MAKALAH ILMIAH
"Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawa: Simbol Persatuan Pretisentana Panca Rsi Sapta Rsi di Abad ke-21"
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba
ABSTRAK
Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawa, Klungkung adalah salah satu penanda penting dalam sejarah spiritual dan sosial masyarakat Bali, khususnya bagi pretisentana (keturunan spiritual) Panca Rsi dan Sapta Rsi. Makalah ini membahas nilai sejarah, filosofi Hindu, arsitektur suci, serta peran sentral Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Paramadaksa Manuaba atau Sang Mpu Raga, pelopor penyatuan spiritual dan kultural melalui penetapan nama dan status pura ini. Dilengkapi kutipan sloka suci Weda sebagai landasan filosofis yang memperkuat fungsi pura sebagai pusat pemersatu umat Hindu di Bali.
PENDAHULUAN
Senin atau Soma Kliwon wuku Kuningan dalam tradisi Hindu Bali disebut sebagai hari Pemacekan Agung, momentum sakral yang melambangkan titik keseimbangan antara sekala dan niskala. Pada hari ini, masyarakat Bali memusatkan perhatian spiritual ke Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek di Pundukdawa, tempat dilaksanakannya piyadnyan (upacara) pujawali, sebagai persembahan bakti kepada Ida Bhatara Mpu Gana.
Pura ini bukan hanya pusat pemujaan, melainkan juga representasi sejarah penyatuan nilai-nilai spiritual warisan para Rsi suci, seperti Mpu Kuturan, Mpu Gnijaya, Mpu Sumeru, dan terutama Mpu Ghana yang disebutkan secara khusus sebagai tokoh spiritual yang menetap di Bali.
SEJARAH DAN LATAR BELAKANG
Pura ini secara historis dikukuhkan sebagai Panataran Catur Parhyangan atas prakarsa Ida Bhatara Hyang Sinuhun Siwa Putra Paramadaksa Manuaba (Sang Mpu Raga) dari Griya Agung Bangkasa di Bongkasa. Penetapan nama dan status tersebut menandai pentingnya Pura ini sebagai pusat penataran jagat, tempat pemersatu keturunan Panca Rsi dan Sapta Rsi.
Menurut tradisi lisan dan sastra keagamaan, Mpu Ghana merupakan bagian dari gelombang Dharmayatra para Maharsi dari India ke Bali. Dalam lontar dan pitutur suci disebut bahwa beliau datang bersama Mpu Kuturan dan Mpu Gnijaya dalam misi penyucian dan penataan tatanan adat Bali berdasarkan ajaran Dharma.
FILOSOFI HINDU DAN KUTIPAN SLOKA
Kehadiran Pura ini merefleksikan ajaran Veda yang menekankan pentingnya pengabdian kepada leluhur dan Rsi sebagai penjaga tatanan Dharma. Dalam Manusmṛti 2.232 disebutkan:
Sanskerta:
ऋषिभ्यो देवेभ्यश्च पितृभ्यश्च प्रतिपूज्यः।
गुरुभ्यश्चैव यः कृत्स्नं धर्ममेतं समाश्रयेत्॥
Transliterasi:
ṛṣibhyo devebhyaś ca pitṛbhyaś ca pratipūjyaḥ |
gurubhyaś caiva yaḥ kṛtsnaṁ dharmam etaṁ samāśrayet ||
Makna:
"Seseorang yang menapaki Dharma ini secara penuh harus menghormati para Rsi, para dewa, leluhur, dan guru spiritual."
Makna sloka ini mencerminkan fungsi utama pura sebagai tempat penghormatan kepada Rsi dan leluhur sebagai penjaga kesinambungan Dharma di Bali. Pura Panataran Agung Catur Parhyangan menjadi titik simpul spiritual untuk merayakan nilai-nilai itu.
ARSITEKTUR SPIRITUAL PURA
Secara struktur, pura ini dibagi menjadi tiga mandala. Berikut penjelasan makna teologis dan fungsi masing-masing pelinggih berdasarkan letaknya di tiga mandala suci di Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawa:
1. Utamaning Utama Mandala
Mandala tertinggi, sakral paling utama. Di sinilah bersemayam kekuatan tertinggi dalam sistem kepercayaan Hindu.
Padma Ngelayang
Makna Teologis: Merupakan pelinggih Ida Sang Hyang Pasupati, manifestasi Tuhan sebagai pengendali kekuatan spiritual alam semesta.
Fungsi: Sebagai pusat pemujaan utama, tempat penyatuan energi purusha dan prakriti. Tempat menghaturkan puja tertinggi kepada Tuhan dalam aspek Brahman murni.
Padma Tiga
Makna Teologis: Melambangkan Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa). Mewakili penciptaan (Brahma), pemeliharaan (Wisnu), dan peleburan (Siwa).
Fungsi: Simbol kesempurnaan siklus kosmis. Tempat persembahan bagi keharmonisan alam dan kehidupan.
Bale Gajah
Makna Teologis: Simbol kekuatan penjaga spiritual, merujuk pada kekuatan Ganesha atau elemen pelindung suci.
Fungsi: Bale ini digunakan sebagai tempat upacara tertentu, menyimbolkan kekuatan yang menjaga stabilitas spiritual pura.
Pelinggih Pengaruman
Makna Teologis: Tempat memuliakan unsur-unsur niskala (tak kasat mata) dan roh suci yang menjaga keseimbangan pura.
Fungsi: Sebagai tempat pemujaan kekuatan lokal atau leluhur sakti, yang menjadi bagian dari penyatu antara sakala dan niskala.
Pelinggih Pepelik
Letak Umum: Biasanya berada di bagian Utamaning Utama Mandala atau Madya Mandala, sebagai bagian dari struktur pelinggih yang mendampingi pelinggih utama seperti Padmasana atau Padma Tiga.
Merupakan wilayah aktivitas utama dan transisi antara sakala (nyata) dan niskala (gaib).
-
Padmasana
Makna Teologis: Tempat pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud kosong (Akasa).
Fungsi: Tempat menghaturkan persembahan kepada Tuhan yang tak terbayangkan (nirguna Brahman), pemujaan utama dalam sistem Siwa-Buddha Bali. -
Meru Tumpang 3, 5, 7
Makna Teologis: Simbol tingkatan spiritual dan kehormatan Dewa atau leluhur yang disembah.- Tumpang 3: Biasanya untuk Dewa Naga atau kekuatan alam dasar
- Tumpang 5: Untuk Dewa-Dewa utama atau leluhur
- Tumpang 7: Untuk leluhur agung atau Dewa besar
Fungsi: Sebagai tempat bersemayamnya roh-roh suci sesuai tingkatan kesucian dan pengaruh spiritualnya.
-
Gedong Pejenengan
Makna Teologis: Tempat stana khusus pralingga atau benda sakral warisan leluhur.
Fungsi: Sebagai tempat penyimpanan pusaka, pratima, atau lambang suci Ida Bhatara. -
Pelinggih Padma Nabe
Makna Teologis: Tempat memuliakan leluhur agung, khususnya guru atau nabe (pemimpin spiritual).
Fungsi: Dituju untuk menghaturkan bhakti kepada leluhur nabe yang menjadi penuntun rohani keluarga besar. -
Bale Pegat
Makna Teologis: Simbol pelepasan hal-hal duniawi.
Fungsi: Tempat simbolis pemutusan energi kotor sebelum memasuki wilayah utama, juga untuk upacara penyucian diri. -
Bale Agung
Makna Teologis: Melambangkan tempat musyawarah atau sinergi spiritual para sulinggih atau pemangku.
Fungsi: Bale ini digunakan untuk paruman, pesangkep, dan rapat adat atau keagamaan. -
Bale Penetegan
Makna Teologis: Tempat memproses atau mengolah sesajen.
Fungsi: Sebagai tempat mempersiapkan sarana banten sebelum dipersembahkan ke pelinggih utama.
3. Nista Mandala
Area paling luar, sebagai gerbang masuk dan ruang hubungan sosial umat.
- Pura Pasimpangan Ratu Gede Dalem Peed
Makna Teologis: Tempat perantara atau penyambung antara kekuatan luar pura dan kekuatan niskala dalam pura.
Fungsi: Sebagai tempat umat membersihkan diri secara spiritual sebelum naik ke mandala lebih suci, juga tempat penghormatan kepada kekuatan penjaga wilayah luar pura (bhuta kala).
Penutup Catatan: Tiga mandala ini mencerminkan struktur semesta menurut kosmologi Hindu Bali: bhur (alam bawah), bwah (alam tengah), dan swah (alam tinggi), yang diintegrasikan dalam arsitektur pura sebagai mikrokosmos.
Keseluruhan struktur ini dirancang sebagai microcosmos untuk menghubungkan makrokosmos semesta, tempat bhakti kepada Tuhan dan leluhur menyatu.
-
PERSATUAN PAMIKUKUH
Makna luhur Pura ini tidak hanya sebagai tempat persembahyangan, tetapi juga sebagai simbol kuat pemersatu sesama warih Rsi. Dalam konteks modern, warisan ini menjadi pegangan etis bagi pamikukuh sesananing kawitan agar terus eling ring kawitan sebagai kunci keteguhan jati diri Hindu Bali.
Sebagaimana dalam Bhagavad Gītā 4.7:
Sanskerta:
यदा यदा हि धर्मस्य ग्लानिर्भवति भारत।
अभ्युत्थानमधर्मस्य तदात्मानं सृजाम्यहम्॥
Transliterasi:
Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata |
abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmy aham ||
Makna:
"Setiap kali Dharma melemah dan Adharma merajalela, maka Aku (Tuhan) menjelma untuk menegakkan kembali Dharma."
Kutipan ini menegaskan bahwa kehadiran para Rsi dan pelestarian pura-pura seperti di Pundukdawa adalah bagian dari proses pemulihan Dharma di Bali.
KESIMPULAN
Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawa merupakan jejak monumental keberadaan spiritual para Rsi agung di Bali. Penetapan status panataran dan pemujaan terhadap Mpu Ghana sebagai Dwijati Panca Rsi memperkuat peran pura ini dalam menjaga kesucian, persatuan, dan kesinambungan budaya Hindu Bali di abad ke-21. Pura ini adalah cerminan bakti kepada leluhur dan Dharma, sebagaimana ditekankan dalam sloka-sloka Weda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar