Kamis, 20 Oktober 2022

Pawintenan Gana Saraswati

Pawintenan Gana Saraswati 
Pawintenan Gana Saraswati adalah pensucian diri melalui pemujaan kepada Dewi Saraswati sebagai sakti Brahma yang mencipta ilmu pengetahuan yang bersifat feminim dan Ganapati sebagai ilmu yang maskulin, yang dilaksanakan dengan upacara mewinten setelah pembersihan diri secara lahir batin.

Pawintenan Gana Saraswati dalam Hindu Bali disebutkan bertujuan untuk memohon kepada Sang Hyang Aji Saraswati dan dewa Ganapati agar badan ini siap untuk menerima wahyu sruti, ilmu pengetahuan dari beliau untuk menjaga keselamatan dunia

Ada beberapa prosesi dalam pawintenan saraswati ganapati ini yang harus dilakukan, yaitu :

1. Mapetik, sang anak disucikan dengan memotong rambutnya di lima titik di kepalanya dengan menggunakan “Panca Korsika” yang bertujuan untuk menghilangkan “papa klesa petaka ("dosa"; Catur Pataka), lara rogha wighna, gering sasab merana, sarwa satru, dan sebel kandel dari para pemilet yang dipetik.

2. Marajah, dilaksanakan pasupati dengan dihidupkan ”aksara-aksara suci” yang berada pada tubuhnya agar aksara-aksara suci tersebut memberikan kekuatan positif dalam proses brahmacari sang pemilet, dalam prosesi pawintenan ini, 
a. Dirajah di selagin lelata=ong, lidah=yang, bahu kiri kanan=da, dada=bha, pipi kiri kanan=ang, siku=ku, telapakan tangan kiri kanan=pa, perut=ong; wung, punggung=dhang; dhang, gigir kanan kiri=tang; tang. 

c. Dipakaikan kain dengan rajahan “Ganapati” di kepala agar Sang Hyang Ganapati senantiasa melindungi sang anak dari kekuatan negatif.  

4. Mapedamel, diberikan “Sad Rasa”, yang bertujuan merepresentasikan enam rasa yang ada dalam dunia ini, yaitu manis, asam, asin, pahit, sepat, dan pedas.

5. “Semayut”, sejenis benang tri datu yang dipakaikan di badan, yang bertujuan untuk mengendalalikan perbuatan sang pamilet,  

6. “Karawista” dan juga “Kalpika” bertujuan untuk mengendalikan pikiran.

7. Majaya-jaya. 

8. Muspa

9. Natab Tebasan Saraswati, Pasupati miwah Pangidep Hati. 

Rabu, 19 Oktober 2022

Kalpika dan Karawista/Sirowista

Kalpika dan Karawista/Sirowista
Kalpika dan Karawista/Sirowista adalah lambang dari pancaran kekuatan Tri Lingga dan Tri Murti dalam mengendalikan pikiran yang biasanya digunakan pada banten anggen rikala mapetik dan pada saat mewinten khususnya pawintenan saraswati sehingga pikiran ini siap untuk menerima ilmu pengetahuan.

Penggunaan Kalpika dan Sirowista yang umumnya diikatkan di kepala dan terbuat dari daun kembang pucuk dalam bahasa Bali, Kalpika yang berbentuk segitiga yang merupakan, Simbol Trilingga, alam semesta ciptaan Sang Hyang Widhi seperti halnya :
1. bulan, 
2. bintang, dan 
3. matahari. 
4. dll
Kemudian ada juga unsur-unsur Tri Murti dan juga bunga berwarna kuning sebagai simbol Mahadewa dan adapun sarana bunga sebagai simbol Tri Murti tersebut sebagaimana dijelaskan yaitu sebagai berikut :
- Bunga berwarna putih sebagai simbol Siwa, 
- Bunga berwarna merah simbol Brahma, 
- Bungan berwarna biru atau hijau sebagai simbol Wisnu.

Karawista/Sirowista terbuat dari 3 (tiga) helai ilalang/ ambengan memiliki sarat makna. 
Satu ujungnya diikat sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah lingkaran kecil dengan ujung pucuknya tegak ke atas. 

Pada simpulnya diselipkan helai bunga warna merah dan putih.
Saat dikenakan, simpul bunga tepat di tengah dahi. Sedangkan tiga helainya ditarik kebelakang. 2 helai di sisi kanan dan satu helai di sisi kiri untuk diikatkan belakang kepala. 
Simpul karawista/sirowista yang membentuk lingkaran adalah perlambang windu dan ujungnya yang menyatu dalam satu titik adalah nada sehingga menjadi perlambang aksara suci Om. Warna hijau ilalang, bunga merah dan putih melambangkan Tri Murthi : Brahma, Wisnu, Siwa.

Sungguh perlambang suci nan indah dan agung.
Karawista/Sirowista biasanya juga dikenakan saat orang yang mejaya-jaya berbagai upacara pembersihan diri seperti mewinten, tiga bulanan, mebayuh oton, upacara pernikahan, dan lain-lain. Mengikat karawista/Sirowista di kepala merupakan simbul pengikatan diri agar pikiran terpusat pada yang dipuja yaitu Hyang Widhi.
Bhagawad Gita IX, 34 menulis 
"Pusatkan pikiranmu hanya pada Ku biarlah kesadaranmu ada pada Ku, setelah itu engkau akan hidup di dalam Ku dan ini tak perlu disangsikan lagi"

Tiap kali kita melaksanakan upacara penyucian diri karawista diikatkan di kepala, kita diingatkan akan makna yang terkandung dalam sloka Gita, untuk selalu memusatkan pikiran pada Hyang Widhi. 
Selain mempunyai kekuatan mistis setelah mendapatkan doa dan puja mantra Sulinggih, karawista memberi makna mendalam nan indah, agar kita selalu ingat menyatukan pikiran yang beraneka dan berubah-ubah dengan cepat untuk menjadi satu saat memujaNya.
Tanpa disadari karawista/sirowista telah membahasakan sloka gita tersebut dalam estitika bentuk dan sarat makna.
There is no limit to the power ofhuman mind. 
The more concentrated it is the more power is brought to bear on onepoint. 

Tak ada batasan akan kekuatan dari pikiran manusia. Makin terkonsentrasi pikiran makin besar kekuatan tersimpul untuk merealisasikan angan menjadi kenyataan, seperti yang diisyaratkan 'kaca suryakanta' sanggup membakar dalam diam. Dan nyanyian dharma karawista/sirowista lembut mengalun menitipkan makna yang dalam tanpa nada, tanpa kata mengingatkan kita.

Doa Mohon Kesehatan

Om Hung Hrah Phat astraya namah, Om Atma Tatwatma suddha mam swaha, Om Om ksama sampurna ya namah, Om Sri Pasupatiya Hum Phat, Sriyambhawantu sukhambhawantu purnambhawantu.

Om Brahma Wisnu Iswara dewam, Jiwatmanam tri lokanam, sarwa jagat pratisthanam, suddha klesa winasanam.

Om yad iha ghoram yad iha kruram, yad iha papam tat santam tat siwam, sarwamastu tad astu nah.


Artinya:

Om Hyang Widhi Wasa, Engkau adalah sumber energi murni.

Jiwa semesta dan raja sekalian makhluk yang menjadikan segala keindahan, kebahagiaan, dan kesempurnaan.

Saat ini Jro Mangku Sukewana tengah menghadapi cobaan ancaman sakit dalam tubuhnya.

Dengan penuh rasa bakti kami memohon kehadapanMu

Semoga penyakit Jro Mangku Sukewana ini serta cobaan yang dihadapi segera menjauh

Kapanpun dan dimanapun bahaya dan penyakit yang mengerikan ini akan menimbulkan mala petaka.

Semoga atas kuasaMu

Engkau murnikan kembali energi tubuh Jro Mangku Sukewana ini

Agar Jro Mangku Sukewana dapat membangun kembali kehidupan yang sejahtera dan sentosa penuh kedamaian bersama kerabat keluarganya. Swaha. 

Selasa, 18 Oktober 2022

TUGAS MAKALAH BAHASA BALI

MAKALAH BASA BALI
SMP NEGERI 4 ABIANSEMAL

NAMA : .......... 
NO : ........... 
KELAS : ......... 



TAHUN PELAJARAN 2022/2023




PANGAKSAMA
Om Swastyastu
            Pangayubagia uningayang titiang majeng ring Ida Sang Hyang Widhi Wasa duaning malarapan pasuecan Ida, titiang prasida ngawangun makalah puniki. Asapunika taler majeng ring ibu guru sane ngwantuin titiang, lan sawitra-sawitra makasami. Ring makalah puniki titiang jagi ngewahas materi sane unteng ipun “tata kruna basa bali”. Mogi-mogi makalah punika prasida maguna ring para pengwaca.
Lan wenten lali titiang nunas sinampura yening wenten sane nenten patut ring pikayune sareng sami.



Om Santih, Santih, Santih Om
                                                                 
Pengawi










DAGING MAKALAH
Pangaksama................................................................................. i
Daging makalah........................................................................... ii
Sarga I Pemahbah
1.1 Latar Belakang......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................... 1
1.3 Tetujon..................................................................................... 1
Sarga II Wangsan Kruna
2.1 Kruna Aran.............................................................................. 2
2.2 Kruna Kriya............................................................................. 2
2.3 Kruna Kahanan........................................................................ 3
2.4 Kruna Wilangan....................................................................... 3
2.5 Kruna Pengentos...................................................................... 4
2.6 Kruna Pengarep....................................................................... 5
2.7 Kruna Pengiket........................................................................ 5
2.8 Kruna Katerangan.................................................................... 6
2.9 Kruna Pateket.......................................................................... 7
2.10 Kruna Paduwuhan................................................................. 8
2.11 Kruna Paneges....................................................................... 9
Sarga III Wangun Kruna
3.1 Kruna Lingga........................................................................... 10
3.2 Kruna Tiron.............................................................................. 11
3.3 Kruna Polah............................................................................. 12
3.4 Kruna Dwilingga..................................................................... 13
3.5 Kruna Satma............................................................................ 14
Sarga IV Pamuput
4.1 Kesimpulan.............................................................................. 15
4.2 Piteket...................................................................................... 15
Daftar pustaka............................................................................. 15


SARGA I
PEMAHBAH
1.1 LATAR BELAKANG
Kruna inggih punika pupulan suara utawi wianjana sane ngawetuang arti. Pepalihan kruna kapalih dados 2 soroh luirnyane :
A. Kruna Basa Bali Nganutin Wewangsannyane (kedudukannya).
Manut ring wewangsan ipun kruna basa bali kepaih dados solas soroh luirnyane :
1. Kruna Aran ( kata benda)
2. Kruna Kriya ( kata kerja)
3. Kruna Kahanan (kata sifat)
4. Kruna Wilangan (kata bilangan)
5. Kruna Pengentos ( kata ganti)
6 . Kruna Pengarep ( kata depan)
7. Kruna Pengiket ( kata sambung)
8 Kruna Katerangan
9. Kruna Pateket
10. Kruna Paduwuhan ( kata seru)
11. Kruna Paneges
B. Kruna Basa Bali Nganutin Wangunnyane
Manut ring wangunnyane kruna basa bali kaepah dados limang soroh luinyane :
1. Kruna Lingga
2. Kruna Tiron
3. Kruna Polah
4. Kruna Dwilingga
5. Kruna Satma

1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Kudang soroh pepalihan kruna?
2. Napi teges kruna punika?
3. Kudang soroh wangsan kruna punika?
4. Kudang soroh wangun kruna punika?

1.3 TETUJON
Tetujon ring makalah puniki kakaryanin inggih punika :
1. Mangda para pamilet utawi sang pangwacen makalah puniki uning ring indik tata Kruna Basa Bali.
2. Anggen ngamahamang, ngidepang napi sane kaungguhang



SARGA II
WANGSAN KRUNA ( JENIS KATA)
Indik wewangsan kruna ring palajahan basa bali masah ring basa Indonesia kepah dado adasa, luiripun (1) kruna aran, (2) kruna kriya, (3) kruna kahanan), (4) kruna wilangan, (5) kruna pangentos, (6) kruna pangarep, (7) kruna panyambung, (8) kruna keterangan, (9) kruna sandang, (10) kruna paduuh

2.1 Kruna Aran
      Saluiring barang maderbe wasta, adan, utawi nama. Kata nama utawi kata benda ring basa Indonesia. Istilah Baline kruna aran. Ring basa bali wenten kruna aran skala, wenten kruna aran niskala.
1. Kruna Aran Skala (kata benda konkrit/nyata)
Upami : gunung, meja, kursi, dampar, sepatu, baju, sepeda, tanah, pulpen, kasur, tas, kranjang, lemari, kaca, ember, dompet, capil/topi, bale, piring, panic, msl.
2. Kruna Aran Niskala (kata benda abstrak/tidak nyata)
Upami : angin, keneh, atma, ebo, dewa, suarga, neraka, munyi, leluhur, pesaur, tatuek, rencana, pagligbagan, msl.

2.2 Kruna Kriya
Kruna kriya wiadin kata kerja inggin punika, kruna sane mapiteges nglaksanayang pekaryan utawi prilaku. Kruna kriya puniki, ring lengkara kapilah dados kekalih. Inggih punika :
Kruna kriya marupa kruna tiron
1. Kruna Kriya Lumaksana (kata kerja aktif)
Upami : majalan, nulis, jumujung, ngandik, malaib, nyangkol, negul, mentil, ngoreng, msl.
2. Kruna Kriya Linaksana (kata kerja fasif)
Upami : kakirim, sinurat, tulisa, kandika, kaembot, adepa, aliha, gaena, kajekjek, msl.
Kruna kriya marupa kruna lingga
Upami : jagur, sirep, alih, daar, abut, goreng, butbut, juang, jemak, pentil, msl.

2.3 Kruna Kahanan
Kruna kahanan punika, nenten ja sios wantah kruna sane nerangang indik cihna wiadin cirri kruna aran. Kruna basa baline sane mawiarsa kahanan utawi keadaan.
Upami : endep, tegeh, jegeg, bagus, putih, bocok, bengkung, selem, sakit, seger, jemet, lantang, bawak, nakal, linggah, cupit, empet, bolong, msl.


2.4 Kruna Wilangan
Kruna wilangan inggih punika kruna sane kanggen nyinahang akidiknyane pupulan barang, sarwa maurip, miwah laksana pakaryan.
Kruna wilangan puniki kaepah dados makudang palihan luire :
1. Kruna Wilangan nyinahang barang/ketekan/tingakatan
Upami :
A. sa, dua, telu, pat, lima, nem, pitu, kutus, sia, dasa
B. Salas, roras, telulas, parbelas, limalas, nembelas, pitulas, peleketus, siangolas, duangdasa.
C. Salikur, dualikur, telulikur, patlikur, selae, nemlikur, pitulikur, ululikur, sangalikur, telungdasa, msl.
2. Kruna Wilangan Gebogan inggih punika kruna sane madue aran niri-niri utawi carane nyambatang maseosan tur sampun ketah pisan kaanggen. Kruna wilangan puniki ketah ipun kaucapang utawi kasambatang nganggen lengakra, nenten wilangan ipun.
Upami : selae, pesasur, setiman, satak, telung benang, domas, seket, karobelah, samas, nembangsit, satus, lebak, msl.
3. Kruna Wilangan Panta
Upami : ekan (satuan), dasan (puluhan), tusan (ratusan), peon (ribuan), yuta(jutaan), laksan (puluhan ribuan, bengong (miliaran), keten/keti (ratus ribuan), ingel (ratus jutaan)
4. Kruna Wilangan Pahan inggih punika kruna sane kasurat antuk angka, sakewenten kasurat nganggen aksara.
Upami : atenga, atugel, apahtelun, duapahliman, apahdasan, seprapat, sepenggal, msl.
5. Kruna Wilangan Tan Janten inggih punika kruna sane nenten janten utawi nenten keni antuk ngawilangin akeh nyane.
Upami : abedik, acengit, abanjar, akecritan, liu, ombeh, adesa, abesik, aketek, begeh, agetul, akikit, apasa, msl.
6. Kruna Wilangan Papasten inggih punika kruna wilangan karahinin antuk kruna-kruna sane wenten pakilitan ipun ring kruna wilangan soang-soang.
Upami : aijas, akatih, aampin, abidang, alunggah, agebeng, abungkul, alembar, aukud, apasang, amuncuk, akropak, acakep, ajumput, msl.

2.5 Kruna Pangentos
Kruna pangentos pateh ring kata ganti sejeroning basa Indonesia. Kruna pangentos kepah dados tigang soroh, minakadi :
1. Kruna Pangentos Sang Kasiki
Sang kasiki wantah sang sane mabaos, ring basa Indonesia kabaos kata ganti orang pertama.
Upami : a). kasar :ake, kai,
              b). Andap : icang, iang, raga, bena, wake
              c). Madia : tiang, iraga, gelah, manira
              d). Alus : titiang.
2. . Kruna Pangentos Sang Kakalih
Sang kalih wantah sang sane kairing mabaos (lawan bicara), ring basa Indonesia kabaos kata ganti orang kedua.
Upami : a). Kasar : iba, siga, ente
              b). Andap : cai, nyai, awake
              c). Madia : ragane, jerone, atu, druene
              d). Alus : iratu,ratu,cokorda,cokoratu, ida-ratu
3. Kruna Pangemtos Sang Katiga
Sang katiga wantah sang sane kabaosang, ring basa Indonesia kawastanin kata ganti orang ketiga.
Upami : a). Kasar : polone, bangsate, cicinge totonan
              b). Andap : ia
              c). Madia : biangne, ajine, rakanne
              d). Alus : ipun (Aso), ida, dane, raganne (Asi)
2. 6 Kruna Pangarep (kata depan)
kruna pangarep inggih kruna sane ngraketang kruna-kruna sane wenten ring sajeroning lengkara, kruna pangarep punika tusing dadi atepang ring kruna diungkurne ritatkala kasurat.
      Upami : 1). Andap : di ka, ba, I, teken, ban, uli
                    2). Alus : ring, ri, sajeroning, antuk/olih, saking.
2.7 Kruna Pangiket (kata sambung)
Kruna pangiket inggih punika kruna sane akanggen nyambung kruna-kruna utawi lengkara sane pateh linggihnyane.
Upami : 1). Andap : sawireh, krana, sakewala, yadin, yadiapin, tur, nanging, muah.
                    2). Alus : duaning, santukang, riantuk, sakewanten, yadiastun,miwah, saha,utawi, samaliha, lan, saha
2.8 Kruna Katerangan
     Kruna katerangan inggih punika kruna sane magenah ring ungkurin lengakara kanggen nerangang indik genah utawi galah/dauh wicarane.
1). Kruna Keterangan Genah inggih punika kruna sane kanggen nyambatang genah/tempat
Upami : daja, peken, carik, kota, sekolah tukad, segara, paon, pura, taman, kantor, kantin, warung, rumah sakit, wantilan,msl.
2). Kruna Keterangan Dauh inggih punika kruna sane kanggen nyambatang galah utawi waktu.
Upami : ibi, tuni, semengan, dasa lemeng, peteng, sandikala, telun, busan, mara, tengai, poan, sanja, jani, sia lemeng, abulan pitung dina, atiban, aminggu, msl.

2.9 Kruna Piteket
            Kruna Pateket inggih punika kruna sane mawiguna kanggen negepin wasta, parap, pesengan, utawi abiseka.
1). Kruna Pateket Wasta inggih punika kruna sane mawiguna nyinahang wastan sang sor(rakyat)
     Upami : ni, I, luh, nengah, made, putu, komang, ketut, wayan, nyoman, kadek.
2). Kruna Pateket parab inggih punika kruna sane mawiguna nyinahang parab menak soran (arya)
     Upami : sang, si, ngakan, dewa, gusti,
3).Kruna Pateket Pesengan inggih punika kruna sane mawiguna nyinahang pesengan menak singgihan (brahmana, ksatria)
     Upami : ida bagus, cokorda, anak agung
4).Kruna Pateket abiseka inggih punika kruna sane mawiguna nyinahang bisekan sang maraga dangacarya, guru jati, sulinggih, bhagawan, ida-sri, sri mpu, ida peranda.

2.10 Kruna Paduwuuhan
Kruna Paduwuhan inggih punika kruna sane kanggen nyihnayang rasa utawi pikayun I manusa minakadi rasa bangga, sedih, demen, miwah sebet.
1). Tatuladan suawara
       Upami : bur, dug,dar, cedar, swit, plak, briak, briuk, tes, dor, dur, msl.
2). Nyinahan Rasa
Upami : duh, aduh, uduh, ah, beh, ih, memeh, dewa ratu, jah celuk, nah, wih, wuh, aruh, arah, beh, msl.

2.11 Kruna Paneges
            Kruna paneges kanggen negepin bebaosan pinaka paneges sane mawiguna paglengut baos rikala mapitaken miwah sane lianan.
            Upami : ya, ja sih, ke, te, ta.

    

SARGA III
WANGUN KRUNA
Wangun kruna (bentuk kata) sane kebaosang iriki wantah napi sane kabaos bentuk kata-kata sajeroning bahasa Imdonesia. Manut wangun ipun, kruna –kruna basa Baline kapah dados :
3.1 Kruna lingga
Kruna lingga inggih punika kata dasar, inggih punika kruna-kruna basa Baline sane during polih wewehan napi-napi. Kruna lingga puniki kepah dados limang soroh :
1. Kruna lingga akecap
Upami : tas, jam, yeh, nyuh, bah, tuh, poh, don, len, joh, boh, bok, mas, luh, nah, nyak, ron, duk
2. Kruna lingga kalih kecap
Uapami : jani, jalan, durus, belus, padem, ngajeng, jemet, belog, lengit, putih, api, jaran, mani, lacur, bulan.
3. Kruna lingga tigang kecap
Upami : sesapi, sepeda, segara, sekoci, pedada, sengkala, cemara, prarai, babuang, keladi, cempaka, bendere, celagi, buaya, kelinci.
4. Kruna lingga petang kecap
Upami : liligundi, kalimayah, katibangbung, kaliasem, kalialah, kalimantek, kalikukun, celebingkah,
5. Kruna lingga limang kecap
Upami : tambulilingan, katiwawalan, katibubuan, kati mumulan, kalisasuan, tamureretan.

3.2 Kruna Tiron
Kruna tiron inggih punika kruna basa Baline sane sampun polih wewehan marupa pangater, pengiring, sesalan, miwah angkepinipun. Ring basa Indonesia mawasta kata jadian, kata berafiks, kata berimbuhan.
1. Kruna tiron mapangater
Upami : majalan, kakawin, prasida, swabhawa, pakayun, sakadi, susila,
2. Kruna tiron mapangiring
Upami : ajaka, adine, biune, jemakang, ajakin, dajanan, bajunin, rauhin,
3. Kruna tiron maseselan
Upami : telapak, sinurat, sumaur, gerigi, umatur.
4. Kruna tiron jangkep
Upami : kawisesan, pakayunan, kabudayan, sinarengan, panyumpenan, kenampekin.



3.3 Kruna Polah
Kruna polah inggih punika kruna-kruna sane kapolahang utawi kruna tetiron sane polih pangater anusuara (N- : ny-, m-, n-,ng-)
1. Kruna polah talawia (sane nganggen ny-)
Kruna sane mapangawit (c, j, s) pacang dados (ny-)
Upami : cegut, cakcak, sepak – nyegut, nyakcak, nyepak
             Jemak, jagur, sikut – nyemak, nyagur, nyikut
             Sigit, celek, juang – nyigit, nyelek, nyuang
2. Kruna polah Ostia (sane nganggen m-)
Kruna sane mapangawit (p,b) pacang dados – (m-)
Upami : pakpak, piler, bang – makmak, miler, maang
              Butbut, pukul, pijet –mutbut, mukul, mijet
              Bisbis, bekbek – misbis, mekbek
3. Kruna Polah Dantia (sane nganggen n-)
Kruna sane mapangawit (d,t) pacang dados – (n-)
Upami : dingeh, diman, duduk – ningeh, niman, nuduk
              Tulis, tebek, tunas – nulis, nebek, nunas
4. Kruna Polah Kantia (sane nganggen ng-)
a. Kruna sane mapangawit (g, k)npacang dados –(ng-)
Upami : gebug, kajang,gasgas – ngebug, ngajang, ngasgas
b. Kruna sane mapangawit suara (a, I, u, e, o) dados – (ng-)
Upami : alih, alur, uwek – ngalih, ngilut, nguek
              Egol, ogah, entut – ngegol, ngobah, ngentut

3.4 Kruna Dwilingga
Kruna dwilingga punika mawasta kata ulang. Duaning asapunika, sane kabaos kruna dwilingga inggih punika kruna-kruna sane lingganipun kapingkalih. Kruna dwilingga puniki kepah dados limang soroh :
1. Kruna Dwi Sama Lingga
Kruna dwi sama lingga ingih punika kruna-kruna basa Baline sane linggane kaping kalihang, sajeroning bahasa Indonesia mawasta kata ulang murni.
Upami : gede-gede, cenik-cenik,- omang-omang, bagus-bagus, jelek-jelek, jegeg-jegeg
2. Kruna Dwimaya Lingga
Kruna dwimaya lingga masih ring kruna dwisama lingga, nanging yening ipun kabaos apisan nenten maderbe arti.
Upami : kupu-kupu, kunang-kunang, kapu-kapu, katang-katang, awig-awig.
3. Kruna Dwisamatra Lingga
Kata ulang bunyi (BI), kawastanin kruna dwisamatra lingga. Inggih punika kruna sane kapingkalih tur polih pauahan suara
Upami : kecah-kecuh, kitak-kituk, dengak-dengok, colak-colek, kecag-kecog,
4. Kruna Dwi Purwa
Kruna dwi purwa inggih punika kruna sane kecape ring arep kapingkalih saha masuara e(pepet)
Upami : sesate, lelima, tetujon, bebaosang, sesari, geguritan, sesapi,
5. Kruna Dwiwesana
Kruna dwiwesana inggih punika kruna-kruna sane kecape ring ungkur kapingkalihang saha meweweh pangater pa-
Upami : pacebur-bur, paketel-tel, pakeber-ber, pakecog-cog, pakebyar-byar.

3.5 Kruna Satma
Kruna satma kanggen ngentosin istilah kruna dwibina lingga eka sruti, sane ring basa Indonesia mawasta kata majemuk. Kruna satma inggih punika angkepan kalih kruna sane ngwetuang arti anyar (asiki)
            Kruna satma kepah dados kalih soroh luirnyane :
1. Kruna Satma Papadan (setara) inggih punika kruna satma sane madue linggih pateh.
a. Kruna Satma Papadan Matungkalik
Upami : - meme – bapa - kemu-mai
  - Peteng –lemah - cerik kelih
   b. kruna satma papadan ngerasang arti
    upami : berag-tegreg, putih sentak, selem denges, peteng dedet, langsing lanjar, tegeh ngangklik.
2. Kruna Satma Tan Papadan (tak setara) sinalih tunggil krunane nerangang kruna-kruna lianan.

                              

SARGA IV
PAMUPUT
4.1 Kesimpulan
Tata Kruna punika akeh pisan wenten ring Bali, punika mawinan sepatutne kaplajahin semangdane iraga sareng sinamian uning daging miwah pikeneh melajahin tata kruna basa Bali.

4.2 Piteket
mangda makalah puniki mawiguna tur kelaksanayang tata kruna mabasa bali.

Daftar Pustaka : buku paket basa Bali. 

PGLS SMP Negeri 4 Abiansemal

Program Gerakan Literasi Sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal
Program literasi sangat penting bagi komunitas gerakan literasi atau bagi sekolah. 

Mendukung peningkatan minat baca dan mengasah keterampilan dalam menulis maka digagas Program Gerakan Literasi Sekolah atau PGLS. Lewat program ini diharapkan keterampilan literasi para siswa di sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal meningkat. Sehingga memiliki minat baca yang tinggi dan juga memiliki keterampilan menulis yang mumpuni. Menariknya, kebiasaan membaca yang tinggi juga dibarengi dengan prestasi yang gemilang. Harapannya, dengan program ini juga prestasi siswa bisa ditingkatkan. 

Bagi beberapa orang istilah PGLS ini masih sangat asing, termasuk di kalangan siswa dan orangtua atau wali murid. Berhubung program ini sudah mulai gencar dilakukan, maka tidak akan rugi mencoba mengenalnya lebih dalam. 

Apa Itu PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH (PGLS) SMP NEGERI 4 ABIANSEMAL? 

Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks PGLS SMP Negeri 4 Abiansemal adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan atau berbicara. PGLS SMP Negeri 4 Abiansemal merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Adapun tujuannya untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik SMP Negeri 4 Abiansemal melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Program Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Selain itu bertujuan juga agar menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal; 
meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat; menjadikan sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan; menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

PGLS di SMP Negeri 4 Abiansemal diharapkan akan menciptakan ekosistem pendidikan di SMP yang literat. Ekosistem pendidikan yang literat adalah lingkungan yang menyenangkan dan ramah peserta didik, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar; semua warganya menunjukkan empati, peduli, dan menghargai sesama; menumbuhkan semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan; memampukan warganya cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya; dan mengakomodasi partisipasi seluruh warga sekolah dan lingkungan eksternal SMP Negeri 4 Abiansemal.

Istilah literasi kemudian identik dengan kegiatan membaca, baik buku atau tulisan apapun dalam bentuk tercetak di media kertas maupun dalam bentuk elektronik. Seperti ebook atau electronic book. 

Namun, istilah literasi memiliki makna lebih luas yakni tidak hanya membaca melainkan juga menulis. Sehingga siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal dan seluruh warga di lingkungan sekolah memiliki kemauan baca yang tinggi dan punya kemampuan untuk menulis. 

Dua kemampuan ini saling berhubungan dan kemudian identik dengan proses belajar dan mengajar. Saat seseorang terbiasa atau akrab dengan dunia literasi sejak dini, maka kebiasaan ini akan melekat sampai akhir hayat. 

Manfaatnya tentu sangat beragam, misalnya mampu mengoptimalkan prestasi akademik siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal. Sebab hasil penelitian menunjukan, siswa yang rajin membaca memiliki konsentrasi lebih tinggi. Sehingga tingkat pemahaman terhadap materi pelajaran dan daya ingatnya lebih baik. 

Pelaksanaan Program Gerakan Literasi Sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
Melalui penjelasan sebelumnya bisa dipahami, bahwa kegiatan literasi di dalam Program Literasi Sekolah tidak hanya berhubungan dengan kegiatan membaca saja. Melainkan juga menulis dan hal-hal lain yang berhubungan dengan dunia kepenulisan. 

Program ini kemudian berjalan dengan menghadirkan berbagai bentuk yang bisa diikuti oleh seluruh siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal dari berbagai kalangan usia. Secara umum berikut adalah sejumlah program di dalam PLS tersebut: 

1. Jadwal Kunjung Perpustakaan SMP Negeri 4 Abiansemal
Perpustakaan ibarat “gudang literasi”, semua bentuk kegiatan literasi bisa ditemukan dan dilakukan disini. Oleh sebab itu, perpustakaan perlu dikelola dengan baik dan dikunjungi secara rutin. 

Maka dalam Program Literasi Sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal dibuat Program Kunjungan Perpustakaan. Dalam kegiatan ini para siswa kemudian memiliki jadwal rutin untuk berkunjung ke perpustakaan, sehingga bisa membaca lebih banyak buku setiap harinya. 

2. Membuat Mading Siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal
Mading atau Majalah Dinding sudah dikenal sejak dulu dan masih bertahan sampai sekarang, meskipun tidak semua sekolah aktif mempublikasikan mading. Mading disusun sedemikian rupa agar bisa menyajikan informasi secara menarik. 

Konten di dalamnya juga sangat beragam mulai dari info kegiatan di sekolah, cerpen, puisi, hasil kerajinan tangan siswa, dan lain sebagainya. Mading umumnya terbit berkala setiap dua minggu sekali dan ditempel di dinding salah satu gedung sekolah. 

Mading kemudian menjadi bagian dari literasi, sehingga di dalam PLS SMP Negeri 4 Abiansemal dibuat program Membuat Mading. Sehingga siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal disini bisa belajar bekerja sama membuat atau menulis buletin yang menyajikan banyak informasi dan karya tulis. 

3. Program Membaca Setiap Pagi atau Busi (Rabu Literasi) di SMP Negeri 4 Abiansemal
Program Literasi Sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal tentu tidak bisa dilepaskan dari kegiatan membaca, maka dibuat program Membaca Setiap Pagi dengan aksi nyata siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal dalam perjalanan menuju sekolah wajib diantar dan dijemput 10 meter dari gapura sekolah serta anak-anak telah siap membawa buku cerita dan buku literasinya, lebih-lebih khususnya setiap hari Rabu ada program Busi (Rabu Literasi). Sesuai dengan namanya, program ini memberikan jadwal khusus di pagi hari untuk digunakan membaca oleh para siswa. 

Misalnya setengah jam atau satu jam sebelum mata pelajaran pertama dimulai. Hari Rabu pagi adalah kondisi dimana para siswa masih segar dan otaknya juga belum terbebani dengan mata pelajaran yang sulit. 

Sehingga pagi hari menjadi momen terbaik untuk membaca agar bisa lebih fokus dan berkonsentrasi. Sekaligus lebih mudah mengingat apa saja yang telah dibaca. Jika dibiasakan maka siswa dengan sendirinya akan membaca buku setiap tiba di sekolah. 

Kenapa sih harus baca? Ada beberapa pendapat para ahli tentang manfaat membaca dan ini sangat bermanfaat jangka panjang bagi orang yang ingin sukses.

4. Poster-Poster SMP Negeri 4 Abiansemal
Berikutnya adalah program Poster-Poster atau Posterisasi, yakni program yang mewajibkan siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal secara bergiliran untuk membuat poster dengan ajakan positif. Sehingga poster ini bisa berisi kalimat motivasi, gambar dengan unsur motivasi, dan lain-lain. 

Selain itu, poster yang dibuat siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal juga bisa melengkapi program mading tadi dimana menyajikan pengumuman mengenai suatu program di sekolah. Entah itu acara Pelantikan Bantara di Pramuka, acara Pengangkatan Ketua OSIS, dan lain-lain. 

5. Pohon Literasi siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal
Program berikutnya adalah Pohon Literasi, sesuai dengan namanya program ini dilakukan dengan membuat replika pohon. Bisa berbentuk gambar maupun tempelan kertas dan media lain yang terkesan 3 Dimensi. 

Setiap daun di Pohon Literasi kemudian mencantumkan nama siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal di kelas tertentu beserta cita-cita dan hasil karya tulisnya. Bisa juga mencantumkan informasi lain yang dianggap menarik. Satu kelas kemudian memiliki 34 s/d 36 siswa, maka satu Pohon Literasi memiliki 34 s/d 36 helai daun. 

6. Sudut Literasi SMP Negeri 4 Abiansemal
Program Literasi Sekolah juga bisa diisi dengan membuat Sudut Literasi. Setiap siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal diwajibkan membawa satu buku cerita yang kemudian dicatat oleh pengurus kelas. Jadi, di setiap kelas di SMP Negeri 4 Abiansemal kemudian membuat salah satu atau beberapa sudut yang diisi dengan buku, meja dan sekaligus kursi untuk membaca. 

Sudut ini bisa diambil di salah satu sudut di kelas, kantin, sampai sudut di bale bengong depan Padmasana SMP Negeri 4 Abiansemal. Sudut ini akan menarik minat siswa untuk mengisi waktu istirahat dengan membaca, begitu pula saat jam pelajaran kosong. 

Untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah, sudut maupun ruang kelas perlu diperkaya dengan bahan-bahan kaya teks. bahan kaya teks diantaranya adalah:
karya-karya peserta didik berupa tulisan, gambar, atau grafik; poster-poster yang terkait pelajaran, poster buku, poster kampanye membaca, dan poster kampanye lain yang bertujuan menumbuhkan cinta pengetahuan.
dinding kata; papan buletin label nama-nama peserta didik /setiap benda di ruang kelas; mainan alfabet jadwal harian, pembagian kelompok tugas kelas; surat, resep, kupon, kliping, foto kegiatan peserta didik; komputer dan/atau perangkat elektronik lain yang mendukung kegiatan literasi; kaset cerita, DVD, dan bahan digital/eletronik buku dan sumber informasi lain (koran, majalah, buletin);
perangkat berkarya dan menulis seperti alat tulis, alat warna, alat gambar, kertas gambar, kertas bekas, busa, kertas prakarya, surat, kertas surat, amplop, koran bekas, kertas sampul, dan lain-lain; 
ucapan selamat datang dengan bermacam bahasa sesuai brand kelas masing-masing, kata-kata yang memotivasi di sepanjang teras sekolah, dan tempat-tempat lain yang mudah dilihat; dan boneka dan kostum, untuk digunakan dalam permainan peran (menjadi dokter atau juru masak yang menulis resep, atau pelayan restoran yang menulis daftar pesanan); semua bahan dan alat harus disimpan di tempat yang mudah diraih oleh peserta didik dan perlu dikelompokkan menurut fungsinya (alat gambar disimpan terpisah dari mainan, alat untuk bermain peran, dan lain-lain); peserta didik perlu mengetahui di mana mereka dapat menemukan bahan-bahan yang mereka perlukan.

7. Duta Literasi SMP Negeri 4 Abiansemal
Sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal juga bisa menggelar program Duta Literasi Sekolah yang diangkat dari para siswa pilihan. Sehingga program ini dirancang untuk mengetahui siapa saja yang minat bacanya paling tinggi dan paling produktif menulis. 

Misalnya, siapa yang paling banyak membaca buku dalam waktu satu bulan atau mungkin satu semester? Kemudian, siapa yang membaca paling sering di perpustakaan dalam waktu satu bulan? Bisa juga kebiasaan literasi lainnya. 

Kemudian siswa yang membaca paling banyak akan diangkat menjadi Duta Literasi. Hal ini akan mendorong siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal yang lain untuk ikut banyak membaca buku dan berkunjung ke perpustakaan. 

8. Berbagai Ajang Lomba SMP Negeri 4 Abiansemal
Berikutnya dalam Program Literasi Sekolah adalah dengan mengadakan berbagai ajang lomba. Tentunya lomba yang berhubungan dengan dunia literasi. Misalnya lomba membaca puisi, kemudian lomba menulis cerpen, lomba menulis ringkasan novel, lomba kreativitas membuat desain cover buku dan lain sebagainya. 

Lomba ini tentunya akan didapat pemenang dan memotivasi siswa-siswi SMP Negeri 4 Abiansemal lainnya untuk mengasah keterampilan literasi. Entah itu membaca maupun menulis, sehingga budaya literasi bisa semakin mendarah daging di lingkungan sekolah.

Salah satu lomba yang bisa dilakasanakan dan ringan adalah Lomba Esai. Untuk yang ingin menang lomba esai, perhatikan tips menulis esai yang menarik.

Program Literasi Sekolah (PLS) SMP Negeri 4 Abiansemal menjadi program penting yang perlu dilakukan atau diterapkan. Sebab dengan budaya literasi yang baik sejak dini, maka lulusan sekolah SMP Negeri 4 Abiansemal terbiasa membaca, menulis, dan kemudian punya prestasi yang semakin membaik dari waktu ke waktu.


Senin, 17 Oktober 2022

NGEMARGIANG PECARUAN

NGEMARGIANG PECARUAN

I PRANAYAMA
II. NGASTAWA TIRTA
III. NGERESIK

1. NGELINGGIHANG SURYA
Om om parama siwa surya lingga sunya ya namah
Om om sada siwa surya lingga niska aya namah
Om om sada rudra surya lingga ati ya namah
Om om maha dewa surya lingga nira ya nam
Om mam iswara surya lingga parama ya namah
Om ung wisnu surya lingga antara ya namah
Om am brahma surya lingga ya namah

Om hram hrim syah surya lingga ya namah
Om i ba sa ta a ya na ma si wa ya mam um am
Om sa ba ta a i na ma si wa ya am um mam

1. Surya Astawa
Om aditya sya paramjyotir, Rakta teja nama stute
Sweta pangkaja madiasta, Baskara ya namah stute

Om aditya garba pawana, aditya janopa surya
Surya rasmir hrsi kesa, Surya satwam maha wiriam

Om aditia jata wedasa, aditia janopa surya
surya rasmir hrsi kesa, surya satwam maha wiriam

Om hrang hring sah parama siwa aditya ya namah suaha.

3. BRAHMA ASTAWA
Om namaste begawan agni
 Namaste begawan hari
Namaste begawan isa
Sarwa baksa huta sana
Ong triwarna bagawan agnir
Brahma wisnu maheswarah
Santikam paustika caiwa
Raksanem cabi carikem

Ong anun canam kertam lokam
Sau bagyam priya darsanam
Yah kincitsarwa karyanam
Sidir ewanca sancayah
Ong Ong brahma dipataya namah swaha

      4. SIWA ASTAWA
Om akasa nirmalam suniam, Guru dewa byo mantaram
Siwa nirwanam wirianam, reko angkara wijayam

Om meru srenggo candra lokam, Siwa laya murti wiriam
Dupam buanam timiranca, guru dewa murti wiriam

Om dewa-dewa murti buanam , wyo mantara siwa ditya
Candra lokam dupam buanam, Guru dewa murti wiriam
Om akasa wioma ya namah suaha.

      5. PERTIWI
Om pertiwi sariram dewi, Catur dewa maha dewi
Catur asrama batari, Siwa bumi maha sidi

Hring purwaning basundari, siwampati empu praweni
Uma durga gangga gori , Brahma batari waisnawi

Maha swara gangga mara , Gayatri dewa wigori
Harsa sidi maha wari, Indra nisca mundi dewi

Om pertiwi sariram dewi , Catur asrama batari
Siwa bumi basundari, Sarwa dewa wes bacem
Om sri dewi bawa ya namah swaha.

6. PIUNUNG KE SURYA
Ong dewati taya sarwayem, nistula wapi, dewa sanggaya dewanem etbyah tat namo swaha.

Ong guhyati guhir goptawi gryhya papa kretah mama sidir bawantu tasyaha trowi karanggama siwanem.

Om parama siwa tangguyam , Siwa tatwa pariyanah
Siwa sya prenatanityam, Candis caya namastute

Om newidyem brahma winusca, Sarwa boktra maheswaram
Sarwa wiadi nalabatyem, Sarwa karya prasidantam

Om Jayarti jaya mapnuyat, Yasarti jaya mapnoti
Sidi sakala mapnuyat, Paramasiwa labatyam, Om Nama siwaya namo namah swaha.

7. NGAYABANG SUCI KE SURYA
Om agni madya rawis siwa
Rawi madya tu candrahem
Candra madya bawus sutelah
Sutelah madya stitah siwah

Om suci rwa sucirwapi
Sarwa gangga gato diwam
Cintya ye dewa isanam
Sarwa byantara suci

Om agni siwa tribwanam
Rawis candi maha statam
Janasta panca satyamto candra
Sutelah siwah semertam

Om namasiwaya dewamca
Sarwa suda nityam dewa
Maheswara murti bwanam
Sarwa roga wimurtyanta.

8. Tirta Caru
Ambil bunga; astra mantra
Om gangga dwara paraya geca, Gangga segara senggamam
Sarwa anggota bhur labata, Tribih stonir wisasatem

Om papaham papa karmaham, papat ma papa sambawah
Trahimam pundarikaksah, Sabahya byantarah suci

Om sidi guru srong serapat, Sarwa wigna sarwa klesa
Sarwa roga sarwa satru, Sarwa papa winasanam ya namah swaha

Bunga di cemplungkan di tempat tirta caru.
catatan; membuat tirta caru harus ditempatkan pada tempat yang berlainan dengan tirta pebersihan dan penglukatan.

9. dengan mantra : (Puja samsam lan beras kuning untuk ditabur di bayang-bayang caru)
Om tang, ang, ing, sang, bang, utat, ya namah swaha
Om gmung gana patya ya namah
Om bang rajastra ya namah
Om phat phat phat
Om ang sura bala ya namah
Om ung cikra bala ya namah
Om sang, bang, tang, ang, ing, panca maha buta byo namah swaha.

pada saat ngambil mantram di atas, terlebih dahulu ambil samsam, dan bija kuning yang diikuti dengan mantran ini, Sehabis mengambil mantram ini, samsam dan bija kuning disebar pada bayang-bayang caru, dan disirati dengan tirta caru.

10. IKI DURGASTAWA RING SANGGAH TUTUWAN
Pada saat mau ngambil pengastawa ini tetimpiug/keplugan langsung di bakar, kulkul dibunyikan.

Ong karem sarwadnya sidyem
 Sri gori wiwak sangkarem
Dangko dwelambo pralayem
Berawi ranta kaliem
 Kala widyem pera SYATEM

      Murti wisesa sapraja
Jayastra wangdaro deweyam
Prakasewan sasamodyem
 Kala wisesa samodyem
Berawi puranteng karem
Sri gori wasita dewi
Samo drascastawa raksasem
 Meputa sida garem
Sangkarem gori dayita
Sambu nama dewi durgam
Pingale wara waranam
 Rudra dewa maha sadyem
Gangga gorem laksmi dewi
Durgalaya sambar yata
Siwa sri sinayogatem

KUTANIA
Ong Sang hredayem
Ong Wang hredayem
Ong Nang hredayem
Ong Mang hredayem
Ong Yang Sada Rudra namo namah swaha.

11. Buta Astawa
Om kruna raksasa rupanca, baibatsyam ya caya puniah
Somya rupam awapnopati, twam wanda waradam amum
Om sweta maheswara rupam, brahma bangkala warnasya
Pita maha dewa kala, wisnu kresna warna kala
Siwa panca warna kala, durga buta warna sya
Tum wana karate hityam, pancama kala warnasya
Om buta kala pretisna ya namah swaha.

12. NGUNDANG BUTA
Metangi Ida hyang ibu pertiwi, muah ida hyang mawa bumi, mangku bumi, dukuh bumi, muah ida Hyang Durga Dewi, kairing para watek
Kala Raksa, Buta Raksa, Kala Bumi, Buta Bumi, Muah sang Buta Kala ring wetan, Buta Kala ring kidul, Buta Kala ring kulon, Buta kala Ring lor, Buta Kala Ring madya, sami pada turun ring madya pada.
Ring wetan buta putih, Buta Runa aranta dewanta batara Iswara
Buta Janggitan ring kidul abang rupanta dewanta batara Brahma.
Buta lembu karuna ring kulon, Jenar rupanta dewanta batara Maha Dewa
Buta Langkir ring lor, ireng rupanta Dewanta batara batara wisnu.
Buta sakti ring madya manca warna rupanta Dewanta batara siwa.
Muah Iangga pati, Mraja Pati, Banaspati, Banaspati Raja, sareng Buta Panca Resi, maharan maharan Sang Kursika, Sang Garga, Sang Metri, Sang Kursya, Sang Pretanjala.
Muah Buta Panca resi, Buta Nawa Resi, Buta Sapta resi.
Apan sami pada katuran malingga malinggih ring saptaning upakarangan, sami pada katuran pekramasan muang pereresikan, pesucian, sami katur ring kaki buncit, nini buncit, ana sira araning sanghyang sapta ening.
Tepung tawar muang sarining tebus apan sami pada katuran mangkin mangda sareng sami Anodya anayub sarining wanten upakaraning caru.
            Om batara Durga , batara gana batara brahma, sang yama raja, sang pulung, sang gudug basur, sang buta kala ulu singa, sang daitya, sang raksasa sang wil, sang dewa yuci sakti, mapupul ta sira kabeh kabeh tingalana caru ning ulun ring awak sariranta kabeh, Om maka Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang Ang Ung Namah

13. NAMPIANG CARU
1. Ih kita sang Panca Kala Dengen, Ih kita buta petak metu saking purwa umanis panca waranira, Hyang iswara dewannira, saduluran wadwanta kabeh, iki tadah sajin nira, tumpeng putih limang tanding, ayam putih mapelut mapendet, maurab barak urab putih, saha petabuh sajeng mentah wus diolah sama deniya asing kirang asing luput geng rena sinampuranen sang apara caru, sirata nugraha dirga hayu dirga yusa, Ong Sang Namah

 2. Ih kita buta Bang metu saking daksina, paing panca waranira, Hyang Brahma dewannira, saduluran wadwanta kabeh, iki tadah sajin nira, tumpeng barak sia tanding, ayam Biing mapelut mapendet, maurab barak urab putih, saha petabuh sajeng mentah wus diolah sama deniya asing kirang asing luput geng rena sinampuranen sang apara caru, sirata nugraha dirga yusa, Ong Bang Namah

 3. Ih kita Buta Pita metu saking pascima panca pon waranira, Hyang maha Dewa dewannira, saduluran wadwanta kabeh, iki tadah sajin nira, tumpeng kuning pitung tanding, ayam buik kuning mapelut mapendet, maurab barak urab putih, saha petabuh sajeng mentah wus diolah sama deniya asing kirang asing luput geng rena sinampuranen sang apara caru, sirata nugraha dirga yusa, Ong Tang Namah

 4. Ih kita buta Ireng metu saking utara wage panca waranira, Hyang Wisnu dewannira, saduluran wadwanta kabeh, iki tadah sajin nira, tumpeng ireng petang tanding, ayam ireng mapelut mapendet, maurab barak urab putih, saha petabuh sajeng mentah wus diolah sama deniya asing kirang asing luput geng rena sinampuranen sang apara caru, sirata nugraha dirga yusa, Ong Ang Namah

5. Ih kita Buta Manca Warna metu saking madya kliwon panca waranira, Hyang Siwa dewannira, saduluran wadwanta kabeh, iki tadah sajin nira, tumpeng manca warna kutus tanding, ayam Brumbun mapelut mapendet, maurab barak urab putih, saha petabuh sajeng mentah wus diolah sama deniya asing kirang asing luput geng rena sinampuranen sang apara caru, sirata nugraha dirga hayu dirga yusa, Ong Ing Namah

Apupul kita kabeh ring pesamuan alit, enak pada tadaha sajinta sama soang-soang, wus kita nyengkala-nyengkalanin sang sinadian karya moga sida gawe nemu rahayu, samangkana kengetang pedajaran ira aja lali away kita pepacuan lah poma, lah poma, lah poma

Catatan :
Habis itu kalau caru manca sata juga lengkapi dengan caru/olahan bebek maka sehabis nampiang caru manca sata dilanjutkan dengan ngastawa caru bebek.
Bila sang punya karya melaksanakan caru yang lebih besar dari itu biasanya sampai pada : caru kuluk bang bubgkem dan kucit butuan, maka pengastawanya dilanjutkan dari : nampiang caru manca sata, bebek, kuluk bang bungkem, kucit butuan. Baru dilanjutkan dengan pengastawa yang ada di bawah ini.
Caru medurga/bebek belang kalung
Om kaki batara kala, paduka batara durga, kaki bathara ghana, shanghyang panca muka, ajo anyangkala anyangkali pakarangan sang apara caru, apan sampun angaturaken caru pabyakalan, amuktiya sira, sama sukha sira, sama suka sira sang adruwe caru , teka waras.
Asu Bang Bungkem
Om indah ta kita angadeg sang kala asu bungkem, asu bang, sang kala anta bumi, sang kala anta boga, sang kala ibu gading, sang kala dewania sanghyang licin, betara durga, muang betara guru tunggal katurang upakaraning wewantenan medaging sekul bang muang asu bang mapelut, mapendet, aurab uraban maolah sate genep, matebog slanggi, bungkak kasturi sarwo ijo, Om bang namah swaha.

KUCIT BUTUAN
Om indah te kita angadeg sang kala brahma, sang kala ludra, sang kala gudug basur, sang kala jagal, sang kala kerung, sang kala sadu, sang kala sad, baiw butuan dewania batara guru, katuran wewantenan medaging sekul ireng muang bawi suku pat, mepelut, mapendet, maurab-uraban, maolah sate genep, matebog slanggi, bungkak kasturi sarwo ijo, Om hang namah swaha.

14. NGLEPAS LAYANG-LAYANG
Ong adyayem sudamem kursikye namah swaha, Ong kelasyem sudamem gargaya namah swaha, Ong gande medanem sudamem metryem ya namah swaha, Ong maliyawem sudamem kurusye namah swaha, Ong maha merwem sudamem pratanjalem ya namah swaha.

15. NGLEPAS PRANI
Mantiga, mantaya ,matarya, mantuk maring sabda, bayu, idep kawyapaka dening ulun kita, manadya kita manusa jati, ana una kayanta aturana ri kami, apan ulun angentasakna ring kita, Ong sidhir astu ya namah swaha.

16. Puji Buta
 astra mantra
Om sukatam Kala pujitam, 
Kala suka prayojanam
Sanayam kala pujitam, 
Sada siwa maha kretam
Om pujitam kala sukatam, 
Kala kali kaprojnanam
Sarwa kala suka nityam, 
Sarwa wigna winasanam
Om durga dewi maseriram. 
Kala kingkarana moksatam
Kala mrtyu punah citram, 
Sarwa wigna wina sanam
Om buta kala pratista ya namah swaha.
Dilanjutkan dengan pengastawa

17. Buda Astawa (Astawa ini diambil apabila tingkatan caru lebih dari panca sata)
Ong bajra menalem awastem, 
dupa duruna menalem, 
atma nalem suka madyem, 
bajra nala namastute.

Ong karem wiryem mama dwastem, 
sre ccandra kunir malem, 
pawitra bajra pawiyangke, 
sweta wastra dewangsane.
Sweta bajra lawa lisanta, 
bajra lawanamastute, dana bulasem ye gry, yaksa sutra kamandalu.
Sakty karma di sanidyem. 
Bajra nala mnamastute, 
bajrarta namastute, 
brahma swanem astuti dewem, 
Ong brahma maha dewa namastute, 
ong sidi astu astu swaha.
Ong buda nuty sapta lukyem, 
maha dewa pita warnem, 
sarwa kenaka bustitem, 
pita meru surya pranem.
Sapta luke buda layem, 
surya muti dewa wiryam, 
prajaksa kabeh lakem bumurti siwa layem.
Linggod bawa muti dewyem, 
sarwa dewa bude linggam, 
prakwak syamem sarwa dewa, 
murtyu muti buda layem.
Guru dewa buda linggam, 
suda suksme sangga lukem, 
kala geni ludra dewatem, 
sarwa praja pratistanam.
Basundari gopa tyem, 
jaya sri wisnu wi dewi, 
uma pati gangga dewi, 
durga maserirem, dewiyem.
eka dityem lingga sanem, 
muti muti maha rupem, 
begawate muti prajem, 
guru namo wiro dratem.
Sarwa jagat pretistanem, 
budarwa latri lakyem, 
jagat wigenem wina sanem, 
kasatriya dinaya labatem.
Brahmanem sidyem pawitrem, 
sarwa karya ga tanam, 
sarwa roga wina sanem, 
sarwa gudanem nemtyem.
Guru dewa muti bwanem, 
giri bumi basundari, 
suda lingga rupem dewem, 
purnadi mala salinggyem.
Moksanem drune rupem, 
amerta warsa namaskarem, 
suda wigna trilokanem.

Ong sekalem niskalem siwa, 
ong kara tyem siwa temakem pancak sarata ong kara, sarwa dewatma nirbanem.
Wisi satma lana lila, 
punia tita siwa laya, 
silamba rasa sinena, 
wyaktem sarwa jagatpantem.
Sarwa praja posi yane, 
kincit saya gatem purem, 
windu candra saya gatem, 
candra windu senaya sime.
Kincit byem siwa sarwasca, ongkara siwa mucye te, sarwa wisim wiwakcana, trasandya pate turah.
Caraya naka karsanam, cakra sure nam de trem, windu luke jagat patyem, kama pita lakun jarem.
Brahma wisnu maheswarem, sangkara sambu sang metrem, kuwera rudra siwaya, arda nare swarem siwa begewane suce metrem.
Surya candra maha metrem, basmi buta dura wisesa, ong arda nare swarem, ong amreta taya swaha, ong ang rapat atma tatwatma sude yenamah swaha.

18. Astawa banten kedewa, Ayab sesayut, ayab banten kedewa, ayabang peras

19. NGAYABANG CARU
Om pukulun kaki batara kala, kaki batara durga, kaki batara gana, sanghang panca muka, aja sire anyengkalen karya ipun........apan sampun ngaturang caru baya kalan amukti sira sama suka, sire ring sang adruwe caru, teke waras

Om buktyantu durga katara
Buktyantu kala maweca
Buktyantu sarwa butanam
Buktyantu pisaca sanggyam

Om durga bucarya namah
Om kala bucarya namah
Om buta bucarya namu namah swaha

20. NGAYAB GELAR SANGA

21. Tepung Nasi Caru Ben Caru (Mepresawya/ngider caru kekiri)
Ih buta preta, kala wigraha, buta bergala catur winasa iki sajine tal pan ana ngelih tanpa galih I pang bang prak, ikang nasin caru lah poma, lah poma,lah poma.

22.Ngundurang Buta
Ong taru buluh pinaka taru lelata, sayuban batari durga, onang sang ameruti anyabut amungkah sayuban batari durga.

Ambil katik daun kelapa (Pahpah) dan sampat, lalu pukul dan sapu sebanyak lima kali dimulai dari timur, selatan, barat, utara dan terakhir tengah, mantram

Manut ikang taru mulih ring pertiwi, angundurang buta kala kabeh, angadeg sang bima, angebug ikang pertiwi, mapan wus putus amangan anginum, pamulihta kita maring ungguanta soang-soang, kaki rahbyah amutus punang aken, yan kita metu saking purwa, pemulihta kita maring purwa, yang kita metu saking daksina, pemulihta kita maring daksina, yang kita metu saking pascima, pamulihta kita maring pascima, yan kita metu saking utara, pemulihta kita maring utara, yan kita metu saking madya, pemulihta kita maring madya, ring tengahing pekarangan ingulun urumu apa ring kena poma, ayuwa lali ih buta mingmang, sarwa durjana lah poma, sirata guruning buta anuntunte wangsul akena tan madah kala butanira soang-soang, 
Om buta sang kara ya namah swaha.

Om te sira sang buta kala kabeh, apan te kita wus anodya, anayub sarining upakaraning caru, Tang keneng te kita nyengkala, mundur te kita maring kayangan te soang-soang,
Buta Putih Mundur kita maring wetan
Buta Bang mundur kita maring kidul
Buta Pita mundur kita maring kulon
Buta ireng mundur kita maring lor
Buta Manca warna mundur kita maring madya
Sakuehing sarwa gumatat gumitit, mundur te kita ring pangkung dalem, kelod kauh paunduranta, batu lumbang pategahanta, Batu lumbung pasedohanta, don tiing pangananta, don tehep paidemanta, rep ditu jalanta kasirep, Om sarwa kala sampurna ya namah swaha.

catatan; pada saat mengambil pengastawa tepung nasi caru serta ngundur buta maka, harus dilakukan prosesi ngider caru, dengan urutan : simbuh sune jangu, api, tepung caru disebar, sampat, tulud dan pahpah.Kemudian crukcuk dicabut dan direbahkan ke tengah caru.

23. PENGLUKATAN BUTA
Ong hyang hyang tan hana hyang, aku guruning hyang, angadeg aku sanghyang tunggal, rimng wisnu bwana, tumurun aku ring madya pada, menadi aku wiku darma sakti tang kahungkulan, wenang aku anglukat satwa mala, papa pataka, kagila – gila, madi-mandi, aeng-aeng, kala - kali jyoti, leyak, tuju, teluh, trangjana, desti wang tiwang prakasa, yata kita buta marupa dewa, tan wenang kita angalangi dalan ingulun anglukat malanta;
- Buta petak mulih kita mangetan
- Buta bang mulih kita mangidul
- Buta kuning mulih kita mangulon
- Buta ireng mulih kita mangelor
- Buta amanca warna mulih kita maring tengah
Ong pupug sempug sarwa kala, buta pisaca-pisaci, raksasa-raksasi, buta-buti, dengen, denawa, detya, raksasa, matemahan dewata, hyang widyadara-widyadari, mesat ring kena genahnira ring meru tumpang sawelas, Ong sah wosat, ong suksme ya namah swaha.

24. PRELINA BUTA, Pakai kuangen sebanyak bayang caru yang ada,
Ong Duk Duk Duk Rung Rung Rung Hung Hung Ha Ha Ing Ing Namah Swaha

       PRELINA CARU
Ong Ung Ung buana suka suksema ya namah swaha
Ong Ong Suksema ya namah swaha
Ong brakteng kala yang kala prelinam kala nikalawem
Muni dewemkala wem sidirastu ya namah swaha
Ong prelinem kala wem sama sampurnam cita nusanca suda danta prelinem
Om Keduk rung ya namah swaha

25. NGELEBAR CARU
Ong Tang Ang Ing Sang Bang Ung Catat
Ong Gmung Gangga Dipastaya
Ong Eng nama rajastraya ye namah, Ong pat pat pat
Ong Ang sabra balaya namah, Ong Ung cakra balaya namah
Ong Mang namaskaraya namah, Ong Sang Bang Tang Ang Ing
Ong panca maha buta byonamah

26. Pengaksama
Om pengaksama ing hulun ring batara buda wisesa, mekadi hyang dur bali, sang hyang tiga wisesa, paduka batara panguluning sang mantuk ring budha loka, mekadi ring ida paduka batara, waluya hening jati paripurna, sampun marupa durga, marupa baerawi, waluya mantuk dadi batara icele jiwaning manusa kabeh, sang adruwe karya hayu, sang imuja hayu, sang, bang, tang, ang, ing, yang, ang, ung, mang.

Ong ksamaswa mam maha dewa, Sarwa prani hitang karah
mamocca sarwa buta byah, menadi hyang namah swaha

Ong swahasta maha dewi, berawi preta baksini
bagawatye tuwatasye, durga dewya tuwatasye

Sakalam niskalam matwam, rodram tam somya dharayet
tasye watusye durghe, bhagawatye namah swaha.

27. MUSPA


PUPUT


Minggu, 16 Oktober 2022

Pangleburan Pawintenan

Makna kata pangleburan
le·bur1 a 1 luluh atau hancur mencair (tentang logam yang dipanaskan): baik besi maupun baja -- apabila dipanaskan dalam suhu yang tinggi; 2 ki rusak binasa; punah sama sekali: seluruh kampung -- oleh gempa yang dahsyat itu;sama -- sama binasa, pb bersahabat sehidup semati;
-- sel Tan terjadinya peleburan antara dua sel dalam kultur jaringan dan dihasilkannya sel baru atau hibrida baru;
-- tunggal Ek penggabungan dua atau lebih perusahaan sejenis menjadi satu perusahaan;

me·le·bur v 1 menjadikan lebur (luluh); menjadi cair (tentang logam): timah ~ pada 332oC; 2 membubarkan diri kemudian bergabung dengan yang lain (tentang perkumpulan): beberapa partai politik telah ~ menjadi satu;

me·le·bur·kan v 1 menjadikan lebur (luluh); meluluhkan; mencairkan (tentang logam): tukang emas itu sedang ~ emas di dalam kui; 2 membinasakan; menghancurkan sama sekali: pasukan kita berhasil ~ benteng pertahanan musuh;~ diri 1 menyatukan (menggabungkan) diri dengan yang lain: partai kecil sebaiknya ~ diri ke dalam partai yang besar; 2 memasukkan diri ke dalam; masuk ke: orang asing yang ~ diri ke dalam kebangsaan Indonesia memperoleh hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya;

ter·le·bur adv telah dilebur;

le·bur·an n sesuatu yang telah dilebur (tentang logam yang sejenis, perkumpulan); hasil melebur: ia menuangkan ~ besi itu ke dalam cetakan;

pe·le·bur·an n 1 proses, cara, perbuatan melebur; 2 tempat meleburkan (logam dan sebagainya)

Proses peleburan pawintenan adalah proses 
pencairan/penyusupan/penyerapan aksara suci baik yang telah dirajah di sekujur tubuh, busana, turun dan pawisik guru nabe dengan jalan pemanasan (tapa brata yoga samadhi) saat melakukan yoga nindra dan setelah di tapak dengan prelingga/archa Ida Hyang Bhatara Sinuhun serta natab banten pangleburan. 
Peleburan setelah mencair atau luluh merasuk kedalam bhuana alit, selanjutnya disimbolkan dalam bentuk pengen sebagai tempat/wadah menyimpan semua ajaran, petuah serta pawisik dari guru nabe, kemudian dilanjutkan dengan melakukan puasa memutih selama 3 hari. 

Banten Pangleburan:

1. Tebasan Pangleburan
Tebasan (pangleburan) adalah simbol penyempurnaan yang letaknya dalam tri angga upacara yadnya berfungsi sebagai ayaban yang mengandung nilai-nilai magis.

Arti kata tebasan sebenarnya disebutkan berasal dari kata tebas yang artinya menyempurnakan seperti halnya penggunaannya disebutkan oleh arta dharma dalam makna Tebasan Prayascitta untuk menyempurnakan pikiran. 

2. Pras Pejati
3. Be Cundang
4. Nasi 
5. Jukut muncuk waluh