Jumat, 18 Agustus 2023

WASITA NIMITANTA

Niti Sastra Sargah V Bait ke-3. 
Wasita nimittanta manemu laksmi. 
Wasita nimitantta pati kapangguh. 
Wasita nimittanta manemu duka. 
Wasitta nimittanta manemu mitra.

Artinya: 
Oleh perkataan engkau akan mendapatkan kebahagiaan. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. 
Oleh perkataan engkau akan mendapat kesusahan. 
Oleh perkataan engkau akan mendapatkan teman.

Di dalam kehidupan ini, kita sering melaksanakan interaksi dengan sesama manusia, baik individu maupun kelompok. Jangan sampai perkataan kita yang tidak benar dapat menimbulkan bencana bagi orang lain maupun diri kita sendiri. Sudah sepatutnya kita secara bijaksana mampu dan berusaha dengan semaksimal mungkin menggunakan kata - kata yang kita ucapkan dengan penuh kesadaran untuk berbuat baik dalam perilaku kita sehari - hari. Karena dengan perkataan yang baik timbullah perilaku dan pikiran yang baik dan bijaksana.

Pentingnya perkataan akan mampu menyeberangkan seseorang ke arah yang baik. Begitu juga sebaliknya, melalui perkataan bahkan akan menyebabkan kehancuran untuk orang lain dan diri kita sendiri. Perkataan yang mampu untuk memengaruhi individu atau kelompok untuk menuju jalan kebaikan ataupun kebenaran, perkataan yang dirangkai dengan pola susunan kalimat yang di dalamnya mengandung pesan moral dan sangat identik disebut dengan pitutur. Dalam pengertiannya, kata pitutur berasal dari Bahasa Jawa Kuna yang berarti pelajaran, nasihat atau peringatan.

Selasa, 15 Agustus 2023

Pupuh

#Pupuh Sinom

Titiang janma sunantara,
Nista lacur manumadi,
Malarapan suka legawa,
Catur bekel titiang pasti,
Suka duka lara pati,
Nika wantah titiang tikul,
titiang mewasta I Tamtam,
Nyadia titiang tangkil mangkin,
Ring sang Ayu,
Sane telas tunas titiang.

Artos:
Titiang wantah jadma pangumbara, 
Tiwas miwah lacure titiang manumadi, 
Maka sami punika titiang margiyang antuk manah erang tur girang, 
Sane papat anggen titiang bekel miwah geguat, 
Liyange kalawan sebet, kasengsaran kalawan matine,
Sane setata nginutin hidupe puniki, 
I Tamtam wantah adan titiange, 
Sapangrauh titiange parek tangkil rahinene mangkin, 
Majeng ring sang marahan listu Ayu, 
Titiang wantah nunas sane sampun katelasang. 


Artinya:
Saya adalah seorang pengembara,
Rendah dan miskin saya menjelma,
Saya terima dengan senang hati,
Empat yang menjadi bekal saya,
Suka, duka, penderitaan, dan kematian,
Itulah yang selalu mengikuti saya,
Nama saya I Tamtam,
Kedatangan saya menghadap sekarang,
Kehadapan Dewa Ayu,
Yang habis yang saya minta


#Pupuh Ginada
(Gita Pangrastiti Pamahayu Bumi) 

Sangaskara Bali Dwipa
Sinangga de Danu Suci
Catur Baga Makanama
mahamerta Saksat Ibu
Ngemban Ikang Para Jana
Ngreka Urip
Sarwa Prani Sabhuwana

Artos:
Sane kabaos upacara pensucian jagat Baline puniki..... 
Wantah prasida mlihara kasutreptian Danu utawi sahananing genah toyane punika... 
Sane patpat punika kabaos catur baga.... 
Tirtha mautama punika waluya kadi I Biyang... 
Sane prasida mlihara kehidupan I Manusane... 
Ngupapira sane hidup.... 
Sahananing maurip ring jagate puniki. 






#Pupuh Giananti

Siwa ratri ngaran iku,
Gaglaran yoga semadi,
mangelebur sarwa mala,
mala ngaran sarwa sisip,
nunas agung sinampura,
maring Ida Sang Hyang Widhi.

Artos:
Inggih,.... Ida dane pamiarsa sinarengsami, sane kawastanin rahina Siwaratri punika.... 
I Raga patut ngamargiyang tapa brata yoga miwah semadi punika.... 
Wantah pamargine punika sane prasida ngicalang sahaning leteh..... 
Mala punika wantah sahananing kasengsaran hidupe.... 
Duaning ada punika titiang nenten surud surud ngelungsur agung pangempura, 
Antuk kaiwangan parilaksana titiang majeng ring Ida Hyang Parama Kawi. 

Senin, 14 Agustus 2023

Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan

Sulit mencari ilmu dari pengetahuan yang benar, sloka 4 yang berbunyi:
Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wěnang ya tumulung awaknya sangkeng sangsara, makasādhanang śubhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang kita. 

Terjemahan: 
Sesungguhnya menjelma sebagai manusia ini adalah satu hal yang utama, karena hanya manusialah yang dapat menolong dirinya sendiri dari kesengsaraan, yaitu dengan jalan berbuat baik. Itulah keuntungan menjelma menjadi manusia (Sudharta, 2009: 5). 

Kemuliaan manusia  itu sendiri karana hanya manusialah yang memiliki pengetahuan  sehingga  dapat  membantu dirinya dari kesengsaraan, pengetahuan ibarat sebuah perahu, membantu menyeberangkan manusia menuju harapan yang lebih baik  
Berdasarkan sabda kitab Sarasamuccaya sloka 1-4 di atas, kelebihan manusia yang amat utama adalah kemampuannya untuk menyelamatkan diri dari kesengsaraan dengan jalan berbuat yang baik. Pada hakikatnya, kelahiran kembali ke dunia ini adalah untuk membayar karma yang telah dilakukan pada kehidupan sebelumnya. Apabila manusia mampu selalu berbuat baik (subha karma) semasa hidupnya, maka ia akan terlepas dari penderitaan dan menuai kebahagiaan abadi yang tidak akan kembali menemui kesengsaraan atau dikenal dengan istilah sat cit ananda, baik di dunia maupun akhirat.

Diantara makhluk ciptaan Tuhan hanya manusia yang bisa berpikir, dalam konsep Tri Pramana, yaitu bayu (kekuatan/tenaga), sabda (kemampuan berbicara), dan idep (pikiran). 

Bayu yang dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan, sedangkan hewan memiliki bayu dan sabda, manusia memiliki ketiganya yaitu bayu, sabda dan idep. Manusia  dengan pikirannya  mampu membedakan antara mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga dengan kemampuan tersebut manusia mampu mengendalikan diri untuk selalu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik. Dalam ajaran agama Hindu, alam dalam pikiran manusia yang membedakan antara hal yang baik dan buruk tersebut dinamakan wiweka. Kemudian kita selalu berbuat baik ( trikaya Parisudha) yang disebut wairaga, terakhir iklas menerima hasil dengan bersukur kepada Nya disebut thiaga.

Minggu, 13 Agustus 2023

Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba (Griya Agung Bangkasa di desa Bongkasa) sebagai pelopor pendirian Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawa

Om swastiastu

Punduk Dawa belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari kebangkitan Pasek dari tindakan Diskriminasi ketertekanan fiodalisme yang berusaha mencari solusi damai berkiblat dari perjalanan Lelangit kita KYAI I GUSTI AGUNG PASEK GELGEL meninggalkan kerajaan Gelgel yg penuh konflik dari Pegatepan Gelgel menuju Aan, Akah, Menduang, Budaga, Sangkanbuana, dan setelah kondisi politik stabil Putra bungsu beliau kembali ke Pegatepan Gelgel.

Sekarang ke enam tempat ini menjadi Pura Dadia Agung Pasek Gelgel bagi masing masing trah Putra Putra beliau.
Pindahnya salah satu pura catur parahyangan Ratu Pasek, yaitu parahyangan linggih Ida Bhatara Mpu Ghana dari pura Dasar Bhuana Gelgel ke bukit Desa Punduk Dawa adalah pilihan cerdas menuju Pasek yang harmonis dan bersatu, Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba (Griya Agung Bangkasa di desa Bongkasa) sebagai pelopor pendirian Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawa menyadari konflik dengan saudara sendiri yang sesama Hindu, apalagi yang di adu sesama Pasek adalah potret buruk bagi generasi sekarang dan yang akan datang, kalah jadi arang menang jadi abu, ungkapan itulah yg paling tepat di berikan kalau di cari pilihan dengan kekerasan penyelesaian konflik diskriminasi tersebut.

Pemindahan parahyangan Ida Bhatara Mpu Ghana ke Desa Punduk Dawa tidak serta merta akan mengubah nama Pasek menjadi Pasek Punduk Dawa,.!!! 
Tidak,..karena yg pindah secara fisik adalah pemujaan beliau,.. Yg pindah hanyalah konsep Catur Parahyangan, yg dulu Ida Bhatara Mpu Ghana kita sungsung di Pura Dasar Bhuana Gelgel sekarang setelah keputusan lembaga tertinggi Pasek yaitu MGPSSR pusat dan pemelastian 9 april 2017 Ida Bhatara Mpu Ghana sudah diistanakan di Bukit Punduk Dawa di kawasan Kecamatan Dawan Klungkung.

Perlu diingat perpindahan salah satu pura catur parahyangan tidak diikuti pemindahan penduduk secara physik, yg nanti melahirkan keturunan baru di Desa Punduk Dawa. Pura catur Parahyangan yg sekarang disebut Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek linggih Ida Bhatara Mpu Ghana ring Desa Punduk Dawa.

Kenapa di sebut Pura Penataran Agung Catur Parahyangan???
Karena di Pura yg sekarang terdiri dua Pelataran Agung yaitu Pelataran Utamaning Utama Mandala dan Pelataran Madyaning Utama Mandala Pelinggih yg di bangun di madyaning Utama Mandala selain Pelinggih Utama Ida Bhatara Mpu Ghana berupa Meru tumpang tiga, selatannya ada Meru tumpang lima linggih Ida Bhatara Panca tirta (Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Kuturan, Mpu Ghana, dan Mpu Bradah) dan meru tumpang pitu sebagai pemujaan para lelangit yg menurunkan panca tirtha.

Kemudian dihuluning/di utamaning utama mandala di bangun Pelinggih Ida Hyang Pasupati berupa Padma Anglayang yg merupakan penyungsungan semua klan atau soroh dan linggih Hyang Tri Purusa (Hyang Gnijaya, Hyang Putranjaya, lan Hyang Dewi danuh) berupa Padma tiga. Nah Pura ring luhuring/utamaning utama mandala merupakan penyungsung gumi lintas soroh/klan, sehingga merupakan Pura pemersatu umat dan terbuka untuk semua umat Hindu sembahyang mendoakan kedamaian dan keselamatan kita bersama. Di Madyaning utama mandala merupakan pelinggih Ratu Pasek.
Ada pertanyaan yg menggelitik hati, apakah karena perpindahan dari Gelgel yg nyungsung atau sembahyang ke Punduk Dawa hanya dari Trah Gelgel??
Jawabannya adalah TIDAK. Pura parahyangan Ratu Pasek linggih Ida Bhatara Mpu Ghana yg ada di bukit Punduk Dawa Desa Punduk Dawa adalah pura penyungsungan seluruh Trah Pasek keturuna Mpu Gnijaya yg menurunkan semua Pasek yg ada di Bali bahkan di nusantara.

Kenapa demikian??
Karena kalau kita baca sejarah dan Babad bahwa Ida Bhatara Mpu Ghana bersaudara Lima, Mpu Bradah kembali ke Desa Lemah Tulis di Jawa Timur, dan ke empat kakak beliau menetap di Bali dan dari keempat beliau hanya Mpu Gnijaya yg mempunyai istri dan keturunan yaitu Sang Sapta Pandita atau lebih sering di sebut Sapta Rsi.

Sedangkan Mpu Semeru sane melinggih ring Besakih, Mpu Kuturan sane melinggih ring Silayukti dan Mpu Ghana yg dulunya melinggih ring Dasar Bhuana tidak memiliki keturunan Purusa secara langsung karena Mpu semeru dan Mpu Ghana nyukla brahmacari, sedangkan Mpu Kuturan beliau bercerai dengan Nateng Rareng Girah dan memiliki keturunan seorang putri Dyah Ratna Manggali yg menikah dengan Mpu Bahula putra Mpu Bradah yg menurunkan para Arya dan klan Ida Bagus.

Sedangkan Mpu Semeru memiliki putra angkat dari penduduk Bali Mula yg menurunkan Pasek Kayu Selem.

Pertanyaan yg muncul sekarang kalau beliau yg bertiga ini tidak memiliki keturunan Purusa langsung, maka siapa yg bertanggung jawab secara purusa dan memiliki kewajiban untuk menyembah dan memelihara parahyangan beliau?
Tentu keturuna Bhatara Hyang Gnijaya yg merupakan kawitan Pasek yg melinggih di Pura Lempuyang Madya Karangasem, dengan demikian sangat tepatlah kalau catur parahyangan linggih Ida Bhatara Mpu Ghana merupakan Pura pemersatu umat dan Pura pemersatu seluruh warga Pasek senusantara keturunan Sang Sapta Pandita.
Ngiring sareng sareng nyakupang lima ring kawitan sampun nyihnayang bakti ring kawitan,
ELING lan SATYA ring BISAMA lan nyuktiang GUYUB ring PASEMETONAN..!!
OM SANTIH, SANTIH ,SANTIH OM

Sabtu, 12 Agustus 2023

Larut luruh dalam hening
Diantara ribuan resahku
Raga tak lagi beranjak
Luluh dalam pelukan sunyi

Gemintang indah berkilauan
Dalam hampar semesta raya
Pada malam seribu bulan
Semua kesucian puji-pujian

Ya Tuhan pemilik atmaku
Hening ini kurindu jamah-Mu
Larutkan Aku dalam kasih
Untuk bisa sentuh kemuliaan-Mu

Dalam hening lailatul Qodar
Aku masih bersimpuh
Larut luruh menyatu syahdu
Serupa tirta mengalir pelan

Istri Ratu Rumah Tangga

Istri Adalah Ratu Rumah Tangga
Ketika seorang wanita telah mengambil keputusan untuk menikah, maka secara otomatis dia harus rela egonya terbuang jauh- jauh. Termasuk juga rela menyisihkan banyak kepentingan, keinginan serta karakter pribadi demi menjaga keutuhan keluarga.

Ia juga harus dengan ikhlas merubah beberapa hal buruk dalam kebiasaan, sikap, dan sifat, agar rumah tangga senantiasa terlihat indah. Tentu saja, dalam hal ini diperlukan kedewasaan, kematangan berfikir dan kesiapan mengabdi, yang kesemuanya akan lebih mudah jika dilakukan atas dasar kepercayaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tujuan kita menikah adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Salah satu hal penting dari seorang istri, adalah tentang rumahnya. Ada sebuah perumpamaan bahwa;
“Seperti apa rumahnya, seperti itulah istrinya”.

Kalimat tersebut menggambarkan bahwa keadaan sebuah rumah mencerminkan bagaimana karakter “sang ratu” didalamnya.

Jika rumah senantiasa tertata rapi dan indah, maka bisa ditebak, bahwa sang istri memang memiliki karakter yang juga rapi dan indah. Namun jika keadaan yang terlihat adalah sebaliknya, maka dengan mudah orang akan menilai seperti apa kepribadian si istri dirumah.

Hal ini bukan lantas menjadikan para istri kambing hitam dari segala permasalahan rumah tangga, yang memang sangat banyak tentunya. Namun sebagaimana kita tahu, wanita adalah tentang merawat.
Ida Sang Hyang Widhi Wasa menganugrahkan kepada wanita ketelatenan tentang hal-hal kecil sekalipun, yang bahkan mungkin terlewatkan oleh seorang laki-laki.

Bhisama Ida, menyatakan; “Setiap kalian adalah pemimpin & akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, suami sebagai purusa adalah pemimpin & akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya & seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga & akan dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya, & wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya & akan dimintai tanggungjawabnya serta pembantu adalah penanggungjawab atas harta benda majikannya & akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Maka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bagaimanakah kualitas seorang istri, bisa dilihat dari hasil kepemimpinannya yaitu rumahnya.

Memang seharusnya seorang pembantu, hanyalah sekedar membantu. Dan penanggung jawab utama adalah para istri itu sendiri. Karena itulah, mau tak mau memang wanita sebagai seorang istri harus turun tangan membereskan segala pernak pernik rumah tangga, sehingga ada nilai kehormatan tersendiri atas dirinya dan keluarganya. Selain itu kemuliaan juga akan tumbuh dimata anak dan suami kita, dan terutama dihadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sungguh, wanita terlihat indah, salah satunya ketika ia mampu menata dan mengindahkan istananya, yaitu rumahnya sendiri. Akan terlihat timpang jika si wanita begitu lihai dalam urusan diluar rumah, namun masih minus dalam hal kepengurusan rumahnya.
Dengan kata lain, betapapun tinggi status sosial, pendidikan, atau penghasilan, namun belum lengkaplah keindahan semua itu jika ia tidak mampu menghadirkan keindahan dalam istananya, yaitu rumah tangganya.

Kerjasama yang baik antara suami dan istri akan menghasilkan rumah yang nyaman di hati. Penghuninya akan merasakan nikmatnya tinggal di rumah, rumahku sorgaku.

#tubaba@griyangbang//istri bukan pembantu ataupun hantu rumah tangga//istri sebagai penerus keturunan#

Kamis, 10 Agustus 2023

UPACARA NILAPATI

UPACARA NILAPATI

Olih : I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S.,M.Pd

Sekilas Upacara Panilapatian

Upacara panilaptian adalah sebuah upacara yang bertujuan untuk menyatukan sang catur dasa pitara manunggal ring kamulan tengah, sehinggga upacara ini pun sering disebut sebagai upacara Siwa Yadnya.

Sang Catur Dasa Pitara ini merupakan 14 generasi yang ada di Bali. Mulai dari anak, orang tua (bapak dan ibu), kakek nenek, hingga ke tingkatan yang lebih tinggi lagi.

Berikut adalah tingkatan dari Catur Dasa Pitara.

1. Anak, lahir buah karya dari bapa (ayah)
2. Bapa, Aji atau ayah lahir buah karya dari pekak (kakek)
3. Pekak, kaki, kakyang, kakek, lahir buah karya dari kumpi
4. Kumpi, kompyang, lahir buah karya dari buyut
5. Buyut lahir buah karya dari kelab
6. Kelab lahir buah karya dari kelambiung
7. Kelambiung lahir buah karya dari krepek
8. Krepek lahir buah karya dari canggah
9. Canggah lahir buah karya dari bungkar
10. Bungkar lahir buah karya dari wareng
11. Wareng lahir buah karya dari kelewaran
12. Kelewaran lahir dari buah karya klakat
13. Klakat lahir dari buah kawitan .
14. Kawitan lahir dari manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Karena kata Nila berarti kosong atau sunia. Sedangkan kata Pati, berarti raja atau mulia dan agung. Sehingga Nilapati berarti menuju tempat sunia yang maha mulia nan agung. Maksudnya adalah menyatu dengan sang pencipta atau disebut dengan moksa. Nilapati, Konsep Menuju Kosong dalam Hindu Bali, Nama yang Meninggal Tidak Boleh Disebut. Karena sesungguhnya tujuan agama Hindu adalah Moksartham Jagadhita ya Ca Iti Dharma. Artinya menuju ke alam kebahagiaan. Sebab menyatu dengan Brahman. Atau di Bali yang disebut Bhatara Hyang Guru.

Maka di dalam pelaksanaan upacara Nilapati, daksina linggih yang menyimbolkan Bhatara Hyang kemudian di-pralina. 

Pralina tersebut dengan cara membakarnya. Kemudian abunya dimasukkan ke dalam kelapa gading yang muda (bungkak nyuh gading) lalu ditanam di belakang palinggih Rong Tiga. 

Hal ini menyimbolkan bahwa Dewa Pitara atau Hyang Pitara dijadikan konsep menuju nol atau kosong (sunia).

Untuk menjadikan konsep kosong atau nol ini, maka Bhatara Hyang yang telah disucikan kini dilinggihkan atau ditempatkan di ruang paling tengah dari palinggih Rong Tiga. 

Ruang tengah itu, kerap disebut ruang Raganta. Maka setelah upacara Nilapati serta ngalinggihan (meletakkan) di rong tengah (ruang tengah dari sebuah pelinggih di merajan). Biasanya kedudukannya lebih tinggi dari kedua rong yang ada di samping kanan dan kiri. 

Maka beliau kini dianggap sudah menjadi Bhatara Hyang Siwa Guru. Dengan harapannya bahwa Hyang Pitara bisa menyatu dengan Brahman "Awor ing Acintya", manunggal ring Sang Hyang Sangkanparaning Dumadi.

Oleh karena itu, biasanya orang yang meninggal. Bila telah melakukan upacara Nilapati. Maka nama sewaktu mereka masih hidup, tidak boleh disebut-sebut/dipanggil-panggil lagi atau bisa di sebut dengan menambahkan "Ida Bhatara Hyang ....." Karena beliau sudah dijadikan nol. Atau menyatu dengan Brahman. Maka beliau disebut Bhatara Hyang Guru. 

Sedangkan dalam lontar Tattwajnana, disebutkan bahwa Bhatara Guru identik atau sama dengan Siwa yang artinya Brahman. Ini berarti telah manunggalnya Atman dengan Brahman. 

Sebab pada dasarnya umat Hindu di Bali percaya bahwa untuk pencapaian akhir dari agama Hindu. Bukan terbatas pada swargha (surga) tetapi lebih tinggi lagi, yaitu Moksa. Hal ini sesuai dengan tujuan agama Hindu yaitu Moksartam Jagathita ya ca iti Dharma. Kebahagiaan lahir batin baik dunia dan akhirat.


Utamaning Kanistama yakni Upacāra yang lebih besar dari tingkatan Upacāra yang tergolong madyaning nista. Disanggar pesaksi (Surya) 
memakai Dewa – Dewi.

BANTEN RING AJENG SANG MUPUT : Eteh-eteh pedudusan jangkep, isuh-isuh alit antuk kayu tulak, kayu sisih, padang lepas, ambengan, daun kamurugan, baas, isuh-isuh madya antuk daun pupug, isuh-isuh utama antuk daun kayu putih, sibuh pepek, pangedangan mesurat senjata pengider bhuwana, prascita sakti, buwu, pembersihan, padma, payuk, isuh-isuh lan lis gde, kukusan padma, santun gede tegep, daksina suci, pengulapan ngambe 1 soroh, karangan lan pajegan, ulam itik meguling. 

a. Upakara ring Surya:
SESAYUT SURYA : Metatakan kulit sesayut, duur nyane dagingin nasi mewarna, kutus mekepel-kepel, sarupaning warna pada 1, medasar antuk nasi putih popolan duur nyane tancebin sekar tunjung barak, kwangen 8, sedah sapatindih, tetebus manut warnaning nasi, sesanganan, raka-raka jangkep, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan.
· Suci putih asoroh
· Prayascita luwih asoroh
· Sorohan alit 1
· Cantulung sasayut 1
· Jahuman
· Dapetan
· Salaran
· SESAYUT SIDA PURNA : Metatakan kulit sesayut, sega punjungan putih, ketipat sida purna, sekar bang, iwak niya udang, sedah woh, kwangi 1, raka sesanganan sarwa galahan dena jangkep.

. SESAYUT SIDA KARYA : Metatakan kulit sesayut, duur nyane dagingin nasi merepat, duur nasine susunin antuk tumpeng 1, kewangen 4, metanceb ring bucuning tumpenge pada 1, sekar cempaka putih 4 katih, meulam bawang putih, kelapa 1 bungkul, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan, katur ring Ida Batara Mahesora, ritatkala nyatur megenah kelod kangin.
SESAYUT NILAPATI : Medasar kulit sesayut, duur nyane dagingin aled don purna jiwa, tumpeng putih mapucuk bang, gerang kepiting atakir, taluh bebek 1, jangan bayem kulab, beras 2 takir, raka-raka, who-wohan 7 soan, pisang mas tasak 1 ijas, iwak ayam putih siungan mulus, kwangen 9, jinah ring sekul 225, sampian naga sari don kemuning, peras daksina, penyeneng antuk busung nyuh bulan, nyuh gading.
TEBASAN KAHYANGAN TIGA : Metatakan kulit sesayut, sesayut jaga satru, penek 3, mepelekir, penek mepucak padasa, kwangen 3, tulung apasang pencok kacang ijo, mepencek me basa, kesuna cekuh, tasik, minyak, mewadah limas, ulam bawi, urab barak putih 3 limas, sate 3 katih, nasi mewadah kojong, medaging sekar pucuk bang, base tubungan, daksina busung, anaman kelanan, peras penyeneng, pembersihan, sampian naga sari, payuk pere 1, sibuh tirta empul 1, kelungah nyuh gading misi lalang 2 katih, metegul antuk benang tri datu, segehan putih 3 tanding, nunas tirta ringsang sedaka masirat ping 9, ider tengen.
TEBASAN ATMA RAUH : Metatakan kulit sesayut, sega mewadah piring sutra, susunin antuk taluh medadar mepinda padma, celekin bungan tunjung, kewangen 1, jaja, woh-wohan, canang anggen ngulapin atma.
TETEBASAN PENGULENG DEWA : Metatakan kulit sesayut, duur nyane susunin antuk beras akulak, nyuh 1 bungkul, taluh 1 bungkul, gegantusan/bijaratus, benang 1 tukel, jinah 225, duur berase susunin sangku medaging toya anyar, lis sanjata pahideran mesadah ring sangkune, padma 1, sesanganan, raka-raka jangkep, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan anggen ritatkala mapahayu karya.
SESAYUT PENYEJEG PANILAPATIAN: Metatakan kulit sesayut, tumpeng 9 bungkul iwak ayam berumbun 2 ukud meolah dadi 9 tanding, belulang niya winangun urip, gedang setakep, raka, jaja canang, tetebus tridatu, matanceb orti bagia pulokerti 1.
SESAYUT SIDA MALUNGGUH : Metatakan kulit sesayut, duur nyane medaging nasi bunter, duur nasine susunin antuk cawan medaging nasi punjungan tancebin sekar pucuk barak 1 katih, ring sisin nasine bunter dagingin nasi pancung 4, metanceb kewangen 4 besik, genah nyane nyatur, sesanganan sarwa galahan, raka-raka jangkep, tehenan 1, peras alit 1, tulung 3, sampian nagasari, canang payasan, katur ring Ida Batara Ludra ritatkala nyatur megenah kelod kauh.
SESAYUT GURU: Metatakan kulit sesayut, duur nyane susunin antuk wastra putih, beras putih mesasahan, base tampelan 1, jinah 11 keteng, duur nyane medaging tumpeng gde 1, muncuk tumpenge medaging taluh bebek lebeng 1, tulung urip 2, sesanganan, raka-raka jangkep, ulam ayam putih mulus mepanggang, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan 1, katur ring Ida Batara Hyang Guru.
SESAYUT IDER BHUWANA : Metatakan kulit sesayut, duur nyane medaging nasi merepat sekadi citakan, tancebin sarwa sekar meilehan, kwangen 4, megenah bilang bucuning nasi, ring tengah medaging tulung metangga 1, ulam nyane sakawenang, tulung 2, sesanganan sarwa galahan, raka-raka jangkep, tehenan, peras alit, sampian nagasari, canang payasan, katur ring Ida batari Pertiwi, yan nyatur megenah ring sor utawi ring tengah.
TETEBASAN PENGENTEG LINGGIH : Metatakan kulit sesayut, duur nyane susunin antuk nasi bunter mepelekir, duur nasine susunin antuk nasi penek triwarna, metanceb sekar tri warna padha 5 katih, orti 5 katih, tulung agung 1, tulung sangkur 2, ketipat sesayut 1, ring pinggir nyane keiter antuk sekar, sedah woh, katipat sidha purna 1, ketipat cakra 1, sesanganan, raka-raka sarwa galahan, tehenan 1, peras alit 1, sampian naga sari, canang payasan angge ritatkala ngenteg linggih ring Parhayangan.
TATEBASAN PAMAHAYU SOT:

Madasar antuk dulang, duwur nyane susunin antuk aled sesayut, duwur nyane dagingin beras aperpatan, base tampelan, benang atukelko, jinah 225, duwur nyane susunin antuk nasi maklongkong 1, duwur nasine medaging tulung urip 1 medaging nasi ulam taluh bekasem, kawangen 11 siki, sesanganan, raka-raka sejangkep nyane, sangku medaging toya anyar, panyeneng alit (tahenan) 1, pras alit 1, sampyan nagasari, canang pahyasan. Tebasan puniki magenah ring Kemulan

Medengen-dengen ring jaba
tumpeng 11 lan tebasan pegat sot

Pinaka ulu : 
a. pejati
b. pengambean
c. santun 2, nyuh 2, taluh 2

Pinaka awak : tumpeng 11 dan tebasan atma rauh

Pinaka ikut :
a. soroan gereng
b. soroan cenik
c. daksina pengayatan bengawan penyarikan
d. biukaonan
· Penuntun
· Daksina palinggih
· Segehan cacahan 5

#Segan agung ring sor surya
Segehan agung : Taled antuk ngiyu, ditengah nyane madaging daksina, disisin daksinane medaging segehan putih 11 tanding genah niya meileh, canang niya marep kesisi, ritatkala ngemargiang segehan puniki medaging sambleh ayam samalulung. 

b. Ring Bhatara ring palinggih :
· Suci asoroh
· Jahuman asoroh
· Tebasan Dewa Lingga: Metatakan kulit sesayut , misi ketan mesasah, tumpeng injin 2, tumpeng agung 1, metanceb sekar catur warna meileh: Yan nyatur megenah kaja kangin.
SESAYUT SIDA MALUNGGUH : Metatakan kulit sesayut, sege nyitak bunter, disisin segane nyitak, medaging sega pancung metanceb kewangen nyatur, ring muncuk segane bunter tancebin sekar pucuk bang, tulung 3 siki, sanganan sarwa galahan, sodan woh sarwa pala jangkep, katur ring Hyang Ludra.

· Dapetan

2. Pangayatan Ring Pura Goa Lawah :
· Suci 2 soroh
· Pras
· Ajuman
· Daksina
· Kelanan dampulan
· Rayunan alit
· Jahuman
· Dapetan
· Tebasan Sida Karya
· Segehan cacahan 5
· Pengayatan ke surya asoroh
· Katur ring Bhatara ring Gua Lawah asoroh

3. Pangayatan Ring Segara : pejati suci asoroh

4. Pangayatan Ring Telaga Waja : pejati suci asoroh

5. Pangayatan Ring Dalem Puri : 2 soroh (aturan lan pemamitan)
Upakara nyane pateh kadi upakara ring ajeng, sakemawon maweweh Daksina Krepan 2 taler ulam suci nyane taluh itik abungkul.
SESANTUN GEDE/ KEREPAN : Bebesogan gde, serombong gde, beras 4 kulak, nyuh mekelas 4, taluh 4, gegantusan 4, tetampak 4, alas-alan 4, base tamplek mewadah kojong 4, pangi 4, tingkih 4, gula 4, biyu 4 bulih, benang putih 1 tukel, jinah 425 keteng, pirak Rp.400,- canang segenepan, pengreresikan 1. 

PEJATI SUCI RING:
#Pangayatan Ring Bhatara Surya asoroh
#Pangayatan Ring Mrajapati asoroh
#Pangayatan Ring Titi Gonggang asoroh
#Pangayatan Ring Titi Ugal – Agil asoroh
#Pangayatan Ring Tegal Penangsaran asoroh

6. #Pangayatan Ring Pura Ulun Kukul pejati suci asoroh

7. #Pangayatan Ring Penataran Agung pejati suci asoroh

8. #Pangayatan Ring Pura Panataran Agung Catur Parhyangan / Pedarman pejati suci asoroh

Upakara ring Jro/Puri soang – soang :
Sedurung ngranjing, kaping riin katuran segehan alit, selantur nyane melinggih ring Piasan .

1. Upakara sane katur ring Sanggah Kemulan :
· Suci asoroh
· Jahuman
· Dapetan

2. Upakara ring Piasan :
· Suci asoroh
· Jahuman
· Dapetan
· Rayunan
· Canang tadah woh ( soang – soang mangda wenten 5 soroh woh-wohan )

Upacara nyane :
· Sesampune maturan ring piasan, raris murwa daksina ping 3 ngiterin piasan, satunggil ring arep sanggah kemulan, ngayab ping 3.
· Daksina palinggihe unggahang ring Kemulan, pesimpenan ring Pura Dalem Puri, genahang ring beduur ( kemulan ), sedurung kagenahang acung acungang riin ping 3, wawu raris pesimpenan nyane kagenahang.
· Jejahitan Daksinane punika, geseng ring ajeng kemulan, saha katiwakin tirta Pemrelinan, lan tirta tirta sane kapaica ring pura – pura sane tangkilin wawu. Risampune puput kageseng, raris pendem ring ungkur sanggah Kemulan, saha katuran segehan alit ( cacahan 5 )
· Ring Dewa Hyang katuran banten Mayasih ring Kemulan

Catatan :

Tirta Pamralina : Nunas ring Ida Sulinggih Upakara nyane : Peras, Daksina, Suci
 
Liwet kalaksanayang ring ajeng sanggar tawang sane kawangun dumun, upakara nyane pateh kadi upakara sane katur dumun

Banten Maya Sih : tatakan nyane tempeh ageng sane anyar, masurat padma, medaging pras daksina, taler taledan lan bubuh liwet akehne 108
pulungan, medaging bungkak nyuh gading, saur lengis alasan, saet mingmang, malakar antuk ambengan 11 katih, saha madaging padang lepas 108 katih, kaiket dados asiki, antuk saet mingmang punika. Raris kagenahang ring bungkak nyuh gading sane sampun mekasturi.

Penuntunan : inggih punika antuk carang dapdap mecabang 3, matatakan antuk sibuh sane madaging jijih, lan kwangen mejinah bolong 11 kepeng, sibuh punika kabungkus antuk kase, kaiket dening benang tri datu tikelan, medaging kwangen mejinah bolong 11 keteng, taler ring muncuk benang tri datu punika,. kagantungin jinah bolong 200 keteng

Mantra Sesapan Pamegat Sot

Om Awighnam astu
Atur nghulun I Anu ....... (wasta sane mesosot) ring paduka bhatara, bhatara ring Pamarajan ..... (Nganutin genah soang-soang), Bhatara Siwa Ditya, Bhatara Giri Jagatnatha makadi Sanghyang Tri Purusa Saksi, kasaksinanya de nira Sang Hyang Trayo Dasa Saksi, Nini Citra Gotra, Kaki Citra Gotra, Tumut Sang Bhuta Galungan, Sang Lumanglang rahina wengi, sira amukti ujar-ujaring manusa. Hana sauh atur nghulun I Anu ...... ring paduka Bhatara ring ......... duk nghulun kari maurip, wenten atur nghulun ring paduka Bhatara, lamun parisentana anaking nghulun sida ngamolihang karya, irika sauh atur nghulun ring paduka Bhatara, nghulun sanggup maturan upakara yadnya Panilapatian miwah Tebasan Pegatsot kadulurin antuk saupakarania jangkep, warga sari awengi kantos maka rahina, mangke Ida Hyang Catur Dasa Pitara sampun nunggal kalawan Siwa ring kamulan tengah, mangkin nghulun anaur kadi atur nghulun nguni. I Dewa tan kari miutangang, nghulun tan kari mautang, pegat saprantasan tan kinucap malih. Mangkin tembenya ring tanggal masehi: 25 Maret 2022, rahina Sukra, Keliwon, Watugunung, titi tanggal panglong ping 8 sasih Kedasa, rah 12 tenggek 3 Caka 1944 yusaning loka.



Om Awighnam astu
Atur nghulun I Anu..... ri paduka Bhatara, Bhatara Siwa Ditya, Bhatara Siwagni, Bhatara Giri Jagatnatha, makadi Sanghyang Tri Purusa Sakti, Sanghyang Lumanglang ring rahina wengi, Bagawan Panyarikan, makadi Bhatara Gana, gaduh bhuta tiga, pangawaking patiking jagat, wruh ingulah hala ayu, amukti ujar ujaring manusa, maka saksyaning nghulun anawur sosot upakara Panilapatian majeng ring Sang Catur Dasa Pitara ring pamrajan......... , nguni hana hanata atur titiyang maturan aturan Upacara Panilapatian adandanan, maruntutan saupakaraning jangkep, pras papegat, kaatur ring Bhatara ring mrajan alit, mangke nghulun anaur sakadi ature nguni, Dewa tan kari miutangang, nghulun tan kari mautang, wus pegat saparantasan tan kaucap malih, duk manaur ring tanggal masehi: 25 Maret 2022, rahina Sukra, Keliwon, Watugunung, titi tanggal panglong ping 8 sasih Kedasa, rah 12 tenggek 3 Caka 1944 yusaning loka.

Om, Sang Sapuh Gulungan, Sang Brima Doleng, Sang Bedawang Petak, Sang Bedawang Bang, Sang Bedawang Jenar, Sang Bedawang Ireng, Sira anodyaning penauran tityang(ipun) antuk guling, Sang Bedawang Amanca Warna, sira angetok akna kancing sira Sang Ananta Boga, engelesana hutang tityang(ipun), teka keles, teka keles, teka keles, tan angangon ingesti teka pegat, rampung seperantasan, tan ana inucap malih. Hutang sinaungan amrtha sodana, tumpeng tunggal dwi sri, tri purusa, catur Dewa Panca Warna, Sapta Perana, Asta Kala, ingsun angaturaken Pegat Sot…..anawur hutang denira. Asing kirang asing luput geng rena sinampuraken.
Mantra : Om Panca warna bhawet Brahma,Wisnu saptewara waca, Sadwaraicwra dewacca, Astawara Ciwojnejah. Wrhaspati pinaka wit, Soma pinaka bungkah, Anggara pinaka godong, Buddha pinaka kembang, Sukra Pinaka woh, Sanisccara pinaka kulit, Redite pinaka warna.  
Om sarwa pras pranajanam, Sarwa karya praciddha ya ciddhi bhawantu ya namo namah swaha.
Sorowan : 
Mantra : Om, Pakulun Sang Hyang Picatur muka. Dewa byuha sira bhagawan ratangkup sira tapuke pakulun, angeseng ipenala, makadi lara rogha, sot sukata, gempung moksah hilang tanpa sesa, denira sanghyang Siwa picatur muka dewa byuha.
Om Sidhirastu astu tat astu swaha.
Om pukulun bhatara Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa, manusanira angaturaken upakara panilapatian, anyaluk tirtha mahening, Sarayu, Saraswati, maka pangeleburan sarwa mala, maka amrtaning sarwa mahurip, siddhi siddha asung anugraha de bhatara Yang Mami.
Om Sang,Bang,Tang,Hang,Hing, Nang, Mang,Sing,Wang,Yang, Ang,Ung,Mang (+ apsu dewa)


UPAKARAN PUTRU
Suci asoroh, daksina pejati asoroh, psewan, pras lis, canang pangalang.
Iki mantra pangsêngan pras : Ong yang mrêta guna sastra suda ya namah swaha.
Iki mantra pangsêngan sasantun : Ong ang mang siwa yogi pramasidyam suda ya namah swaha.

Uduh ta kita sanghyang catur dasa hyang pitara, paranta sangkane kita sanghyang catur dasa hyang pitara, anane mnga lawang iki, ring reh nora karyanteku upacara panilapatian maring sanghyang catur dasa hyang pitara iki, ah arêp age sanghyang catur dasa hyang pitara mangke, paranta karyanta ingkene, ingong anungsung kita sanghyang catur dasa hyang pitara, paran dera anungsung maring kami, sang cikrabala utpata sira, apan ingsun wruha ring kita, iki kita panadyaning sabdaningong. Mangke kacêta kawangsula kita, lah umêntasa kita sanghyang catur dasa hyang pitara. Mangke datêng tka sanghyang catur dasa hyang pitara, masabda bhatra siwa guru, Ih,ih,oh,oh, catur dasa hyang pitara paran kita prapta ngke, sakeng ndi sangkane kamung sanghyang catur dasa hyang pitara. Ih kita sanghyang catur dasa hyang pitara, sakti tmên pwa kita, lah ya inaturakna ring hyang Sinuhun. Apan kita huwus datêng sida sampurna ring sanmukan ingsun mangke, denadira sura roteng sila sasana agama, krêta simaning loka, bakti ring sarwaning hyang, tan aceda ring widi sastra agama, den mituhu ring sadnyan sang brahmana pandita, dwêg ring darmaning kosala, nguni duk aneng stiti ring bumi pancara karma, mangke ri tkaning mulih ta sanghyang atma kabeh, aninggalakên kama sariraning manusa pada, molih ta kita dalan apadang, tan hana bêncaneng laku, ring prasanakta duk dadinta kabeh, pada suka anuduhing marga bênêr. Sadya pwa kita molih lungguh tunggal lawan sang hyang siwa guru.

Mwah ta kita sanghyang catur dasa pitara, aku madana saji upakara panilapatiab inastuti dening puja mantranira sang brahmana pandita, ika dahating rangkêp kasadyaning lakunta sanghyang catur dasa pitara, antar aglis kita tka ring paraning kapti. Apan ikang catur dasa pitara, yatanyan maguna widya sastra, mwang darma kosala, kalanya stityeng pancara bumi, yapwan tan inangaskara dening panca pitropacara nilapati, kadyeki saranta lakunya.

Uduh kita sanghyang pitara kabeh, make kita huwus krêta lugraha alungguh alinggih nunggal ring swarganta kamulan tengah, denalanggêng kita, nunggil ring para dewata, ring kamulan pinaka swarga siwaloka, tan aglis mantuk ing madya pada, yan tan hana bwating lungguh, makadi sang brahmana raja rsi, ksatrya prabu, pangreh praja mandala, byuh asisya, byuh wadwa, kala samangkana ta kita wnang tumuruneng madya pada. Mwah sang kari ring marca pada, makadi tunggakan sanghyang catur dasa pitara kabeh, moga-moga anmu kawrêdyaning maurip. Tan kuranging catur boga, tan dahat katibaning sêngara baya, sakeng sanghyang catur dasa pitara kabeh apan sira huwus anglarakên panca pitropacara panilapatian.

Samangkana sadnyanira bhatara hyang Siwa Guru, maweh stana ring sanghyang catur dasa pitara kabeh. Umatur sanghyang pitara, Pukulun hyang Sinuhun, atur nghulun catur dasa pitara kabeh, apan akêdik atur sajin hulun, mantuk ring para dewata kabeh. Pitara samudaya, denaksamakna denira, para dewata kabeh, mangke sahananing saji-saji iki, inaturakên ring padaning hyang Sinuhun. Poma (3x). Lingira hyang Sinuhun, Uduh sanghyang catur dasa pitara kabeh, denaglis kita munggah swarga, tunggal tunggil, awor ing kamulanta, iki siwa loka, apan kita wnang rumaksa kabeh, apan kita tuhu wus kahêntas denira sang siwa yogiswara, denatusta kita pada munggah ring suralaya bwana, aja ta sang dewa catur dasa pitara simpang-simpang maring ranaknya ring nraka loka. Poma (3x).

Ring Kamulan ngaran ida sang hyang atma, ngaran sang paratma lawan sang sivatma. Ring kamulan tengah apupul atunggal ngaran raganya, brahma-wisnu-iswara dadi meme bapa, ngaran siwa meraga sang hyang tuduh. 

Ngaran ira sang atma ring kamulan tengen bapanta, nga, sang paratma, ring kamulan kiwa ibunta, nga, sang sivatma, ring kamulan madya raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi sanghyang tunggal, nungalang raga kaiket dening upacara panilapatian. 

Mwah atur sang catur dasa pitara, marêk ring hyang Sinuhun, lingira, Singgih pukulun hyang Sinuhun, risampunya sanghyang catur dasa pitara pada polih lungguh, mangke nugrahakna ican pukulun ring pari tusning sêntananira kabeh, mangda mangguh kawrêdyaning mahurip, kadirgayusaning mahurip, pêngpêng ring catur boga. Poma (3x).

Ong ayu wrêdi yasa wrêdi, wrêdi pradnya suka sriya, darma santana wrêdisca, santute sapta wrêdaya.