Rabu, 19 April 2023

Banten Pawiwahan

Banten pengantin perempuan 
Banten pengantin laki=laki 


Banten pengantin perempuan 
pihak perempuan hanya membuat banten ayaban di bale, boleh bebangkit boleh juga pregembal 



Banten pengantin laki=laki 

Tebasan ardanereswari 

Tebasan manik sekecap 


Medengen-dengen
tumpeng 11 n tebasan semara ratih 



Cara nanding 

Tebasan ardanereswari : tamas, kulit sayut, 2 tulung sangkur, tumpeng putih kuning meplekir, raka, peras tulung payasan, kojong rasmen, .....

Tebasan manik sekecap : tamas, kulit sayut, biu potong cekak 4 isi gula merah meplekir, 2 tulung sangkur, raka, peras tulung payasan, kojong rasmen, .....



Banten Pawiwahan 


banten mungah di sanggah
di natah/natab beten 
di bale 
di dapur 

banten mungah : pejati nunas thirta  
di sanggah: bayuhan
di natah/natab beten : tumpeng 11, medengen dengenan
di bale : pregembal
di dapur : pejati melukat capcapan
banten mungah : pejati nunas thirta, surya

pejati : 
surya pregembal : 

di sanggah: bayuhan: 

di natah/natab beten : tumpeng 11, medengen dengenan 
1 tanding tamas, tumpeng 1, raka,
4 tanding tamas, tumpeng 2, raka, 
1 tanding tamas, tumpeng guru,
2 tanding tamas, tumpeng 3 (biasa disebut penyeneng, 
1 tanding tumpeng 4 
1 tanding tumpeng 5
tebasan petemon

di bale : pregembal
 2 jerimpen
2 sayut 
1 nasin sayut
1 tebasan

di dapur : pejati melukat capcapan 

 tumpeng 11 
tp 2 
tp 2 
tp 2, panak 5, raka, 
tp 1 
tp 1,
tp 3 

Tebasan salah ukur :

kala ngadeg : 
pengambean munggah
santun
soroan suci n telor ayam mentah 


- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS

Medengen-dengen
tumpeng 11 n tebasan semara ratih  

ulu : 
pejati
prngambean
santun 2 yi : nyuh 2, taluh 2

awak : tumpeng 11 n tebasan semara ratih 

ikut :
soroan gereng
soroan cenik
daksina
bengawan penyarikan
biukaonan

upacara pernikahan
Terlihat mempelai laki-laki memikul tebu Dan cangkul, sedangkan mempelai perempuan membawa sok asi (tempat dari anyaman bambu).
Terlihat nuansa budaya agraris masih lekat dalam acara pernikahan ini. Cangkul, tebu dan sok asi tetap dipertahankan ditengah era digital ini.
Hanya yang menjadi trend baru 10 tahun terakhir ini pakaian sepasang mempelai pakaiannya bak sepasang raja dan ratu. Mungkin karena mereka menjadi raja dan ratu sehari.
Kemudian sepasang penganten ini mengitari banten/sarana upacara sebanyak tiga kali. Itu tanda mereka mengikat janji setia, layaknya upacara pernikahan mengitari api suci di India.
Seusai itu, rombongan warga yang jumlah ratusan mengantar kedua mempelai ke rumah orang tua perempuan, mereka membawa seserahan, berupa jajan, daging babi, ketupat, bantal dan banten.
Para pemuka masyarakat dari bendesa adat, kelian dinas dan tokoh masyarakat melakukan pembicaran menyatakan kedua mempelai sah secara adat dan dinas.
Diujung acara para tetua keluarga perempuan diberikan tembakau yang telah digulung dengan daun sirih yang disebut lekusan.
Ini menunjukan budaya nyirih sebagai simbolis kekeluargaan dan keakraban. Kedua pasang suami istri ini berarti telah bersatu sekaligus menyatukan kedua keluarga besar mereka menjadi lebih akrab.








Yen di Klungkung daratan ane luh ngabe sok dagangan cenik. Ane muani meblanje. To simbol ketemu purusa predana mesemaya (mejanji) kal nyaluk grehasta asrama. Ane muani ngabe keris noes tikeh pandan. Ceciren pusaka metu jeroning urangka. Simbol laki2 bertanggung jawab untuk rumah tangga baru.


- JUAL ES KRIM / ES PUTER PERNIKAHAN KLIK DISINI

BACA JUGA :
-  LAMAR KERJA TANPA BIKIN CV KLIK DISINI
-  CEK LOWONGAN KERJA DI BALI KLIK DI SINI 
- Cara mudah Mendapatkan penghasilan Alternatif yang bisa anda andalkan
- DOWNLOAD FILM SUB INDONESIA GRATIS
- DOWNLOAD MP3 GRATIS

MAKNA RITUAL UPACARA PERKAWINAN DALAM AGAMA HINDU
• Upacara Medengen-dengen (”mekala-kalaan”) merupakan bagian yang terpenting di dalam rangkaian upacara pawiwahan (perkawinan), karena pada upacara ini dilakukan 'pembersihan' terhadap kedua mempelai, terutama 'sukla-swanita' (bibitnya) dengan persaksian Ida Sanghyang Widhi dan juga krama adat.
• Kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada 'Kala Sepetan', adalah merupakan suatu simbol untuk membersihkan diri, terutama ”suka-swanita”nya.
Kala Sepetan adalah sebuah bakul (”sok” dlm bahasa Bali), yang berisi ; telur ayam mentah, batu bulitan (batu hitam), kunir, keladi, andong, kapas, yang ditutupi serabut kelapa yang dibelah tiga dan diikat dengan benang ”Tri Datu” (benang 3 warna ; merah, putih, hitam), disisipi 3 batang lidi, ujung dadap 3 buah, yang masing-masing diikat dengan benang tri datu, dimana di dalam serabut itu diisi sebuah kwangen.
Buta Kala yang menerima sesajen dalam rangkaian upacara perkawinan dan juga Bakul beserta dengan perlengkapannya ini, adalah merupakan perwujudan ”Sang Kala Sepetan”.
• Upacara 'jual-beli' dengan menggunakan ”Bakul” (sok) yang berisi ; beras, bumbu-bumbuan, rempah-rempah (”anget-anget”), pohon kunir, keladi dan andong yang dilakukan kedua mempelai adalah merupakan suatu simbol saling memberikan / mengisi dan akhirnya tercapailah kata sepakat untuk membina rumah-tangga.
• Upacara merobek tikar, adalah merupakan simbol pemecahan selaput gadis dari mempelai perempuan. Tikar yang dimaksud adalah 'Tikeh Dadakan', yaitu sebuah tikar kecil yang terbuat dari daun pandan yang masih muda (hijau) dan dianggap sebagai kesucian dari mempelai wanita.
• Menanam kunir, keladi dan andong, adalah merupakan simbol untuk menanam bibit (mencari keturunan).
• Memutuskan benang putih pada 'pepegatan', adalah merupakan suatu simbol bahwa kedua mempelai telah melewati masa remajanya, dan kini mereka hidup dalam suasana yang baru yaitu sebagai pasangan suami-istri.
”Pepegatan” adalah ; dua buah cabang dadap (kayu sakti) yang ditancapkan agak berjauhan dari tempat upacara, yang keduanya kemudian dihubungkan dengan benang putih (”benang tukelan”).
• Upacara 'Ngeliwet', adalah merupakan simbol atau petunjuk, bahwa hendaknya sebagai suami-istri segala pekerjaan dilakukan bersama atau saling tolong-menolong, dan hasilnya dinikmati bersama pula.
• Upacara ”Natab”, adalah merupakan penyempurnaan di dalam rangkaian upacara perkawinan. Upacara Natab ini bertujuan untuk meningkatkan pembersihan yang telah dilakukan pada waktu dilakukannya upacara ”Medengen-dengen” atau ”Mekala-kalaan”.
• Upacara Mepejati (Mejauman), adalah untuk menentukan 'status' salah satu pihak.
Misalnya ; kalau jauman itu dibawa oleh pihak mempelai lelaki, maka mempelai wanita harus mohon diri (mepamit) kehadapan Dewa Hyang atau 'leluhurnya' di Sanggah / Mrajan-nya, dan juga keluarganya. Demikian juga sebaliknya, jika Jauman itu dibawa oleh pihak mempelai wanita, maka pihak mempelai lelaki harus mepamit kehadapan Dewa Hyang dan keluarganya, yang berarti pihak mempelai lelaki ”nyelosin” atau ”nyeburin” (nyentana) ke pihak mempelai wanita ••

Pendidikan / Pengetahuan merupakan Yadnya yg paling tinggi

Kenapa Pendidikan / Pengetahuan dikatakan Yadnya yg paling tinggi?
Pendidikan sejati akan membuatmu menjadi divine (bersifat ketuhanan).
Pendidikan bukan hanya sekedar pengetahuan kata-kata; melainkan harus memperluas pikiran. 

Hanya dengan meraih gelar, merupakan sesuatu yang tidak berharga. 
Yang lebih penting adalah karakter dan ini dapat dikembangkan hanya dengan mengambil jalan spiritual. 

Apa gunanya pendidikan yang tidak meningkatkan sifat-sifat yang baik? 

Ingat Gde,....bersama-sama dengan pendidikan akademis, engkau harus memperoleh kebijaksanaan dan bisa membedakan yang benar dan salah. 

Pengetahuan tanpa kebijaksanaan, 
ilmu pengetahuan tanpa determinasi, 
musik tanpa melodi, 
belajar tanpa kerendahan hati, 
masyarakat tanpa disiplin, 
persahabatan tanpa rasa syukur, 
dan berbicara tanpa kebenaran 

semua yang diatas ini sama sekali tidak berguna. 

Oleh karena itu setiap orang harus berusaha untuk mengikuti jalan yang benar. 

Bukan kebesaran yang terpenting tetapi kebaikan. 

Engkau hendaknya menggunakan pendidikan-mu dengan tepat untuk kebaikan masyarakat.

#tubaba@griyangbang//Tetap Semangat//Semoga semuanya berbahagia selalu#

Senin, 17 April 2023

Jangan Menentang Beliau

JANGAN LUPA DAN TERUS MENENTANG IDA BHATARA KAWITAN
“Diberitahu hal yang benar, malah ngeyel!” 

Apakah Semeton pernah mengungkapkan kata-kata tersebut kepada orang lain? 

Mungkin kita pernah mengatakannya, atau justru menerima kata-kata tersebut dari orang lain. Istilah “ngeyel” berasal dari kata dasar “eyel” yang artinya: tidak mau kalah.

Dalam kehidupan ini, ada situasi-situasi di mana kita perlu bersikap “ngeyel”. Terutama, ketika kita sedang berhadapan dengan aneka kecemaran dan godaan. Dipengaruhi supaya korup, kita harus “ngeyel” untuk tetap jujur. Diprovokasi supaya membenci, kita harus “ngeyel” untuk tetap mengasihi. Di tengah aneka pengaruh dosa, kita harus terus melawan, menentang, dan berusaha menang sebagai para bhakti yang setia.

Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari kita justru lebih sering “ngeyel” terhadap didikan Ida Bhatara Hyang Sinuhun, dan “kekeh” pada kebiasaan serta pandangan kita sendiri. Kita menentang perintah Beliau, karena kita merasa punya pemikiran dan rancangan yang lebih baik. Apalagi kalau perintah Beliau itu ternyata membuat kita merasa tidak nyaman, semakin kita ingin mengabaikan dan menghindarinya.

Bagaimana dengan kita? 

Apakah kita termasuk orang-orang yang “ngeyel” terhadap ajaran dan didikan Beliau? 

Apakah kita seringkali merasa bahwa pilihan kita jauh lebih baik dan menyenangkan ketimbang panggilan Beliau melalui ajaran dharma agama dan dharma negara? 

Marilah kita menjadi orang-orang yang memiliki keterbukaan pada proses pembentukan bhakti pada Beliau. Dengan kerendahan hati tersebut, niscaya hidup kita pun akan dipenuhi oleh damai sejahtera. 

Sebagaimana pesan terakhir Ida Bhatara Hyang Sinuhun sendiri, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”


#tubaba@griyangbang//teringat pesan terakhir//Ida Bhatara Hyang Sinuhun#

Minggu, 16 April 2023

Lontar Pamatuh Agung

Om Swastiastu.
Om Awighnamastu Namo Siddham. 
Om Hrang Hring Sah Parama Siwaditya ya Namah. 
Om Tat Pramadat Kesama Swamam. 
Om Santih Santih Santih Om


Nihàn pamatuh agùng paingkup àgùng, sarana, we anyar mawadah sibuh cmêng, siniratang mìdêr kiwà, ping 3, wus mangkanà, ktisin wong agring, kàdhi tingkahing matoyà, sisanya sinyuk kang gring, mantra, Om idêp àku bhatarà guru, jagran añjaluk pamatuh agùng, paingkup àgùng, kapatuh gumine dini, gumi aeng pamênggahan aeng, karapuh de nirà bhatarà guru, mwang ring sanghyang tunggal, patuh rapuh kàsih maring aku, pritiwi akasà, patuh ingkup kang bhùwanà, bhatarà guru bhatarà siwà, patuh wetan kidul, kulwan lor, rapuh patuh ingkup, bhatarà wisnu patuh rapuh, kasih maring aku, iswarà mahàdewà patuh

[21b] gumine dini, sanghyang srì indrà guru yamà ludra brahmà kàla ummà, patuh gumine dini, gumi aeng pakarangan aeng, patuh rapuh, asih maring aku, karapuh denirà bhatarà guru mwang sanghyang tunggal, kamàjayà kamà rathìh patuh ingkup, kamà kumatap-kumitip, patuh ingkup, guru dùrggà pitarà patuh ingkup, mangku gumi patuh ingkup, guru putrà guru putrì patuh ingkup, dewà pitarà patuh rapuh, kasih ring aku, nìnì bhatarì dùrggà, patuh kàla kabeh, pamali kabeh, patuh ingkup, siwaning pamali, pangrurahing pamali, patuh ingkup, pamali kabayan panyarikan, patuh ingkup, pamali ngapit ngalingkuwin, patuh ingkup, pamali bhùta bongol, patuh ingkup, bhatarà guru sanghyang tunggal, pamali sasawangan, aji- 

[22a] ajyan, patuh ingkup, pamali manunggek, pamali manusuk, pamali mañca warnnà, patuh rapuh kasih, ya nàma swahà, dewà patuh, manusà patuh, ya nàma swahà, UNG ANG MANG, dewà pamali ya nàma swahà, bhatarà guru angundhuràkna kàla pamali manyakitin, mulih ka kayanganmune, Om singgah, kàla singgah roghà desti, singgah, 3, hopetanàma. Pamatuh agùng paingkup agùng, mantra, UNG ANG MANG, gùmi samà g-umi sajagàt bhawanà, pritiwi akasà, sanghyang sùryyà ulan lintang trangganà, duk gumine sumdàngtalà, hanà dewà manusà, hanà gùmi wetthan, kidul, kulon, lor, maring tngah, kapatuh kahingkup padhà patuh, kasih, 3, bhatarà siwà pramanà mangrapuh gùmine dini, patuh sanghyang srì indrà 

[22b] guru yamà ludrà brahmà kàla umà, patuh ingkup sabhùwanà, bhatarà guru sanghyang tunggal, patuh ingkup sabhùwanà, sing matangan masuku macangkêm masoccà, padhà patuh rapuh kasih maring aku, guru sumdangtalà, wintên sumdàngtalà, nrapuh gùmine sajagàt, kabeh padhà patuh ingkup maring aku, dewà pitarà mangku gumi patuh rapuh, durggì padhà patuh kasih, kamà dewà kamà dewì patuh ingkup, kamà cilì patuh, kamà ngandhang kamà singgah patuh ingkup, kamà satru musuhku, padhà patuh rapuh maring aku, dùrggà desti tluh trañjanà, padhà patuh ingkup, sing matangan masuku padhà rapuh kasih ya nàma, kapatuh guru tunggal, siwà, sanghyang tunggal, ibhù pritiwi, akasà, ngrapuh gùmi sabhùwanà, gùmi wetan kidul, patuh rapuh, gùmi kulon 

[23a], lor, rapuh patuh ingkup, gùmi tngah patuh rapuh kasih yà maring aku, gùmi aeng tgal aeng patuh ingkup, padhàsih paguyanganing warak, patuh rapuh sih, lulut àsih kapatuh, bhatarà siwà, bhatarà guru, mulaning gùmi, nìnì bhatarì dùrggà, ngrapuh patuh ingkup, sabhùwanà, kaki bhatarà kàla, ngrapuh kàla syu, padhà rapuh patuh ingkup, guru putrà putri patuh, kàla kali patuh, kàlacakra bhìwà patuh, bhùta kapiraghàn patuh ingkup, bh-uta mañca warnnà patuh, bhatarà siwà, sanghyang tunggal, bhùta siwà, kaki bhùta, patuh ngrapuh sing marà ring aku, bhùta abhàng irêng patuh ingkup, bhùta putih kuning patuh, bhatarà siwà guru sumdàngtalà, ngrapuh gùmine dini, patuh ingkup, bhatarì umà patuh ingkup, sabhùwanà, bhatarà siwà 

[23b] pramanà sakti, rapuh sabhwananing pamali, patuh rapuh ingkup àsih, siwaning pamali patuh ingkup, prapañcaning pamali patuh ingkup, pamali maktu mamoleng patuh ingkup, pamali pêpêt, pamali bgà, patuh ingkup, pamali ngalingkuwin, padhà patuh ingkup, pamali bhùta bongol patuh rapuh ingkup, pamali manusuk, pamali kowà sirà padhà rapuh, pamali sasawangan, acêp-acêpan, patuh ingkup, pamali manyakitin, patuh ingkup, bhatarà guru mulaning gùmi, aku ngêlwàr pamali nêduh, kita klod kawuh unduran sirà, kpuh randu pasadahan sirà, tukad dalêm pacêbùran sirà, apan àku anaking hyang tan katinghalan, aranku manik gumulung, têg nyêr, 3, pamatuh agùng pahingkup àgùng, wus munggah ing meru tumpang solas, ring akaryyà pamatuh agung 

[24a], asikêp sañjatà, cakrà, trisulà, gaddhà, iniring laweyan añjà pupu, raregek, kumangmang, mamdi, kutu-kutu padhà patuh ingkup, kasih maring aku, Om dewà patuh ya nàma swahà, Om kàla patuh ya nàma swahà, Om pamali patuh ya nàma swahà, Om manusà patuh ya nàma swahà, Om desti patuh ya nàma swahà, ONG ANG MANG, pomà, 3, sarana, toya anyar mawadah sibuh cmêng, ngalêkas ngarêpin sanggah kamulan, daksinna canang buratwangi, jinah 500, sapuputà.

Papatuh agùng, sarana, yeh anyar, mantra, ih twalen magnah ring pùsêring gùmi, aku wruh ring pùsêring gùmi, twalen magnah ring setrà, aku wruh ri huluning setrà, i twalen magnah ring huluning pangkung, aku wruh ring huluning pangkung, i togog magnah ring lawat, 

[24b] i twalen mandadi batu, batu mandadi paras, paras mandadi kukus, kukus mandadi yeh, yeh mandadi langit, langit mandadi lêmah, lêmah mandadi (ta)nah, tanah mandadi janmà, matmu padhà manyamà, i twalen magnah ring hati, matmu paturu yeh, sabdhanyà, ANG, brahmà, MANG, iswarà, UNG, wisnu, ingsun añjaluk pamatuh agùng, bhùta patuh, kàla patuh, dngên patuh, leyak patuh, tkà dewà patuh, tkà patuh ingkup, kalikà pucuking lidah, bhatarì durggà pukuhing lidah, bhatarì umà madyaning lidah, kalikà tulakàkna ring madyaning lidah, bhatarì dùrggà tulakàkna ring madyaning lidah, waluyà jati bhatarì umà, bhatarì umà mantuk ka cungkub cantiking lidah, tumurun iddhà bhatarà guru, saking swarggà sùràlayà, anggawà tirthà mahàmrêtthà, ring kundi manik, 

[25a] ngamrêthaning bhatarì umà, waluyà linukat dadi hyang rathih, mantuk ring swarggà sùràlayà, tananà dùrggà, tananà leyak, tananà tluh trañjanà, mantuk ring swarggà sùràlayà, amor sirà ring bhatarà guru, lah poma, 3.

Pamatuh agùng, sarana, yeh anyar, kayu sakti, talining bênang tridatu, 3 ilêh, siratàkna idêr kiwà, ping, 3, mantra, bapanmu, ANG, anganggo sakà wnang, salwiring mabàyu, masabdà, maidêp, tkà patuh, 3.

Nihàn pamatuh agùng bhùmi aeng mwang tgal pakarangan, sarana, we ring sangku, mantra, Om aeng-aeng, tan hananing aeng- aeng, ilà-ilà tan hananing ilà-ilà, mandi-mandi tan hananing mandi-mandi, wnang-wnang, tan hananing wnang-wnang, apan inghulun wênang, apan àku sanghyang dharmmà wisesà, anglukatên sabhùwanà, anglukatên jagàt, angalahakên bhùta dngên, 

[25b] angalahakên dùrggà dùrjjanà, anglukatên larà wighnà, uphataning wong atwà, ujar tan prasandi, uphataning desà, kalukat dening ganggà sakti, kagsêng de nirà bhatarà brahmà, sakà wetan kidul kulon lor ring tngah, ring sor, ring luhùr, gni mùrub makatar-kataran, panggêsêngan sarwwà mandi, lêbùr ila tan pasesà, Om sa ba ta a i na ma si wa yà, Om noranà bala-bala, dùk tan hanà saking tan hanà, angawang-ngawang, anguwung-uwung, dùk nora langit, dùk noràna pùrwwà, dùk noràna kekeres, dùk noràna madyà, dùk noràna komarà komarì, dùk noràna swastà, apan àku sanghyang dharmmà sakti, ngi, syah mangetan, aku mangundur, gni mangundur, bànyu manglor aku mangundur, grêh swaranku, krug kcapku, kilat angkihanku 

[26a] angin, apan àku angundurà, sakwehing doràkàla, bhùta dngên, sakwehing angkêr sagunnanmu, sapangan gunnanmu, sawisayanmu, kapugpug kapùjà denku, apan àku sanghyang dharmmà sakti, ngi, Om sanghyang tirtthà kamandhalu, angùrip-hurip wong janmà manusà, mandadakà kità matêtlês, makatles kita bhuwana alit, di lemah pucuking lemah mendek paguyanganing warak, has ulung kasiratan dening banyu suci, kalukat padha maluya jati, mamarek kita ring bhatari kusuma wadon, padha mamarekin kita ring bhatara guru, lanang mamarekan kita, wus mawarnna kita, wus mandadi kita widyadhara wudyadhari, sampun kita marupa dede, sampun kita marupa durgga, sampun kita marupa kumangmang, mantuk kita kaswarggan, madamar-damar kita, masu, 

[26b] luh-suluh kità, mabhìjà kuning kità, makêmbangùrà kità, molah-molah kità, pinakà patlasan kità, Om sa ba ta a i nama swahà, Om sanghyang tayà toyà, pinakàdyusanku, sanghyang ràja panulah pinakà kramasku, sanghyang mandiraksà pinakà kcapku, sanghyang hayu pinakà buratku, sanghyang tulak tanggul pinakà kmuhku, luput àku dinesti, luput àku sakryà upayà, apan àku tosing sanghyang tayà, aku sakti, ngi, Om sa ba ta a i na ma si wa yà, ngi, sarana, wìjà kuning, dapdap tis, pucuk bhàng, yeh anyar mawadah sangku, skar têmên, dyusaknà wong agring, mwang ring karang mìdêr kiwà, ping, 3.

Pangasih dùrggà, sarana, lêngà buratwangi, mantra, duh nìnì rekàmayà kosùnyà, sirà mangrekà leyak kabeh, desti kabeh, kawit irà wisnu ndadi mrêtthà, ngamrêtthaning 

[27a] sañjiwani dadi mabhikà, sah yà ikà, matmahàn dadi krêsnà, tibà sirà ring wilàtiktà, dadi rangda ring jìrah, sirà mangleyak masiwà ring sanghyang brahmà, majalaran ring bhatarì dùrggà, ring kayangan gandamayu, uripirà mrajàpati, patinirà bhatarà wisnu, ih ingsun manuduh ngrekà kità, apan ingsun sanghyang sùnyà nirmmalà, sahà wongkarànglayang, amatuhanà bhùta asih dewà asih, sing tkà satru leyak padhà asih, bàyu sabdhà idêp asih, brahmà wisnu padhà asih, iswarà asih, sing tkà padhànêmbah dungkul, sagunnà wisesà nêmbah, Om ngêlaring sùnyànang sadyà siddhi swahà. Idêp àku liman putih amangan pandestane tkà tulak, 3, sangkanmu 

[27b] saking sunda, tka punah tka punah tka punah, tka kita saking bali, bisa kita amasang gunna, wit kita saking sunda, aran kita ki calonarang, duk kita saking tngah, sang mpu pradah gurun kita, marep kita mangetan, bhuta putih siluman kita, marep kita kidul, bhuta bhang siluman kita, marep kita kulon, bhuta kuning siluman kita, marep kita manglor, bhuta ireng siluman kita, jumneng kita ring tngah, bhuta amanca warnna pandadyan kita, lungha kita maring kabuyutan, sang mpu pradah anglukat kita, lungha kita ring pempatan agung, kala kalika aran kita, bhujangga lewih anglukat kita, aja kita aweh ala, ring awak sariranmu, lungha kita ring setra agung, bhatari durgga angawe kita, apan aku pangawaking panca pandhawa, tan wani ya ring aku, wastu 

[28a] sing ngko andadyà mayà, tan wani yà ring awak sariranku, apan àku pangawaking sang mpu pradah, tkà patuh tulak tunggal, 3, tkà hilang ring awak sariranku, 3, sarana, talusuk kbo, tutuh dokna ring toyà mawadah sibuh cmêng, reh ngarêpin sanggar. Bhuta dngên saking sarirà, mêntokakên saking sarirà, bhùta dngên ring kulit, bhùta bhàng ring daging, wtu adalan ring wuk, bhùta saliwah ring otot, mtu saking jariji, bhatarà sangkarà ring tngah, mtu adalan ring rambut. tbah-tbah dadantà ping tlu, 3, amtuhakên bhùta, mantra, Ih tkà saking sarirà, iki tadahan tutùr palunghà, sun konkon maring syanu, anluh yà, andesti anrañjanà, mangsula maring awake, apan mangkanà panunalah lilah liluh lilah liluh, sing awdi den anêmbah, wdi, 3, 

[28b] mantra, Om aku mantênang mangùlih-ulih, êngko makasà, lambemu makarsà janà, tken awak sariranku, bisà ngko manluh manrañjanà, mulih atinmu, ngko bisà mamoro maniwang, mulih ring sukunmu, ring tanganmu, sakàlwiring mulih ring awak sariranmu, mulih tken somahmu, tken pyanakmu, tkà pugpug, dening awak sariranku, klod kawuh papundhuranmu, siddhi kedêp mandi mantranku, mantra, Om mayon minakà salarimu, samà minakà paturonmu, aku sang dangdang putih, kinonkon maring wumahmu, ati ngko sirêp, 3. sarana, sgà abhàng, wadahanà kawu, malih soring kawu, tatakanyà, klatkat suddhamalà, alêdnyà don byah, latêng, base, sulasih, katak lanang, matali lawe irêng, kutang ka marggàne agùng. puput.

Jumat, 14 April 2023

Lontar Yadnya

Om awighnamastu namo sidham !

Iti Widhi sastra Tapini, warah Bhatari Umadewi, sira hyang ing Pura Dalem maka lingga gama kerti, ulahing wang kamanusan, ndya ta lwirnya: Dewakerti, Budakerti, manusakerti, jagatkerti.

Samangkana kweh ikang parakerti palaning anadi wang, arep pun sira amara Yajna, nimita kweh wetunikang Yadnya, sapta Yadnya makadin ika, lwirnya: Aswameda-Yadnya, Siwa-Yadnya, Resi-Yadnya, Pitra-Yadnya, Bhuta-Yadnya, Manusa-Yadnya, Samodaya linuwihaken, pada luwih ika tinemunya, palaning Yadnya samangkana, apan maka lwih ikang prakerti kamanusan, apan ring manusa ika papulanya kabeh, manusa juga makawak ikang samangkana, paraning jagat, ala-ayu, amerta, wisia, papa-swarga, sukha duhkha, ika pada nuksma ring manusa nimita manusa juga wenang ulah parakerti, apan kabeh ikang Dewa, Bhatara, Kala, Bhuta Raksasa, Detya, Danawa, Pisaca, Danuja, Atma, Apitra, Pitara, Jin, Setan, Leyak, Tuju, Teluh Taranjana, Desti, Wat, Tiwang Prakasa, Moro, Pulung, Pamala-pamali, Anta Preta, Kala Dengen mwang Sarwa Marana, Gering, Gerubug, Sasab.

Mwang ikang sarwa jadma lwirnya: sato, mina, paksi, taru, buku, trena, lata gulma, stawara janggama, srepa, sarpa prani, kumalap-kumilip, kremi tetega, pipilika mwang sakutu-kutuning walantaga ika kabeh awaking papa, pada amrih swarga, amerih amerta, sama amrih linukata ring manusa, apanya sama mrih kamanusanya marmaning manusa juga wenang anyupat sira kabeh ri alanya, papanya kabeh.

Kunang yan ring manusa, sang Brahmana Pandita Siwa-Budha juga yogya ngentasakena ika kabeh. Ingentasa sakeng mala papa naraka, pancagati sangsara sira juga sayoga sinembah dening loka, anggeh Bhataraning jagat apan sang Brahmana Pandita juga maka lingganing tribhuwana sira makawak sanghyang Guru Tunggal, apan yan hana Hyang Bhatara mwah Dewa masarira angawatara, aunggwana ring jagat mandala, sakala niskala Sang Pandita juga wruh ring dadalan, pati lawan urip, mwang ri wetuning ala ayuning ulah nikang jagat, sang Pandita juga magawe rahayu landuh prawertining jagatraya, samangkana paribawa sang Brahmana Pandita teguh ananda ka Brahmacarya, nimita ayuning jagatraya.

Kunang waneh hana ling Bhatara Guru ring Bhatari :”Sajna Bhatari, pakena teguha denira, sang Brahmana Pandita wruh ring ka brahmacarya, sira juga umawak manira ring jana loka, nimitaning sira juga wenang makalingganing Igama Tirtha, sira wenang wehaken gama ri samanya janma, niyata sang guru puruhita maka sajnyananing sang pandita an mangkana de mami, manggeh sira Bhatara ring jagatraya, wenang sira sang pandita magawe papa swarga lawan waneh sira juga wenang papa swarganing mati, yawat lagi ahurip, ri ikang sarwa jadma, winuwus wuwusan, mijil saka riwastu sidi wakbajra lawan sandi jnyanan nira sang yoga maka dalana sanghyang weda, apan sang brahmana pandita maka awak ira sanghyang Linggabawa, pangastaning prawatek Dewata, Rsinggana, sida sanggacarana, luhur tan hana luhuran, apan sira wekasing luhur, sor tan hana soran apan sira wekasing sor. Agung tan hana agungan, apan sira wekasing ganal; lit tan hana litan apan sira wekasing ademit,”

“Samangkana kalinganika sira sang Brahmana pandita wruh ring ka brahmacarya nira, pagehing dharma susila, anandanga, kaswetambara nira, amolahaken kasteswaryanira, agegwana sanghyang Paramarta, twi tutwa ya, sang panita minakawit, ya sangkaning sangkan, ya paraning paran, apan sang Brahmana pandita, makawak ikang sinangguh utpeti, stiti praline, an mangkana sadnya bhatari yan ring manusa twi nika, marmaning sang brahmana pandita juga wenang mutusaken ikang sarwa Yadnya-Yadnya ring paraloka,ngaran angayoni, ngaran angajengi swaraja karya, Yadnya-Yadnya, kirti-kirti, punya-punya, dana-dana, tapa-tapa, yasa-yasa, brata-brata, ri salwiring ulah parakreti.

“Iki kabeh wenang diniksan de sang brahmana pandita, apan sira sang brahmana pandita maka putusing ulah parakreti, nimita sang brahmana pandita sinanggeh sang putus. Putusa nga. Subal. Kunang yan durung diniksan de sang brahmana putus, ri salwiring Yadnya-Yadnya swaraja karya, kirti-kirti nikang wang ring para loka tan sida putus, nga. Puput, tan wenang watek Dewa Bhatara ananggapi ikang Yadnya mangkana, kalinganya ikang sarwa kala bhuta juga wibuh karepnira amukti bebanten, pareng lawan sawunduk warganya prasama lilingse ring manusa, kapiragan, angaku-aku Dewa, angaku Bhatara, angaku sakti wisesa, ambodo ikang angaling-alingi ulat nikang wang bakti ring Bhatara mwang ring sarwa Dewa, apan abirama polah nikang kala alilingse ring janma, angaku Dewa luwih, moha murka karepa amangan anginum, awiwidhi an, umolah angigel awija-wijah, saha dulur ri imia-imia, angucap-ucap lan waneh atatangisan, kweh paripolahnya, amruguli wang bodo, twi tan wruh ing kalingan.”

“Sajna bhatari, ah duran samangkana ikang yogya ginegwan dening wang ring paraloka, ya ujar sang brahma sida pandita juga wenang tuten, saksat sabdaning Widhi wetun ikang ujar saka ri brahmana pandita, apan lumud ikang ujar inujaraken sang kaya ri sastra aji, tutur tatwadika, wuwus pinastika ring ala ayuning pamuwus-wuwus, ika sabda utamaji, mijil saka ri widhi sastra tinutnira de sang brahmana pandita”

“Kunang yan hana wruh mangrengakena, ndan rumesepa ri ati sumimpena, ri karungwaning ujar, sang brahmana pandita atutur ring rahayu, ikang wang mangkana, saksat mulih nugrahaning Hyang Widhi, lawan kaya olih sarwa mulya rajabrana kasukan sagunung, apan mapala ilang sarwa papa patakaning sariranira. Mangkana yogya kinemit de sang mahyun umungguhaken kasujananira.”

Ling Bhatara: “Uduh sira sang umara Yadnya, sang parama kerti, sang akinkin akirti-yasa nguniweh ta kita sang anggaduh gaman-gaman, rengo lingku mangke, dak sun warah I kita parikramaning bhakti, astiti ring gama tirtha, aja sira tan mituhu ri linging sastra, tan tinuta ring ujar sang brahmana pandita, apan sira wenang tinut, wenang pituhu denta, apan sira mawak titah, anyiwa-raga /anyumuka sira wenang. Kumwa lingku nguni, bhakti astiti pwa kita ring bhatara, aja tan pasamodana, tan pajamuga, tan pasloka-sruti mwang smrrti, ikang widhi widana juga yogya pasamodanakenanta, widhi widana ngaran ikang sarwa babanten, aja sira ababanten tan diniksan de sang brahmana pandita, aja tan sinirati tirtha saka ri sang brahmana pandita, apan sira sang brahmana pandita kewalya putusing sarwa Yadnya, sarwa puja”.

Yapwan samangkana, kang kaya apa polahe yan samangkana, dadi acengga langkah langgana kumalancang, ambisaaken tan bisa, ya ngawenangaken ikang tan wenang, angulumbung ngaran, anyiwa-nyiwa raga krepa, ika pwa anyumuka ngaran, anungsang gama. Kalingani kadi araning sungsang sumbel, apa nimita nihan samangkana, apan salah ulah, salah laku, ikang parakerti yadnya yan mangkana dadi salah rupa, dudu sira maka sirahnya, kalinganya ana asirah suku, ana asirah silit, aulu lawean, ulu tangan, mwang salwiring salah rupa, tan pasirah tan pasilit, tan pasuku, tan patangan, tan pacangkem, tan panetra, tan pakarna, tan parupa, apan wus kasurupan bhuta saryah. Ika mangdadyaken durmanggalaning jagat, rug rubuh ikang jagat karuganing kali teka tan pantara, ring sasab marana magalak, atemahan baur ikang Negara, maling makweh, apan ikang wang sama sinurupan den ikang bhuta kala saryah, mapanes akiris ikang rat.”

“Samangkana pawetunya ring loka, apan sinipatan dera Hyang Widhi, apan ri ulahing wang ring marcapada, tapwan anut ring ulah karma tata igama, tan mangugwani warah sastra gama, ri denya tan paka ulu sang brahmacarya, apan sira sang brahmana pandita ikang sayogya pinarasrayan dening paraloka sapta, apan ri ulahing wang ring marcapada, twi tatwaya sang brahmana ulu sanghyang igama, sang ksatriya sira bau sanghyang igama, sang wesya sira garba sanghyang igama, sudra sira suku sanghyang igama, ika ta sang catur warna maka pikukuh sanghyang igama, apan minaka angga pratangga sanghyang igama, samana pada sumurup umulihi sanghyang prajapati, umadeg sira sanghyang tunggal, ya sanghyang widhi pasadnyanira.

“Nahan ta pasurup nikang wangsa kabeh ri sanghyang igama, yogya kapratyaksan, apan pada pinalar-palar, pawangganya sama sowang-sowang.”

Ana sira sang brahmana rwa yan padulur wijilnira nguni saka ri yoga Bhatara brahma, atemahan sira brahmarsi, ri arini brahmana siwa buda, ya ta maka caksu sanghyang igama ring jagat, sang brahmana siwa sira caksu tengen, sang brahmana buda sira caksu kiwa

Kunang sang ksatriya saroro wijilnya nguni saking yoga sanghyang brahma, kang panuha di arani ksatira suryawangsa, metu saka ri bau tengen; kang ari satriya soma wangsa, metu saka ri bau kiwa sanghyang brahma, ya ta sira makawirburja sanghyang igama. Katrini nira waneh mijil satriya saka mulakanta sanghyang di arani Manuwangsa, nimita sang kesatriya wangsa sira

Wesya trini juga wijilnira nguni, saka ri nabi sanghyang brahma, maka awan ri weteng anerus ring pupu kalih, kang panuhane si Tan Kawur, pamadianira si Tan Kondur, si Tan Kober wurujunira, ya ta sira katrini pinaka utamangga sanghyang igama aduwe pada makadi nika.

Nikang sudrayoni sapta kwehnira, para ametu saka ri suku sanghyang brahma nguni, lwir aranira: Ki Bandesa, Ki Pasek, Ki Gaduh, Ki Dangka, Ki Kubayan, Ki Ngukuhin lawan Ki Salain. Ika sudra yoni inaranan, mijil saking sandi yoga Bhatara Brahma, nimita saptapatala di arena, ya ta sira nggeh suku sanghyang igama, apan sukarti sanghyang Prajapati sira, yakta kabeh ikang wang wenang makaulu ri sang brahmana pandita Siwa-Buda.

Ulu nga. sirah, sirah maka unggwaning amreta ring buwana sarira, nimitan sang brahmana pandita juga wenang sunga tirtha. Tirtha nga. Amreta, amreta nga. Urip, sira mawak uripnya sang hyang igama, sira juga wenang umucarana sanghyang weda nga. Tirtha, da nga. agni. Tirtha nga. urip. Urip nga. wiwa. Da nga. agni, agni nga. Brahma. Brahma nga. Buda. Samangkana sira sang brahmana pandita umawak toya, umawak agni, umawak urip, umawak pati. Toya nga. Wisnu, agni nga. Brahma, nyata suci nirmala, nga. Apan tanana camahnya sanghyang weda mijil saka ri waktra sang brahmana pandita. Waktra nga. tutuk, tutuk nga. suki, suki nga. Iswara, ya mawak angin ikang Iswara, sanghyang Parama Siwa pasanggahanira, ika ta sira mayanira sanghyang weda, ika nimita sang brahmana pandita juga makanggeh Sanghyang Siwatiga, lwirnya: Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, yan ring puja, sira Gurwiswara pwa ya sajnanira, sira wenang amratista sahalaning jaghat-raya ri sakala niskala, ring urip tekaning pati.

Kunang yan ana swayadnya, salwiring warajakarya, suka suhka, yan tan siniratan tirtha saka ri sang brahma sidha rsi tan ilang letuhing upakaraning yadnya, dadi camah campur ikang karya, tan arsa ikang Dewa Bhatara anodyani, anakseni, amukti ikang babanten.

Ika mewastu duhka sira Bhatara Surya Sewana, apan sira maka saksin ikang jagat raya, dadi ingatagira Bhatara Kala, lawan sawadokalanira kabeh, kinon de Bhatara Surya amukti ikang babanten, wastu kumarasah ikang sarwa kala bhuta marana kabeh, anusup-nusup pada ameta dahan.

Mur ikang sarwa Dewa, kasapa sira sang adreweya karya, mwang sanganyontengi, wastu rusak pada cendek tuwuhniya, apan kadi angruwakakena ucap-ucaping wong edan, pati jlamut, patisambat sambatin, samangkana marmaning kawastu de bhatara wang mangkana, tan sah anemu papa sangsara,keneng pamidi ri ulahnyan mangkana

Kunang yan sampun olih siniratan tirtha sang brahmana pandita, makadi yan sampun diniksan denira pinujakrama, lewih-alit nikang yadnya inaturaken, ya maha pawitra juga, katanggapa dening prawatek dewata mwang ri padaning Bhatara, ikang banten pinujakreti ika, anerus sida rahayu tinemunya sang adrewe yadnya ika mwang sang anukangi, karma Tapeni yadnya, maka nguni ring jadma manusa ikang inupakara, lewih sang pitara ingentas, sama amnggihaken patut, anatar galang apadang, samangkana pawarah Bhatrara Hyang Pramesti ri ikang para, yogya tinuta ri ikang wang loka parasrama, ayuwa sira apilih igama, apan tan ana akweh ikang igama inanggehaken denira Hyang Widhi, tunggal juga ikang igama maka lingganing buwana, ya Igama Tirtha, ikang suci nirmala juga suka tinanggapa dera Hyang Widhi, ya ika elingakena dena teguh

Kunang arep pwa sira amangunang swarajakarya, ayadnya-yadnya, puja parakerti, salwir nikang pinujakarma, ayuwa tan pangambek suci, dinuluri idepta rahayu, sabda menak, ika juga maka dasaring swayadnya, aja angangen prabeya, den lilawarana ikang manah, ayuwa pepeka, ayuwa tan suksara ring sang Brahmana Pandita, kumwa kadi lingkwa nguni, den prayatna pwa sira, apan kweh mahabhaya pamancananya, agung pakwehnira, ri pangaduning bhuta-kala karepnira amignani, angulati tadahanya. Ika ta kayatnakna, apan sira yan sampun apageh polahira, kukuh ring kasusilan, ring kapatutan, makadi ring kadharman, tinuta ring warah sastragama, mawastu trak ikang sarwa bhuta-kala sasab marana, tan wani ya lumincak mara maring manusapada, pada sinempen kinurung de Bhatara Dharma. Tan wineh sira kumarasah anusup-nusup, pati baksa-baksan. Ika Widhi Sastra Tapeni Yadnya maka dasar sang ayadnya Pangraksaning karya Bhuta Pila-pilu ring Purwa mangraksa Jiwaning wang adrewe karya Bhuta Rudita ring prantenan mangraksa sarwa reratengan. Bhuta Kakawah ring pascima, ring genah metanding, mangraksatetandingan. Ring Utara Bhuta Ari-ari, mangraksa saraja Drewe, marmaning suksekel ikang bhuta-kala pada akiris apan tan olih sakama-kama angguraga amet tadah anginum, apan ya wus kreti ikang desa-desa pakraman, tan hanang wyadi wyawahara, baya pakewuh, doh ikang agering sasab marana, dadi landuh ikang bumi, landuh tuwuhing sarwa janma. Mangkana lingkwa mami Bhatari , warahenangku mungwing aji, nga. Widhi Sastra Tapeni Yadnya, tlas.

Iki pangraksakaning karyasuka mwang duhka kunang, ana sang panca maha bhuta, ngaran, lima sanakira, sira sang atunggu wekasing bumi, lor, wetan, kidul, kulwan mwang ring madya, pada anyeneng Bupati, pada akweh wadokalanira.

Ikang ana ring purwa sang Bhuta Pila-pilu nga. Aputih rupanira. Sam namah swaranya, ring kulit pasusupan ika wenang kon mangraksa jiwaning wang ang adrtewe gawe, wenang gaweakena palinggih pangastitinya ring natar sanggah wates ring wetan, banten daksina gede, suci pras ajuman, rayunan pajegan putih warnanya, iwak olah-olahan, segehan agung 1. Sambat sang Bhuta Pila-pilu. Kon mangraksa jiwa karaksakena denira.

Iti aneng kidul sira bhuta Rudira, abang warnanira, Bam namah swaranya, sira wenang astitiakena ring perantenan, kon mangraksa sarwa reratengan, olah-olahan makadinya, palanya inih, tan ana wani wang anjajaburi, bancuri, anulak sarwa papasangan pakarya ala ring pangan kinum, saluwir srana ring pangan kinum pada geseng pugpug punah, tan dadi denya wang wedi, angrisebi gigining apuy. Bantenya: rayunan pajegan bang, iwak olah-olahan suci, peras ajuman, daksina gede sarwa 4, segehan agung 1, sang sinambat Sang Bhuta Rudira, kon mangraksa pebat, karaksa denya.

Ikang maring kulwan, sira sang Bhuta Kakawah, kuning warnanira, Tam namah swaranya, wenang astityakena ri unggwaning atanding banten, sira juga kon mangraksa tatandingan, denya nora-nora kaceb-ceban mwang kariseban akarya banten, tan kabijadinan kinaduk dening bhuta-kala, mwang kagamangan, kaejinan, mamedinan, salwir nikang mangaduk magawe salah pakarya, ya sira sang Bhuta Kakawah kon mangraksanana irika. Bebantenya: rayunan pajegan kuning, iwak olah-olahan, suci peras, ajuman, daksina gede sarwa 4, segehan agung 1, sang sinambat Sang Bhuta Kakawah, kon manghraksa irika ring babanten karaksa denira.

Ikang maring lor, sira sang Bhuta Ari-ari, maireng warnanira, Am namah swaranya, sira wenang kon mangraksa sarajadruwe nira sang adrewe karya, lwirnya: beras, arta, kanaka, rajata makadinya, tekaning salwirnya upasubaning karya, iwak-iwak. Palanya sida rahaytu mwang inih, tan ana dusta durjana wani anglengiti.

Yan tan ana samangkana, wastu kena gering rahat kapati-pati kadenda de wadokalanira sang bhuta Ari-ari, yan maneher tan winangsulaken meh awan ikang pejah, mangkana pangraksanira Sang Bhuta Ari-ari, ika sira wenang astitiyakena ri genahing anegdegaken beras, ring umah meten wenang. Bantenya rayunan pajegan ireng, iwak olah-olahan suci, peras ajuman, daksina gede, sarwa 4, segehan agung 1, sang sinambat sang Bhuta Ari-ari, mangraksa rajadrewe kasuka karaksa denira.

Ikang ana ring madya, nga. Sang Bhuta Kamajaya, amanca warna rupanira, Im namah swaranya, sira wenang kon mangraksa satekan ikang tamuy, wenang atitiakenaring bale sanggraha, mwang ring natar wenang palanya suka rahayu satekan ikang tamuy ambek suka. Banten: Daksina gede, rayunan mawarna, iwak olah-olahan, suci, peras, ajuman, segehan agung; palanya rahayu, wenang karaksa katekaning saunian-unian karamyan, igel-igel, tan ana panyangkalanya, apan sang manca sanak ika tuhu sakti dahat pada wisesa mangreh wadokalanira maketi-keti, ika wenang atityakena.

De sang angamong karya, saka ri tembening nyambut gawe wenang jejerakena kang daksina aturi banten sari-sari, nga. panyahian, jotan mwang pasegehan. Ri sampun masaning karya atatampahan elingakena wehan bebakaran mentah. Ri karyane wehan rayunan linggih, karangan, sega sokan pada sowang-sowang yan alit kang gawe, alit juga pangacinya, wenang pras daksina mwang ajuman anut warnasegehan sasah anut warna, sasapanya rawos Bali juga wenang , kwala sambat namanya sowang-sowang, mwang sastra swaranya sakarepe angaksama wenang.

Ana mwah yogya kengetakena de sang ngraksa karya maka pamurnaning sarwa kala bhuta amigna ring sarwa karya, lwirnya: laban asu, denya tan wani ararusuh: carunya sega winadahantangkulak anyar kari kelapanya, iwak jajatah, susuni canang uras atanding, sambat sang Bhuta Ulusinga, kon angunbduraken wadokalanira watek brehala kabeh, ma. Om indah ta kita kamung Sang Bhuta Singapati, iki tadah ganjarana sira, amukti sira, ajaken wadokalan kita, wus sira amukti sari, sun kon angunduraken wadokalanira kabeh watek srigala, mangsa kabeh, aja wehi kari nger ing kenep sira wus inaweh ganjaran, den enak amundura sira, kabeh, ayuwa tan idep sabdaning hulun kita, apan padanira Bhatara ingaturaken yadnya, tuhu tan wenang kita anangalapan, amigna ya ta yadnya, Om Kala Srigala byo boktra byoh namah swaha.

Iki laban paksi gagak bantenakena ring luhuring atepca. Sega sapunjung , iwak taluh 1, mwah sega sasah, be celeng matah wenang rah atakir. Sang sinambat Sang Bhuta Gagak sona kon angunduraken wadokalanira. Mantra: Ih sira sang paksiraja, Sang Bhuta gagaksona, iki tadah ganjaranku ri kita, wehakena wadokalanta amukti kabelanira, wus sira amukti sari, mundur ta sirakabeh ring kadohan, adan amantuka sira ring alas, aja sira jumeneking kene, anggarugada, amangana babantenku, kedep sidi sabdanku, Om Bhuta Kaba byoh boktra byoh namah swaha.

Iki laban semut sepuh, tetani, salwiring krimi, yanya salah angde, carunya: sega mewadah tangkulak, iwak urab barak, urab putih, klapa asigar, mantra: Kita buh, sakwehmu sarwa krimi kita kabeh, iki bukti tadahankwi ri kita, aja sira sumarab, kumarasah, papupulta kita kabeh pada amangsana segeh; wus sira amangana segeh, pamulihta kita ri buhloka desan kita apunpun ta kita ing kana, antosakena sengker-tahanmu papa anunggu kita pamastu Dang Gurwiswara, Om krimi buh byoh loka namu namah swaha.

Ana malih yan ring karya ayu, ri padewa aran, ring pura ring sanggah parhyangan, makadi ring payadnyan; ana sira Sanghyang Panca Resi rumakseng kana, Sanghyang pancasiwa pasanggahanira sira wenang maka pamurnaning sarwa cuntaka ri sang adrewe karya, lwirnya karma magelakena wenang astitiakena ananceb sanggah tutuan alit 5 kwehnya, amanca desa unggwanya, ring panyamuhan dewasanya. Ikang ring prwa ring wates papageran ring purwa unggwanya bebantenya daksina, suci, sodan, peras ajuman, katipat kelanan, iwaknya ayam putih pinanggang, canang sagenep, tadah sukla . Sang aturi, sira Bhagawan Kosika, Mam Namah wswaha swaranya.

Ikang ring daksina, genah pangastitiyanya ring dapur panyucian, bantenya sama kadi arep kupatnya iwak ayam wiring pinanggang, katur ring Bhagawan Garga, Am Namah swaranya.

Ikang Pascima genahnya ring lebuh, ring sanding pangubengan, bantenya pateh, kupatnya iwak ayam putih siyungan pinanggang. Katur ring Bhagawan Metri, Om Namah swaranya.

Ikang utara, genahnya ring sumur, yan tan hana sumur wenang ring gohaning angamet toya nggwanya, bantenya sama kadi arep, kupatnya iwak ayam ireng pinanggang, katur ring Bhagawan Pursya (?), Um namah swaranya.

Ikang ring madya genahnya ring tengahing natar bantenya sama, kupatnya iwak ayam brumbun pinanggang, katur ring Bhagawan Wrehatnala, Yam namah swaranya.

Iki panglukatanya Sanghyang Panca Siwa pangilang sarwa cuntaka mwang letuhing dina, sadana toya anyar samsam beras kuning, sekar warna lima, lalang lembaran 5 katih, padang lepas 11 katih sagi-sagi: peras daksina, sodan, ajuman panyeneng, sorohan, lis, artanya 527 . Iki pujanya: Ma. Om siwa puja karyem seni, sarwa papa klesa punyam, sarwa wignam winasyanti, pataka cuntaka nasanam. Tungtungana sarwa blikam. Maka pamurnaning pemarisudanya, ma.Om sarwa blikan pritiwi, Brahma, Wisnu, Iswara, anaking Dewaputra, sarwa wastu, sang prauyeng, sarwa doh, suda mala, suda papa suda pataka, suda sawiraning dasamala, suda roga, suda danda upadrawa, bayu-putrastu namah swaha. Om Siwa sampurna ya namah swaha. Ri wusing pinuja, siniratakena ring saiderin pakaranganya mwang ring upasubaning karyanya.

Iki pangalang-alang dewasa sang amangun karya, kayatnakena denta, alanya anerus tekeng putu buyut, ameda-meda amignanya mwang alpayusa palanya, lwirnya anut sasih, maka pamarisudanya juga gelarakena rumuhun, kala dewasaning anyambut gawe pangruhunya, wenang yeki maka pamrayascitanya, lwirnya: carukena rumuhun ikang sarwa mentah, tadah pawitra, bubuh pirata mwang prayascitta. Teher ri karyanya, ika carukena ikang sarwa rateng duluranya kadi arep , tan sah peras daksina, sodan, lis sorohan sehetan;

Lwirnya yan ring sasih 1, tan ana ngalangana, terus rahayunya.

Ri sasih 2, kaalangan dening Bhatara Gana genahing acaru ring sanggah, sinambat Bhatara Gana, Bhatara Guru Dadi.

Ring sasih 3, kaalangan ring Hyang, genahing acaru ring pemunjungan, kang sinambat Bhatara Hyang.

Yan ring sasih 4, kaalangan ring Hyang Guru Pitara, genahing acaru ring perantenan, sinambat Hyang Guru pitara.

Yan ring sasih 5, tuhu tan ana kaalangan, rahayu terus karya ika.

Yan ring sasih ke 6 kaalangan deni sang Bhuta Dengen genahing acaru ring lebuh sinambat Sang Bhuta dengen.

Yan ring sasih ke 7, kaalangan dening Dewata, genahing acaru ring sanggar

Yan ring sasih 8, kaalangan dening Kala, genahing acaru ring marga agung nyambat sang Kala ngadang.

Yan ring sasih ke 9 mwang ke 10, kaalangan dening Hyanag sinuhun kidul, genahing acaru ring sanggar rongan ring tengah , sang sinambat Bhatara Sinuhun Kidul.

Yan ring sasih Jyesta mwang Sada, kaalangan dening Ibu Pretitiwi, genahing acaru ring natar, sang sinambat Ibu Pritiwi. Telas.

Nihan kayatnakena kalaning swarajakarya, katekan durmita, udan riyut mwang papeteng, duluri kilat anduru, sira Sang Bhuta Yaksaraja, tatiga sanaknya sakti wisesa ngaran sang Bhuta Pritiwi, Sang Bhuta Tapah, Sang Bhuta Akasa, ika ta wenang astitiakena pinintasrayan, ri karaksan ikang swarajakarya, anrangana kang sindung riyut, den adi paripurna, sira ta wenang adegakena ring sanggah tutuan tumpang 3.

Bantenya ri tumpang pinih sor: daksina, suci, peras, ajuman bang, iwak ayam wiring pinanggang, rayunan pajegan iwak olah pajegan, canang kembang payas, pasuciyan, sekar pucuk bang, sambat sang Bhuta Pertiwi.

Bantenya ring tumpangnya ring madya, daksina, suci, peras, ajuman, rayunan dadu warnanya, iwaknya ayam suda mala pinanggang, rayunanya iwak olah pajegan, saha duluranya pateh sang sinambat Sang Bhuta Apah Sunya.

Ikang ring luhur bantenya: pateh rupaning ajuman mwang rayunan kudrang, iwaknya ayam wiring kuning pinanggang, sang sinambat Bhuta Yaksa Akasa, irika sakawruhta ngaksama wenang basa Bali juga wenang.

Yan arangaken udan, yan angundang udan, ngundang angin, riyut papeteng, wenang irika aksamakena, kewalya gantyakena warnaning ajuman, mwang rayunanya dening segehan warna pelung ring luhur, iwaknya ayam bulu telu, kelawu, biru wenang. Ireng ring madya, iwaknya ayam ireng. Dadu ring sor iwak ayam wiring kuning.

Iti mantra gagelaran Sang angraksa karya, angramangaken pustaka yeki krama minta nugraha rumuhun ring bhatara Siwa Dharma, Siwa Nirmala, makadi ring Bhatari Saraswati, dena wenang kita rumaksa karya, tan keneng sapa tulah pamidi, twin matatengeran, angelaraken saluwirin gaman-gaman iki mantra stutyakena rumuhun, saha ngarepaken sesantun, peras, ajuman, soda, punjung, rayunan, canang lenga wangi burat wangi, panyeneng, sorohan, lis, arta 700. Ma. Om Siwa anugraha nirmala, sarwa karya guna suda nirmala namah, Om Saraswati paramasidya ya namah swaha.

Wus mangkana, tumuli aturakena ikang banten ika kadi lagi, tepung tawar, lis rumuhun, sirati tirtha pabersihan, ayabakena ring Bhatara Siwa nirmala, ma: Om hyang angadakaken sari, hyang angaturaken sari, hyang amukyaken sari, teka asari, tinggal asari pawitraya namah swaha, Om Dewa boktra sri Jagat guruya namah swaha.

Iki kramanya sang atapeni, nga. Sira sang anukangin banten, ayuwa wong sudra jadma angawaki tukang banten , tan wenang, baya kena soda dera Bhatara, makadi dera Bhatari, balik sang Maha Patni juga wenang umadegaken tukang, agelar kramanya Sanghyang Tapeni . Kang durung wang sudiksa, tan wenang apanya wang kari rumaketing camahning panca wimala, palanya kroda sira Bhatara kasudha tirtha sang Pandita, maka pamlaspas banten.

Ngadegang Widhining Tukang

Guruning Tukang Hyun kadenda wang adruwe, apan tan manut kramanya, sarwa papa laraning bebantenya ika, kawastu de Bhatara anadi Bhuta Kala, ika angregani setata, kena gering kepati-pati sira, mwang sasar temahanya, ri wekasan, mangkana ala tinemunya.

Yan ya wus abener kramanya, tekeng jejahitanya anadi dewa, apupul dadi widhi rahayu, karananing widhi widana ngaranya ikang babanten.

Kunang yan tan Sang Wiku patni agawe banten, sapuputnya banten ika, wenang pinrastista rumuhun de sang Pandita sira juga sunga tirtha maka palaspas banten ika. Samangkana yogya gelarakena rumuhun, tinuta warahing aji. Ayuwa langgana sira amarugu, ila estu palanya. Nahan ta karuhunakena krama tapeni, duk angengkab karya bebanten, ring penyamuhanya akarya sesanganan adegakena widhi ning tukang rumuhun, Bhatari Uma sira maka widening tukang, maka sajna sanghyang Tapeni ana pariwaranira watek apsari, maaran Dewa Pradnya, Dewa Kedep, Dewa Wastu. Ika maka guruning tukang atanding banten ika astitiakena rumuhun dening sopakaraning daksina panuntun mwang peras, canang wangi-wangi, soda ajuman katipat kelanan, canang raka, rayunan muncuk kuskusan, iwak sarwa suci, sari arta sakotama, iti mantra pangastutinya uncarakena,

Ma. Om Parwati twam nama swami, Rudra patni tapa sidhi, dewa wyatam sudha swamam, sthanugraha karanam. Om Gori Uma natha syami. Rudra deha Dewa sidhi, yasa swamam gunawati, bhakti nugraha karanam Om hrang, hring sah Bhatari Uma Dewaya namah swaha. Pukulun paduka Bhatari Tapeni, sira Dewa Pradnya, Dewa Kedep, Dewi Wastu, ingsun aminta sih kretanugraha sira bhatari, amangun widhi widana ulun asing kirang sampun tan agung sinampura sira ri pinakeng ulun makadi ri sira sang amangun yadnya swarajakarya, apan ana Sanghyang Tribuwana maka pangardiyaning sarwa pasubhaning babanten, Sanghyang Weda wruha amituduh ikang sarwa pinuja, Sang Sidha Resi ana rapatana pakulun.

Tumuli aturi babanten soda rayunan, Ma. Om Pukulun paduka Bhatari Sudewi, ingsun angaturaken panjiwa mwang sari, yogakena ta pakulun amuktya sari amerta, Om Ung Ang Ah, amerta sanjiwani namah. Ayabakena.

Mwang ana pariwaranira watek bhuta, ngaran Ni Bhuta Kencak, Ni Bhuta Swadnya, Ni Bhuta Pancad, ika kang juru karya gupuh, wehana labanya, sega telung pangkonan iwak sakawenang, ikang nampi karangan, mwang bebakaran, iki sesapanya : Ih dewa Sang Bhuta Pancad, Sang Bhuta Kencak, Sang Bhuta Swadnya, iki bukti sajinira, wus sira amuktya sari, atulung sira ring ulun anyambut Bebanten maka rupa reka anggan Bhatara gawe, tuduhan ta ulun, warahan karya bener, sakawruhanta, poma-3x.

Wus mangkana angawiti sira akarya, den ambek suci juga, aywa sabda gangsul, wak prakasa, mwang cemer, tinemah kita de Bhatari, balik sabda rahayu juga ucap menak maka ucapanta, apan ri sedengta akarya babanten ya ika kalanta angajum rupa warna mwang pawangganing sarwa Dewata-Dewati, Bhatara mwang Bhatari. Ika nimitaning widhi widana aranya, ikang sarwa bebanten, apanya dadi lingga, dadi saksi, dadi cahya, dadi cihnaning wang astiti bhakti ring widhi panunggalnya ya ring raga sarira juga stananing widhi anuksma, ring bumi unggwaning astuti, unggwaning astungkara, unggwaning Umastawa sira.

Karananing widhi widana nga. Widhi , nga. Bhatara; wi, nga suksma; dana, nga sakala nyalantara; kalinganya ikang bebanten juga pinakareka rupa warnanira Bhatara, rinekani rupa kadi tingkahing kawongan, pada sowang-sowang. Ayuwa sira sang tukang angangapus-apusi tatandingan, amunjuk lungsur, angurang-ngurangi, angalebih-lebihi, tan manuta ri warah mami Bhatari Tapeni, umungguh ing Empu Lutuk apan saksat anguwah-uwuhi raga sarira, ala dahat pala tinemunya, ri kapatyani, lewih papa narakanta kadenda de Yama Bala, dumadi sira wekasan, wetu salah rupa, wetu mala katuna lebih ring sarira, mangkana temahanya.

Iti mantra amlaspasi sarwa bebanten sapuputnya tinanding sedana toya winadahan payuk anyar, Ma. Om Brahma tirtha ya namah, Om Wisnu tirtha ya namah, Om Mam Iswara tirtha ya namah, Om Siwa tirtha ya namah, Om Sadasiwa tirtha ya namah, Om Paramasiwa tirtha ya namah, sahitya sarwa Bhutanam, sarwa wisya sarwa boja, sarwa papa winasaya, apawitra pawitrayam, Om Am Brahmaya namah, Om, Um Wisnuya namah, Om Mam Iswaraya namah, Om Amkaro Bhagawan Brahma, tatwa jnanam mahotamam andeham paraham paraham guhyam, swasti-swasti mahatmanam, Om Um karo Bhagawan Wisnu , Dewanam sarwa busanam tanurawegara twate, hari dewam namostute. Om Mam karo Bhagawan Isa, Iswara, Parameswaram, dadami amertatmakam, grhniswaya namah, swaha.

Mwah iti pangurip bebanten: OM SAM, BAM, TAM IM, SRI Gurubyo namah, nama Siwaya, Sri adiguru byo namah, AM, UM MAM, OM sri paramadiguru byo namah; Tlas.

Idep umawak sanghyang Tribhuana kang banten , denta puja mwah ri pangadeganira ma. OM KAM KAM GAM GAM GAM namah swaha, CAM-CAM JAM, RAM, L;AM, WAM namah, OM UM namah, OM REM naman OM LEM namah, OM UM namah, OM UM namah. Telas.

Mwah iki prmalinan banten, ma. Om Tripurusa byo namah, Om sapta kabukti byo namah om nawagraha kabukti byo namah, om, Suksma wali Hyang namah, om Taya namah swaha, Om pritiwi apah, teja, bayu, akasa, om windu om sunya Taya swaha.- Iti pujan panggungan, mwang pras-prasan, tlas.

Iki mantran sorohan alit, ma. Om pukulun sanghyang siwapi-caturmuka, dewabyuha, sira ta bhagawan Ra Tangkup, sira ta pukulun , angeseng lara roga, makadi ipen ala, sot sata, gempung muksah ilang tan pasesa, denira sanghyang Siwapi caturmuka dewa byuha Om sidhir astu ya namah swaha.

Malih panutup pujan banten ring lahapan, nga. Ring panggungan, ma. Pukulun sira Sanghyang Dharma den elinga sira ri palungguhanira sowang-sowang amuktya sari, atinggala sari, jumeneng pukulun, sira tan keneng sari.-Telas.

Om Santih Santih Santih Om

Share this:
Click to share on Facebook (Opens in new window)Click to email a link to a friend (Opens in new window)Click to print (Opens in new window)Click to share on WhatsApp (Opens in new window)
Loading...
Related
Indik Lontar Sasab Merana
Om Swastyastu, Kecaping lontar (Widhi Sastra, Rogha Sanghara Bhumi, Swamandala, Dharma Pemaculan, Aci-Aci Ring Bhatara, Baka Bhumi, Usada - Wisada Sawah, Puja Daha, Kuttara Kandha Purana Bangsul, dll.) miwah kitab suci weda (Atharwa Weda, Yajur Weda, Bhagavadgita - Cakra Yajna). Inggih Ida dane pamedek sami sane wangiang titiang. Pengaptin umat…

May 11, 2020
In "Articles"


Tutur Kalimhosadha
July 27, 2019
In "Articles"

Indik Karya Agung Mamungkah dan Ngenteg Linggih
III INDIK KARYA AGUNG MAMUNGKAH DAN NGENTEG LINGGIH A. PERIHAL YADNYA Dasar ajaran agama Hindu terdiri dari filsafat, tata susila, dan upakara. Ketiga dasar pokok ajaran tersebut merupakan kesatuan yang saling mengisi, menyempurnakan pelaksanaan hidup sehari-hari masyarakat Hindu di Bali. Hidup dan kehidupan masyarakat Bali selalu berkaitan dengan Yadnya. Umat Hindu Bali umumnya dipengaruhi upakara…

September 18, 2012
In "Articles"

May 13, 2018Leave a Reply
« Previous
Next »
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment * 

Name *

Email *

Website

 Notify me of new comments via email.

 Notify me of new posts via email.

Search

DAFTAR ISI
(no title)
(no title)
(no title)
(no title)
Notes
Siva Tattva Purana
Tattwa Buddha
Tutur Saraswati
Lontar Wrhaspati Kalpa
Sejarah Wangsa di Bali
SENTANA PAPERASAN
Lontar Andhabhuvana
Siwa Sesana
Kakawin Putra Sasana
TUTUR USANA DEWA
(no title)
Indik Lontar Sasab Merana
MAKNA SIWARATRI
Lontar Sanghyang Ajnana Wisesa
Lontar Sanghyang Kawuwusan Jati
Categories
Articles
Gallery

View Full Site

Blog at WordPress.com.

Menu
Search
Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari
Be Peace Today

Salinan Lontar Yadnya Prakerti
1 Vote

Salinan Lontar Yadnya Prakerti

Om awighnamastu namo sidham !

Iti Widhi sastra Tapini, warah Bhatari Umadewi, sira hyang ing Pura Dalem maka lingga gama kerti, ulahing wang kamanusan, ndya ta lwirnya: Dewakerti, Budakerti, manusakerti, jagatkerti.

Samangkana kweh ikang parakerti palaning anadi wang, arep pun sira amara Yajna, nimita kweh wetunikang Yadnya, sapta Yadnya makadin ika, lwirnya: Aswameda-Yadnya, Siwa-Yadnya, Resi-Yadnya, Pitra-Yadnya, Bhuta-Yadnya, Manusa-Yadnya, Samodaya linuwihaken, pada luwih ika tinemunya, palaning Yadnya samangkana, apan maka lwih ikang prakerti kamanusan, apan ring manusa ika papulanya kabeh, manusa juga makawak ikang samangkana, paraning jagat, ala-ayu, amerta, wisia, papa-swarga, sukha duhkha, ika pada nuksma ring manusa nimita manusa juga wenang ulah parakerti, apan kabeh ikang Dewa, Bhatara, Kala, Bhuta Raksasa, Detya, Danawa, Pisaca, Danuja, Atma, Apitra, Pitara, Jin, Setan, Leyak, Tuju, Teluh Taranjana, Desti, Wat, Tiwang Prakasa, Moro, Pulung, Pamala-pamali, Anta Preta, Kala Dengen mwang Sarwa Marana, Gering, Gerubug, Sasab.

Mwang ikang sarwa jadma lwirnya: sato, mina, paksi, taru, buku, trena, lata gulma, stawara janggama, srepa, sarpa prani, kumalap-kumilip, kremi tetega, pipilika mwang sakutu-kutuning walantaga ika kabeh awaking papa, pada amrih swarga, amerih amerta, sama amrih linukata ring manusa, apanya sama mrih kamanusanya marmaning manusa juga wenang anyupat sira kabeh ri alanya, papanya kabeh.

Kunang yan ring manusa, sang Brahmana Pandita Siwa-Budha juga yogya ngentasakena ika kabeh. Ingentasa sakeng mala papa naraka, pancagati sangsara sira juga sayoga sinembah dening loka, anggeh Bhataraning jagat apan sang Brahmana Pandita juga maka lingganing tribhuwana sira makawak sanghyang Guru Tunggal, apan yan hana Hyang Bhatara mwah Dewa masarira angawatara, aunggwana ring jagat mandala, sakala niskala Sang Pandita juga wruh ring dadalan, pati lawan urip, mwang ri wetuning ala ayuning ulah nikang jagat, sang Pandita juga magawe rahayu landuh prawertining jagatraya, samangkana paribawa sang Brahmana Pandita teguh ananda ka Brahmacarya, nimita ayuning jagatraya.

Kunang waneh hana ling Bhatara Guru ring Bhatari :”Sajna Bhatari, pakena teguha denira, sang Brahmana Pandita wruh ring ka brahmacarya, sira juga umawak manira ring jana loka, nimitaning sira juga wenang makalingganing Igama Tirtha, sira wenang wehaken gama ri samanya janma, niyata sang guru puruhita maka sajnyananing sang pandita an mangkana de mami, manggeh sira Bhatara ring jagatraya, wenang sira sang pandita magawe papa swarga lawan waneh sira juga wenang papa swarganing mati, yawat lagi ahurip, ri ikang sarwa jadma, winuwus wuwusan, mijil saka riwastu sidi wakbajra lawan sandi jnyanan nira sang yoga maka dalana sanghyang weda, apan sang brahmana pandita maka awak ira sanghyang Linggabawa, pangastaning prawatek Dewata, Rsinggana, sida sanggacarana, luhur tan hana luhuran, apan sira wekasing luhur, sor tan hana soran apan sira wekasing sor. Agung tan hana agungan, apan sira wekasing ganal; lit tan hana litan apan sira wekasing ademit,”

“Samangkana kalinganika sira sang Brahmana pandita wruh ring ka brahmacarya nira, pagehing dharma susila, anandanga, kaswetambara nira, amolahaken kasteswaryanira, agegwana sanghyang Paramarta, twi tutwa ya, sang panita minakawit, ya sangkaning sangkan, ya paraning paran, apan sang Brahmana pandita, makawak ikang sinangguh utpeti, stiti praline, an mangkana sadnya bhatari yan ring manusa twi nika, marmaning sang brahmana pandita juga wenang mutusaken ikang sarwa Yadnya-Yadnya ring paraloka,ngaran angayoni, ngaran angajengi swaraja karya, Yadnya-Yadnya, kirti-kirti, punya-punya, dana-dana, tapa-tapa, yasa-yasa, brata-brata, ri salwiring ulah parakreti.

“Iki kabeh wenang diniksan de sang brahmana pandita, apan sira sang brahmana pandita maka putusing ulah parakreti, nimita sang brahmana pandita sinanggeh sang putus. Putusa nga. Subal. Kunang yan durung diniksan de sang brahmana putus, ri salwiring Yadnya-Yadnya swaraja karya, kirti-kirti nikang wang ring para loka tan sida putus, nga. Puput, tan wenang watek Dewa Bhatara ananggapi ikang Yadnya mangkana, kalinganya ikang sarwa kala bhuta juga wibuh karepnira amukti bebanten, pareng lawan sawunduk warganya prasama lilingse ring manusa, kapiragan, angaku-aku Dewa, angaku Bhatara, angaku sakti wisesa, ambodo ikang angaling-alingi ulat nikang wang bakti ring Bhatara mwang ring sarwa Dewa, apan abirama polah nikang kala alilingse ring janma, angaku Dewa luwih, moha murka karepa amangan anginum, awiwidhi an, umolah angigel awija-wijah, saha dulur ri imia-imia, angucap-ucap lan waneh atatangisan, kweh paripolahnya, amruguli wang bodo, twi tan wruh ing kalingan.”

“Sajna bhatari, ah duran samangkana ikang yogya ginegwan dening wang ring paraloka, ya ujar sang brahma sida pandita juga wenang tuten, saksat sabdaning Widhi wetun ikang ujar saka ri brahmana pandita, apan lumud ikang ujar inujaraken sang kaya ri sastra aji, tutur tatwadika, wuwus pinastika ring ala ayuning pamuwus-wuwus, ika sabda utamaji, mijil saka ri widhi sastra tinutnira de sang brahmana pandita”

“Kunang yan hana wruh mangrengakena, ndan rumesepa ri ati sumimpena, ri karungwaning ujar, sang brahmana pandita atutur ring rahayu, ikang wang mangkana, saksat mulih nugrahaning Hyang Widhi, lawan kaya olih sarwa mulya rajabrana kasukan sagunung, apan mapala ilang sarwa papa patakaning sariranira. Mangkana yogya kinemit de sang mahyun umungguhaken kasujananira.”

Ling Bhatara: “Uduh sira sang umara Yadnya, sang parama kerti, sang akinkin akirti-yasa nguniweh ta kita sang anggaduh gaman-gaman, rengo lingku mangke, dak sun warah I kita parikramaning bhakti, astiti ring gama tirtha, aja sira tan mituhu ri linging sastra, tan tinuta ring ujar sang brahmana pandita, apan sira wenang tinut, wenang pituhu denta, apan sira mawak titah, anyiwa-raga /anyumuka sira wenang. Kumwa lingku nguni, bhakti astiti pwa kita ring bhatara, aja tan pasamodana, tan pajamuga, tan pasloka-sruti mwang smrrti, ikang widhi widana juga yogya pasamodanakenanta, widhi widana ngaran ikang sarwa babanten, aja sira ababanten tan diniksan de sang brahmana pandita, aja tan sinirati tirtha saka ri sang brahmana pandita, apan sira sang brahmana pandita kewalya putusing sarwa Yadnya, sarwa puja”.

Yapwan samangkana, kang kaya apa polahe yan samangkana, dadi acengga langkah langgana kumalancang, ambisaaken tan bisa, ya ngawenangaken ikang tan wenang, angulumbung ngaran, anyiwa-nyiwa raga krepa, ika pwa anyumuka ngaran, anungsang gama. Kalingani kadi araning sungsang sumbel, apa nimita nihan samangkana, apan salah ulah, salah laku, ikang parakerti yadnya yan mangkana dadi salah rupa, dudu sira maka sirahnya, kalinganya ana asirah suku, ana asirah silit, aulu lawean, ulu tangan, mwang salwiring salah rupa, tan pasirah tan pasilit, tan pasuku, tan patangan, tan pacangkem, tan panetra, tan pakarna, tan parupa, apan wus kasurupan bhuta saryah. Ika mangdadyaken durmanggalaning jagat, rug rubuh ikang jagat karuganing kali teka tan pantara, ring sasab marana magalak, atemahan baur ikang Negara, maling makweh, apan ikang wang sama sinurupan den ikang bhuta kala saryah, mapanes akiris ikang rat.”

“Samangkana pawetunya ring loka, apan sinipatan dera Hyang Widhi, apan ri ulahing wang ring marcapada, tapwan anut ring ulah karma tata igama, tan mangugwani warah sastra gama, ri denya tan paka ulu sang brahmacarya, apan sira sang brahmana pandita ikang sayogya pinarasrayan dening paraloka sapta, apan ri ulahing wang ring marcapada, twi tatwaya sang brahmana ulu sanghyang igama, sang ksatriya sira bau sanghyang igama, sang wesya sira garba sanghyang igama, sudra sira suku sanghyang igama, ika ta sang catur warna maka pikukuh sanghyang igama, apan minaka angga pratangga sanghyang igama, samana pada sumurup umulihi sanghyang prajapati, umadeg sira sanghyang tunggal, ya sanghyang widhi pasadnyanira.

“Nahan ta pasurup nikang wangsa kabeh ri sanghyang igama, yogya kapratyaksan, apan pada pinalar-palar, pawangganya sama sowang-sowang.”

Ana sira sang brahmana rwa yan padulur wijilnira nguni saka ri yoga Bhatara brahma, atemahan sira brahmarsi, ri arini brahmana siwa buda, ya ta maka caksu sanghyang igama ring jagat, sang brahmana siwa sira caksu tengen, sang brahmana buda sira caksu kiwa

Kunang sang ksatriya saroro wijilnya nguni saking yoga sanghyang brahma, kang panuha di arani ksatira suryawangsa, metu saka ri bau tengen; kang ari satriya soma wangsa, metu saka ri bau kiwa sanghyang brahma, ya ta sira makawirburja sanghyang igama. Katrini nira waneh mijil satriya saka mulakanta sanghyang di arani Manuwangsa, nimita sang kesatriya wangsa sira

Wesya trini juga wijilnira nguni, saka ri nabi sanghyang brahma, maka awan ri weteng anerus ring pupu kalih, kang panuhane si Tan Kawur, pamadianira si Tan Kondur, si Tan Kober wurujunira, ya ta sira katrini pinaka utamangga sanghyang igama aduwe pada makadi nika.

Nikang sudrayoni sapta kwehnira, para ametu saka ri suku sanghyang brahma nguni, lwir aranira: Ki Bandesa, Ki Pasek, Ki Gaduh, Ki Dangka, Ki Kubayan, Ki Ngukuhin lawan Ki Salain. Ika sudra yoni inaranan, mijil saking sandi yoga Bhatara Brahma, nimita saptapatala di arena, ya ta sira nggeh suku sanghyang igama, apan sukarti sanghyang Prajapati sira, yakta kabeh ikang wang wenang makaulu ri sang brahmana pandita Siwa-Buda.

Ulu nga. sirah, sirah maka unggwaning amreta ring buwana sarira, nimitan sang brahmana pandita juga wenang sunga tirtha. Tirtha nga. Amreta, amreta nga. Urip, sira mawak uripnya sang hyang igama, sira juga wenang umucarana sanghyang weda nga. Tirtha, da nga. agni. Tirtha nga. urip. Urip nga. wiwa. Da nga. agni, agni nga. Brahma. Brahma nga. Buda. Samangkana sira sang brahmana pandita umawak toya, umawak agni, umawak urip, umawak pati. Toya nga. Wisnu, agni nga. Brahma, nyata suci nirmala, nga. Apan tanana camahnya sanghyang weda mijil saka ri waktra sang brahmana pandita. Waktra nga. tutuk, tutuk nga. suki, suki nga. Iswara, ya mawak angin ikang Iswara, sanghyang Parama Siwa pasanggahanira, ika ta sira mayanira sanghyang weda, ika nimita sang brahmana pandita juga makanggeh Sanghyang Siwatiga, lwirnya: Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, yan ring puja, sira Gurwiswara pwa ya sajnanira, sira wenang amratista sahalaning jaghat-raya ri sakala niskala, ring urip tekaning pati.

Kunang yan ana swayadnya, salwiring warajakarya, suka suhka, yan tan siniratan tirtha saka ri sang brahma sidha rsi tan ilang letuhing upakaraning yadnya, dadi camah campur ikang karya, tan arsa ikang Dewa Bhatara anodyani, anakseni, amukti ikang babanten.

Ika mewastu duhka sira Bhatara Surya Sewana, apan sira maka saksin ikang jagat raya, dadi ingatagira Bhatara Kala, lawan sawadokalanira kabeh, kinon de Bhatara Surya amukti ikang babanten, wastu kumarasah ikang sarwa kala bhuta marana kabeh, anusup-nusup pada ameta dahan.

Mur ikang sarwa Dewa, kasapa sira sang adreweya karya, mwang sanganyontengi, wastu rusak pada cendek tuwuhniya, apan kadi angruwakakena ucap-ucaping wong edan, pati jlamut, patisambat sambatin, samangkana marmaning kawastu de bhatara wang mangkana, tan sah anemu papa sangsara,keneng pamidi ri ulahnyan mangkana

Kunang yan sampun olih siniratan tirtha sang brahmana pandita, makadi yan sampun diniksan denira pinujakrama, lewih-alit nikang yadnya inaturaken, ya maha pawitra juga, katanggapa dening prawatek dewata mwang ri padaning Bhatara, ikang banten pinujakreti ika, anerus sida rahayu tinemunya sang adrewe yadnya ika mwang sang anukangi, karma Tapeni yadnya, maka nguni ring jadma manusa ikang inupakara, lewih sang pitara ingentas, sama amnggihaken patut, anatar galang apadang, samangkana pawarah Bhatrara Hyang Pramesti ri ikang para, yogya tinuta ri ikang wang loka parasrama, ayuwa sira apilih igama, apan tan ana akweh ikang igama inanggehaken denira Hyang Widhi, tunggal juga ikang igama maka lingganing buwana, ya Igama Tirtha, ikang suci nirmala juga suka tinanggapa dera Hyang Widhi, ya ika elingakena dena teguh

Kunang arep pwa sira amangunang swarajakarya, ayadnya-yadnya, puja parakerti, salwir nikang pinujakarma, ayuwa tan pangambek suci, dinuluri idepta rahayu, sabda menak, ika juga maka dasaring swayadnya, aja angangen prabeya, den lilawarana ikang manah, ayuwa pepeka, ayuwa tan suksara ring sang Brahmana Pandita, kumwa kadi lingkwa nguni, den prayatna pwa sira, apan kweh mahabhaya pamancananya, agung pakwehnira, ri pangaduning bhuta-kala karepnira amignani, angulati tadahanya. Ika ta kayatnakna, apan sira yan sampun apageh polahira, kukuh ring kasusilan, ring kapatutan, makadi ring kadharman, tinuta ring warah sastragama, mawastu trak ikang sarwa bhuta-kala sasab marana, tan wani ya lumincak mara maring manusapada, pada sinempen kinurung de Bhatara Dharma. Tan wineh sira kumarasah anusup-nusup, pati baksa-baksan. Ika Widhi Sastra Tapeni Yadnya maka dasar sang ayadnya Pangraksaning karya Bhuta Pila-pilu ring Purwa mangraksa Jiwaning wang adrewe karya Bhuta Rudita ring prantenan mangraksa sarwa reratengan. Bhuta Kakawah ring pascima, ring genah metanding, mangraksatetandingan. Ring Utara Bhuta Ari-ari, mangraksa saraja Drewe, marmaning suksekel ikang bhuta-kala pada akiris apan tan olih sakama-kama angguraga amet tadah anginum, apan ya wus kreti ikang desa-desa pakraman, tan hanang wyadi wyawahara, baya pakewuh, doh ikang agering sasab marana, dadi landuh ikang bumi, landuh tuwuhing sarwa janma. Mangkana lingkwa mami Bhatari , warahenangku mungwing aji, nga. Widhi Sastra Tapeni Yadnya, tlas.

Iki pangraksakaning karyasuka mwang duhka kunang, ana sang panca maha bhuta, ngaran, lima sanakira, sira sang atunggu wekasing bumi, lor, wetan, kidul, kulwan mwang ring madya, pada anyeneng Bupati, pada akweh wadokalanira.

Ikang ana ring purwa sang Bhuta Pila-pilu nga. Aputih rupanira. Sam namah swaranya, ring kulit pasusupan ika wenang kon mangraksa jiwaning wang ang adrtewe gawe, wenang gaweakena palinggih pangastitinya ring natar sanggah wates ring wetan, banten daksina gede, suci pras ajuman, rayunan pajegan putih warnanya, iwak olah-olahan, segehan agung 1. Sambat sang Bhuta Pila-pilu. Kon mangraksa jiwa karaksakena denira.

Iti aneng kidul sira bhuta Rudira, abang warnanira, Bam namah swaranya, sira wenang astitiakena ring perantenan, kon mangraksa sarwa reratengan, olah-olahan makadinya, palanya inih, tan ana wani wang anjajaburi, bancuri, anulak sarwa papasangan pakarya ala ring pangan kinum, saluwir srana ring pangan kinum pada geseng pugpug punah, tan dadi denya wang wedi, angrisebi gigining apuy. Bantenya: rayunan pajegan bang, iwak olah-olahan suci, peras ajuman, daksina gede sarwa 4, segehan agung 1, sang sinambat Sang Bhuta Rudira, kon mangraksa pebat, karaksa denya.

Ikang maring kulwan, sira sang Bhuta Kakawah, kuning warnanira, Tam namah swaranya, wenang astityakena ri unggwaning atanding banten, sira juga kon mangraksa tatandingan, denya nora-nora kaceb-ceban mwang kariseban akarya banten, tan kabijadinan kinaduk dening bhuta-kala, mwang kagamangan, kaejinan, mamedinan, salwir nikang mangaduk magawe salah pakarya, ya sira sang Bhuta Kakawah kon mangraksanana irika. Bebantenya: rayunan pajegan kuning, iwak olah-olahan, suci peras, ajuman, daksina gede sarwa 4, segehan agung 1, sang sinambat Sang Bhuta Kakawah, kon manghraksa irika ring babanten karaksa denira.

Ikang maring lor, sira sang Bhuta Ari-ari, maireng warnanira, Am namah swaranya, sira wenang kon mangraksa sarajadruwe nira sang adrewe karya, lwirnya: beras, arta, kanaka, rajata makadinya, tekaning salwirnya upasubaning karya, iwak-iwak. Palanya sida rahaytu mwang inih, tan ana dusta durjana wani anglengiti.

Yan tan ana samangkana, wastu kena gering rahat kapati-pati kadenda de wadokalanira sang bhuta Ari-ari, yan maneher tan winangsulaken meh awan ikang pejah, mangkana pangraksanira Sang Bhuta Ari-ari, ika sira wenang astitiyakena ri genahing anegdegaken beras, ring umah meten wenang. Bantenya rayunan pajegan ireng, iwak olah-olahan suci, peras ajuman, daksina gede, sarwa 4, segehan agung 1, sang sinambat sang Bhuta Ari-ari, mangraksa rajadrewe kasuka karaksa denira.

Ikang ana ring madya, nga. Sang Bhuta Kamajaya, amanca warna rupanira, Im namah swaranya, sira wenang kon mangraksa satekan ikang tamuy, wenang atitiakenaring bale sanggraha, mwang ring natar wenang palanya suka rahayu satekan ikang tamuy ambek suka. Banten: Daksina gede, rayunan mawarna, iwak olah-olahan, suci, peras, ajuman, segehan agung; palanya rahayu, wenang karaksa katekaning saunian-unian karamyan, igel-igel, tan ana panyangkalanya, apan sang manca sanak ika tuhu sakti dahat pada wisesa mangreh wadokalanira maketi-keti, ika wenang atityakena.

De sang angamong karya, saka ri tembening nyambut gawe wenang jejerakena kang daksina aturi banten sari-sari, nga. panyahian, jotan mwang pasegehan. Ri sampun masaning karya atatampahan elingakena wehan bebakaran mentah. Ri karyane wehan rayunan linggih, karangan, sega sokan pada sowang-sowang yan alit kang gawe, alit juga pangacinya, wenang pras daksina mwang ajuman anut warnasegehan sasah anut warna, sasapanya rawos Bali juga wenang , kwala sambat namanya sowang-sowang, mwang sastra swaranya sakarepe angaksama wenang.

Ana mwah yogya kengetakena de sang ngraksa karya maka pamurnaning sarwa kala bhuta amigna ring sarwa karya, lwirnya: laban asu, denya tan wani ararusuh: carunya sega winadahantangkulak anyar kari kelapanya, iwak jajatah, susuni canang uras atanding, sambat sang Bhuta Ulusinga, kon angunbduraken wadokalanira watek brehala kabeh, ma. Om indah ta kita kamung Sang Bhuta Singapati, iki tadah ganjarana sira, amukti sira, ajaken wadokalan kita, wus sira amukti sari, sun kon angunduraken wadokalanira kabeh watek srigala, mangsa kabeh, aja wehi kari nger ing kenep sira wus inaweh ganjaran, den enak amundura sira, kabeh, ayuwa tan idep sabdaning hulun kita, apan padanira Bhatara ingaturaken yadnya, tuhu tan wenang kita anangalapan, amigna ya ta yadnya, Om Kala Srigala byo boktra byoh namah swaha.

Iki laban paksi gagak bantenakena ring luhuring atepca. Sega sapunjung , iwak taluh 1, mwah sega sasah, be celeng matah wenang rah atakir. Sang sinambat Sang Bhuta Gagak sona kon angunduraken wadokalanira. Mantra: Ih sira sang paksiraja, Sang Bhuta gagaksona, iki tadah ganjaranku ri kita, wehakena wadokalanta amukti kabelanira, wus sira amukti sari, mundur ta sirakabeh ring kadohan, adan amantuka sira ring alas, aja sira jumeneking kene, anggarugada, amangana babantenku, kedep sidi sabdanku, Om Bhuta Kaba byoh boktra byoh namah swaha.

Iki laban semut sepuh, tetani, salwiring krimi, yanya salah angde, carunya: sega mewadah tangkulak, iwak urab barak, urab putih, klapa asigar, mantra: Kita buh, sakwehmu sarwa krimi kita kabeh, iki bukti tadahankwi ri kita, aja sira sumarab, kumarasah, papupulta kita kabeh pada amangsana segeh; wus sira amangana segeh, pamulihta kita ri buhloka desan kita apunpun ta kita ing kana, antosakena sengker-tahanmu papa anunggu kita pamastu Dang Gurwiswara, Om krimi buh byoh loka namu namah swaha.

Ana malih yan ring karya ayu, ri padewa aran, ring pura ring sanggah parhyangan, makadi ring payadnyan; ana sira Sanghyang Panca Resi rumakseng kana, Sanghyang pancasiwa pasanggahanira sira wenang maka pamurnaning sarwa cuntaka ri sang adrewe karya, lwirnya karma magelakena wenang astitiakena ananceb sanggah tutuan alit 5 kwehnya, amanca desa unggwanya, ring panyamuhan dewasanya. Ikang ring prwa ring wates papageran ring purwa unggwanya bebantenya daksina, suci, sodan, peras ajuman, katipat kelanan, iwaknya ayam putih pinanggang, canang sagenep, tadah sukla . Sang aturi, sira Bhagawan Kosika, Mam Namah wswaha swaranya.

Ikang ring daksina, genah pangastitiyanya ring dapur panyucian, bantenya sama kadi arep kupatnya iwak ayam wiring pinanggang, katur ring Bhagawan Garga, Am Namah swaranya.

Ikang Pascima genahnya ring lebuh, ring sanding pangubengan, bantenya pateh, kupatnya iwak ayam putih siyungan pinanggang. Katur ring Bhagawan Metri, Om Namah swaranya.

Ikang utara, genahnya ring sumur, yan tan hana sumur wenang ring gohaning angamet toya nggwanya, bantenya sama kadi arep, kupatnya iwak ayam ireng pinanggang, katur ring Bhagawan Pursya (?), Um namah swaranya.

Ikang ring madya genahnya ring tengahing natar bantenya sama, kupatnya iwak ayam brumbun pinanggang, katur ring Bhagawan Wrehatnala, Yam namah swaranya.

Iki panglukatanya Sanghyang Panca Siwa pangilang sarwa cuntaka mwang letuhing dina, sadana toya anyar samsam beras kuning, sekar warna lima, lalang lembaran 5 katih, padang lepas 11 katih sagi-sagi: peras daksina, sodan, ajuman panyeneng, sorohan, lis, artanya 527 . Iki pujanya: Ma. Om siwa puja karyem seni, sarwa papa klesa punyam, sarwa wignam winasyanti, pataka cuntaka nasanam. Tungtungana sarwa blikam. Maka pamurnaning pemarisudanya, ma.Om sarwa blikan pritiwi, Brahma, Wisnu, Iswara, anaking Dewaputra, sarwa wastu, sang prauyeng, sarwa doh, suda mala, suda papa suda pataka, suda sawiraning dasamala, suda roga, suda danda upadrawa, bayu-putrastu namah swaha. Om Siwa sampurna ya namah swaha. Ri wusing pinuja, siniratakena ring saiderin pakaranganya mwang ring upasubaning karyanya.

Iki pangalang-alang dewasa sang amangun karya, kayatnakena denta, alanya anerus tekeng putu buyut, ameda-meda amignanya mwang alpayusa palanya, lwirnya anut sasih, maka pamarisudanya juga gelarakena rumuhun, kala dewasaning anyambut gawe pangruhunya, wenang yeki maka pamrayascitanya, lwirnya: carukena rumuhun ikang sarwa mentah, tadah pawitra, bubuh pirata mwang prayascitta. Teher ri karyanya, ika carukena ikang sarwa rateng duluranya kadi arep , tan sah peras daksina, sodan, lis sorohan sehetan;

Lwirnya yan ring sasih 1, tan ana ngalangana, terus rahayunya.

Ri sasih 2, kaalangan dening Bhatara Gana genahing acaru ring sanggah, sinambat Bhatara Gana, Bhatara Guru Dadi.

Ring sasih 3, kaalangan ring Hyang, genahing acaru ring pemunjungan, kang sinambat Bhatara Hyang.

Yan ring sasih 4, kaalangan ring Hyang Guru Pitara, genahing acaru ring perantenan, sinambat Hyang Guru pitara.

Yan ring sasih 5, tuhu tan ana kaalangan, rahayu terus karya ika.

Yan ring sasih ke 6 kaalangan deni sang Bhuta Dengen genahing acaru ring lebuh sinambat Sang Bhuta dengen.

Yan ring sasih ke 7, kaalangan dening Dewata, genahing acaru ring sanggar

Yan ring sasih 8, kaalangan dening Kala, genahing acaru ring marga agung nyambat sang Kala ngadang.

Yan ring sasih ke 9 mwang ke 10, kaalangan dening Hyanag sinuhun kidul, genahing acaru ring sanggar rongan ring tengah , sang sinambat Bhatara Sinuhun Kidul.

Yan ring sasih Jyesta mwang Sada, kaalangan dening Ibu Pretitiwi, genahing acaru ring natar, sang sinambat Ibu Pritiwi. Telas.

Nihan kayatnakena kalaning swarajakarya, katekan durmita, udan riyut mwang papeteng, duluri kilat anduru, sira Sang Bhuta Yaksaraja, tatiga sanaknya sakti wisesa ngaran sang Bhuta Pritiwi, Sang Bhuta Tapah, Sang Bhuta Akasa, ika ta wenang astitiakena pinintasrayan, ri karaksan ikang swarajakarya, anrangana kang sindung riyut, den adi paripurna, sira ta wenang adegakena ring sanggah tutuan tumpang 3.

Bantenya ri tumpang pinih sor: daksina, suci, peras, ajuman bang, iwak ayam wiring pinanggang, rayunan pajegan iwak olah pajegan, canang kembang payas, pasuciyan, sekar pucuk bang, sambat sang Bhuta Pertiwi.

Bantenya ring tumpangnya ring madya, daksina, suci, peras, ajuman, rayunan dadu warnanya, iwaknya ayam suda mala pinanggang, rayunanya iwak olah pajegan, saha duluranya pateh sang sinambat Sang Bhuta Apah Sunya.

Ikang ring luhur bantenya: pateh rupaning ajuman mwang rayunan kudrang, iwaknya ayam wiring kuning pinanggang, sang sinambat Bhuta Yaksa Akasa, irika sakawruhta ngaksama wenang basa Bali juga wenang.

Yan arangaken udan, yan angundang udan, ngundang angin, riyut papeteng, wenang irika aksamakena, kewalya gantyakena warnaning ajuman, mwang rayunanya dening segehan warna pelung ring luhur, iwaknya ayam bulu telu, kelawu, biru wenang. Ireng ring madya, iwaknya ayam ireng. Dadu ring sor iwak ayam wiring kuning.

Iti mantra gagelaran Sang angraksa karya, angramangaken pustaka yeki krama minta nugraha rumuhun ring bhatara Siwa Dharma, Siwa Nirmala, makadi ring Bhatari Saraswati, dena wenang kita rumaksa karya, tan keneng sapa tulah pamidi, twin matatengeran, angelaraken saluwirin gaman-gaman iki mantra stutyakena rumuhun, saha ngarepaken sesantun, peras, ajuman, soda, punjung, rayunan, canang lenga wangi burat wangi, panyeneng, sorohan, lis, arta 700. Ma. Om Siwa anugraha nirmala, sarwa karya guna suda nirmala namah, Om Saraswati paramasidya ya namah swaha.

Wus mangkana, tumuli aturakena ikang banten ika kadi lagi, tepung tawar, lis rumuhun, sirati tirtha pabersihan, ayabakena ring Bhatara Siwa nirmala, ma: Om hyang angadakaken sari, hyang angaturaken sari, hyang amukyaken sari, teka asari, tinggal asari pawitraya namah swaha, Om Dewa boktra sri Jagat guruya namah swaha.

Iki kramanya sang atapeni, nga. Sira sang anukangin banten, ayuwa wong sudra jadma angawaki tukang banten , tan wenang, baya kena soda dera Bhatara, makadi dera Bhatari, balik sang Maha Patni juga wenang umadegaken tukang, agelar kramanya Sanghyang Tapeni . Kang durung wang sudiksa, tan wenang apanya wang kari rumaketing camahning panca wimala, palanya kroda sira Bhatara kasudha tirtha sang Pandita, maka pamlaspas banten.

Ngadegang Widhining Tukang

Guruning Tukang Hyun kadenda wang adruwe, apan tan manut kramanya, sarwa papa laraning bebantenya ika, kawastu de Bhatara anadi Bhuta Kala, ika angregani setata, kena gering kepati-pati sira, mwang sasar temahanya, ri wekasan, mangkana ala tinemunya.

Yan ya wus abener kramanya, tekeng jejahitanya anadi dewa, apupul dadi widhi rahayu, karananing widhi widana ngaranya ikang babanten.

Kunang yan tan Sang Wiku patni agawe banten, sapuputnya banten ika, wenang pinrastista rumuhun de sang Pandita sira juga sunga tirtha maka palaspas banten ika. Samangkana yogya gelarakena rumuhun, tinuta warahing aji. Ayuwa langgana sira amarugu, ila estu palanya. Nahan ta karuhunakena krama tapeni, duk angengkab karya bebanten, ring penyamuhanya akarya sesanganan adegakena widhi ning tukang rumuhun, Bhatari Uma sira maka widening tukang, maka sajna sanghyang Tapeni ana pariwaranira watek apsari, maaran Dewa Pradnya, Dewa Kedep, Dewa Wastu. Ika maka guruning tukang atanding banten ika astitiakena rumuhun dening sopakaraning daksina panuntun mwang peras, canang wangi-wangi, soda ajuman katipat kelanan, canang raka, rayunan muncuk kuskusan, iwak sarwa suci, sari arta sakotama, iti mantra pangastutinya uncarakena,

Ma. Om Parwati twam nama swami, Rudra patni tapa sidhi, dewa wyatam sudha swamam, sthanugraha karanam. Om Gori Uma natha syami. Rudra deha Dewa sidhi, yasa swamam gunawati, bhakti nugraha karanam Om hrang, hring sah Bhatari Uma Dewaya namah swaha. Pukulun paduka Bhatari Tapeni, sira Dewa Pradnya, Dewa Kedep, Dewi Wastu, ingsun aminta sih kretanugraha sira bhatari, amangun widhi widana ulun asing kirang sampun tan agung sinampura sira ri pinakeng ulun makadi ri sira sang amangun yadnya swarajakarya, apan ana Sanghyang Tribuwana maka pangardiyaning sarwa pasubhaning babanten, Sanghyang Weda wruha amituduh ikang sarwa pinuja, Sang Sidha Resi ana rapatana pakulun.

Tumuli aturi babanten soda rayunan, Ma. Om Pukulun paduka Bhatari Sudewi, ingsun angaturaken panjiwa mwang sari, yogakena ta pakulun amuktya sari amerta, Om Ung Ang Ah, amerta sanjiwani namah. Ayabakena.

Mwang ana pariwaranira watek bhuta, ngaran Ni Bhuta Kencak, Ni Bhuta Swadnya, Ni Bhuta Pancad, ika kang juru karya gupuh, wehana labanya, sega telung pangkonan iwak sakawenang, ikang nampi karangan, mwang bebakaran, iki sesapanya : Ih dewa Sang Bhuta Pancad, Sang Bhuta Kencak, Sang Bhuta Swadnya, iki bukti sajinira, wus sira amuktya sari, atulung sira ring ulun anyambut Bebanten maka rupa reka anggan Bhatara gawe, tuduhan ta ulun, warahan karya bener, sakawruhanta, poma-3x.

Wus mangkana angawiti sira akarya, den ambek suci juga, aywa sabda gangsul, wak prakasa, mwang cemer, tinemah kita de Bhatari, balik sabda rahayu juga ucap menak maka ucapanta, apan ri sedengta akarya babanten ya ika kalanta angajum rupa warna mwang pawangganing sarwa Dewata-Dewati, Bhatara mwang Bhatari. Ika nimitaning widhi widana aranya, ikang sarwa bebanten, apanya dadi lingga, dadi saksi, dadi cahya, dadi cihnaning wang astiti bhakti ring widhi panunggalnya ya ring raga sarira juga stananing widhi anuksma, ring bumi unggwaning astuti, unggwaning astungkara, unggwaning Umastawa sira.

Karananing widhi widana nga. Widhi , nga. Bhatara; wi, nga suksma; dana, nga sakala nyalantara; kalinganya ikang bebanten juga pinakareka rupa warnanira Bhatara, rinekani rupa kadi tingkahing kawongan, pada sowang-sowang. Ayuwa sira sang tukang angangapus-apusi tatandingan, amunjuk lungsur, angurang-ngurangi, angalebih-lebihi, tan manuta ri warah mami Bhatari Tapeni, umungguh ing Empu Lutuk apan saksat anguwah-uwuhi raga sarira, ala dahat pala tinemunya, ri kapatyani, lewih papa narakanta kadenda de Yama Bala, dumadi sira wekasan, wetu salah rupa, wetu mala katuna lebih ring sarira, mangkana temahanya.

Iti mantra amlaspasi sarwa bebanten sapuputnya tinanding sedana toya winadahan payuk anyar, Ma. Om Brahma tirtha ya namah, Om Wisnu tirtha ya namah, Om Mam Iswara tirtha ya namah, Om Siwa tirtha ya namah, Om Sadasiwa tirtha ya namah, Om Paramasiwa tirtha ya namah, sahitya sarwa Bhutanam, sarwa wisya sarwa boja, sarwa papa winasaya, apawitra pawitrayam, Om Am Brahmaya namah, Om, Um Wisnuya namah, Om Mam Iswaraya namah, Om Amkaro Bhagawan Brahma, tatwa jnanam mahotamam andeham paraham paraham guhyam, swasti-swasti mahatmanam, Om Um karo Bhagawan Wisnu , Dewanam sarwa busanam tanurawegara twate, hari dewam namostute. Om Mam karo Bhagawan Isa, Iswara, Parameswaram, dadami amertatmakam, grhniswaya namah, swaha.

Mwah iti pangurip bebanten: OM SAM, BAM, TAM IM, SRI Gurubyo namah, nama Siwaya, Sri adiguru byo namah, AM, UM MAM, OM sri paramadiguru byo namah; Tlas.

Idep umawak sanghyang Tribhuana kang banten , denta puja mwah ri pangadeganira ma. OM KAM KAM GAM GAM GAM namah swaha, CAM-CAM JAM, RAM, L;AM, WAM namah, OM UM namah, OM REM naman OM LEM namah, OM UM namah, OM UM namah. Telas.

Mwah iki prmalinan banten, ma. Om Tripurusa byo namah, Om sapta kabukti byo namah om nawagraha kabukti byo namah, om, Suksma wali Hyang namah, om Taya namah swaha, Om pritiwi apah, teja, bayu, akasa, om windu om sunya Taya swaha.- Iti pujan panggungan, mwang pras-prasan, tlas.

Iki mantran sorohan alit, ma. Om pukulun sanghyang siwapi-caturmuka, dewabyuha, sira ta bhagawan Ra Tangkup, sira ta pukulun , angeseng lara roga, makadi ipen ala, sot sata, gempung muksah ilang tan pasesa, denira sanghyang Siwapi caturmuka dewa byuha Om sidhir astu ya namah swaha.

Malih panutup pujan banten ring lahapan, nga. Ring panggungan, ma. Pukulun sira Sanghyang Dharma den elinga sira ri palungguhanira sowang-sowang amuktya sari, atinggala sari, jumeneng pukulun, sira tan keneng sari.-Telas.

Om Santih Santih Santih Om


Tugas Itihasa Dosen Pengampu Acyutananda Wayan Gaduh, S.Pd.H., M.Ag

TUGAS IDA SINUHUN

Soal:
1. Saracamuscaya 39 dijelaskan bahwa beda hendaknya dipelajari secara sempurna melalui Itihasa dan purana. Jelaskan maksud sloka tersebut! 

Jawaban
Sarasamucaya (39) yang menyatakan:

Itihasa puranabhyam vedam samupbrhayet,
Bibhetyalpasrutad vedo mamayam praharissyati (Vayu Purana I.201)

Hendaknya Weda dijelaskan melalui sejarah (Itihasa) dan (Purana). Weda merasa takut kalau seorang bodoh membacanya. Weda berpikir bahwa dia (orang yang bodoh) akan memukul-Ku.

Sloka Vayu Purana di atas, pada zaman kejayaan Majapahit diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Kuno termuat dalam kitab Sarasamucaya yang merupakan karya kompilasi dari Maharsi Vararuci sebagai berikut:

Ndang Sang Hyang Veda paripurnakena sira, maka sadhana sang hyang Itihasa, sang hyang Purana, apan atakut sang hyang Veda ring wwang akedik ajinya, ling nira, kamung hyang haywa tiki umara ri kami ling nira mangkana rakwa takut. (Sarasamucaya 39).

Weda hendaknya dipelajari dengan sempurna melalui jalan mempelajari Itihasa dan Purana sebab Weda itu akan takut kepada orang-orang yang sedikit pengetahuannya, sabdanya wahai tuan-tuan jangan datang padaku, demikian konon sabdanya karena takut.

Demikianlah menurut Manavadharmasastra yang merupakan compendium hukum Hindu, yang secara tegas menyatakan adanya  sumber hukum Hindu yang terdiri dari: Sruti, Smrti, Sila, Acara, dan Atmanastuti. Sruti sebagai sumber hukum pertama dan tertinggi mengacu kepada kitab-kitab Dharmasastra. Sila (teladan orang-orang suci) dan Purana (sejarah kuno yang penuh dengan berbagai ajaran moral dan spiritual) merujuk pada kitab-kitab Itihasa dan Purana. 

Jadi Purana menduduki posisi yang penting dan strategis dalam tata urutan Weda dan susastra Hindu. Kitab-kitab Itihasa dan Purana dapat digolongkan sebagai gudang pengetahuan agama yang sangat besar. Kitab-kitab tersebut disusun oleh para Rsi yang dimaksudkan untuk menjabarkan ajaran suci Weda yang demikian luas, penuh kandungan spiritual, filosofis, moral, edukasi, dan lain-lain. Dengan memahami Itihasa dan Purana, maka Weda dapat dipahami. 

Soal
2. Setiap karya sastra memiliki unsur penyusunya, uraikan unsur-unsur karya sastra yang terdapat dalam epos ramayana khususnya balakanda! 

Jawaban
Dari karya sastra Epos Ramayana bagian cerita Balakanda Kandanya dapat di resume seritanya sebagai berikut:

Balakanda atau kitab pertama Ramayana menceritakan sang Dasarata yang menjadi Raja di Ayodhya. Sang raja ini mempunyai tiga istri yaitu: Dewi Kosalya, Dewi Kekayi dan Dewi Sumitra.

Dewi Kosalya berputrakan Sang Rama, Dewi Kekayi berputrakan sang Barata, lalu Dewi Sumitra berputrakan sang Laksamana dan sang Satrugna.

Maka pada suatu hari, bagawan Wiswamitra meminta tolong kepada prabu Dasarata untuk menjaga pertapaannya. Sang Rama dan Laksamana pergi membantu mengusir para raksasa yang mengganggu pertapaan ini.

Lalu atas petunjuk para Brahmana maka sang Rama pergi mengikuti sayembara di Wideha dan mendapatkan Dewi Sita sebagai istrinya.

Ketika pulang ke Ayodhya mereka dihadang oleh Ramaparasu, tetapi mereka bisa mengalahkannya.


Mengenai unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut ada dua yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah salah satu unsur pembangun sebuah karya sastra. Penulis bisa menciptakan unsur intrinsik adalah dari cerita yang dibuat. Tanpa adanya unsur intrinsik adalah sebuah karya sastra tidak utuh dan tidak runtut. 

Unsur intrinsik adalah unsur pembangun karya sastra yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri. Secara umum unsur intrinsik adalah terdiri dari tema, alur, tokoh, penokohan, latar, gaya bahasa, sudut pandang, dan amanat.

1). Tema

Tema adalah unsur intrinsik karya sastra yang menjadi dasar cerita. Unsur intrinsik karya sastra tema sering disamakan dengan ide atau tujuan utama cerita. Tema merupakan unsur intrinsik karya sastra yang menjadi sebuah ruh atau nyawa yang ada di dalam karya Bala Kanda.

Tema bisa disebut ide utama dalam membuat cerita, karena tema adalah penentu latar belakang dari cerita tersebut. Tema dalam unsur intrinsik karya sastra berisikan gambaran luas tentang kisah yang akan diangkat sebagai cerita dalam Bala Kanda sehingga sangat penting memikirkan tema sebelum menulis Epos Ramayana Bala Kanda.

Biasanya, tema ini kelihatan jelas dalam cerita, tetapi bukan lewat ungkapan langsung. Untuk menentukan tema dari Bala Kanda, kita perlu membaca dari awal sampai akhir dulu.

2). Alur

Unsur intrinsik karya sastra yang kedua adalah alur atau plot. Alur dalam Bala Kanda adalah jalan cerita. Bala Kanda memiliki jalan cerita yang jelas.

Alur sebagai unsur intrinsik karya sastra Bala Kanda biasanya memiliki beberapa tahapan mulai dari perkenalan, penanjakan, klimaks, anti klimaks dan penyelesaian.

Alur unsur intrinsik karya sastra Bala Kanda dibagi menjadi tiga, yaitu:

- Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.

- Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita Bala Kanda yang bergerak mundur (flashback).

- Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.

Penulis cerita Bala Kanda menceritakan tentang konflik terlebuh dahulu, kemudian menceritakan tentang awal konflik terjadi, dan pengenalan tokoh. Ada juga alur maju-mundur yang merupakan kombinasi dari kedua alur ini.

3). Latar

Unsur intrinsik karya sastra Bala Kanda selanjutnya adalah latar. Unsur ini mengacu pada latur waktu, suasana, dan tempat terjadinya cerita  Bala Kanda. Latar dalam unsur intrinsik karya sastra Bala Kanda membuat pembaca lebih paham tentang kapan, dimana dan sedang apa tokoh yang diceritakan dalam Bala Kanda. 

Setting merupakan unsur intrinsik karya sastra Bala Kanda berupa gambaran tentang peristiwa-peristiwa yang ada di dalam cerita  Bala Kanda. Latar termasuk unsur pembangun cerita Bala Kanda yang vital.

Latar atau setting disebut unsur intrinsik karya sastra Bala Kanda sebagai landas tumpu, mengarah pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam cerita Bala Kanda. 

Keberadaannya sangat penting untuk membangun suasana dalam Bala Kanda. Latar dalam unsur intrinsik karya Bala Kanda dibagi menjadi beberapa macam, seperti waktu, tempat, sosial budaya, keadaan lingkungan, dan suasana.

4). Gaya Bahasa

Gaya bahasa dalam unsur intrinsik karya Bala Kanda menjadi ciri khas dari penulis saat menuliskan cerita. Gaya bahasa ini bisa dibedakan dari penggunaan majas, diksi, dan pemilihan kalimat yang tepat di dalam cerita Bala Kanda.

Penulis yang menggunakan unsur intrinsik karya Bala Kanda berupa gaya bahasa baku dan menggunakan gaya bahasa santai. 


5). Tokoh

Tokoh merupakan unsur intrinsik karya Bala Kanda yang sangat penting. Unsur intrinsik karya Bala Kanda seperti tokoh adalah meliputi orang atau karakter yang ditampilkan dalam cerita.

Oleh pembaca, tokoh sebagai unsur intrinsik karya Bala Kanda ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dari tindakan yang diceritakan.

Tokoh dalam unsur intrinsik karya Bala Kanda dibagi menjadi tiga karakter, yaitu:

- Tokoh Protagonis: tokoh utama pada cerita  Bala Kanda. 

- Tokoh Antagonis: tokoh penentang atau lawan dari tokoh utama.

- Tokoh Tritagonis: penengah dari tokoh utama dan tokoh lawan.

- Tokoh figuran, yaitu tokoh dalam Bala Kanda yang menjadi tokoh pembantu dan memberi warna pada cerita Bala Kanda. 

6). Penokohan

Istilah penokohan lebih luas dari pada tokoh dan perwatakan. Penokohan dalam unsur intrinsik karya Bala Kanda mencakup masalah siapa tokoh cerita Bala Kanda, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita Bala Kanda sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.

Penokohan dalam unsur intrinsik karya Bala Kanda merupakan penentuan watak atau karakter dari tokoh tersebut. Penokohan ini bisa digambarkan dalam sebuah ucapan, pemikiran dan pandangan saat menyelesaikan suatu masalah. Begitu juga melalui penjelasan narasi atau penggambaran fisik tokoh tersebut.

7). Sudut Pandang

Unsur intrinsik karya Bala Kanda yang tak kalah penting adalah sudut pandang. Sudut pandang adalah arah pandang dari unsur intrinsik karya Bala Kanda seorang penulis dalam menyampaikan sebuah cerita Bala Kanda. 

Sudut pandang menjadi cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam  cerita Bala Kanda sebagai karya fiksi kepada pembaca.

Sudut pandang sebagai unsur intrinsik karya Bala Kanda memiliki beberapa macam jenis seperti sudut pandang orang pertama, kedua, atau ketiga. Ada juga sudut pandang dari penulis yang berasal dari sudut pandang orang yang berada di luar cerita Bala Kanda. 

8). Amanat

Amanat adalah unsur intrinsik karya Bala Kanda berupa pesan moral yang ditulis oleh penulis cerita Bala Kanda. Amanat bisa dipetik oleh pembacanya, setelah membaca karya tersebut.

Amanat atau pesan moral sebagai unsur intrinsik karya Bala Kanda biasanya tidak ditulis secara langsung, melainkan tersirat. Namun, amanat dalam Bala Kanda juga bisa ditulis langsung oleh penulis atau secara tersurat. Pembaca yang menyimpulkan sendiri apa pesan yang bisa diambil dari Bala Kanda tersebut. 


Sedangkan unsur ekstrinsik adalah hal-hal yang berada di luar cerita Bala Kanda itu sendiri. Unsur ekstrinsik terdiri dari latar belakang penulis, latar belakang masyarakat, dan nilai yang terkandung. Unsur-unsur tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi isi Bala Kanda.

Soal
3. Rama adalah awatara wisnu yaitu penjelmaan dewa wisnu ke dunia untuk menegakkan dharma. dalam cerita ramayana khususnya pada akhir balakanda, rama bertemu dan berdebat dengan parasurama yang merupakan awatara wisnu. kenapa bisa ada dua wisnu dalam satu moment yang sama, jelaskan! 


Jawaban
3. Karena Parasurāma bukan Viṣṇu.

Dalam sudut pandang teologi Śrī Vaiṣṇava, pada dasarnya ada dua jenis avatāra yang diambil oleh Tuhan Nārāyaṇa Viṣṇu saat turun ke bumi:

• Mukhya (atau yang utama) di mana Tuhan Yang Mahahadir Sendiri mengambil bentuk dan melakukan berbagai hiburan di dunia ini. Contoh: Rāma, Kṛṣṇa, Narasiṃha, Vāmana, Varāha, dan sebagainya.

• Gauṇa (atau sekunder) di mana Tuhan memiliki beberapa makhluk hidup dan melaksanakan berbagai tugas melalui mereka. Ini juga dikenal sebagai inkarnasi Kalā atau Āveśa. Contoh: Balarāma, Paraśurāma, Arjuna, Pṛthu, Vedavyāsa, dan sebagainya.

Jikapun Parasurāma seandainya dipertimbangkan sebagai Viṣṇu Sendiri (konsep Daśā Avatāra), tidak ada yang mengherankan jikalau sesama avatāra Viṣṇu saling bertegur sapa, karena Viṣṇu Maha Kuasa, Beliau dapat menggandakan Diri sebanyak mungkin sesuai kehendak bebas-Nya namun identitas-Nya tetap sebagai Maha Esa. Dalam Bhāgavata Purāṇa bahkan diuraikan pertemuan Kṛṣṇa dengan Mahā-Viṣṇu tetapi realitanya Mereka adalah 1 pribadi yang sama, Viṣṇu-tattva. Dalam Rāmāyaṇa, bahkan saudara-saudara Rāma adalah perbanyakan dari Viṣṇu, Viṣṇu-dharmottara menguraikan bahwa Sri Rāma dan saudara-saudara-Nya — Lakṣmaṇa, Bharata dan Śatrughna — adalah inkarnasi dari Vāsudeva, Saṅkarṣaṇa, Pradyumna dan Aniruddha (4 perbanyakan Viṣṇu sebagai Catur-Vyūha).

Jangankan menggandakan Diri ke dalam berbagai jenis avatāra, Beliau pun bersemayam di hati setiap makhluk dan atom sebagai Antaryāmin (yang mengendalikan dari dalam). Saat Kṛṣṇa berbicara empat mata kepada Arjuna pada saat yang sama Kṛṣṇa juga sedang berada di batin Arjuna sebagai Antaryāmin.

Soal
4. Ramayana adalah Epos adi luhung yang memuat nilai-nilai kehidupan sosial religious yang masih relevan hingga zaman ini. Ceritakan salah satu kejadian dalam Epos Ramayana dan uraikan amanat apa yang hendak disampaikan! 

Jawaban
4. Pesan Moral dalam Cerita Uttarakānda bagi Kehidupan

Dalam Kamus Bahasa Indonesia ‘pesan’ diartikan sebagai perintah, nasihat, permintaan,
amanat, dan segala sesuatu yang hendak disampaikan lewat orang lain. Sementara kata ‘moral’ sendiri berasal bahasa Latin yaitu “mores” yang diartikan sebagai tata-cara dalam kehidupan, adat-istiadat, kebiasaan, kemudian beralih kata menjadi moralitas. Moralitas sendiri berarti tingkah laku yang dianggap mulia dan sesuai dengan nilai-nilai tata cara/adat yang ada dalam
sesuatu kelompok yang disusun dalam suatu aturan disebut norma (Gunarsa, 2017: 38). Dalam hal ini, moral sudah masuk dalam tahap praktik di kehidupan, dan tercermin secara langsung melalui tingkah laku dalam masyarakat. Jadi dari penjelasan kedua kata tersebut dapat diketahui bahwa pesan moral adalah sebuah nasihat atau amanat yang berkaitan tentang bagaimana cara untuk hidup atau bertingkah laku mulia sesuai aturan norma yang berlaku.
Sehingga pesan moral sangat diperlukan demi membimbing manusia berperilaku yang
semestinya dalam kehidupan. Ketika sudah mengetahui definisi dan pentingnya pesan moral tersebut, tentu pesan moral tersebut perlu juga digali dalam cerita Uttarakānda.
Dalam agama Hindu sendiri, salah satu dari tiga kerangkanya yaitu Susila, memberikan
pengetahuan yang secara khusus mengenai tingkah laku bermoral. Kata Susila secara etimologi berasal bahasa Sanskerta yaitu kata ’su’ yang berarti baik atau mulia, sementara kata ’sila’ mengacu pada definisi tingkah laku, praktek, watak, atau kelakukan. Jadi dalam hal ini, Susila memiliki arti sebagai segala tindakan, tingkah laku, praktek, atau kelakuan yang mulia, baik, sopan, dan sesuai dengan ketentuan-ketentuan Dharma (kebenaran) dan Yajna (pemberian yang tulus berdasarkan cinta kasih) (Oka, 2009: 43). Susila kemudian berkembang dan lebih dikenal secara lebih lengkap menjadi suatu aturan yang disebut dengan tata susila. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra (2018: 1) mendefinisikan tata susila sebagai peraturan tingkah laku yang baik dan mulia, sehingga dalam hal ini mesti dijadikan pedoman hidup oleh manusia. Sehingga
dalam mengidentifikasi pesan moral dalam cerita Uttarakānda, diperlukan juga ajaran Susila sebagai acuannya. Setelah proses mengidentifikasi tersebut selesai, ditemukan beberapa pesan moral dalam cerita Uttarakānda yang dipaparkan sebagai berikut:

3.1 Kesetiaan Istri dan Suami dalam Grehastha Asrama
Grehastha Asrama adalah masa kehidupan disaat menjalani ikatan Suami dan Istri. Dalam
masa ini, Artha (kekayaan) dan Kama (Kenikmatan) menjadi tujuan hidup namun dengan tetap berlandaskan Dharma atau kebenaran (Adiputra, 2004: 122). Dalam jenjang kehidupan ini, ada jenis masa lagi yang disebut dengan Sewala Brahmacari (dalam Sudirga dan Segara, 2014: 153), Sewala Brahmacari adalah kehidupan suami-istri yang hanya kawin sekali seumur hidupnya, meskipun salah satu dari pasangannya meninggalkannya. Dalam cerita Uttarakānda,
hal ini ditunjukkan oleh Śrī Rāma dan Dewi Sita, dimana walau banyak halangan dan rintangan
yang menerjang kehidupan pernikahan mereka, tidak ada salah satu dari mereka yang berhianat atau menikah lagi. Bahkan disaat Dewi Sita dengan terpaksa diasingkan karena tekanan masyarakat Ayodhya, keduanya masih setia dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya sebagai pasangan suami dan istri. Bahkan Śrī Rāma sendiri masih percaya akan kesucian istrinya, meskipun banyak isu miring mengenai hal tersebut. Pengajaran ini menjadi sebuah pesan moral yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan berkeluarga di era sekarang. Dimana, kasus kawin cerai menjadi hal yang lumrah, atau pasangan suami istri yang tidak setia.
Padahal dalam ajaran agama Hindu sendiri, pasangan suami istri yang setia menikah atau kawin hanya sekali dalam seumur hidupnya sangat ditekankan. Hal ini diungkapkan dalam kitab Manawa Dharmasastra IX. 101 sebagai berikut:

Anyonyasyawyavy abhicaro bhaved amaranantikah,
esa dharmah samasena jneyah stri pumsayoh parah.

Terjemahannya:
"Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati" singkatnya, ia harus dianggap sebagai hukum yang tertinggi
bagi suami dan istri.” (Gata dkk., 2020: 39).

Bahkan perceraian juga dilarang dalam Manawa Dharmasastra IX. 102, lewat slokanya
sebagai berikut:
Tatha nityam yateyatam stripumsan tu kritakriyan,
yatha nabhicaretam tan wiyuktamtaretaram

Terjemahannya:
“Hendaknya laki-laki dan perempuan terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan
dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendak melanggar
kesetiaan antara satu dengan yang lain.” (Gata dkk., 2020: 39).

Jadi sangat pentinglah bagian Uttarakānda sebagai pesan moral untuk pasangan suami-
istri dalam menjalani bahtera rumah tangga agar setia dan saling mempercayai satu dengan yang lainnya.

3.2 Penghormatan kepada Wanita
Penghormatan kepada wanita terlebih lagi untuk seorang Ibu, di dalam kehidupan
merupakan perbuatan yang mulia. Bahkan dalam Manawa Dharmasastra III. 56 mempertegas hal tersebut. Bunyi slokanya sebagai berikut:

Yatra naryastu pujyante ramante tatra dewatah,
yatraitastu na pujyante sarwastlah ksiyah

Terjemahannya:
“Dimana wanita dihormati, disana para Dewa-dewa merasa senang, tetapi dimana mereka
tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala.” (Buditha, 2019:108).

Hal inilah yang diajarkan oleh mahārşi Vālmīki dan para muridnya di pertapaan. Di dalam
cerita Uttarakānda, dengan tidak peduli terhadap asal-usul Dewi Sita, dengan penuh
kasing sayang dan lemah lembut, para murid beserta mahārşi Vālmīki menyambut dan
merawat Dewi Sita sebagai seorang wanita yang diasingkan. Bahkan dengan penuh rasa
hormat, sampai Dewi Sita melahirkan dua orang putra bernama Kusa dan Lava, mahārşi
Vālmīki masih setia merawat dan memperjuangkan kesucian Dewi Sita kepada Śrī Rāma. Bahkan putra Dewi Sita menjadi dua orang anak yang berbhakti di bawah bimbingan
mahārşi Vālmīki. Cerita ini juga seakan mengisyaratkan bahwa agama Hindu adalah
agama yang menempatkan wanita dalam posisi yang terhormat dan mulia. Bahkan penghormatan ini dipertegas lagi dalam Yajur Veda XIV. 21 (dalam Buditha, 2019: 109),
sebagai berikut:

Oh ibu, engkau adalah perintis kecemerlangan,
pendukung yang memberi kami makan dan menjalankan aturan layaknya bumi. Kami memiliki engkau di keluarga, sebagai berkah untuk menikmati usia panjang, kecemerlangan, kemakmuran, dan kesuburan dalam kehidupan.”

Pembelajaran untuk menghormati seorang wanita terlebih seorang ibu dalam cerita
Uttarakānda ini, bisa dipelajari, dihayati, dan diimplementasikan sebagai tameng untuk
meminimalisir kasus-kasus pelecehan, diskriminasi, dan kekerasan fisik terhadap
perempuan di era saat ini. Jangan sampai seperti asal-usul Rahvana yang terdapat dalam
cerita Uttarakānda. Rahvana mengalami kutukan dan kehancuran karena pernah
menghina dan hampir melecehkan Vedavatī, putri seorang Brahmarşi. Perbuatan tercela
ini sebenarnya sudah diingatkan akan membawa mala petaka dalam kitab Manawa
Dharmasastra III. 58 (dalam Buditha, 2019: 109), yang lebih jelasnya berbunyi sebagai
berikut:

Jamaya yani gehani. capantya patri pujitah
tani krtyahataneva, winacyanti samantarah.

Terjemahannya:
“Dimana ada sebuah rumah, yang tidak menghormati wanita sebagai mana mestinya,
bahkan sampai terucap kalimat kutukan, keluarga itu akan mengalami kehancuran
sepenuhnya seperti dibinasakan oleh kekuatan yang tidak wajar (gaib).”

3.3 Berkorban demi Kepentingan Umum dibandingkan Kepentingan Pribadi. 
Seorang pemimpin memang sudah selayaknya berkorban demi kepentingan umum. Bahkan rela mengesampingkan kenikmatan pribadinya. Pengorbanan inilah yang dilakukan oleh Śrī Rāma sebagai seorang raja, bersama istrinya Dewi Sita sebagai seorang ratu di kerajaan
Ayodhya yang rela berpisah demi terciptanya kondisi yang kondusif di dalam masyarakatnya.
Dalam cerita Uttarakānda, hal ini terjadi ketika masyarakat di kerajaan Ayodhya merasa resah
akan ketidaksucian Dewi Sita. Dengan berat hati, Śrī Rāma akhirnya mengasingkan Dewi Sita
istrinya sendiri demi mengkondisikan hal tersebut. Kisah ini bukanlah mencerminkan
kejahatan atau tindakan buruk suami yang tega mengusir istrinya, melainkan kewajiban dari
seorang raja atau pemimpin yang dalam hal ini Śrī Rāma untuk menciptakan suasana yang
damai dalam wilayah kerajaannya meskipun Ia harus menanggung rasa sedih yang sangat
besar. Hal yang perlu dipahami dalam hal ini, Śrī Rāma bukanlah hanya sebagai suami,
melainkan dilain pihak juga berperan sebagai raja yang melayani masyarakat kerajaan
Ayodhya. Sehingga tindakannya bukanlah merupakan suatu tindakan yang jahat. Bahkan untuk
mempertegas hal ini, dalam Yajurveda IX. 22 ada sloka yang berbunyi sebagai berikut:
Iyam te rad yantasi yamano dhruvo-asi dharunah,
kryai tva ksemaya tva rayyai tva posaya tva.
Terjemahan:
“Wahai pemimpin, itu adalah negara-mu, engkau pengawasnya. Engkau mawas diri, teguh
hati dan pendukung warga negara. Kami mendekat padamu demi perkembangan pertanian,
kesejahteraan manusia, kemakmuran yang melimpah.” (Dwaja dan Mudana, 2018: 32).

Jadi sloka tersebut mengandung makna implisit bahwa, jika menginginkan negara yang
makmur, seorang pemimpin perlu mendapatkan dukungan dari masyarakatnya. Kemudian untuk mendapatkan dukungan masyarakatnya, seorang pemimpin memang sudah selayaknya selalu mawas diri, dan memiliki hati yang teguh sebagai pendukung warga atau masyarakatnya. Hal inilah yang bisa dijadikan pesan moral dalam kehidupan saat ini, terutama bagi generasi muda yang nantinya sebagai pemimpin-pemimpin bangsa untuk selalu mengutamakan kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi dengan sikap yang teguh. Sama seperti
yang dilakukan oleh Śrī Rāma dalam cerita Uttarakānda.

3.4 Melaksanakan Kewajiban dengan Keteguhan Hati. 
Sudah sepatutnya, terlahir sebagai makhluk paling sempurna, manusia yang memiliki
kelebihan berupa Citta (Alam Pikiran) melaksanakan kewajibannya sebagai mana mestinya. Walaupun kewajiban tersebut akan terasa sangat menyakitkan untuk diri sendiri bahkan beresiko. Untuk itulah perlu keteguhan hati, kepercayaan, dan penyerahan diri ketika
melakukan kewajiban kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal inilah yang dilaksanakan oleh
Laksamana dan Satrughna sebagai adik dari Śrī Rāma yang merupakan raja di kerajaan
Ayodhya. Pertama dari Laksamana sendiri, beliau bersedia menahan rasa sakit ketika
melaksanakan kewajiban yang diperintahkan untuknya dalam hal membawa atau
menghantarkan Dewi Sita ke dalam hutan untuk menjalani pengasingan. Setelah melaksanakan hal tersebut, dengan segera Laksamana bersujud dihadapan kaki Dewi Sita dan meminta maaf karena ini adalah kewajiban dirinya sebagai adik dan pelayan dari kakaknya yang juga seorang raja. Meskipun kewajiban ini bagiakan halilintar yang menyambar hatinya.
Kemudian yang kedua, dari Satrughna sendiri, beliau dengan perasaan yang teguh bersedia
melaksanakan kewajiban yang dilimpahkan untuknya. Bahkan tugas atau kewajiban yang
diberikan oleh Śrī Rāma cukup beresiko karena perlu menghadapi seorang Asura sakti bernama Lavana. Namun dengan rasa sujud dan bhaktinya sebagai adik dan pelayan kerajaan, terlebih tugas ini dilaksanakan demi membebaskan para Bhagavan dari teror Asura tersebut, Satrughna sebagai seorang ksatria melaksanakan kewajibannya dengan tulus untuk melindungi penduduk atau warga kerajaan yang tertimpa masalah. Kemudian benar saja, berkat keteguhan hatinya,
penyerahan diri yang tulus kepda Hyang Kuasa, serta berkat bantuan dari Bhagavan Cyavana
yang memberitahukan seluk beluk kekuatan tombak Lavana, Saturghna berhasil mengalahkan Lavana, dan membebaskan para Bhagavan di tepi sungai Yamuna dari teror Asura Lavana. Jadi dapat diketahui bahwa bagian Uttarakānda memberikan pesan moral bahwasanya setiap manusia berhak dan wajib melaksanakan kewajibannya sebagai mana mestinya untuk pembebasan, hal ini sesuai sloka yang terdapat dalam kitab Manawa Dharmasastra II. 5 (dalam Dwaja dan Mudana, 2018: 33) yang berbunyi sebagai berikut:

Tesu samyag vartta màno gacchatya maralokatàm, yathà samkalpitàýúceha sarwan kaman samaúnute

Terjemahan:
“Ketahuilah bahwa ia yang selalu melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah diatur dengan cara yang benar, mencapai tingkat kebebasan yang sempurna kelak dan
memperoleh semua keinginan yang ia mungkin inginkan.”

3.5 Kebenaran akan Selalu Menang
Dalam cerita asal-usul para raksasa tak terkecuali Ravana di dalam bagian Uttarakānda, bisa diketahui bahwasanya mereka memiliki kekuatan yang dasyat, bahkan bisa mengacaukan seisi dunia dan menguasai alam para dewa pada awalnya. Namun semua kejahatan mereka pada akhirnya dapat ditaklukan, dan bendera kebenaran kembali dikorbarkan. Dalam hal ini Śrī Rāma sebagai Avatara Dewa Visnu berhasil menepati janjinya kepada Dewa Indra untuk menaklukan para raksasa tak terkecuali Ravana yang menggangu kehidupan dunia. Hal ini juga sesuai dengan bunyi sloka Bhagavad Gita IV. 7 dan 8 (dalam Maswinara, 1997: 191) yang
berturut-turut dipaparkan sebagai berikut:

Yadà yadà hi dharmasya glànir bhavati bhàrata,
abhyutthànam adharmasya tadàtmànam srjàmy aham.

Terjemahan:
“Manakala kebajikan dan kebaikan (dharma) mengalami kemusnahan, dan kejahatan
mengalami peningkatan secara merajalela, Wahai putra Bharata (Arjuna), pada saat itulah
Aku menjemalkan diri-KU.“ 

Paritrànàya sàdhànàm vinàsàya ca duskrtàm,
dharma-samsthàpanàrthaya sambhavàmi yuge-yuge.

Terjemahan:
“Dalam rangka melindungi orang-orang suci (sadhu) dan baik, untuk memusnahkan
orang-orang jahat, dan menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma, Aku menjelmakan
diri-Ku dari masa ke masa.”

Jadi dua buah sloka tersebut meyakinkan seluruh umat manusia, bahwasanya ketika
ketidakbenaran merajarela, Tuhan sendirilah yang akan turun kedunia untuk menegakkan
kembali prinsip-prinsip kebenaran. Jadi untuk itulah dengan nilai-nilai moralitas, diharapkan manusia senantiasa berperilaku yang mulia demi kesejahteraan hidupnya.
Nilai-nilai moralitas tersebut tentu perlu dipetik dari pesan moral dalam cerita Uttarakanda yang telah dipaparkan.

KESIMPULAN
Rāmāyana perlu dibaca atau dipelajari secara sungguh-sungguh sampai pada bagian
akhirnya yaitu Uttarakānda. Hal tersebut dikarenakan, bagian Uttarakānda merupakan
resolusi atau tahap koda pada wiracarita Ramāyāna yang berisi penyelesaian akhir dari setiap permasalahan yang ada pada bagian-bagian sebelumnya. Di bagian ini pula terdapat banyak pesan moral mulia yang bisa dijadikan pedoman dan pengajaran untuk menghadapi kehidupan saat ini. Secara garis besar, bagian inti Uttarakānda menceritakan kisah pilu pengasingan Dewi Sita yang tengah hamil ke dalam hutan. Di dalam pengasingannya, Dewi Sita ditemukan dan diasuh oleh mahārşi Vālmīki sampai pada akhirnya melahirkan dua orang putra bernama Kusa dan Lava. Selain cerita inti, terdapat juga cerita sisipan yang berisi tentang; asal-usul para raksasa, keadilan raja Śrī Rāma, dan keberanian pangeran Satrughna dalam menghadapi raksasa Lavana. Dari semua cerita pada bagian Uttarakānda tersebut, dapat ditemukan berbagai pesan moral yang berguna bagi kehidupan, seperti; kesetiaan suami-istri, penghormatan kepada wanita, berkorban untuk kepentingan umum dibandingkan kepentingan pribadi, melaksanakan kewajiban dengan keteguhan hati, serta nilai kebenaran yang akan selalu
menang meskipun diakhir. Semua pesan moral dalam cerita Uttarakānda tersebut juga telah
memiliki acuan dari ajaran luhur Susila yang bersumber dari sastra suci Veda sebagai kitab
suci agama Hindu, sehingga pesan moral tersebut menjadi sesuatu yang valid jika diterapkan sebagai pedoman menjalani kehidupan.