Senin, 10 Juni 2024

Teologi Agama Budha


Makalah 
TEOLOGI AGAMA BUDDHA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Agama Buddha merupakan salah satu agama yang besar di dunia. Kata Buddha sendiri diambil dari kata Buddh yang berarti membangun. Sedangkan orang Buddha sendiri artinya orang yang membangun. Ada juga sebutan lain yakni Bhagavat artinya yang luhur serta Tathagat artinya yang sempurna. Selanjutnya seorang Buddha adalah orang yang mendapat pengetahuan dengan kekuatannya sendiri. Dalam alur sejarah agama-agama di India zaman agama Buddha dimulai sejak tahun 500 SM hingga tahun 300 M. Secara historis, agama tersebut mempunyai kaitan erat dengan agama yang mendahuluinya dan yang datang sesudahnya, yaitu agama Hindu. Agama itu timbul di daerah India Utara (daerah Kerajaan Magadha).
Banyak orang yang belum mengerti mengenai ajaran agama Buddha terutama mereka yang bukan pemeluk agama itu. Makalah ini mencoba menelisik lebih dalam lagi mengenai seluk beluk agama Buddha.

B. Permasalahan
Bagaimana kajian historis dan pembawa agama Buddha?
Bagaimana teologi, kitab suci dan sakramen dalam agama Buddha?
Bagaimana perspektif Islam mengenai agama Buddha?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kajian Historis dan Pembawa Agama Buddha
Agama Buddha muncul pada abad ke-6 S.M. di India Utara (daerah Kerajaan Magadha) diajarkan oleh sang Gautama atau Sidharta (hidup 560 S.M. s/d 480 S.M). Ayah dari Pangeran Sidhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahāmāyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Pangeran. Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Sidharta dikaruniai anak bernama Rahula.
Menurut riwayat hidupnya, Gautama mula-mula beragama Hindu mengikuti orang tuanya. Untuk mencegah pengaruh kehidupan masyarakat yang mungkin dapat melemahkan kepercayaan/keimanannya dalam agama, maka dia tidak diizinkan melihat kenyataan hidup di luar istana. Dia mengalami pendidikan isolatif dari masyarakat luas di luar istana. Untuk menentramkan kehidupannya dia senantiasa dikelilingi dengan kehidupan serba mewah yang khas istana yang penuh dengan kenikmatan dan kelezatan.[1] segala keinginannya akan dikabulkan asalkan ia mau menetap di istana dan kelak bersedia menggantikan ayahnya sebagai raja. Namun ia menolak hidup yang diliputi serba kemewahan bahkan ia tertarik untuk hidup sederhana sebagai pertapa.
Setelah ia menginjak usia 29 tahun, terbitlah keinsyafan batinnya, bahwa hidup keduniaan dalam suasana kemewahan di istana tidaklah dapat memberi ketentraman batinnya. Timbulnya keinsyafan demikian itu karena di waktu ia bercengkrama telah melihat beberapa peristiwa yang sangat mengesankan. Ia melihat seorang tua yang sangat lemah tubuhnya, sehingga hidupnya penuh penderitaan. Ia berfikir bahwa bagaimanapun juga orang hidup itu akhirnya pasti akan mengalami tua yang penuh penderitaan itu. Ia melihat orang sakit yang merasakan penderitaan karena penyakitnya itu. Ia juga melihat orang mati, yang meskipun tubuhya masih tampak utuh, tetapi sudah tidak mempunyai daya apapun. Ia harus berpisah dengan harta, tahta dan segala sesuata yang dicintainya. Terakhir ia melihat seorang pendeta pertapa yang meskipun hidup miskin tapi tampak cerah wajahnya melambangkan kedamaian yang terdapat dalam batinnya. Maka Sidharta sangat tertarik untuk menempuh jalan hidup orang petapa ini. Dari beberapa yang dijumpainya itu, ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa hidup di dunia ini penuh penderitaan. Akhinya ia memutuskan untuk meninggalkan istana ayahnya, guna mencari jalan yang dapat membebaskan manusia dari penderitaan. Ia mengembara masuk keluar hutan, berpuasa dan bertapa guna untuk mendapatkan pengetahuan yang sejati. Akhirnya setelah ia bersemedi di bawah pohon boddhi di Boddh Gaya tersingkaplah baginya pengetahuan tentang kebenaran yang sejati. Maka sejak itu ia memakai gelar Buddha, artinya yang telah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran yang sejati.[2]
Buddha mengembara di India Utara untuk menyebarkan ajaran. Banyak yang percaya kepadanya. Ia hidup dari pemberian-pemberian para pengikutnya. Kelima orang muridnya di Benares menjadi muridnya yang pertama. Di dalam pengajarannya Buddha senantiasa memperhatikan sifat para pendengarnya dan tingkat-tingkat perkembangan rohani mereka. Oleh karena itu, kepada beberapa orang Buddha ia hanya mengajarkan menjalani hidup susila, dengan membayangkan kesenangan surga di kemudian hari atau suatu penjelmaan kembali yang bagus sebagai pahala mereka.[3]
Setelah 45 tahun mendakwahkan ajaran-ajarannya yang sangat ditentang oleh kaum pendeta Hinduisme itu akhirnya dia wafat dalam usia 80 tahun. Janazahnya dibakar dan abunya dibagi-bagikan kepada raja-raja yg mengikuti ajarannya. Kota tempat Buddha wafat itu ialah Kusinagara.
Dengan demikian pengikut-pengikutnya memandang adanya empat tempat yang disucikan selama-lamanya. Empat kota suci tersebut menurut pemeluk ajaran Budha ialah:
1. Kapilavastu: tempat kelahiran Gautama
2. Bodhgaya: tempat dimana Gautama mendapat ilham pertama
3. Benares (kasi): tempat dia pertama kali mengajarkan ilham
4. Kusinagara : tempat dimana dia wafat dalam usia 80 tahun.

Agama Buddha diperkirakan masuk ke nusantara sejak abad ke-2 Masehi. Hal tersebut dapat dinyatakan dengan penemuan patung Budha dari perunggu di Jember dan Sulawesi Selatan. Patung-patung itu menunjukkan gaya seni Amarawati.
Agama Budha di nusantara berasal dari laporan seorang pengelana Cina bernama Fa Hien pada awal abad ke-5 Masehi. Dalam laporan tersebut, Fa Hien menceritakan bahwa selama bermukim di Jawa, ia mencatat adanya komunitas Budha yang tidak begitu besar di antara penduduk pribumi.
Seorang Biksu Buddha bernama Gunawarman, putera dari seorang raja Kashmir di India, yang datang ke negeri Cho-Po untuk menyebarkan agama Budha Hinayana. Negeri Cho-Po mungkin terletak di Jawa atau Sumatera. Pengaruh Buddha mulai luntur ketika kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1292 M, dan posisinya digeser oleh Islam.

B. Teologi, Kitab Suci dan Sakramen dalam Agama Buddha
Teologi Agama Buddha
Buddha Gautama menerima dan melanjutkan ajaran agama Brahma/Hindu tentang karma. Yakni hukum sebab akibat dari tindak laku di dalam kehidupan, dan ajaran tentang samsara, yakni lahir berulang kali ke dunia sebagai lanjutan karma dan ajaran tentang moksa yakni pemurnian hidup itu guna terbebas dari Karma dan Samsara. Sekalipun Budha Gautama menerima ajaran tentang karma dan samsara itu akan tetapi ia menyelidiki dan meneliti pangkal sebab dari keseluruhannya itu, dan merumuskan di dalam Empat Kebenaran Utama.
Sekalipun Budha Gautama menerima ajaran tentang Moksa itu, akan tetapi ia tidak dapat menerima dan membenarkan upacara-upacara kebaktian penuh korban mencapai moksa itu, dan lalu menunjukkan jalan yang hakiki bagi mencapai Moksha yang dirumuskan dengan Delapan Jalan Kebaktian.
Kotbah Pertama Budha Gautama di Isipathana, Taman Menjangan, dekat Benares, berisikan uraian panjang lebar mengenai “Empat Kebenaran Utama” yang pada dasarnya merupakan pendekatan Budha dalam memecahkan masalah kehidupan ini dan Delapan Jalan Kebaktian itu.
Empat Kebenaran Utama (khutbah pertama sang Buddha), yaitu:
a. “Dukha” Lahirnya manusia, menjadi tua dan meninggal dunia.
b. “Samudaya” Penderitaan itu disebabkan oleh hati yang tidak ikhlas dan hawa nafsu.
c. “Nirodha” Penderitaan dapat dihilangkan, dengan hati ikhlas dan hawa nafsu ditahan.
d. “Magga” (jalan), Budha mengemukakan empat tingkatan jalan yang harus dilalui yaitu :
- Sila (kebajikan)
- Samadhi (perenungan)
- Panna (pengetahuan atau hikmat)
- Wimukti (kelepasan)
Kemudian keempat tingkatan ini diselaraskan dengan delapan jalan tengah atau delapan jalan kebenaran (Astavida) atau Arya Attangika Mangga :
a. Berpandangan yang benar
b. Berniat yang benar
c. Berbicara yang benar
d. Berbuat yang benar
e. Berpenghidupan yang benar
f. Berusaha yang benar
g. Berperhatian yang benar
h. Memusatkan pemikiran yang benar

Ada tiga pengakuan dalam agama budha yaitu :
a. Buddhan saranan gacchami (saya berlindung di dalam Buddha)
b. Dhamman saranam gacchami (saya berlindung di dalam dhamman)
c. Sangham saranam gacchami (saya berlindung di dalam sangha).

Dassasila (sepuluh peraturan ) bagi penganut agama budha
 Setiap penganut agama Buddha dari golongan bikshu, maupun pengikut biasa harus berusaha mencapai keselamatan dan melepaskan diri dari lingkungan hawa nafsu, dan memiliki akhlak serta sifat-sifat keutamaan dengan menjalankan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan sang Buddha, Dassasila (sepuluh peraturan), yaitu;
a. jangan mengganggu dan menyakiti makhluk
b. jangan mengambil apa yang tidak diberikan
c. jangan berzina
d. jangan berkata bohong
e. jangan meminum barang yang bisa memabukkan
Dan untuk golongan biksu ditambah lima lagi :
f. jangan makan bukan pada waktunya
g. jangan menonton dan menghadiri pertunjukan
h. jangan memakai perhiasan emas dan wangi-wangian.
i. jangan tidur di tempat yang enak
j. jangan mau menerima hadiah uang.

Rukun syarat beragama budha
Adapun rukun beragama Buddha dan ketentuan-ketentuan dalam beragama Buddha adalah sebagai berikut :
a. Tiap-tiap orang hendaklah berusaha mengetahui Buddha itu sedalam-dalamnya.
b. Manusia harus mempunyai sukma yang halus.
c. Manusia jangan sampai melakukan perbuatan yang menyakiti orang lain
d. Manusia harus mencari penghidupan yang tidak mendatangkan kebinasaan bagi orang lain.
e. Tiap-tiap orang harus mempunyai niat yang suci dan bersih.
f. Tiap-tiap orang hendaknya memikirkan semua mahkluk.
g. Manusia hendaklah mempunyai roh yang kuat untuk menciptakan kebaikan dan menghilangkan kejahatan.
Pengikut agama Buddha dibagi menjadi dua kelompok, Kelompok pertama terdiri dari Bikkhu, Bikkhuni, Samanera, dan Samaneri. Kelompok kedua adalah masyarakat awam terdiri dari upasaka dan upasaki yang telah menyatakan diri berlindung kepada Buddha, Dharma, dan Sangha serta melaksanakan prinsip-prinsip moral bagi umat awam dan hidup berumah tangga.

Kitab Suci Agama Buddha
Sebelum kitab suci agama Buddha tersusun seperti sekarang, awalnya hanyalah diteruskan dari lisan kelisan oleh para pemukanya. Dapat berupa khotbah, kata mutiara, syair, cerita, peraturan dan lain-lain. Kumpulan tersebut kemudian dikelompokkan masing-masing yang disebut Pittaka (keranjang) yang kemudian terkenal dengan sebutan Tripittaka (tiga keranjang). Penyusunan kitab suci secara lengkap dilakukan pada masa raja Ashoka (313 SM), dan diteliti ulang pada 77 SM. Adapun kitab tersebut adalah:[4]
a. Sutta Pitaka, berisikan himpunan ajaran dan kotbah Buddha Gautama. Bagian terbesar berisi percakapan antara Buddha dengan muridnya. Didalamnya juga termasuk kitab-kitab tenang pertekunan (meditasi), dan peribadatan, himpunan kata-kata hikmat, himpunan sajak-sajak agamawi, kisah berbagai orang suci. Keseluruhan himpunan ini ditunjukkan bagi kalangan awam dalam agama Buddha.
b. Vinaya Pitaka, berisikan Pattimokkha, yakni peraturan tata hidup setiap anggota biara-biara (sangha). Di dalam himpunan itu termasuk Maha Vagga, berisikan sejarah pembangunan kebiaraan (ordo) dalam agama Buddha beserta hal-hal yang berkaitan dengan biara. Himpunan Vinaya-pitaka itu ditunjukkan bagi masyarakat Rahib yang disebut dengan Bikkhu dan Bikkhuni.
c. Abidharma-pitaka, yang ditunjukkan bagi lapisan terpelajar dalam agama Buddha, bermakna : dhamma lanjutan atau dhamma khusus. Berisikan berbagai himpunan yang mempunyai nilai-nilai tinggi bagi latihan ingatan, berisikan pembahasan mendalam tentang proses pemikiran dan proses kesadaran. Paling terkenal dalam himpunan itu ialah milinda-panha (dialog dengan raja Milinda) dan pula Visuddhi maga (jalan menuju kesucian)

Sakramen dalam Agama Buddha
Dilihat dari sejarah Buddha, Sang Buddha tidak pernah mengajar cara upacara, namun Sang Buddha hanya mengajarkan Dhamma agar semua makhluk terbebas dari penderitaan. Pada jaman Buddha, upacara hanya dilakukan untuk penahbisan bhikkhu/bhikkhuni dan samanera (calon bhikku/bhikkuni). Namun upacara yang sekarang kita lihat dan dilakukan oleh umat Buddha merupakan perkembangan dari kebiasaan yang ada, yang terjadi sewaktu Sang Buddha masih hidup, yaitu yang disebut Vattha yang artinya kewajiban yang harus dipenuhi oleh para bhikkhu seperti merawat Sang Buddha, membersihkan ruangan, mengisi air dan sebagainya sehingga mereka semua bersama dengan umat lalu duduk selanjutnya mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Setelah Sang Buddha wafat, para bhikkhu dan umat tetap berkumpul untuk mengenang Sang Buddha dan menghormat Sang Tiratana, yang sekaligus merupakan kelanjutan kebiasaan Vattha.
Upacara keagamaan atau peribadatan dalam Agama Buddha dikenal dengan istilah “Puja” atau “Puja Bakti”. Puja berarti ritual penghormatan. Penghormatan atau pemujaan dalam agama Buddha ditujukan pada objek yang benar atau patut dan didasarkan pada pandangan benar. Dalam Dukanipata, Anguttara Nikaya, Sutta Pitaka, ada dua cara pemujaan, yaitu:
1. Amisa Puja (memuja secara materi)
Makna amisa puja secara harfiah berarti pemujaan dengan persembahan seperti: lilin, dupa, bunga, air, buah dan sebagainya. Sedangkan asal mula amisa puja ini berawal dari kebiasaan bhikkhu Ananda, siswa setia Buddha. Setiap hari beliau selalu mengatur tempat tidur, membersihkan tempat tinggal, membakar cendana, menyiapkan bunga-bunga, mengatur giliran umat yang ingin menemui atau menyampaikan dana makanan, merawat dan melayani Sang Buddha.
2. Patipatti Puja (memuja secara praktik)
Makna patipatti puja secara harfiah berarti pemujaan melalui pelaksanaan atau praktik. Seperti berlindung pada Tiratana, melaksanakan lima kemoralan Pancasila Buddhis, bertekad melaksanakan Atthanga sila/delapan kemoralan dihari uposatha, pengendalian terhadap enam indera, mencari nafkah hidup secara benar dan praktik meditasi.

Dalam agama Buddha terdapat empat hari raya besar, yaitu:
a. Waisak
Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta.
b. Kathina
Hari raya Kathina merupakan upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha
c. Asadha
Kebaktian untuk memperingati Hari besar Asadha disebut Asadha Puja/Asalha Puja. Hari raya Asadha, diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati peristiwa dimana Buddha memaparkan Dharma untuk pertama kalinya kepada 5 orang pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, pada tahun 588 Sebelum Masehi. Kelima pertapa tersebut adalah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan sesudah mendengarkan khotbah Dharma, mereka mencapai arahat. Lima orang pertapa, bekas teman berjuang Buddha dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan orang-orang yang paling berbahagia, karena mereka mempunyai kesempatan mendengarkan Dhamma untuk pertama kalinya. Selanjutnya, bersama dengan Panca Vagghiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Arya Sangha Bhikkhu (Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang pertama (tahun 588 Sebelum Masehi). Dengan terbentuknya Sangha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap. Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha).
Khotbah pertama yang disampaikan oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan nama Dhamma Cakka Pavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. Dalam Khotbah tersebut, Buddha mengajarkan mengenai Empat Kebenaran Mulia (Cattari Ariya Saccani) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.
d. Magha Puja
Hari Besar Magha Puja memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Agama Buddha dan Etika Pokok para Bhikkhu. Sabda Sang Buddha di hadapan 1.250 Arahat yang kesemuanya arahat tersebut ditahbiskan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu), yang kehadirannya itu tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu, Sabda Sang Buddha bertempat di Vihara Veluvana, Rajagaha. Tempat ibadah agama Buddha disebut Vihara.

C. Perspektif Islam Mengenai Agama Buddha
a. Ajaran tentang Tuhan
Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi. Dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, dalam bahasa Pali disebutkan “Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam” yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asankhata) maka manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Islam merupakan agama yang mengkonsepkan Tuhan secara jelas, dari nama, dzat sampai sifatnya. Namun kedua agama ini mengajarkan bahwa Tuhan itu tunggal.
b. Ajaran tentang KitabSuci
Menurut Buddhisme, kitab suci merupakan “wahyu” yang ditulis oleh pengikut Buddha. Kitab suci merupakan dasar utama ajaran-ajaran Buddhism.
Menurut Islam, kitab suci adalah wahyu dari Allah yang diturunkan kepada nabi dan ditulis oleh para pengikutnya. Kitab suci merupakan dasar utama ajaran Islam.

D. Analisis
Tuhan dalam agama Buddha yang bersifat non-teis (yakni, pada umumnya tidak mengajarkan keberadaan Tuhan sang pencipta atau bergantung kepada Tuhan sang pencipta dalam usaha mencapai pencerahan. Buddha Gautama tidak pernah mengajarkan cara-cara menyembah kepada Tuhan maupun konsepsi ketuhanan meskipun dalam wejangannya kadang-kadang menyebut Tuhan, ia lebih banyak menekankan pada ajaran hidup suci, sehingga banyak para ahli sejarah agama dan sarjana teologi Islam mengatakan agama Buddha sebagai ajaran moral belaka. Jika diperhatikan dalam perkataan atau khotbah-khotbah Buddha Gautama dan soal jawabnya dengan kelima temannya di Benares, ia tidak percaya kepada Tuhan-Tuhan yang banyak, dewa-dewa, dan berhala-berhala yang dipuja dan disembah seperti halnya dalam agama Hindu, bahkan penyembahan demikian dicela dalam ajaran Buddha dan oleh sang Buddha Gautama itu sendiri.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Agama Buddha lahir pada abad ke-6 S.M. di India Utara diajarkan oleh Sidharta Gautama. Ayahnya adalah seorang raja Maghada bernama Suddodhana, ibunya bernama Mahāmāyā Dewi. Sidharta menikah dengan seorang putri bernama Tasodhara dan dikaruniai seorang putra bernama Rahula.
Buddha mengajarkan empat kebenaran utama yaitu: Dukha, Samudaya, Nirodha, Magga. Serta adanya delapan jalan kebaikan dan sepuluh larangan.
Kitab suci agama budha adalah Tripittaka yang terdiri dari tiga komponen yaitu : Sutta Pittaka, Vinaya Pittaka, dan Abidharma Pittaka.
Sang Buddha tidak pernah mengajar cara upacara, namun Sang Buddha hanya mengajarkan Dhamma agar semua makhluk terbebas dari penderitaan.

B. Saran
Dengan segala keterbatasan dan kekurangan penulis, demikianlah makalah ini kami buat. Oleh karena itu, sudah pasti makalah ini memerlukan kritik dan saran yang membangun dari pembaca yang budiman demi lebih baiknya makalah kami selanjutnya. Selamat membaca dan semoga bermanfaat. Amin.

DAFTAR PUSTAKA


Arifin, M. 1997. Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, Jakarta: Golden Terayon Press.
Manaf, Mujahid Abdul. 1996. Sejarah Agama-Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
JR, A. G.Honig. 1997. Ilmu Agama, Jakarta: Gunung Mulia.
Hadiwijono, Harun. 2010. Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

HM. Arifin, 1997, Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, Jakarta: Golden Terayon Press, hal. 94
Mujahid Abdul Manaf, 1996, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, hal.25-26.
A. G.Honig JR, 1997, Ilmu Agama, Jakarta: Gunung Mulia, hal.178.
Harun Hadiwijono, 2010, Agama Hindu dan Buddha, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, hal. 63

Minggu, 09 Juni 2024

email calon mahasiswa UHN

Om swastyastu Calon Mhs Baru
Mhn kirimkan alamat email utk kelengkapan pendaftran
1. karmayasa4@gmail.com
2. wayanwarnika22@gmail.com
3. Wardanaputra152@gmail.com
4. madecandra149@gmail.com
5. inyomanpurna1@gmail.com 
6. Gedesuparta38@gmail.com
7. sabdaalam696@gmail.com
8. wayanmerta028@gmail.com
9. luhlistyawati@gmail.com
10.  madepelita7@gmail.com
11. puajiwayan1973@gmail.com
12. sangputusuta02@gmail.com
13. aryasuarnadi66@gmail.com
 14. ketutsuryani1908@gmail.com
15. madepelita7@gmail.com
16. srihartini9025@gmail.com
17. Imadeadiwirawan70@gmail.com
18. iwayansuyarman@gmail.com

Dst.

1. Wyn Karmayasa +62 813 3714 3785
2. Wyn Warnika +62 859 6592 6079
3. Kmng Tri budi wardana putra +62 823-4078-1761
4. Made candra +62 813 3875 2937
5. Nym purna +62 813 3871 3134
6. Gede suparta +62 821 4576 2264
7. Gede sumerta +62 878-6697-3888
8. Wyn merta 085739057615
9. Luh listiyawati +62 822-3659-5741
10. Made pelita +62 877 0099 3634
11. Ngh Sri hartini +62 877-5443-4981
12. Wyn puaji +62 838 6905 1864
13. Sang putu suta +62 823 3968 9580
14. Nym arya suarnadi +62 812 4687 2795
15. Made adi wiriawan +62 878 6246 6170
16. Ketut suryani +62 821 4412 8179
17. Wyn suyarman +62 857-3962-9168

Kamis, 06 Juni 2024

SMP Negeri 4 Abiansemal Melaksanakan Rapat Kelulusan Kelas IX Tahun 2024
    

Di akhir pembelajaran kelas IX peserta didik beraharap-harap cemas saat menanti pengumuman kelulusan sekolah. SMP Negeri 4 Abiansemal hari Jumat 7/6/2024 menyelenggarakan rapat kelulusan kelas IX. Bapak Kepala Sekolah I Made Antara, S.Pd menyikapi pelaksanaan rapat kali ini dilaksanakan jauh-jauh hari dikarenakan banyak kegiatan, yang menjadi syarat kelulusan secara umum yaitu absen tidak melebihi batas maksimal, menuntaskan setiap mata pelajaran, berperilaku baik dan mengikuti ujian sekolah. Beliau menambahkan bahwa perilaku peserta didik yang tidak bisa ditolerir adalah tawuran, sex bebas dan narkoba.

Setelah presentasi dari semua wali kelas IX dan ditanggapi oleh seluruh guru mapel, kesiswaan dan guru BK tentang penilaian dan perilaku, bapak Kepala Sekolah menyatakan peserta didik kelas IX SMP Negeri 4 Abiansemal dinyatakan Lulus 100% sedangkan pengumuman kelulusan akan dilakukan pada tanggal 10 Juni 2024 jam 10.00 Wita melalui website sekolah. 

Manfaat Suara Gentha

Suara Gentha Menghasilkan Bunyi High Frekuensi

Suara Gentha bagaikan alat musik yang menghasilkan suara frekuensi. Dalam pengobatan alternatif holistik, Suara Gentha ini telah digunakan untuk menemukan fraktur tulang dan mempromosikan penyembuhan serta keseimbangan energi.

Suara Gentha ini khususnya, meningkatkan nitrat oksida, gas yang secara alami ada di tubuh kita. Nitrat oksida memiliki banyak fungsi: bertindak sebagai pengirim pesan antar sel, sebagai neurotransmitter, dan sebagai hormon.

ALASAN SETIAP PEMANGKU HARUS MEMILIKI DAN MELAKUKAN TATALUNGGUH SERTA MENYUARAKAN GENTHA

1. Suara Gentha
Memiliki efek terapeutik pada tubuh dan efek menenangkan pada sistem saraf, mempromosikan kesehatan dan relaksasi.


2. Suara Gentha mampu mengobati bagian tubuh tertentu. Untuk hasil terbaik, ketuk garpu tala untuk mengaktifkan suara dan tahan pada titik-titik tubuh yang ingin Anda sembuhkan.


3. Banyak Khasiat Suara Gentha Untuk Tubuh
Membantu melebarkan pembuluh darah, mempromosikan kesehatan jantung, meningkatkan fungsi otak, memperbaiki kesehatan seksual, dan meningkatkan aliran darah.



Suara Genta dalam Mengiringi Ritual Yadnya, Simbol Dewa Iswara, Sucikan Bhuana Agung

Penggunaan genta atau bajra dalam mengiringi upacara yadnya menjadi memberi nilai sakral terhadap ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat di Bali. Selain pelaksanaan kegiatan ritual keagamaan suara genta juga dapat meningkatkan adrenalin manusia untuk membangkitkan api kundalini.

Kegiatan keagamaan sangat dibutuhkan adanya suara dan bunyi-bunyian disesuaikan dengan tingkat dan jenis upacara yang dilakukan. Dengan harapan yang dilandasi suatu keyakinan bahwa suara dan bunyi-bunyian tersebut mampu menggantarkan dan menyampaikan maksud, tujuan dan isi dari upacara dan upakara yang dimaksud.

Suara atau bunyi berperan penting dalam upacara keagamaan sehingga dikenal adanya istilah panca nada yaitu suara kulkul, sunari dan pindekan, kidung atau nyayian suci, gambelan, genta sulinggih atau pamangku, mantra atau doa.

Ketika melaksanakan yajna yang lebih kecil tingkatannya cukup memperunakan suara genta sang pamangku dan mantra dari sang pemangku untuk memuput pelaksanaan upacara yajna. Suara genta sudah mewakili berbagai suara sehingga dapat dikatakan jura suara genta merupakan nada brahman.

Suara genda dibagi menjadi tiga jenis. Yakni Suara genta tabuh siki (satu), Suara Genta tabuh kalih (dua) dan Suara genta tabuh tiga (tiga). Serta terdapat lagi suara genta Bramara ngisep sari yakni suara genta tabuh telu dengan irama nada naik turun.

Secara religius, Genta dipandang sebagai senjata Dewa Iswara yang berkedudukan di arah timur, dengan aksara Sang (Sa), aksara suci pertama Dasaksara. Sebagai senjata Dewa Iswara, maka genta tersebut sangat disakralkan, dan karena itu tidak boleh dipergunakan oleh sembarang orang.

Dalam Lontar Kusumadewa disebutkan saat melaksanakan tugas, pemangku patut menggunakan Genta, karena denting suara genta sebagai perwujudan bayu. Sedangkan ucapan mantram sebagai perwujudan sabda, dan konsentrasi pikiran sebagai perwujudan idep.

Genta menjadi penghantar persembahan kehadapan Hyang dan menjadi pertanda bahwa ditempat itu sedang dilakukan upacara, bahkan dapat mengundang para Dewa (Kukul Dewa). Tangan kiri yang menabuhkan genta memiliki makna agar genta selalu berada dekat dengan jantung manusia.

Karena posisi jantung normal manusia berada dalam rongga dada sebelah kiri setinggi dada dan sebesar kepalan tangan kita.

Dalam lontar Usada Punggung Tiwas dijelaskan: “…. Sangyang Dasaksara, kadi hiki genahnya ring jro, kawruhakena denira, sang mahulah Ralyan, Sang, ring pupusuh, Iswara Dewanyu, putih rupanya ……”

Jika dimaknai kutipan lontar tersebut bahwa aksara suci juga berada dalam tubuh manusia tepatnya dalam organ tubuh manusia yang erat kaitannya dengan persebaran arah mata angin. “Sa” merupakan aksara suci arah timur dengan dewatanya adalah Dewa Iswara, senjatanya adalah Genta, warnanya adalah Putih, dan dalam diri manusia berstana di pupusuh atau Jantung.

Secara simbolis, arah timur merupakan arah sumber kehidupan dengan terbitnya sang hyang surya, menjadi sumber kehidupan. 

Suara genta juga disamakan dengan tujuh cakra yang terdapat dalam tubuh manusia yang dikenal dengan sapta cakra. Perputaran cakra-cakra tersebut menghasilkan gelombang-gelombang energi dan suara. Proses pengendalian cakra-cakra ini diajarkan dalam yoga.

Setiap titik cakra di dalam tubuh cenderung untuk merespon secara khusus bunyi, nada, irama tertentu. Cakra dasar merespon secara khusus terhadap nada-nada bass. Terserapnya musik atau bunyi ke dalam sukma yang mempengaruhi perputaran cakra–cakra menuju puncaknya.

Menariknya, dalam Lontar Prakempa menyebutkan bahwa bunyi, suara mempunyai kaitan erat dengan panca maha bhuta yang masing-masing memiliki warna dan suara, kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi dan akhirnya membentuk sebuah lingkaran yang disebut pengider bhuana.

 Hal inilah yang meyakini, ketika suara genta dibunyikan, diiringi dengan mantram, tentu akan memberikan vibari kesucian bagi kosmos atau bhuana Agung. Sehingga setiap ritual di Bali tidak lepas dari suara genta. 

Bahkan, dalam Lontar Aji Gurnita khususnya terhadap pengaruh bunyi terhadap dewa-dewa tertentu dihubungkan dengan banyaknya jenis-jenis genta yang mengeluarkan suara berbeda dengan fungsi yang berbeda-beda pula.

Bentuk genta adalah berbentuk lonceng kecil yang memiliki tangkai pegangan untuk memudahkan saat membunyikannya. Lonceng genta berbentuk mangkok dan memiliki alat kecil di tengah-tengah yang disebut palit yang dapat di gerak-gerakkan sehingga menyentuh piringan logam agar menimbulkan suara nyaring.

Sedangkan pada ujung tangkai pegangan paling atas yang disebut ‘ulon genta’ berbentuk gada, seperti pada kedua ujung tangkai bajra atau Vajra, sehingga genta ini disebut ‘Genta Padma’.

Genta Padma yang biasa dipakai oleh Ida Pandita atau Ida Sang Sulinggih dalam melaksanakan ngelokapalasraya adalah untuk membersihkan alam Bhur, Bwah, Swah atau alam bawah, alam tengah, dan alam atas (sorga) dengan segala puja mantra yang diucapkan oleh beliau. Jadi genta itu adalah simbol Ong Kara, yang berasal dari aksara Ang, Ung, Mang. 

Senin, 03 Juni 2024

Manfaat Emas

Manfaat Emas dalam Kehidupan Manusia

Anda mungkin mengenal emas sebagai bahan perhiasan atau produk investasi. Namun, pemanfaatan emas ternyata lebih dari itu. Logam mulia ini memang telah berabad-abad digunakan sebagai dekorasi, perhiasan, dan alat tukar. Akan tetapi, perkembangan teknologi berhasil menemukan berbagai cara baru bagi manusia untuk memanfaatkan emas, termasuk dalam bidang industri.

Karakteristik khusus emas bukan hanya kilaunya, tetapi juga sifat-sifat seperti tidak mudah cacat serta mudah dibentuk. Emas biasanya dicampur dengan logam lain dalam pengolahannya, sebelum akhirnya dibentuk menjadi lembaran, batang, koin, kabel, serat, serpihan, dan lain sebagainya. Hal ini membuka lebih banyak alternatif untuk memanfaatkan logam mulia tersebut.

5 Pemanfaatan Emas

Penasaran apa saja kontribusi emas dalam kehidupan Anda sehari-hari? Berikut 5 jenis pemanfaatan emas yang paling umum ditemukan dalam berbagai industri di luar keuangan:

Sebagai Konduktor dalam Ponsel Pintar

Emas banyak digunakan dalam industri pembuatan ponsel karena merupakan konduktor ideal. Emas juga tidak mudah berkarat, sehingga cocok untuk membuat barang-barang elektronik “cerdas” yang memiliki banyak fungsi canggih. Selain ponsel, emas juga digunakan dalam industri pembuatan GPS, PDA, kalkulator canggih, dan sejenisnya.

Penambal Gigi

Emas merupakan salah satu logam ideal yang bermanfaat untuk mengisi tambalan gigi. Walau harganya mungkin agak mahal, manfaat emas sebagai tambalan jauh melebihi harganya. Selain tidak berkarat, emas juga tidak mudah terlarut dan tertelan, serta cocok untuk Anda yang mudah mengalami reaksi alergi terhadap jenis-jenis logam tertentu.

Pemantul Radiasi Sinar Matahari dalam Kaca

Emas kerap dicampurkan ke dalam bahan pembuatan kaca khusus, mulai dari kaca tebal di gedung-gedung bertingkat, hingga pelindung helm astronaut. Dari segi estetis, campuran sedikit emas dalam kaca gedung bertingkat akan menghasilkan rona warna yang kaya. Manfaat lainnya yang penting adalah sebagai pemantul radiasi sinar matahari. Selain menjaga gedung tetap sejuk, kaca yang dicampur emas ini juga membantu melindungi mata serta kulit astronaut saat di luar angkasa.

Pelapis Bhawa atau Mahkota 👑 dan Bangunan

Penggunaan emas sebagai pelapis Bhawa/Mahkota dan Bangunan telah populer sejak dulu, dan buktinya terlihat dari berbagai Bhawa/Mahkota dan bangunan bersejarah dengan ornamen atau lapisan emas. Selain menambah keindahan, lapisan emas juga membuat Bhawa/Mahkota dan bangunan tampak indah lebih lama, karena sifatnya yang tidak mudah berubah warna atau cacat. Sifat emas yang mudah dibentuk juga membuatnya ideal untuk melapisi bangunan yang memiliki banyak detail dalam strukturnya. Sehingga lapisan emas 🏆 pada Bhawa/Mahkota dan Bangunan menunjukan keagungan, dibawa dan keberhasilan 🏆💪yang murti bagi setiap kegiatan/ceremonial.

Bahan Sirkuit dan Pelumas untuk Kendaraan Luar Angkasa

NASA menggunakan emas untuk berbagai elemen pada pesawat luar angkasa. Lapisan pada permukaan pesawat luar angkasa menggunakan emas untuk menangkal radiasi berlebihan. Emas juga digunakan dalam sirkuit berbagai mesin di dalam pesawat luar angkasa, karena sifatnya sebagai konduktor yang baik serta antikarat.

Pemanfaatan emas bukan hanya sebagai produk investasi atau alat tukar. Berbagai kegunaan emas di atas merupakan bukti keistimewaan logam mulia ini. Seperti kutipan James Blakeley:

Emas itu abadi. Indah, berguna, dan tidak pernah memudar. Tidak heran emas begitu dihargai di atas segalanya.



Biaya Pernikahan Adat Bali

Estimasi Biaya Pernikahan Adat Bali

Bagi sebagian besar orang, pernikahan merupakan momen bahagia dan begitu dinantikan. Apalagi banyak adat yang bisa calon pengantin gunakan dalam pernikahannya, seperti pernikahan adat sunda dan adat Bali. Jika Anda tertarik menggunakan adat tersebut, perlu mencari tahu kisaran biaya pernikahan adat Bali.

Dengan mengetahui berapa biaya untuk menggelar pernikahan adat Bali, calon pengantin bisa lebih mudah mempersiapkan budget mereka. Hal ini penting agar terhindar dari biaya yang kurang dan tidak sesuai dengan budget sang mempelai.


Berapa Kisaran Biaya Pernikahan Adat Bali?
Perlu Anda ketahui bahwa pernikahan adat Bali termasuk salah satu prosesi pernikahan yang membutuhkan biaya besar. Bahkan kabarnya biaya pernikahan tersebut menyentuh angka mulai dari 60 juta sampai 200 juta rupiah.

Namun tidak jarang saudara mempelai pengantin ikut memberikan dukungan berupa hadiah makanan dan minuman demi kelancaran pernikahan. Banyak faktor yang membuat biaya nikah adat Bali menyentuh angka fantastis.

Salah satunya karena kostum atau outfitnya yang tampak mewah seperti raja dan ratu. Bahkan hiasan kepala mempelai wanita umumnya dirias menggunakan corak emas yang menjuntai tinggi dan berbalut kostum dari songket, prada, dan sejenisnya.

Sementara itu, mempelai pria juga memakai hiasan berupa mahkota bercorak emas. Hiasan dan outfit tersebut umumnya disebut sebagai Payas Agung. Selain outfit, mempelai juga perlu mempersiapkan acara khas adat Bali dengan budget yang tidak sedikit.

Sebagai gambaran, berikut rincian biaya pernikahan dengan adat Bali yang perlu calon mempelai persiapkan:

Kisaran Biaya Venue
Untuk menggelar pernikahan dengan adat Bali, Anda perlu mempersiapkan venue acaranya. Venue sendiri menjadi salah satu aspek besar dalam anggaran biaya pernikahan. Jika menggelar pernikahan adat Bali, Anda bisa memilih di antara berbagai pilihan.

Pilihan tersebut mulai dari yang ekonomis sampai mewah. Untuk harganya juga beragam, mulai dari Rp10.000.000, sedangkan yang termahal Rp100.000.000. Biayanya bervariasi tergantung kapasitas, lokasi, dan fasilitas venue yang Anda pilih.

Biaya Dekorasi Pernikahan
Biaya dekorasi pernikahan Bali menjadi aspek lain yang perlu Anda perhatikan. Mengingat dekorasi atau view sebuah acara merupakan bagian paling penting dari sebuah pernikahan. Apalagi Anda juga harus membuat dekorasi yang khas dengan adat Bali.

Untuk biaya dekorasi pernikahan khas adat Bali juga beragam, tergantung tingkat kesederhanaan atau kemewahan acara tersebut. Biayanya sendiri mulai dari Rp5.000.000 sampai Rp50.000.000, bahkan bisa lebih.

Biaya Catering
Dalam biaya pernikahan dengan adat Bali, Anda juga perlu memperhatikan biaya untuk cateringnya. Sebab makanan merupakan bagian yang tak kalah penting dari sebuah pernikahan. Dalam adat Bali, banyak sekali menu makanan yang bisa Anda pilih untuk disajikan ke tamu.

Adapun biaya catering pernikahan dengan adat Bali juga beragam tergantung bahan makanan dan banyaknya tamu yang datang. Biayanya sendiri mulai dari Rp150.000 sampai Rp500.000 per tamu undangan Anda.

Biaya untuk Adat Bali
Karena memilih menikah dengan adat Bali, tentu ada biaya lain yang perlu Anda persiapkan khusus untuk adat tersebut. Umumnya biaya satu ini sudah terdapat rincian tersendiri untuk melancarkan prosesi adat Bali dalam pernikahan.

Untuk biaya berkisar Rp5.000.000 sampai Rp10.000.000 dan bisa lebih tergantung keinginan atau kebutuhan pengantin. Biaya tersebut mencakup pemangku atau Imam Bali, sesaji untuk upacara dalam pernikahan, rindik, dan lainnya.

Pakaian
Dalam biaya pernikahan adat Bali, item yang tak kalah penting adalah pakaian. Adapun pakaian di sini yaitu baju pengantin sepasang, seragam untuk keluarga, seragam bridesmaid, serta pakaian untuk dua gadis bunga kostum Bali.

Kisaran biayanya cukup fantastis, untuk baju pengantin sekitar Rp20.000.000, seragam keluarga Rp300.000 per orang, bridesmaid Rp300.000 per orang, dan dua gadis bunga Rp300.000. Biaya tersebut menyesuaikan bahan pakaian, motif, serta banyaknya orang yang datang.

Mahar dan Cincin Pernikahan
Selain beberapa poin di atas, biaya yang harus Anda bayarkan jika ingin menikah dengan adat Bali adalah biaya untuk mahar serta cincin pernikahannya. Kedua biaya tersebut biasanya menyesuaikan kesanggupan dan ketersediaan budget mempelai pria.

Umumnya biaya mahar pernikahan dengan adat Bali mulai dari Rp5.000.000 dan bisa lebih dari kisaran biaya tersebut. Sementara itu, biaya cincin pernikahan dengan adat Bali berkisar Rp5.000.000 atau lebih.

Biaya Lain-Lain
Dalam biaya pernikahan dengan adat Bali, mempelai pengantin juga perlu mengeluarkan biaya lain-lain. Biaya tersebut mencakup biaya pernikahan di KUA yang kisarannya mulai dari Rp600.000 tergantung hari dan waktu diselenggarakan pernikahannya.

Kemudian ada juga biaya pernikahan untuk souvenir, transportasi, dan lainnya. Untuk souvenir pernikahan biayanya mulai dari Rp2.000.000 dan transportasi menyesuaikan lokasi acara berlangsung.


Jika biaya prosesi pernikahan adat Bali tersebut Anda rasa berat, tidak perlu risau. Sebab ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menghemat biaya pernikahan dengan adat Bali. Berikut ini ada sejumlah tips menghemat biaya nikah dengan adat Bali untuk Anda ikuti:

Memilih Vendor yang Tepat
Tips pertama untuk menghemat biaya pernikahan dengan adat Bali adalah memilih vendor paling tepat. Banyak sekali vendor pernikahan yang menawarkan paket nikah adat Bali dan dapat menyesuaikan budget calon pengantin.

Sebaiknya Anda memilih vendor dengan reputasi baik serta harga yang wajar. Dengan begitu, Anda bisa mendapat layanan persiapan pernikahan terbaik tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan lagi walaupun menggunakan adat Bali.

Memesan Venue dari Jauh-Jauh Hari
Tips berikutnya untuk menghemat biaya pernikahan yang menggunakan adat Bali berkaitan dengan venue. Untuk menghemat budget menikah, Anda perlu memesan venue pernikahan sejak jauh-jauh hari sebelum hari H.

Dengan memesan venue sejak jauh-jauh hari, Anda akan mendapat penawaran terbaik. Apalagi banyak tempat yang menawarkan potongan harga atau diskon kalau Anda memesan venue beberapa bulan sebelum pernikahan.

Mengirim Undangan Berbentuk Digital
Salah satu hal yang membuat biaya pernikahan dengan adat Bali menelan biaya besar adalah undangan. Sebab jika Anda membuat undangan dengan desain yang cantik dan menyebarkannya ke kerabat, maka akan menelan biaya besar.

Untuk mengatasinya, maka Anda bisa membuat undangan berbentuk digital atau yang biasanya disebut dengan undangan pernikahan online. Ini merupakan cara modern dan paling efisien untuk mengundang tamu. Dengan mengirim undangan digital, maka Anda bisa menghemat biaya pernikahan adat Bali sekaligus menjaga lingkungan.

Memilih Dekorasi yang Sederhana
Memang dekorasi adalah hal yang cukup penting dalam sebuah pernikahan, termasuk dengan adat Bali. Tetapi tak ada salahnya Anda memilih untuk menggunakan dekorasi yang sederhana untuk pernikahan tersebut.

Walaupun dekorasi sederhana, bukan berarti pernikahan Anda menjadi kurang cantik. Sebab dengan memilih dekorasi sederhana dan elegan, Anda dapat menghemat biaya tanpa harus kehilangan estetika pernikahan tersebut.

Kesimpulan
Dari artikel diatas, dapat disimpulkan bahwa biaya pernikahan adat Bali bervariasi tergantung pada berbagai faktor seperti venue, dekorasi, catering, adat Bali, pakaian, mahar, cincin, dan biaya lain-lain. Berikut adalah rentang harga untuk setiap aspek yang perlu dipersiapkan:

Aspek Rentang Harga
Venue Rp 10.000.000 – Rp 100.000.000
Dekorasi Pernikahan Rp 5.000.000 – Rp 50.000.000
Catering Rp 150.000 – Rp 500.000 per tamu undangan
Adat Bali Rp 5.000.000 – Rp 10.000.000
Pakaian – Baju pengantin: Rp 20.000.000
– Seragam keluarga Rp 300.000 per orang
– Seragam bridesmaid: Rp 300.000 per orang
– Kostum gadis bunga: Rp 300.000 per orang
Mahar Mulai dari Rp 5.000.000
Cincin Mulai dari Rp 5.000.000
Biaya Lain-Lain – Biaya pernikahan di KUA: Mulai dari Rp600.000
– Souvenir pernikahan: Mulai dari Rp2.000.000
– Transportasi: Menyesuaikan lokasi acara berlangsung
Estimasi biaya pernikahan adat bali
Dengan mengetahui rentang harga untuk setiap aspek ini, calon pengantin dapat lebih baik mempersiapkan anggaran mereka dan menghindari biaya yang tidak terduga.

Informasi tentang biaya pernikahan adat Bali di atas bisa membantu Anda mempersiapkan budget sebelum menikah. Dengan begitu, Anda tak perlu kehabisan uang atau kekurangan dana ketika menggelar acara pernikahan tersebut.


Minggu, 02 Juni 2024

Aji Panerangan

Penerangan ( Nerang Hujan)

Iki Penerangan, serana; sembe mewadah lumbur, masigi layar, iki utama temen, mantra: ong sanghyang warisinin, mengendih manila ndilah, ring bhuwana agung, geseng bumi pretiwi lawan akasa, ang bubar gubar anarawang aneruwung, saking ambara, ong sanghyang 

warisinin, mengadeg maring madyaning ambara, ong sanghyang amiyakang mega 
awun-awun, teka sira galang 3x, terang wetan terang kidul, terang kulon, terang lor, terang maring tengah, teka byar galang 3x, ong kumbang kambangan, endih sanghyang lokanata, 

kumukus betara wisnu, matemahan angin timur, baret angalinus, manulakang mega, mampehkang awun-nawun, teka syar galang 3x, kedep sidi mandi mantranku, pomo 3x.




Ilewanakasa, ong ang mang endih sanghyang siwa geni andilah, geseng mega awun-awun, geseng segara danu, geseng tukad suranadi, geseng telaga nojo, geseng bulakan, pancoran, geseng sakwehing tirta kabeh, pada geseng 3x, ong ang mangadeg sanghyang siwa geni, 

madyaning ambara, teka piak mega awun-awun, teka syar galang 3x, apan aku sanghyang siwa geni sakti aeng dijagat kabeh, ong ang mang yang sang wang rang, teka sarang 3x, lah pomo.




Panyarang geni sejagat, serana, sembe, masigi layar, cawan sutra, macanang raka pipis, selae, mantra; ong sanghyang geni bajra, melesat sira ring ngirunging bhuwana, ang nulud mega sakti sayuta, mundur mega awun-awun, ong medal bayu agung saking cangkem, gumi 

pretiwi bungkah, pancering mega, katempuh dening bayu bajra, teka geseng rubuh punah matemahan angin, mesat kakuwung, bungkah mundur mega caraking tawun, wastu geseng manadi awu, moksah teka singlar 3x, pomo 3x.


Penyarang jagat, mantra; ong ang yata sarirane, sira mijil saking wadayoning ngulun, sanghyang panca brahma, ingara nira, mijil matemahan ageni mumbul, mundur maka gedene, tutug umanjing tekaring ngantara, angebeking bhuwana, ana kuloning pritiwi kabeh, 

angesengaken saking sariningulun, geseng gempung tan petahan, ong ang 3x, byara padang syah galang 3x, ang ong mang ang ang, serana sembe magenah ring tugu, banteniya, katipat gong, tuwak manis abotol.


Iti panerangan, mantra; ih idep aku sang geruda putih, sang anoman putih, mapedati api, maikut api, yan ana mega putih saking wetan, suka nasih, ageseng saka wetan, yen ana mega putih saking kidul, ingsun angeseng saka kidul, yen ana mega putih saking kulon, ingsun 

nakonasyag saka kulon, yen ana mega saking lor, ingsun konasyag saka lor, yen ana mega putih maring tengah, ingsun konasyag saking tengah, akumpul kita ring tengah, aku betara guru, angisep batara wisnu, sami lebur ida mayogo, betara brahma limbok ring segara, asat 

segara pitu, limbokaken ring danu, asat ikang danu, teka punah 3x, byar apadang 3x, ang ong mang, ang ong, serana, deluwang kertas, rajah anoman, tusuking bungan pucuk, gantung luhuring geni.


Iki penerangan, serana, rajah bhatari durga, nguntal jadma. Om aku calonarang, metu aku aku ring setra pabajangan agung. Aku di majapahit, ana payoganaku ring setra pabajangan, magawe maka gesenge sianu…, ong, pomo 3x, geseng sianu…, pomo 3x, 


paling lengeh, aku isunda, magawe maka gesenge sianu, kiguna porodan, apapak koki calonarang, ih aku icalonarang, angeseng wong sianu…, pomo, igunoporodan, pomo 3x, ong ong weruh weruh weruh aku icalonarang, ang ong rang eh eh eh, malayah 

rangreng, maboreh gading, aku sanghyang Kaman sakti, geseng 3x, pomo 3x, eh eh mandi, weruwuh mandi, pomo 3x, mang, serana, deluang kertas, rajah bhatari durga 

nguluh jelemo, gantung luhuring geni. Ngawe pidasar, serana, bata rajah bhatari durga, nenggel jelemo, ayua wera pomo 3x.



iki geni sabhuwana, sembe masigi 5, mantra, ong ang mang ang, uriping brahma, om uriping wisnu matemahan dadi geni, mang uriping iswara, idep aku angwehaken sanghyang tiga suksma, ngamijilang aku geni panca geni, iga teka saking wetan, metu 

geseng teka geseng, ong geni bang metu ring ati, angeseng sakwehing durgha teka saking kidul, metu geseng 3x, ong geni kuning metu ring ungsilan, angeseng sakwehing durgha teka saking kulon, metu geseng 3x, ong geni ireng metu ring ampru, angeseng 

sakwehing durgha teka saking lor, metu geseng 3x, ong geni metu maring patumpukaning ati, mancawarna rupanira, angeseng sakwehing durgha teka saking tengah, metu geseng 3x, ong geni panerangan metu ring karna, ong geni candra metu 

ring soco, ong geni kwera metu ring irung, ong geni maya metu ring lidah, angeseng sakwehing durgha durjana, tujuh teluh tranjana, leyak desti teka geseng, sakwehing kriya upaya ring awak sariranku, teka geseng 3x, ong geni sana, murub angabar- abar, 

urubira angibaking bhuwana kabeh, angeseng sakwehing mega drawera, yanana mega tunggal, mega bagor, mega unduk-undak, mega rarawe, mega brayu, mega ganter, mega luser, mega drewelo, mega ireng, mega biru, ang mang teka geseng dening geni 

sabhuwana, murub ikang bumi, biyar rapadang galang 3x, murub sanghyang geni sabhuwana, murub ring ngarepku, ring ngurinku, ring kiwa tengenku, angeseng pratiwi, 

letuh ikang akasa, letuh ikang pratiwi, angeseng gering ring akasa, letuhing akasa, teka byar rapadang sang langit, geni surya, ong ang mang 3x, pomo.


Kaputusan bala sriyut, serana, sembe, saput putih, rajah bala sriyut, watek bala sriyut, pejang dursembe ika. Mantra; ong sanghyang bala sriyut, medal kesapta petala, mayogo ring dasaring pratiwi, grat ikang bhuwana kabeh, pabaru cabus sanghyang 

pawana, anuludang mega ring ambara, teka syah galang, anarawang, anaruwung, maring ambara, geger batara nawa sanga, anonton kasaktianing sanghyang bala sriyut, apan sanghyang bala sriyut, aneleng ikang swarga, pabarusbus ikang geni ring sapta 

petala, anyarang ikang swarga, teka sarang 3x, ong mega putih punah, matemahan angina, ong mega bang punah matemahan angina, ong mega kuning matemahan angina, ong mega ireng punah matemahan angina, ong mega amanca warna punah 

matemahan angina, aku ngametuang baret sriyut, teka baret angelanus, teka geger baret, anglinus, apan sanghyang bala sriyut angambelin, prakasa sakti, lumaku aku anyalantara, mangiber aku ring akasa, aku sakti angawang-awang, apan aku ngulati 

mega, sing kapapag pada geseng tikel, teka sarang ikang jagat kabeh, medal pawanas sriyut, trak teka sriyut kasiah galang 3x, pomo.