untuk ngaskara adalah hanyalah beliau yg sebelumnya sudah melaksanakan diksa dwijati yaitu wiku/sulinggih/pandita.

    Eksistensi diksa dalam ajaran agama Hindu adalah salah satu pengamalan Dharma yang memiliki sifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh seluruh Umat Hindu.
    Dengan demikian diksa merupakan dasar keyakinan agama Hindu sekaligus hukum moral yang wajib diyakini, dijunjung tinggi, ditaati serta dilaksanakan dalam rangka menegakkan Dharma.

    Diksa dwijati tidak hanya sebagai inisiasi formal, melainkan menunjukan adanya jalinan hubungan yang bersifat pribadi dan mendalam antara Guru Nabe (Acarya ) dengan murid (sisya).

    Dalam lembaga diksa dvijati kedudukan Guru Nabe begitu sentralnya, yakni memiliki hak prerogatif terhadap sisya-nya. Agar tidak terjadi pengingkaran terhadap sasana/dharmaning kawikon. Maka demi menegakkan Dharma berdasarkan ketentuan sastra, seseorang yang akan menjadi Pandita wajib mengangkat Guru Nabe, Guru Waktra, Guru Saksi.

    #tubaba@griyangbang//bhaktiringnabe#

    BAHASAN PARUMAN SABHA PANDITA PRA PESAMUAN AGUNG XVIII TAHUN 2023 MINGGU, 17 DESEMBER 2023

    OLEH: 
    IDA SINUHUN SIWA PUTRI 
    PRAMA DAKSA MANUABA

    Menyikapi mengenai poin 6. Apakah dibenarkan Napak menggunakan Daksina Nabenya, dalam hal ini Sang Sulinggih sudah
    Meninggal, dengan tanpa memperhatikan ketiga Nabe (Saksi, Napak, Waktra) yang secara sekala melaksanakan prosesi penapakan. Guna kemudian hari tidak menjadi rancu dalam proses diksa dan penyebutannya dan tidak membuat polemik diantara Nanak ketiga Nabenya (mohon dijelaskan)? 

    Jawaban
    Hal tersebut tidak dibenarkan, karena seseorang nanak sulinggih wajib memiliki Nabe tapak, saksi dan waktra secara nyata/sekala.

    Masalah tapakan lingga yang digunakan napak itu saat pangastawan nya sudah ngelinggihang Ida Bhatara kawitan yang lebih tinggi dari pada tapakan apapun yang digunakan, sehingga proses penapakan secara niskala (dengan tapakan Nabe yang sudah meninggal) hendaknya tidak bisa diterima lagi oleh umat sebagai Hindu yang moderenisasi. 

    Sk dari PHDI yang lebih sah secara De Jure dan De Facto. 
    Karena dalam SK dari PHDI secara nyata tertera abhiseka Nabe Tapaknya. 

    De jure adalah istilah bahasa Latin yang berarti menurut hukum atau berdasarkan hukum. Sementara itu, de facto adalah istilah dalam bahasa Latin yang memiliki arti pada kenyataannya, pada praktiknya, atau faktanya.

    Biarpun ada kesepakatan interen yang menyetujui itu tetap tidak sah. Sehingga yg dipandang sah adalah SK dari PHDI yang dikeluarkan

    Nyambung Rah dan Nyambung Griya

    Jalur Sulinggih Antara Nyambung Rah, Nyambung Griya dan Nglimbakan Griya

    (Mari belajar mematuhi aturan
    Agar tidak menjadi bagian perusak tatanan) 

    OLEH: 
    IDA SINUHUN SIWA PUTRI PRAMA DAKSA MANUABA

    […] yadin pagata ni wangsanya ikang kapangguh, phalanya nana, witan ikang suka kagawe de mami makadi niyama warabrata […]

    Jika putus keturunannya itu, segala pahala [tapanya] tidak didapat, awalnya kesenanganlah yang saya perbuat seperti Niyama Warabrata [band. Zoetmulder, 2005: 44].8

    Seseorang dituntut agar memiliki keturunan sehingga pahala dari tapanya berhasil dinikmati. Jika tidak, konon orang itu tidak berhak menikmati hasilnya.


    Setiap agama pasti memiliki orang suci sebagai penuntun dan pencerah dalam pendakian spiritual masing-masing umat. Tidak terkecuali umat Hindu, yang juga memiliki orang suci dan biasa disebut sebagai sulinggih. Seseorang yang menjadi sulinggih telah melewati proses dwijati atau diksa yakni lahir untuk kedua kalinya. Lahir pertama secara biologis, dan lahir kedua secara spiritual.

    Meski semua orang berhak menjadi seorang sulinggih, namun ternyata itu tidak mudah seperti yang dibayangkan. Mereka yang ditempatkan mulia di antara umat itu, memiliki tanggung jawab berat sebagai orang suci. Banyak pantangan yang harus diikuti, serta harus menjauhkan diri dari ikatan, nafsu dan duniawi.

    Mengenai "BAHASAN PARUMAN SABHA PANDITA PRA PESAMUAN AGUNG XVIII TAHUN 2023 MINGGU, 17 DESEMBER 2023"
    Masukan pada poin F tentang nyambung rah, sebagai berikut:

    Untuk dapat didiksa menjadi seorang sulinggih, umat yang telah melalui proses tingkatan kawikon harus masuk ke dalam pasemetonan, maksimal selama tiga tahun. Hal ini dikecualikan untuk calon sulinggih yang nyambung rah (keturunan darah langsung) putra seorang sulinggih yang menggantikan tugas orang tuanya semasih beliau nyeneng. 


    Nyambung Rah, ada nyambung rah masih utuh atau sekantun nyeneng, jika Nabe Lanang atau Nabe Istri masih ada, tetapi sudah ada pengganti karena merasa sudah tidak mampu melayani umat setiap hari. Ada juga disebut nyambung rah saat salah satu Nabe masih ada/nyeneng serta
    Ada juga nyambung rah ketapak antuk daksina lingga sewaktu layon Sang Nabe masih di Bale Cemanggen, yang proses penapakannya di diambil alih atau dibantu oleh para sulinggih yang selevel dengan Nabenya. 

    Istilah Nyambung Griya disebutkan ketika Nabe Lanang dan Istri dalam garis keturunan darah langsung sudah tidak ada lagi atau garis kasulinggihan pernah putung. Jadi nyambung griya itu melanjutkan keberlangsungan griya dengan nunas penabean yang baru terhadap sulinggih atau nabe yang masih nyeneng.

    Sedangkan istilah nglimbakang atau ngembangan griya disebutkan bagi sulinggih yang baru dan menempati pasraman atau griya baru serta memilih nabe baru.

    #Sulinggih adalah orang yang diberikan kedudukan mulia karena kesucian diri dan perilaku luhurnya.

    Sulinggih merupakan orang suci yang kedudukannya dimuliakan oleh umat Hindu. Jika ditilik berdasarkan arti katanya, Su berarti baik, mulia atau utama. Sedangkan linggih berarti tempat atau kedudukan. Sehingga sulinggih bermakna mendapat kedudukan mulia di masyarakat.

    Mereka dimuliakan karena telah melalui proses upacara diksa atau dwijati, yakni lahir sebanyak dua kali. Lahir pertama adalah lahir secara biologis dari rahim ibu. Sedangkan lahir kedua adalah lahir dari proses spiritual. Lahir kedua ini dianggap sebagai penyucian lahir bathin, agar sulinggih disebut sebagai orang suci.

    Sulinggih sebenarnya seorang Brahmana (Salah satu golongan dari Catur Warna yang memiliki kecerdasan ilmu pengetahuan maupun pengetahuan Ketuhanan untuk mencerahkan spiritual umat Hindu). Nama sulinggih ada banyak. Seperti Ida Pedanda, Ida Pandita, Ida Dukuh, Ida Sri Mpu, Ida Rsi, Ida Bhagawan, dan sebagainya. Nama kesulinggihannya biasanya berkaitan dengan nama keluarga besar.


    #Sulinggih memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang berat


    Apabila seorang walaka (Manusia biasa) ingin meningkatkan diri menjadi sulinggih, harus menyadari betul tahap yang akan ditempuh dan kewajiban-kewajibannya setelah dikukuhkan menjadi seorang Brahmana. Hanya dengan kesadaran dan kedisiplinan yang tinggi pada dirinya, maka sulinggih bisa menjadi seorang Brahmana sejati.

    Adapun beberapa kewajiban sulinggih, mengutip dari buku berjudul “Pedoman Calon Pandita dan Dharmaning Sulinggih (Wiku Sesana)” karya Gede Sara Sastra, yaitu:

    Arcana: memuja Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa setiap hari, seperti Surya Sewana (Pemujaan setiap pagi saat matahari terbit)

    Adhyaya: tekun belajar, mendalami Kitab Suci Weda, Tattwa, tutur-tutur dan sebagainya

    Adhyapaka: mengajarkan tentang kesucian, kerohanian, keagamaan, kesusastraan, serta bimbingan rohani lainnya

    Swadhyaya: rajin belajar sendiri mengulangi pelajaran-pelajaran terutama yang diberikan oleh Nabe-nya

    Dhyana: merenungkan Brahman (Tuhan) dan hakikat yang dipuja.

    Sulinggih memiliki beberapa tugas, di antaranya:

    Surya Sewana, yaitu pemujaan kepada Sang Hyang Widhi setiap pagi (Saat matahari terbit)

    Memimpin upacara Yadnya
    Ngelokapalaraya, yakni membina dan menuntun umat di bidang agama dan spiritual

    Melayani umat yang memerlukan tuntunan
    Menerima punia dari umat

    Memberi teladan dan contoh kepada umat.

    #Sulinggih memiliki banyak pantangan. Mulai dari tidak boleh memamerkan kepandaian, mengadakan hubungan seks apabila bukan istrinya, hingga tidak boleh makan daging babi peliharaan

    Sulinggih memiliki banyak pantangan atau larangan perilaku dalam kehidupan sehari-harinya. Yaitu:

    Tidak membunuh
    Tidak berdusta dan memfitnah
    Tidak bertengkar
    Tidak memamerkan kepandaian
    Tidak mencuri atau memperkosa hak milik orang lain bila tidak mendapat persetujuann dari kedua belah pihak

    Tidak berkata-kata yang tidak selayaknya, kotor, dan pedas hingga menyakiti telinga

    Tidak boleh berkata-kata sambil memaki sumpah serapah

    Tidak boleh berhasrat jahat pada orang lain

    Tidak boleh mengadakan hubungan seks apabila bukan istrinya

    Tidak boleh mengadakan pertemuan dengan istrinya pada hari-hari terlarang

    Tidak boleh melakukan jual beli atau berdagang

    Tidak boleh terlibat hutang piutang
    Tidak boleh segala usaha mencari keuntungan

    Tidak boleh mengambil hak milik orang lain dengan memaksa

    Tidak boleh mementingkan diri sendiri
    Tidak boleh marah atau bersifat pemarah
    Tidak boleh ingkar dan mengabaikan kewajiban

    Tidak berzina (Selingkuh)
    Tidak boleh memerintahkan mencuri
    Tidak bersahabat dengan pencuri, tidak memberikan tempat pada pencuri, termasuk tidak memberikan makan dan minum, memberi pertolongan dan tidak menerima hasil pencurian

    Tidak boleh mengendarai sepeda motor atau mobil (Pegang setir sendiri)

    Tidak boleh makan daging babi peliharaan (Celengwanwa)

    Tidak boleh makan ayam di desa (Ayamwanwa)

    Tidak boleh makan daging binatang buas, binatang berkuku satu, dan binatang berjari lima

    Tidak boleh makan ikan yang terlalu besar dan ikan yang buas

    Tidak boleh makan sisa-sisa makanan yang telah dimakan, makanan yang disentuh atau diletakkan di bawah benda-benda yang tidak suci

    Tidak boleh minum minuman keras, semua jenis susu dari binatang buas, serta susu kental sisa sapi yang habis menyusui

    Dilarang menempati tempat atau tanah terlarang

    Tidak boleh mengadakan perjudian
    Tidak boleh mengunjungi tempat perjudian, rumah tukang potong, tempat pelacuran, dan tempat sejenis.

    Serta pantangan lainnya yang jauh dari kebenaran dan kesucian.



    #Syarat-syarat menjadi sulinggih berdasarkan Ketetapan Sabha Parisadha Hindu Dharma Indonesia II Nomor V/Kep/PHDIP/68, dan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu ke-14 Tahun 1986/1987 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diksa:


    Seseorang yang ingin menjadi sulinggih harus melalui proses berguru (Aguron-guron) lebih dulu. Ia berguru pada seorang nabe (Guru) yang sudah berstatus sulinggih. Biasanya sulinggih yang dijadikan nabe adalah sulinggih senior, pengetahuan agama dan Ketuhanannya sudah dalam, paham Weda, serta teguh melaksanakan Dharma Sadhana (Jasa, amal, dan kebajikan).

    Namun nabe juga tidak akan sembarangan dalam menerima murid, karena tanggung jawabnya juga berat. Dalam Ketetapan Sabha Parisadha Hindu Dharma Indonesia II Nomor V/Kep/PHDIP/68, dan Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek Agama Hindu ke-14 Tahun 1986/1987 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diksa, adapun syarat-syarat mediksa yang diputuskan oleh PHDI, sekaligus juga berdasarkan Lontar Siwa Sasana adalah umat Hindu yang telah memenuhi syarat-syarat seperti di bawah ini:

    Laki-laki yang sudah menikah dan yang tidak menikah (Sukla Bramhacari)
    Perempuan yang sudah menikah dan yang tidak menikah (Kanya)
    Pasangan suami istri
    Minimal usia 40 tahun
    Paham dengan Bahasa Kawi, Sansekerta, Indonesia, memiliki pengetahuan umum, dan pendalaman intisari ajaran-ajaran agama
    Sehat lahir bathin dan berbudi luhur
    Berkelakuan baik, tidak tersangkut perkara pidana
    Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan
    Mendapat tanda kesediaan dari calon nabenya yang akan menyucikan.
    Baca Juga: 12 Pepatah Bahasa Bali Tentang Kehidupan, Jangan Dilupakan Ya


    *Tambahan :*

    1. Calon Diksita Taat dan Bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa lan Kawitan, baik secara Dharma Agama dan Negara.

    2. Tidak tersangkut Hutang - Piutang secara Formal, In Formal, Non Formal.

    3. Tidak tersangkut Pidana baik secara Hukum Negara, Adat dan Agama.


    #Dalam beberapa kasus ada juga sulinggih yang didiksa di usia muda

    Meskipun dalam syarat-syarat tersebut menyebutkan minimal berusia 40 tahun, namun pada beberapa kasus ada juga sulinggih yang didiksa di usia muda.

    Itu tergantung keberanian nabenya. Apabila nabe memandang bahwa itu sudah cukup, maka siswa akan dilahirkan melalui upacara diksa atau dwijati. Kalau belum, akan sampai lama. Di sini nabe yang punya kewenangan.

    Menurutnya, dalam Kitab Manawa Dharmasastra, proses siswa berguru pada nabenya paling lama 10 tahun. Namun paling cepat ada yang setahun atau dua tahun. Di sini, faktor nabe juga sangat menentukan. Itu sebabnya peran dan tanggung jawab nabe juga sangatlah berat.

    Nabe tidak mau menerima sembarang murid karena tanggung jawabnya berat. Apa yang menjadi kesalahan murid, kemudian berbagai hal yang berkaitan dengan tanggung jawabnya sebagai murid, nabe yang paling pertama bertanggung jawab bila murid melakukan kesalahan. Tanggung jawabnya adalah dengan membina atau mencabut kesulinggihannya. Itu nabe yang punya wewenang.

    #Jika dirasa sudah cukup, maka sang guru akan mengajukan muridnya untuk dilakukan upacara diksa menjadi sulinggih, dengan persetujuan dari keluarganya

    Setelah proses bergurunya dianggap layak menjadi sulinggih, maka calon diksa mengajukan permohonan untuk melakukan upacara diksa. Prosedur administrasi untuk melakukan diksa ini ditujukan kepada PHDI setempat. Selambatnya tiga bulan sebelum melakukan upacara diksa. Syarat yang perlu dilengkapi harus sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh PHDI.

    Pertama harus ada persetujuan keluarga. Keluarga kecil dulu, setelah itu keluarga besar. Lalu syarat lainnya ada kelakuan baik, tidak pernah dihukum, tidak cacat. Tidak dalam status perkara atau masih ada status perkara. Paham tentang sastra, kitab suci dan teknologi. Wajib bisa baca tulis karena beliau nantinya harus nyastra.

    Setelah mendaftar, calon sulinggih wajib memiliki tiga nabe. Yakni Nabe Napak, Nabe Waktra, dan Nabe Saksi. Nabe Napak sebagai nabe yang melahirkan, Nabe Waktra yang memberi wejangan, dan Nabe Saksi yang mengamati serta menyaksikan proses kelahiran siswanya menjadi seorang sulinggih.

    Waktu mendaftar ke PHDI, calon diksa baru memiliki Nabe Napak saja. Setelah mengajukan permohonan ke PHDI, Nabe Napak selanjutnya menentukan dua nabe lainnya yang dikehendaki. Setelah permohonan diterima PHDI, kemudian PHDI yang koordinasi ke panitia untuk melaksanakan diksa pariksa. Semacam uji lisan baik dari sisi integritas, komitmen, kesungguhan, kesucian, perilaku, psikologi, semuanya dites.

    Dari proses diksa pariksa dan jawaban yang diberikan oleh calon diksa, ketiga nabe kemudian rembug untuk memutuskan apakah calon diksa layak didiksa atau ditunda karena kemampuannya dipandang belum cukup. Jika nabe memutuskan calon diksa layak untuk dilakukan upacara diksa, maka selanjutnya proses madiksa bisa dilakukan pada hari baik yang telah ditentukan.

    Jika misalnya calon diksa masih dinilai belum layak, maka untuk sementara ditunda sampai beliau bisa memenuhi syarat kembali. Berikutnya laksanakan lagi ulang diksa pariksa. Bila nabe berani memutuskan, maka hasilnya diumumkan kepada umat yang menyaksikan bahwa calon sulinggih sekarang ini bisa dilanjutkan untuk pelaksanaan upacara madiksa.


    #Setelah didiksa, akan diberikan SK oleh PHDI. Namanya kemudian diganti (abhiseka) dengan nama kesulinggihan yang diberikan oleh sang nabe

    Setelah lulus diksa pariksa, kemudian calon diksa menjalani upacara pada hari baik yang telah ditentukan. Secara umum, pelaksanaannya dimulai dari berkunjung ke rumah nabe (Mapinton) dengan membawa upakara-upakara sebagaimana mestinya. Dilanjutkan dengan pamitan pada keluarga, serta melakukan pembersihan diri.

    Pada upacara puncak, calon diksa akan menjalani proses seda raga (Mati raga) yang berlangsung sehari sebelum upacara diksa. Pada dinihari setelah menjalani amati raga, calon diksa kemudian dimandikan dan diberikan pakaian serba putih. Selanjutnya melakukan pemujaan yang dipimpin oleh nabe.

    Begitu upacara diksa selesai, barulah diberikan Surat Keputusan (SK) bahwa benar yang bersangkutan telah menjalani proses diksa atau dwijati dan namanya terdaftar di PHDI. Sejak saat didiksa, namanya sudah berubah dari nama walaka (Nama sewaktu menjadi manusia biasa) menjadi nama sulinggih yang diberikan oleh nabenya.

    “SK ini dibacakan oleh PHDI sekaligus memberikan dharma wacana. Setelah dibacakan keputusan itu, ada tembusannya kepada PHDI Kabupaten/Kota, Bali, dan Pusat, Kanwil Agama, Gubernur Bali, dan Bupati/Walikota se-Bali. SK itu dikirim dan nanti tercatat di bagian Kesra Kabupaten/Kota dan ditembuskan ke Provinsi,” kata Sudiana.

    #Sulinggih melakukan diksa wajib diketahui oleh PHDI. Jika tidak, maka prosesnya dianggap melalui jalur di luar formal

    Secara formal, lembaga yang berwenang hanya PHDI. Bila ada lembaga lain yang melakukan, ya tidak formal itu. Proses diksa wajib melalui PHDI. 

    #Jika melakukan pelanggaran hukum dan pantangan, sang nabe berwenang untuk mencabut status kesulinggihannya

    Menjadi sulinggih sangatlah berat. Karena sulinggih dianggap mewakili Tuhan dalam wujud sebagai orang suci. Sulinggih sudah menjauhi ikatan, nafsu, dan duniawi. Apabila tidak memiliki jiwa seperti itu, mungkin akan sangat berat.

    Bila ada kasus yang melibatkan sulinggih, itu sangat sensitif. Apalagi kasusnya berat, kita khawatir nanti masyarakat tidak respect kepada sulinggih. Beliau adalah rohaniawan yang sangat dihormati. Jika masyarakatnya cerdas, tentu bisa memilah, tidak menggeneralisir (Menggeneralisasi).


    Dengan Iptek/logika hidup jadi mudah,  
    Dengan Agama/dharmika hidup jadi terarah,  
    Dengan Seni Budaya Spiritual/adhyatmika hidup jadi indah. 
    Ketiga aktivitas ini selalu ada di Grya Agung Bangkasa,... Astungkara, Swaha

    #tubaba@griyangbang//jalursulinggih//nyambungrah//nyambunggriya//menghindariwikupegatwangsa#