Jumat, 12 Mei 2023

๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š— ๐š™๐š˜๐šœ๐š’๐š๐š’๐š

๐™ฒ๐™ฐ๐š๐™ฐ ๐™ผ๐™ด๐™ฝ๐™ถ๐™ฐ๐š๐™ฐ๐™ท๐™บ๐™ฐ๐™ฝ ๐™ฟ๐™ธ๐™บ๐™ธ๐š๐™ฐ๐™ฝ ๐™ฟ๐™พ๐š‚๐™ธ๐šƒ๐™ธ๐™ต ๐™ฐ๐™ถ๐™ฐ๐š ๐šƒ๐™ธ๐™ฝ๐™ณ๐™ฐ๐™บ๐™ฐ๐™ฝ ๐™ฟ๐™พ๐š‚๐™ธ๐šƒ๐™ธ๐™ต ๐™ณ๐™ฐ๐™ฝ ๐™ท๐™ธ๐™ณ๐š„๐™ฟ ๐™ฟ๐™ด๐™ฝ๐š„๐™ท ๐™บ๐™ด๐™ฒ๐š„๐™บ๐š„๐™ฟ๐™ฐ๐™ฝ

๐™น๐šŠ๐š—๐š๐šŠ๐š— ๐š‘๐šŠ๐š—๐šข๐šŠ ๐™ฑ๐™ด๐š๐™ฟ๐™ธ๐™บ๐™ธ๐š ๐šž๐š—๐š๐šž๐š” ๐š–๐šŽ๐š—๐š๐šž๐š‹๐šŠ๐š‘ ๐š‘๐š’๐š๐šž๐š™ ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ. ๐š‚๐šŽ๐š‹๐šŠ๐š•๐š’๐š”๐š—๐šข๐šŠ, ๐™ป๐™ฐ๐™บ๐š„๐™บ๐™ฐ๐™ฝ!

๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐š‘๐šŠ๐š›๐šž๐šœ ๐š–๐šŽ๐š—๐š๐šž๐š‹๐šŠ๐š‘ ๐šŒ๐šŠ๐š›๐šŠ ๐š‹๐šŽ๐š›๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›: ๐š™๐šŠ๐š”๐šœ๐šŠ๐š•๐šŠ๐š‘ ๐š๐š’๐š›๐š’ ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šž๐š—๐š๐šž๐š” ๐š–๐šŽ๐š–๐š’๐š•๐š’๐š”๐š’ ๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐šŠ๐š— ๐š™๐š˜๐šœ๐š’๐š๐š’๐š, ๐š๐šŠ๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐š•๐šŽ๐š‹๐š’๐š‘ ๐š‹๐šŠ๐š‘๐šŠ๐š๐š’๐šŠ. 

๐™ฐ๐š๐šŠ๐šž ๐šŸ๐š’๐šœ๐šž๐šŠ๐š•๐š’๐šœ๐šŠ๐šœ๐š’๐š”๐šŠ๐š— ๐š’๐š–๐š™๐š’๐šŠ๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ, ๐š๐šŠ๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐š’๐š”๐š–๐šŠ๐š๐š’ ๐š”๐šŽ๐š‹๐šŽ๐š›๐š‘๐šŠ๐šœ๐š’๐š•๐šŠ๐š—๐š—๐šข๐šŠ; ๐šŠ๐š๐šŠ๐šž ๐š‹๐šŽ๐š›๐š™๐š’๐š”๐š’๐š›๐š•๐šŠ๐š‘ ๐šœ๐šŽ๐š™๐šŽ๐š›๐š๐š’ ๐š“๐šž๐š๐šŠ๐š ๐šŠ๐š—, ๐š๐šŠ๐š— ๐™ฐ๐š—๐š๐šŠ ๐šŠ๐š”๐šŠ๐š— ๐š–๐šŽ๐š—๐š“๐šŠ๐š๐š’ ๐š”๐šŠ๐šข๐šŠ; ๐š๐šŠ๐š— ๐šœ๐šŽ๐š๐šŽ๐š›๐šž๐šœ๐š—๐šข๐šŠ. 


Rabu, 10 Mei 2023

Perbedaan antara Kebenaran dengan pembenaran

Perbedaan antara Kebenaran dengan pembenaran adalah :

1.Kebenaran bersifat ketuhanan sedang pembenaran bersifat manusiawi,dengan kata lain; Kebenaran berkaitan dengan pandangan ketuhanan-konsep ketuhanan semacam prinsip dualisme-sistem ketuhanan semacam hukum kehidupan pasti. Sedang pembenaran akan berkaitan dengan pemikiran pemikiran yang lahir dari isi kepala manusia semacam ideologisme, filsafat maupun filosofi yang dapat berbeda serta berlawanan satu sama lain

2.dengan kata lain, Kebenaran bersandar pada Tuhan, kehendak serta konsepsiNya sedang pembenaran bergantung pada kehendak serta sudut pandang sudut pandang manusiawi bahkan kepada perasaan perasaan emotional individu maupun golongan manusiawi

3.Kebenaran bersifat tunggal serta bersifat mutlak sedang pembenaran bersifat majemuk-beraneka warna yang dapat berbeda serta berlawanan satu sama lain serta sifatnya yang relatif

Minggu, 07 Mei 2023

Nabe Siksa

Apa itu Nabe Siksa di Kepurusan Griya Agung Bangkasa
Nabe Siksa adalah mereka yang memberikan kita pergaulan rohani, memberikan petunjuk rohani dan diskusi sekala maupun niskala. (Nabe Siksa ngaran Sekala Niskala Wastu Kancana). 
Seorang Nabe siksa itu harus seorang sanyasin/mereka yang sudah mencapai tingkat nabe spiritual dan paling dituakan di kapurusan Griya Agung Bangkasa. 
Disebut sebagai nabe siksa karena merekalah yang membuat kita tertarik dan masuk dalam jalan kerohanian kesadaran dalam penurunan ajaran kerohanian dalam suksesi/garis perguruan (parampara), yang menanggung beban dalam membimbing seorang murid/nanak dharma dan membuka tabir kegelapan dunia materialnya menuju dunia spiritual
Jadi nabe siksa itu kedudukannya diatas nabe tapak, nabe waktra dan nabe saksi. Dengan kata lain nabe siksa adalah seorang instructor dalam memahami kerohanian. Hanya kapurusan Griya Agung Bangkasa saja yang memiliki nabe siksa dalam garis kapurusan kasulinggihan. 
 

Sabtu, 06 Mei 2023

Aguron-guron

Sistem Ajaran Aguron-Guron Griya Agung Bangkasa
Model sistem pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa menggunakan sebuah sistem pendidikan yang dikenal sebagai "garis kapurusan param-pร ra". Sistem ini dilaksanakan dengan cara “pengas-ramaan" oleh para guru/nabe terhadap para sisya/muridnya yang kemudian memperoleh bobot kontekstual terkait dengan konsep jรฑร na yajรฑa, trikร ya parisuddha, triguru dan konsep Sรฌlร cara lainnya, dan model Pendidikan dalam Naskah Silakrama

Pendidikan aguron-guron dikembangkan atas dua sub model. Model pertama dikembangkan dengan ideologi sakala ‘realis' dengan tujuan Parartha ‘kesejahtraan', yaitu agawe suka nikang rat ‘menjadikan siswa berkarakter dan dapat bekerja untuk kebahagiaan bersama di dunia. Sedangkan yang kedua adalah ideologi niskala ‘idealis' dengan tujuan paramartha, yaitu matutur ikang atma ri jatinya ‘menjadikan siswa sadar akan jati dirinya, bahwa ia sesungguhnya adalah roh' atau sinar Ilahi. Model pendidikan aguron-guron merupakan kearifan lokal yang menjungjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi. Oleh karena itu terus diperhatikan dan dikembangkan untuk memelihara karakter bangsa, membangun landasan teori pendidikan dan pembelajaran berbasis budaya.

Aguron-Guron adalah proses berguru dalam pembelajaran khusus untuk dapat menjadi seorang sulinggih yaitu pada tingkatan bhiksuka dimana telah terlepas dari ikatan duniawi yang bertujuan untuk dapat memantapkan dan mengabdikan hidup sepenuhnya dibidang kebenaran dan kesucian dimana dalam beberapa kitab suci disebutkan :

Guru sebagai Nabe, maksudnya seorang guru mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi kemampuan pembelajaran peserta didik.
Upaya guru membentuk moral siswa,
dipertegas lagi dalam kitab Sarasamucchaya,
sebagai berikut:
“…prawrtyaning manah rumuhun ajarakna,
tlu kwehnya, pratyekanya, si tan engin
adngkya ri drbyaning len, si tan krodha ring
sarwa sattwa, si mamituhwa ri
hananing karmapala, nahan tang tiga
ulahaning manah, kahrtyaning indriya
ika…”

Terjemahannya:
“…ajarkanlah terlebih dahulu hakikat
pikiran kepada anak didik, yang terdiri atas
tiga bagian, yaitu tidak dengki kepada milik
orang lain, tidak marah kepada segala
makhluk, dan meyakini adanya hukum
karma. Demikianlah gerak pikiran harus
dikendalikan melalui pengendalian hawa
nafsu…”

Selama masa aguron-guron, siswa
yang pasrah dan tulus penuh kepada seorang
guru akan mendapatkan berkah berupa
kemampuan untuk mengatasi keakuan palsu
siswa. Keakuan palsu merupakan penghalang
paling besar dan paling kuat dalam perjalanan
siswa untuk mendapatkan ilmu agama.

Dalam Manawa Dharmasastra II seloka 169 dan 170, disebutkan proses pembelajaran ini dilaksanakan agar nantinya dapat melahirkan para sulinggih seperti berikut :
- Satyawadi; memberikan wejangan penuh tata krama, 
- Apta; selalu berkata benar, 
- Patirthaning-Rat; kehadirannya membawa kesejukan, dan 
- Upadesa (memberikan pencerahan).

Lontar Silakrama sebagai sasana bagi para sulinggih dan para sadhu agar nantinya juga dapat mengamalkan ajaran etika, tata susila dalam mengabdikan hidupnya di bidang kebenaran dan kesucian hati.

Lontar Silakramaning Aguron-Guron sebagai berikut:
“…iti Silakrama warahana maring
kayosihan rusit ing rusit ika, yadyan kurang
apangrasa, lamun umiring sarasa ning
Silakrama, pada dening sida mntas, yan
ahyun wruha tlasaning pangrasa, makadi
wruha tlasaning pangrasa kang ginuru
maka nguni ika ta anลซt sarasa ning
Silakrama…”

Terjemahannya:
“…ajaran moral Silakrama ini hendaklah
diajarkan kepada anak didik dengan penuh
kasih sayang, dengan segala kepelikannya,
sekalipun anak didik belum mampu
merasakan hikmahnya dengan sempurna,
tetapi jika siswa bersungguh-sungguh
mendalami dan menghayati segala nilai dan
makna ajaran moralsilakrama, anak didik
akan mampu menemukan jalan terang
menuju kemerdekaan lahir batin. Apalagi
benar- benar mendalami dan menghayati
hingga ke puncak segala rasa, terutama
tujuan akhir pembelajaran yang dibelajarkan
oleh guru, bilamana didasari dan sesuai
dengan ajaran Silakrama (etiket)”.

Silakramaning aguron-guron merupakan bentuk ketaatan, keikhlasan pengabdian sisya/murid terhadap guru yang harus dibuktikan melalui kesungguhan dan keseriusan untuk mengabdi dan mendedikasikan dirinya secara total terhadap gurunya. Pengabdian tersebut ditunjukkan dengan loyalitas kerja tanpa mengenal lelah untuk kepentingan gurunya. Dengan begitu sisya/murid akan diakui, dihargai dan nantinya akan diberikan tuntunan serta penghargaan berupa ilmu pengetahuan dan mantera-mantera yang berguna bagi murid tersebut. Seorang sisya/murid wajib tunduk kepada perintah guru (guru susrusa), dan dirinya dianggap berhasil apabila ia mampu melayani dan melakukan hal terbaik yang diperintahkan gurunya. Demikian yang dilakukan oleh seorang sisya/murid Arunika, Utamanyu, Weda dan Utangka di dalam cerita Dhomya Adiparwa ini. Sebagai sisya/murid masing-masing mampu melakukan pekerjaan sesuai yang diinginkan oleh gurunya.

Dimana dalam Lontar Wratisasana disebutkan untuk tercapainya tingkat kesempurnaan.
Diusahakan untuk dapat hidup sederhana; 
- Tidak mewah, 
-Tidak hura-hura, 

Dan berlaku yang ringan dalam kehidupan ini.
Gemar belajar (adhyaya), mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan (adhyapaka), rajin belajar (swadhaya), rajin berpantang dan upawasa (brata), tekun memusatkan pikiran (dhyana), dan rajin menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (yoga) seperti seorang brahmana;
Menekuni kehidupan spiritual dan ketuhanan;
Serta mampu menujukkan kemahirannya tentang Weda baik teori maupun praktek dalam kehidupan sehari-hari.

Di Griya Agung Bangkasa, proses pembelajaran aguron-guron dari seorang sisya kepada seorang Guru Nabe ini dalam beberapa istilah disebutkan sebagai berikut :
- Nabe sebagai guru utama dalam proses pendidikan & pembelajaran khusus dalam tradisi aguron-guron.

- Sisya, para murid sebagai calon pendeta (sulinggih) yang hendak menerjunkan diri dalam hidup keagamaan sebagai “parasraya”.

Guru dan murid adalah satu kesatuan dimana akan selalu ada ikatan bathin antara guru dan murid.

Pada waktu seseorang melakukan diksa/dwijati, Seorang sisya akan lahir kedua kalinya yang pertama lahir dari rahim Ibu dan yang kedua lahir dari gurunya sebagai putra dharma. 

Sehingga ada prosesi napak Guru sebagai perwujudan Siwa di dunia dengan selalu menghormati guru maka apa yang beliau ajarkan akan meresap di dalam diri.

Karena demikian pentingnya peran guru maka hati-hatilah memilih seorang guru. Di dalam Lontar Siwa Sasana dikatakan syarat-syarat sesorang yang patut di jadikan guru/acarya/sadhaka sebagai Nabe yaitu :
- Ahli weda,yang menguasai bagian-bagian Sanghyang Catur Weda.
- Teguh melaksanakan Dharma dan yasa kirti.
- Berbudi baik, tabah, teguh hati dalam tapa brata.

- Dapat menaklukan hawa nafsu, dapat melepaskan diri dari kenikmatan duniawi.
Memiliki sifat satya :
- Selalu berkata jujur, setia pada janji dan dia tidak berkata yang kasar, memfitnah, berbohong, menghina sesama sadhaka, tidak menghina orang lain.
- Dan tidak mencerca kerja dan brata sesama sadhaka.
- Selalu mengucapkan kata kata yang benar manis dan lemah lembut, menarik hati dan bersahaja

Dia tidak licik, sombong dan congkak seperti :
- Tidak memiliki sifat matsarya, sifat dengki dan iri hati yang disebutkan hanya akan menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan ini.
- Tidak memiliki sifat Metraya yang penuh dengan kepalsuan spiritual.

Dia selalu berpikir bersih, tenang, pengampun, kasih sayang, tidak mudah marah, selalu lapang hati berdasarkan catur paramita (maรฎtri, karuna, mudita dan upeksa).
Keutamaan guru yang berbudi luhur seperti disebutkan :

Lakshmi duhkha sahasrani
Samsara papa nasanam
Parate naraka nasty
Siwa lokam avapnutyat

Inilah kemuliaannya dia yang berguru kepada yang maha suci ialah :
Hilangnya noda kecemaran orang itu. Atau ia tidak akan tersentuh oleh segala marabahaya, duka nestapa, bebas dari samsara malapataka. 

Berapun banyaknya kepapaan orang, berapapun besarnya, meskipun seribu banyaknya, sebesar bumi dan gunung semeru besarnya dan beratnya, tentu akan lenyap dan hilang sama sekali. Bila didiksa (diinisiasi) oleh pandita guru maha pandita.
Besarnya kesucian pandita guru maha agung mampu menghilangkan papa muridnya. Sebab itu maka hendaknya dipilih pandita guru yang dapat dijadikan tempat berguru oleh sisyanya.

Dalam mengungkap model pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa ini juga dikembangkan dengan ideologi sakala dan niskala :
Secara sekala yaitu ‘realis’ dengan tujuan Parartha ‘kesejahtraan’, yaitu agawe suka nikang rat ‘menjadikan siswa berkarakter dan dapat bekerja untuk kebahagiaan bersama di dunia ini.
Sehingga ajaran tri parartha itu sudah sepatutnya selalu dipahami dan di amalkan oleh umat manusia, dengan demikian kesempurnaan hidup ini akan menjadi kenyataan.
Sedangkan secara niskala ‘idealis’ dengan tujuan paramartha, yaitu matutur ikang atma ri jatinya ‘menjadikan siswa sadar akan jati dirinya, bahwa ia sesungguhnya adalah roh’ sebagai inti yang menjiwai setiap makhluk hidup untuk dapat kembali ke asalnya.
Dengan selalu berpedoman pada dasa paramartha sebagai penuntun dalam tingkah laku yang baik untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi (Moksa) yaiu sukha tan pa wali dukha.

Ajaran aguron-guron di Griya Agung Bangkasa ini sebagai penddikan berbasis kearifan lokal yang menjungjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi;
Oleh karena itu terus diperhatikan dan dikembangkan untuk memelihara karakter bangsa, membangun landasan teori pendidikan dan pembelajaran berbasis budaya.

Uniknya sistem ajaran aguron-guron di Griya Agung Bangkasa ini dikenal dengan adanya sebutan guru siksa. Apa itu Guru Siksa di Kepurusan Griya Agung Bangkasa? 

Guru artinya berat/menanggung beban.
Guru Siksa adalah mereka yang memberikan kita pergaulan rohani, memberikan petunjuk rohani dan diskusi. 

Seorang guru siksa itu harus seorang sanyasi/mereka yang sudah mencapai tingkat guru spiritual dan paling dituakan di kapurusan Griya Agung Bangkasa. Disebut sebagai guru siksa karena merekalah yang membuat kita tertarik dan masuk dalam jalan kerohanian kesadaran dalam penurunan ajaran kerohanian dalam suksesi/garis perguruan (parampara), yang menanggung beban dalam membimbing seorang murid dan membuka tabir kegelapan dunia materialnya menuju dunia spiritual. Dengan kata lain guru siksa adalah seorang instructor dalam memahami kerohanian.

Jadi dalam sistem ajaran aguron-guron di Griya Agung Bangkasa ini, Ida Sinuhun Siwa Putra Prama Daksa Manuaba lah di menyandang sebutan sebagai Guru Siksa itu. 

Lontar Silakramaning Aguron-Guron
merupakan sebuah teks didaktik yang
mengandung ajaran moral seorang siswa dalam proses pembelajaran. Konsep-konsep yang ditawarkan penuh dengan nilai dan makna edukatif yang layak dijadikan sumber acuan.
Moral yang ditanamkan dalam ajaran Lontar
Silakramaning Aguron-Guron adalah moral
yang memiliki esensi keluhuran budi dan
kelakukan baik. Aguron-guron adalah proses
pembelajaran yang diberikan seorang guru
kepada muridnya. Sistem pendidikan aguron-
guron merupakan suatu proses pembelajaran
mengenai pendidikan moral budi pekerti luhur, dengan harapan agar mencapai perkembangan
kepribadian sikap mental dan budi pekerti yang
luhur dengan jalan mengamalkan ajaran Sang
Hyang Widhi Wasa. Selama masa aguron-
guron, siswa yang pasrah dan tulus penuh
kepada seorang guru akan mendapatkan berkah berupa kemampuan untuk mengatasi keakuan palsu siswa. Dalam konteks ini hubungan Guru dengan siswanya adalah bahwa peran guru sangat penting untuk tidak semata membimbing, tetapi guru harus bisa menjadi contoh suri teladan bagi siswanya.
Upaya untuk menanamkan moral pada
anak didik dimulai dengan pencermatan dan
membangun kesadaran pada diri anak didik
tentang kelemahan sepuluh indria yang ada di
dalam diri. Kesepuluh indria itu sangat rentan
memengaruhi pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia. Sehingga guru sangat berperan penting dalam membangun moral anak didik dengan memberi keteladanan dan penuh kesabaran, serta membangun suasana
pembelajaran yang kondusif, nyaman, aman
bagi anak didik sehingga anak didik merasa
dekat dengan guru. Lontar Silakramaning
Aguron-Guron menegaskan bahwa siswa tidak
semata mendalami ilmu pengetahuan, tetapi
para siswa harus memiliki moral yang baik agar pengetahuan yang didapatinya tidak semata untuk kepentingan dirinya, tetapi harus mampu diabdikan demi kepentingan orang banyak, yang tercermin dari sikap moralnya; baik dikaitkan dengan Tuhan, alam sekitarnya, dan sesama manusia.


Komponen Pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa dalam pendidikan aguron-guron mencakup :
(1) Komponen pelaku pendidikan, yaitu guru yang memberikan materi belajar. 
Dalam hal ini Guru adalah orang yang patut dimuliakan; pembimbing spiritual (Zoetmulder, 1995: 321; 322; 1371). Sugriwa, (1967: 1-3) dalam Dwijendra Tatwa (Riwayat Hidup Dhanghyang Dwijendra) menguraikan tentang nama-nama guru agama Hindu Bali yang dikenal, baik zaman Bali purba maupun setelah mendapat pengaruh ajaran Siwa Sidharta dan Buddha Mahayana yang disebut Hindu atau Agama Hindu Bali yaitu: Dhanghyang Markandeya, Empu Sangkul, Sira Empu Manik Angkeran, Ma-harsi Anggastya, Empu Kuturan. 

(2) Komponen Bahan Belajar atau Materi Pendidikan Agama. Dalam Kitab Upanisad menguraikan tentang belajar, yaitu merupakan usaha pendewasaan diri yang melibatkan interaksi antara siswa (sisya) dengan gurualam proses belajar (adhyaya) dan mengajar (adhyaapayitum) yang sekarang dikenal sebagai pembelajaran (svadhyaya adhyaapayitum atau svadhyaya pravacane). 

Kata kunci pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa adalah kesiapan dari kedua belah pihak, murid maupun guru. Sistem aguron-guron di Griya Agung Bangkasa  menekankan pembelajaran dengan pendekatan partisipatif. Siswa aktif menyusun pengetahuan sendiri dengan berbagai macam cara atau metode pembelajaran seperti mengembangkan kemampuan bertanya, berdiskusi, meneliti perilaku alam dan lain-lain. Sebagai contoh adalah Satyakama yang dianjurkan Rsi Gautama menyusun pengetahuan secara mandiri dengan meneliti perilaku dan tanda-tanda semesta sebelum mengkaji landasan tattwa secara mendalam (Chandogya Upanisad). Upanisad menjamin siswa mengembangkan kreativitas, berinovasi melewati garis-garis kebiasaan dalam pembelajaran, 

(3) Komponen Cara Penyampaian atau Metode Pendidikan aguron-guron di Griya Agung Bangkasa. Dalam Pedoman Pembinaan Umat Hindu yang telah dapat rekomendasi atau pengesahan pada Pesamuan Agung Parisada Hindu Dharma Indonesia yang berlangsung pada tanggal 4-7 Februari 1988, menetapkan metode pendidikan agama Hindu adalah (a) Dharma Wacana; (b) Dharma Tula; (c) Dharma Gita; (d) Dharma Shantih; (e) Dharma Yatra; dan (f) Dharma Sadana. 

(4) Komponen Sasaran Didik dan Pembinaan. Dalam Upanisad menekankan bahwa belajar merupakan esensi hidup manusia. Secara tradisi ada dua cara belajar dalam ajaran Upanisad. Belajar secara interaktif dengan guru (gurukulo) dan belajar tanpa bimbingan guru (swadhyaya). Terkait dengan hal ini, sumber-sumber yang digunakan untuk mendukung proses belajar terdiri dari sumber yang berasal dari guru (gurutah) dan sastra (sastratah) yang dapat dilihat dalam bentuk pustaka maupun referensi lainnya. 

(5) Menilai Hasil Pembinaan Pendidikan Hindu. Ajaran-ajaran yang diberikan oleh guru kepada murid-muridnya tidak diberikan sembarangan. Dalam artian, siswa yang akan mendapat pengetahuan/ajaran tersebut harus melewati beberapa prosesi yang telah ditetapkan oleh sang guru. Ketika tiba saatnya, maka sang guru akan memberitahu kepada murid yang telah dianggapnya memenuhi syarat tersebut. Pengamatan sang guru terhadap siswa yang akan dipilih dan memenuhi syarat dilakukan secara cermat, seksama dan terus-menerus sepanjang waktu.

Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentu-kan. Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. Media pembelajaran dalam bentuk PowerPoint/LCD berisi gambar-gambar bergerak yang dilengkapi dengan audio untuk memudahkan pemahaman materi terutama materi-materi yang sulit dipahami bila hanya menggunakan tulisan dan gambar atau foto. 

Tampelbolong

Sudah pernah dilaksanakan... Dan akan dilaksanakan lagi di ......yang berminat silahkan baca selengkap na.... 

Upacara Bayuh Tampel Bolong, Melik, Sanan Empeg, Telaga Apit Pancoran, dan Pancoran Apit Telaga merupakan Penguatan Identitas Kehinduan

Memperhatikan perkembangan masyarakat Bali dewasa ini terdapat gejala menarik yang perlu mendapatkan perhatian serius, yaitu terjadinya perubahan sikap dan perilaku orang Bali secara signifikan. Orang Bali kini cenderung menjadi sangat pragmatis sehingga mengarah pada human ekonomikus. Gejala lain adalah semakin memudarnya kebiasaan membuatkan upacara Bayuh Tampel Bolong, Melik, Sanan Empeg, Telaga Apit Pancoran, dan Pancoran Apit Telaga.

Salah satu langkah yang bisa diambil adalah kembali ke jati diri sebagai manusia Bali dengan melakukan upaya-upaya penguatan identitas kehinduan. Agama adalah salah satu mekanisme ke arah penguatan moral dan identitas.

Dalam hubungannya dengan penguatan identitas kehinduan, upacara Bayuh Tampel Bolong, Melik, Sanan Empeg, Telaga Apit Pancoran, dan Pancoran Apit Telaga menjadi sangat penting untuk dibahas. Persoalannya adalah: apa makna upacara Bayuh Tampel Bolong, Melik, Sanan Empeg, Telaga Apit Pancoran, dan Pancoran Apit Telaga itu sehingga menjadi penting untuk dirayakan dan mengapa penguatan identitas kehinduan itu menjadi penting?

Agama Hindu yang sekarang diwarisi di Bali adalah sebuah perpaduan akulturatif antara tradisi kecil (budaya Bali) dengan tradisi besar (Hindu) yang datang dari India. Oleh karena agama Hindu merupakan sebuah hasil akulturasi, maka beberapa tradisi lokal masih tetap bertahan hingga saat ini. Masuknya agama Hindu lebih banyak bersifat mempermulia apa yang telah ada di Bali. Beberapa tradisi lokal yang tetap bertahan misalnya bentuk-bentuk pelaksanaan upacara.

Agama Hindu terdiri atas tiga kerangka, yaitu tattwa, etika dan upacara. Dalam realisasinya ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tak dapat dipisah-pisahkan. Artinya, satu aktivitas keagamaan merupakan realisasi dari ketiga kerangka dasar tersebut. Dalam penampilannya secara empiris upacara mungkin tampak lebih menonjol dibandingkan dengan aspek etika dan tattwa. Akan tetapi esensi, terdalam dari agama Hindu terdapat dalam Tattwa.

Bagi masyarakat Hindu di Bali, realisasi ajaran agama itu dilaksanakan dalam bentuk kebaktian dan yadnya. Di Bali dikenal lima jenis yadnya yang disebut Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya dan Bhuta Yadnya. 
Melakukan upacara yadnya merupakan langkah yang diyakini sebagai kegiatan beragama Hindu yang amat penting karena yadnya adalah salah satu penyangga bumi. Demikian disebutkan dalam kitab Atharwa Weda.

Upacara agama adalah merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan yadnya sebagai dasar pengembalian Tri Rna. Weda mengajarkan, Tuhan menciptakan alam semesta ini berdasarkan yadnya. Oleh karena itu, manusia yang bermoral akan merasa berutang kepada Tuhan. Dari adanya rasa berutang itu umat Hindu melakukan Dewa Yadnya sebagai rasa bakti umat kepada Tuhan dan melakukan, Bhuta Yadnya untuk memelihara semua ciptaan Tuhan. Rasa berutang kepada leluhur (pitra) diwujudkan dengan berbakti kepada leluhur atau pitra dalam bentuk Pitra Yadnya dan mengabdi kepada keturunan karena keturunan tersebut pada hakikatnya adalah leluhurlah yang menjelma.

Mengabdi kepada keturunan dalam bentuk manusa yadnya pada hakikatnya adalah leluhurlah yang menjelma. Mengabdi kepada keturunan dalam bentuk manusa yadnya pada hakikatnya juga melakukan Pitra Yadnya secara filosofis. Hal ini terjadi karena agama Hindu mengajarkan kepercayaan kepada punarbhawa atau reinkarnasi. Anak-anak yang dilahirkan adalah penjelmaan leluhur yang terdahulu. Sehubungan dengan itu mengupacarai anak-anak dalam bentuk Sarira Samskara atau di Bali disebut Manusa Yadnya adalah bentuk pengabdian orang tua kepada leluhur melalui anak-anak.

Salah satu bentuk upacaranya adalah upacara Bayuh Tampel Bolong, Melik, Sanan Empeg, Telaga Apit Pancoran, dan Pancoran Apit Telaga. Upacara ini merupakan upacara penyucian untuk menguatkan karakter kehinduan. Dengan menyucikan anak-anak, berarti juga menyucikan leluhur. Melakukan bagi orang tua kepada anaknya. Upacara ini sering juga disebut hutang orang tua kepada anak. Hutang ini juga hutang moral. Upacara ini bertujuan agar segala keburukan dan kesalahan yang mungkin dibawa sejak lahir dan semasa hidupnya terdahulu dapat dikurangi atau ditebus. Dengan demikian kehidupan yang sekarang benar-benar merupakan kesempatan untuk memperbaiki serta meningkatkan diri untuk mencapai kehidupan yang sempurna. Jadi upacara Bayuh Tampel Bolong, Melik, Sanan Empeg, Telaga Apit Pancoran, dan Pancoran Apit Telaga bagi masyarakat Hindu demikian mendalam.

Dalam rangka membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, maka upacara Bayuh Tampel Bolong, Melik, Sanan Empeg, Telaga Apit Pancoran, dan Pancoran Apit Telaga ini mutlak dilakukan oleh para orang tua, terutama kaum perempuan sebagai penyangga yadnya. Namun, kenyataan yang ditemukan di lapangan banyak orang tua (terutama para perempuan/ibu yang berkarier di luar rumah) mengganti upacara menjadi perayaan selamatan bahkan menebus/membayah dengan barang-barang berharga mahal sehingga makna upacara bayuh itu sendiri menjadi sangat kabur. Ada kalanya bagi orang tua yang mampu justru melaksanakan kedua-duanya. Konsep pikir mereka adalah mengikut izaman. Hal ini jelas menunjukkan bahwa perempuan yang memiliki konsep pikir seperti itu sudah kena pengaruh modernisasi dan pola pikir keseragaman.

Bahwa dewasa ini terjadi berbagai krisis pada diri manusia, di antaranya adalah krisis keanekaragaman. Semua krisis yang terjadi disebabkan dan dinikmati oleh manusia sendiri. Lebih jauh dikatakan bahwa krisis keanekaragaman ditandai dengan hilangnya ciri-ciri khas, bahkan punahnya spesi atau penampilan sebagai akibat dari upaya penyeragaman, sedangkan penyeragaman dilakukan dengan tujuan effisiensi dan modis. Penyeragaman ini tidak hanya dalam bentuk arsitektur bangunan, makanan dengan berbagai jenisnya yang sering dikonsumsi oleh orang Bali (Hindu), tetapi juga dalam hal bayuh/ruwatan kelahiran.

Oleh sebab itulah Kapurusan Griya Agung Bangkasa mengadakan Paruman Ring Griya Agung Bangkasa Tgl:  pukul 15.00 sampai selesai,
Menghasilkan kesepakatan putusan dan menetapkan bahwa:

1. Pebayuhan Tampel Bolong masal. dilaksanakan, Tgl :  ring Griya Agung Bangkasa, pukul 09.00 sampai selesai.

2. Anggaran biaya peserta pebayuhan 
Rp. 400.000; per orang silahkan daftar di koperasi Maha Daksa Sandhi ring Griya Agung Bangkasa 

3. Prosesi Ritual Pebayuhan masal bernaung dibawah Yayasan Widya Daksa Dharma, Griya Agung bangkasa, yang telah berbadan hukum dengan nomor : AHU-0006915.50.80.2014. Sekeretariat : jalan Tangsub no. 4, Banjar Pengembungan, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung Bali. 

4. No Tlp Yang dapat dihubungi : 081936287278 an I Gede Sugata Yadnya Manuaba

5. Dipuput oleh Ida Sulinggih Kapurusan Griya Agung Bangkasa dan lintas pasemetonan

Bayuh Tampel Bolong adalah Pamahayu Masal dan salah satu ceremony bayuh, ( ruwat / pangentasan) yg hampir hilang di bali. 

Kutipan lontar tampel bolong dan lontar kembang rampe. 

   Kapratyaksakna den ta makabehan, kalinganing pamahayu tampel bolong, ngaranya waneh, ika maka panebusan danda ikang hyang- hyanging wwang sudosa, makadi pinaku jihwa, rikahuripania swang - swang. 

Artinya :
Perhatikanlah penjelasan ku, olehmu semua, y. Mengenai bayuh oton tampel bolong, itu nama, y, tujuan, y sebagai penebusan hukuman kepada leluhur, dari org yg berdosa, sebagai pembeli atau penebusan jiwa pada kehidupan masing - masing. 

Kutipan,,, 
   Samangkana pretekaning rare, pawehe mukti swarga nikang rat, apan hana dosania duk ing kari maurip ring madhya pada nguni, mangke tinemunya sengsara dinanda de sanghyang yamadipati, pinelara denira watek bhuta kingkara. Karananing wnang tinebus dening pangaci - aci manut sakramaning puja tampel bolong, pahayunen ika pinaka panawar, danda, ning sudosan ipun, twin kadurmitan, kaupadrawan, lawan kadurmangalan ira, prasida hning pamidanda, nira, agung alit tuten ira pwa denta, wnang kaparisudha de sang rumaga putus, 

Artinya :
Demikianlah upacara ini terhadap anak, sehingga dapat menemui dan menikmati sorga di dunia ( semasih hidup) krn ada dosa, y pd kehidupan terdahulu, mk skrg menerima penderitaan di hukum oleh sanghyang yamadipati, dan para bhuta kingkara. Itu yg menyebabkan patut di tebus ( bayuh / rwat) dgn upacara bebayuhan yg di sebut " tampel bolong " yg sekali gus merupakan pembebasan hukuman org yg berdosa, atau org yg mempunyai pertanda buruk, mala petaka, dan isyarat yg kurang baik pd kehidupan skrg. Bebayuhan tampel bolong, bs menghilangkan hukuman yg besar maupun kecil, krn itu patut di ikuti dan di sucikan di mana du puput oleh sang sulinggih,,,,,,!!!

Kutipan :
Pamahayu " tampel bolong" make pangilanganing papa klesa, panyadma, nya mwang kadurmitania ring loka. Agung alit ika pamahayunan, manggawe kepagehaning sang hyang pramana, makadi sanghyang urip ring bhuwana, mangkana kengetakna denta presamya,,,,, 

Artinya :
Pabayuhan tampel bolong sebagai penghapus papa atau penderitaan, baik yg di bawa sejak lahir, maupun kemalangan dlm hidup ini. Besar, kecil, y bebayuhan tampel bolong ini, hendak, y di lakukan pd setiap org, yg akan menyebabkan langgeng ( kekal, y) sang atma dan jiwa, y di dunia. Demikianlah agar sllu di ingat olehmu semua, y,,,,  

Kutipan : 
Kunang wwang tan maka don pinahayunen " tampel bolong" salawasnya tan amanggih amretha sanjiwani lawan kaswargani, apan jadma tan kasupat dening sang putus siwa, kalawan bodha, wnang amanggih panca gati, sangsara sama lawan atmaning wwang, tulah kneng utpata, upadrawa, tan dadya jadma mwah encep ring kawah,,,,,, 

Artinya :
Kalau ada org yg tidak melakukan rwatan / bebayuhan tampel bolong, selama, y tidak akan menemui keberhasilan dlm hidup, y. Dan menemukan sorga, y. Krn org itu tidak di sucikan oleh pandita siwa dan budha, mk wajarlah menemukan lima macam kesengsaraan, sama sprti atma org yg mendapatkan kutukan, tidak akan menjelma mnjadi manusia lg, dan akan selama, y tenggelam dlm api neraka,,,,,, 

Utk itu dpt di simpulkan bhwa: pebayuhan tampel bolong, merupakan puncak dari semua pebayuhan yg ada. Dimana bebayuhan ini berfungsi sebagai penyempurna dari semua pebayuhan yg ada. 

NB; 
Makta pejati asoroh jangkep, segehan, toples wadah tirtha, miwah tirtha ida bhatara guru lan dalem karang. (sampunang nganggen plastik) 

Sane arsa nyarengin mangda mendaftar ring koperasi kmds griya agung bangkasa. 

Rikala aedan bayuh tampel bolong sane pacang kapolihang sekadi
1. Madudus ring marga agung
2. Panglukatan pancawara, saptawara ring jaba tengah.
3. Panglukatan melik, sanan empeg, telaga apit bulakan, bulakan apit pancoran
4. Panglukatan Bhatara Brahma
5. Panglukatan Tampel Bolong
6. Natab tebasan2 lan ngenggen sarana tampel bolong, ngemargiang pamegat sotsot.
7. Ngaturang sembah bhakti

Asapunika pamargi polah palihnyane. 

Punia semeton puniki ayat anggen ngwangun pura kahyangan dharma smrti ida bhatara sinuhun. 

#PEBAYUHAN MASAL TAMPEL BOLONG, MELIK, DAN SANAN EMPEG#
#I Gede Sugata Yadnya Manuaba#
#Kutipan Pustaka Lawar Capung Ki Dalang Tangsub#

Selasa, 02 Mei 2023

Banten Sudiwidani

Banten Sudhi Wadani Vanessa Christiana Hadinata menjadi orang Hindu

Banten ini akan diberikan kepada umat agama lain yang akan menjadi pepeluk agama hindu, biasanya perkawinan beda agama. Berikut uraian bantennya.

Manut lontar Sundari Putih, 
salah ngambil ( ambil ) anak siyosan agama, kapatut :

1. Panglukatan, 
2. Byakawon, 
3. Durmanggala, 
4. Prayascita dan 
5. Pengulapan
6. Pejati
7. Sesayut pageh urip
8. Sesayut sudhi wadani


Sesayut Sudi Wadani
luire:

Dulang mesusun wastra barak, putih. 
Mesusun kulit sayut meplekir, 
daging beras barak-putih, 
suci genep asoroh, 
daksina 1, 
tumpeng agung barak 1, putih 1, meiter. 
Tumpeng alit putih 5, barak 9, 
tulung 2, 
nasi kojongan 4, 
metakan daun sudamala, 
kwangen 5, 
iwak balong ( balung bolong ), 
sata wiring pinanggang, lan sata bitih, 
canang 5, 
sekar tunjung barak putih, 
klungah klapa gading, 
lis sanjata, 
toya wadah sibuh, 
pras panyeneng – buhu-buhu, 
bresian, 
pangresikan, 
lis busung, 
segaan cacahan, 
segahan kepelan mancawarna, 
tetabuhan genep.

Sesayut pageh urip
luire:

Kulit sayut meplekir, 
nasi tlompokan akucak, 
nasi tumpeng putih kuning pada adanan, mearu antuk toya cendana, mepager kwangen 9 siki, tumpenge mesekar cempaka putih kuning 9 katih, tunjung biru 1, tunjung putih 1, 
raka-raka sarwa suci magula tebu, 
pisang gading a ijas, 
raka-raka sarwa galahan, 
tulung urip 1, 
tulung sangkur 5, 
katipat pandawa 1, 
katipat sari 1,
iwak itik ginuling 1, 
tatebusan putih kuning sedah woh, 
roro ingapun, 
ganak merik, 
lis sanjata, 
klungah klapa gading 1, 
sibuh slaka medaging toya empul, 
arta 225, 
pabersihan jangkep.

Senin, 01 Mei 2023

Pawiwahan Ngubeng

Pawiwahan Ngubeng
I Nyoman  Risky Gunawan dan Vanessa Christiana Hadinata
(Sederhana Tak Kurangi Makna Perkawinan) 
 
RANGDILANGIT,  GRIYANG BANG EXPRESS-Perkawinan sesuatu yang sakral, tak hanya sebatas ikatan formal, melainkan spiritual. Sebab prosesinya di Hindu melibatkan Tri Upasaksi atau tiga saksi, yakni Dewa Saksi dalam hal ini Tuhan, Manusa Saksi dalam hal ini administrasi formal dan keluarga, serta Bhuta Saksi, bhuta kala. Sehingga ikatan perkawinan mempelai dipercaya sah secara sekala maupun niskala. 

Zaman terus berkembang. Prosesi perkawinan atau pawiwahan pun sedikit demi sedikit mengalami perubahan dalam sisi praktik. Namun, esensinya masih tetap sama. Bahwa ada Tri Upasaksi. Hal ini tentu wajar, sebab tata cara perkawinan yang diinisiasi oleh agama berbaur dengan sistem adat setempat. Demikian pula di Bali.

Biasanya prosesi perkawinan kebanyakan dilaksanakan di rumah mempelai. Sebab ada sesi natab di merajan. Namun, belakangan perkawinan cukup banyak dilaksanakan di griya dan dipuput sulinggih setempat. Muncullah istilah Pawiwahan Ngubeng. Sebagian besar prosesnya dilaksanakan di griya, dipimpin langsung Sang Dwijati.

Salah satu yang mengikuti Pawiwahan Ngubeng selaku mempelai adalah pasangan I NYOMAN RISKY GUNAWAN (putra ketiga dari Bapak I Nyoman Sutarma & Ibu Ni Made Seni) dengan VANESSA CHRISTIANA HADINATA (putri ketiga dari Bapak Henry Hadinata, S.E & Fransisca Agustina, S.H, yang akan dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2023 di Griya Agung Bangkasa. Dimana I Nyoman Risky Gunawan sekaligus sebagai pretisentana Kapurusan  Jro Ketut Dalang Tangsub ponakan warih Brahmana Manuaba (Griya Agung Bangkasa) maring Jimbaran. 

Keluarga  I Nyoman Risky Gunawan memiliki taraf ekonomi yang cukup mampu. Berasal dari Jl. Ce lagi Basur No. 1 Jimbaran. Pastilah ada banyak pertanyaan waktu dan tempat pelaksanaan pawiwahan ini, kenapa justru melaksanakan pawiwahan di griya. Mungkin konsep menurut masyarakat umum agak menyimpang, kok sudah punya rumah, terus melaksanakan Pawiwahan Ngubeng?” 

Dijelaskan oleh Jmk Gede Tubaba, pelaksanaan pawiwahan ngubeng itu tujuannya adalah efisiensi. Pertama terkait waktu, juga saudaranya banyak yang tinggal jauh, sehingga di tarik semuanya ke tengah, baik keluarga mempelai wanita juga keluarga mempelai pria, dan alangkah baiknya (upacara) dipuput seorang sulinggih, lebih-lebih ditempat pokok atau sentral asal muasal.

Jika biasanya prosesi terlihat menonjol saat resepsi, namun pihaknya berprinsip menonjolkan proses inti pawiwahan itu sendiri. Dalam pawiwahan yang dilaksanakan di Griya Agung Bangkasa itu, baik prajuru maupun keluarga mempelai diharapkan bisa melihat proses dan saling mengenal. Sebab, menurutnya tak hanya kedua mempelai yang perlu saling mengenal, namun kedua keluarga. Ngubeng, selain menghemat waktu dan tempat, ada makna tersendiri bagi yang melaksanakan upacara. Bagaimana jika bukan resepsi ataupun prewedding yang ditonjolkan, namun melainkan kesakralan dari upacara pawiwahan itu sendiri.

Hal ini juga diharapkan menjadi salah satu pertimbangan jika nantinya ada calon mempelai yang terkendala, seperti tidak punya keluarga atau tempat, namun tetap bisa melangsungkan pernikahan. Harapan titiang, para remaja yang suatu saat menjadi dewasa memiliki pertimbangan dalam melangsungkan perkawinan. Bahwa ada hal yang praktis, kelihatannya sederhana, namun tidak mengurangi makna yang utama. Karena perlalihan zaman itu sering menghilangkan makna sesungguhnya dari sebuah upacara dengan sederhana. Upacara pawiwahan ngubeng tidak menghilangkan makna pawiwahan. Yang berubah adalah tempat dan waktu saja.

Menurut Jro Mangku Gede Sugata Yadnya Manuaba (Tubaba) dari Griya Bangkasa menegaskan, Pawiwahan Ngubeng hanya berbeda dari sisi rangkaian, namun filosofinya sama. “Meski rangkaiannya berbeda dengan pawiwahan pada umumnya, titiang menyebut Pawiwahan Ngubeng dari segi makna dan filosofi tak memiliki perbedaan dengan pawiwahan pada umumnya,” tegasnya.

Menurut Ida Sinuhun Siwa Putri Parama Daksa Manuaba, lanjutnya, Pawiwahan Ngubeng dilakukan karena berbagai faktor. Semisal ingin lebih ringan, upacara nuwek (fokus) pada tattwa, atau karena keadaan tertentu lainnya.

#tubaba@griyangbang//pawiwahanngubeng//Griya Agung Bangkasa#