Puisi: Bhāvayata—Nyanyian Yadnya Semesta
Oleh: I Gede Sugata Yadnya Manuaba
Di Kahyangan Dharma Smerti yang senyap, asap dupa melayang,
mengukir mantra di langit langit malam.
Dengan tangan yang bergetar hening,
kusentuhkan hati pada suci yadnya yang abadi.
Devān bhāvayatānena,
kupuja engkau, wahai dewa cahaya,
dengan persembahan daun dan bunga,
namun lebih dari itu—dengan kasih yang nyata.
Bukan semata api dan genta,
tetapi laku dan niat yang menyala.
Kehidupan adalah altar terbuka,
setiap detak adalah mantra pemuja.
Te devā bhāvayantu vaḥ,
Engkau membalas dalam diam yang dalam:
hujan yang turun di ladang kering,
embun yang menjilat luka bumi.
Dalam irama parasparaṁ bhāvayantaḥ,
teranyam simfoni tanpa suara,
saling memelihara, saling menjadi:
aku bagimu, engkau bagiku—
itulah cinta kosmis yang tak terbagi.
Kehidupan bukan milikku sendiri,
tetapi jalinan jutaan yadnya,
dari akar ke langit, dari manusia ke surya,
sebuah saling jaga menuju śreyaḥ param—
kebajikan tertinggi,
di mana jiwa menjadi seimbang
seperti nyala api yang tak pernah padam.
---
Bhāvayata!
Suarakan yadnya dalam perbuatan,
bukan hanya dalam kidung dan kurban.
Biarlah bumi tahu:
cinta yang tulus
adalah yadnya paling suci yang pernah ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar