Senin, 23 Desember 2024

Caru Kadurmangalan

CARU KADURMANGALAAN

Umah karubuhan taru agung muang lumbung sanggah kunang, pepayonan sinambering kilap, ayam mesaki ring untungan ring salu kunang, kagunturan wot, katikelaning watu muang pamipisan, kaumahin tabuan, iki panudania : 

Segeh atelompok maiwak ayam klawu kledungan wawu ngetek ngetekin (gumerot), ingolah winangun urip, sasate calon, ebat pecel, kukutis, genep sewarnaning olah, matatakan nyiyu anyar merajah Rsi Gana, maaled kampil anyar, meraka sewentene, tumpeng ketan barak tumpeng injin adanan, tumpeng apucak manik 1, maiwak sere barak, bawang jae. Malih segeh pinunjung iwak ayam mapanggang, daksina denagenep jinah 225, canang gantal jinah 11, canang tubungan jinah 25, pelawa ambengan ruwaning sembung, peras penyeneng, lis salepan 1, payuk panglukatan genep

Ayam klawu, untuk Bhuta Ireng
Arah Barat Daya warnanya Jingga, Dewanya Rudra, memakai ayam klawu, uripnya 3, aksaranya MA, senjatanya Moksala.

Mantrania :
Ih Sang butha kala ta, Sang bhuta dumarana, Sang bhuta praweta, iki tadah sajin ira segehe tinalompok maiwak ayam kedungan wawu ngetekngetekkin, ingolah winangun urip, jatah calon, tekapinolah, tumpeng ketan abang ketan ireng adanan, muang tumpeng apucak manik abungkul, maiwak terasi bang, miwah bawang jae, segeh pinunjang maiwak ayam mapanggang, daksina nyuh abungkul maaled ruwaning gedang saba, jinah satak lima likur, maka pangenep ipun, pemantuke kita ajak putunira kabeh, yan kapanggih pasar agung ararian kita atatukon, ajak sanak putunira, wus sira atatukon mantuk kita ring kahyangan, anut ring linus genter pater, ameng-amengan mantuk ring linus genter pater tan pamengan, dumulurin ayu werdhi.

Minggu, 22 Desember 2024

Memanusiakan Alam

AGAMA HINDU MEMANUSIAKAN ALAM DAN LINGKUNGAN

Kunci keharmonisan adalah persatuan, selaras, dan hidup rukun. Tak ada persatuan tanpa kerukunan. Dalam kitab Atharwaweda III .30.4 dikatakan: 
Yena dewa na viyanti No ca vidvisa te mithah. Tat karnmo brahma vo grhe samjnana purunebhyah.

Artinya: 
“Wahai umat manusia, bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewa. Aku telah menganugrahkan yang sama kepadamu. Oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kalian. Dengan kerukunan membuat kita semakin kuat dalam menjaga kelestarian alam.”"

Agama Hindu memandang alam dan lingkungan sebagai bagian dari Tuhan dan memuja unsur-unsur alam: 

1. Alam semesta sebagai tubuh Tuhan
Umat Hindu percaya bahwa alam semesta adalah tubuh Tuhan, dan manusia serta segala sesuatu di alam hanyalah sebagian darinya. 
Keilahiran hadir dalam setiap unsur alam
Umat Hindu percaya bahwa Keilahiran Tertinggi hadir dalam setiap unsur alam, seperti tanah, air, udara, api, dan ether. 

2. Menjaga kelestarian alam
Umat Hindu menjaga kelestarian alam dengan menghormati, menjaga kealamian, dan menghindari eksploitasi hutan dan gunung. 

3. Bersikap tanpa kekerasan
Umat Hindu percaya bahwa bersikap tanpa kekerasan menunjukkan rasa hormat terhadap semua kehidupan. 

4. Menjadikan tanaman sebagai ibu
Umat Hindu memandang tanaman sebagai ibu bagi umat manusia dan seisi alam semesta. 

Dalam ajaran agama Hindu, hubungan manusia dengan alam disebut Palemahan. Dalam Palemahan, manusia bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam agar tetap indah dan nyaman. 

Beberapa upacara agama Hindu yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam, di antaranya:

a. Mecaru
Upacara untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam, juga disebut Butha Yadnya. Butha Yadnya merawat lima unsur alam, yaitu tanah, air, udara, api, dan ether. 

b. Tawur Agung Kesanga
Upacara yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, bertujuan untuk mengembalikan sari-sari alam yang telah digunakan manusia. Upacara ini dipersembahkan kepada para Butha agar tidak mengganggu manusia. 

c. Danu Kerthi
Upacara untuk memuliakan sumber air dan menjaga kelestarian danau. Upacara ini diadakan setiap lima tahun. 

d. Melasti
Upacara yang dilakukan sebelum Hari Raya Nyepi, bertujuan untuk menyucikan diri dan membersihkan alam dari energi negatif. 

e. Tumpek Wariga
Upacara untuk menjaga kelestarian alam dan sekitarnya. 

Selain itu, agama Hindu mengajarkan bahwa menerima tanggung jawab atas alam akan mendatangkan konsekuensi karma baik bagi semua orang. 

Terapi Berpikir Positif

TERAPI BERPIKIR POSITIF AGAR HIDUP LEBIH SUKSES DAN BAHAGIA 


Apa yang Anda alami hari ini adalah dampak dari pikiran Anda kemarin.  
Apa yang akan Anda alami esok hari adalah dampak dari pikiran Anda hari ini.  

Pikiran yang sedang Anda bayangkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda.   
Anda berpikir bisa atau tidak bisa, dua-duanya akan benar. Bila Anda berpikir bisa, insya Allah Anda bisa. Tetapi bila Anda berpikir tidak bisa, insya Allah Anda tidak bisa.   

Jika Anda mengubah cara berpikir Anda, kehidupan Anda pun ikut berubah.  
Jika pikiran Anda berubah ke arah positif maka kehidupan Anda menuju arah yang positif.  

Sekali Anda dapat merangkul sepenuhnya kekuatan pikiran Anda, kekuatan itu akan mengubah cara Anda menjalani kehidupan.   
Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.   

Semua orang mempunyai potensi kekuatan pikiran. Tapi tak semua tahu dan mampu mengaktifkannya untuk mendapatkan manfaat yang luar biasa.  
Komunitas MINDSET ENTREPRENEUR tergerak untuk membantu Anda mengenal kekuatan pikiran, cara kerjanya, dan cara mengaktifkannya dengan mudah dan efektif.   

Kekuatan pikiran Anda lebih dahsyat dari yang Anda bayangkan.  
Ikuti training menarik kebahagian, kesuksesan dan kemakmuran, SEGERA...

Sabtu, 21 Desember 2024

Puh Ginada I Ketut Tangsub

Pesan Pendidikan Lewat Geguritan I Ketut Tangsub

Eda ngaden awak bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh lu'u
Ilang lu'u buk'e katah
Yadin ririh liu nu peplajahan

Terjemahannya :
"Jangan mengira dirimu sudah pintar
Biarlah orang lain yang menilai diri kita/menyebutnya demikian
Ibarat sedang menyapu
Sampah akan muncul terus menerus
Kalau sampah habis, masih banyak debu
Biarpun kamu sudah pintar, masih banyak yang harus dipelajari"

Lagu ini terkesan begitu polos, lugu, apa adanya, namun penuh makna. Dari setiap baitnya mengandung makna :

1. Jangan sombong, mengatakan diri pintar, diri baik, serba tahu dan seterusnya, juga hindari memuji diri sendiri. Orang lainlah yang menilai dan mengatakan bukan diri anda.

2. Belajar ataupun tindakan baik apapun yang kita lakukan harus terus menerus. Ibarat orang menyapu, tidak cukup hanya dilakukan sekali saja.

3. Tidak ada manusia yang sempurna. Seseorang mungkin pintar dalam ilmu lain.

Pesan Pendidikan Lewat Macepat
“Eda ngaden awak bisa” (jangan menyangka diri bisa) merupakan baris pertama dari tujuh baris syair gending pupuh Ginada yang diakhiri dengan baris “liu enu paplajahan” (masih banyak pelajaran). Baris pembuka dan penutup macepat ini hendak mengingatkan bahwa dunia kehidupan adalah lembaga pendidikan. Dunia kehidupan menjadi semacam sekolah, tempat berlangsungnya proses pendidikan dan proses pembelajaran melalui interaksi dengan lingkungan, baik alam, sosial, maupun kultural. Proses ini merupakan upaya sadar manusia menyediakan pengalaman bagi pertumbuhan dan memberikan pengetahuan bagi perkembangannya sejalan dengan dinamika sekolah kehidupan. Di sekolah ini segalanya cepat berubah, seperti landasan, peralatan, aturan, dan tujuan pendidikan berganti sesuai dengan desa-kala-patra.

Menjadi Manusia Pembelajar
Memasang jarak kritis dan menyatu dengan kenyataan merupakan kebiasaan khas dan cita-cita pembelajar. Kebiasaan ini disarankan lewat “eda ngaden awak bisa”, upaya menunda arti dan makna putusan pengetahuan, baik bisa maupun ririh. Bukan hanya karena “liu enu paplajahan”, melainkan juga menunda untuk menemukan ‘jalan tengah’. Cara pandang yang tidak memihak pada suatu putusan pengetahuan: tidak segera menerima suatu putusan yang seolah-olah dapat disetujui dan tidak segera menolak suatu putusan yang seolah-olah tidak dapat disetujui. Sebaik-baiknya pandangan dan pendapat memang berada di jalan tengah, tidak memihak. Posisi yang demikian membuka peluang bagi pikiran untuk melanjutkan petualangannya menjelajahi kenyataan yang tidak terbatas.         
Kenyataan itulah yang ditunjuk dalam pesan “liu enu paplahan”, karena itu peringatan “eda ngaden awak bisa” sesungguhnya hendak berbicara tentang ketidaktuntasan proses pembelajaran. Pendidikan memang sepanjang hayat, belajar terbatas usia, dan tamat saat kematian. Meskipun begitu, kita tidak mudah menemukan seseorang yang menguasai secara utuh dan sepenuhnya semua unit pengetahuan alam, sosial, dan budaya, apalagi pengetahuan ketuhanan. Menyadari keterbatasan tidak berarti harus rendah hati, apalagi rendah diri di hadapan kenyataan yang tidak terbatas, tetapi membuatnya menjadi ‘obor belajar’. Api dan cahaya perubahan untuk mengganti kesombongan, keangkuhan, dan kecongkakan menjadi daya semangat untuk tetap menjadi manusia pembelajar, sebagaimana kewajiban sekolah kehidupan.


Jumat, 20 Desember 2024

Caru

Jenis-jenis Caru

Caru Palemahan Dan Sasih Dalam Agama Hindu Di Bali
Caru merupakan upacara yang di selenggarakan oleh umat Hindu di Bali pada setiap palemahan desa adat, banjar, dan juga pekarangan perumahan umat Hindu.demikian juga pada setiap musim(masa) yang juga disebut ”sasih” yaitu
pada hari kajeng kaliwon pada bulan mati, pada setiap pintu pekarangan umat

Secara umum caru sendiri dapat diartikan sebagai bagus, cantik, harmonis, mecaru dimaksudkan adalah untuk mempercantik, mempebagus dan mengharmoniskan. Yang dimaksud mengharmoniskan disini adalah tergantung dari objeknya, kalau caru itu caru palemahan maka yang di harmoniskan adalah palemahan, dan kalau carunya caru sasih maka yang di harminiskan adalah waktu dan musim atau masa. Sedangkan secara khusus caru dapat dikaitkan dengan sarana upakaranya, caru sebagai sarana berarti ”sega” atau nasi dalam segala bentuknya, ada yang berbentuk cacah, kepelan, dan berbentuk tumpeng kecil-kecil atau ”dananan” yang dilengkapi dengan lauk pauk, umumnya dari bumbu seperti bawang, jahe, garam dan lainnya.juga daging ”jejeron”

Kaitan caru dengan bhuta yadnya adalah bhuta yadnya berasal dari dua kata yaitu bhuta yang berasal dari kata bhu yang berarti ada, atau yang telah diciptakan yaitu alam semesta beserta dengan isinya baik itu yang berwujud nyata maupun yang berwujud tidak nyata (astral). Sedangkan yadnya berasal dari urat kata yad yang berarti berkorban jadi bhuta yadnya berarti korban kepada para bhuata, umumnya korban itu berupa ”bebali” yaitu upakara yang berupa nasi / sega serta minuman yang mengandung alkohol. Bebali ini biasa disebut caru. Jadi dengan diberikan carupara bhuta menjadi puas dengan demikian maka terwujudlah keharmonisan.

Jenis caru menurut objeknya dapat di bedakan menjadi tiga yaitu

1. Caru untuk mengharmoniskan bhumi atau alam sekitar dengan lingkungannya yang disebut ”bhumi suddha”.

2. Caru untuk menyeimbangkan ruangan dan waktu yang disebut caru sasih.

3. Caru untuk mengharmoniskan prilaku manusia atas pengaruh kelahiran yang disebut caru oton

Korban yang paling terkecil yang di persembahkan biasanya berupa nasi yang berisi bawang, jahe, terasi, arang, daging ”jejeroan” yang disebut ”segehan” yang menggunakan api takep dan menggunakan tetabuhan berupa air, tuak dan arak. Sesuai dengan jenis dan bentuk nasinya maka segehan terdiri dari : segehan cacahan, segehan kepelan, segehan mancewarna, dan segehan agung. Sedangkan korban yang bentuknya lebih sedang disebut yaitu gelar sanga yang biasanya mengikuti sorohan bebangkit.

Caru palemahan adalah upacara untuk mengharmoniskan ”areal peratalan” atau ”Wilayah”, yang dimaksud areal atau wilayah adalah wilayah hunian manusia,binatang,tumbuh-tumbuhan, bahkan sampai areal yang disthanai para Dewa-Dewi yang dikenal parhyangan. Caru palemahan tersebut dilaksanakan baik secara rutin maupun insientil. Secara rutin maksudnya dilakukan menurut jangka waktu tertentu yang tetap dilaksanakan pada kurun waktu tertentu, sedangkan secara insidentil maksudnya mengembalikan keseimbangan magic akibat adanya sesuatu yang tidak wajar. Misalnya ada orang yang melakukan ”salah tmpah” seperti mengadakan hubungan sek dengan binatang,saudara kandung,anak kandung atau dengan ibu, atau juga telah terjadi perkelahian di pura sampai keluar darah, serta kemalingan di daerah pura.

Bentuk caru palemahan kepada para bhuta yang tergolong sedang disebuta caru, pada tingkatan ini tergolong aneka jenis caru seperti :

Caru eka sato biasanya untuk mengharmoniskn pekarangan yang terdiri atas :

Ø Caru karang panas, karang panas adalah karang yang slalu menimbulkan penyakit, serta penghuni juga sering merasa bingung dan selalu berkelahi maka perlu di carui dengan cara pamanggihan sarana upacaranya : mendirikan sanggah tutuwan di halaman rumah ,pada sanggah itu di haturkan ”banjotan akelan”,canang lengewangi burat wangi, dan canang gantal. Di bawah sanggah tutuwan caru dengan pitik bulu sikep, sate lembat,asem, calon dijadikan 33 tanding,lalu dilengkapi daksina,tumpeng dananan 33,ditambh penyeneng,lis,nasi owan,dan tepung tawar. Mohon tirta dipura puseh dan pura desa dengan banten sode,perasdaksina. Dihalaman tempat caru eka sato ,berupa olahan ayam putih dengan bayang-bayangnya yang dialasi songkwi,menjadi 5 tanding serta datengan,daksina,penyeneng dan canang. Di hulu datengan tadi dan banjotan akelan setelah pryascita. Setelah selesai caru di tanam di perempatan jalan. Mendirikan sebuah sanggah cucuk dengan perlengkapannya.

Ø Caru karang panas kageringan, keadaan ini mengakibatkan sakit tak berhenti sehingga menimbulkan kematian,dan hewannya juga selalu kena grubug sehingga perlu dicarui dengan sarana : Tumpeng putih,daging ayam yang dipolakan sesuai dengan urip hari berupa sate calon yang dimasak sebelah,dilengkapi dengan rumah gile, di jadikan 5 tanding. Suruh putih ijo,kelanan, peras, penyeneng, lis, uang kepeng 225. selembar lontar yang di tulis yang kemudian akan ditanam di halaman, serta mendirikan sanggah cucuk lengkap dengan sarananya.

Ø Caru pengeruak bhuvana yaitu caru yang dilakukan sebelum kita mendirikan sebuah banguna dengan sarana : seekor ayam brumbun di kuliti dagingnya di olah menjadi urab merah dan putih sate asem ditanding 33tanding. Penek nasi pancawarna di buat sesuai urip mata angin. Kulit bayang-bayang dialasi songkwi 33 lembar ditaruh di tengah.serta snggah cucuk lengkap dengan sarananya.

Ø Caru ayam brumbun, caru ini biasanya menyertai piodalan di sanggah pamrajan yang tergolong menengah. Sarananya : sama seperti caru pengeruak tetapi caru ini menggunakan ayam brumbun dan diolah hanya menjadi satu unit yang banyaknya 8 tanding.serta 1 unit soroha bayuan,dilengkapi dengant tulud,sapu,dan kentongan dari bambu.disertai pula api takep.

Ø Caru ayam biying,caru ini digunakan untuk ”nyeheb api” yang disebut ”Nyeheb Brahma” biasanya dilakukan setelah ngaben, yang menggunakan ayam biying dengan urip 9 perlengkapan sama seperti caru eka sato.

Caru manca warna yaitu caru yang menggunakan 5 ekor ayam dengan maing-masing warananya.

Caru panca sato yaitu caru yang menggunakan 5 ekor ayam yang sesuai dengan penjuru mata angin serta ditambah dengan ”meri belang kalung”.yang digunakan untuk membersihkan pekarangan rumah yang dilakukan 5 tahun sekali, serta merubu-rebu setelah adanya kecuntakan dan bila terjadi sesuatu yang tidak wajar.

Caru panca sanak, caru yang sama seperti yang tadi cuman ditambahkan dengan ”anjing belang bungkem”.yang bisa juga dipergunakan untuk menyertai ”upacara pangrsiganan”.

Caru panca sanak madurga yaitu caru yang sama dangan diatas tapi ditambahkan berupa kucit selem butuhan (babi plon). Caru ini biasa digunakan pada saat ”penakluk mrana” yang di laksanakan di pamangkalan desa yang maksudnya adalah di perbatasan desa bagian selatan. Pada batas ini dibuat ”rangkaian bung poling” yang sejenis ranjau yang runcingnya menghadap ke bawah, dan sungga poling ini juga di buat di masing-masing ” angkul-angkul” atau pintu pekarngan. Dengan maksud agar mendapat keselamatan dan terhindar dari gangguan.

Caru manca sanak ditambah dengan mensthanakan Dewa Gana maka disebut caru ”ngeresigana” yang merupakan peralihan dari caru sedang ke caru yang besar.

Caru tergolong besar seperti Tawur dimana yang termasuk tawur adalah

”menceklud” yaitu caru yang dasarnya adalah manca sanak di tambah dengan angsa dan kambing dan membuat nasi tawur sebagai simbol untuk membersihkan bhumi kita ini.
”malik sumpah” merupakan caru yang dasarnya juga panca sanak dengan ditambah disamping angas dan kambing juga seekor ”godel merah” caru ini juga menggunakan nasi tawur.
Jika jenis caru diatas menggunakan sarana kerbau maka tawur itu disebut ”labuh gentuh” atau ”tawur agung”. Dan tingkatan yang lebih besar lagi yaitu tawur panca walikrama, tawur tribhuvana, eka bhuvana, eka dasa ludra dimana dalam tingkatan ini yang wajib muput adalah Tri Sadhaka yaitu Resi, Bujangga Vaisnava, Padanda.
Caru sasih adalah caru yang dilakukan untuk mengharmoniskan alam berserta lingkungan berdasarkan sasih, dimana sasih artinya bulan atau masa. Dengan tujuan supaya sasih-sasih tersebut memberikan pengaruh yang baik bagi kehidupan manusia.

Jenis-jenis caru sasih antara lain :

1. Caru sasih kasa (Srawana). Pada sasih kasa patut dilaksanakan pecaruan dengan sarana : pada masing-masing angkul-angkul di sebelah kiri patut mendirikan sanggah cucuk, pada snggah cucuk munggah “tumpeng tri warna”dengan warna bunga tri warna, lauknya jatah dan sate ayam putih kuning yang olahannya dijadikan 3 tanding,dibawah sanggah cucuk segehan 5 tanding, pada saat menghaturkan sebut “bhuta bregala”.

2. Caru sasih karo, sarana yang dipakai seperti : pada masing-masing angkul-angkul di sebelah kiri mendirikan sanggah cucuk. Kemudian ngunggahang canang genten 2 tanding,lanjaran 2 katih,dagingnya sate babi sate lembat 2,sate calon 2 katih,di gantungi sujang berisi tuak dan arak,mekober kasa,di bawah segehan cacah dengan api takep,sebutannya sang bhuta amangku rat.

3. Caru sasih ka tiga, menggunakan sarana seperti : mendirikan sanggah cucuk pada masing-masing angkul-angkul di sebelah kiri,beserta tipat mancawarna,raka-raka,canang 5 tanding,dagingnya palem udang dan gerih kepiting,dibawah segehan 5 tanding tetabuhan tuak,arak,dan api takep, persembahan memanggil sangkala prayogi.

4. Caru sasih kapat, dengan sarana seperti : sanggah cucuk di kiri angkul-angkul,dengan tumpeng dinanan kuning,kawangen 2 buah,canang genten 5 tanding,lanjaran menyan 2 katih,dagingnya ayam putih diolah menjadi 5 tanding dilengkapi raka-raka,plawenya menggunakan daun bingin,sujang beri tuak dan arak,dibawah segehan 5 tanding bertabuh tuak raka,mempersembahkan panggil sang kala wigraha bhumi.

5. Caru sasih ka lima,dengan sarana seperti : dengan sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,dengan banten punjung 2,raka,canang 2,tuak 2 tekor,daging ulam wabi diolah menjadi urab merah dan putih, sate lembat dan asem,di bawah segehan 5 tanding,tabuhan tuak,arakdan toya,api takep,mempersembahkan panggil sang kala mangsa.

6. Caru sasih ka nem, denan sarana seperti : sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,tmpeng ireng 1 dananan,raka pisang malablab,canang 2,dagingnya ayam hitam diolah menjadi urab bang putih,sate lembat dan calon,di bawah segehan 5 tanding dengan dagingnya jeroan babi mentah,darah 1 tekor,tetabuh tuak,arak,air dan api takep,mempersembahkan panggil sang kala smayapati.

7. Caru sasih ka pitu,dengan sarana seperti : sangah cucuk di sebelah kiri angkul-ngkul, dengan tumpeng bang dananan,raka-raka,canang apasang,dagingnya sate ayam wiring dan olahan urab bang putih,di bawah segehan 5 tanding,didepan sanggah kemulan mempersembahkan nasi punjuangan1,daging jatah babai akarang,mesate 5 katih,segehan 5 tanding,dagingnya lawar babi,tuak 1 tapan,tetabuh tuak,arak, dan air, mempersembahkan memanggil sang kala ngadang samaya.

8. Caru sasih ka wulu, dengan sarana seperti : sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,pada sanggah cucuk nguggahang nasi takelan,sujang dengan tuak,arak,ulam taluh bekasem,tumpeng 5 bungkul bertempat daun telunjungan,geti-geti,biyu batu,canang 1 pasang,ulam rumbah gile,kakumbuk kacang,calon agung5,tabuhan tuak, arak, dan toya,mempersembahkan memanggil sang kala dengen.

9. Caru sasih ka sanga, dengan sarana seperti : sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,nasi telompokn maulam taloh madadar,sujang tuak,arak magantung,raka-raka,di bawah peras penyeneng,segehan5 tanding, tetabuhan tauk,arak dan air,mempersembahkan memenggil sang kala rogha.

10. Caru sasi ka dasa, dengan sarana seperti : sanggah cucuk di sebelah kiri angkul-angkul,mungah unjung1,raka-raka,ulam danging babi diolah menjadi urab merah putih,sate lmbat 1,calon,dibawah segehan 5 tanding,tetabuhan tuak, arak, dan air,serta api takep,mempersembahkan memanggil sang kala wijaya.

11. Caru sasih dyestha,dengan sarana seperti : sangah cucuk d sebelah kiri angkul-angkul,mempersembahkan penek putih 1,dananan,jatah ayam sebulu-bulu,urab bang putih,sate lembat 1,sayur pepes makukus 1 tanding,di bawah segehan 5 tanding,tetabuh tuak,arak,dan api takep,mempersembahkan dengan memanggl sang kala solog.

12. Caru sasih asadha, dengan sarana seperti : sangah cucuk disebelah kiri angkul-angkul,mempersembahkan tumpeng putih 1,dananan,raka-raka,ulam ayam putih,kelembar rumbah gile,di bawah segehan menurut urip dina angkepan,maulam lawar,tetabuhan berupa tuak,arak dan air,dan api takep,mempersembahkan dengan memanggil sang kala bhanaspati.

Senin, 16 Desember 2024

Penglukatan Toya Tawang

Penglukatan TOYA TAWANG (Toya Awang-Awang/Air dari Langit) Dalam Teologi Hindu. 

Umat Hindu di Bali tidak lepas dari ritual melukat. Melukat merupakan upacara yang dilakukan untuk membersihkan jiwa dan pikiran dalam diri manusia. Tradisi ini dilakukan untuk membersihkan simpulan-simpul energi-energi negatif dari diri manusia dengan bantuan dari alam semesta. Dengan melaksanakan kegiatan untuk melukat berarti kita sudah mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang mana merupakan sumber kesucian bagi umat manusia. 

Upacara melukat termasuk upacara manusa yadnya

Melukat dalam pelaksanaanya ada dua jalan menuju suatu sumber air/toya yang dianggap memiliki kesucian salah satunya yaitu melukat dengan toya tawang (air dari langit) dan ada melalui penyucian toya yang disebut Tirtha Penglukatan (yang dibuat oleh Sulinggih yang sudah memiliki kewenangan)

Karena manusia diciptakan oleh Panca Dewata maka perlulah manusia menyucikan diri lahir bathin melalui upacara melukat, karena dengan keadaan sucilah bisa kembali kepada Tuhan yang maha Suci.

Melukat yang dilakukan oleh umat hindu disesuaikan dengan apa tujuan melukat seperti penglukatan oton, sapuh leger lan melik.

Jika ditinjau dari pelaksanaan dan tujuan upacaranya. Ada delapn macam upacara melukat, yaitu sebagai berikut :

1). Melukat Astupungku, untuk membersihkan dan menyucikan malapetaka seseorang yang diakibatkan oleh hari kelahiran dan Tri Guna (Satwam, Rajas, Tamas) yang tidak seimbang dalam keseimbangan. 

2). Melukat Gni Ngelayang, untuk pengobatan seseorang yang sedang ditimpa penyakit. 

3). Melukat Gomana, untuk penebusan Oton atau hari kelahiran yang diakibatkan oleh pengaruh yang layak dari Wewaran dan Wuku. Misalnya pada mereka yang lahir pada wuku Wayang. 

4). Melukat Surya Gomana, untuk melepaskan noda dan kotoran yang ada pada diri Bayi. Misalnya pada saat Nelu Bulanin. 

5). Melukat Semarabeda, untuk menyucikan Sang Kama Jaya dan Sang Kama Ratih dari segala noda dan mala pada upacara Pawiwahan (Perkawinan). 

6). Melukat Prabu, untuk memohonkan para pemimpin agar kelak dalam melaksanakan mendapatkan kejayaan dan kemakmuran. 

7). Melukat Nawa Ratna, ini dapat dikatakan memiliki makna yang sama dengan Melukat Prabu.

8). Melukat Toya Tawang atau melukat dengan air langit (air hujan) ini merupakan pembersihan serta menyucikan diri pada manusia lahir bathin sekala niskala dengan tujuan dapat melepaskan akibat malepataka.

Seperti penjelasan sloka berikut: 
Reg Veda X. 17.10

Apo asman matarah Sundhayantu, Ghrtena no Ghrtapvah punantu, Visvam hi ripram pravahanti devir, Ud id abhyah sucir a puta emi. 

(Mantra yang digunakan sebelum melakukan Panglukatan) 

Artinya:

Semoga air suci yang merupakan berkah dari alam semesta ini, menyucikan diri serta pikiran kami, agar kami bercahaya dan gemerlap. Semoga air suci ini melenyapkan segala kekotoran. Kami akan bangkit dari kegelapan (kotor) dan memperoleh kesucian.

Sloka Bhagawad Gita itu adalah Bagawad Gita III.14 yaitu :

Annaad bhvanti bhuutaani
prajnyaad annasambhavad
yadnyad bhavati parjanyo
yadnyah karma samudbhavad

Artinya :

Mahluk hidup berasal dari makanan. Makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan. Hujan berasal dari yadnya. Yadnya itu adalah karma. 

Bumi memberikan tanah. Langit menurunkan hujan untuk berkembangnya tumbuh-tumbuhan. Mengapa bumi dan langit dapat berlaku demikian. Itulah hukum Rta yang diciptakan Tuhan. Tuhan dalam kemahakuasaan-Nya menciptakan tumbuh-tumbuhan melalui hukum alamnya yang disebut Dewa Sangkara oleh para Resi.

Manfaat Melukat Toya Tawang (Air Hujan) bagi Kesehatan
Tetes Toya Tabah (air hujan) yang jatuh membawa lebih dari sekadar kesegaran dan aroma yang menenangkan. Di balik setiap hirupan udara yang sejuk dan setiap sentuhan tetesan air, tersimpan manfaat bagi kesehatan tubuh kita yang mungkin belum kita sadari. 

Toya Tawang (air hujan) merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi di Indonesia. Bagi sebagian orang, melukat dengan Toya Tawang (mandi air hujan) mungkin dianggap sebagai momen yang menyebalkan karena tidak lazim dalam aktivitas sehari-hari. Namun, bagi sebagian orang lainnya, melukat dengan Toya Tawang (mandi air hujan) justru menjadi momen yang menyenangkan. 

Melukat Toya Tawang (mandi air hujan) memang terkesan seperti aktivitas yang hanya dilakukan oleh anak-anak. Namun, ternyata melukat Toya Tawang (mandi air hujan) memiliki segudang manfaat bagi kesehatan fisik dan mental. Berikut adalah beberapa manfaat mandi hujan:

1. Membersihkan Kulit dengan Lebih Lembut. Penglukatan Toya Tawang (air hujan) bukan hanya soal menyenangkan diri dalam alam, tetapi juga merupakan cara alami untuk membersihkan kulit dari kotoran dan bakteri. Toya Tawang (air hujan) menurut para ahli memiliki pH yang lebih netral dibandingkan dengan air keran, sehingga lebih lembut untuk kulit, terutama bagi yang memiliki kulit sensitif.

2. Melukat Toya Tawang dapat memperkuat Sistem Imun. Melukat dengan Toya Tawang (kontak langsung dengan air hujan) dapat merangsang sistem kekebalan tubuh. Melalui proses yang disebut hormesis, tubuh kita dapat memperkuat respons imun terhadap lingkungan sekitar, membantu melawan infeksi dan penyakit.

3. Toya Tawang Mampu Mengurangi Tingkat Stres dan Ketegangan. Toya Tawang (air hujan) tidak hanya membersihkan tubuh secara fisik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk relaksasi mental. Sentuhan Toya Tawang yang lembut dan bunyi hujan yang menenangkan dapat membantu mengurangi tingkat stres dan ketegangan yang mungkin kita rasakan sehari-hari.

4. Memperbaiki Kualitas Tidur. Pengalaman melukat Toya Tawang (mandi air hujan) sebelum tidur dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Rasa tenang dan rileks yang didapat dari mandi air hujan dapat membantu menenangkan pikiran dan mempersiapkan tubuh untuk tidur yang nyenyak.

5. Memperkuat Koneksi dengan Alam. Melukat Toya Tawang (mandi air hujan) juga memberikan kesempatan untuk merasakan kedekatan dengan alam dan mengalami keajaiban alam yang sederhana. Ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan dengan menghubungkan kita kembali dengan alam yang mengelilingi kita.

6. Manfaat melukat Toya Tawang (mandi hujan) bagi kesehatan fisik dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Toya Tanah (air hujan) menurut para ahli mengandung ion negatif yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Ion negatif ini dapat membantu tubuh melawan serangan penyakit.

7. Mencegah jerawat. Toya Tawang (air hujan) memiliki pH yang mendekati pH kulit, sehingga dapat membantu mencegah jerawat.

8. Manfaat melukat Toya Tawang (mandi hujan) bagi kesehatan mental dapat meningkatkan kreativitas. Melukat Toya Tawang (mandi hujan) dapat meningkatkan kreativitas dan imajinasi. Hal ini karena mandi hujan dapat membuat seseorang merasa bebas dan lepas dari rutinitas sehari-hari.

9. Meningkatkan rasa bahagia. Melukat Toya Tawang (mandi hujan) dapat meningkatkan rasa bahagia dan kepuasan hidup. Hal ini karena mandi hujan dapat memberikan sensasi yang menyenangkan dan menenangkan.

Melukat merupakan membersihkan serta menyucikan diri pada manusia lahir bathin sekala niskala dengan tujuan dapat melepaskan akibat malepataka. Dengan begitu banyak manfaat yang tersimpan di balik melukat Toya Tawang (setiap tetes air hujan) atau mandi di bawah hujan bukan hanya sekedar aktivitas fisik, tetapi juga sebuah pengalaman kesehatan holistik yang memberikan kesegaran bagi tubuh dan pikiran.

Meskipun melukat Toya Tawang (mandi hujan) memiliki banyak manfaat, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, dalam melakukan melukat Toya Tawang yaitu:

a). Jangan Melukat Toya Tawang saat hujan deras dapat mengandung polutan dan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan.

b). Jangan melukat Toya Tawang saat cuaca dingin karena dapat menyebabkan hipotermia.

d). Jangan Melukat Toya Tawang jika memiliki penyakit tertentu. Jika memiliki penyakit tertentu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum melukat Toya Tawang (mandi hujan) .

Secara keseluruhan, melukat Toya Tawang (mandi hujan) merupakan aktivitas yang cukup aman dan bermanfaat bagi kesehatan.

PROSESI MELUKAT 
Prosesi melukat biasanya dilaksanakan pada hari-hari baik agama Hindu misalnya seperti Purnama, Tilem, dan Kajeng Kliwon. Upacara Melukat Toya Tawang dipimpin oleh seorang pemangku dan atau Sulinggih. Sesajian seperti: Pejati kepada Dewa Surya, Akasa dan Pertiwi. Orang yang akan diupacarai mencari tempat terbuka memohon Panglukatan Toya Tawang (air langit/mandi hujan).

Setelah selesai yang diupacarai di prascita dan bayuan yang disiapkan dengan diberikan mantra-mantra. Setelah proses pemantraan selesai, orang yang akan diupacarai disiram dengan air kelapa gading. Setelah mandi air kelapa gading, ritual dilanjutkan dengan pajaya-jaya untuk me nerima berkah.

Upacara Mejaya Jaya tersebut dilaksanakan untuk memohon agar pikiran, perkataan, tindakan dan prilaku kita selalu disucikan, dituntun agar selalu berjalan sesuai ajaran agama. Dengan Upacara Mejaya Jaya dapat menguatkan lahir batin sehingga penyumpahan yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik.

Minggu, 15 Desember 2024

Mantra Siwaratri

Inilah tata cara pelaksanaan hari suci Siwaratri.

Hari raya Siwaratri ini dirayakan bagi umat Hindu di Pulau Bali.

Hari raya Siwaratri ini dapat diartikan sebagai peleburan dosa dalam diri dan hati untuk menuju jalan yang lebih baik.

Sehingga, untuk umat Hindu jangan sampai lupa untuk melakukan sembahyang dan menghaturkan bhakti saat perayaan Siwaratri, agar mendapatkan kesejahteraan lahir batik.

Tatacara menjalankan Siwaratri

Melakukan maprayasita untuk pembersihan pikiran dan batin merupakan salah satu cara yang dijalankan saat Siwaratri.

Diketahui, hakikat dari Siwaratri adalah yoga semadi, bukanlah hura-hura.

Selain itu, tidak lupa untuk menghatuskan banten pejati di sanggah Surya.

Hal itupun dibarengi dengan sembahyang ke hadapan Sang Hyang Surya untuk memohon kesaksian agar diberkati.

Kemudian bersembahyang ke hadapan leluhur untuk memohon tuntutanNya.

Menghaturkan banten pejati juga ke hadapan Dewa Siwa yang ditempatkan pada sanggah tutuan atau Palinggih Padma.

Setelah itu, agar terus jagra (berjaga dan tidak tidur) dengan mengucapkan mantra Om Namah Siwa dalam waktu semalam suntuk.

Siwaratri berasal dari dua kata, yaitu Siwa dan Ratri. Siwa berarti Dewa Siwa, yang merupakan manifestasi Tuhan, sedangkan Ratri berarti malam atau kegelapan. Dengan demikian, Siwaratri dapat diartikan sebagai malam peleburan kegelapan dalam diri dan hati untuk menuju jalan yang lebih terang. 

Puja Siwalatri adalah perayaan umat Hindu untuk memuja Dewa Siwa dalam rangka memperingati turunnya Dewa Siwa. Perayaan ini juga dikenal dengan sebutan Mahasiwaratri atau Padmarajaratri. 

Puja Siwalatri dirayakan setiap tahun pada malam ke-13 atau hari ke-14 bulan Magha dalam penanggalan Hindu. Perayaan ini diwarnai dengan berbagai kegiatan, seperti: 
1. Melakukan brata, yaitu upayasa (puasa), monabrata (tidak berbicara), dan jagra (tidak tidur). 
2. Mempersembahkan daun Bael atau Bilwa kepada Dewa Siwa. 
3. Melafalkan mantra suci Pancaksara, yaitu:  
"Om Nama Siwaya",  
"Om Nama Siwaya",  
"Om Nama Siwaya", 
"Om Nama Siwaya".
SIWA YA NAMA OM, 
NAMA SIWA YA
SIWA YA NAMA OM, 
NAMA SIWA YA. 
                        (di ulang-ulang) 

4. Sembahyang ke hadapan leluhur dan Dewa Samodhaya. 
5. Mengatur banten pajati di Sanggar Tutuan, Palinggih Padma, Piasan, atau halaman terbuka. 
6. Melaksanakan nunas (mohon) “Tirta Pakuluh”. 
7. Mesegeh di depan Sanggar Surya. 
8. Menutup rangkaian upacara dengan Dana Punia. 



Puja Mantra Siwaratri:
1. Mantra Upa Saksi ( Ciwa Raditya )
- Om Aditya sya Paranjyotir, Rakte taja namostute,

Sweta pangkaja madyaste, Bhaskara ya namo namah.

Om Hrang Hring Sah Parama Siwa Ditya ya namo namah swaha.

2. Mantra Brahma
- Om Isanosarwa widyana,
Iswara sarwa bhutanam,
Brahmadipati Brahman.
Siwastu Sada Siwa ya,
Om Am Brahma namah.

3. Mantra Wisnu
- Om Giri Pati Maha Wiryam, Mahadewa pratista lingam,

Sarwa Dewa pranamyanam, Sarwa Jagat pratistanam.

4. Mantra Iswara
- Om Catur Dewi Maha Dewi, Catur asrama Bhatari,

Siwa Jagatpati Dewi, Dhurga Masarira Dewi,

Om Anugraha amrtta sarwa lara winasanam ya nama swaha.

5. Mantra Ghana
- Om Ghana parama tanggoyam,
Ghana tatwa para yanamah,
Ghana dhiparama pnoti.
Sukha Ghana ame stute.

6. Mantra Giripati
- Om Am Am iripati wandi, Lokanatam jagatpati,

Danesan Arana karanam, Sarwa Gunam mohodyatam,

Om Maha Rudram Maha Sudham, Sarwa roga winasanam.

7. Mantra Hyang Kumara
Om namah Kumara sad-anama ya,
Siki dwa jaya prati mayaloke
Sad-kreti kanandakara ya nityam,
Namao,stu tasme dwajawara pujitram.

Om Rudra-atma kaya prati mayoloke,
Brahmanya dewaya sikidwaja ya
Senapratewa dahita ya nityam dewayam
Namo’stu koncadala darana ya.

Om Namah sada-agni ya wiyaka ya,
Namo,sti kajrambha kayajaya nityam,
Sasti-praya yam ala santriyate,
Namah sadakurtkuta namo hana ya.

Om ya namo, stu hanganila ya nityam,
Namo’stu widya warada ya loke
Namo’stu rohika wapiya,
Huwah prakase warado namo’ stute. 



1. Pengertian Siwaratri
Istilah yang lengkap mengenai Siwaratri adalah Siwaratrikalpa yang berarti Brata Siwaratri. Untuk memperoleh gambaran pengertian Siwaratrikalpa, baiklah saya akan kutipkan perkataan Maha Rsi Wasistha kepada raja Dilipa dalam lontar Padmabhuana sebagai berikut :

Srnu rajan prayakayami sivaratrivratah tava vratanam uttaman sukene

chivalokaikasadhanam,

Maghaphalgunayer madhye kranapakno caturdasi sivaratri vijnayo narvapapapaharini.

Krtopavana toyam siwam arsanti jageatah bilvapatrtis caturyaman teyanti sivarulyatam.

Na tapobhir na danais cca na va japyasamadhibhih prapyate tatphalam rajan nopavasamakhadibhih.

Guhyad guhyatarah loka vratam otas chivapriyam tvayapi khalu narvatra na prakasyam idam vratam.

Bhudaranam yathasmarus tojasam bhaskaro yatha dvipadam ca yatha viprah kapilova caruspadam.

Japyanam iva gayatri rasanam amratam yatha purusanam yatha visruh strinam yadvad arundhati.

Sivaratrivratad rajan vratanam uttamam tatha sivaratir mahavahnir bhavanicasamanvita.

Dahaty svarito yogao chuskardam kalmasedhanam otat yo kathitam rajan

sivaratrivratam mahat evam eva pura dovyai mahadevana bhasitam.


Artinya :


Tuhanku, dengarkan, dan saya akan menerangkan kepada Tuanku tentang brata malam Siwa, yang jelas merupakan brata yang paling istimewa, yaitu jalan untuk mencapai sorganya Siwa.

Malam ke 14 yang gelap pada pertengahan bulan Magha ( sasih kepitu ) atau phalguna ( sasih Kaulu ) haruslah dikenal sebagai malam Siwa yang membebaskan semua dosa.

Mereka yang berpuasa dan tetap tidak tidur, berbhakti kepada Dewa Siwa dengan daun bila selama malam itu mendapatkan identitas denga Dewa Siwa.

Bahwa imbalannya tidak diperoleh dengan kekerasan, tidak juga dengan hadiah-hadiah, semadhi, doa, puasa dan lain-lain.

Brata ini adalah sangat rahasia di dunia ini, dan tentu saja tidak boleh dibuka di mana-mana walaupun oleh Tuhanku sendiri.

Brata malam Siwa merupakan brata yang paling istimewa, ibarat Merunya pegunungan, matahari dari apa saja yang bersinar, guru dari mahluk-mahluk yang berkaki empat, gayatrinya doa, amertanya cairan, Wisnunya orang laki, Arundhatinya orang wanita.

Malam Siwa yang diasosiasikan dengan Dewa Bhavani, begitu terjadi kontak, membakar bahan bakarnya dosa, baik basah maupun kering. Brata agung malam Siwa ini, telah diuraikan kepada Tuanku seperti telah diceritrakan kepada Dewi sebelumnya oleh Mahadewa.


2. Tata Cara Melaksanakan Siwaratri
Tata cara melaksanakan Brata Siwaratrikalpa, disebutkan dalam pustaka “Siwaratribrata”. Koleksi Ida Pedanda Gede Pemaron di Munggu. Di dalam pustaka ini diberikan petunjuk terutama bagi sulinggih dalam melakukan Siwaratrikalpa, lengkap dengan puja mantranya, pendahuan (menggala) pustaka ini berbunyi:

“Rihankrama Siwaratri brata uttama, tindakira sang pandhita siwa mwang budha, sang meharep lepas saking atma sengsara, siddhaning yasa, tapa, brata, dhyana, yoga, semadi mwang kritinya………”

artinya:

“Inilah tatacara melaksanakan Brata Siwaratri utama, yang diharapkan terlepasnya atma dari sengsara, berhasilnya yasa, tapa, brata, yoga, semadhi serta kirtinya………”

C. Hooykaas dalam bukunya “Agama Tirtha” mencantumkan transkrip naskah upacara Siwaratri, terutama mengenai upacaranya. Menggala dari naskah itu menyebutkan:

“Iti kalingan Brata Siwaratri, caru ring sanggar tawang, 4 dandanan tekang catur, banten gana, banten sumur, banten pelinggihan (saha) dandanan swang………”

artinya:

Inilah keterangan mengenai Brata Siwaratri.

Caru di (sor) sanggar tawang, dandanan 4 lengkap dengan catur banten gana, banten sumur, banten pelinggihan (daksina pelinggih) disertai dandanan masing-masing……..

Saya berusaha mensinkrunkan isi kedua naskah itu dan mencoba mengambil isinya, karena betapa sulitnya menyusun suatu tata cara pelaksanaannya yang didasarkan atas petunjuk yang kurang lengkap dan tradisi yang berpariasi. Atas dasar kedua naskah itu maka pelaksanaan upacara-upacara Siwaratri dapat dibedakan menjadi dua yaitu: Sadhaka dan walaka. Dalam hubungan ini ada 3 hal yang perlu diperhatikan yaitu: Upakaranya, Bratanya, dan Tatacaranya. Inipun masih dibedakan lagi menurut tingkata: Uttama, Madhya dan Nistha.


A. Upacara Ciwaratri untuk Sadhaka.

Upakara

a. Uttama:

Mendirikan sanggar tawang berisi banten catur wedhya, daksina sarwapat 1, suci wedhya 3, dandanan, peras, ajuman, sodan, salaran, kelanan, sorohan, karangan itik, pangkonan dan rayunan prangkat, ulam itik. Di hadapan mepuja: banten gebogan, bubuh mesaji, sogo liwet, bubur putih, bubur bang, bubur wilis misi tatakhijo (kacang ijo), sesayut pancalingga, pras gede, tumpeng, pengambian, prayascita luwih, penyeneng, pedudusan agung, pengerosikan, lingga diisi rerajahan padmanglayang dan kain sutra kuning diisi rerajahan padmasana. Selain itu dibuatkan lingga emas diisi dengan kain sutra kuning sebagai Ciwapratistha. Ayaban saha bebangkit dan sesayut durmanggala.

Bunga berwarna-warni yaitu: menuh, kemiri, gambir, kecubung, weduri putih, pudak, angsoka, sari tangguli, tanjung, kalak, cempaka, tunjung biru, tunjung bang, tunjung putih, sulasih, merak, daun bila 108 lembar, wangi-wangian dan padang lepas. Di pelinggih kamimitan berisi banten pejati selengkapnya asoroh. Di bawah: banten caru ayam brumbun biakala, gelarsanga, segehan agung.


b. Madhya

Banten seperti pada tingkat uttama, tetapi di sanggah surya memakai banten ardhanareswari tidak memakai catur, daksina, sorohan suci alit, peras, sodan, kelanan. Dihadapan mepuja: banten ayaban mejerimpen tanpa bebangkit, padudusan alit, bubur putih, bubur wilis berisi tatak hijo, mesayut pancalingga, tumpeng, pengambian, prayascita, penyeneng, pangaresikan. Lingga mas diganti dengan lingga perak dan dihiasi dengan pucuk daun bila 108 lembar seperti pada tingkan uttama.Di kamimitan berisi banten pejati asoroh. Di bawah (natar), banten caru ayam brumbun, biakala, segehan gung.


c. Nistha

Di sanggar surya banten pejati asoroh. Dihadapan mepuja benten prayascita, penyeneng, pangeresikan, sesayut panca lingga, ayaban, sakabuatan. Di halaman (natar) banten segehan agung, banten kamimitan, pejati asoroh, lingga dibuat dari bunga widuri putih dihiasi pucuk daun pisang kayu, bunga bercarbang dan daun bila 108 lembar seperti di atas.


Brata

a. Uttama
Melakukan brata yaitu: Monobrata (tidak berbicara dan duduk beryoga) setelah melakukan persembahyangan dan mepuja Argha serta Pasanglingga yang didahului dengan Suryasewana dan Pujaparikrama, Upawasa (tidak makan, tidak minum), Jagra (tidak tidur). Ini dilakukan 36 jam yaitu mulai matahari terbit hari panglong 14 sasih kepitu sampai matahari terbenam hari tilem sasih kepitu. Di samping itu upakaranya lengkap seperti di atas.

c.Madhya
Upakara seperti tersebut di atas dan bersembahyang dan mepuja Argha dan Pasanglingga. Bisa tanpa Monobrata, tetapi melakukan Upawasa dan melakukan jara. Untuk menghilangkan ngantuk, bisa dihibur dengan membaca pustaka yang memuat sastra agama, Itihasa atau Wiracarita. Inipun harus dilakukan 36 jam seperti tersebut di tingkau uttama.

c. Nistha
Brata yang dilakkan bisa dikurangi dar yang semestinya, bisa tanpa melakukan Monobrata, melainkan hanya bersembayang dan mepuja parikrama seperti biasa, tanpa melakukan Upawasa, tetapi harus melakukan jagra selama 36 jam seperti tersebut tadi untuk menghilangkan ngantuk, dibacalah kitab pustaka sastra agama, Itihasa atau Wiracarita. Bisa juga berjalan-jalan kesana-kemari ketempat-tempat suci.


Tata Cara

Bagi Sadhaka yang Nabenya masih ada, terlebih dahulu melakukan padacemani kepada Nabenya. Ini dilakukan pada siang hari pada panglong sasih kepitu. Setelah itu pada sore harinya bersembahyang di Kamimitan yang maksudnya mempermaklumkan kepada leluhur yang telah suci bahwa yang bersangkutan melaksanakan brata Siwaratri dan memohon agar leluhurnya memberikan tuntunan batin untuk mencapai tujuan.

Pada waktu mulai memasuki malam hari, pemujaan dilakukan dengan puja Argha dan Pasanglingga didahului dengan Suryasewana dan Pujaparikrama. Pemujaan yang demikian itu dalakukan tiga kali yaitu: mulai memasuki hari malam, pada tengah malam, dan menjelang pagi besoknya.

Persembahyangan dipusatkan pada Dewa Ciwamahadewa sebagai manifestasi Hyang Widhi yang paling sempurna yang diproyeksikan atau dipratistanakan kedalam lingga yang dibuat itu. Sarana yang dipakai dalam menyembah Siwalingga adalah semining maha ( kedapan daun bila ) dan bunga kuning. Maksud persembahyangan itu adalah memohon kehadapan Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya Siwamahadewa untuk melebur dosa dan papa neraka Siajamana (yang malakukan brata Siwaratri itu). Di dalam sembahyang itu pikiran dan bathin dipusatkan seperti dalam keadaan yoga semadhi, sehingga muncul suatu getaran-getaran suci pertanda kontaknya dengan Dewa Siwamahadewa. Selain persembahyangan pokok ditujukan kepada Dewa Siwamahadewa, juga sembahyang kepada Dewa Samodaya seperti Suryaradhitya, Brahma, Wisnu, Iswara, Gana dan Gangga. Ini adalah sembahyang kepada Dewa Samodaya ketika sembahynag mulai memasuki malam hari. Untuk sembahyang tengah malam, maka Dewa Samodaya yang disembah adalah: Suryaradhitya, Brahma, Wisnu, Iswara dan Giriputri. Untuk sembahyang pagi-pagi buta besok paginya Dewa Samodaya disembah adalah Suryaradhitya, Brahma, Wisnu, Iswara dan Kumara.

Selesai sembahyang dilanjutkan dengan matirtha kakuluh yang dimohon kehadapan Dewa Siwamahadewa. Sesudah selesai sembahyang fase pertama dan juga setelah nunas tirtha kakuluh, lalu daun bila itu tadi diambil dan dijatuhkan kedalam sangku berisi air, dan cara menjatuhkannya adalah satu-persatu sampai habis 108 lembar disertai dengan padang lepas (dukut droman) dan bunga-bunga yang berwarna warni.

Besok paginya setelah selesai sembahyang dan matirtha kakuluh lalu nyurud dan yang boleh dimakan adalah korok nasi wilet yang disajikan itu hanya diisi garam dan boleh minum air putih sampai nanti hari telah malam kembali (ini bagi yang melakukan brata Upawasa) barulah selesai brata Siwaratri itu. Ini adalah tatacara seluruh tingkatan upacara Siwaratri. Yang berbeda adalah jenis upakaranya yang dipakai dan brata yang dijalaninya.


B. Upacara Siwaratri untuk Walaka

Upakara

a. Uttama

Banten di Sanggar Surya adalah: catur, dandanan, banten gana, daksina, sarwa pat, suci, peras kelanan, dan banten sumur. Banten dihadapan sembahyang adalah: banten pelinggih (daksina tapakan), dandanan, bubur putih, bubur barak, bubur wilis winoran kotak hijo, pulogan, bali, sesayut, pengambian, peras, prayascita, lis, pengeresikan. Selain itu dibuat lingga berisi prerahi emas diletakkan di atas daun pisang emas berisi rerajahan padmasana ring sor dan rerajahan padma nglayang ring luhur, berisi daun cemara, daun suala, daun kalovi, daun bila 108 lembar, bunga-bungaan yaitu: widuri putih, putat, angsoka, sari tangguli, tunjung, cempaka, tunjung biru, tunjung bang, tunjung putih, sulasih merah, padang lepas dan wangi-wangian. Banten di Kamimitan adalah pejati asoroh, banten ring sor adalah caru ayam brumbun, biakala dan gelar sanga.

b. Madhya
Banten di Sanggar Surya adalah: daksina sarwapat, dewa-dewi, peras suci, kelanan. Banten dihadapan sembahyang adalah: sesayut, pengambian, prayascita, pengeresikan dan tumpeng ayaban, saka bwatan. Dibuatkan lingga dengan prerahi kayu cendana beralaskan daun pisang kayu, bunga-bungaan seperti tersebut tadi, padang lepas, daun bila 108 lembar dan wangi-wangan. Banten di Kamimitan adalah pejati asoroh. Banten ring sor adalah biakala dan segehan agung.


c. Nistha
Banten di Sanggah Surya adalah pejati asoroh. Di hadapan sembahyang, banten: sesayut, pengambian, prayascita. Dibuatkan lingga dengan bunga widuri putih dialasi daun pisang kayu, bunga-bungaan berwarna, padang lepas, daun bila 108 lembar dan wangi-wangian. Banten di Kamimitan adalah canang, daksina. Banten ring sor adalah sorohan nasi cacahan.



Brata

a. Uttama
Upakaranya lengkap seperti tersebut di atas tadi. Melakukan monebrata, upawasa, jagra selama 36 jam, mulai dari matahari terbit pada hari panglong 14 sasih kepitu sampai matahari terbenam pada tilem sasih kepitu.

b. Madhya
Upakaranya lengkap seperti tersebut dieatas. Tidak melakukan monobrata, tetapi melakukan upawasa dan jagra selama 36 jam seperti di atas tadi. Untuk menghilangkan ngantuk, bisa dihibur dengan mambaca sastra agama, Itihasa atau Wiracarita.


c. Nistha

Upakaranya boleh tidak lengkap atau dikurangi dari yang semestinya. Tidak melakukan monebrata dan upawasa, tetapi hanya melakukan jagra selama 36 jam seperti tersebut di atas. Untuk menghilangkan ngantuk boleh berjalan-jalan ketempat-tempat suci atau membaca sastra agama, Itihasa atapun Wiacarita.


Tatacara Pelaksanaannya

Terlebih dahulu pada pagi hari panglong 14 sasih kepitu, melakukan suci laksana atau pengeningan pikiran . Sore harinya melakukan persembahyangan kepada Surya Radhitya maksudnya mempermaklumkan dan mohon agar beliau menyaksikan pelaksanaan Brata Siwaratri yang dilakukan. Setelah itu bersembahyang di Kamimitan maksudnya mempermaklumkan dan memohon tuntunan bathin agar sukses dalam melakukan Brata Siwaratri.

Setelah hari mulai malam, maka mulai melakukan persembahyangan dipusatkan kepada Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Siwamahadewa yang dipratistanakan kedalam lingga itu. Selain itu juga persembahynag ditujukan kepada Dewa Samodaya yaitu: Surya Radhitya, Brahma, Wisnu, Iswara, Gana, dan Gangga.

Persembahyangan fase kedua yaitu tengah malam, juga dipusatkan kepada Dewa Siwamahadewa serta pula Dewa Samodaya yaitu: Surya Radhitya, Brahma, Wisnu, Iswara, dan Giriputri.

Persembahyangan fase ketiga yaitu: pagi-pagi buta besoknya juga dipusatkan kepada Dewa Siwamahadewa serat Dewa Samodaya yaitu: Surya Radhitya, Brahma, Wisnu, Iswara, dan Kumara.

Setiap selesai sembahyang diikuti dengan metirtha pakuluh yang dimohonkan kepada Dewa Siwamahadewa.

Untuk persembayangan fase pertama setelah selesai sembahyang serta telah matirtha kakuluh, lalu daun bila tadi diambil dan dijatuhkan kedalam sangku berisi air dan cara menjatuhkannya itu adalah satu persatu sampai habis 108 lembar disertai pula padang dreman (padang lepas) dan bunga-bungan yang beraneka warna.

Besok paginya setelah selesai sembahyang dan matirtha kakuluh, dilanjutkan dengan nyurud (yadnya sesa) dan yang boleh dimakan hanyalah kerak nasi wilet yang disajikan. itu hanya berisis garam dan boleh minum air putih, sampai hari telah malam kembali (ini bagi yang melakukan upawasa). Dengan demikian selesailah sudah tatacara pelaksanaan Siwaratri itu. Ini berlaku untuk semua tingkatan upacara Siwaratri, yang berbeda adalah jenis upakara yang dipakai dan brata yang dijalani.

Mengenai tatacara dan sarana yang dipakai dalam melaksanakan Brata Siwaratri, ada pula disebutkan dala Kekawin Siwaratrikalpa sarga 36 dan 37, namun tidak selengkap seperti yang disebutkan dalam pustaka Siwaratri Brata. Di dalam Kekawin Ciwaratrikalpa tidak disebutkan bantennya dan tidak disebutkan mantra dan stawa yang dipakai, sedangkan dalam pustaka Siwaratri Brata disebutkan hal itu.


3. Kasukseman (Falsafah) Siwaratri
Pada bagian ini saya coba mengemukakan Kesuksmaan Siwaratri yang sudah tentu berdasarkan analisis yang saya lakukan sendiri. Dalam hubungan ini saya teringat dalam makalah yang dibawakan oleh Bapak I Made Japa dalam sarasehan bahasa daerah pada tanggal 1 Januari 1981 di Denpasar yang memberikan pembahasan terhadap Kekawin Lubdhaka ditinjau dari segi kesuksmaan atau falsafah, namun dalam banyak hal berbeda dengan apa yang saya kemukakan di sini.

Sebagai kajian saya mergunakan naskah Kekawin Siwaratrikalpa dan Pustaka Siwaratri Brata yang bersifat tutur. Kekawin Siwaratrikalpa terdiri dari 39 sarga, sampai sarga yang terakhir merupakan colophon, dan pada colophon itulah kita jumpai nama Kekawin Siwaratrikalpa yang digubah oleh Empu Tanakung sekitar tahun 1466-1478 pada masa pemerintahan Sri Adi Suraprabhawa di Jawa Timur.

Untuk bahan analisis, maka di sini saya sajikan Ceritra Lubdhaka dalam Kekawin Siwaratrikalpa sebagai berikut :

“Diceritakan seorang pemburu bernama Lubdhaka. Mereka sekeluarga tinggal di puncak gunung yang indah. Pekerjaan si Lubdhaka setiap hari adalah berburu binatang kehutan membunuh harimau, babihutan, gajah, dan badak serta semua binatang diburunya. Pada suatu hari yaitu pada hari Panglong ke 14 sasih Kepitu (hari ke 14 bulan mati pada bulan ketujuh), pagi-pagi hari ia sudah meninggalkn rumahnya untuk berburu. Sudah sehari penuh ia menyelusuri hutan rimba dan lembah-lembah, ia tidak memperoleh seekorpun binatang buruan. Ketika itu si Lubdhaka sudah jauh dari rumahnya dan haripun sudah menjelang malam. Untuk kembali pulang itu tidak mungkin ia lakukan, karena hari sudah mulai gelap dan takut disergap binatang buas. Lalu ia menuju kesuatu telaga dan di tepi telaga itulah ia berhenti sambil menunggu kalau-kalau ada binatang yang datang ketelaga itu untuk meminum air. Karena hari sudah gelap, si Lubdhaka takut untuk tinggl di bawah, lalu ia naik memanjat pohon kayu bila yang ada di pinggir telaga yang dahannya menjulur ke atas telaga itu. Di dahan itulah ia duduk. Tidur di atas pohon itu juga ia tidak berani, takut kalau jatuh. Untuk menghilangkan kantuknya, maka dipetiknyalah daun bila itu dan dijatuhkan ke dalam telaga.

Tidak diduga di dalam air telaga itu ada sebuah lingga yang muncul dengan sendirinya. Lingga itu adalah lingganya Dewa Siwa atau perwujudan lambang Siwa. Kebetulan pada malam itu adalah malam yang baik untuk melakukan pemujaan terhadap Dewa Siwa. Pekerjaan memetik daun bila itu semalam penuh sampai pagi besoknya, sehingga ia melek semalam suntuk.

Keesokan harinya si Lubdhaka pulang dengan tangan hampa, karena tidak seekorpun memperoleh binatang buruan. Sesampainya di rumah ia disambut oleh anak dan istrinya.

Hari-hari berikutnya kembalilah ia melakukan pekerjaannya seperti biasa yaitu berburu binatang kehutan. Demikianlah pekerjaan ia sehari-hari berburu binatang untuk penghidupannya.

Pada suwaktu ketika, si Lubdhaka jatuh sakit. Sakitnya makin menjadi-jadi dan akhirnya ia menemui ajalnya. Setelah ia mati maka atmanya mangalami kebingungan dan kegelapan karena semasa hidupnya pekerjaannya senantiasa membunuh binatang. Dewa Siwa mengetahui hal itu dan mengenal pemburu itu karena dahulu pernah memujanya ketika di hutan pada malam Siwa. Dewa Siwa mengutus abdinya (Watek Gana) menyambut atma si Lubdhaka untuk dibawa ke Siwaloka. Saat itu datang pula laskar Dewa Yamadipati sebagai penguasa neraka. Setelah didahului dengan perselisihan, maka terjadilah peperangan memperebutkan atma si Lubdhaka. Dalam peperangan itu laskar Dewa Siwa menang dan atma si Lubdhaka dibawa ke Siwaloka (Sorga) diberikan tempat yang baik.

Dewa Yamadipati memprotes karena merasa kurang adil atas tindakan Dewa Siwa itu. Lalu beliau menghadap Dewa Siwa dan menuntut agar atma si Lubdhka dibawa ke Neraka karena perbuatan semasa hidupnya selalu membunuh binatang. Dewa Siwa menjelaskan masalahnya, bahwa si Lubdhaka itu pernah memujanya pada malam hari tepat malam Dewa Siwa. Oleh karena itulah ia mendapat pahala masuk Surga.

Hikmah apakah yang dapat kita ambil dari ceritra di atas ? Ceritra di atas sudah tentu mitologi, tetapi mempunyai tendensi tertentu dan mendalam. Apabila tidak dikupas dan dicari hakekatnya, maka kita akan mendapat gambaran bahwa karena telah memuja Dewa Siwa semalam suntuk pada hari panglong 14 sasih kepitu orang akan masuk Surga. Alangkah bahagianya mendapat surga dan alangkah gampangnya mendapat surga ? Bagaimana halnya dengan hukum karma?.

Dalam pendekatan filosofis ini, ada beberapa hal yang terlebih dahulu perlu mendapat perhatian. Menurut hemat saya, bahwa seorang Rakawi mengubah suatu karya sastra adalah mempunyai tujuan tertentu. Mereka memandang perlu suatu pengetahuan atau suatu hal penting untuk disebarluaskan kepada khalayak agar dihayati dan dalam hal-hal tertentu dilaksanakan.

Pengubahan karya sastra atau kekawin, dilandasi oleh konsep dasar yang dikembangkan dalam bentuk seni sastra dan dikaitkna dengan sesuatu ceritra, ada dikaitkan dengan epos Ramayana atau Mahabarata, dan ada pula yang dikaitkan dengan Purana atau ajaran agama. Ada juga karya sastra yang tidak mengkaitkannya dengan suatu ceritra, melainkan langsung menguraikan konsep dasar widyanegara, kekawin Arjuna Wiwaha menonjolkan konsep dasar filsafat Wedanta dan Yoga, kekawin Baratayudha menonjolkan konsep dasar ksatria, kekawin Sutasoma menonjolkan konsep dasar Buddha Mahayana yang telah sinkritis dengan Siwaisme, kekawin Nirarthaprakerta menonjolkan konsep dasar filsafat Samkhya.

Demikian pula kekawin Lubdhaka menonjolkan konsep dasar Yoga. Dalam pengertian Yoga juga terdapat brata. Maka itulah kekawin ini bernama Siwaratrikalpa yang berarti brata yang dilakukan pada hari malamnya Dewa Siwa. Di dalam colophon kekawin itu disebutkan:

“Nahan hingan iking kathakhya Siwaratrikalpa…………..

Filsafat Yoga mengajarkan filsafat ajarannya kepada Samkhya. Kalau filsafat Samkhya terdiri dari 25 Tattwas, maka Yoga menambah satu Tattwas lagi yang itu Iswara, sehingga menjadi 26 Tattwas. Maka itulah Yoga sering dirangkaikan dengan Samkhya, sehingga disebut Samkhya Yoga, sedangkan Samkhya saja disebut Nir Iswara Samkhya. Di Indonesia (Bali), Samkhya Yoga disebut Siwatattwa atau hakekat ajaran Siwa. Di sinilah kita melihat implikasi filsafat Hindu dengan Agama Hindu, sehingga Agama Hindu dikaitkan dengan agama yang filosofis, bukan agama yang theologis.

Masalah lain yang perlu mendapat perhatian dalam mengadakan pendekatan filosofis terhadap suatu karya sastra adalah adanya beberapa simbolisasi tendensius di dalam karya sastra itu sendiri. Untuk menemukan simbolisasi itu diperlukan analisis yang tajam dan kadang-kadang tidak harus terpaku pada aturan sastra.

Atas dasar itu tadi, maka saya berusaha menemukan simbolisasi yang terkandung dalam kekawin Siwaratrikalpa dan sekaligus berusaha menemukan hakekat pada brata Siwaratri itu sendiri. Namun apa-apa yang saya kemukakan di sini adalah suatu usaha maksimal yang kebenarannya perlu dipergunjingkan di dalam pertemuan ini.

Kata Lubdhaka (Sansekerit) berarti pemburu. Pemburu adalah orang yang selalu mengejar dan mencari sesuatu. Yang diburunya adalah binatang. Nama lain dari binatang adalah sattwa. Kata sattwa berasal dari kata sat yang berarti ini yang mulia atau hakekat. Kata twa berarti sifat. Jadi sattwa berarti bersifat ini atau bersifat hakekat. Dengan demikian yang bernama Lubdhaka itu adalah pelukisan orang yang selalu mengejar atau mencari inti hakekat yang mulia.

Apakah inti hakekat dalam kehidupan ini ?. Untuk apa kita hidup ini ?. Arti dari pada hidup ini adalah memperoleh kesempatan berkarma yang baik untuk menebus karma yang tidak baik dimasa kehidupan-kehidupan yang lampau. Apabila Subhakarma kita beri nilai plus dan Asubhakarma kita beri nilai min, maka nilai min diimbangi dengan nilai plus supaya tercapai keseimbangan. Subha-Asubhakarma yang seimbang kita beri nilai nol. Pada waktu mencapai nilai nol inilah atma terlepas dari hukum karma dan karenanya atma terlepas pula dari lingkaran punarbhawa, sehingga mencapai moksa. Inilah arti hakekat kehidupan ini. Dengan lain perkataan, tujuan hidup ini adalah tidak hidup lagi dalam artian punarbhawa.

Si Lubdhaka dikatakan bertempat tinggal di puncak gunung yang indah (………..sthiyangher i puncak nikang acala cabhyatyanta ramyalanga……..). di dalam bahasa sansekerta, gunung itu disebut acala yang artinya tidak bergerak. Gunung juga disebut lingga-acala artinya lingga yang tidak bergerak atau tetap. Maka itulah menurut pandangan Hindu, para dewa dipuja dipuncak gunung. Dewa Siwa sendiri dipuja di puncak gunung Kaliasa. Bukankah pendirian pura besakih berdasarkan konsepsi ini?. Si Lubdhaka bertempat tinggal di puncak gunung, adalah melukiskan orang yang taat dan tekun memuja Dewa Siwa (Siwa-lingga) sebagai manifestasi Hyang Widhi yang paling utama dan sekaligus pula melukiskan sebagai seorang yogi (Samkhya Yoga disebut Siwatattwa).

Si Lubdhaka dikatakan pekerjaanya memating mong, wok gaja mwang wara. Memati berasal dari kata pati. Kata pati ada yang berarti air, ada pula berarti penguasa. Contoh: tambanya ruaning rangda lumaka pipis not patinye (obatnya: daun beluntas diremas ambil airnya.) contoh yang kedua: kepanggih irikang tegal milu rikarya sang bhupatti (dijumpainya di tegal ) kuru (lalu) ikut serta menemani perjalanan penguasa bumi (raja).

Di dalam bahasa Jawa Kuna, nama lain dari mong adalah wiagra. Apabila kata wiagra ini kita uraikan, maka kita akan memperolah kata wi yang artinya jauh, utama dan kata agra yang berarti puncak. Wiagra berarti puncak yang jauh, puncak yang tertinggi atau puncak yang uttama. Apakah puncak yang uttama adalah yoga ?. Dalam Yoga-Kundalini disebutkan bahwa apabila seorang yogi mendapat tingkatan yang tetinggi, maka sama karmanya terbakar habis dan ia mencapai kebebasan dari punarbhawa. Inipun yang serupa juga kita baca dalam pustaka Wrasphati tatwa 74, yang mengatakan sebagai berikut :

“Yapwan tiksna samadri nira sang yogiswara geseng pwokeng tattwa I sor ning pradhana tattwa ketaken ing triguna tattwa”

artinya:

Apabila samadhinya Sang Yogiswara telah mencapai puncaknya, maka terbakarlah tattwa yang tingkatannya di bawah pradhana tattwa sampai kepada tri guna tattwa (maksudnya Sang Yogiswara telah menembus rintangan-rintangan ikatan prakerti untuk mencapai kebebasan dari punarbhawa).

Selanjutnya mengenai wok. Di dalam kekawin Arjuna Wiwaha, kata wok itu disamakan dengan kata waraha yang secara harpiah berarti babi hutan. Kata waraha dapat pula kita pandang berasal dari kata warah yang mendapat akhiran a yang artinya anugrah atau pawisik atau wahyu. Kata waraha juga bisa berubah menjadi waraha lalu menjadi wara, karena fonim h bisa hilang atau tidak diucapkan seperti pada kata kerthawara yang artinya anugrah yang baik.

Mengenai gaja. Kata gaja atau gajah adalah kata dalam bahasa sansekerta. Gaja lain katanya hasti. Terhadap kata hasti ini diperlukan aturan bahasa Jawa Tengahan yaitu apa yang disebut dengan istilah dwiwasana. Maka dari itu kata hasti lalu di-dwiwasanakan menjadi hastiti yang artinya senantiasa berbakti kepada Hyang Widhi sebagai realisasi dari Bhakti Marga. Perubahan kata hasti itu adalah memungkinkan kalau kita melihat di dalam kekawin Barathayudha ada disebutkan kata hastina yang artinya gajahoya.

Mengenai kata warak, kita tidak bisa menganalisis dari etimologi dan sinonim. Kalau kita ingat bahwa binatang warak atau badak itu adalah binatang yang digolongkan suci dalam upakara yadnya Agama Hindu, maka analisis kita adalah dari segi ini. Air gesekan gerahamnya badak (asaban baham warak) diperlukan dalam jenis upakara tertentu sebagai unsur penting. Demikian pula darah badak diperlukan bagi jenis upakara tertentu . badak adalah binatang suci, makanannya adalah daun-daunan. Dengan demikian dapatlah diambil simbolisasi bahwa badak melambangkan kesucian.

Memating mong, gaja mwang warak, berarti telah menguasai atau mendapatkan puncak yoga atau semadhi, telah mendapatkan anugrah Hyang Widhi karena tekun astiti bakti kepada Hyang Widhi dengan kesucian bathin. Inilah makna yang terkandung di dalamnya.

Di dalam cerita si Lubdhaka dikatakan naik ke dahan pohon bila (irika tikang nisada mamenek pang ing maja…….). Apa yang dimaksudkan?. Walaupun di dalam teks tidak tedapat kata puhun (pohon), namun yang dimaksudkan dengan memenek bang ing maja adalah naik dahan pohon bila. Di dalam Pustaka Tutur Suksma kita jumpai istilah kebatinan seperti: gulupuhun, kredhadesa, tampaking kuntul hanglayang, keris manjing urangka, galihing kangkung dsb. Secara kebatinan yang dimaksudkan gulupuhun adalah ibu jari kaki. Puhun dalam bahasa Jawa Kuna atau dalam bahasa Bali berarti pohon. Gulupuhun yang secara kebatinan berarti ibu jari kaki, dapat pula dimaksudkan sebagai titik tumpu untuk berdiri atau dengan kata lain adalah pangkal pendirian. Kalau kata pohon kita ganti dengan kata wit dalam teks kita sisipkan kata itu hingga menjadi kalimat yang berbunyi “……………memenek pang ing wit maja………….” (kalimat yang sempurna dari pada”…………memenek pang ing maja…………”), maka kata wit itu berarti pula pangkal atau asal. Kata maja atau wilya yang kemudian berubah menjadi bila, ini bisa dianalisis dari hukum perubahan bunyi dalam kata-kata Bahasa Indonesia. Kata bila dapat berubah menjadi wila mengikuti hukum PBW dan RDL yang berarti: perwira, teguh hati, tekun. Dengan analisis ini, maka naik pohon bila itu mengandung arti simbolik yang menggambarkan bahwa ia adalah bertumpu pada atau berpangkal telak dari keteguhan hati atau ketekunan.

Selanjutnya diceritakan si Lubdhaka memetik-metik daun bila dijatuhkan kedalam telaga yang secara tiba-tiba muncul lingga di dalam telaga itu dan daun bila yang dijatuhkannya mengenai lingga itu. (di dalam kekawin tidak disebutkan jumlah daun bila yang dipetik, tetapi dalam pustaka Siwaratribrata disebutkan sejumlah 108 lembar. Kata don berarti tujuan atau dapat pula berarti perbuatan. (………..ia ngandong kema……… ia sengaja berbuat sesuatu kesana). Memetik-metik daun mengandung arti simbolik, bahwa ia menghitung-hitung perbuatan yang telah dilakukanya (subha-asubhakarma).

Apabila angka 108 itu dijumlahkan menjadilah ia angka 9, angkan 9 adalah angka yang tebesar. Ini merupakan simbolik dari pada perbuatan si Lubdhaka yag didasari oleh keteguhan hati atau ketekunan memuja Dewa Siwa adalah telah mencapai puncaknya.

Atas dasar analisis-analisis itu tadi, maka kita peroleh gambaran bahwa cerita Lubdhaka itu adalah simbolik dari seorang yogi yang tekun memuja Dewa Siwa sebagai manifestasi Hyang Widhi yang paling utama. Ia senantiasa mengejar hakekat yang mulia dan telah mendapatkan puncak yang tertinggi dalam yoga yaitu semadhi, telah mendapat anugrah atau wahyu kesucian dari Hyang Widhi, karena tekun serta teguh hati astiti bakti kehadapan Hyang Widhi yang dilandasi oleh batin yang suci. Ia senantiasa menghitung-hitung subha-asubhakarma yang dilakukan dan senantiasa melakukan subhakarma untuk menebus karmawasana yang digolongkan asubhakarma dimana kehidupannya dahulu sampai keduanya menjadi balance/sama.

Yogi yang demikian itu senantiasa melakukan “Siwa bhakti gineng lana ginawe”. Dewa Siwa selalu rumaketing citta, selalu menjadi titik sentrum dalam memujanya dan dalam yoganya. Wah……..betapa sulitnya menghubungkan diri (yuj) dengan Dewa Siwa. Sebagai suatu ilustrasi saya kutipkan suatu bait dari Puja Homa, sebagai berikut:

“Agni madhya Ravi Saiva

Ravi madhyastu Candramah
Candra madhya bhave Shuknah
Sukla madhya sthitah Sivah”.

Artinya:

Di dalam api adalah matahari

Di dalam matahari adalah bulan

Di dalam bulan adalah suci hening

Di dalam suci hening itulah Dewa Siwa berada.

Pada malam hari panglong 14 sasih kepitu, Dewa Siwa menurunkan ajaran yang bernama “Brata Siwaratri” yang memberikan pahala yang mulia. Di dalam sarga 34.4 kekawin Siwaratrikalpa disebutkan sebagai berikut:

“Thun kalewih ing bratenajarakon

mami niyate maweh phaladhika.

Tuwin milagaken saduskrta teher

masung aticaya bhoga bhagya len.

Awin tun angusir yamandha phalaning

jana gumayaken tikang brata

Sapapaka nika cirna den I phalaning

brata winuwusakenku, tan salah……….”.

Artinya:

Sungguh kemuliaan brata yang Aku ajarkan

dengan jelas memberikan pahala yang utama

Juga menghilangkan semua perbuatan yang tidak

baik lalu memberikan kebahagiaan dan

kesejahteraan yang menakjubkan

Hal itu tidak akan menuju yamaloka (neraka)

akibat atau hasil yang melakukan brata itu

Semua nerakanya lenyap dikarenakan oleh pahala

dari brata yang Aku ajarkan, (tidak masalah).


Brata Siwaratajani adalah suatu bentuk yoga. Yoga ada bermacam-macam seperti: Yogakundalini, Yoganidra, Yogasana dan lain-lainnya. Prinsip yoga adalah suatu cara untuk menghubungkan diri dengan Hyang Widhi. Pada malam hari panglong 14 sasih kepitu itu seorang Yogi yang telah sering melakukan yoga mendapatkan titik kulminasi dari yoganya yaitu semadhi. Semadhi berarti berkumpul atau atatu kontak dengan yang maha mulia. Sesuai dengan keterangan dalam pustaka Whraspati Tattwa di atas, maka bagi mereka yang telah mencapai semadhi, segala papa nerakanya terbakar, dibakar oleh panasnya api gaib (bahaimaya) sebagai akibat dari matangnya yoga. Oleh karena papa neraka itu adalah akibat atau pahala dari dosa, maka hal itu juga berarti terleburnya dosa yang telah diperbuat.

Semadhi itu tidak lama, hanya satu atau dua detik saja, lalu atma kembali memasuki sarira. Atama yang kembali memasuki sarira seperti itu diistilahkan dengan keris manjing urangka. Apabila dalam keadaan semadhi atma tidak kembali memasuki sarira inilah yang disebut jalan mati yang benar seperti dibentangkan di dalam pustaka tutur kamoksan.

Semadhi dapat mencapai beberapa kali dalam yoga. Walaupun demikian, namun tidak setiap melakukan yoga akan dapat mencapai semadhi. Pengalaman pribadi menunjukan, bahwa semadhi itu sulit dicapai tetapi bisa dicapai karena…….Bhatara Ciwa tan keneng inangen-angen, apan sira wapaka……..

Menurut hemat saya, inilah hakekat Siwaratrikalpa ditinjau dari segi kesuksmaan yang kita laksanakan setiap hari panglong 14 sasih kepitu, memberikan hikmah yang tertinggi bagi cita-cita kehidupan umat Hindu. Oleh karenanya patutlah Siwaratri itu kita rayakan secara spesipik dengan brata Siwaratri.