Jumat, 14 April 2023

Kematian

Kematian

Dalam ajaran-ajaran agama, kematian digambarkan sebagai akhir dari perjalanan singkat hidup manusia menuju kepada keabadian. Kematian merupakan proses pelepasan jiwa yang abadi dari wadahnya yang bernama tubuh yang disebabkan oleh proses penuaan secara biologis, yang dalam agama, kematian kematian menjadi lebih bersifat institusional.

Kematian menjadi institusional ketika hal-hal tersebut secara terus menerus disampaikan dalam forum-forum keagamaan, lengkap dengan ayat-ayat dari kitab-kitab suci agama. Sebagai bukti, dapat dilihat dalam salah satu ayat yang terdapat di ketiga agama langit di bawah ini.

Manusia adalah sebuah pilihan, sebuah perjuangan, sebuah proses menjadi yang terus menerus berlangsung. Manusia adalah melakukan migrasi tak terbatas, migrasi dalam diri sendiri, migrasi dari bumi menuju Tuhan: manusia adalah migran dengan jiwanya sendiri

#Bhagawad Gita II. 27 menyebutkan;

Jatasya hi druvo mrtyur,
Dhruvam janma mrtasya ca,
Na tvam soritutn arhasi,
Tasmad apariharye'rthe

Artinya:
Karena pada apa yang lahir, kematian adalah pasti dan pasti pula kelahiran pada yang mati. Oleh karena itu pada apa yang tidak dapat dielakkan, engkau seharusnya ti

#Bhagavad Gita yaitu :

Antavanta ime deha,
Nityasyo'kpih saririnah,
Anasino'prameyassya,
Tasmad yudhyasva bharata

Artinya:
Badan wadag dari jiwa yang abadi, tak terhancurkan dan takterbatas ini, dipahami sebagai badan wadag yang fana. Oleh karena itu berperanglah O, Bharata. (BG, IL 18).

# Iking tang janma wwang, ksanika-swabhawa ta ya, tan pahi lawan kedapning kilat, durlabha tova matangnyan pongakena ya ri kagawayanning , dharmasadhana, sakarananging manasanang sangsara, swargaphala kunang

Artinya:
Kelahiran menjadi manusia, pendek dan cepat keadaannya itu, tak ubahnya dengan gerlapan kilat, dan amat sukar pula diperoleh; oleh karenanya itu, gunakanlah sebaik-baiknya kesempatan menjadi manusia ini untuk melakukan penunaian Dharma, yang menyebabkan musnahnya proses lahir dan mati, sehingga berhasil mencapai sorga. (Sarasamuccaya, 8).

weda

Seperti halnya Itihasa, maka Purana memiliki beberapa manfaat:

Pertama. Pustaka (literary significance), dari sudut pandang pustaka, kitab-kitab Itihasa dan Purana mengandung makna yang sangat penting. Hampir semua rakavi (pengarang) sangat tergantung dan mendapat inspirasi dari karya tersebut. Barangkali semua karya Sansekerta juga termasuk Jawa Kuno, tidak ada yang terlepas dari karya tersebut. Semua karya tidak terlepas dari karakter Itihasa dan Purana.

Kedua. Sebagai ensiklopedi, Mahabharata sebagai bagian dari Itihasa dan Purana merupakan ensiklopedi abadi, dan merupakan ensiklopedi hari atau masa tertentu seperti halnya ensiklopedi dewasa ini. Di dalamnya ditemukan semua pengetahuan dan sains pada masa yang amat tua (relevan hingga kini), hukum, pandangan hidup, sejarah, mitologi, fable dan legenda, kepercayaan (agama) yang sangat popular, tradisi dan praktek kehidupan sosial, doktrin-doktrin tentang pengetahuan umat manusia dan ajaran suci.

Di dalamnya juga terdapat bagaimana cara dan seharusnya hidup sebagai manusia, kebahagiaan keluarga seperti pula spiritual. Seorang akan kagum, semuanya tersebut dalam satu teks.

Sungguh karya ini merupakan teks-teks sangat besar penuh uraian tentang berbagai hal, mitologi, pedoman tingkah laku, agama, dan budaya. Dr. Winternitz menyatakan manfaat sebagai berikut: “Kita menemukan dalam karya sastra suci yang agung dan menarik ini berbagai hal demikian berkaitan, lagu-lagu kepahlawanan dengan deskripsi pandangan mata tentang perang yang berdarah, pandita “rakavi” yang sangat budiman, yang menekankan berbagai hal tentang pendidikan, juga filsafat, ajaran agama, hukum dan ajaran spiritual yang penuh kebijaksanaan, cinta kasih terhadap kemanusiaan dan semua ciptaan-Nya”.

Dengan tegas bahwa kitab-kitab tersebut merupakan eksiklopedi, sejarah nasional, dan sekaligus dokumen sosial keagamaan pada masa itu.

Ketiga. Sejarah (historical significance). Data yang diungkapkan dalam karya sastra di atas juga amat penting bagi penyusunan sejarah. Hal ini dapat dibuktikan dari silsilah raja-raja seperti Candravamsa yang menurunkan Pandawa dan Kaurava. Mereka merupakan keturunan dari dinasti Kuru yang hidup di India Utara ribuan tahun yang silam.

Keempat. Kebudayaan (culture significance). Kitab Mahabharata (seperti halnya Ramayana) merupakan kitab yang sangat penting dari sudut pandang kajian budaya. Merupakan potret yang asli dari kebudayaan dan peradaban yang disiapkan oleh kitab Mahabrata dan karya sastra suci lainnya.

Kelima. Agama (religion significance). Kitab Mahabrata, yang merupakan salah satu dari kitab Itihasa juga Purana India disebut sebagai Weda yang ke-5.

Keenam. Sosial (sosial significance). Kitab Mahabrata juga Ramayana adalah kitab-kitab yang di dalamnya mengandung ilmu-ilmu sosial. Permasalahan sosial yang berkaitan dengan moralitas, etnik, pendidikan, seksualitas, pandangan psikologi dan sebagainya yang dikaji secara mendalam.

Ketujuh. Politik (politik significance). Di dalam Mahabrata dan Ramayana terkandung ilmu pengetahuan tentang ekonomi dan politik. Kedua ilmu tersebut dikaji dengan baik. Di dalam Santiparwa, dijelaskan bagaimana pemerintah memiliki moralitas agama yang kuat. Sungguh mengejutkan di dalam kitab tersebut diuraikan dengan pikiran dan pengetahuan yang mendalam tentang ilmu politik dan ekonomi pada masa itu.

Taktik dan strategi memenangkan perang merupakan satu karakteristik yang unik dan alami. Hal itu ditunjukkan secara praktis untuk membangkitkan kesadaran seseorang tentang kebenaran, penghargaan kepada wanita, tugas dan kewajiban masyarakat menurut profesi (warna) dan lain-lain.

Kedelapan. Geografi (geografi significance). Di dalam Mahabrata dijumpai ilmu pengetahuan tentang geografi. Di dalam Vanaparwa dijelaskan secara panjang lebar tentang topografi India (juga di luar India) tentang sungai-sungai, gunung-gunung, dan tempat-tempat suci untuk Tirtayatra.

Kesimpulannya kitab Mahabrata dapat dikaji dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan (Dr.O.N. Bimali dan Isvar Chandar dalam Dutt, 2001:X).

Kitab-kitab Purana mempunyai peranan dan manfaat yang sangat besar dalam khasanah Weda dan susastra suci Hindu. Purana merupakan penjabaran dari ajaran suci Weda, karena itu kedudukan Weda sebagai sumber pertama ajaran Hindu sedangkan Weda selalu menjadi rujukan bagi kitab-kitab Purana. Walaupun cerita-cerita yang dikandung dalam kitab-kitab Purana sudah ada ketika sabda suci Weda ditulis dalam huruf devanagari oleh para Maharsi di masa yang silam.

Demikian pula seperti halnya hubungan kitab-kitab Purana dengan kitab suci Weda, maka kitab-kitab Purana juga berkaitan dengan susastra suci Hindu lainnya seperti kitab-kitab Dharmasastra, Manawa Dharmasastra, juga kitab-kitab Darsana karena di dalam kitab Purana juga dijumpai ajaran filsafat.

Purana juga disebut sebagai salah satu sumber hukum Hindu, karena kitab-kitab ini juga merupakan satu rujukan yang amat penting dalam menegakkan hukum Hindu. Kitab Purana disusun atau diceritakan kembali oleh Suta (story teller) di masa yang silam praktis merupakan rujukan yang sangat penting dan memiliki peranan yang sangat penting bagi peminat susastra suci Hindu (Ida Weda Nanda/Titib, 2004:6).


Sabtu, 08 April 2023

𝙈𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙏𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙒𝙚𝙙𝙖

𝙔𝘼𝙅𝙐𝙍 𝙒𝙀𝘿𝘼

UHN I GUSTI BAGUS SUGRIWA DENPASAR
FAKULTAS BRAHMA WIDYA

Oleh : Ni Nyoman Gandu Ningsih (Ida Sinuhun Siwa Putri Prama Daksa Manuaba)

NIM 2112101045



𝙆𝘼𝙏𝘼 𝙋𝙀𝙉𝙂𝘼𝙉𝙏𝘼𝙍


𝙊𝙢 𝙎𝙬𝙖𝙨𝙩𝙮𝙖𝙨𝙩𝙪
            𝙍𝙖𝙨𝙖 𝙖𝙣𝙜𝙖𝙮𝙪 𝙗𝙝𝙖𝙜𝙮𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙝𝙖𝙙𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙈𝙖𝙝𝙖 𝙀𝙨𝙖 / 𝙄𝙙𝙖 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙒𝙞𝙙𝙝𝙞 𝙒𝙖𝙨𝙖, 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙖𝙨𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙬𝙖𝙧𝙖 𝙣𝙪𝙜𝙧𝙖𝙝𝙖-𝙉𝙮𝙖, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙙𝙪𝙡 “ 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙒𝙚𝙙𝙖” 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙣𝙪𝙝𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙪𝙟𝙞 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙖𝙨𝙮𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙘𝙪𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙞𝙣𝙩𝙚𝙧𝙥𝙧𝙚𝙨𝙩𝙖𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣-𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖.
            𝙈𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙧𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙒𝙚𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙞𝙨𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞 𝙖𝙥𝙡𝙞𝙠𝙖𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙖𝙨𝙮𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙩, 𝙨𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙞𝙣𝙨𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙥𝙡𝙞𝙠𝙖𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙖𝙢𝙗𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙡𝙖𝙢𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙖𝙨𝙮𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙖𝙩𝙞 𝙖𝙩𝙪𝙧𝙖𝙣-𝙖𝙩𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖.
            𝘼𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙪𝙡𝙞𝙨 𝙪𝙘𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙥𝙞𝙝𝙖𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙞𝙢𝙗𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙡𝙚𝙨𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣. 𝙎𝙚𝙢𝙤𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙣𝙞𝙡𝙖𝙞 𝙜𝙪𝙣𝙖 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙥𝙖𝙧𝙖 𝙞𝙣𝙨𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪.

𝙊𝙢 𝙎𝙖𝙣𝙩𝙪𝙝, 𝙎𝙖𝙣𝙩𝙞𝙝, 𝙎𝙖𝙣𝙩𝙞𝙝, 𝙊𝙢


𝘽𝘼𝘽 𝙄
𝙋𝙀𝙉𝘿𝘼𝙃𝙐𝙇𝙐𝘼𝙉

1.1    𝙇𝙖𝙩𝙖𝙧 𝘽𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜
𝘼𝙜𝙖𝙢𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙮𝙖𝙠𝙞𝙣𝙞 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙉𝙚𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙥𝙚𝙧𝙘𝙖𝙮𝙖𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙮𝙖𝙠𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝘽𝙚𝙧𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖, 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙮𝙖 𝙬𝙚𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙬𝙚𝙙𝙖. 𝙉𝙖𝙢𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙙𝙝𝙖𝙧𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙙𝙚𝙢𝙞𝙠𝙞𝙖𝙣 𝙧𝙪𝙥𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙧𝙖𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚 𝙞𝙣𝙙𝙞𝙖. 𝙃𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙙𝙝𝙖𝙧𝙢𝙖 𝙙𝙚𝙬𝙖𝙨𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙘𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙩𝙧𝙖𝙙𝙞𝙨𝙞 𝙢𝙖𝙪𝙥𝙪𝙣 𝙪𝙩𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙬𝙚𝙙𝙖. 𝙏𝙧𝙖𝙙𝙞𝙨𝙞 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙞𝙩𝙞𝙝𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙧𝙖𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙚𝙣𝙖𝙡 𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙪𝙧𝙩𝙞 (𝙖𝙧𝙘𝙖) 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙙𝙞𝙧 (𝙥𝙪𝙧𝙖). 𝙐𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙬𝙚𝙙𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙠𝙞𝙣𝙞𝙗𝙚𝙧𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖-𝙗𝙚𝙙𝙖. 𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙧𝙖𝙙𝙞𝙨𝙞  𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙤𝙧𝙗𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙢𝙥𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧𝙪𝙝 𝙡𝙤𝙘𝙖𝙡. 𝙊𝙡𝙚𝙝 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙗 𝙞𝙩𝙪, 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙝𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙒𝙚𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙒𝙚𝙙𝙖. 

1.2    𝙍𝙪𝙢𝙪𝙨𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝
1.2.1. 𝘼𝙥𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙬𝙚𝙙𝙖?
1.2 2. 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣-𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙒𝙚𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖?
1.2.3. 𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙛𝙖𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙒𝙚𝙙𝙖? 

1.3    𝙏𝙪𝙟𝙪𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝
1.3.1        𝙐𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙞 𝙙𝙚𝙛𝙞𝙣𝙞𝙨𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙬𝙚𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪.
1.3.2        𝙐𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙞 𝙞𝙨𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙬𝙚𝙙𝙖.

1.4 𝙈𝙖𝙣𝙛𝙖𝙖𝙩 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝
𝘿𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙞𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖 𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙠𝙝𝙪𝙨𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙬𝙚𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢 𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪



𝘽𝘼𝘽 𝙄𝙄
𝙋𝙀𝙈𝘽𝘼𝙃𝘼𝙎𝘼𝙉

2.1. 𝘼𝙥𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙬𝙚𝙙𝙖? 

Yajurveda berasal dari akar kata Yajus “pengorbanan”, Veda “pengetahuan”, adalah salah satu bagian dari Kitab Suci Weda. Memuat sastra suci yang terfokus pada ritual dan korban suci. Wahyu Yajurveda dihimpun oleh 𝙍𝙨𝙞 𝙒𝙖𝙞𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙮𝙖𝙣𝙖. 

Kitab Yajurveda merupakan kitab yang amat penting karena didalamnya mengajarkan apa-apa yang baik yang harus dikerjakan dan diamalkan oleh umat manusia dan dunia. Isinya   lebih bersifat praktis karena dengan menghayati isinya dengan baik, diharapkan seseorang dapat langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu ia bersifat praktis atau dapat dilakukan. Yajurveda meletakkan dasar-dasar cara yang praktis mengenai penggunaan berbagai macam ragam obyek yang terdapat dilingkungan kita. Baik untuk tujuan pribadi maupun untuk kepentingan umum dan dunia.

Sebagai dasar yang bersifat umum dan luwes, didalamnya banyak terdapat anjuran serta himbauan yang harus dilakukan oleh setiap umat manusia dalam berbagai tingkat profesinya untuk tujuan kesejahteraan umum. Karena itu kitab Yajurveda dinyatakan sebagai kitab yang paling penting setelah Rgveda. Bahkan keharusan untuk mendalami dan pengembangan secara ilmiah untuk pertama kalinya dapat kita jumpai didalam kitab ini karena itu dikaji lebih lanjut. Oleh karena itu untuk menterjemahkannya dituntut penguasaan segala teori yang diminta sebagai prasarat.


2.2. 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣-𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙒𝙚𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖?

𝙎𝙚𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙜𝙖𝙧𝙞𝙨 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧𝙣𝙮𝙖,𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙖 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪:

1). 𝙆𝙧𝙨𝙣𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖
𝙆𝙧𝙨𝙣𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙘𝙖𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪:

1. 𝙏𝙖𝙞𝙩𝙩𝙞𝙧𝙞𝙮𝙖
2. 𝙈𝙖𝙞𝙩𝙧𝙖𝙮𝙖𝙣𝙞
3. 𝙆𝙖𝙩𝙝𝙖𝙠
4. 𝙆𝙖𝙥𝙞𝙨𝙩𝙝𝙖𝙡𝙖𝙠𝙖𝙩𝙝𝙖

𝘿𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙚 𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞, 𝙘𝙖𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙏𝙖𝙞𝙩𝙩𝙞𝙧𝙞𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜. 𝙎𝙖𝙢𝙝𝙞𝙩𝙖 (𝙠𝙤𝙢𝙥𝙞𝙡𝙖𝙨𝙞) 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 7 𝙆𝙖𝙣𝙙𝙖 (𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣), 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 631 𝘼𝙣𝙪𝙫𝙖𝙠𝙖 (𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙠𝙪- 𝙠𝙪𝙢𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙙𝙪𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙟𝙞𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙑𝙚𝙙𝙖). 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙞 𝙝𝙖𝙡𝙣𝙮𝙖 𝙎𝙪𝙠𝙡𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖, 𝙠𝙪𝙢𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙧𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 (𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙧𝙞𝙩𝙪𝙖𝙡).

𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙆𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙩𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙖𝙞 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖 𝘿𝙝𝙖𝙧𝙨𝙖 (𝘼𝙢𝙖𝙫𝙖𝙨𝙮𝙖) 𝙙𝙖𝙣 𝙋𝙪𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖. 𝙆𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙪𝙢𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙜𝙣𝙞𝙨𝙩𝙝𝙤𝙢𝙖, 𝙑𝙖𝙟𝙖𝙥𝙚𝙮𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙍𝙖𝙟𝙖𝙨𝙪𝙮𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙘𝙖𝙧𝙖-𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙡𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞.

𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙆𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙨𝙪 𝙑𝙞𝙙𝙝𝙖𝙣𝙖. 𝙋𝙖𝙨𝙪 𝙑𝙞𝙙𝙝𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙥𝙖𝙞 𝙩𝙪𝙟𝙪𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖. 𝙆𝙚𝙩𝙪𝙧𝙪𝙣𝙖𝙣, 𝙠𝙚𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣, 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞𝙖𝙣, 𝙙𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣-𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙙𝙞𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢𝙣𝙮𝙖. 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙞𝙣𝙞, 𝙖𝙙𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝘼𝙣𝙣𝙖 𝙑𝙞𝙙𝙝𝙖𝙣𝙖, 𝘽𝙝𝙪𝙩𝙞 (𝙠𝙚𝙠𝙖𝙮𝙖𝙖𝙣), 𝘽𝙧𝙖𝙝𝙢𝙖𝙫𝙖𝙧𝙘𝙖 (𝙘𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖), 𝙙𝙚𝙨𝙖, 𝙠𝙚𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝, 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙟𝙪𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙧𝙜𝙚 𝙡𝙖𝙞𝙣-𝙡𝙖𝙞𝙣.

𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙜𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙞𝙣𝙘𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙖𝙞 𝙎𝙤𝙢𝙖𝙮𝙖𝙜𝙖 (𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙤𝙢𝙖). 𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖-𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙢𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙢𝙞 𝙠𝙚𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙨𝙖.

𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙑𝙚𝙙𝙖. 𝘽𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙑𝙚𝙙𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠, 𝙢𝙖𝙠𝙣𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙑𝙚𝙙𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙟𝙚𝙣𝙞𝙨 𝙖𝙥𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙥𝙞𝙡𝙞𝙝 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙠𝙚𝙥𝙚𝙧𝙡𝙪𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖. 𝘼𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙣𝙩𝙖𝙨 𝙥𝙚𝙧𝙡𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝘼𝙨𝙫𝙖𝙢𝙚𝙙𝙝𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙩𝙞𝙫𝙞𝙩𝙖𝙨-𝙖𝙠𝙩𝙞𝙫𝙞𝙩𝙖𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙞𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙝𝙖𝙥 𝙖𝙬𝙖𝙡.

𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙡𝙞𝙢𝙖 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙞𝙣𝙘𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙖𝙬𝙖𝙡𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙡𝙞𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙜𝙪𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙡𝙩𝙖𝙧 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙖𝙣 𝘼𝙨𝙫𝙖𝙢𝙚𝙙𝙝𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖.

𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙚𝙣𝙖𝙢, 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙞𝙣𝙞𝙨𝙞𝙖𝙨𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙔𝙖𝙟𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖, 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙝 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖, 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙗𝙚𝙟𝙖𝙣𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝘿𝙖𝙠𝙨𝙞𝙣𝙖.

𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪𝙝, 𝙖𝙙𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙞𝙣𝙘𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙖𝙞 𝙖𝙠𝙩𝙞𝙫𝙞𝙩𝙖𝙨-𝙖𝙠𝙩𝙞𝙫𝙞𝙩𝙖𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙅𝙮𝙤𝙩𝙞𝙨𝙩𝙤𝙢𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝘼𝙨𝙫𝙖𝙢𝙚𝙙𝙝𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖.

2). 𝙎𝙪𝙠𝙡𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖
𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙥𝙪𝙩𝙞𝙝 (𝙨́𝙪𝙠𝙡𝙖 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙧𝙬𝙚𝙙𝙖, 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙚𝙣𝙖𝙡 𝙒𝙖𝙟𝙖𝙨𝙖𝙣𝙚𝙮𝙞 𝙨𝙖𝙢𝙝𝙞𝙩𝙖). 𝙆𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙨 2 𝙧𝙚𝙨𝙚𝙣𝙨𝙞 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 :

1. 𝙆𝙖𝙣𝙬𝙖 𝙙𝙖𝙣
2. 𝙈𝙖𝙙𝙝𝙮𝙖𝙣𝙙𝙞𝙣𝙖.

𝙐𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙅𝙚𝙣𝙞𝙨 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙋𝙪𝙩𝙞𝙝, 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙖𝙗 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 : 𝙄𝙨𝙖𝙬𝙖𝙨𝙮𝙖, 𝘽𝙧𝙝𝙖𝙙𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠𝙖, 𝙅𝙖𝙗𝙖𝙡𝙖, 𝙃𝙖𝙢𝙨𝙖, 𝙋𝙖𝙧𝙖𝙢𝙖𝙝𝙖𝙢𝙨𝙖, 𝙎𝙪𝙗𝙖𝙩𝙖, 𝙈𝙖𝙣𝙩𝙧𝙞𝙠𝙖, 𝙉𝙞𝙧𝙖𝙡𝙖𝙢𝙗𝙝𝙖. 𝙏𝙧𝙞𝙨𝙞𝙠𝙝𝙞𝙗𝙧𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙖, 𝙈𝙖𝙣𝙙𝙖𝙡𝙖𝙗𝙧𝙖𝙝𝙢𝙖𝙣𝙖, 𝘼𝙙𝙬𝙖𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖, 𝙋𝙞𝙣𝙜𝙖𝙡𝙖 𝘽𝙝𝙞𝙠𝙨𝙪, 𝙏𝙪𝙧𝙞𝙮𝙖𝙩𝙞𝙩𝙖, 𝘼𝙙𝙝𝙮𝙖𝙩𝙢𝙖, 𝙏𝙖𝙧𝙖𝙨𝙖𝙧𝙖, 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖𝙬𝙖𝙡𝙠𝙮𝙖, 𝙎𝙖𝙩𝙮𝙖𝙮𝙖𝙣𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙈𝙪𝙠𝙩𝙞𝙠𝙖, 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙟𝙪𝙢𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙐𝙥𝙖𝙣𝙞𝙨𝙖𝙙.

𝘼𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖 𝙧𝙚𝙨𝙚𝙣𝙨𝙞 𝙞𝙩𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙙𝙞𝙠𝙞𝙩 𝙥𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙬𝙚𝙙𝙖 𝙥𝙪𝙩𝙞𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙨 1975 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙨𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙪𝙢𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙧𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙟𝙚𝙣𝙞𝙨 𝙮𝙖𝙟𝙣𝙖 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙒𝙚𝙟𝙖𝙥𝙚𝙮𝙖, 𝘼𝙨𝙬𝙖𝙢𝙚𝙙𝙝𝙖, 𝙎𝙖𝙧𝙬𝙖𝙢𝙚𝙙𝙝𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙟𝙚𝙣𝙞𝙨 𝙮𝙖𝙟𝙣𝙖 𝙡𝙖𝙞𝙣𝙣𝙮𝙖. 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙒𝙚𝙙𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙖𝙩 𝙨𝙡𝙤𝙠𝙖-𝙨𝙡𝙤𝙠𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙢𝙪𝙙𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙄𝙨𝙤𝙥𝙖𝙣𝙞𝙨𝙖𝙙.

𝙋𝙚𝙧𝙗𝙚𝙙𝙖𝙖𝙣 𝙥𝙤𝙠𝙤𝙠 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙋𝙪𝙩𝙞𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙝𝙞𝙩𝙖𝙢 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙞𝙠𝙞𝙩 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙥𝙪𝙩𝙞𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖-𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙤𝙖-𝙙𝙤𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙪𝙘𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖-𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙝𝙞𝙩𝙖𝙢 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙥𝙪𝙡𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖-𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙧𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖. 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙪𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙞𝙩𝙪. 𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙒𝙚𝙙𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙟𝙪𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙥𝙪𝙡𝙖 𝙥𝙤𝙠𝙤𝙠-𝙥𝙤𝙠𝙤𝙠 𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝘿𝙖𝙧𝙨𝙖𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙮𝙖𝙞𝙩𝙪 𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩-𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙧𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙜𝙚𝙡𝙖𝙥, 𝙙𝙞𝙨𝙖𝙢𝙥𝙞𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙟𝙚𝙣𝙞𝙨 𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖-𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙖𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙝𝙖𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖.


2. 3. 𝘼𝙥𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙛𝙖𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙡𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙒𝙚𝙙𝙖? 

            𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙪𝙙𝙪𝙩 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙗𝙮𝙚𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖, 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙠𝙚𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖-𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖. 𝙆𝙖𝙧𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙑𝙚𝙙𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙡𝙞𝙙𝙞𝙠𝙞 𝙨𝙚𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖. 𝙄𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞𝙢𝙞𝙡𝙖𝙨𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙨𝙚𝙟𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙆𝙖𝙧𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙑𝙚𝙙𝙖. 𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙆𝙖𝙧𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣𝙙𝙖, 𝙢𝙪𝙡𝙖𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙖𝙝𝙖𝙥 𝙠𝙚𝙝𝙖𝙣𝙞𝙡𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙩𝙖𝙝𝙖𝙥 𝙠𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣, 𝙩𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙩𝙪𝙢 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖.

𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙨𝙪𝙙𝙪𝙩 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖, 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙑𝙚𝙙𝙖. 𝘿𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢𝙣𝙮𝙖, 𝙩𝙚𝙧𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙧𝙞𝙣𝙘𝙞 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙩𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙖𝙣 𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖. 𝙎𝙚𝙡𝙪𝙧𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙤𝙨𝙚𝙨 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙣𝙜𝙜𝙪𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙧𝙞𝙣𝙘𝙞. 𝙏𝙧𝙖𝙙𝙞𝙨𝙞 𝙢𝙖𝙨𝙮𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙩 𝙄𝙣𝙙𝙞𝙖, 𝙠𝙚𝙜𝙞𝙖𝙩𝙖𝙣-𝙠𝙚𝙜𝙞𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙡𝙞𝙜𝙞𝙪𝙨 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙖𝙣 𝙪𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙮𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙖𝙩𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙩𝙖𝙠𝙧𝙖𝙢𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.

𝘿𝙞𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙢𝙖𝙘𝙖𝙢 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩𝙠𝙖𝙣, 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙟𝙖𝙝𝙩𝙚𝙧𝙖𝙖𝙣 𝙪𝙢𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙣𝙪𝙨𝙞𝙖, 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝘼𝙨𝙫𝙖𝙢𝙚𝙙𝙝𝙖, 𝙉𝙖𝙧𝙢𝙚𝙙𝙝𝙖, 𝙎𝙖𝙧𝙫𝙖𝙢𝙚𝙙𝙝𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙞𝙣-𝙡𝙖𝙞𝙣.𝙙𝙞𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙈𝙚𝙙𝙝𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙚𝙨𝙚𝙟𝙖𝙝𝙩𝙚𝙧𝙖𝙖𝙣.

𝙈𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖-𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙎𝙪𝙠𝙡𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙖𝙮𝙖𝙩, 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖-𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙆𝙧𝙨𝙣𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙪𝙨𝙪𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙗𝙚𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙥𝙧𝙤𝙨𝙖. 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙘𝙤𝙣𝙩𝙤𝙝 𝙄𝙣𝙙𝙧𝙖 𝙎𝙫𝙖𝙝𝙖 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝘼𝙜𝙣𝙖𝙮𝙚 𝙎𝙫𝙖𝙝𝙖.



𝘽𝘼𝘽 𝙄𝙄𝙄
𝙋𝙀𝙉𝙐𝙏𝙐𝙋

3.1. 𝙆𝙚𝙨𝙞𝙢𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣
𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙪𝙢𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙨𝙖. 𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙨𝙪𝙨𝙪𝙣 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙝𝙖𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙖𝙙𝙝𝙖𝙫𝙖𝙧𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙝𝙖𝙫𝙖𝙧𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙙𝙠𝙚𝙣𝙖𝙡 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙮𝙪. 𝘼𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙮𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙮𝙖𝙟𝙣𝙖. 𝙔𝙖𝙨𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙠𝙡𝙖𝙧𝙞𝙛𝙞𝙠𝙖𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙖𝙙𝙝𝙖𝙫𝙖𝙧𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 :

𝘼𝙙𝙝𝙖𝙫𝙖𝙧𝙖 𝙞𝙩𝙞 𝙮𝙖𝙟𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙖, 𝙙𝙝𝙖𝙫𝙖𝙧𝙖𝙩𝙞 𝙝𝙞𝙢𝙨𝙖-𝙠𝙖𝙧𝙢𝙖 𝙩𝙖𝙩𝙥𝙧𝙖𝙩𝙞𝙨𝙚𝙙𝙝𝙖𝙝.

(𝙉𝙞𝙧. 1.8)

“𝘼𝙙𝙝𝙖𝙫𝙖𝙧𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙢𝙖 𝙮𝙖𝙟𝙣𝙖, 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙧 𝙙𝙝𝙖𝙫𝙖𝙧𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙚𝙠𝙚𝙟𝙖𝙢𝙖𝙣. 𝙔𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙖𝙙𝙝𝙖𝙫𝙖𝙧𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙧𝙡𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙚𝙠𝙚𝙟𝙖𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜”

𝙎𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝘼𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙮𝙪,𝙔𝙖𝙨𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙖𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙮𝙪 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙟𝙣𝙖.

𝘼𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙮𝙪𝙧𝙖𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙖𝙢 𝙮𝙪𝙣𝙖𝙠𝙩𝙮𝙖𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙖𝙨𝙮𝙖 𝙣𝙚𝙩𝙖𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙖𝙢 𝙆𝙖𝙢𝙖𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙞𝙩𝙞 𝙫𝙖 𝙖𝙥𝙞 𝙫𝙖𝙙𝙝𝙞𝙮𝙖𝙣𝙚 𝙮𝙪𝙧𝙪𝙥𝙖𝙗𝙖𝙣𝙙𝙝𝙖𝙝 (𝙉𝙞𝙧.1.8.)

𝙋𝙖𝙙𝙖 𝙠𝙚𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙤𝙣𝙨𝙚𝙥 𝙙𝙞𝙗𝙚𝙡𝙖𝙠𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙞𝙣𝙙𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝘼𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙮𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙢𝙖𝙟𝙞𝙣𝙖𝙨𝙞 𝙔𝙖𝙠𝙨𝙖. 𝙉𝙖𝙢𝙪𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙪𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙤𝙙𝙚 𝙑𝙚𝙙𝙞𝙘 𝙞𝙩𝙪 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞, 𝙙𝙚𝙢𝙖𝙧𝙠𝙖𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙬𝙖𝙟𝙞𝙗𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞. 𝙔𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙍𝙘𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙧𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙠𝙚𝙬𝙖𝙟𝙞𝙗𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙖𝙣𝙮𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖. 𝙍𝙘𝙖 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙩𝙞 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 :

𝙍𝙘𝙖 𝙩𝙫𝙖𝙢 𝙥𝙤𝙨𝙖𝙢𝙖𝙨𝙩𝙚 𝙥𝙪𝙨𝙥𝙪𝙨𝙫𝙖𝙣

𝙜𝙖𝙮𝙖𝙩𝙧𝙖𝙢 𝙩𝙫𝙤 𝙜𝙖𝙮𝙖𝙩𝙞 𝙨𝙖𝙠𝙫𝙖𝙧𝙧𝙞𝙨𝙪.

            𝘽𝙧𝙖𝙝𝙢𝙖 𝙩𝙫𝙤 𝙫𝙖𝙙𝙖𝙩𝙞 𝙟𝙖𝙩𝙖 𝙫𝙞𝙙𝙮𝙖𝙢         

            𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖𝙨𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙧𝙖𝙢 𝙫𝙞𝙢𝙞𝙢𝙞𝙩𝙖 𝙪𝙩𝙫𝙖𝙝 (𝙍𝙑.10.71.11)

𝙍𝙘𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙩𝙖𝙨 𝙢𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙘𝙖𝙝𝙖𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙔𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙧𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙛𝙞𝙣𝙞𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙜𝙖𝙢 𝙠𝙚𝙬𝙖𝙟𝙞𝙗𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖. 𝙏𝙪𝙜𝙖𝙨 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙩𝙖 𝘼𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙮𝙪 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙥𝙚𝙧𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙖𝙞𝙩-𝙗𝙖𝙞𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙍𝙘𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙞𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙔𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙬𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞

𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖𝙨𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙩𝙧𝙖𝙢 𝙫𝙞𝙢𝙞𝙢𝙞𝙩𝙖 𝙚𝙠𝙤 𝙖𝙙𝙝𝙫𝙖𝙧𝙮𝙪𝙝

𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙡𝙖𝙝 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙗𝙖𝙝𝙬𝙖 𝙔𝙖𝙟𝙪𝙧𝙫𝙚𝙙𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙪𝙢𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖𝙨𝙤𝙨𝙞𝙖𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙟𝙣𝙖. 𝙋𝙚𝙣𝙜𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝙔𝙖𝙟𝙪 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙔𝙖𝙟’ 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙨𝙚𝙢𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣’ 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙨𝙖𝙠𝙨𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙤𝙣𝙨𝙚𝙥 𝙙𝙞𝙖𝙩𝙖𝙨.


3.2. 𝙎𝙖𝙧𝙖𝙣 :
𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝘿𝙝𝙖𝙧𝙢𝙖 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖, 𝙪𝙢𝙖𝙩 𝙃𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙒𝙚𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣/𝙥𝙚𝙙𝙤𝙢𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥, 𝙠𝙝𝙪𝙨𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙝𝙖𝙡 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗 𝙨𝙪𝙘𝙞 𝙮𝙖𝙟𝙪𝙧 𝙬𝙚𝙙𝙖. 𝙊𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙛𝙞𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙗𝙪 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙤𝙨𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙨𝙞𝙡 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙩𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖. 𝙈𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙚𝙜𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙜𝙪𝙝 𝘿𝙝𝙖𝙧𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙥𝙚𝙙𝙤𝙢𝙖𝙣 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙥𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙢𝙤𝙣𝙞𝙨, 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖, 𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧, 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙩𝙞𝙣. 𝙐𝙥𝙖𝙮𝙖-𝙪𝙥𝙖𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙢𝙖𝙩 𝙃𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙚𝙜𝙖𝙠𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙞𝙠, 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙨𝙖𝙣𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙋𝙖𝙣𝙘𝙖 𝙎𝙧𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝙏𝙧𝙞𝙆𝙖𝙮𝙖 𝙋𝙖𝙧𝙞𝙨𝙪𝙙𝙝𝙖, 𝙏𝙧𝙞 𝙃𝙞𝙩𝙖 𝙆𝙖𝙧𝙖𝙣𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙟𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙡𝙖𝙞𝙣𝙣𝙮𝙖. 𝙃𝙪𝙠𝙪𝙢 𝙃𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙢𝙚𝙧𝙪𝙥𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢 𝙣𝙖𝙨𝙞𝙤𝙣𝙖𝙡 𝙙𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙡𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙜𝙞 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙪𝙢𝙖𝙩 𝙃𝙞𝙣𝙙𝙪 𝙙𝙞 𝙄𝙣𝙙𝙤𝙣𝙚𝙨𝙞𝙖 𝙨𝙚𝙥𝙖𝙣𝙟𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙩𝙚𝙣𝙩𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙗𝙪𝙩 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙋𝙖𝙣𝙘𝙖𝙨𝙞𝙡𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙐𝙐𝘿 1945.


𝘿𝙖𝙛𝙩𝙖𝙧 𝙋𝙪𝙨𝙩𝙖𝙠𝙖 :
𝙝𝙩𝙩𝙥𝙨://𝙠𝙞𝙢𝙟𝙤𝙣𝙜𝙞𝙣93.𝙬𝙤𝙧𝙙𝙥𝙧𝙚𝙨𝙨.𝙘𝙤𝙢/𝙩𝙖𝙜/𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢-𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪/ 𝙝𝙩𝙩𝙥://𝙣𝙤𝙫𝙞𝙩𝙖𝙢𝙖𝙝𝙖𝙮𝙚𝙣𝙞.𝙗𝙡𝙤𝙜𝙨𝙥𝙤𝙩.𝙘𝙤.𝙞𝙙/2016/08/𝙬𝙚𝙙𝙖-𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧-𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢-𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪.𝙝𝙩𝙢𝙡#𝙢𝙤𝙧𝙚
𝙝𝙩𝙩𝙥://𝙢𝙖𝙧𝙚𝙩𝙖𝙣𝙖𝙠𝙗𝙖𝙡𝙞.𝙗𝙡𝙤𝙜𝙨𝙥𝙤𝙩.𝙘𝙤.𝙞𝙙/2014/08/𝙬𝙚𝙙𝙖-𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞-𝙨𝙪𝙢𝙗𝙚𝙧-𝙙𝙖𝙣-𝙠𝙞𝙩𝙖𝙗-𝙨𝙪𝙘𝙞-𝙝𝙞𝙣𝙙𝙪.𝙝𝙩𝙢𝙡

𝙋𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙬𝙚𝙩𝙪𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙆𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙋𝙖𝙩 𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙧𝙞𝙧𝙖𝙣𝙩𝙖

𝙋𝙖𝙨𝙪𝙠 𝙬𝙚𝙩𝙪𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙆𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙋𝙖𝙩 𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙨𝙖𝙧𝙞𝙧𝙖𝙣𝙩𝙖
𝙋𝙖𝙧𝙖 Dewa menyatakan kekuatan-kekuatan alam.
Iswara menyatakan angin, Brahma menyatakan api, Mahadewa menyatakan tanah, dan Wisnu menyatakan air
Namun, walaupun di dalam agama Hindu, termasuk di dalam ajaran Kanda Pat Dewa ini. Dikenal banyak Dewa, bukanlah berarti tidak mengakui adanya asas Ketunggalan. Seperti yang sudah dijelaskan dimuka.
“Hanya satu Tuhan Yang Maha Esa orang arif bijaksana menyebutnya dengan banyak nama”.

Selain itu, di dalam doa-doa para Arya Weda kita menemukan kecenderungan untuk memuliakan Dewa-Dewa yang dipuja. Seperti, bila Dewa Wisnu atau Dewa Brahma yang dipuja, maka Dewa-Dewa tersebut memiliki segala atribut dari Yang Maha Tinggi, atau Tuhan Yang Maha Esa. Pandangan ini jelas menyangkal adanya kejamakan para Dewa. Akan tetapi, walaupun hanya ditekankan satu Ketuhanan, berulang-ulang sejenis trinitas (trimurti) diakui pada Brahma, Wisnu dan Siwa. Sementara Brahma adalah prinsip penciptaan, Wisnu adalah pemelihara dan Siwa pelebur. Diantara para Dewa Weda, Wisnu dan Siwa terus bertahan, dan agama Hindu tanpa Wisnu dan Siwa bukanlah Agama Hindu. Akhirnya, dengan serangkaian perkembangan Wisnu dan Siwa disamakan dengan Brahman dalam kitab-kitab Upanisad.


Dalam sebuah Upanisad ada suatu kutipan yang menarik perhatian sebagai berikut :
“Para Dewa senang tersamar sedemikian rupa dan tidak menyukai yang menonjol”.
Banyak sarjana yang tidak memperhatikan kalimat esoterik ini. Dan bila anda memahami makna kalimat tersebut, anda akan menjadi Manusia setengah Dewa sakti manderaguna. Artinya, bila anda ingin berhasil menguasai ajaran Kanda Pat Dewa ini, anda harus memiliki semangat, murah hati, sabar, welas asih, bijaksana memiliki sifat berkeadilan dan bertoleransi. Jauh dari keberadaannya sadhana, dan filsafat merupakan pengalaman spiritual.

Dalam Kanda Pat Dewa, simbolis dan kebenaran, esoteris adalah suatu permainan kecerdasan yang sangat indah dan mempesona.

Pelajaran tentang Kanda Pat Dewa mempunyai kesulitan yang sama seperti pesonanya. Mempesona karena beragam keberadaannya. Sulit karena ia merupakan lambang atau symbol.Inilah ajaran Kanda Pat Dewa yang bermula dari ajaran Kanda Dewa, yang disebut sebagai
"sanak Dewa, ne melingga ring Gedong Kusuma, Ida meraga Sang Hyang Siwa"
Dari Sang Hyang Siwa inilah, kemudian lahir Dewa-Dewa yang lainnya. Seperti, Sang Hyang Rwa Bineda, Sang Hyang Tiga Sakti, Sang Hyang Panca Dewa, Dewa Nawa Sangga dan sebagainya. Semua itu adalah merupakan pamurtian atau manifestasi dari Siwa sendiri.

Pada waktu kita lahir ke Dunia ini, maka pada saat yang sama lahir pula Sang Hyang Tiga Sakti. Beliau Sang Hyang Tiga Sakti, amor ring Buwana Agung, kemudian dipuja oleh semua makhluk di Dunia. Beliau bersthana di Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem, dalam konsep Tri Kahyangan Desa. Yang tidak lain adalah Siwa sendiri dalam trinitasnya sebagai Brahma, Wisnu dan Siwa. Bila melayang-layang di ambara beliau berwujud Sang Hyang Agni atau Brahma, dan yan sira amarga ring soring pretiwi, beliau berwujud Sang Hyang Wisnu. Di dalam angga sariranta beliau melingga ring bayu, sabda lan idep.

Buwana agung dan Buwana alit
Ketika anda akan menelusuri ajaran Kanda Pat Dewa, maka yang harus anda pahami lebih dahulu adalah pengertian tentang Buwana agung dan Buwana alit.
Buwana agung adalah jagad Dunia, alam semesta raya, dan Buwana alit adalah “hati nurani” yang tersimpan di dalam diri manusia. Namun demikian, walaupun disebut Buwana alit sesungguhnya ia adalah Buwana agung.
Mengapa bisa demikian?
Karena Buwana Alit, yang berada pada kedalaman hati nurani manusia akan menggenggam Buwana Agung. Sebab, meskipun kelihatan kecil, tetapi hati manusia sebenarnya seluas langit dan Bumi. Dalam istilah Balinya “sing ada gedenan teken keneh”, tidak ada yang lebih besar dari keinginan manusia.

Termasuk dalam ajaran Kanda Pat Dewa ini. Karena apa yang ada di Buwana agung, akan kita jumpai pula di dalam Buwana alit. Seperti Dewa Nawa Sangga misalnya, ada di Buwana agung, berarti ada juga di Buwana alit. Sebab, pada hakekatnya Buwana agung dan Buwana alit adalah tunggal.
Beginilah keberadaan para Dewa di Bhuwana alit, ring angga sariranta, mantra:
Om Bhatara Iswara, ring purwa prenahira, rupanira putih, kayangan nira ring papusuh, senjatanira Bajra. Merunira tumpang lima, babahanira ring kuping tengen, wetunira ring idep.
Om Bhatara Maheswara (Mahesora), ring Gneyan prenahira, rupanira dadu, kayangan nira ring paparu, senjatanira Dupa, merunira tumpang kutus, babahanira ring kuping kiwa, wetunira ring cita, lintiran tan salah cita.
Om Bhatara Brahma, ring Daksina prenahira, rupanira bang, kayangan nira ring ati, senjatanira Danda (Gada), merunira tumpang siya, babahanira ring mata tengen, wetunira ring panon, lintiran tan salah panon.
Om Bhatara Rudra, ring neriti prenahira, rupanira kuning, kayangan nira ring ungsilan, senjatanira Moksala, merunira tumpang telu, babahanira ring mata kiwa, wetunira ring tutur.
Om Bhatara Mahadewa, ring Pascima prehanira, rupanira kuning, kayangan nira ring ungsilan, senjatanira Nagapasah, merunira tumpang pitu, babahanira ring irung tengen, wetunira ring sabda.
Om Bhatara Sangkara, ring wayabya prenahira, kayangan nira ring limpa, senjatanira Angkus, rupanira gadang, merunira tumpang besik, babahanira ring irung kiwa, wetunira ring ambek.
Om Bhatara Wisnu, ring utara prehanira, rupanira ireng kahyangan nira ring ampru, senjatanira Cakra, merunira tumpang papat, babahanira ring cangkem, wetunira ring pangwangan.
Om Bhatara Sambu, ring ersanya prenahira, rupanira biru, kayangan nira ring ineban, senjatanira Trisula, merunira tumpang nem, babahanira ring pamungkar, wetunira ring bayu.
Om Bhatara Siwa, ring Madya prenahira, rupanira Mancawarna, kayangan nira ring tumpuking ati, senjatanira Padma, merunira tumpang solas, babahanira ring papusuh, wetunira ring manah, lintiranira tan salah manah.
Om Bhatara Guru, haneng madyaning awyakti prenahira, wetu nira ring adnyana, lintiran angadegaken adnyana. Hyang Wisesa wetuning angen-angen ring byantara, babahanira ring uneng-unengan, lintiran angadegaken adnyana. Hyang Wisesa wetuning angen-angen ring byantara, babahanira ring uneng-unengan, lintiran angen-angen.
Om, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang. Amepeki jagat Buwana kabeh, anilahaken paksane, sakwehing kinaya-upaya, tuju teluh teranjana, desti, pepasangan, sesawangan, rerajahan, tan tumama ring awak sariranku, apan aku sarining tunjung putih

Bila anda dapat meyakinkan angrangsukin mantra tersebut di atas, maka akan banyak sekali kegunaannya, sakwehing gawenya wenang. Dan bila anda hanya akan angrasukin Ajaran Kanda Pat Dewa, maka mantra tersebut diatas menjadi lebih singkat sebagai berikut :
Om Bhatara Iswara, ring purwa prenahira, rupanira putih, kayangan nira ring papusuh, senjatanira Bajra, Merunira tumpang lima, babahanira ring kuping tengen, wetunira ring idep.
Om Bhatara Brahma, ring Daksina prenahira, rupanira bang, kayangan nira ring ati, senjatanira Danda (Gada), merunira tumpang siya, babahanira ring mata tengen, wetunira ring panon, lintiran tan salah panon.
Om Bhatara Mahadewa, ring Pascima prenahira, rupanira Kuning, Kayangan nira ring ungsilan, senjatanira Nagapasah, merunira tumpang pitu, babahanira ring irung tengen, wetunira ring sabda.
Om Bhatara Wisnu,ring utara prenahira, rupanira ireng kahyangan nira ring ampru, senjatanira Cakra, merunira tumpang papat, babahanira ring cangkem, wetunira ring pangwangan.
Om Bhatara Siwa, ring madya prenahira, rupanira Mancawarna, kayangan nira ring tumpuking ati, senjatanira Padma, merunira tumpang solas, babahanira ring papusuh, wetunira ring manah, lintiranira tan salah manah.
Om Bhatara Guru, haneng madyaning awyakti prenahira, wetu nira ring adnyana, lintiran angen-angen.
Om, Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang. Amepeki jagat Buwana kabeh, anilahaken paksane, sakwehing kinaya-upaya, tuju teluh teranjana, desti. Pepasangan, sesawangan, rerajahan, tan tumama ring awak sariranku, apan aku sarining Tunjung Putih”.

Ajaran Siwa Guru, arti sebenarnya dari Siwa adalah pada siapa alam semesta ini “tertidur” setelah pemusnahan dan sebelum siklus penciptaan berikutnya. Semua yang lahir harus mati. Segala yang dihasilkan harus dipisahkan dan dihancurkan. Ini merupakan hukum yang tidak dapat dilanggar. Prinsip yang menyebabkan keterpisahan ini, daya dibalik penghancuran ini adalah Siwa. Tapi Siwa lebih daripada itu. Keterpisahan alam semesta berakhir pada pengurangan tertinggi, menjadi kekosongan tanpa batas, adalah bagian dari keberadaan, dari mana berulang-ulang muncul alam semesta yang tampaknya tanpa batas. Kekosongan tanpa batas, adalah bagian dari keberadaan, darimana berulang-ulang muncul alam semesta yang tampaknya tanpa batas ini, adalah Siwa. Dengan demikian, walaupun Siwa dilukiskan sebagai yang bertanggung jawab terhadap penciptaan dan pemeliharaan keberadaan ini. Dalam pengertian ini. Brahma dan Wisnu juga adalah Siwa.

Dan dalam pengertian Kanda Pat Dewa ini, Siwa tidak lain adalah Brahman itu sendiri, maka wajarlah kalau semua Dewa lahir dan lebur kembali kepada-Nya. Seperti yang sudah dijelaskan di muka bahwa. “Brahman datang kepada pemikiran”, Dia tidak dapat dicapai oleh pemikiran.
Tetapi kapankah Dia datang?
Dia datang pada saat gejolak pemikiran tidak ada lagi. Dia hanya datang dalam situasi yang dikendalikan oleh Siwa. Seperti yang dikatakan oleh Mitologi Hindu, Siwa adalah pengembara di malam hari Dia dapat dihubungi hanya dalam kegelapan malam. Maka pada malam harilah, dan hanya disitu saja, Siwa menyampaikan isyarat-isyarat, atau ajaran-ajaran rahasia lewat saktinya Uma.

Tetapi siapakah Dewi Uma?
Satu diantara arti perkataan Uma adalah malam. Ini juga berarti ketenangan.
Apakah yang lebih tenang dan hening daripada malam hari?
Ketika malam tiba, ada sesuatu yang meresap di dalam kegelapan malam semua kemajemukan telah lenyap. Pikiran yang terbebaskan dari aktivitasnya pasti berhadapan dengan malam yang kosong ini. Manusia harus menemukan sifat Brahman secara langsung dan ini dapat terjadi hanya apabila dalam keadaan pikiran yang terbebaskan dari semua aktivitasnya, kesadaran manusia itu sendiri tanpa bergeming, dihadapan malam yang belap dan hening itu. Kemudian sang malam (Dewi Uma) menyampaikan pemberiannya atau ajarannya kepada manusia. Pemberian, ajaran, anugrah atau wahyu itu datang tanpa nama dan wujud si pemberi, karena itu manusia tidak tahu siapa yang telah memberinya, mengajarinya tentang rahasia kehidupan ini. Tapi manusia meyakini itulah ajaran dari Sang Hyang Siwa Guru.

Inilah ajaran Sang Hyang Siwa Guru. Ini ilmu pengetahuan suci namanya, jangan diinformasikan kepada orang lain.Ini cara membuat mantra,yang akan membersihkan badanmu luar-dalam, lahir-batin. Ajaran rahasia tabik pakulun Sang Hyang Siwa Guru.
Dimanakah stana beliau?
Sang Hyang Siwa Guru bertempat dalam jantungmu, dan bila beliau keluar dari dalam jantungmu, maka ubun-ubunmu itu jalannya, Sang Hyang Siwa keluar-masuk pada badanmu. Apabila kamu ingin memanggil Sang Hyang Siwa Guru, sucikanlah badanmu, budimu, dengan teguh satukanlah indriya penglihatanmu, indriya penciumanmu, indriya pendengaranmu, indriya pikiranmu, kumpulkan dengan kegaiban pada hatiu hingga bersatu. Bila sudah baikberkumpul dalam rasamu, bayangkan Sang Hyang Siwa Guru keluar dari jantungmu, jalannya keluar adalah dari ubun-ubunmu dengan mantra:
“Om Siwa astiti ya namah”
Masukkan pada ujung hidung, kembalikan pada pangkal tenggorokkan, disana Sang Hyang Siwa Guru di puja untuk distanakan dengan mantra:
“Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya, Namah, Om Om dewa pratista ya namah, Mang Ung Yang”
Astiti dengan mantra:
“Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya, Om Om Dewa pratista ya namah, Ung Ang Ung Mang Namah”
Bila sudah baik Sang Hyang Siwa Guru berstana pada tenggorokan, bayangkan di atas perasaanmu pada bulu kaki kanan, sebagai pasepan dengan mantra : “Ang”, namanya pasepan dalam hati. Bulu puhu namanya adalah bulu kaki kanan, bayangkan Sang Hyang Siwa Guru menurunkan api di atas, di tengah dan di bawah. Yang berbadan api di atas adalah darah bening jantungmu. Yang berbadan api di tengah adalah darah bening hatimu. Yang berbadan api di bawah adalah darah bening tulang cikta. Ketiga api disatukan dengan mantra dalam hati, mantra :
“Ong Ung Pat namah”.
Bayangkan Sang Hyang Siwa Guru sebagai penyebab api ini, bernama api penyebab, itu api pada badanmu, bila sudah besar keluarkan menuju jalan di luar. Sang Hyang Siwa Guru dibayangkan membakar kotoran badanmu luar-dalam, dan tiga kotoran (trimala) segala dosamu, makanan dan minuman yang kotor, penyebab ayah-ibu, wawikon, dan musuhmu dengan mantra:
Om sarira mityukem, tryanta, karamyanem, saptongkara bayo nahnem, bhojatawuti tatwa,
Om Kalarudra, phat windhu ya namah
Apabila telah dibakar segala kotoran badanmu luar dalam isaplah di atas perasaanmu pada bulu kakimu, sebagai pijakan kehidupan (amerta), naikkan pada dubur dengan cara:
Ah idep Sang Hyang Siwa Guru, manjingakena ring tungtunging grana, ulihakena ring otot kolonganta, sakeng irika anerus anuju ring tungtunging amprunta
Bila air kehidupan sudah pada empedu, jatuhkanlah pasepan dalam hatimu, namanya memadamkan api pada pasepan dengan mantra:
Om Siwa Merta ya Namah,
Om Sadasiwa merta ya namah,
Om Paramasiwa merta ya namah.
Bila sudah padam api itu, keluarkan asapnya api itu melalui alat pelepasan dengan mantra :
“Ang Namah”
Asap api jatuh di barat daya. Bila sudah demikian, bayangkan Sang Hyang Siwa Guru turun dari kerongkongan, menuju pada tutud ineban terus menuju ujung jantung. Di sana Sang Hyang Siwa Guru lagi lahir dan hidup. Setelah itu, bayangkan Sang Hyang Siwa Guru membuat padma badanmu.
Peparu adalah daun padma pada arah Timur, Iswara Dewatanya.
Ineban daun padma pada arah selatan, Brahma Dewatanya.
Tutud daun padma adalah arah Barat Daya, Rudra Dewatanya.
Ungsilan daun padma pada arah barat, Mahadewa Dewatanya.
Limpa daun padma pada arah barat laut, Sangkara Dewatanya.
Empedu (ampru) adalah daun padma di utara, Wisnu Dewatanya.
Tumpuking hati adalah daun padma di timur laut, Sambhu Dewatanya.
Diantara daun padma, didalamnya sebagai sari dari padma adalah jantungmu, dengan Sang Hyang Siwa Guru sebagai Dewatanya.
Dan ini pemekaran pada di 8 penjuru angin dengan mantra :
"Om Ang Ung Namah” di barat laut
“Om ing ing namah” di timur laut.
“Om ung ung namah” di timur.
“Om reng reng namah” di selatan.
“Om leng leng namah” di Barat.
“Om Aeng-aeng namah” di utara.
“Om ung ung namah” di tenggara.
“Om ang ah" di barat daya.
“Om ah a namah” di tengah pada jantungmu.
Setelah demikian jalankan Sang Hyang Siwa Guru, seperti yang sudah dijelaskan di muka, menuju ujung hidungmu, dari sana terus ke atas, tempatkan di ubun-ubun dengan mantra :
“Om ang ung mang namah”.


Sekarang bayangkan Sang Hyang Siwa Guru membuat pada di luar badanmu.
Daun padma di timur, Iswara Dewatanya di bahu kanan tempatnya.
Daun padma di selatan. Brahma Dewatanya di tengkuk belakang tempatnya.
Daun padma di barat, Mahadewa Dewatanya, di bahu kiri tempatnya.
Daun padma di utara, Wisnu Dewatanya di tengkuk depan tempatnya.
Pelipismu kanan, daun padma di tenggara, Maheswara Dewatanya.
Kepala di belakang telingamu yang kanan, daun padma di barat daya, Rudra Dewatanya.
Kepala di belakang telingamu yang kiri, daun padma di barat laut, Sangkara Dewatanya.
Pelipismu yang kiri, daun padma di timur laut, Sambhu Dewatanya.
Sebagai asalnya padma, inti jantungmu di tengah, Paramasiwa Dewatanya. Paramasiwa adalah perwujudn dari Sang Hyang Siwaguru.

Ini pebagian pada di luar berdasarkan aksaranya : Sang di timur. Bhang di selatan. Tang di barat. Ang di utara. Ing di jantung. Nang di tenggara. Mang di barat daya. Sing di barat laut. Wang di timur laut. Yang di tengah dalam jantungmu ang a dah namanya, bertempat di jantungmu di bawah. Mang ur dah namanya, bertempat di jantungmu di atas.

Bila sudah ada padma diluar dan di badanmu sebagai intinya padma, sebagai stananya Sang Hyang Siwa Guru lewat mana berliau selalu mencipta dan menjaga. Maka setelah demikian ucapkanlah pengastawa padma dengan mantra :
“Om purwantu Iswara Dewam, agneyan Maheswara, daksina Bhagawan Brahma, nerityam Rudra mewanca, Pascimantu Mahadewah, Wayabya Sangkara swaha, utaram Wisnu Dewata, arsanya Sambhu siyana, Madya SadaSiwa Dewam, anah tayaSiwa swasta, urda Paramasiwanca, sara Dewata udyane”
Kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan mantra berikut, mantra :
“Om Iswara purwa bajrantu, dupa gneyan Maheswara, danda Brahma daksinanca, neritya Rudra mosalam, pascima Mahadewa nagapasah, wayabyam Sangkara angkusrakem, Cakranca Wisnutara desa, aersania Sambhu Trisule. Om Padma Sadasiwa, adah Siwanca Paramasiwa urdwasta, guru Trisula daranam”
Dan ini adalah mantra pemujaan untuk sakti beliau, mantra :
“Om Iswara Uma Dewica, Maheswara Laksmi Dewica, Brahma Saraswati Dewi, Rudra Sentani Dewisca, Mahadewa Sacidewi, Sangkara Mahadewisca, Wisnu Bhatara Sri Dewi, Sambhudewa Umadewi, madya sawitri gayastra, Uma tatwa Mahadewam, Ung Ang Ang Ung Ang Ung Ong, Sri Dewi Sangkara Swaha”
Itulah mantra pengastawa padma di dalam, namanya padma rangkap. Bila engkau tidak mengetahui pasuk wetu dari padma rangkep, sebagai tempat jiwamu, menyebabkan pendek umur. Tapi bila kamu tahu tentang pasuk wetunya padma rangkep, supaya selalu waspada, karena amat rahasia, jangan disebarkan kepada orang lain, jangan sembarangan bercerita karena sangat berbahaya.

Ini merupakan ilmu rahasia Sang Pandita, jarang yang mengerti, karena itu, jangan sembarangan memberikan kepada orang lain, bisa kuwalat, karena sangat utama, poma-poma-poma. Rahasiakan menjaga dalam hatimu.

Sekarang ketahuilah pula tata cara membuat dan meletakkan bhasma (bija) pada dirimu. Ada tiga tempat meletakkan bhasma atau bija pada dirimu.
diantara kedua alis mata atau kening.
di kerongkongan dan ketiga di hulu hati.
Bhasma atau bija ini biasanya dipakai setelah selesai sembahyang. Yang disebut bhasma atau bija ini adalah, gosokan cendana ditambah dengan biji beras.

Bhasma atau bija ini taruh di telapak tangan kiri, disana uraikan biji beras tersebut dengan jari manis dan ibu jari tangan kananmu. Habis itu, katupkan bhasma atau bija itu dengan tangan kananmu, lalu diisi mantra. Caranya adalah tangan kanan memegang bhasma atau bija, dialasi dengan tangan kiri, mantranya :
“Om Ung ksaksa Siwa mka bhasmam, ksaksa Iswarandanam, ksaksa Kumara wijasca, sarwa papa winasanam, ya namah swaha”.
Setelah itu lalu kamu memakai bhasma atau bija dengan tangan kananmu, mantranya :
"Ung" ring lalata-diantara kedua alis,
"Mang" ring mulakanta-kerongkongan, dan
"Ang" ring wredaya-ulu hati.
Tujuan memakai bhasma atau bija ini adalah, untuk memperkokoh tempat kedudukan Ida Sang Hyang Siwa Guru pada badanmu, dan untuk menghilangkan dosa di badanmu. Tan hana wong suasta anulus-tidak ada manusia yang sempurna, begitu kata orang-orang bijaksana. Karena itu sebagai manusia, disadari atau tidak kamu tidak akan pernah lepas dari perbuatan-perbuatan salah atau dosa. Maka dari itu, memohon pengampunan ring Ida Sang Hyang Siwa Guru, adalah sebuah kebaikan. Pujalah Sang Hyang Siwa Guru dengan mantra yang utama, karena Sang Hyang Siwa Guru dalah inti dari semua mantra dan juga mulia.

Dan ini adalah mantra memohon pengampunan ring Ida Sang Hyang Siwa Guru, mantra :
Om ksama swamam Mahadewa, Sarwa prani hitang karah, Mamoco sarwa papebyah, Palaya swa Sadasiwa.
Om papoham papa karmaham, papatma papo sambawah, Trahimam pundarikaksa, Kenacin nama raksatu.
Om ksantawiya kayiko dosah, ksantawiya wacika mama, ksantawiya manasa dosah, tat pramadat ksama swamam.
Om hinaraksaram hinapadham, hina mantram tat hiwaca, hina bhakti hina wredim, Sada Siwa namastute.
Om mantra hinam, kriya hinam, Bakti hinam Mahrswaram, Yat pujinam Mahadewa, Pari purnam tadas tume.
Om ksamaswamam Jagatnatha, Sarwa pap nirastaram, Sarwa karya minandahem, Prananam sureswaram.
Om twam suryatam Siwakara, Twam rupyo bahim laksana, Twangi sarwa takara, mam karya prajayate.
Om ksamamswamam mahasekta, Yates warya unat makah, Nasa yetsa tanam papam, Sarwa loparyana narana namah swaha

Sehabis memohon ampun ring Ida Sang Hyang Siwa Guru, atau Ida Hyang Jaganatha, maka setelah itu pralina Ida Sang Hyang Siwa Guru. Ini caranya mempralina. Tutuplah mata ketigamu, satukan ujung matamu ketiga diantara kedua alis. Bila sudah menyatu, bayangkan sudah praline Ida Sang Hyang Siwa Guru, masukkan ke dalam jantungmu, jalannya masuk dari ubun-ubun, dengn mantra :
“Ong Ung Ang Mang”.
Jangan gegabah, jangan menginformasikan kepada orang lain, karena sangat utama, agar tidak menjadi kualat oleh Bhataa.

Bila ingin mendapatkan atau menghidupkan daya mantra, jangan lupa untuk selalu menyucikan diri, dengan melakukan mandi keramas. Ini adalah mantra untuk mandi keramas, mantra :
Ung Rang Sri windhu Dewi dibya mahabarem.
Ong Gangga Sindhu Saraswati, wipasakosi kidanam, Yamuna metati sretah, srayunca maha nadhi.
Ong tirtha mijil sakeng lor, angebetaken lara wighna.
Ong tirtha mijil sakeng daksina, angeseng, angempungaken lara roga petaka. Matemahan sang ayu narapati, hening jati sarira ningsung. Ah Siwadwara upeti pat tastra, sudha ya namah.
Ang Ung Mang Tirtha Gangga pwitrani nama siwaya

Selain itu, hendaknya selalu astiti bakti ring Ida Hyang Widhi, Sang Hyang Siwa Guru, mayoga semadhi lewat meditasi dengan sarana, dupa, kemenyan, cendana, dan majegau. Jangan lupa canang burat wangi. Ini caranya, duduk bersila menghadap ke timur dengan kokoh, menyatukan pikiran, dengan hening, memustikarana dengan mempertemukan ibu jari tanganmu kanan-kiri, mata dipejamkan dan dikosentrasikan seolah-olah memandang ujung hidung, pertahankan disana, jangan buyar, jangan goyah, jangan ragu-ragu. Bila sudah demikian mulailah mengucapkan mantra, memusatkan seluruh kesadaranmu pada mantra dan juga pada badanmu, sebab Sang Hyang Widhi sebagai badanmu, jangan gegabah, nanti tidak berhasil mantra itu.

cara mengeluarkan Weda mantra.
Satukan perasaanmu, bayu, sabda dan idepmu. Bayu keluar dari jantung, sabda keluar dari hati, dan idep keluar dari empedu. Itu disatukan lewat perasaanmu pada ujung lidahmu, dari sana keluarlah Weda mantra, berjalan di tengah lidahmu, terus ke ujung lidahmu, rahasiakanlah, jangan gegabah. Bilamana menghadapi musuh sakti mawiseesa, lebih-lebih bila datang ke tempat peperangan, janganlah kamu lupa kepada Ida Sang Hyang Siwa Guru, pusatkan pada hatimu, satukan pada bayu sabda idepmu. Bila sudah baik penyatuannya, bayangkan Sang Hyang Siwa Guru, pusatkan pada hatimu, satukan pada bayu sabda idepmu. Bila sudah baik penyatuannya, bayangkan Sang Hyang Siwa Guru keluar dari dalam jantungmu, jalannya keluar dari ubun-ubunmu dengan mantra :
“Om Siwa astiti ya namah”
Naikkan diantara ke dua alis, bayangkan dengan berbusana lengkap dan bersenjata, mantra :
“Om na anu swaha”,
"Om namah swaha astawasat”
Kemudian naikkan ke Siwadwara, ubun-ubun. Bayangkan Sang Hyang Siwa Guru berkepala lima, masing-masing kepala bermata tiga, bertangan sepuluh, bermuka manusia setengah Dewa sakti manderaguna, dengan senjata Brahmastra, bayangkan beliau menjaga badanmu, bila sudah demikian, pujalah Sang Hyang Siwa Guru berada di ubun-ubunmu.


Dan bila kamu sudah selesai berperang, kembali kamu memuja Sang Siwa Guru, praline Sang Hyang Siwa Guru pulangkan ke tempat asalnya di jantungmu. Ini mantra pralinanya, mantra :
“Om Ung Ang Mang”
Ingat, rahasiakanlah, jangan gegabah!
Dan janganlah kamu lupa perwujudan Padma yang ada di luar dan di dalam badanmu, adalah perwujudan dari Sang Hyang Siwa Guru. Karena Sang Hyang Siwa Guru berwujud Brahma, Wisnu, Iswara, Maheswara, Mahadewa, Rudra, Sangkara, Sambu, dan Siwa-Sadasiwa-Paramasiwa. Sang Hyang Siwa Guru adalah perwujudan semua Dewa. Karena Sang Hyang Siwa Guru sebagai badan yang utama bersemayam di dalam jantungmu.

Maka barang siapa yang ingin mempelajari ajaran Kanda Pat Dewa, wajib melakukan upacara ekajati, mawinten-mensucikan diri setingkat dengan pemangku.
Karena ini adalah ajaran rahasia sang pandita. Namun sayang, tidak smua pandita mengetahui hal ini. Mereka yang sudah tinggi tingkat yoganya, siapapun dia akan dapat menaklukkan segala bahaya, segala yang galak, segala desti, segala racun, segala banjir, segala yang menyeramkan, segala yang menakutkan. Karena itu bersumber pada dirimu. Dengan sebatang dupa dapat melebur segala mala petaka dengan mantra
“Om Ang Namah, Om Ung Namah, Om Mang Namah”
Ini mantra asep pelebur mala namanya.
Yang dimaksud dengan yoga tingkat tinggi adalah dengan mengaktifkan tri nadimu. Tri nadi adalah bayu-sabda-idep. Bayu keluar dari jantung, sabda keluar dari hati, dan idep keluar dari empedu. Bayu-sabda-idep distukan di puncak hati, baik-baik. Bila sudah baik, bersatu dipuncak hati, itu namana tri sakti. Maka setelah itu, pujalah Sang Hyang Taya.
Dimanakah tempat beliau Sang Hyang Taya?
Di pangkal jantungmu yang dibawah tempatnya, pada bulu kuduk (gigitok), bening warnaya seperti mata belalang, itulah wujud Sang Hyang Taya.

Selanjutnya satukanlah Sang Hyang Taya dengan Tri nadimu yang berada di puncak hatimu, bila sudah baik penyatuannya, maka kembalikanlah ke tengah hati. Bila memang sudah demikian, isaplah segala yang membahayakan, segala yang menakutkan, segala yang galak, segala yang menyeramkan, segala racun, segala desti, segala banjir, dengan menggunakan mantra :
“Om Ah Sah Kah Wah”
Bayangkan Sang Hyang Taya Agni membakar itu semua. Karena Sang Hyang Taya sebagai gurunya bahaya, gurunya yang menakutkan, gurunya galak, gurunya segala racun, gurunya desti, gurunya banjir, gurunya segala yang menyeramkan, gurunya segala amarah, dibakar oleh Sang Hyang Taya.

Bila sudah terbakar olehnya, berikanlah air kehidupan, bayangkan air kehidupan itu turun diantara jantungmu, jalannya pada selaput kerongkongan yang tengah, menuju pada jantungmu, terus ke pelepasan, lalu kehatimu, menuju penyatuan rasa. Dari sini air kehidupan mengalir menyiramkan api di tengah hatimu. Bila kamu sudah selesai memberikan amerta pada api itu, bila sudah sempurna api itu, maka kembalikan Sang Hyang Taya ke tempat asalnya, jalannya lewat otot besar di belakang, simpanlah pada bulu kuduk (gigitok) sebab Sang Hyang Taya sangat sakti, ini Yoga sakti namanya, jangan gegabah, rahasiakanlah!

kutipan beberapa mantra rahasia untuk berbagai keperluan.
Ini intisari Kalajastra namanya, mantrailah setiap hari, jangan berselang, hasilnya kamu akan diajuhi oleh segala senjata. Ini mantranya :
“Om Hrong Kalajastra ya namah swaha”
Ini adalah mantra pemujaan senjata Sang Hyang Iswara, hasilnya menghilangkan penyakit dan dosamu, sehingga berhasil kerjamu. Mantra :
“Om Ing Sang Iswara ya namah”
Memujalah menghadap ke selatan, Sang Hyang Brahma pemujaan itu, hasilnya panjang umurmu, mantra :
“Om tang namah swaha"
Memujalah menghadap ke barat, pemujaan kepada Sang Hyang Mahadewa, hasilnya dapat menghilangkan musuh-musuhmu dan juga menghilangkan segala penderitaanmu, mantra :
“Om Ang Ung Mang namah swaha”
Memujalah menghadap ke tengah, ke dalam jantungmu dimana Sang Hyang Siwa Guru bersemayam, hasilnya dijunjung tinggi oleh masyarakat, karena manjur ucapanmu-sakti sidi ngucap-awet muda dan panjang umur, sangat utama, jangan gegabah, mantra :
Om ang Brahma Dewata ya namah,
Om Ung Wisnu Dewata ya namah,
Om Mang Iswara Dewata ya namah,
Om I Ba Ta A Ung Yang namah,
Om Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya.
Dan ini adalah pemujaan Rudra namanya, pakailah setiap hari, panjang umurmu, batal dosamu, segala makananmu tidak berbahaya, tidak ada guna-guna.

Agem-ageman Sang Hyang Bayu ini, juga disebut Sang Hyang Kutamantra, menjaga Atma, ini mantranya :
“Om iskamarakya jaya dik swaha”
Semua mantra ucapkan pada malam hari, hasilnya tidak akan kena kerjaan orang yang berbuat jelek, tidak mampu dibinasakan oleh orang, berfungsi sebagi penolak segala, rahasiakanlah!

Kesaktian Kanda Pat Dewa
Yan sira wruh mulaning dadi manusa, ika ingaran jalma luwih, sekala-niskala.
Barang siapa memiliki pengetahuan tentang sangkan paraning dumadi, maka dialah manusia sakti lahir dan batin. Mengetahui kesejatian yang utama di Buwana Agung dan Buwana Alit. Waspada di dalam hati, dengan cara mempertemukan kedua mata dengan mata bumi atau surya. Itulah yang menjadi sidiyaning yoga sandi, atau rahasia yoga. Carilah air di samudra, jangan digunung, carilah sinar terang di kalbumu, jangan di muka.

Beginilah caranya:
pertama, siapkan sarana canang burat wangi, dupa wangi telung tanding, idep katur ring Sang Hyang Surya, Candra, Lintang Taranggana, trinadi suksma, bayu sabda idep, mulih ring sabda, dadi sunya tanpa maya, mawas ring jro, ika sarining darma terus.
Caranya: duduk brsila menghadap ke timur, idepang Sang Hyang Tiga mijil ring raga, dan juga dri langit, di iringin oleh Dewata Nawa Sangga. Mantra :
"Ang, Ung, Yang, Na Ma Si Wa Ya, Ya Ya Ya"
Lakukan ini saat matahari terbit, atau Surya dawuh tepet, atau sandi kalaning Surya metu, sekitar jam 06.00 wita. Saat matahari masih berwarna merah. Pandanglah dengan tajam ring soring raditya, sakeng tepining aditya mingsor, yan hana katon ocah, seperti manik-sepatika, mirip naga, berarti Hyang Bapa mijil mewayang ring langit. Kalau kelihatan seperti manik, ocah kadi smerti, berarti Hyang ibu mijil mewyang ring langit. Yan hana katon kadi Windu mawelu pinggirnya kresna, berarti manusa sakti mijil ring langit, mewayang ring langit.

Ini adalah tutur menget, pertemuan Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, menjadi Sah Siwa, mawayang sidi ring langit. Kemudian juga terlihat adanya wana astadala, memancarkan cahaya aneka warna. Itu tidak lain adalah Hyang Dewata Nawa Sangga mijil masarira mawayang ring langit. Putihe Hyang Iswara, dadune Hyang Mahesora, abange Hyang Brahma, tangine Hyang Rudra, kuninge Hyang Mahadewa, gadange Hyang Sangkara, irenge Hyang Wisnu, pelunge Hyang Sambu, mancawarnane Hyang Siwa.

Begitulah cirinya manusa sidi, yan sampun wruh ring raga, sekala-niskala sidi mandi ta kita. Yan dadi yoganira mangkana pingitakena away wera. Bila sudah memiliki pengetahuan ini maka simpanlah dengan baik. Dan ini adalah mantra penyimpanannya, mantra :
"Ang, Ah Ya Ya Ya"
Ini bernama tutur jati, bagi mereka Sang Hyang Wruh ring raga, mawas ring jro, mawas ring jaba, suda luwih pangawruhing rahayu, tan lali ring raja solah. Makeh wong bakti ring sira, utama aturu-atangi, menget ring Aji Saraswati, seperti ini. Ada tiga Dewa malingga ring angga sarira seperti;
Sang Hyang Gurureka malingga ring idep,
Sang Hyang Saraswati malingga ring canteling lidah, mingsor-mingluhur, ring otot pasimpangan nira.
Sang Hyang Kawiswara malingga ring pantaraning papusuh, ring sabda pasuk wetunya.
Ini adalah mantra pangrangsukkannya, mantra :
“Pukulun Sang Gurureka, Sang Hyang Kawiswara, Sang Hyang Aji Saraswati, anyusup ring bayu sabda idep, angisisep sastra, angesep tatwa carita, patastra suda ya namah. Om Saraswati ya namah, Ang, Ah”
Oleh karena itu, bila ingin panjang umur, maka ucapkanlah mantra ini, mantra:
"Ang ring nabi (puser), ah ring siwadwara"
Tapi bia anda ingin mati, atau akan mengalami kematian maka mantra tersebut dibalik, ini disebut mantra praline rahasiakanlah. mantra :
"Ah ring nabi (puser), Ang ring Siwadwara"
Malih yan sira arep ngamong Sang Hyang Aji Saraswati, maka selalu membersihkan diri pada hari-hari purnama, tilem, atau hari-hari suci lainnya, dengan mantra sebagai berikut :
“Om sisigku Sang Hyang Menget tatwa carita, aku Sang Hyang Sidi, sabdaku sastra sarotama, aku Sang Hyang Aji Saraswati, amengku tatwa carita. Menget aturu, menget atangi, menget carita patastra, paripurna ya namah swaha. Om Saraswati ya namah”
Selanjutnya dikutipkan beberapa mantra yang menjadi rahasia kesaktian dari ajaran Kanda Pat Dewa ini. Ini adalah Pengembak Swara, agar suara kedengaran besar, keras, bergema dan berwibawa. Caranya : ucapkan mantra tersebut sambil mengunyah jahe. Mantra :
“Om sagara danu maobak-obakan, kadi gelap swaraku, tumurun Sang Hyang Widiadara-widiadari, tuninggalin awak sariranku, teka pada asih, pada welas atine wong kabeh, wirya tar-adarat, ya nama swaha”
Ini adalah mantra Pamungkem, agar orang lain tidak berani berbicara sembarangan dengan kita, atau malah menjadi ngeb, duduk atau berdiri seperti patung. Caranya : ucapkan mantra ini dikuburan (sema) sebanyak 3x sambil menjumput tanah sema tersebut 3x. Tanah tersebut ditabur di tempat pertemuan.Mantra :
“Om Sang Buta Wadon, matep ma-tan manusane, celek kupinge, tekep matane, pecik cunguhne, talinin limane, impus batisne, sing andeleng aku, teka bungkem 3x"
Ini adalah mantra Pengebek Buwana, untuk menghisap budinya orang banyak, dan mengumpulkannya di dalam diri. Sehingga sepintas orang akan melihat kita seperti orang besar atau raksasa. Mantra :
“Om idep aku anduwat budining wong kabeh, mulih ring Tri mandalah guying. Budining wong lanang mulih ring kama petak, budining wong wadon mulih ring kama bang, budining wong kedi mulih ring kama dadu. Sakwehing jadma manusa, apupul ring awak sariranku, pada mawijah-wijah, tan waneh sira nggrungu umulat, lah meremnya, Om sidi swaha ya wong”.
Ini adalah mantra pengingat-ingat, agar tidak mudah menjadi lupa atau pikun. Dan juga berfungsi supaya mudah untuk menghapal mantra. Mantra :
“Om pada dirang kayu jati, eling mantra, inget ati, inget aturu, inget atangi, teka inget ring atinku, ika panginget-inget” 3x.
Ini adalah mantra panugrahan berguna untuk berbagai keperluan, asing solah wenang, Siwalingga Gurureka, pradnyan ta sira. Sarana, toya, kadi tingkahing matoya. Mantra :
“Om Ang Ung Mang, Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, ring bayu sabda idep, wenang ganal alit, wenang sor luhur paripurna ya namah swaha Ang Ah Sah Siwa yogaya namah swaha”
Ini adalah pemandi suwara, menjadi sidi ngucap, maka ucapkan mantra berikut. Mantra :
“Om bungkahing lidah Sang Hyang kedep, madyaning lidah Sang Hyang sidi, pucuking lidah Sang Hyang mandi, teka mandi ideping ulun. Om tungtuning bayu, tungtunging idep, mulih ring tungtungku, sakecapku sidi”
Ini adalah pematuh desti, leak dan sebagainya, agar tidak mencelakai kita. Mantra :
“Om patuh ih Nini Bhatari Durga, maring setra Gandamayu, matuhang Dewa patuh, manusa, buta, leak patuh, gumatap-gumitip pada patuh, mematuhang Bhatari Durga”
Ini adalah pangraksa jiwa, mantra untuk keselamatan sekala dan niskala. Saran toya, kadi tingkahing matoya, disucikan dulu dengan mantra berikut ini. Mantra :
“Om ingsun angidepaken Sang Hyang Sucinirmala, licin, pangawakku sakti, tan kataman aku gering wisya mandi, tan kataman aku satru leak, aku luput licin. Pangawak aji sapta sunya nirmala, om sri jagat pake byo nama swaha, Ang Ang Ang Ah”


Ini adalah mantra untuk keselamatan di jalan, membuat mata orang-orang yang melihat menjadi silau, ulap. Ini namanya sarining Sang Narayana. Sarananya paes bayu, air ludah, usapkan di dada. Tentu saja setelah mengucapkan mantra berikut ini. Mantra :
“Om Ang Agni, jalma manusa ulap, Om desti leak ulap, anguyup ring awak sariranku, sakadi gni ujwala, teka murub”3x.
Ini adalah mantra pengesengan, pengelebur dasamala ring raga. Juga bisa berguna untuk memusnahkan cetik yang ada di dalam makanan yang sudah termakan. Ucapkan mantra ini. Mantra :
“Om cangkemku api, upas kalebur ring pawon, sing manjing teka geseng, sing metu teka geseng”. 3x.
Dilanjutkan dengan mantra :
“Om Bhatara Brahma ring cangkem, Bhatara Rudra ring weteng, apan Bhatara Rudra maraga sira, sing tumiba teka geseng”3x.
Lanjutkan lagi,
“Om sing kesampar, sing kesandung, sing kelangkahan, sing kainem, aja sira ngeracunin, angarubeda, anyangkala-nyengkali, manggawe ala ring awak sariranku, apan aku pangawakking Sang Hyang Tunggal”.
Away wera angangge mantra ini, rahasya temen, saletuh-letuh ring raganta pada sirnya dennya. Jangan sembarangan menggunakan mantra ini. Tidak boleh dipakai guyonan, karena gaibnya akan hilang. Dan bila menggunakan mantra-mantra ini, ucapkanlah dalam hati, jangan sampai kedengaran orang lain. 𝘼𝙥𝙖𝙡𝙖𝙜𝙞 memperlihatkan diri sebagai orang yang berilmu, itu tidak boleh.

Kadi iki reregepane :
I anggapati regep manjing ring cangkem, terusang ring papusuhan, jantung, rumaksa jiwa apang pageh. 
I mrajapati regep manjing ring irung, terusang maring hati, ati, rumaksa bayu apang kukuh. 
I banaspati regep manjing ring tingal, terusang ring ampru atau limpa, rumaksa idep apang tan obah. 
I banaspati raja regep manjing ring karna, terusang sakna maring ungsilan atau empedu, rumaksa sabda apang dadi sidi ngucap
𝙅𝙚𝙣𝙜 𝙥𝙤𝙢𝙖, 𝙥𝙤𝙢𝙖, 𝙥𝙤𝙢𝙖, 𝘼𝙣𝙜-𝘼𝙝

Ika kaweruhe pasuk-wetun sanakta kabeh rinegep sapalakun rahina 𝙬𝙚𝙣𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙞𝙝-𝙗𝙞𝙡𝙞𝙝 𝙧𝙞𝙠𝙖𝙡𝙖 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙩𝙚𝙗. 

Setelah itu genahang ring raga, tempatkan di dalam badan, seperti ini mantranya:
Ih I anggapati, manjengakena sira ring cangkem, anerus ring papusuh. 
Ah I merajapati, manjingakena sira ring irung, anerus ring ampru. 
Eh I banaspati, manjingakena sira ring soca, anerus ring hati. 
Uh I banaspati raja, manjingakena sira ring karna, anerus ring ungsilan.

Dan diteruskan dengan mantra berikut :
Ih I anggapati mungguh ring pempatan, dada, putih rupanira.
Ah I merajapati mungguh ring bahu kiwa, abang rupanira. 
Eh I banaspati mungguh ring bahu tengen, ireng rupanira 
Uh I banaspati raja mungguh ring ungkur, rupanya kuning.

Lagi ada mantra :
“Ih ah eh uh, sanakta kabeh aja sira anglaranira, ingsun aweha mreta ring dyun manic, ameta mangke amreta saking ibunira, syamukanku mijil ikang mreta. Iki mangke tadah sajinira, hana kita amreta iki, anahan ajak sanakta kabeh. Mangke alungguha sira ring ragan ingsun, aja sira papacuhan, pomo-pomo-pomo”

#𝙩𝙪𝙗𝙖𝙗𝙖@𝙜𝙧𝙞𝙮𝙖𝙣𝙜𝙗𝙖𝙣𝙜//𝙍𝙖𝙝𝙖𝙨𝙞𝙖𝙠𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝!#

Kamis, 06 April 2023

Pura Pucak Catu

Polih Pawisik ring Pura Pucak Catu

Pura = tempat Suci/benteng kesucian
Pucak = Gunung/Meru
Catu = Pasokan/Brangkas/Lumbung


Menguak Misteri Pura Pucak Catu, SANDAKAN, Petang - Badung
5 April 2023


Pura Pucak Catu, SANDAKAN, Petang, Badung menyimpan segudang misteri. Berdasarkan petunjuk dan kesaksian berbagai sumber, pura ini diyakini sebagai tempat rapat (paruman) Ida Betara, gudang senjata dan dijaga sosok Tualen. Saat titiang (Tubaba/I Gede Sugata Yadnya Manuaba/Griya Agung Bangkasa) pedek tangkil, ngaturang sembah puja tata lungguh pinandita wiwa, tepat jam 12.00 wita, bersama Jro Mk Gde Made Dimas, dengan upakara pejati, saat tata lungguh berlangsung khusuk, terlintas klebatan bayangan hitam menyerupai wujud Tualen.
SANDAKAN-DiariTubaba

Sandakan adalah desa adat di wilayah kabupaten Badung bagian Utara. Sandakan tergolong desa adat yang cukup luas dan subur.

Keunikan lain, di “wawidangan” Desa Adat Sandakan berdiri beberapa pura, mulai dari Tri Kahyangan, pemakasan serta pura keluarga atau dadia. Hal ini menandakan, karakteristik masyarakat Sandakan sangat majemuk ditilik dari sisi klan. Hampir seluruh klan ada di desa ini.

Dari sisi geografis, Sandakan dilengkapi sungai dan gunung. Sementara gugusan puluhan perbukitan membentang di wilayah banjar lainnya. Sebagain besar wilayah Petang, berdiri bangunan suci sehingga semakin menambah jumlah pura yang ada.

Salah satu gugusan bukit yang menarik untuk ditelisik yakni di Wilayah Sandakan adalah Pura Pucak Catu. Kata acatu. Diyakini, leksikon atau kosakata tersebut digunakan pada zaman pra penjajahan, atau sebelum ditemukan timbangan modern. Para ahli menafsirkan, acatu sama dengan seperempat kilogram dan aceeng sama dengan satu kilogram.
Di puncak Catu yang berdiri sebuah pura. Namanya menyesuaikan dengan nama bukit, yakni Pura Pucak Catu. 

Jro Mangku Gde Made Dimas, salah satu keturunan Penglingsir Pura Pucak Catu sekaligus sebagai pangempon yang bermukim di sebelah Pura Pucak Catu ini menjelaskan, bangunan suci di Pura Pucak Catu baru perbaiki. 

Sebagai orang yang sedikit ilmiah, Dimas tak menghiraukan mimpi yang dianggapnya sekadar bunga tidur. Namun mimpinya terus bersambung hampir tiap minggu. Suatu saat, ia bermimpi lagi bertemu dengan seorang berpakaian putih. 

Dimas mulai menganggap serius rangkaian mimpi anehnya meski butuh waktu bertahun tahun untuk benar-benar yakin. Rentang waktu tiga tahun digunakan untuk berkonsultasi dengan sejumlah “orang pintar”. Sepanjang yang ia ketahui, di puncak catu itu, tidak pernah ada palinggih, melainkan hanya sebongkah batu ukuran sedang yang memang dikeramatkan sejak zaman dahulu.

SEKILAS SEJARAH PURA PUCAK CATU

Pura Pucak Catu terletak di sebidang lahan leluhur Jro Mangku I Made Kerti (almarhum) yang juga merupakan seorang pejuang veteran Indonesia atau disebut Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), tempatnya berada tidak jauh dari pemandian umum bekas peninggalan penjajahan jaman Belanda di jembatan Tukad Ngongkong, kurang lebih 100 meter di sebelah selatan Setra (kuburan) Warga Adat Banjar Sandakan, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. 

Lahan tersebut bernama Pucak Bukit Guwung, di tempat tersebut terdapat Bebaturan berada di tempat yang menyerupai bukit yang terbentuk secara alami dan yang di yakini sebagai pemujaan dari manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Ida Bhatara Sri Sedana (manifestasi Tuhan yang memberikan kesejahteraan dan kemakmuran di dalam kehidupan sehari-hari). 

Di tempat tersebut juga terdapat sumber mata air yang disebut Beji oleh orang Bali dan terbagi menjadi dua tempat, sebagai tempat yang disucikan dan satunya lagi disebut Bulakan (penampungan mata air) dimana pada jaman dahulu sebelum terdapat saluran air minum seperti sekarang, dipakai untuk mencari air sebagai kebutuhan sehari-hari oleh warga sekitar pada khususnya oleh keluarga dari Jro Mangku (almarhum).

Sumber mata air dari Beji Pucak Catu bersumber dari Klebutan (air yang muncul secara alami dari bawah ke permukaan tanah) dan dari Trebesan (air yang mengalir dari selah-selah bebatuan dan akar kayu) di sekitar Beji tersebut. Seperti tempat yang di sakralkan atau tempat suci yang berada di Bali pada umumnya, tempat tersebut memiliki pantangan dimana wanita yang sedang haid (datang bulan), atau orang-orang yang sedang berada pada masa cuntaka, tidak di benarkan atau di larang memasuki wilayah tersebut dimana jika pantangan ini dilanggar, maka akan mengalami hal-hal aneh di luar nalar dan logika. Keunikan lainnya di Pura Pucak Catu terdahulu juga terdapat Taru Majegau (Pohon Gaharu) yang tumbuh secara alami dan inilah yang menjadi latar belakang berdirinya Pura Pucak Catu di tempat yang terdahulu disebut Pucak Bukit Guwung.

Awal kisah disebut Pura Pucak Catu dimulai dari kedatangan Warga Adat Buangga yang terletak kurang lebih sepuluh kilometer di selatan Pucak Bukit Guwung dengan maksud bertujuan untuk memohon Taru Majegau (Pohon Gaharu) yang akan dipergunakan sebagai bahan Prerai Tapakan Barong (niasa rupa perwujudan skaral yang disucikan) yang akan disungsung atau di sucikan oleh Warga Adat Buangga di Pura Dalem berdasarkan dari petunjuk yang disebut Pawisik (ilham Suci Manifestasi Tuhan yang diyakini oleh orang Bali) yang di dapat oleh tokoh-tokoh spiritual Warga Adat Buangga. 

Terdapat sebuah keunikan dalam kisah ini, dimana pada jaman dahulu tentunya perkembangan mobilitas transportasi dan perkembangan tehnologi belum seperti jaman sekarang, bagaimana mungkin Warga Adat Buangga mampu mengetahui keberadaan Taru Majegau (Pohon Gaharu) di wilayah Pura Pucak Catu hanya berdasarkan ilham yang di dapat, disinilah awal keyakinan tentang wahyu alam spiritual memang benar adanya dan melampaui batas nalar, logika serta akal sehat manusia atau sederhananya menurut orang Bali sering disebut Pekayunan Widhi (atau sudah menjadi kehendak Tuhan).

Setelah diskusi yang cukup panjang antara utusan Warga Adat Buangga dengan leluhur dari dane Jro Mangku (almarhum), pada akhirnya apa yang menjadi maksud dan tujuan dari kedatangan Warga Adat Buangga mendapat persetujuan. Setelah prosesi Nunasin (memohon restu alam khususnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya) baik secara sekala maupun niskala mulailah dibangun Asagan Turus Lumbung dari pohon andong yang bekembang menjadi Padmasana (tempat pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Dan setelah sekian lama berlalu, terjadi permasalahan di lahan pertanian dan perternakan warga sekitar juga beberapa kejadian di kehidupan Warga Adat Buangga beserta Tapakan yang disungsung di Pura Dalem, sehingga datanglah kembali Warga Adat Buangga ke Pura Pucak Catu memohon Pawisik (ilham atau wahyu suci dari manifestasi Tuhan Yang Maha Esa) dengan air suci dari Beji Pura Pucak Catu dan serangkaian Upacara Yadnya (persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya) juga ritual menurut kepercayaam Agama Hindu.

Setelah serangkaian prosesi upacara tersebut apa yang menjadi tujuan warga dapat terwujud, begitu pula dengan kehidupan Warga Adat Buangga beserta lahan pertanian dan peternakan warga mulai berangsur-angsur pulih. Dari sinilah mulai dibangun Pengaruman yang berbentuk seperti Piasan di Pemerajan, karena keterbatsan wawasan warga pada saat itu, serta Meru Tumpang Kalih, Gedong Sari, Bale Peselang Linggih Ratu Tapakan di Jeroan Pura Pucak Catu, Apit Lawang, Kelumpu atau Jineng (Lumbung Padi), dan juga terdapat Balai Kulkul di jaba tengah yang di bangun oleh beberapa Warga Sandakan karena membaiknya hasil pertanian dan peternakan mereka.

Dari sinilah mulai tumbuh keyakinan warga terhadap keberadaan Pura Pucak Catu dimana Purnama Sasih Jiyestha yang datang setahun sekali menurut perhitungan kalender Bali sebagai hari Piodalan di Pura Pucak Catu, juga terpilihlah anak pertama dari leluhur yang bernama I Made Kerti (almarhum) yang menjadi Jero Mangku di Pura Pucak Catu. Kehidupan beliau sebelumnya sering mangalami kesakitan, kehilangan anak, dari delapan anak masih tersisa enam yang masih hidup yaitu dua laki-laki dan empat perempuan, setelah beliau ngayah di Pura Pucak Catu terdapat perbaikan berupa Pengaruman berbahan dasar Taru Majegau (Pohon Gaharu) yang direndam lama di sungai Tukad Ngongkong dan berbentuk seperti Piasan di Merajan karena keterbatasan wawasan dan pengetahuan warga pada saat itu, Meru Tumpang Kalih, Padmasana, Gedong Sari, Balai Peselang Linggih Ratu Tapakan, Apit Lawang, Bale Lantang dengan Pawaregan, Balai Kulkul, perbaikan jalan menuju pura dan lampu penerangan. Akan tetapi Kelumpu atau Jineng (Lumbung Padi) di jaba tengah yang sudah rusak tidak dapat dibangun kembali.

Pura Pucak Catu di empon oleh beberapa Warga Adat Sandakan dan Warga Adat Buangga, akan tetapi setatus Pura ini terbuka untuk umum sebagai tempat suci pemujaan Ida Bhatara Sri Sedana (Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasinya). Sejarah ini ditulis oleh I Wayan Sukadiana anak pertama dari pasangan Jero Mangku Lanang I Made Kerti (almarhum) dan Jero mangku Istri Ni Made Rupid (almarhum) berdasarkan cerita-cerita turun temurun para pendahulu yang telah berpulang kehadapan beliau sang pencipta serta pengalaman pribadi. Dalam kesempatan ini penulis menyadari dalam penyusunan sejarah ini mendapat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak untuk itu atas segala dukungan dan bantuannya penulis menyampaikan ucapan terima kasih. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa selalu melindungi kita semua. Mohon maaf atas segala kekurangannya sebagai umat hanya bisa menulis.

Daya magis Pucak Catu bak magnet yang menarik frekuensi umat sedharma. Bukit ini mulai dikenal. Warga sekitar berlomba menghaturkan palinggih pelengkap berupa Surya/Padma Rong Tiga, Meru Tumpang Kalih dan Gedong Dewi Sri. Rasa bakti umat bisa diimplementasikan dalam bentuk lain selain ngaturang palinggih.

*Pura Pucak Catu Berstatus Pura Panataran Jagat di wilayah Petang. 

Masyarakat yang meyakini kemagisan Pura Panataran Pucak Catu juga berasal dari berbagai latar profesi, mulai dari perwira polisi, mahasiswa, tokoh pendidikan dan penekun spiritual.

Dimas sering terlibat diskusi dengan penekun spritual atau yang memiliki kelebihan supranatural. Mereka punya pandangan beragam. Ada yang meyakini bahwa Pura Pucak Catu adalah tempat paruman (rapat) Ida Betara sebelum melaksanakan tugas masing-masing.

Pendapat lain meyakini, Pucak Catu adalah gudang senjata/berangkas, khususnya peninggalan Kerajaan Mengwi namun masih disembunyikan alias tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Suatu saat, senjata-senjata tersebut akan ditampakkan oleh yang Kuasa.
Bongkahan batu ini lah cikal bakal dari Pura Pucak Catu. Sebelum berdiri palinggih permanen, sejak ratusan tahun lalu, warga sekitar menghaturkan canang/banten di batu ini. Itu berbagai pendapat orang pintar. Benar atau tidak saya tidak berani bilang apa, karena ini soal kepercayaan. 

Kesaksian dari Tubaba adalah penampakan sosok Tualen di antara Padma rong tiga dengan pelinggih dewi sri. Sosok Tualen memiliki ciri fisik perut buncit, kulit gelap, berlanjang dada dan hanya menggunakan kamen atau sarung yang ujungnya dilipat kebelakang (kancut). Beliau tidak menakut-nakuti. Beliau hanya memberikan cihna sebagai penjaga tempat ini. Saya yakin beliau baik.


#tubaba@griyangbang//nunaspanugrahan//pucakcatu#

Selasa, 04 April 2023

Tari Baris Wayang Lumintang

ASAL DAERAH
Banjar Lumintang, Desa Pekraman Denpasar, dan Desa Dauh Puri Kaja

Tari Baris Wayang Lumintang


Tari baris wayang merupakan tari wali yang ditarikan pada tingkatan utama (upacara bebangkit dan pulagembal) dan madya (upacara pulegembal) di kawasan Lumintang. Tarian ini telah berkembang pada pertengahan abad ke 16, berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat. Tari baris wayang terbentuk ketika terjadinya perjanjian antara Sira Arya Notor Wandira dengan Ki Buyut Lemintang (Penglisir Desa Lemintang terdahulu). Apabila Sira Arya Notor Wandira mampu menjadi raja dan bisa mendirikan Kerajaan Badung, maka Ki Buyut Lemintang akan dipersembahkan putra mahkota untuk tinggal dan menetap di wilayah Lemintang. Tari baris wayang tidak boleh sembarangan ditarikan, kesenian ini akan ditarikan jika ada pawisik dari Ida Batara yang beristana di Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang, melalui perantara pemangku atau peremas dalem (orang yang disucikan).

Secara bentuk, tari baris wayang berbentuk tari massal atau kelompok, di mana jumlah penarinya lebih dari satu. Jumlah penari baris wayang ditentukan dari jumlah wayang yang dimainkan, yaitu sebanyak sembilan wayang, lima wayang Panca Pandawa, dua wayang Punakawan, satu wayang Krisna, dan satu wayang Hanoman. Dalam pertunjukannya terlebih dahulu dilaksanakan upacara penglukatan (pembersihan) kepada penari baris wayang di Pura Taman Beji Batu Bolong Dalem Silemintang. Tari baris wayang jika dilihat dari segi koreografinya lebih banyak menggunakan pola lantai lurus dan melingkar.

Fungsi tari baris wayang sebagai pengiring upacara yang sakral dan juga tempat pementasannya adalah areal suci atau pura. Sebagai Media Pendidikan, tari ini dipentaskan dalam pelaksanaan pujawali di beberapa tempat suci di kawasan Banjar Adat Lumintang yang memiliki beberapa nilai pendidikan, seperti pendidikan estetika, pendidikan etika, nilai pendidikan sosial. Makna tari baris wayang adalah sebagai media pengruwatan, bertujuan untuk menetralisir keadaan sehingga terjadi keseimbangan dalam sebuah upacara yang dilakukan. Dari kajian filosofinya, dilihat dari tokoh-tokoh wayang yang di tampilkan didominasi dari tokoh epos Mahabrata, yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa. Mahabrata mengandung unsur dan makna yang sarat dengan ajaran agama. Semua ajaran tentang Dharma, Arta, Kama, dan Moksa terkandung dalam Mahabrata.


Sabtu, 01 April 2023

Tattwa

Tattwa Ha Na Ca Ra Ka

ha,na,caraka/aku adalah ketiadaan yang menjadikan ada wujud dalam cipta,rasa,karsa
Data Sawala/datang untuk memenuhi suratan
Maga Banga/semoga aku diberikan

Poe ja ya niya /tuntunan kebenaran dari kebenaran,
Jika dibalik jadi
Niya ya /dia yg dalam kebenaran
Japa/lakunya mantra
Ngaba gama/membawa cahaya pengetahuan
Lawa/kebenarannya manusia
Sata/kebenarannya binatang
Daka/kebenarannya roh2
Raca/kebenarannya tumbuh2an
Naha/kebenarannya moksa

Itulah tujuan kita belajar agama,memahami semua kebenaran itu,dan untuk bisa memahami hanya kebenaran pengetahuan sang guru sejati lah yang mampu menerangkan hatimu,
Tetapi tentulah sangat penting sebuah reprensi dalam belajar kitab suci,tetapi lebih penting adalah meresapkan ke dalam sanubari yang terdalam utk menggugah sang jiwa yg terlelap dalam belenggu samsara,sampai terjaga dalam kesejatianNya. Tetapi selalulah sadari terbelenggu dalam doktin satu kebenaran akan menjadikan diri terbelenggu dalam aku yang paling benar,inilah jebakan rahasia pengetahuan itu,Rahayu🙏🙏🙏