Rabu, 20 April 2022

CATUR WARNA

Konsep Catur Warna 
(Brahmana, Ksatrya, Waisya, dan Sudra) dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga. 
Dalam membangun keluarga bahagia sejahtera meningkatkan ketahanan keluarga merupakan salah satu jawaban yang perlu mendapat prioritas tinggi dengan memperhatikan fungsi-fungsi keluarga yang meliputi fungsi Brahmana (keagamaan), Ksatria (perlindungan), Vaisya (ekonomi),  Sudra (kasih sayang):
1)      Keagamaan (Brahmana); 
Keluarga mempunyai fungsi sebagai Brahmana; untuk mendorong anggotanya menjadi unsur beragama dengan penuh Sraddha dan Bhakti kepada Hyang Widhi dengan menjalankan kewajibannya. Para orang tua mesti menjadi sumber invirasi pertama bagi anak-anak belajar agama, jangan sampai anak-anak lebih mengetahui ajaran agama orang lain, ketimbang agamanya sendiri, yang dikarenakan orang tuanya minim pengetahuan dan praktik agama. Itu sebabnya  penting sekali belajar agama sejak usia dini, terlebih jika memiliki potensi untuk menikahi orang yang berasal dari keyakinan agama lain. Maka pengetahuan agama sering menjadi momok orang ‘paid bangkung”  dan meninggalkan agamanya. Dalam istilah saya: ” jangan gara-gara DOI, DOA berubah”. Siapaun dia tidak mau anaknya menikah dengan orang yang berbeda keyakinan…bukan…??. walau itu secara karma kita tidak bisa membendungngnya jika hal itu terjadi. Tapi minimal kita telah mengantisipasinya, dengan memerankan diri sebagai seorang Brahmana di keluarga. Juga termasuk di antara fungsi keagamaan adalah :

a)       Norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga

b)      Menerjemahkan ajaran/norma agama ke dalam tingkah laku hidup sehari-hari seluruh anggota keluarga

c)      Memberikan contoh konkrit dalam hidup sehari-hari dalam pengamalan dari ajaran agama

d)     Melengkapi dan menambah proses kegiatan belajar anak tentang keagamaan yang tidak atau kurang diperolehnya di sekolah dan di masyarakat.

e)      Membina rasa, sikap dan praktek kehidupan keluarga beragama sebagai pondasi menuju kesejahteraan sosial keluarga

2)      Melindungi (Ksatria); 
Keluarga merupakan wadah untuk melanjutkan kehidupan manusia dari generasi yang satu ke generasi lainnya, mengasuh, merawat dan melindungi agar menjadi manusia yang berkualitas. Fungsi keluarga dalam melindungi anggotanya di antaranya adalah untuk :

a)      Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar keluarga

b)      Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang datang dari luar

c)      Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebagai modal menuju keluarga sejahtera

3)      Ekonomi (Vaisya); 
Keluarga menjadi sumber pendukung dan pemenuhan kebutuhan anggota-anggotanya untuk dapat mengarahkan kehidupan secara mandiri. Karena itu sebuah keluarga juga mempunyai fungsi ekonomi yang di antaranya berfungsi untuk :

a)      Melakukan kegiatan ekonomi baik di luar maupun di dalam lingkungan keluarga dalam rangka menopang kelangsungan dan perkembangan kehidupan keluarga

b)      Mengelola ekonomi keluarga sehingga terjadi keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran keluarga

c)      Mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua di luar rumah dan perhatiaannya terhadap anggota keluarga berjalan secara serasi, selaras, dan seimbang.

d)     Menggunakan pendapatan atau keuangan keluarga secara efektif dan efisien dan berdaya guna. Hal ini dijelaskan dalam kitab Sarasamuccaya 262, yaitu: “ekanamcena dharmarthah kartavyo bhutimicchata, ekenamcena kamartha ekamamcam vivirddhayet – Demikianlah hakekatnya maka dibagi tiga (hasil usaha itu), yang satu bagian guna biaya mencapai dharma, bagian yang kedua adalah untuk biaya memenuhi kama, bagian yang ketiga diperuntukkan untuk kegiatan usaha (investasi) ekonomi, agar berkembang kembali demikian hakekatnya, maka dibagi tiga, oleh orang yang ingin memperoleh kebahagiaan (Kajeng, dkk, 1999: 199).Dengan demikian jangan hendaknya; 1 mengeluarkan uang jika tidak perlu sekali dan 2. kalaupun tergoda untuk menggunakan uang tersebut ingat rumus 1( pertama)

e)      Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal untuk mewujudkan keluarga sejahtera.

4)      Cinta Kasih (Sudra); 
Keluarga merupakan landasan untuk mengikat batin anggota-anggotanya sehingga saling mencintai, menghargai dan menghormati satu dengan yang lainnya, dengan penciptaNya, sesamanya maupun dengan lingkunangnya.

a)      Menumbuhkembangkan potensi kasih sayang yang telah ada antara anggota keluarga (suami-istri, anak) ke dalam simbol-simbol nyata (ucapan, tingkah laku) secara optimal dan terus menerus

b)      Membina tingkah laku saling menyayangi baik antar anggota keluarga maupun antar keluarga yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif dan kualitataif.

c)      Membina praktek kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan rohani dalam keluarga secara serasi, selaras dan seimbang

d)     Membina rasa, sikap dan praktek hidup keluarga yang mampu memberikan dan menerima kasih sayang sebagai pola hidup ideal menuju keluarga sejahtera.

#tubaba@griyangbang//caturwarna//ringkahuripan#

Sabtu, 16 April 2022

NGULAPIN

NGULAPIN
Sebuah Upacara Ngentegang Bayu Sabda Idep. (Mengembalikan Keseimbangkan Sang Catur Sak) 

Oleh : I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd


Upacara Ngulapin atau Pengulapan adalah upacara yang wajib dilakukan umat Hindu setelah mendapatkan musibah hal ini dimaksutkan agar orang tersebut tidak lagi dibayangi oleh kejadian yang sudah dialaminya dan lebih tenang ketika dia akan menjalani aktivitasnya setelah melewati pintu rumahnya. Ngulapin juga dapat bermakna menenangkan jiwa raga dan pikirannya.
Begitu banyak tradisi yang ada di Bali  dengan beragam makna. Soal ritual Ngulapin misalnya, sungguh sangat banyak filosofi hidup yang terkandung di dalamnya. Bagaimana sejatinya upacara yang sering dilaksanakan ketika ada orang apes atau mengalami musibah di jalanan ini?

Ngulapin berasal dari kata ulap. Ulap adalah bahasa Jawa kuna dan juga bahasa Bali, yang artinya silau. Silau yang dimaksudkan di sini adalah seperti keadaan mata ketika menatap atau memandang sinar matahari. Kalau dijadikan kata majemuk menjadi ulap-ulap. Ulap-ulap dalam bahasa Bali  berarti suatu alat yang berbentuk empat persegi panjang atau bujur sangkar, terbuat dari secarik kain putih yang berisi tulisan hurup-hurup keramat yang  mempunyai kekuatan magis. 

Ulap-ulap biasanya itu diletakan pada halaman depan dari sebuah bangunan, di bawah atap pada kolong rumah, pada waktu  upacara ngulap ngambe   bangunan tersebut. Maksudnya,  untuk memohon kehadapan Tuhan yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi, agar  jika ada unsur-unsur yang ingin mengganggu, menjadi silau atau ulap. Karena silau, maka unsur-unsur  tersebut sulit untuk mengganggu mata. 

Upacara Ngulapin merupakan bagian dari upacara Manusa Yadnya yang  dilakukan untuk menormalisasi kehidupan seseorang, setelah mengalami kejadian yang mengejutkan, seperti halnya kecelakaan atau masalah lainnya. Jika dibiarkan tanpa dilakukan suatu upacara, dapat membuat kehidupan seseorang menjadi tidak normal, seperti halnya bingung atau bisa mengakibatkan kegilaan. 


Biasanya upacara Ngulapin ini lebih sering dijumpai ketika ada seseorang yang mengalami kecelakaan. Ketika kecelakaan yang mengakibatkan benturan, lanjutnya, bayu yang ada pada diri manusia akan terlepas. Ini tentu akan berdampak negatif, karena bayu menjadi penggerak kehidupan manusia. 
Upacara pangulapan inilah yang akan mengembalikan bayu, sehingga hidup orang yang bersangkutan bisa kembali normal seperti sedia kala. Upacara pangulapan bisa dilakukan di perempatan terdekat, yang  tujuannya untuk memanggil bagian diri yang tertinggal di tempat kejadian. Namun, tak jarang masyarakat melaksanakan upacara Ngulapin di tempat kejadian. 

Selain itu, upacara Ngulapin juga dilakukan untuk menyeimbangkan empat saudara yang ada dalam diri manusia yang dikenal dengan sebutan catur sanak, yakni Anggapati, Prajapati, Banaspati, dan Banaspati Raja. Jika manusia terkejut, lanjutnya, maka keempat saudara yang ada pada diri seseorang akan menjadi tidak seimbang. Keseimbangan inilah yang akan dikembalikan melalui berbagai sarana yang digunakan dalam upacara pangulapan. Selain itu,  dengan upacara Ngulapin, dapat mengurangi atau menghilangkan trauma pada seseorang yang mengalami kecelakaan atau kejadian yang mengejutkan, sehingga yang bersangkutan dapat kembali beraktivitas sebagaimana biasa. 

Selain untuk upacara orang yang kecelakaan, di Bali dikenal beberapa macam upacara Ngulapin yang mempunyai maksud dan tujuan yang berbeda.  Pertama adalah Ngulapin Pitra. Upacara ini dilakukan sebelum pengabenan, yakni  upacara ngangkid atau ngulapin di setra. Tujuan dilaksanakannya upacara ini adalah untuk mencari galih atau tulang yang akan diaben. Upacara ini khusus dilaksanakan jika mayat seseorang dikubur terlebih dahulu sebelum diaben.

Selain akan melaksanakan Ngaben, Ngulapin Pitra juga dilaksanakan ketika hendak melaksanakan upacara Atma Wedana atau Mamukur, dan dilaksanakan di tepi pantai. Setelah pelaksanaan ini selesai maka terjadilah macam-macam versi, ada yang diajak pulang untuk sembahyang pada sanggah kemulan khususnya Ring Bhatara Hyang Guru. Selain itu, ada juga yang langsung diaben.  

Selanjutnya adalah Ngulapin Pretima. Yang dimaksud dengan upacara Ngulapin ini, apabila pretima itu pernah jatuh. Entah itu disebabkan karena disenggol oleh binatang, seperti kucing ketika dilaksanakan upacara di sekitar pratima itu. Selain itu, bisa juga jatuh karena tempatnya tidak baik atau dibawa oleh manusia. Pratima yang pernah dicuri juga harus dilaksanakan pangulapan, karena pratima itu sudah leteh (sial) yang mengakibatkan aura magisnya telah meninggalkan pratima tersebut. Khusus untuk Pratima, setelah Ngulapin biasanya dilaksanakan kembali upacara Guru Piduka, atau permohonan maaf atas kesalahan atau keteledoran. Selain kedua jenis pangulapan yang disebutkan, ada beberapa pangulapan lagi yang biasa dilaksanakan masyarakat Bali. Beberapa di antaranya adalah ketika seseorang baru  sembuh dari sakit keras dan untuk orang meninggal dunia. Kedua Ngulapin ini biasanya dilaksanakan di rumah sakit.

Diakuinya, di Bali banyak versi yang menjelaskan tentang bagaimana tetandingan banten pangulapan. Hal ini sangat erat kaitanya dengan Sima, Dresta atau kebiasaaan masyarakat dalam suatu daerah, Namun, upacara Pangulapan biasanya dipuput oleh pemangku. Bahkan  di beberapa daerah cukup dilaksanakan oleh tetua keluarga saja. 


BANTEN PENGULAPAN

Banten Pangulapan yang umum digunakan, yaitu menggunakan dasar tempeh, di atasnya diletakkan taledan gede menggunakan buah-buahan, tumpeng kecil sebanyak 11 biji yang diletakkan di atas ceper,  untek (tumpeng tetapi ujungnya tidak tajam) 22 biji diletakkan di atas ceper, kojong rangkadan, daksina 1, ketipat kelanan, ajuman atau sodaan alit, tulung sesayut, peras alit, panyeneng alit, wewakulan masampyan nagasari, sasedep tepung tawar, lis peselan, padma 1, sangga urip,tegteg,  canang pahyasan, coblong 1, payuk pere 1.

Dan yang tak kalah penting adalah panimpug yang menggunakan tiga ruas bambu, untuk selanjutnya dibakar dan menghasilkan bunyi ledakan. Bunyi inilah yang digunakan untuk memangil bayu atau tenaga manusia yang terlepas akibat kecelakaan. Selain itu, panimpug ini merupakan sarana untuk memanggil Bhuta Kala agar berkenan menjadi saksi upacara dan tidak mengganggu jalannya upacara.

BANTEN PENGULAPAN
Ong Ngadeg Sanghyang Teja Pengulapan, angadeg aken bayu keduk timbul bujana kulit, angawe pengulap ulap, angulapi prawetek sarwa pinuja (...atau nama yang diulapkan...), 
ATAU (angulapi prawetek parahyangan dewa). 

Teka ulap, pada ulap (3x),

Ong Ngadeg Sapta Petala, Sanghyang Panca Kosika gana, Sanghyang Panca Rupa, Pageh ring Sang tinulap-ulap, Ong Sidhi restu yenamah swaha.

 Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang. 
Mang, Ang, Ong, Ung, Yang. 
Ang, Ung, Mang, Ong. 
Ang, Ung Mang.
Ong. 

Dari persenyawaan ini (Ang, Ung Mang) akan melahirkan rwa bineda atau 2 hal yang bertentangan yang terdapat di kedua mata kita. Mata sebelah kiri terletak aksara ang dan sebelah kanan terletak aksara ah. Ang dan Ah bila disatukan akan menjadi OM, yang merupakan sebutan Sang Hyang Widhi.

NETEK LIS
Ong Tipat Lepas, Angelepasaken Sarwa Laro Roga, Riprewetek Sarwa Pinuja, Ong Tipat Lasan Ngelepas aken Sarwa Agering Sapsap Merana Riprewtek Sarwa Pinuja metemahan Atma Paripurna ye namahn Swaha, Sarira Paripurna Yeanamah Swaha.


NYEJE NGAYAB

Mantram-mantram
1. Pengambeyan
Ong Sanghyang Sapta Petala,
Sanghyang Kosika Gana,
mekadi Sanghyang Tri Premana Pageh Ring Sang Tinamben-amben.

2. Sesayut Pembersihan
Ong Ksemung Siwa Mertha Yenamah Swaha,
Ong Ksemung Sadha Siwa Mertha Yenamah,
Ong Ksmung Parama Siwa Mertha Yenamah Swaha

3. Sesayut Sida Purna,
Ong, Atma Paripurna, Yenamah Swaha, Ong, Jiwita Paripurna, Ong Sarira Paripurna Yenamah Swaha   

3. Dapetan
Ong Atma Tatwatma Sudha Nirmala Yenamah,
Ang Ah Mertha Sanjiwa Yenamah Swaha.

4. Sesayut Siwa Sampurna,
Ang, Ung, Mang Ong Siwa Sampurna Yenamah Swaha.

5. Sesayut Amerta Wija
Ang, Ah Mertha Sanjiwa Yenamah Swaha.

4. Sesayut Paripurna
Ong Atma Paripurna Yenamah Swaha,
Ong Jiwita Paripurna Yenamah Swaha.

5. Tebasan Pemiak Kala
Ong Butha Piak, Kala Piak, pisaca pihak,
Teke pada piak (3 x) …. Yenamah Swaha.

6. Tebasan Lara Mararadan
Ong Nirmala, Niroga, Nirwigena, Yenamah Swaha.

7. Sesayut Pageh Urip.
Ong Dirgayusa Jati Ning Nirmala Yenamah Swaha.

8. Sesayut Atma Rauh.
Ong Atma Antaratma,
Niratma Suksma Nirmala Yenamah Swaha
Ong Sarwa Wisia Winayasa,
Sarwa Lara Wimoksanam,
Ong Sri Wenamu Namah Swaha.

9. Semua Peras                               
Ongkara Mukti Ayet                               
Sarwa Peras Presida Sudha                  
Yenamah Swaha.                                      

10. Pemuktian Banten
Ong Buktiyantu Sarwa Ta Dewa
Buktiyantu Sri Loka Nata
Segenah Sapari Warah
Suarga Sadha Siwasce
Ang Ah Mertha Sanjiwa Yenamah Swaha
Ang Ung Mang Siwa Mertha
Yenamah Swaha.

11. Pengeramped (Penutup)
Ong Jala Sidhi Maha Sakti,
Sarwa Sidhi Maha Tirta,
Sarwa Tirta Manggala Ya,
Sarwa Karya Presidanku.

12. Mantra Sesedep
Ong Ngadeg Sang Hyang Surya Candra
Mekadi Surya Candra,
Mangkana Langgeng Uripe Sang Adruwe Weton.

Segehan Cacah

Segehan Cacahan

Segehan ini sudah lebih sempurna karena nasinya sudah dibagi menjadi lima atau delapan tempat. sebagai alas digunakan taledan yang berisikan tujuh atau Sembilan buah tangkih.

Kalau menggunakan 7 (tujuh) tangkih;

5 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di timur, selatan, barat, uatara dan tengah.
1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam.
1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras.
kemudian diatas disusun dengan canang genten.


Kalau menggunakan 11 (sebelas) tangkih:

9 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di mengikuti arah mata angin.
1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam.
1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras.
kemudian diatas disusun dengan canang genten.
Keempat jenis segehan diatas dapat dipergunakan setiap kajeng kliwon atau pada saat upacara–upacara kecil, artinya dibebaskan penggunaanya sesuai dengan kemampuan.

Tampelan atau Base Tampelan
Dibuat dari dua lembar daun sirih, satu lembar berfungsi sebagi alas dan satu lembar lagi diatasnya diisi sedikit pinang dan kapur, kemudian dilipat turun dan naik lalu dijeprit dengan semat. Tampelan ini dipergunakan dalam tetandingan banten Canang sari, Penyeneng, Peras , segehan dan sejenisnya. 

Segehan Agung

Merupakan tingkat segehan terakhir. Segehan ini biasanya dipergunakan pada saat upacara piodalan, penyineban Bhatara, budal dari pemelastian, serta menyertai upacara Bhuta Yadnya yang lebih besar lainnya. Adapun isi dari segehan agung ini adalah; alasnya ngiru/ngiu, ditengahnya ditempatkan daksina penggolan (kelapanya dikupas tapi belum dihaluskan dan masih berserabut), segehan sebanyak 11 tanding, mengelilingi daksina dengan posisi canangnya menghadap keluar, tetabuhan (tuak, arak, berem dan air), anak ayam yang masih kecil, sebelum bulu kencung ( ekornya belum tumbuh bulu yang panjang) serta api takep (api yang dibuat dengan serabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk tanda + atau tampak dara).

Adapun maksud simbolik banten ini adalah :

alasnya ngiru/ngiu, merupakan kesemestan alam daksina, simbol kekuatan Tuhan
segehan sebanyak 11 tanding, merupakan jumlah dari pengider-ider (9 arah mata angindan arah atas bawah) serta merupakan jumlah lubang dalam tubuh manusia diantaranya; 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 1 lubang dubur, 2 lubang kelamin serta 1 lubang cakra (pusar).
Zat cair yaitu arak (putih/Iswara), darah (merah/Brahma), tuak (kuning/Mahadewa), berem (hitam/Wisnu) dan air (netral/siwa).
anak ayam, merupakan symbol loba, keangkuhan, serta semua sifat yang menyerupai ayam
api takep, api simbol dewa agni yang menghancurkan efek negatif, dan bentuk + (tampak dara) maksudnya untuk menetralisir segala pengaruh negatif.
Adapun tata cara saat menghaturkan segehan adalah pertama menghaturkan segehannya dulu yang berdampingan dengan api takep, kemudian buah kelapanya dipecah menjadi lima, diletakkan mengikuti arah mata angin, kemudian anak ayam diputuskan lehernya sehingga darahnya menciprat keluar dan dioleskan pada kelapa yang telah dipecahkan tadi, telor kemudian dipecahkan, di”ayabin” kemudian ditutup dengan tetabuhan. 

Ngaturang ajengan dananan (ajuman), segehan cacahan, tahanan penganteb di masing-masing sanggah cucuk 
Mantram setiap tempat sanggah cucuk masing-masing:
· Ring Maringeniang (kelod kangin)
· Ring nityam (kelod kauh)
· Ring Wayabya (kaja kauh)
· Ring Ersanya (kaja kangin)
· Ring Madya (tengah)
(disebutkan satu persatu setiap tempat pada mantram dibawah)

Mantram : Ong indah ta kita ancangang (maringeniang, nityam, wayabya, ersanya, madya). Iki tadah sajin ira ajengan dandana muang segeh cacahan ring sor , memukta sari ta kita kirang langkung ampura geng sinampura.
Poma - poma - poma.

Ngayabang segehan :
Mantra : --Om Ang Kang kasolkaya isana wosat
Om Swasti swasti sarwa bhuta kala
Suka ya namah swaha
Sonteng : Riwus sira amuktiaken segehan
muliha sira ring pasenetan nira sowang-sowang
Haywa ngrubeda , anyengkalen bhatara dewa ring kayangan sakti

Dilanjutkan dengan metetabuhan (arak berem)
Mantra : Om ebek segara, ebek danu, ebek banyu pramananing hulun

#tubaba@griyangbang#

Kamis, 14 April 2022

Pitutur Ida Hyang Sinuhun Siwa Putra Parama Daksa Manuaba

Pitutur Hyang Sinuhun


"De....... Eda sebet eda putus asa jalan idup ceninge nak nu lantang"......... 
Yen cening sedeng kebrebehan bedikang ningeh munyi di sisi  pet sube kadung dingeh depang eda celepange ke hati...... 

Orange jelek terima pisunange terima dogen. Kal kujang cening sedeng lacure sedeng liyu masalah jek mendep dogen eda ngelawan..... 

Yen cening kal membela diri nindihin awak beneh tusing ade lakar anak percaya.

Ning dingehan Bapa..... di angga sariran cening nak sube ngabe taksu, sube IDA melinggih....  

Ade nak nyelekan nak nuduh cening tidong tidong depang dogen....... 

Nak tatelu ade karma nyen cening:
1. Jani ngae jele tepuk jani.
2. Jani ngae jele tepuk durinan
3. Jani ngae jele tumitis buin cepok bise dadi  
     dongkang.

Keto nyen cening yen irage setate ngae jele..... 

De jejeh ning yen sube irage patut........ 

Siyu limangatus nak ngedegin cening tusing kenken...... 

Harus tetep kuat. Depang Bapa, Ida Bhtara sane nyayangan cening...... 

Nah eda sebet cening jalanin dogen... 
Suud cening mengeluh.... 

Gelengan nunasice pang kenak rahayu, mani Bapa pastika pacang rauh nulungin cening..... 

Yadiastun akeh pikobet ceninge 
Yen sube rajin megarapan, tugas utamane gelaran, rajin maturan rajin nunasice..... pastika rahayu kepanggih.

Eda cening ngeling, eda cening ngambul ulian bes keliwat sakit keneh ceninge, bes baat rasa tangkah cening naenan ujian idupe..., naenan sakite..., naenan kewehe jani..... 

Ingetang setata ngrastiti ....
Amongken je rejeki sane kepice monto tunas kanggoang. Yang penting seger ajak makejang.
Nyen nawang buin pidan sube lantas wanengne......... ditu pastika idup ceninge nemu bhagia. Swaha. 

#tubaba@griyangbang//nglungsurpituturhyangsinuhun#

Rabu, 13 April 2022

Daging Panyejeg

PENYEGJEG GUMI

Olih : I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd


Iti daging panyejeg gumi,luwirnia:
Gebeh agung maserobong ental, mawastra putih masabuk putih, songket emas, selaka, tembaga, besi canggah 9, besi canggah 5, canggah 3, maiket benang 9 warna, orti kampiah mekatik cenana maiket 9 warna, gedong pipis, lumbung songket sekar 108, lait emas, lait tembaga, lait besi, lait selaka.

beras timuan atenah, ketan, injin, pijer buah, pijer nyuh gading, Madaging pripih emas, makaput kasa, kemuning puunan, ancak bingin, ambulu, entikan jaka, entikan keladi, entikan isen, kunyit, jahe, temu pada puunan, temu tis, temu agung, temu giri, temu ireng, teu gongseng, jali, jagung, jawa, godem, jagung gabah, panak biyu kayu, biyu kayu atakep, serambungan, buah bancanagn, apuh wimukus, don ceruring, buah panca pala, bungkulan, tebu, utu, timbul, ketimun, who-wohan tegep, salak, manggis, duren, kepundung, ceruring, langsat, umbi-umbian, biaong buluh, ubi lelipi, bila, kuud, ental, gula sekerek, jinah 1700, ubi keladi, ragi, tebu, kelapa mulung, kelapa udang, kelapa gading, kelapa bojog, kelapa naga, kelapa bulan, kelapa rangda, kelapa songket,

Tumpeng manca warna, ayam manca warna, woh-wohan mentah mealed tamas, kacang komak, sudang taluh, peras, lis, -sesantun, nasi putih 5 tanding maulam taluh, nasi kuning 5 tanding maulam taluh, jerimpen tumpeng agung, guling bebek, bantal 20, ketimus 20, biyu 20.

Gebehe masaput wijila perahu medaging petala sutran sangku asiki madaging beras. jinah 225, benang atukel, batu bulitan, sampian sangga urip, sesayut pengambean, pras, penyeneng, sesayut purna jiwa, (nasi 3 pulung maulam taluh bebek rateng tigang iris, tajerang daun ajengan ika):
pancer kawat emas, kawat selaka, kawat temaga, kawat besi, maiket benang tri datu tanjebang ring pinjere, lebokene ring gebeh.
Suci asoroh, ketipat kelanan beras acatu, jinah 2000, benanng 10, sarwa pala, sarwa tumbuh, beligo, manas, sri kelili 3, ambengan 3 puun, ketipat bedawang, ketipat naga, ketipat surya, ketipat candra, ketipat lembu, ketipat sari, ketipat cakra, padi-padian, orti bunga, orti gede tumpang 11, gebehe makiter besi ngrayas, maiket benang tri datu. Bagia agung muang Kala Kerti, pateh dagingniya sekadi penyegjeg gumi sakewanten makirangin entik-entikan, sareng songket emas, selaka, tembaga, songket sekar, daging niya sarwa 4, yen penyegjeg gumi sarwa 10 pula kedaton sarwa 5.

#tubaba@griyangbang//pustakakidalangtangsub#

Senin, 11 April 2022

Makna Angka 19

Rerajahan pewintenan Wiwan jenisnya ada 19, sedangkan bagian tubuh yg dirajah berjumlah 25 tempat.... 

1. Apa maksud rerajahan jumlah 19 ?

2. Apa maksud rerajahan pada bagian tubuh sebanyak 25 ?

Angka 19 merupakan kunci utama akan keteraturan susunan huruf, kata, kalimat, jumlah baik, dan jumlah bagian-bagian tubuh manusia yang utama dalam Pustaka Lawar Capung Ki Dalang Tangsub tersebut diceritakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa menciptakan bilangan sebagai bahasa universal, yang dapat ditemui di seluruh ciptaan-Nya yang dijabarkan dalam bentuk satuan, ukuran massa, volume, kecepatan, dan lain sebagainya. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari, umat Hindu tak pernah melewatkan angka-angka atau bilangan itu. 

Dan, kitab suci umat Hindu, juga banyak menyebutkan tentang bilangan. Penyebutan angka 19 ini ternyata sangatlah menakjubkan. Bahkan, beberapa ilmuwan bidang matematika, telah menemukan berbagai hal istimewa terkait angka 19 ini.

Bilangan 19 adalah bilangan prima, yaitu bilangan yang tidak habis dibagi dengan bilangan mana pun, kecuali dengan dirinya sendiri. Bilangan prima lainnya adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23, 29, 31, dan masih banyak lagi. Para astrofisikawan meyakini bilangan prima sebagai bahasa komunikasi di alam semesta dan dijadikan sebagai bahasa, dalam melakukan percobaan komunikasi dengan makhluk angkasa luar.


Kamis, 07 April 2022

Mudra Pinandita Wiwa

MUDRA PINANDITA WIWA

PINANDITA WIWA / JERO MANGKU GDE DAPAT MENGGUNAKAN ASTRA MAMTRA MUDRA SESUAI DENGAN KEBUTUHAN PEMUJAAN, DAN SEBAIKNYA DENGAN BIMBINGAN SANG SADAKA.

Mudrā adalah gestur spiritual dan penanda energi dan keaslian dalam ikonografi dan praktik spiritual dalam tradisi agama Dharma serta Taoisme.

Pentingnya Mudra :
Mudra dapat digunakan untuk mengatur beberapa kegiatan psikologi refleks dan biokimia.

Mudra telah dibuktikan dapat membantu mengembangkan perhatian diri tentang aliran energi di tubuh halus.

Mudra juga mempercepat orientasi spiritual dan mendorong proses pengobatan diri sebaik pengobatan fisik.

Mudra menciptakan suatu tempat energi dan dapat digunakan dalam pengobatan.

Tujuan utama dalam mudra adalah mencapai tahap kesadaran yang lebih tinggi.

Mudra pada yoga merupakan mantra yang simbolik dan memberikan sinyal kepada kelenjar-kelenjar dan bagian otak tertentu tergantung tujuan dari meditasi atau yoga.
Pada yoga, posisi tangan yang sakral ini berhubungan dengan aliran energi pada meditasi tertentu.

Mudra membantu asana dan mantra

Mudra membangun kekuatan untuk pengembangan pikiran dan tubuh secara keseluruhan yang dapat menciptakan kedamaian dan kebahagiaan.

Mudra merupakan obat yang sangat cepat terhadap banyak penyakit. mudra dapat bermanfaat terhadap semua masalah baik itu masalah sehari-hari maupun penyakit yang parah.

Mudra membantu perkembangan fisik, mental, bahkan aspek moral seseorang.

Mempraktekkan beberapa mudra secara teratur dapat menyembuhkan insomnia, arthtritis, dan memperbaiki ingatan.

#tubaba@griyangbang//petanganan//astramantramudra#