Minggu, 17 Juli 2022

Taki Takining Sewaka Guna Widya

“Taki Takining Sewaka Guna Widya” berarti Orang yang Menuntut Ilmu wajib mengejar pengetahuan dan kebajikan.
Kekawin Nitisastra 11.5 sbb.: 
"Norana mitra mangelumhane nara guna maruhur". 

Artinya, tidak ada sahabat yang lebih utama dari bersahabat dengan ilmu pengetahuan yang luhur (waraguna).

Anabhyase visam sastram tyajed dharmam daya hinam vidya hina guru tyajet abhyasad dharyate vidya (Canakya Nitisastra)

Maksudnya: 
Ilmu pengetahuan (sastra) yang tidak diamalkan men¬jadi racun, tinggalkan agama (dharma) yang tidak mengajarkan kasih sayang, tinggalkan guru yang tidak berilmu pengetahuan. Pelihara ilmu pengetahuan (vidya) dengan cara mengamalkan dalam praktik kehidupan.

Tuhan itu adalah perwujudan kasih sayang (prema wahini).

"Lawan Sastra Ngesti Mulya"
sebuah semboyan agung dari bapak Pendidikan kita “Ki Hadjar Dewantara” yang artinya Dengan Ilmu Pengetahuan atau Budaya mencita-citakan kebahagian dan kesejahteraan. Semboyan itu seiring dengan Kitab Suci Weda, yang menyatakan Ilmu Pengetahuan merupakan suatu bekal yang paling tinggi. Karena dengan ilmu pengetahuan segala prilaku dan gerak manusia tetap berada di jalan kebenaran/Dharma.

Api ced asi papebhyah
Sarvebhyah papa-krt tamah,
Sarwam jnana-plavenaiva
Vrjinam santariyasi.
                                (Bhagawad Gita, IV.36)
Artinya:
Walau seandainya engkau paling berdosa di antara manusia yang memikil dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan ini lautan dosa akan engkau seberangi

Albert Einstein mengatakan, 
“Ilmu Tanpa Agama Buta, Agama tanpa Ilmu itu lumpuh”.

Keutamaan Ilmu Pengetahuan itu bagi kehidupan ditekankan lagi dalam kitab Niti Sastra I.5 sebagai berikut:

“Sangat disayangkan jika orang kaya tiada mempunyai kepandaian, biarpun muda, tampan, keturunan bangsawan dan berbadan sehat, bila tiada pengetahuan mukanya pucat tiada bercahaya, seperti bunga dabdap, merah menyala namun tiada wangi”

Begitu pentinngya Ilmu pengetahuan bagi kehidupan ini, oleh karena itu setiap orang berkewajiban untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Sehingga kesempatan menjadi manusia ini dapat berperan dan berbuat lebih banyak yang bermanfaat bagi orang banyak.

Sloka Bhagavad Gita Bab II.47. Berikut slokanya :

karmaṇy evādhikāras te
mā phaleṣu kadācana
mā karma-phala-hetur bhūr
mā te sańgo 'stv akarmaṇi

Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu yang kau pikirkan, jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri tanpa kerja

Kutipan Sloka

pūrvo jāto brahman̩o brahmacāri gharmam̍ vasānas tapasodatis̩t̩hat,

tasmāj jātam̍ brāhman̩am̍ brahma jyes̩t̩ham̍ devāśca sarve amr̩tena sākam.                                        (Atharvaveda. XL 5. 5).

Terjemahan

Brahmàcàrin (siswa pengetahuan spiritual), yang lahir sebelum brahman (pengetahuan spiritual), yang melakukan persembahan, yang melaksanakan disiplin spiritual); dari pribadinya timbul (mendapat sabda) kebijaksanaan suci, (ilmu pengetahuan tentang) Brahman tertinggi dan Yang Bersinar dengan kehidupan abadi.


Sloka Silakrama 8 sebagai berikut:

Catur àsrama ngaranya Brahmàcàri
Gråhastha, Wanaprastha, Bhiksuka
Nahan tang catur àsrama ngarannya.

Terjemahan

Yang bernama Catur àsrama adalah Brahmàcàri,
Grahastha, Wanaprastha dan Bhiksuka.

Dalam naskah Silakrama dijelaskan sebagai berikut:

Brahmàcàri ngarannya sang sedeng marga bhyasa sang hyang sastra,

wangwang sang wruh ring tingkah sang hyang aksara,

Sang mangkana karamanya sang Brahmàcàri ngaranya
                                   (Silakrama hal. 8)

Terjemahan

Brahmàcàri hanya bagi orang yang menuntut ilmu pengetahuan dan yang mengetahui perihal ilmu (huruf aksara) yang demikian itu disebut dengan Brahmàcàri.

Veda menyebutkan  bahwa Brahmàcàri adalah mendahului pengetahuan ke-Tuhan-an dan hal-hal lain yang lebih tinggi dalam agama.

pūrvo jāto brahman̩o brahmacāri gharmam̍ vasānas tapasodatis̩t̩hat,

tasmāj jātam̍ brāhman̩am̍ brahma jyes̩t̩ham̍ devāśca sarve amr̩tena sākam.                                           (Atharvaveda XI. 5. 5)

“Brahmacārin (siswa pengetahuan spiritual), yang lahir sebelum Brahman (pengetahuan spiritual), yang melakukan persembahan, yang melaksanakan disiplin spiritual (tapas); dari pribadinya timbul (terdapat sabda) kebijaksanaan suci, (ilmu pengetahuan tentang) Brahman tertinggi dan Yang bersinar dengan kehidupan yang abadi”).

Pada saat upàcara berlangsung, àcàrya mengatakan kepada siswanya, sebagai berikut :

Mama vrate te hådayaý dadhàmi
Mama cìttaýanucittaý te astu.
                 (Àúvalàyana Gåhya Sùtra  I.21.7)

Terjemahannya

Dengan ini saya mengambil hatimu menjadi hatiku, pikiranmu menjadi pikiranku

Seorang guru mengharapkan hubungan antara guru dan peserta didiknya sedemikian akrabnya. Hal ini menunjukkan begitu besarnya tanggung jawab seorang guru terhadap peserta didiknya. Setelah selesai mengikuti upàcara Upanayana, seorang siswa sudah diyakini menjadi seorang “dvija”, yang lahir untuk kedua kalinya. Orang tua bertanggung jawab terhadap kelahirannya pertama. Kelahirannya yang kedua berlangsung di Gurukula (keluarga Guru) dalam hal ini dalam dunia sekolah dalam bimbingan dan tuntunan Guru/pendidik (pendidik yang ideal dan profesional), ketika ia diterima oleh seorang guru sebagai orang tua (pengganti orang tua kandungnya).

Di dalam Veda, seseorang yang memberikan pendidikan disebut àcàrya. Nama lainnya adalah “adhyàpaka” yang juga berarti guru, di samping kata “guru” itu sendiri, sedang siswa (perubahan dari kata úiûya) disebut Brahmàcàri, juga disebut “vidyàrti”, yang berarti yang mengejar dan mempelajari ilmu pengetahuan. Àcàrya berarti seseorang yang dianggap tidak hanya memberikan ilmu pengetahuannya secara teoritis kepada para siswa, tetapi juga memperbaiki karakter mereka. Pengertian àcàrya adalah: “àcàraý grahayatìti àcàryaá” yang berarti ia yang memberikan pendidikan karakter. Dua hal penting dalam sistem pendidikan menurut Veda adalah Brahmàcarya dan àcàrya dan melalui kebersamaan keduanya seorang siswa dapat meningkatkan perbaikan moralitas dan karakternya.
Matangnya deyaning wwang pêngpênganikang kayowanan, panêdêng ning awak, sàdhanàkêna ri kàrjananing dharma, artha, jñàna, kunang apan tan pada kaśaktining atuha lawan rare, dåûtànta nahan yangalalang atuha, têlas rumêpa, marin alandêp ika 
(Sarasamuccaya. 27)

Terjemahannya

Karenanya perilaku seseorang; hendaknyalah masa muda digunakan dengan sebaik-baiknya, selagi badan sedang kuatnya, hendaknya digunakan sepenuhnya untuk mengikuti dan mempelajari Dharma, Artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan seorang anak muda, contohnya adalah seperti seperti rumput lalang yang telah tua, menjadi rebah dan ujungnya tidak tajam lagi.

Atharvaveda sebagai berikut :

arvāg anyah̩ paso anyo divas pr̩s̩t̩hāt guhā nidhī nihitau brāhman̩asya,

tau raks̩ati tapasā brahmacārī tat kevalam̍ kr̩n̩ute brahma vidvān...   
                                   (Atharvaveda XI. 5. 10)

Terjemahannya

Satu di sini, yang lain di alam lain; Dua harta karun sakral jaman dahulu tetap tersembunyi. Brahmacārin melindungi kedua-duanya dengan daya spiritualnya (tapas). Dengan mengetahui Brahman ia menjadikan semua itu miliknya

Dalam kehidupan pentingnya melaksanakan proses Brahmàcàri dengan penuh keyakinan dan kemantapan lahir dan batin. Dalam hidup semua berproses, mengikuti tiap tahapan merupakan sebuah keharusan. Begitu pula dalam masa Brahmàcàri dalam mengembangkan bakat dan minat yang kita miliki sudah tentu diperlukan tempaan yang begitu kuat dan keras serta tanggap akan tantangan dan perubahan yang terjadi di sekitar kita. Brahmàcàrin yang baik memiliki kemampuan diri secara pisik dan rohani dengan mengembangkan bakat, minat dan pengetahuan yang dimiliki serta tingginya rasa ingin tahu.

śraddhāyā duhitā tapaso ‘dhijtā svasā r̩s̩īn̩ām̍ bhūtakr̩tām̍ babhūva,

sā no mekhale matim ā dhehi meghām atho no dhehi tapa indriyam̍ ca.
                                  (Atharvaveda VI. 133. 4)

Terjemahannya

“Ia (pengikat brahmacārin) telah menjadi putri Keyakinan, yang lahir dari disiplin spiritual, dan saudara dari r̩s̩i (orang bijak) penegak dunia. Dengan demikian, wahai sang Pengikat (Tuhan)! Berilah kami kemampuan berpikir dan bakat serta kekuatan spiritual dan keberanian mental”

Tugas dan kewajiban Brahmacārin:

Pertajamlah intelek-intelekmu.
Śiśīhi mā śiśayam̍ tvā śr̩n̩omi.

                                            (Ågveda X. 42. 3).

Terjemahannya

“Wahai para guru, pertajamlah intelek-ku, aku dengar ajaran-ajaranmu dengan penuh perhatian.”

Milikilah ingatan yang kuat.
Mayyevāstu mayi śrutam.

                                      (Atharvaveda I. 1. 2).

Terjemahannya

“Wahai para guru, semoga kami mempunyai ingatan yang kuat.”

Ikutilah jalanan ajaran-ajaran Veda.
Sam̍ śrutena gamemahi, mā śrutena vi rādhis̩i.

                                                                (Atharvaveda I. 1. 4).

Terjemahannya

Wahai para guru, semoga kami mengikuti jalan ajaran-ajaran Veda. Kami seharusnya tidak mengabaikan ajaran-ajaran itu.”

Milikilah pikiran yang tekun.
Apnasvatī mama dhīr astu śakra.
                                                                       (Rgveda X. 42. 3).

Terjemahannya

  “Ya Tuhan Yang Maha Esa, semoga kami memiliki intelek yang tekun (aktif).”

Siswa haruslah punya keingintahuan.
  Tān uśato vi bodhaya.
                                                                (Rgveda I.12. 4).

Terjemahannya

Seorang guru seharusnya mencerahkan pikiran para siswa yang ingin tahu tersebut.”

Sa śakra śiksa puruhūta no dhiyā.
                                                                           (Rgveda VIII. 4.15).

Terjemahannya

Ya Tuhan Yang Maha Esa, tanamkanlah pengetahuan kepada kami dan berkahilah kami dengan intelek yang mulia.”

Bimbinglah kami ke jalan yang mulia.

Sugān pathah̩ kr̩n̩uhi devayānān.                                                                 (Rgveda V. 51. 5).

Terjemahannya

 “Ya, Guru bimbinglah kami ke jalan yang mulia dan buatlah jalan itu lancer”

Penuh perhatianlah.
Viprāso na manmabhih̩ svādhyah̩
                                                                                  (Rgveda X. 78. 14).

Terjemahannya

 “Para sarjana menjadi penuh perhatian dengan cara yang bijaksana.”

Senangkanlah gurumu dengan ketaatan.
 Śumbhanti vipram̍ dhītibhih̩.
                                                                                 (Rgveda IX. 40. 1).

Terjemahannya

“Mereka menyenangkan guru dengan ketaatan.”

Ulangilah pelajaranmu.
Śāktasyeva vadati śiks̩amān̩ah̩.
                                                                                   (Rgveda VII. 103. 5).

Terjemahannya

 “Seorang siswa menghafalkan pelajarannya seperti diajarkan (diinstruksikan) oleh guru.”

Bagunlah pagi-pagi.
Viśvān devān us̩arbudhah̩.
                                                                            (Rgveda I. 14. 9).

Terjemahannya

Orang yang bangun pagi-pagi, menyenangkan para Deva.”

Jangan mengatuk (malas) dan banyak bicara.
Mā no nidrā īśata mota jalpih̩
                                                                                        (Rgveda VIII. 48. 14).

Terjemahannya

“Hendaknyalah kami tidak dikuasai oleh tidur dan banyak bicara.”

   Seorang brahmacārin/brahmacārinì hendaknya tiada henti-hentinya untuk belajar, memiliki ingatan yang baik, mengikuti ajaran suci Veda dan pengetahuan duniawi, memiliki ketekunan dan keingintahuan, melatih konsentrasi, menyenangkan hati guru (dengan mematuhi perintahnya), mengulang-ulangi pelajaran, jangan mengatuk, malas dan banyak bicara tanpa tujuan dan arti yang jelas.

Tad viddhipranipatena
Pariprasnenasevaya.
Upadeksyanti tejnyanam
jnyaninastattvadarsiah.
(Bhagavad Gita,IV.34)

Maksudnya:
Carilah ilmu kebijaksanaan itu dengan sujud bhakti, dengan bertanya-tanya dan dengan pelayanan. Orang bijaksana dapat melihat kebenaran, hal itu akan menyebabkan ilmu pengetahuan memberimu petunjuk. 

Jumlah ilmuwan di dunia kian bertambah banyak. Ada ilmuwan bidang eksakta, ada ilmuwan sosial, ada ilmuwan humaniora dan ada juga ilmuwan bidang agama dan spiritual.

Rahasia Hidup Adalah Pikiran

Penyembuhan Dengan Kekuatan Pikiran
Oleh: Tubaba
Kekuatan pikiran ini sudah disadari oleh manusia sejak jaman sebelum masehi. Hipocrates bapak kedokteran dan Plato, filsuf Yunani mengatakan:

"if the body is to be healthy, you must begin by curig the mind". 

Artinya otak yang sehat akan melahirkan tubuh dan prilaku yang sehat pula. 

Segala sesuatu didunia ini lahir dari Pikiran. Pikiran memiliki kekuatan untuk membangun dan sekaligus merusak, tergantung yang menggunakannya. 

Sebuah penelitian yaitu tentang efek placebo dimana pasien diberikan obat yang mengandung bahan obat2an dan pasien lain hanya diberikan obat yang tidak mengandung obat2an. Hasil penelitian itu menunjukan reaksi yang sama antara obat asli dengan yang tidak. Mengapa demikian, karena kedua pasien itu percaya bahwa obat yang diminumnya memang asli dan berkasiat. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh dr. Carl Simonton, onkolog dari AS dalam bukunya:

"a step by step self help guide to overcoming cancer for patients and their families"

Menyatakan orang yang sering berbahagia dan memiliki pikiran positif sulit mengalami gangguan flu, sebaliknya orang yang memiliki pikiran negatif dan selalu sedih sangat mudah terkena flu. 

Ada tiga cara melatih pikiran kita agar memiliki kekuatan penyembuhan sendiri, yaitu ; 

1. RELAKSASI.
Mendengar kata relaksasi tentu ada hubungannya dengan meditasi, kedua-dua nya bertujuan menenangkan pikiran dan menghadirkan kedamaian dalam jiwa dan pikiran. 

Anda dapat melakukan relaksasi dimana saja, dengan mencari tempat yang nyaman, bebas dari gangguan tentunya. Anda dapat berbaring atau duduk dengan posisi yang relaks. Hadirkan tempat kedamaian yang anda suka, misal pegunungan, tepi pantai dsb. 

Pejamkan mata dan tarik nafas melalui hidung terus ke perut dan hembuskan secara perlahan, rasakan keheningan, hingga menciptakan frekuensi rendah di otak anda. Bebaskan dari segala beban anda dan rasakan kebebasan itu. 

2. VISUALISASI 
Kegiatan ini dapat anda lakukan saat anda relaksasi atau dimanapun anda berada. Bayangkan sel-sel darah anda mengalir dengan lancar di sekujur tubuh anda, dan sel-sel darah putih menuju ke tempat pusat rasa sakit anda. Lalu sel darah ini menghancurkan dan membunuh virus-virus yang berada di sana. Juga anda bisa lakukan saat jogging, bila mengalami masalah cardiovascular, bayangkan jantung anda memompa darah dan perlahan menembus segala pembuluh yang tersumbat. 

3. AFIRMASI 
Afirmasi yaitu menentukan sikap pribadi kita, dengan pernyataan pendek dihafalan yang diucapkan berulang-ulang kepada diri kita. Afirmasi positif akan mempengaruhi alam bawah sadah seseorang untuk mengikuti apa yang diucapkannya. 

Caranya ; pilih kalimat afirmasi dengan menggunakan kata saya dan kalimat positif, hindari kata jangan dan tidak. 

Misal, "saya bertambah pulih hari ini" atau " saya dapat mengatasi kalimat ini" dll. 

Ucapkan kalimat afirmasi yang anda buat berulang-ulang kapan saja, sebaiknya saat bangun dan menjelang tidur. Banyak orang sukses melakukan ini, sebut saja Neil Amstrong sang jawara relly sepeda tour de france, dia menggunakan kalimat afirmasi setiap hari sehingga dia dapat mengatasi kanker prostat yang dideritanya sejak usia 25 tahun. Jikalau kita memiliki modal pikiran dan belum kita dayagunaka secara maksimal, terutama saat kita mengalami sakit, adalah saatnya kita mencoba cara ini. Apalagi dewasa ini obat-obatan sangat mahal dan memiliki efek samping bagi kesehatan kita. 

#tubaba@griyangbang//mulailah sembuhkan diri sendiri dengan pikiran kita//semoga bermanfaat#

Selasa, 12 Juli 2022

Piodalan

PIODALAN (Banten : suci, pula gembal/sekar taman,gelar sanga, ancak bingin, prayascita, pengulapan, pengambean, sesayut mertadewa, sesayut pebersihan)

A. Setelah persiapan upacara selesai, lalu manggala upacara mulai mengambil / mengatur sikap dengan cara sebagai berikut:

1. Cuci tanganMantra : 
Om Hrah phat astra ya namah

2. BerkumurMantra : 
Om Ung phat astra ya namah

3. Asana (sikap bersila)Mantra : 
Om prasada sthiti sarira ciwa suci nirmala ya namah

4. Pranayama (mengatur pernafasan)
a. Puraka : Om Ang namah
b. Kumbaka : Om Ung namah
c. Recaka : Om Mang namah

5. Karasodana
Tangan kanan diatas menengadah: Om sudhamam swaha

Tangan kiri diatas : Om Ati sudhamam swaha

Mencucikan mulut : Om waktra sudhamam swaha

6. Membakar dupaMantra : 
Om Ang dhupa dipa astra ya namah

7. Menghirup asap dupa dengan cara tangan diasapi lalu dihirup berulang-ulang tiga kaliMantra : 
Om Ang Brahmamrtha dipa ya namah
Om Ung Wisnumrtha dipa ya namah
Om Mang Iswaramrtha dipa ya namah

8. Mensucikan bija :Mantra : 
Om Puspa danta ya namah
Om Kum kumara vija ya namah
Om Sri gandaswari amrtha bhyo ya namah swaha

9. Menuntun Atma dengan sikap tangan mudra didepan dada .Mantra : 
Om Ang hrdhaya ya namah
Om Rah phat astra ya namah
Om Hrang Hring sah parama siwamrthaya namah

10. Mohon Panugrahan Ciwa - Budha
Om nama Siwa ya, 
namo Budha ya,
nugrahi mami nirmala, 
sarwa sastra suksma sidhi,

Om Saraswati prama siddhi ya namah,
sarwa karya sudha nirmala, ya namah swaha

Om siwa sadha siwa parama siwa budha
Dharma sanggya ghana dipatya ya nama swaha

PENGAKSAMA :
1. Selanjutnya kita dahului dengan memohon maaf kehadapan Sang Hyang Widhi beserta manifestasinya.Mantra : 
--Om Ksama swamam Maha Dewa
Sarwa prani hitan karah
Mam mocca sarwa papebhyah
Palayaswa sada siwa

--Om Papoham papa karmaham
Papatma papa sambawah
Trahinam sarwa papebpyah
Kanacinmam ca raksantu

--Om Ksantawyah kayika dosah
Ksantawya wacika mama
Ksantawyah manasa dosah
Tat prasiddha ksamaswa mam

Om dirga hayu tat astu, astu
Om awignam astu tat astu, astu
Om subham astu tat astu, astu
Om sriyam bawantu tat astu , astu
Om sukam bhawantu tat astu , astu
Om purnam bhawantu tat astu , astu
Om sapta werdi astu tat astu,astu ya namah swaha

2. Lakukan pangelukatan dari tempat duduk . Gunakan tirta pangelukatan yang telah dibuat sebelumnya.Mantra : 
Om om sampurna ya namah
Om sudha, sudha, sudha, sudha, parisudha ya namah
Om sudha akasa, sudha bumi, sudha wighna, sudha mala , sudha papa klesa , 
Kasudha dening Sang Hyang Trilokanatha

Om sidhirastu tat astu svaha
Om pretama sudha , dwitya sudha, tritya sudha, caturty sudha, pancatini sudha, Sudha sudham wariastu

Ngaturang Datengan
Om , indah ta kita sira Sang sedahan Penyarikan, ajeg-ajeg, jajeneng anglurah agung alit, tekaning wadua balanira Dewa Bhatara Hyang Sinuhun Susuhunan Agung sami sinarengan katuran saji pangaci-aci . 

Iki tadah bhuktininira, padha enaka sira ngilingang ungguhanira soang-soang , anadeha anginuma, sama suka sira makabehan, sama amukti sari sira, asungana manusanira urip warasa dirghayusa.

Om , Ang, Ah Amrta ya namah, 
Ang Ung Mang Siwa Amrta ya namah swaha 

Dedari Pulagembal :Mantram :
Om sweta baran nityam dewi, 
sweta warna nolepanam, 
sweta puspam pryam dewi, 
sri - sri tamo saraswati.

Om rakta baran nityam dewi, 
rakta warna nolepanam, 
rakta puspam pryam dewi, 
sri - sri tamo saraswati.

Om pita baran nityam dewi, 
pita warna nolepanam, 
pita puspam pryam dewi, 
sri-sri tamo saraswathi.

Om nila baran nityam dewi, 
nila warna nolepanam, 
nila puspam pryam dewi, 
sri-sri tamo saraswathi.

Peketis Pulagembal :Mantram :
Om Ang Brahma dewaya, 
rakta warnaya saraswathi byonamah

Om Ung Wisnu dewaya, 
nila warnaya saraswathi byonamah swaha

Om Mang Iswara dewaya, 
sweta warnaya uma dewi byonamah swaha

Om Rudra dewaya, 
pita warnaya durga dewi byonamah swaha

Om – om dewi byo namah swaha

Tebasan :Mantram :
Om nada ya samodaya, 
sama anadegana sama lakwa dulur aditya angruwata dasa , mala trijan ipun sang binersihan tetepasan prayascita, sakalwrring lara roga wigna, papa klesa patakaning, sang tinebas-nebasan prayascita. 
Sumalaha ring sang hyang biksantari.

Om sang Malilang angruwata mala
Om sang , bang , tang, ang, ing, nang, mang, sing, wang , yang.
Om , ang, ung , mang suksma rah pat ya namah swaha

Sarwa semayut :Mantram :
Om pekulun sang hyang guru reka Tanaya, iki tamayanira angaturaken terpana , semayut, saraswati, muang semayut yogasemadi, semayut paripurna, katur ri jeng paduka batara muang betari.

Om suda suda ya namah swaha
Om ang ah amertha sanjiwani ya namah swaha

Pengambeyan :Mantra :
Om pakulun sang hyang sapta petala, 
sira sang hyang sapta dewata, 
sira sang hyang bedawarna, 
sira sang hyang Trinadi panca kosika , 
sira sang hyang premana 
mekadi ta sira sang hyang urip, 
sira apageha ri stanira swang-swang , 
pakenaning ulun angewuruhakena sira aneda raksaning rahayu, aneda urip waras dirga ayu paripurnanira sang angaturaken pengambeyan pengulapan.

Om pertiwi dewa sampurna ya namah swaha
Om apah tejo jiwatmanam, bayu akasa paremanam, dirga ayu jagat amertham, 
sarwa merana ya wicitram.

Mantra-mantra saluiring sesayut/tebasan 
Ong asato ma yotir sad gamaya
Temaso ma yotir gamaya
Metyor amertham ma yotir gamaya

(Sambil diayabang oleh sutri , untuk banten diatas pragembal, tebasan , sayut pengambe)

Banten Suci
Om nama siwa ya , tan kabretang tulah sarik, luputang lara wighna, aminta pamangku amuja, kurusya maka pulacek, pretenjala maka padma, Hyang Dewa maka puspa lingga padanira, sang Hyang Pulacek, Sang Hyang wisesa, Sang Hyang Warsasya sira makudi manik, kancana mas sang kasuhun, paduka Bhatara Kala sakti, pakundan Bhatara Ghana, jangan Bhatara Kwera, tasik Bhagawan anggasti, pisang Sang Hyang Kumara, kembang Sang Hyang Smara, jambe Bhatara Brahma, sirih Bhatara Hyang Wisnu, apuh Bhatara Hyang Iswara, awus-awus Bhatara Mahadewa, pala bhatara siwa, sang hyang sambhu lenga burat wangi, Sang hyang rudra maka caru, banten sang Hyang Widhi. Suklapaksa sajenge Hyang Besawarna, ulam Bhatara Baruna, lelawuh Bhatara Mahesora, saberas maka simbuhan, sadana, pinaka natar, bhatara suci nirmala, anduse andasarin ,sari suci nirmala, puja bhatara lumanglang, kang pinuja Bhatara Dharma, nguniweh jagat wisesa akasa lawan pretiwi, raditya kalawan ulan, Sang Hyang Tunggal , tunggal amuja, Hyang Pranamasari ring rat, kastuti dening sloka, sampurna Hyang nama swaha

Om agni madya rawis siwa, rawi madya tu candramam, candra madya bawus suklah, sukla madya stitah siwah.
Om suci rwa suci rwapi, sarwa gangga gata piwam, Cintya ya dewa isanam, sarwa abyantara suci.
Om ageni siwa Tribwanam , rawis capi maha statam, janas tapasca satyam tu, candra sukla siwah smertham
Om namah siwaya dewamca, sarwa dewa suda nityam, maheswara murti bwanam, sarwa roga wimurcyate

Nganteb banten piodalan.Mantra : 
Om kara dhyanta sang rudram,
Guhyam shakti pradipanam,
Tarpana sarwa pujanam,
prasiddhyantu astu siddhinam .
Sakaram nyan maha amrta,

Omkara candram yante namah.
Namah nadha Omkara amrta,
boktayet dewa sampurna.
Om hyang amuktiaken sari,
om hyang pratama hyang
Sama hyang atinggala sari amrta hyang.
Om siddhi hyang astu ya namo namah swaha

Ngaturang pang jaya-jaya piodalan ring dewa bhatara sami.Mantra :
Om dirghayur bala wrdhi shakti karanam mrtyunjaya saswatam,
rogadiksaya kustha dustha kalusam candra prabha bhaswaram.
Swetambo ruakarnika parigatam
Dewa sureh pujitam, 
mrtyukrodha bala mahakretamam
Karpurarenu prabham.

Twam wandeya waradayabhakti saranam prapyam mahaprastume
Sahanta sarwa gatamnirantambhawam bhutatma nirgunam
Sraddha bhakti kreta wimuktah karanam
Wyaptam jagat dharanam, molih bandha kiritaKundala dharan cetanyan dustha ksayam

Om jagatnathadewa ya namah
Om surya candra ya namah
Om ang ung mang saraswathi
Amrta ya namah swaha

Banten Pekideh memargi :
1. Dengan Puja Wisnu Mantra :Mantra : 
Om ung Wisnu rahada Triada
Sri Wisnu perajapati kesetra
Wiraha kalpa pertama kertayuga
Kalama sekala titha
Yuga natastra nitaya
Wedakti palem kamayuga
Sarwa dewa prayascitam kirisiyami
sobagian astu ya namah swaha

2. Menghaturkan sesajen dalam bentuk pejati ke sowang-sowang pelinggihMantra : 
--Om Siwa sutram yadnya pawitram
Paramam pawitram prajapati jyogayusyam
Balamastu tejo paramam
Gohyanam triganam triganatmakam

--Om Namaste bhagawan agni
Namaste bhagavan ari
Namaste bhagawan isa
Mangalam mantra


Om Bumi Mangalam Wiryam, 
Udaka Mangalam, 
Agni Mangalam, 
Vayu Mangalam, 

Om Gagana Mangalam Wiryam, 
Surya Mangalam, 
Chandra Mangalam, 
Jagat Mangalam, 

Om Jiva Mangalam Wiryam, 
Deha Mangalam, 
Mano Mangalam, 
Atma Mangalam..

Om Sarva Mangalam, Bhavatu, Bhavatu, Bhavatu..
Om Sarva Mangalam, Bhavatu, Bhavatu, Bhavatu..
Om Sarva Mangalam, Bhavatu, Bhavatu, Bhavatu..

(Terciptalah damai pada bumi, air, api, udara, matahari, bulan, planet-planet, semua makhluk yang hidup dan bernyawa, pada raga, pikiran dan hati. Terciptalah damai pada semesta, terciptalah damai pada semesta, terciptalah damai pada semesta)

TEOLOGI NGINANG

"Teologi Nginang (Implikasi Sosioreligi Bagi Pinandita Wiwa Griya Agung Bangkasa di Bongkasa)"
Nginang berasal dari Bahasa Kawi dari urat kata: PINANG yang berarti sejenis palm, mngandung Makna Inang artinya INDUK atau IBU atau Kemulan atau asal muasal atau Tuhan itu sendiri. Makna dan simbul-simbul nya antara lain:

1 Pamor itu adalah simbul wetan, dewanya iswara akasaranya MANG  

2 Gambir itu adalah simbul Kidul, Dewanya Brahma aksaranya ANG 

3 Buah pinang itu adalah simbul Kulon, dewanya Mahadewa ada aksaranya ONG

4 Daun sirih itu adalah simbul Lor, dewanya Wisnu aksaranya UNG

5 Tembakau jdi sigsig itu simbul Tengah, dewanya Siwa aksaranya HYANG, sebagai pengurip ing jadi

Untuk mengingat tuhan, dikalangan masyarakat Buta sastra, maka ada amalan atau lelaku yang di tradisikan sebagai bahasa Simbol, utk mengingat dan Ngrakah Panca Aksara ( MANG , ANG, ONG, UNG, HYANG), kemudian Ngelukunang/ menggabungkan:

1. Sang diri ini adalah ONG , maka disebut WONG, ( wong Bali, Wing jawa, wong..).

2. Sirih 2 lembar temu ros/ simetris di pasang Ngayak- ngelingeb / bolak-balik ngaran Meme- Bapa, Atau ANG - AH, 

3. Sirih 2 lembar ( temu ros/simetris bolak balik) di lipat/ tagel sehingga membentuk Segi tiga atau Tri Kona, kemudian Di Colekin Pamor, di cubitin Gambir. Menjadi : Ung, Ang, Mang , bermakna wija aksara Tri Murti dalam wujud Perlindungan, pengraksa jiwa. 

4. Kemudian, sirih , pamor , Gambir, di sigitin Buah menjadi: UNG, ANG, MANG, ONG, menjadi catur Aksara.

5. Kemudian, sirih , pamor , Gambir, di sigitin Buah kemudian disisigin Mako menjadi: UNG, ANG, MANG, ONG, YANG, menjadi Pangraksa Jagat. 

6. Baru kata kata di Mulai, maatur atur, Sidhi mandi phalanya. 

Ini termasuk Tradisi Asli Nusantara, bnyk di gunakan dlm kegiatan ritual adat, tpi banyak yg lupa maknanya. 
Contoh: Sirih, pamor, Pinang ( jawa): pasurupan ONG AH UNG ( juga menyebut Tuhan dalam ajaran Bhudo kawisnon).
Note: konon Orang Nginang akan Terhindar Dari Penyakit , terhindar Dari Godaan ( makan, minum, rokok), terhindar dari Kewajiban memakai Masker, dgn syarat tembakau harus Penuh.).

Rabu, 06 Juli 2022

Babaosan Pawiwahan

Babaosan Pawiwahan/Perkawinan

1. PENGANTAR

Setiap orang yang akan melaksanakan perkawinan haruslah menyadari arti perkawinan itu sendiri. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa (UU. No. 1 Tahun 1974).

Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita itu sepatutnya mendapat restu atau ijin dari kedua orang tua mereka. Hal ini untuk menghindari terjadinya kerenggangan setelah menjalani hidup berumah tangga. Oleh karena itu pada perkawinan adat Bali orang tua atau keluarga ke dua belah pihak ikut berperanan. Keluarga pihak pria (purusa) meminang anak wanita (pradhana) untuk diperisteri oleh putra keluarga pria (purusa).

Karena ada kegiatan meminang/nyuwaka/memadik, mau tidak mau akan ada pembicaraan diantara keluarga pihak pria (purusa) dengan keluarga pihak wanita (pradhana). Kendala yang sering dihadapi adalah bahwa ada anggota keluarga pihak pria (purusa) yang menghindar menjadi pembicara/juru bicara pada saat meminang/nyuwaka/memadik, kecuali dalam keadaan terpaksa. Mereka lebih suka memilih menjadi peserta atau pendengar yang baik karena belum atau tidak siap sebagai pembicara/juru bicara. Hal ini dikarenakan diantaranya : ada yang takut berbicara di hadapan orang banyak, kurang memahami apa yang harus disampaikan, atau kurang menguasai bertutur kata atau tata krama berbahasa khususnya berbahasa Bali halus.

Untuk mengatasi kendala tersebut saya rangkumkan contoh Percakapan Tentang Perkawinan Adat Bali. Materi pada contoh percakapan ini adalah percakapan tentang perkawinan dengan cara memadik. Dan, materi contoh percakapan ini dikhususkan untuk pembaca yang belum berpengalaman atau pembaca yang ingin menjadi pembicara/juru bicara pada perkawinan adat Bali. Percakapan ini hanya memuat pokok-pokoknya saja. Pengembangan lebih lanjut tergantung kepada kepandaian si juru bicara, dresta atau tata cara setempat, serta memperhatikan situasi dan kondisi setempat.

Saya menyadari bahwa, susunan materi pada contoh percakapan ini masih sangat kurang. Sumbangan pemikiran dari pembaca yang sudah berpengalaman akan sangat berguna untuk menyempurnakan materi contoh Percakapan Tentang Perkawinan Adat Bali agar bisa dipakai pedoman oleh generasi muda yang ingin belajar menjadi pembicara/juru bicara pada perkawinan adat Bali.

2. TAHAP PERSIAPAN

Setelah orang tua si pria (purusa) menerima pemberitahuan dari anak prianya bahwa ia akan mengawini seorang wanita dan orang tua si pria menyetujui, maka orang tua si pria atau orang yang ditunjuk dapat menanyakan hari baik (dewasa ayu) kepada orang yang memahami hari-hari baik (padewasan). Selanjutnya orang tua pihak pria/orang yang ditunjuk mendatangi rumah orang tua pihak wanita. Maksud kedatangannya adalah akan meminang anak wanita pihak keluarga wanita untuk dikawinkan dengan anak pria dari keluarga pihak pria.

Setelah mendengar maksud kedatangan orang tua/orang yang ditunjuk pihak keluarga pria, orang tua pihak wanita (walau menerima pinangan tersebut) biasanya meminta waktu untuk membicarakan lagi dengan pihak keluarganya yang lain.

Orang tua pihak pria/orang yang ditunjuk pun kemudian mengundang keluarga besarnya untuk menyampaikan rencana perkawinan anaknya, hasil pembicaraan dengan pihak orang tua wanita, dan hari baik yang telah ditentukan. Dibicarakan juga hari apa dan jam berapa akan meminang/nyuwaka/memadik ke rumah orang tua pihak wanita, dan menunjuk siapa-siapa nanti yang menjadi pembicara/juru bicara.
Keluarga pihak pria wajib memberitahukan hari dan jam kedatangan meminang/nyuwaka/memadik kepada orang tua pihak wanita setidak-tidaknya tiga atau dua hari sebelumnya.

3. MEMINANG/NYUWAKA/MEMADIK

Sebelum sampai pada pokok pembicaraan pada saat Meminang/Nyuwaka/Memadik, ada baiknya orang yang ditunjuk sebagai juru bicara pihak keluarga laki-laki/purusa mengetahui: lawan bicara, permasalahan, dan sasaran yang ingin dicapai.

Lawan bicara : keluarga pihak perempuan/pradana. Dapatkan informasi tentang kedudukan sosial di masyarakat pihak keluarga perempuan/pradana.
Permasalahan : hubungan cinta antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang akan dibicarakan untuk dipinang.
Sasaran ; bagaimana caranya agar orang tua/keluarga pihak perempuan merestui/mengijinkan anak perempuannya dikawini oleh anak laki-laki dari pihak keluarga laki-laki sehingga keduanya bisa menjadi suami isteri.

Isi Pembicaraan

Setelah menghaturkan sesajen “canang pengerawos” pembicaraan sudah bisa dimulai. Inisiatif memulai pembicaraan (pemahbah lan pangaksama) dapat dilakukan oleh keluarga pihak perempuan/keswakang/kapadik.

Juru Bicara Keluarga Perempuan

“Inggih nawegang titiang, menawi wenten malih sane patut pacang jantos? Yening nenten wenten bebawosan jagi kawitang titiang. (Bila tidak ada yang ditunggu lagi pembicaraan bisa dilanjutkan)
“Inggih penglingsir sane wangiang titiang, titiang saking keluarga iriki nunas mangda ledang ugi ngampurayang menawi wenten kirang langkung antuk titiang nyanggra pengerawuhe kadi mangkin. Taler antuk genah melinggih wyakti kadi kosekan pisan, nenten wenten genah melinggih”
“Sadurung ngelantur ring unteng bebawosan, lugrayang titiang ngaturang pangastungkara, nunas ica ring Ida Hyang Parama Kawi dumogi Ida asung wara nugraha ngicenin kerahayuan sareng sami. Om Swastyastu”.
“Inggih selantur ipun galahe mangkin pacang katur ring penglingsir saking ………(daerah asal keluarga laki-laki), napi menawi wenten sane jagi bawosang. Inggih, durusang”.

Juru Bicara Pihak Laki-Laki

(Kalau tidak ada pemahbah lan pangaksama dari pihak keluarga perempuan, dari pihak keluarga laki-laki dapat mengambil inisiatif memulai pembicaraan dengan : “Inggih, nawegang titiang, menawi wenten malih sane patut pacang jantos ? Yening nenten wenten titiang mapisarat pacang ngawit matur).

“Inggih nawegang titiang mantuka ring Pengelingsir saha semeton sinamian, nunas lugra, riantuk titiang prasangga purun ngewentenang atur. Pinih riin titiang ngaturang suksma antuk ledang ugi Pengelingsir sareng sami tangkilin titiang. Taler titiang nunas gung rena sinampura sekirang langkung atur titiang. Inggih, sedurung titiang mahbah indik tetujon pengerawuh titiang mangkin lugrayang titiang ngaturang pangastungkara, Om Swastyastu.

“Pengelingsir saha semeton sinamian, indik tetujon titiang rawuh sekadi mangkin boya sewos ngetut pidabdab anak alit titiang sane mewasta …………… mantuka ring anak alit isteri pengelingsir iriki, sane mewasta …………….
Anak alit titiang sampun mepitau ring titiang, ipun, anak alit titiang, sareng anak alit isteri iriki kocap sampun pada tresna. Anak alit titiang kocap tresna ring anak alit isteri iriki, anak alit isteri iriki kocap tresna ring anak alit titiang. Wentene tresna ketresnain punika anak alit titiang memanah pacang nincapang ke grehasta asrama. Punika mawinan titiang nangkilin pengelingsir iriki mapisarat nunas pikayun pengelingsire iriki ledang ngicenin panugrahan utawi pamargi sane antar mangdane anake alit makekalih praside matemu alaki rabi.
Inggih, titiang ngelungsur pikayunan pengelingsir mangda ledang ugi nagingin pinunas titiang matemuang anake alit makekalih.
Pengelingsir sane wangiang titiang, asapunika sane presida katur antuk titiang. Galah selantur ipun katur ring pengenter bebawosan”.

Pembawa acara/Pengenter bebawosan kemudian memberi waktu kepada juru bicara pihak perempuan untuk memberi tanggapan atas pembicaraan pihak keluarga laki-laki.

Juru Bicara Pihak Perempuan

“Inggih, pengelingsir sane wangiang titiang. Pangandikan pengelingsir wawu sampun kemanah antuk titiang. Kewiaktiane titiang durung pisan pratiyaksa ring perindikan anake alit. Titiang merasa nenten patut pacang nyogok utawi ngedetang kapitresnan anake alit. Sane mangkin titiang nunas galah abosbos. Titiang jagi netes ipun mangda iriki ring ajeng kesaksinin sareng sami".

Panggillah anak gadis yang dimaksud agar ikut bergabung bersama di tempat pembicaraan sehingga bisa disaksikan oleh orang-orang yang hadir, lalu tanyakan sebagai berikut :

“Ih, cening ne ada pengelingsir uli ………… mapikarsa lakar ngidih anake buka cening lakar petemuanga ajak anak alit idane ane madan ……………. apange presida cening ajak dadua metemu alaki rabi. Aji/Bapa tonden bani ngisinin utawi tusing ngisinin pikarsan pengeligsir uli ……. setonden Aji/Bapa netes anake buka cening. Nah, jani edengang isin keneh ceninge ane sujati. Yening cening tresna tur ada keneh cening lakar nganten dini orahin. Yening cening tusing tresna tur tusing ada keneh cening lakar nganten dini orahin di ajeng pengelingsire ajak mekejang. Pengidih Aji/Bapa, eda pesan cening ngapus. Cening sing tresna ngorahin tresna, keto masih cening tresna ngorahin tusing tresna. Yening cening ngapus sing ja cening ngapus ragan ceninge dogen, cening lakar ngapus pengelingsire ajak makejang ane ada di arep ceninge. Ane jani Aji/Bapa metakon teken ragan ceninge :
Kapertama : ada keneh cening lakar nganten ?
Kedua : yen ada keneh ceninge lakar nganten, apa ulian cening tresna apa ulian kepaksa ?

Setelah mendapat jawaban dari si gadis dan jawabannya “ya” dan “ulian tresna” maka pertanyaan dapat diteruskan ke anak pihak laki-laki, apakah betul yang dipinang adalah anak gadisnya dan apakah betul ia mencintai anak gadisnya. Apabila jawabannya “ya” maka jawaban atas permintaan juru bicara pihak laki-laki dapat disimpulkan.

“Inggih, pengelingsir sane wangiang titiang iwawu sami sampun miarsayang pesaut anake alit, wantah jakti pada tresna asih maka kalih tur sampun kebuktiang iriki sareng sami ring ajeng. Titiang ngaturang utawi nagingin sekadi pikarsan pengelingsire pacang matemuang anake alit maka kalih”

Juru Bicara Pihak Laki-Laki

“Inggih, nawegang titiang matur suksma pisan riantukan sampun kedagingin pinunas titiang mantuka ring anake alit iriki. Sane mangkin yening kepatutang saha kelugra titiang pacang ngelanturang matur indik pengambilan anake alit saha pidabdab titiang pacang ngelaksanayang pekala-kalaan miwah widhi widana”.
“Pengambilan anake alit pacang margiang titiang ring rahina ……… Sawatara dauh/jam …….. anake alit pacang ajak titiang ke ……. Upakara awiwaha samkara (ngayab banten pekeraban) manut pangerencana pacang kemargiang nemonin rahina …… kirang langkung dauh/jam …….. Sesampunan wusan awiwaha samkara, sawatara dauh/jam ….. titiang malih pacang nangkilin pengelingsire iriki. Taler titiang pacang muat ilen-ilen upakara merupa “ketipat bantal” maka serana mepamit anake alit. Upakara punika wastanin titiang “jauman”. Inggih, asapunika paweweh sane prasida katur antuk titiang”.

Setelah juru bicara pihak laki-laki selesai berbicara, pembawa acara akan mempersilahkan juru bicara pihak perempuan memberi tanggapan.
Apabila tidak ada halangan, biasanya pihak keluarga perempuan mempersilahkan melanjutkan apa yang telah direncanakan. Dan, apabila pembicaraan berjalan lancar, semua dapat diterima dengan baik, maka isi pembicaraan sudah dianggap selesai.

Penutup Pembicaraan

Karena pembicaraan sudah selesai, pembawa acara dapat menutup pembicaraan diantara kedua belah pihak.
“Inggih, pengelingsir sane wangiang titiang riantukan bebawosane sampun presida puput, iwawu titiang sane ngungkap bebawosane sane mangkin titiang sane nyineb antuk nguncarang paramasanti. Om, Shanti. Shanti, Shanti, Om.

4. MEJAUMAN ATAU MAKTA KETIPAT BANTAL

Mejauman atau makta ketipat bantal merupakan rangkaian dari upacara perkawinan. Mejauman atau makta ketipat bantal dapat dilakukan setelah selesai upacara widhi widana. Upacara mejauman atau makta ketipat bantal juga sering disebut dengan upacara mepamit.
Pada saat mejauman tidak terdapat lagi pembicaraan penting, sebab sudah dianggap selesai pada saat Nyuwaka/memadik. Akan tetapi karena ada serah terima antara manggala banjar/desa masing-masing yang bersangkutan, disamping beberapa nasehat dari para orangtua atau keluarga kepada kedua mempelai tentang kramaning alaki rabhi, maka akan terdapat pembicaraan sebagai berikut .

Pemahbah

Pemahbah lan pengaksama, sesudah menghaturkan canang pengerawos. Pengaksama ring sang tamiu kedulurin antuk nyambat sara saha pengastungkara. Contoh dapat dibaca pada pemahbah saat nyuwaka.

Isi/Daging Bebawosan

Setelah diberi kesempatan oleh pembawa acara, pembicaraan dapat dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki.
“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane kusumayang titiang, semeton sinamian sane wangiang titiang. Asapunika taler mantuka ring Manggala Adat, Manggala Praja/Dinas, riantuk ledang rawuh sareng nyaksiang upacara mejauman/makta ketipat bantal/mepamit, titiang ngaturang suksemaning manah. Kaping ajeng lugrahin titiang ngaturang pengastungkara, Om Swastyastu”.

“Inggih manut panomayan titiang sane …….(sebutkan bilangan hari, hari dan tanggal pembicaraan sebelumnya) , sane mangkin titiang ngerahuin malih pengelingsir saha semeton sinamian. Taler titiang muat upakara merupa “ketipat bantal” maka serana mepamit anake alit. Upakara punika wastanin titiang “jauman”.
Mungguing mepamit anake alit, manut niskala lan sekala. Ring niskala, ngaturang sembah bakti ring Merajan, mepamit ring Ida Betara Kawitan, ring Ida Dewa Hyang Guru, dumogi ledang Ida nyaksinin saha ngicenin wara nugraha mangda sida pacang nemu kerahajengan.
Ring sekala, mepamit ring guru rupaka, ring semeton, bebanjaran, miwah sane siosan manut ketah sane sampun memargi iriki.
Inggih ngiring sareng-sareng ngerastiti mangda anake alit maka kalih nemu kerahajengan, tur petemon anake alit prasida ajeg kepungkur wekas.
Inggih, asapunika sane prasida katur antuk titiang”.

Setelah pembicara pihak keluarga laki-laki mengakhiri pembicaraannya, maka pembawa acara dapat melanjutkan ke acara pemberian nasehat kepada kedua mempelai dan serah terima antar Manggala banjar/desa. Apabila upacara mepamit di Merajan sudah selesai, maka kedua mempelai diajak bergabung bersama pengelingsir keluarga kedua belah pihak.
Selanjutnya pembawa acara dapat memberi kesempatan kepada keluarga kedua belah pihak secara bergiliran untuk memberi nasehat kepada kedua mempelai.

Disini dikemukakan contoh pokok-pokok nasehat yang terlebih dahulu dapat diberikan oleh pihak keluarga laki-laki.

“Inggih riantuk wenten pikarsa mangda titiang ngewentenang piteket amatra mantuka ring anake alit maka kalih, nanging titiang nunas ampura menawi wenten atur titiang nenten mantuk ring pekayunan.
Petitis titiang ring sang kalih, sane mangkin janten sampun ngelarang “grhasta” inggih punika kebawos “mepikurenan”. Sane lanang mewasta “Kepala Keluarga”, sane istri mewasta “Ibu Rumah Tangga”.
Piteket titiang ring sane lanang, inggih punika :
Pertama, swadarmaning/tugas kewajiban sang kepala rumah tangga ane mebuat tuah patut ngeruruh pengupa jiwa, ngeruruh pebuktian apang ada anggon ngemertanin raga, somah, miwah pianak.
Kekalih, sayaga teken pidabdabe mesima karma (bermasyarakat), pemekasne teken sesame pada manusa. Yan suba nyama braya makejang pada tresna sih, ento anggon kesugihan ane pinih utama.
Ketiga, bakti teken sang Guru Rupaka (Meme Bapa), keto masih teken matua apang patuh pelakuanne sekadi guru rupaka pagelahan. Tan patut melaksana kadi sesenggak Baline, “nyandat di teba”, bungane sumpanngin/bungain punyane kiladin, artine pianakne ane jegeg juang reramane lemenahang.

Sane mangkin piteket titiang ring sane istri, inggih punika:
Pertama, menawi wantah sangkaning jatu karma mawinan prasida ketemu mepikurenan. Mawinan dados mesikian mepikuren janten sampun sangkaning tresna sane janten sampun ketiba ring sang suami. Pemekas nyandang limbakang tresnane punika mantuka ring matua, ipah, saha sane tios-tiosan. Taler tan dados lali ring Aji Biyang (Bapa Meme) maka guru rupaka yadiastun pacang metinggal saking natah iriki riantuk tan sida pacang naur kepiutangan ring rerama.
Kekalih, kasih sayang ring suami patut kedulurin antuk patibrata inggih punika setia dan jujur kepada suami.

Inggih asapunika prasida antuk titiang mepiteket ring sang kalih dumadak wenten pikenoh ipun.

Selanjutnya kesempatan diberikan kepada keluarga pihak perempuan untuk memberikan nasehat kepada kedua mempelai.
“Inggih riantuk wenten pikarsa mangda titiang ngewentenang piteket amatra pinaka bekel ipun anake alit pacang mepikuren. Nanging petitis titiang kepertama, ketuju mantuka ring pengelingsir pinaka peserah titiang saha metempahang anake alit.

- Inggih, ipun anak alit titiang kantun wimuda durung pisan pratyaksa ring tata caraning alaki rabhi. Sane mangkin titiang nunas ring pengelingsir mangda ledang mepica pengajah ring separi polahing mesima, medesa, mebebanjaran, mepikurenan, miwah sakaluir ipun, janten sampun sewos desa sewos taler sima kramane.

- Asapunika taler ring sang Manggala, ledang ugi nerima ipun belog pacang misarengin pidabdabe ring banjar/desa pekraman

- Pet prade pungkuran wenten wicara, ngiring puputang wicarane punika nganutin sekadi pemargine mangkin mepengancan antuk arsa pada arsa

Selanturne petitis titiang kaping kalih ketiba ring anake alit maka kalih dumadak wenten kewigunan ipun.

- Mapan suba lakar ninggal swadarmaning Brahmacari ngardi ane madan Grhastha (berumah tangga), sing ja abedik gegodane. Gegodane ane paling utama tuah teka uli di deweke. Yen sida baan ngutsahayang, gegodane ane wit saking pedewekan ento nyandang kelidin apan ngerananyang tan rahayu pekurenane.

- Salinin laksanane. Eda nu ngaba laksana kadi nu bajang. Anutin laksanane kadi swa dharmaning “grhastha” mapan suba madan mepikuren. Cara sesonggan Baline, yen goba twara sida antuk ngesehin, nanging laksanane patut nganutin unduk.

- Nah, ene cening istri, sawireh cening lakar metilar uli jumah dini ene gisi pabesen Bapa/Aji: “ Dija ja cening megenah, tanahe ditu langkahin langite ditu sulubin”.

“Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur. Pet wenten atur titiang sane nenten mantuk ring pekayunan titiang nunas geng rena sinampura”.

Kini giliran para manggala diberi kesempatan berbicara secara bergiliran berkenaan dengan serah terima antar manggala. Kesempatan pertama dapat diberikan kepada manggala dari pihak perempuan.

Manggala Praja/Dinas

“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane wangiang titiang, para manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, titiang prajuru dinas saking banjar/desa ….. purun prasangga nyarengin bebawosan pengelingsir sinamian. Titiang nunas ampura antuk tambet tan uning matur, janten sampun nenten mantuk ring sejeroning pikayun.
Indik bebawosan sane piragi titiang iwawu sampun becik pisan. Sotaning titiang dados prajuru dinas, taler nyarengin mapaungu atur sapari indik anake alit istri warga banjar/desa titiange sane keambil ke …………
Mantuka ring prajuru dinas ring banjar/desa…… ring rahina …… tanggal …….. titiang melepas/nyerahang cacah jiwa warga titiang sane mewasta …….. ring manggala dinas banjar/desa …… saha mepiteges, rikanjekan ngewilangan surat-surat titiang misadia pacang ngelepas saking penduduk iriki saha ngewantu muputang surat-surat sane keperluang.
“Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur.

Penyerahan oleh prajuru dinas banjar/desa dari pihak perempuan selanjutnya ditanggapi oleh prajuru dinas banjar/desa pihak laki-laki setelah diberi kesempatan oleh pembawa acara.

“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane wangiang titiang, para manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, titiang prajuru dinas saking banjar/desa ….. purun prasangga nyarengin matur. Titiang nunas ampura pet prade wenten atur titiang nenten mantuk ring sejeroning pikayun.
Sotaning titiang dados prajuru dinas, taler nyarengin mapaungu atur sapari indik penyerahan cacah jiwa anake alit istri saking manggala dinas banjar/desa …..…………
Mantuka ring prajuru dinas banjar/desa…… ring rahina …… tanggal …….. titiang prajuru dinas banjar/desa…….. nerima penyerahang jajah jiwa anak alit istri sane mewasta …….. saha jagi unggahang titiang ring buku register kependudukan banjar titiang.
Taler titiang nunas ring prajuru dinas mangda ledang ngicenin “surat keterangan perpindahan penduduk” sane kebuatang anggen ngerereh “surat/akte perkawinan”, “kartu keluarga”, miwah sane tiosan nganutin uger-uger Guru Wisesa.
Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur”.

Manggala Adat

Manggala/prajuru adat banjar/desa yang menyertai/menjadi saksi perkawinan adat Bali, pada saat mejauman diberi juga kesempatan untuk berbicara. Terlebih dahulu kesempatan itu dapat diberikan kepada manggala adat dari pihak perempuan.

“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane wangiang titiang, para manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, titiang prajuru adat saking banjar/desa ….. purun prasangga nyarengin bebawosan pengelingsir sinamian. Titiang nunas ampura antuk tambet tan uning matur, janten sampun nenten mantuk ring sejeroning pikayun.
Titiang dados prajuru adat, taler nyarengin mapaungu atur sapari indik anake alit istri warga banjar/desa adat titiange sane keambil ke …………
Mantuka ring prajuru adat ring banjar/desa…… ring rahina …… tanggal …….. titiang melepas/nyerahang cacah jiwa warga titiang sane mewasta …….. ring manggala adat banjar/desa …… saha metempahang anak alit istri warga titiang.
Sampunang waneh ngicenan pengajah ring anake alit istri mangda sida antuka nganutin tata cara sane manggeh irika. Wenten sane kebawos desa mawa cara, janten sampun sewos desa sewos sima kramane.
“Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur.

Penyerahan oleh prajuru adat banjar/desa dari pihak perempuan selanjutnya ditanggapi oleh prajuru adat banjar/desa pihak laki-laki setelah diberi kesempatan oleh pembawa acara.

“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane wangiang titiang, para manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, titiang prajuru adat saking banjar/desa ….. purun prasangga nyarengin matur. Titiang nunas ampura pet prade wenten atur titiang nenten mantuk ring sejeroning pikayun.
Sotaning titiang dados prajuru adat, taler nyarengin mapaungu atur sapari indik penyerahan cacah jiwa anake alit istri saking manggala adat banjar/desa …..…………
Mantuka ring prajuru adat banjar/desa…… ring rahina …… tanggal …….. titiang prajuru adat banjar/desa…….. nerima penyerahang cacah jiwa anak alit istri sane mewasta …….. saha jagi unggahang titiang ring buku register banjar adat titiang. Taler anak alit istri jagi iring titiang nyarengin pidabdabe ring banjar pekraman, rawuh ring desa pekraman.
Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur”.

Penutup

Setelah selesai pemberian nasehat kepada kedua mempelai maka pembicaraan sudah selesai, dan pembawa acara dapat segera mengakhiri/menutup pembicaraan.
“Inggih pengelingsir sareng sami sane wangiang titiang, manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, menawi bebawosan sampun puput. Dwaning titiang sane ngungkab bebawosanne titiang taler sane nyineb. Sedurung kesineb, titiang nenten lali nunas sinampura pet wenten atur titiang sane nenten munggah ring pikayun. Bebawosane jagi sineb titiang antuk nguncarang paramashanti. 

Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.









Selasa, 05 Juli 2022

MAGEDONG-GEDONGAN

TETANDINGAN BANTEN MAGEDONG-GEDONGAN
Upacara Pagedong-gedongan di laksanakan setiap terjadinya suatu kehamilan pada si ibu.

Tentang tatanan Upacara dan Upakaranya, sebagai berikut;

PALET I : SOROHAN BANTEN PANGRESIKAN.
Banten Bayakaon.
Banten Tatebasan Prayascitta.
Banten Tatebasan Durmangala.
Banten Lis-amu-amuan utawi Lis bale gadhing.
Banten pangulapan.
Panglukatan sang mobot muncuk don bingin, muncuk don Bunut bulu, muncuk don sulasih miyik, sekar tinjung katut daun nyane padha 3 muncuk.

PALET II : SOROHAN BANTEN UPASAKSI RING SANGGAR SURYA.
Daksina alit..............2 soroh.
Suci asoroh maulam bebek.
Banten Ajuman/rayunan putih kuning.
Banten peras asoroh. penyeneng alit.
Ketipat kelanan, canang, pasucian.
Caniga dena jangkep.
Kalungah nyuh gadhing kinasturi 1.

PALET III: SOROHAN BANTEN MUNGGAH RING KAMULAN.
Daksina alit............2 soroh.
Suci asoroh maulam bebek.
Banten Ajuman/rayunan asoroh.
Banten peras gde utawi peras alit.
Penyeneng alit, Katipat kelanan.
Canang. Pesucian, saha caniga dena jangkep.

PALET IV : SOROHAN BANTEN AYABAN:
1. Daksina saha suci asoroh.
2. Banten pejati asoroh.
3. Banten ayaban sanisthan nyane tumpeng 9.
4. Banten Sesayut Tulus dadi.
5. Banten Sesayut Katututan.
6. Banten Sesayut pamahayu Tuwuh.
7. Banten Pangladan Dedari.
8. Banten Pagedong-gedongan matah.
9. Banten Pagedong-gedongan.

PALET V : SOROHAN BANTEN RING PASIRAMAN:
1. Banten pejati asoroh.
2. Nasi wong-wongan asoroh.
3. Segehan warna lima asoroh.
4. Payuk medaging toya anyar medaging sekar pitung warna

PALET VI : SOROHAN BANTEN PENYANGGRA:
1. Banten Ring ajeng sang muput.
2. Banten Panuwuran sang muput.
3. Banten penuwuran tukang putru.
4. Banten arepan tukang putru.

PALET VII : INDIK TATANING TETANDINGAN BANTEN;

BANTEN PAGEDONG-GEDONGAN.
Banten Pagedong-gedongan masarana antuk bale pagedong-gedongan, masarana antuk daun rontal, taler wenten sane mekarya bale pagedong-gedongan sekadi kawentenan Bale gadhing. Ring sajroning Bale Pagedong-gedonan punika medaging:
Kalungah nyuh gadhing megambar rare,masurat Ongkara.
Lak-lak tape a ceper.
Isin ceraken(basan ubad).
Rerujakan.
Lindung saha ulam mas, makaput antuk don kumbang.
Buluh tiying gadhing matemos.
Nyahnyah gringsing.
Carang dapdap macanggah tiga.
Benang selem pinaka panuntun.
Bale Pagedong-gedongan nyane medaging canggah menek canggah tuwun bilangsampin, ring luhur nyane medaging Padma.

TETANDINGAN BANTEN PAGEDONG-GEDONGAN MATAH
(Pinaka pangemiting manik ring sajroning garbha)
Medasar antuk paso,medaging beras,kelapa,benang putih, ketan, injin, pisang
matah, sudang, tingkih, pangi bija ratus, gegantusan, plawa pesel-peselan, base
tampelan, tingkah tetandingan nyane kadi tetandingan sesantun/daksina.

TETANDINGAN BANTEN PANGLADAN DEDARI.
Banten Pangladan Dedari kawentenan nyane kalih soroh, inggih punika;
Sane asiki, medasar antuk taledan medaging tumpeng kuning 2 bungkul, ulam nyane
ayam putih syungan mapanggang, raka woh-wohan sejangkep nyane, sampyan nagasari, sesedep tepung tawar, tatebus benang kuning.

Sane malih asiki; medasar antuk aled, medaging tumpeng 2 bungkul, maulam ayam putih mapanggang, raka woh-wohan genep, cawu mumbul, sampyan Nagasari,
canang pahyasan tatebus benang putih.

TETANDINGAN BANTEN SESAYUT KATUTUTAN
Medasar antuk aled Sesayut, medaging nasi klopokan asiki, tinumpangan nyuh
masisir,tekaning rerasmen genep, di samping nyane kaputan basan ubad, pamor
akapitan, canang pahyasan, penyeneng alit, pras alit, sampyan Nagasari.

TETANDINGAN BANTEN SESAYUT TULUS DADI
Medasar antuk aled/kulit Sesayut, medaging nasi penek barak asiki, nasi penek selem
Asiki maulam ayam biying mapanggang, raka woh-wohan jengkep, sedah anut uriping
dina, pagutan jinapit tunggal, penyeneng alit, pras alit, sampyan Nagasari, canang
pahyasan, tatebus barak lan selem.

TETANDINGAN BANTEN SESAYUT TULUS HAYU.
Medasar antuk aled Sesayut/kulit sesayut,medaging nasi putih kuning jinapit
tunggal, maulam ayam putih syungan pinanggang, raka woh-wohan jangkep,
Penyeneng alit, Pras alit sampyan Nagasari, canang pahyasan, tatebus putih kuning.

TETANDINGAN BANTEN SESAYUT PAMAHAYU TUWUH.
Medasar antuk aled Sesayut/kulit sesayut, medaging nasi penek asiki, ka-apit antuk
tumpeng tri-warna, [putih,barak,selem], maulam ayam saules nyane (ayam srawah),
pinanggang, raka-woh-wohan dena genep, Panyeneng alit, Pras alit, sampyan
Nagasari, canang pahysan, tatebus tri-warna (tri-dhatu).

TETANDINGAN NASI WONG-WONGAN.
Matatakan antuk tetempeh susunin daun byah-byah. Nasi wong-wongan sirah nyane
mawarna selem, tangkah lan tangan nyane mawarna putih, weteng nyane mawarna
brumbun, bokongan saha paha mewarna barak, batis nyane mawarna kuning, medaging
porosan antuk don byah-byah, awu (abu) mawadah takir pinaka apuh,
buah beluluk atakir.

Dalam beberapa tingkatan upakaranya, sebagaimana juga disebutkan dalam siwagama, pagedong - gedongan ini terdiri dari beberapa tingkatan upakara yaitu :
Upakara yang kecil terdiri dari byakala dan prayascita ( untuk pebersihan ), serta sesayut pengambiyan, peras, penyeneng, dan sesayut pemahayutuwuh ( untuk tataban ). 
Tingkatan upakara pagedong - gedongan yang lebih besar terdiri dari byakala, prayascita dan panglukatan untuk pabersihan sedangkan untuk tataban sama untuk tingkatan kecil ditambah / dilengkapi banten pagedongan matah. 

Mantra untuk tirtha, menggunakan bija dan melukat dalam manggala upakara pagedong-gedongan ini disebutkan diucapkan sebagai berikut ;

#Dipercikan tiga kali di kepala:

Om Budha pawitra ya namah
Om Dharma maha tirtha ya namah
Om Sanggya maha toya ya namah

#Diminum tiga kali:

Om Brahma pawaka ya namah
Om Wisnu amertha ya namah
Om Iswara jnana ya namah

#Diraup tiga kali di kepala,
Om Siwa sampurna ya namah
Om Sadhasiwa paripurna ya namah
Om paramasiwa suksma ya namah

#Melukat, mantra :

Om Salilam wirnalem toyem, 
Toyem tirthasya bajanam 
Subhiksa ya samataya, 
Dewanam lisana-sanam.

#Makurah, nginum, meraup (sebanyak tiga kali), mantra;

Om Pawitram gangga tirthaya, 
mahabhuta mahodadi 
Bajra prani maha tirtham, 
papasanam kalinadem


PUTRU MAGEDONG-GEDONGAN

Om Swastiastu
Om Awignam Astu Namo Sidyam
Om Anubadrah Kertha Wiyantu Wiswatah

Nihan parincining darma kauripan ngaran, 
Munggwing Widhi Sastra Gama 
Pawarah Bhatara Siwa Gama ring Para Loka, 
Kramaning andadi wang amerih kajuwananing urip mwang pati, 

Wekasan umangguhang sadia rahayu dalan apadang, 
Karananing wenang kapatiaksaha dening loka, 
Makadi sujana para Pandita. 
Aywa tan umastitiaken ri wetu nikang rare,

Maka pamerih kajuana nira kadirgayusan anutugaken tuwuhnira, 
Kedep ring laksana pangrasaning tatwa carita mwang tutur, 
Makadinika wruh ring pidarta ala ayuning mandadi wang tekeng kapranantikania wekasan; 
Kadi angapa parincining aksara.

Nihan ta ja kauningan.
Angandung Bobotan
Duking kari angandung bobotan.
Kramaning amobot pangawit daha, 
Yania bobotan ika kalangkahan tumpek wayang.
Sayogya ring tumpek wayang ika malukat ring sang Pandita Siwa Yogiswara; 

Tingkah pamahayu rare ring jero weteng;
Yan sampun tutug ulananing bobotan,

Nihan tingkahing manusa Yadnya, 
Hana pawarahira sanghyang jagatnata sing sanghyang Aditya, 
Rikalaning rare hana ring garba katekeng pawiwahan hana ring rat yogya sira aweh pali pali, 
Ring manusa pada, yan sira yan paweh pali pali ring rare samangkana lwir sarpa sato kramannya. 

Artinya: 
Inilah perihal manusia yadnya. Ada ajaran Sanghyang Jagatnata kepada Sang Hyang Aditya. Pada waktu bayi masih dalam kandungan, manakala upacara perkawinan di Bumi. Sepatutnya anda memberinya upacara, di alam manusia. Jika anda tidak mengupacarai bayi itu dalam garbha, bagaikan ular ayam tingkah lakunya kelak. 

Sanghyang candra taranggana pinaka dipa mamadangi rikalaning wengi
Sanghyang surya sedeng prabhasa maka dipa mamadangiri bhumi mandala.
Widya-sastra sudharma dipanikanangtribhuwana sumeno prabhaswara.
yaning putra suputra sadhu gunawan mamadangi kula wandhu wandhana.
(Niti sastra IV.1)

Artinya :
Bulan dan bintang-bintang di angkasa itu sebagai lampu menyinari malam. Matahari yang bersinar terang gemilang itu merupakan lampu bersinar di seluruh bumi. Pengetahuan dan kesusastraan, serta ajaran-ajaran suci merupakan lampu ketiga dunia ini. Putra yang baik, soleh, dan bijaksana itu memberi cahaya pada keluarga dan handai taulan.

Kupasatad wai paramam saro’pi
sarasatad wai paramo’pi yajnah,
yajnasatad wai paramo’pi putrah,
putrasatad wai paramam hi satyam
(Slokantara 2)

Artinya :
Membuat telaga lebih baik daripada menggali seratus sumur,
melakukan yadnya itu lebih tinggi mutunya dari pada membuat seratus telaga, mempunyai putra itu lebih berguna daripada melakukan seratus yadnya, dan menjadi manusia setia (Satya) itu lebih tinggi mutunya dan gunanya dari pada seratus putra.

Yawat pwekang anak prasidha, 
maguna dhika winaya susila ring praja,
tekwan wak pawu ring sabha halepa nindita mangucapa mogha tan luput,
sakweh sang sujana dhikara padha sastra wihikan iriya samangkana,
tawat prarttananing yayahnya riya siddha maphala madulur yasa dhika.
(Putra sesana 7)

Artinya :
Bilamana anak cekatan, pandai, berdaya upaya baik, berdisiplin mengabdi pada negara,
pasih berbicara menghadapi umum tanpa tandingan, semua tutur katanya penuh kebenaran,
semua para sarjana mengakui akan kebolehannya, maka tercapailah segala cita-cita orang tuanya, membuahkan jasa yang berbobot.

Om Sang Hyang Ayu munggah pritiwi,
pritiwi melomba-lomba, 
angebeking bwana, 

Om pengelukatan dacamala, 
kalukat metu sira anadi dewa, 
kalukat metu anadi bhujangga, 
kalukat metu sira anadi jadma manusa, 
kalukat mameneng kapanggih sukha sugih, saisining rat bwana kabeh, 
sapangangoning bumi, 
kelod kauh yeh minagaken, 
sudha dewa, sudamanusa. 
Om sa ba ta a i na ma si wa ya. 
Om Ang Ung Mang
Om Ang Ah

Om Shanti Shanti Shanti Om



#tubaba@griyangbang//sehingga dengan upacara pagedong - gedongan inilah disebutkan sthula sarira manusia disucikan#