Minggu, 13 Oktober 2024

MEMUJA NARAYANA

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA ?


-Catatan Harian Sugi Lanus, 
31 Desember 2021-

1. Salah satu lontar yang paling disucikan di kalangan Pedanda Śiwa di Bali adalah lontar pustaka suci *Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa*.

Dengan sangat jelas disebutkan:

*prathamaḥ khaṇḍaḥ . nārāyaṇāt sarvacetanācetanajanma. oṃ atha puruṣo ha vai nārāyaṇo'kāmayata prajāḥ sṛjeyeti . nārāyaṇātprāṇo jāyate . manaḥ sarvendriyāṇi ca . khaṃ vāyurjyotirāpaḥ pṛthivī viśvasya dhāriṇī . nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi . nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante ..*

Disebutkan dalam mantra ini *vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ* atau “vaikuṇṭha-bhuvana-lokaṃ” sebagai salah satu acuan dipersamakan dengan dengan *Śiva-laya*, *Sūnya-laya* atau *Kaivalya* sebagaimana disebutkan dalam lontar-lontar Siddhānta yang diwarisi di Bali.

*oṃ namo nārāyaṇāyeti mantropāsakaḥ, vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ gamiṣyati, tadidaṃ paraṃ puṇḍarīkaṃ vijñānaghanam, tasmāttaṭidābhamātram*

Dimana “medal” mantra ini? 
Dimana dipakai mantra ini? 

Pada saat purnama tertentu, dan saat pamaripurna NGENTEG LINGGIH & BALIGYA.

Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa memang utuh ditemukan dan dijadikan acuan dalam kependetaan Śiwa di Bali — mohon maaf jika pengetahuan saya tidak mencukupi untuk menjelaskan kependetaan beracuan garis silsilah kependetaan lainnya...Lontar yang dikenal sebagai Vedaśīrṣa(h) ini secara umum di kalangan Pedanda Śiwa di Bali menjadi salah satu kunci memahami "rumusan teologi Pedanda Śiwa yang sangat inkslusif".

Bagian dari lontar yang dianggap puja atau stawa dari kependetaan Śiwa di Bali ini telah "diadopsi" menjadi bagian penting dari Puja Trisandya baik ke 2 yang bunyinya:

Oṁ Nārāyaṇa evedam sarvaṁ 
yad bhūtaṁ yac ca bhāvyaṁ         
niṣkalaṅko nirañjano 
nirvikalpo nirākhyātaḥ         
śuddho deva eko 
nārāyaṇo na dvitīyo’sti kaścit
 
*Oṁ Nārāyaṇa adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nārāyaṇa, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.*

Selanjutnya bait 3:

Oṁ tvaṁ śivaḥ tvaṁ mahādevaḥ       
Īśvaraḥ parameśvaraḥ                         
brahmā viṣṇuśca rudraśca                 
puruṣaḥ parikīrtitaḥ
 
*Oṁ Engkau dipanggil Śiva, Mahādeva, Īśvara, Parameśvara, Brahma, Viṣṇu, Rudra dan Puruṣa*

2. Kenapa Nārāyaṇa menjadi salah satu puncak puja dan stawa Pedanda Śiwa di Bali?

*Mahāviṣṇu and Sadāśiva are also one. As the Sammohana Tantra (Ch. VIII) says “Without Prakṛti the Saṃsāra (World) cannot be. Without Puruṣa true knowledge cannot be attained. Therefore should both be worshipped; with Mahākālī, Mahākāla.” Some, it says, speak of Śiva, some of Śakti, some of Nārāyaṇa (Viṣṇu). But the supreme Nārāyaṇa (Ādinārāyaṇa) is supreme Śiva (Paraśambhu), the Nirguṇa Brahman pure as crystal. The two aspects of the Supreme reflect the one in the other. The Reflection (Pratibimba) is Māyā whence the World-Lords (Lokapālas) and the Worlds are born.*

Terjemahannya: “Mahāviṣṇu dan Sadāśiva juga satu. Seperti yang dikatakan Sammohana Tantra (Bab VIII) “Tanpa Prakṛti, Saṃsāra (Dunia) tidak mungkin ada. Tanpa Puruṣa, pengetahuan sejati tidak dapat dicapai. Oleh karena itu keduanya harus disembah; dengan Mahākāl, Mahākāla.” Beberapa, dikatakan [seolah-olah berbeda], berbicara tentang [gelar] Śiva, beberapa tentang [gelar] Śakti, beberapa tentang [gelar] Nārāyaṇa (Viṣṇu). Tetapi Nārāyaṇa (Ādinārāyaṇa) yang tertinggi adalah Śiva (Paraśambhu) tertinggi, Brahman Nirguṇa yang murni seperti kristal. Kedua aspek Yang Mahakuasa mencerminkan yang satu di dalam yang lain. Pantulan (Pratibimba) adalah Māyā tempat para Penguasa Dunia (Lokapālas) dan Dunia-Dunia dilahirkan.”

Penjelasan SIR JOHN WOODROFFE (Avalon) dalam karyanya *ŚAKTI AND ŚĀKTA, ESSAYS AND ADDRESSES ON THE ŚĀKTA TANTRAŚĀSTRA*, sangat tepat menjelaskan bagaimana dalam praktek pemujaan atau kehidupan Pedanda Śiwa yang memahami Tantra-Agama sebagai pedoman ritual dan "berteologi". Dalam pandangan kependetaan Śiwa di Bali sebagaimana tercermin dalam lontar Vedaśīrṣa(h), kita melihat bagaimana Pedanda Śiwa "SUDAH MELAMPAUI PERBEDAAN SEKAT SEKAT PENYEBUTAN GELAR BRAHMAN YANG TUNGGAL ITU".

Pedanda Śiwa di Bali jelas telah selesai dengan debat kusir sekat-sekat penamaan atau gelar pemuliaan Hyang Widhi dengan berbagai atribut pemuliaannya yang dikenal dari berabad-abad silam.

Kesimpulan ini saya simpulkan setelah membaca pedoman puja dan stawa yang dalam ratusan lontar-lontar yang saya temukan dan 'kebit-kebitin' (buka-buka) di sebagian besar griya-griya Pedanda Śiwa di Bali Utara, ditambah berbagai koleksi Gedong Kirtya dan Pusat Dokumentasi Bali, serta koleksi pribadi kami. Ini sebabnya, sebegaimana saya sebutkan di atas, bahwa *'rumusan teologi Pedanda Śiwa yang sangat inkslusif'*.

3. Jika belajar dari secara penyusunan komposisi dari bait-bait Puja Tri Sandhya yang dirumuskan dan terbit cetak dalam *Dasa Sila Agama Bali* tahun 1951, kesadaran 'rumusan teologi insklusif' Hindu (di) Bali ini bukan semata-mata berkembang di kalangan Pedanda Śiwa di Bali. Para pakar lontar, intelektual ternama dan mumpuni di tahun 1940-1950-an, pun telah selesai dengan urusan sekat-sekat gelar-pemuliaan Hyang Widhi yang dari berabad-abad silam telah diterima sebagai pemuliaan berbagai gelar YANG BERBEDA TAPI TUNGGAL ITU 

Data sejarah menunjukkan para tokoh mumpuni Bali tersebut, yang menyetujui terbitan pertama kali dari versi terawal Trisandhya dalam *Dasa Sila Agama Bali* yang kini dipakai puja harian Hindu di Indonesia tersebut — bukan hanya para Pedanda Śiwa — terdapat tokoh-tokoh mumpuni lainnya yang tidak bergelar Pedanda.

Dalam pengantarnya Pandit Shastri yang menjadi "juru tulis" (penyusunan) buku *Dasa Sila Agama Bali* yang memuat Tri Sandhya cetak paling awal, versi ini telah disetujui oleh: *“Para Padanda2 dan orang2 jang tertjantum namanja dibawah ini telah menjetudjui isinja kitab ini. 1. Ida Padanda Made Aseman, Sanur. 2. Ida Putu Maron, Denpasar. 3. Ida Padanda Made Kamenuh, Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja. 4. Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja. 5. Tuan Wajan Bhadra, the Director of Gedong Kirtya Singaradja. 6. Tuan Anak Agung Pandji Tisna (Anggauta of D.P.R.) Singaradja. 7. Ida Bagus Ktut Djelantik Banjar. 8. Ida Anak Agung Anglurah Ktut Karangasem. 9. Ida Padanda Made Badjra Tabanan. 10. Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana. 11. Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok. 12. Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok. 13. I Gusti Agung Djalantik Blambangan Cakranagara Lombok. 14. Gusti Bagus Sugriva Singaradja”.*

Para Pedanda Śiwa yang tersebut di atas, yaitu Ida Padanda Made Aseman, Sanur, Ida Padanda Made Kamenuh (Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja), Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja (Pendiri Panti Agama Hindu Bali), Ida Padanda Made Badjra Tabanan, Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana, Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok, Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok adalah semacam perwakilan dari para terkemuka, terpelajar, disucikan atau tokoh besar Hindu Dharma Indonesia awal kemerdekaan RI dengan kesadaran 'teologi inklusif'. Sekali lagi, deretan nama tersebut menjadi penjamin diakuinya Hindu-Dharma Indonesia yang telah selesai dengan urusan perdebatan sekat-sekat gelar Hyang Widhi. Yang malah kini masih sering diperdekatkan dan merunjing menjadi debat kusir kelompok-kelompok yang sedang bertumbuh (mungkinkah ini bisa dipahami sebagai gejala *“pubertas beragama”*?)

Sebagai tambahan lebih lanjut dan rinci, tentang penyusunan dan sejarah perumusan serta perkembangan PUJA TRI SANDHYA, telah saya tulis dalam *Puja Tri Sandhyā: Indian Mantras Recomposed and Standardised in Bali* dimuat dalam The Journal of Hindu Studies, Volume 7, Issue 2, August 2014, Pages 243–272, diterbitkan oleh *Oxford University Press*, bisa didownload di link ini: https://www.academia.edu/11567914/Puja_Tri_Sandhy%C4%81_Indian_Mantras_Recomposed_and_Standardized_in_Bali

4. Tradisi pemuliaan Nārāyaṇa yang dijadikan pedoman sangat penting dalam kependetaan Pedanda Śiwa di Bali, yang kitabnya berjudul *Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa* atau secara umum dalam tradisi Hindu di dunia dikenal sebagai *Nārāyaṇopaniṣad*, serta bukti bagaimana bait 2 dan 3 Puja Trisandhya yang dipakai umat Hindu Dharma di Indonesia sekarang, adalah bukti bagaimana perdebatan antar “perguruan”, "sekte", "golongan", "sampradaya", "gotra", "paramparāṃ", yang bersifat ekslusif atau paling merasa paling benar dan paling tinggi sudah selesai di Bali dari dahulu kala.

Meminjam ungkapan yang disebutkan oleh *Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja (Pendiri Panti Agama Hindu Bali)* dalam tulisannya tanggal 10 Oktober 1951:

*“Inti-sari Agama kita adalah: Om tat sat Ekam Ewa Adwieyam Brhman-Widhiyam. Om tat sat artinja: Sanghjang Widhilah jang benar (Rahaju). Ekam Ewa artinja: hanja Satulah (Tunggallah). Adwitiyam artinja: tak ada dua-Nja Brhman-Widhiyam artinja: Brhman gelaran Sanghjang Widhi.”*

5. Jika di masa depan, atau mungkin di hari ini, lagi ada riak-riak perdebatan atau barangkali perpecahan akibat kembali mundur karena merasa paling benar dengan paham junjungan yang terbagi-bagi, dan kembalai ada kelompok merasa paling ekslusif alias paling benar dan punya pedoman yang paling tertinggi, serta merasa paling maha-benar, sebaiknya kembali belajar pada sejarah bagaimana selama berabad-abad Pedanda Śiwa di Bali (yang merupakan kelanjutan tradisi Kawi yang menganut pedoman Śiwasasana yang telah dirumuskan kembali dalam pemerintahan Mpu Sindok dari tradisi sebelumnya) telah secara terang benderang selesai dengan perdebatan tersebut — silahkan membaca Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa atau Nārāyaṇopaniṣad.

Atau, setidaknya, membaca kembali secara cermat-nalar bait ke-2 dan ke-3 dari Puja Trisandhya yang merupakan rumusan 'teologi-inklusif' Hindu di Nusantara di abad modern.

Rumusan dari Puja Tri Sandhya, secara gamblang, disamping merupakan kesadaran 'teologi-inklusif' Hindu Dharma Indonesia, juga perlu dicatat, ini juga menjadi saripati “sila pertama” dari *Pañca Śraddha* yang menjadi acuan dasar dalam ber-Hindu di Indonesia.

Percaya dengan adanya Brahman atau Sang Hyang Widhiwasa, dalam "sila pertama" dalam Pañca Śraddha, dirumuskan dengan kesadaran * ekaṁ sad viprā bahudhā vadanty* dari kutipan utuhnya *Rig Veda 1.164.46.* 

इन्द्रं॑ मि॒त्रं वरु॑णम॒ग्निमा॑हु॒रथो॑ दि॒व्यः स सु॑प॒र्णो ग॒रुत्मा॑न्। एकं॒ सद्विप्रा॑ बहु॒धा व॑दन्त्य॒ग्निं य॒मं मा॑त॒रिश्वा॑नमाहुः ॥

*indram mitraṁ varuṇam agnim āhur atho divyaḥ sa suparṇo garutmān | ekaṁ sad viprā bahudhā vadanty agniṁ yamam mātariśvānam āhuḥ ||*

Yang kalau diterjemahkan, sbb:

*Mereka memanggilnya Indra, Mitra, Varuna, Agni; dan dia adalah Garuda surgawi, yang memiliki sayap yang indah. Kebenarannya adalah satu, tetapi viprā (para rsi bijak atau terpelajar) menyebutnya dengan banyak nama atau menggambarkannya dengan banyak cara; mereka memanggilnya Agni, Yama, Mātariśvan.*

6. Semua para pedanda dan cendikiawan Hindu Dharma Indonesia yang mendirikan Parisada di Nusantara di era awal kemerdekaan mengamini dan mengutip-ngutip Rig Veda 1.164.46 tersebut sebagai pedoman dasar dalam ber-Hindu di Indonesia. Pedoman ini kesepakatan bersama para pendahulu kita yang mendaftarkan Hindu Dharma sebagai agama resmi yang diakui oleh pemerintah NKRI. Telah final. Titik, tanpa koma.

Kesadaran itu pulalah yang beradab-abad telah dipedomani oleh Pedanda Śiwa di Bali: 
 
*nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi .nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante ..

* diambil dr sebuah artikel sugi lanus.

#video ilustrasi "Surya Sewana"
"Ida Pedanda Gede Telabah, Geriya Telabah Denpasar"
*perhatikan gerak mudra yang begitu banyak dan indah..yang disertai "sacred" mantraS yang banyak juga disertai pembangkitan cakra cakra dalam tubuh🙏

Lirik PETILASAN Hyang Sinuhun

PETILASAN SANG PELOPOR

Petilasan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa (kata dasar "telas" atau bekas) yang menunjuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang (yang penting).

Kenangan mengalir bersama air
Cerita tentang Sang Mpu Raga
Yang menghanyutkan hati
Untuk membangun Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawa


Beristirahat di bawah pohon tua
Dan bersandar pada dahan yang kuat
Persaksian menjadi pengikat
Akar kuat sahabat yang empat


Petilasan Ida Hyang Sinuhun Siwa Putra Pramadaksa di bukit Pundukdawa
Dan Pura Panataran Agung Catur Parhyangan Ratu Pasek Linggih Ida Bhatara Mpu Gana di Pundukdawab ini menjadi saksi
perjuangan mencari jatidiri

Kamis, 10 Oktober 2024

Sevitavyah

Sevitavyah

Om Swastiastu. 

Sevitavyah artinya hukum harus ditaati dengan seksama. 

Mari camkan sloka VI-91 pada pustaka suci Manavadharmasastra yang dikutip sebagai berikut.
"चतुर्भिर् अपि चैवैतैर् नित्यं आश्रमिभिर् द्विजैः
दशलक्षणको धर्मः सेवितव्यः प्रयत्नतः

caturbhir api caivaitair nityaṁ āśramibhir dvijaiḥ
daśalakṣaṇako dharmaḥ sevitavyaḥ prayatnataḥ

Artinya:
Orang-orang dvijāti yang berasal dari salah satu dari keempat tahapan ini, kesepuluh macam hukum harus ditaati dengan seksama.

Adapun pesan luhur tentang Dharmah Sevitavyah bahwa umat Hindu dari catur asrama atau empat tahapan hidup, seperti: Brahmacari Asrama, Grahastha Asrama, Wanaprastha Asrama, dan Biksuka Asrama, yang saatnya hendak menjalani sasana Dvijati, hendaknya dengan sungguh-sungguh, dengan tekun, dengan cermat, dengan disiplin untuk mempelajari hukum suci Agama Hindu untuk dijadikan pedoman, hidup secara spirit hidup luhur, mulia, luhung, luwih, sehingga menjadi manusa Sajjana, Gunawan, dan teladan bagi masyarakat publik di jagat raya.

Demiikian sajian tentang Dharmah Sevitavyah yakni hukum wajib dipelajari dengan saksama oleh segenap sadharma. Sekian semoga ada manfaatnya. Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami. Om Santih Santih Santih Om.

Sambutan Ida Sinuhun

Om Swastyastu, 
Semoga dalam keadaan selamat atas karunia dari Hyang Widhi. 

Namo Budaya, 
Terpujilah sang Buddha

Sahabat Dharma yang berbahagia 
Selamat siang, 
Om Anubadrah Kretavo Yantu Visvatah 
(semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru).
Semoga semua dalam keadaan sehat.
Rahayu, Rahayu, Rahayu

Titiyang Ida Sinuhun Siwa Putri PramaDaksa Manuaba, dari Griya Agung Bangkasa di Bongkasa-Kab. Badung. 

Pertama-tama, titiyang mengucapkan terimakasih kepada Guru Yogi beserta panitia yang memberikan 6 kesempatan kepada titiyang, untuk hadir pada hari ini di wantilan sri candi pemuteran acara Maha Puja Vajasattva yang Ke.15, dengan mengangkat Tema "Siwa Buddha Ngamijilang Suputra". Yang akan disampaikan oleh Oka Dharma titiyang. Ida Pandita Mpu Acarya Dhaksa Manuaba, dari  Kota Denpasar. Akan mengisa acara Dharma Sesana dengan topik "Bhaktining Suputra (perspektif Ritual dan Filosofi )". 

Sekian terimakasih. 
Namaste, Sukhi hotu, 
Sabbe satta bhavantu sukkhitatta,
Semoga semua makhluk berbahagia.

Om Shanti Shanti Shanti Om. 
Majeng ring nanak Acarya rarisang galah katur.

Selasa, 08 Oktober 2024

Upacara Mapekelen

Mapakelem atau Mulang Pakelem adalah upacara butha hita sebagai media permohonan kepada Tuhan agar
  • sumber - sumber air dapat berfungsi dengan baik,
  • menjadi sumber kehidupan di alam nyata ini.
  • yang upacaranya biasanya dilaksanakan di hutan, danau, laut, samudra dll
Dalam Lontar Purana Bali sebagaimana disebutkan sumber air tersebut dijelaskan perlu dijaga kelestariannya sehingga upacara ini yang merupakan : 
Karena demikian pentingnya kedudukan air dalam hidup ini tampaknya hal itulah yang menyebabkan dalam Manawa Dharmasastra IV.56,
  • sangat dilarang membuang air kencing, kotoran, barang yang beracun ke sungai. 
  • sangat dilarang berludah, membuang darah, hal-hal yang berbisa serta tidak boleh melemparkan kata-kata yang tidak suci ke sungai. 
Begitu pula dalam Bhagavad Gita III.14 disebutkan bahwa, 
  • Dari makanan makhluk hidup menjelma, makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan, tumbuh-tumbuhan datangnya dari hujan, dari yadnya lahirnya hujan/air yadnya lahir dari karma
  • Demikian pentingnya air atau hujan. Karena tanpa hujan bumi ini tidak akan dapat melahirkan tumbuh-tumbuhan yang menjadi bahan pokok makanan makhluk hidup seperti manusia dan hewan. 
    • Jadi kedudukan air dalam kehidupan makhluk hidup ini sangat penting. 
    • Air yang berasal dari hujan itu ditampung oleh hutan dan dari hutan itu mengalir menjadi sumber-sumber air seperti danau dan terus menjadi sungai yang akhirnya ditampung di laut.
    Karena adanya laut akan menimbulkan hujan, merupakan tempat hidup flora dan fauna dan menciptakan iklim yang kondusip bagi kehidupan ini yang dalam kearifan lokal masyarakat bali dalam pelestarian lingkungan hidup maka perlunya sumber air tersebut senantiasa harus dijaga kebersihannya jangan sampai tercemar. 

    Hal ini diaplikasikan dalam kehidupan beragama oleh masyarakat di Bali dengan upacara Mapekelem, yang mempunyai makna memohon kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Dewa Baruna sebagai penjaga samudra, semoga kehidupan di laut yang berfungsi untuk kehidupan ini berjalan dengan baik.

    Kamis, 03 Oktober 2024

    Ngelawang

    BARONG BANGKUNG GUA BET TEGEH BONGKASA

    Ngelawang Keliling Desa

    Seperti maknanya, pada saat Hari Raya Galungan dan Kuningan Ngelawang menjadi tradisi wajib sebagian besar daerah di Bali. Hal ini karena Barong Bangkung Gua Bet Tegeh Bongkasa adalah simbol dari menolak Bala. Dapat dikatakan sebagai sebuah seni untuk menyatakan Kebenaran (Dharma) yang telah menang dari kejahatan (Adharma).

    Tanpa adanya hari raya pun banyak masyarakat yang juga Ngelawang untuk mensyukuri sesuatu. Contohnya saat hilangnya wabah penyakit atau memudarnya bencana yang sempat terjadi di suatu daerah. 

    Cara pementasan Barong Bangkung Gua Bet Tegeh Bongkasa ini pun terbilang unik. Pentas Ngelawang Barong Bangkung Gua Bet Tegeh Bongkasa dilakukan dengan di arak mengelilingi desa diiringi oleh musik dari gamelan khas Bali (tetabuhan atau batel). Tradisi ini bertujuan untuk mengusir roh – roh jahat yang ada di sepanjang jalan desa. Tentu saja hal ini mengundang banyak wisatawan hingga penduduk lokal untuk menyaksikan pentas sakral ini.

    Mementaskan Ngelawang Barong Bangkung Gua Bet Tegeh Bongkasa sebagai bentuk untuk menarik wisawatan sebagai promosi. Tak sedikit juga yang biasanya memberikan sedekah (punia) kepada orang yang mementaskannya. Ini adalah sebuah bentuk apresiasi tersendiri karena mementaskan tradisi yang begitu ikonik di Bali. Namun tak sembarang orang yang bisa mementaskan Barong Bangkung Gua Bet Tegeh Bongkasa, walau banyak peminatnya bukan orang awam yang bisa mementaskannya. Setidaknya memerlukan latihan dan izin untuk melakukannya (secara skala maupun niskala).

    Dengan banyaknya minat pementasan Barong Bangkung di kalangan anak – anak membuat tradisi ini menjadi lestari dan ajeg. Sekarang Barong Bangkung Gua Bet Tegeh Bangkasa menjadi tradisi ikonik yang ditunggu-tunggu menjelang Galungan dan Kuningan.

    Rabu, 02 Oktober 2024

    PUISI DESA BONGKASA

    PUISI 1
    Permata Desa Bongkasa


    Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd

    Di tengah hutan Teguhwana-Rangdilangit-Bangkasa, 
    Sebuah permata Desa Bongkasa tersembunyi rapi meraksa waktu, 
    Memeluk masa menjadi saksi, keindahan bersama.

    Pohon tua nan kokoh berdiri
    Bercerita tentang sejarah bersemi
    Peninggalan masa silam tersimpan
    Dalam setiap batu, dinding, dan jendela.

    Lorong-lorong sempit bercerita
    Menggema suara kebahagiaan sejati
    Saling bahu-membahu dalam harmoni, Budaya dan warisan di hati.

    Pohon-pohon rindang berjejer menyejukkan hari, 
    Menghibur malam
    Menari-nari di angin sepoi
    Menyambut pengunjung dengan lembut.

    Warung-warung khas, cita rasa pedesaan
    Menyajikan hidangan menggugah selera
    Kopi, jajan Bali, dan nasi campur
    Mewarnai palet rasa bersama.

    Di Desa Bongkasa
    Warung kopi dan jajan Bali berjejer dengan rapi
    Rasa dan nuansa, karya terindah
    Berkisah tentang kekayaan budaya Bongkasa.

    Sungai Ayung mengalir tenang
    Menyatu dengan desa Bongkasa, menyatukan cerita
    Membawa pesan kebersamaan
    Dalam satu ikatan, satu cinta
    Bumi Rangdilangit-Bangkasa di Bongkasa!

    Oh Desa Bongkasa tercinta, 
    Kau kunci pintu masa lalu yang indah, 
    Jiwamu merekah bagai bunga di pagi, 
    Menjadi saksi, menjadi pelita hidupku.



    PUISI 2
    Bumi Rangdilangit Tersenyum

    Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba, S.S., M.Pd

    Di bumi Rangdilangit, sebuah kisah bermula, 
    Desa Bongkasa, tempat langit tersenyum di Teguhwana, 
    Di sini masa lalu dan kini berpelukan, 
    Mengukir sejarah desa Bongkasa, merajut harapan.

    Lorong-lorong pedesaan penuh kehangatan, 
    Mengajak langkah menyusuri kenangan, 
    Di setiap jengkal bumi Rangdilangit, terukir cinta, 
    Desa Bongkasa, oh begitu megah dan Indah. 

    Peninggalan budaya dan tradisi bersejarah terawat dengan megah, 
    Menatap masa depan desa Bongkasa penuh harap, 
    Saksi bisu perjuangan di bumi Rangdilangit-Bongkasa, 
    Kini menjadi rumah kebudayaan kita.

    Pura besar berdiri di setiap sudut desa Bongkasa, 
    Menyimpan cerita, menjual cita rasa bhakti para bhakta, 
    Dari dulu hingga kini, tak pernah lelah, 
    Memberi warna pada kehidupan kita di bumi Rangdilangit-Bongkasa.

    Di kala senja, suasana kian meriah di sudut Barat Bet Tegeh. 
    Musik dan tawa bercengkrama bersama, 
    Kesenian dan budaya kembali bernyawa, 
    Bumi Rangdilangit-Bongkasa menjadi panggung dunia.

    Sungai Ayung mengalir dengan lembut, 
    Membawa pesan, mengajak bersatu, 
    Di bumi Rangdilangit-Bongkasa, kita bersama, 
    Merajut mimpi, mewujudkan cinta pada desa Bongkasa ADI MANTRA,  

    Oh bumi Rangdilangit-Bongkasa; AMAN, DAMAI, INDAH MAJU dan SEJAHTRA.
    Kau terangkai indah dalam kenangan, 
    Karya luhur, pelita masa lalu, 
    Kini kau berdiri, menyinari masa depan kami.